← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Forty Two

Extra 1 — CFO di Kantor, Bocah di Rumah

POV: Hari

Rumah kami di Kemang kecil. Dua kamar, satu dapur yang lebih besar dari kamar tidur, halaman belakang dengan satu pohon jambu air yang kata pemilik lama sudah tidak berbuah sejak tahun dua ribu lima belas. Sepuluh menit jalan kaki ke Omah Rembulan. Dua puluh lima menit naik mobil ke Kuningan, kalau tidak macet. Empat puluh menit kalau macet. Satu jam lima belas menit kalau hujan dan hari Jumat.

Tamara yang memilih rumah ini. Ia menolak tujuh rumah lain yang lebih besar, lebih baru, lebih dekat ke kantornya. Waktu agen properti bertanya kenapa, ia menunjuk dapurnya dan bilang, karena suami saya butuh dapur yang lebih besar dari kamar tidur.

Agen properti itu menatapku. Aku menatap lantai. Telingaku panas.

Itu tiga minggu yang lalu.

Aku sudah tinggal di rumah ini sebelas hari, sebagai suami Tamara Morgan, dan selama sebelas hari itu aku belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku. Tidak Pak Darto, tidak Antoine, tidak ibu-ibu Pasar Gede.

Perempuan yang membuat CEO perusahaan logistik mengakui utang tersembunyi tiga ratus miliar, yang membedah proposal anggaran sampai tinggal tulang, yang bilang sinergi itu penyakit di depan Head of Marketing, ternyata, di rumah, adalah anak kecil.

Anak kecil umur lima tahun. Paling banyak tujuh.


Alarm ponselku berbunyi pukul lima pagi. Seperti biasa. Sejak umur empat belas, aku bangun jam lima.

Aku tidak bisa bangun.

Bukan karena aku malas. Karena ada sesuatu yang membelit seluruh tubuhku. Lengan di dadaku. Kaki di atas kakiku. Wajah yang menempel di leherku. Rambut cokelat bergelombang yang menutupi separuh wajahku dan masuk ke mulutku setiap kali aku bernapas.

Tamara tidur seperti koala yang memeluk pohon. Pohonnya aku.

Aku mencoba mengangkat lengannya dari dadaku. Pelan. Sangat pelan. Seperti mengangkat lapisan adonan yang belum mengembang.

Lengannya mengencang.

“Lima menit lagi,” gumamnya ke leherku. Matanya masih terpejam.

“Aku harus ke pasar, Tam.”

“Lima menit.”

Aku menunggu lima menit. Alarm berbunyi lagi. Aku mencoba mengangkat lengannya lagi.

Lengannya mengencang lebih kuat. Kakinya ikut. Sekarang aku tidak bisa bergerak sama sekali.

“Lima menit lagi,” gumamnya.

“Tadi udah lima menit.”

“Lima menit yang tadi itu lima menit buat aku. Lima menit yang ini buat kamu.” Ia menggosokkan hidungnya ke leherku. “Biar adil.”

Aku menatap langit-langit kamar. Pukul lima lewat sepuluh. Pasar Kramat Jati sudah ramai. Pedagang cabai langgananku akan menjual rawit setan terbaiknya ke restoran lain kalau aku tidak datang sebelum jam enam.

“Tam.”

“Hmm?”

“Rawit setan.”

Matanya terbuka sedikit. Ia menatapku dari jarak tiga sentimeter, dengan mata hazel yang masih setengah tidur dan bulu mata yang berantakan.

“Kamu,” katanya pelan, “milih rawit setan daripada aku?”

“Bukan milih. Rawit setan itu kerjaan.”

“Aku juga kerjaan.” Ia mengencangkan pelukannya. “Aku kerjaan seumur hidup. Kamu udah tanda tangan di depan penghulu.”

Aku tidak bisa membantah itu.

“Lima puluh menit lagi,” katanya, dan memejamkan mata.

Pukul lima lewat empat puluh, aku berhasil melepaskan diri dengan teknik yang kupelajari dari menyelamatkan kue lapis yang menempel di loyang: pelan, sabar, satu sisi dulu, jangan ditarik. Aku menyelipkan guling ke dalam pelukannya sebagai pengganti.

Ia memeluk guling itu, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti wangi kamu, dan tidur lagi.

Aku berdiri di samping kasur dan menatapnya. Rambut cokelat bergelombang yang tersebar di bantal. Bibir yang sedikit cemberut bahkan dalam tidur. Kaus lamaku dari warung Pak Darto, yang bertuliskan NASI GORENG PAK DARTO SEJAK 1998, kebesaran tiga nomor untuk tubuhnya, melorot di satu bahu.

CFO perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia.

Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan ke pasar.


Pukul tujuh pagi, aku pulang dari pasar membawa rawit setan, bawang merah, dan seikat daun salam.

Tamara sudah bangun. Ia duduk di meja dapur dengan rambut digelung asal, masih memakai kaus Pak Darto, menatap kompor dengan wajah orang yang sedang menunggu sesuatu.

“Pagi,” kataku.

“Kamu ninggalin aku sama guling.”

“Kamu nggak mau lepas.”

“Gulingnya nggak wangi kamu.” Ia menatapku dengan wajah cemberut yang tidak pernah kulihat di wajahnya waktu masih jadi Bu Tamara di kursi nomor satu. “Gulingnya wangi pelembut pakaian.”

“Itu namanya bersih, Tam.”

“Itu namanya pengkhianatan.”

Aku meletakkan belanjaan di meja dan mulai memecahkan telur untuk sarapan.

“Aku mau disuapin,” katanya.

Aku berhenti. Aku menoleh.

Ia menatapku dengan wajah serius. Sangat serius. Seperti sedang mengajukan term sheet.

“Kamu punya tangan,” kataku.

“Tanganku capek.”

“Kamu belum ngapa-ngapain.”

“Tanganku capek meluk guling yang nggak wangi kamu.” Ia meletakkan dagunya di atas meja dapur, menatapku dari bawah, dengan mata yang dibuat besar dan berkaca-kaca. Mata yang pasti sudah ia latih. Mata yang pasti tidak pernah ia pakai di rapat direksi. “Aaa.”

Aku menatapnya.

Aku menyerah dalam waktu kurang dari empat detik.

Aku menyuapinya telur dadar dengan irisan cabai, nasi hangat, dan sambal bajak sisa kemarin. Setiap suapan, ia membuka mulut dengan bunyi aaa yang semakin panjang. Setiap suapan, ia mengunyah sambil menatapku dan tersenyum dengan mulut penuh. Di suapan kelima, ia menggigit sendokku dan tidak mau melepaskannya.

“Tam.”

“Hmm-mm.” Sendok masih di giginya.

“Lepasin.”

Ia menggeleng. Sendok bergoyang.

Aku menarik sendok itu. Ia menahan dengan giginya. Kami tarik-menarik sendok di meja dapur pukul tujuh pagi, dan ia tertawa sampai sendoknya akhirnya lepas, dan nasi berhamburan ke meja, dan ia tertawa lebih keras lagi.

“Kamu,” kataku, memunguti butir nasi dari meja, “CFO.”

“Di kantor,” katanya, masih tertawa. “Di sini aku istri chef. Istri chef nggak perlu makan sendiri.”


Pukul delapan kurang sepuluh, ia keluar dari kamar sebagai orang yang berbeda.

Setelan celana abu-abu gelap dengan blazer yang potongannya membuat bahunya terlihat tegas. Kemeja sutra putih. Rambut cokelat bergelombang yang disanggul rendah, rapi, tanpa satu helai pun yang lolos. Jam tangan perak tipis. Sepatu hak hitam tujuh senti yang berbunyi tegas di lantai kayu.

Dan lipstik merah.

Tamara Morgan, CFO Blin. Perempuan yang membuat seluruh lantai dua puluh delapan berbicara dengan suara berbisik.

Ia berdiri di depan cermin di lorong, memeriksa lipstiknya. Wajahnya dingin, rapi, tajam. Mata hazel yang menatap pantulannya sendiri dengan penilaian seorang auditor.

Aku berdiri di ambang pintu dapur dengan lap di bahu, menatapnya, dan tidak percaya ini perempuan yang sama yang baru saja menggigit sendokku dan tertawa sampai nasi berhamburan.

Ia mengambil tas kerjanya. Ia berjalan ke pintu depan. Ia membuka pintu.

Lalu ia berhenti.

Ia berbalik. Ia menatapku. Ia tidak bergerak.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kuota,” katanya.

“Kuota apa?”

Ia meletakkan tas kerjanya di lantai. Ia berjalan ke arahku dengan langkah sepatu hak yang berbunyi tegas, berhenti di depanku, dan mengangkat dagunya.

“Kuota cium berangkat,” katanya. Dengan nada yang sama ia pakai untuk bilang kirim revisinya Jumat. “Tiga. Pipi kiri. Pipi kanan. Yang paling penting.”

Aku menatapnya. “Sejak kapan ada kuota?”

“Sejak tadi pagi. Aku bikin waktu meluk guling.”

“Kemarin nggak ada kuota.”

“Kemarin kamu cium aku dua kali. Pipi kiri sama dahi. Aku sampai kantor ngerasa ada yang kurang. Rapat jam sembilan aku bikin Head of Legal nangis.” Ia menatapku dengan wajah sangat serius. “Itu salahmu.”

“Itu salahku?”

“Kekurangan satu ciuman berdampak langsung ke stabilitas emosional CFO. Stabilitas emosional CFO berdampak langsung ke kesejahteraan seluruh karyawan Blin.” Ia mengetuk dadaku dengan satu jari. “Kamu bertanggung jawab atas tiga ribu dua ratus orang, Matahari.”

Aku menahan tawa. Aku gagal.

Aku mencium pipi kirinya. Lalu pipi kanannya.

Ia menunggu. Mata terpejam. Dagu terangkat. Bibir merah sedikit mengerucut.

Aku menatap bibir itu.

“Lipstikmu,” kataku.

“Transferproof,” katanya tanpa membuka mata. “Pasal Empat. Aku patuh.”

Aku menciumnya. Yang paling penting.

Ia membuka matanya pelan-pelan. Ia tersenyum. Senyum yang lebar dan bodoh dan sama sekali tidak cocok dengan blazer abu-abu gelap dan sanggul rapi dan jam tangan perak.

“Kuota terpenuhi,” bisiknya.

Lalu ia mengambil tasnya, membuka pintu, dan pergi.

Di ambang pintu pagar, ia berbalik lagi.

“Matahari!”

“Apa?”

“Besok kuotanya naik jadi empat!”


Pukul sembilan lewat dua puluh, ponselku bergetar di saku apron. Aku di dapur Omah Rembulan, memecahkan kluwek.

Sasha (Asisten Tam).

Aku mengangkatnya. “Halo?”

“Chef.” Suara Sasha pelan, berbisik, dengan nada orang yang sedang bersembunyi di toilet. “Chef, maaf ganggu. Saya cuma mau lapor. Saya nggak tahu harus lapor ke siapa lagi.”

“Lapor apa?”

“Chef, Bu Tamara ngecek ponsel tiap empat menit.”

Aku berhenti memecahkan kluwek.

“Tiap empat menit, Chef. Saya hitung. Rapat direksi jam sembilan, Bu Tamara udah ngecek ponsel lima kali. Di bawah meja. Dia pikir nggak ada yang lihat. Pak Raka lihat. Pak Raka nunjuk-nunjuk saya pakai mata.”

Di belakangku, Dimas berhenti mengaduk kaldu. Ia menatapku. Aku memberi isyarat dengan tangan supaya ia kembali bekerja. Ia tidak kembali bekerja.

“Chef,” lanjut Sasha, “boleh Chef kirim pesan ke Bu Tamara? Apa aja. Biar dia tenang. Biar rapatnya bisa jalan.”

Aku menatap ponselku. “Kirim apa?”

“Apa aja, Chef. Stiker. Foto kluwek. Apa aja. Pokoknya tolong.”

Aku menutup telepon. Aku membuka WhatsApp. Aku menatap layar.

Lalu aku memotret mangkuk kluwek yang sudah kupecahkan, hitam berkilau di bawah lampu dapur, dan mengirimnya. Tanpa kata-kata.

Dua puluh detik kemudian, ponselku bergetar.

Voice note. Tujuh detik.

Aku memutarnya.

Suara Tamara. Berbisik. Sangat pelan. Jelas sedang menunduk di bawah meja rapat direksi.

“Aku kangen. Rapatnya jelek. Kamu ganteng. Kluweknya juga ganteng. Tapi kamu lebih.”

Lalu, di latar belakang, suara Raka yang tidak berbisik sama sekali: “Tam? Tam, kamu lagi ngapain di bawah meja?”

Voice note itu berakhir.

Dimas, yang berdiri tiga meter dariku dan entah bagaimana mendengar semuanya, menjatuhkan sendok sayur.


Pukul sepuluh lewat lima, Sasha menelepon lagi.

“Chef.” Kali ini ia tidak berbisik. Kali ini ia terdengar seperti orang yang baru menyaksikan keajaiban dan ingin menceritakannya ke seseorang sebelum ia sendiri tidak percaya. “Chef, saya harus cerita. Chef harus dengar.”

“Kenapa, Sas?”

“Barusan. Di ruangan Bu Tamara. Head of Product presentasi proposal fitur baru. Anggarannya dua belas miliar. Bu Tamara dengerin dua puluh menit tanpa ngomong apa-apa. Terus Bu Tamara bilang—” Sasha menarik napas. “Bu Tamara bilang, Ini bukan proposal. Ini daftar keinginan dengan grafik. Ulang dari nol. Jangan kembali sebelum kamu bisa jelasin ke saya kenapa fitur ini nggak bisa dibikin dengan setengah anggaran dan dua kali lebih cepat. Dengan suara yang bikin AC ruangan kayak kurang dingin, Chef.”

“Itu biasa.”

“Iya, Chef. Itu biasa. Tapi dengerin.” Sasha merendahkan suaranya lagi. “Head of Product keluar ruangan dengan muka pucat. Pintu belum nutup penuh. Terus ponsel Bu Tamara bunyi. Dari Chef. Chef telepon?”

Aku menatap ponselku. Ada riwayat panggilan keluar pukul sembilan lewat lima puluh delapan. Aku tidak ingat meneleponnya. Lalu aku ingat: aku menyentuh layar dengan siku waktu mengangkat panci.

“Nggak sengaja,” kataku.

“Pokoknya Chef telepon. Dan Bu Tamara angkat. Dan Chef.” Sasha diam sebentar, seolah mempersiapkan diri. “Bu Tamara bilang Sayaaang. Huruf a-nya tiga, Chef. Mungkin empat. Dengan suara satu oktaf lebih tinggi. Dua detik setelah dia bilang ke Head of Product jangan kembali.”

Aku menutup mata.

“Dan Head of Product dengar, Chef,” lanjut Sasha. “Pintunya belum nutup. Dia berhenti di lorong. Dia noleh. Mukanya kayak orang lihat hantu. Terus dia lari ke lift.”

Di latar belakang telepon, aku mendengar bunyi sesuatu jatuh. Keras.

“Sas? Itu apa?”

“Tablet saya, Chef.” Suara Sasha bergetar. “Saya jatuhin. Waktu Bu Tamara bilang Sayaaang. Layarnya retak. Saya mau minta ganti rugi ke siapa, Chef?”


Bu Ratih menemukanku di loker pukul dua belas, waktu aku sedang makan bekal yang dibawakan Dimas.

Ia menatapku dengan alis terangkat.

“Chef,” katanya. “Kenapa mukanya merah?”

“Panas, Bu. Kompor.”

“Chef di loker. Bukan di depan kompor.”

Aku menatap ponselku. Di layar, pesan terbaru dari Tamara, yang masuk dua menit lalu. Foto. Ia memotret dirinya sendiri di cermin toilet eksekutif lantai dua puluh delapan. Blazer abu-abu, sanggul rapi, lipstik merah. Wajah CFO yang dingin.

Dan di bawah foto itu, tulisan:

Kamu tahu nggak, di bawah blazer ini aku pakai kaus Pak Darto. Nggak aku lepas dari tadi pagi. Wangi kamu.

Bu Ratih mengintip layar ponselku dari balik bahuku.

Ia diam lama.

Lalu ia mengambil pulpen gel tinta emas dari saku kebayanya, yang sekarang selalu ia bawa ke mana pun, dan menulis sesuatu di buku tulis kecil bersampul batik yang juga selalu ia bawa ke mana pun.

“Bu, Ibu nulis apa?”

“Arsip, Chef,” katanya tanpa mengangkat wajah. “Dimas yang ngajarin.”


Pukul delapan malam, aku pulang lebih awal. Omah Rembulan ada Dimas. Dimas sudah dinaikkan gajinya dua kali dan bersumpah ia bisa menjalankan servis malam sendirian. Aku percaya padanya. Sebagian.

Tamara pulang pukul delapan lewat dua puluh.

Aku mendengar mobilnya di depan. Aku mendengar pintu pagar. Aku mendengar langkah sepatu hak di teras, tegas, berirama, seperti langkah seseorang yang baru memenangkan negosiasi besar.

Pintu depan terbuka.

Tamara Morgan, CFO Blin, berdiri di ambang pintu dengan blazer abu-abu dan sanggul yang masih rapi dan lipstik merah yang masih sempurna.

Lalu ia menutup pintu di belakangnya.

Dan semuanya runtuh.

Sepatu hak dilempar ke kiri. Tas kerja dijatuhkan ke kanan. Blazer dilepas dan dilempar ke sofa, meleset, jatuh ke lantai. Jepit sanggul ditarik, rambut cokelat bergelombang jatuh ke punggung. Dan di balik kemeja sutra putih yang kancing atasnya dibuka, kaus Pak Darto yang kebesaran tiga nomor.

Ia berdiri di lorong dengan kaki telanjang, rambut berantakan, kaus warung di bawah kemeja sutra, dan menatapku yang berdiri di ambang pintu dapur.

“Capek,” katanya. Satu oktaf lebih tinggi. “Gendong.”

Aku menatapnya.

“Gendong,” ulangnya, mengulurkan dua tangan ke arahku, seperti anak kecil yang minta diangkat dari boks bayi.

“Kamu bisa jalan, Tam. Aku lihat kamu jalan dari pagar ke pintu.”

“Itu jalan CFO. Jalan CFO-nya udah habis. Baterainya nol persen.” Ia menggoyangkan tangannya yang terulur. “Gendong.”

Aku berjalan ke arahnya. Aku membungkuk, menyelipkan satu lengan di belakang lututnya dan satu lengan di punggungnya, dan mengangkatnya.

Ia memekik pelan, lalu melingkarkan kedua lengannya di leherku dan menenggelamkan wajahnya di bahuku.

“Wangi kamu,” gumamnya ke bahuku. “Akhirnya.”

“Aku bau bawang.”

“Bawangnya wangi kamu juga.”

Aku membawanya ke dapur. Aku mendudukkannya di atas meja dapur, di sebelah kompor, di tempat yang sama ia biasa duduk di meja stainless Sekar Kedhaton waktu les masak dulu.

Ia tidak melepaskan lengannya dari leherku.

“Tam.”

“Hm?”

“Aku harus masak.”

“Masak sambil aku peluk.”

“Aku nggak bisa masak sambil dipeluk.”

“Belajar konsentrasi,” katanya, dan mencium leherku, tepat di bawah telinga, di tempat yang ia tahu membuatku menahan napas.

Aku menahan napas.

Ia tertawa di leherku. Tawa yang puas. Tawa orang yang baru memenangkan sesuatu.

Kalimat itu. Kalimatku. Di les pertama. Waktu aku berdiri di belakangnya dan memandu tangannya di atas pisau dan ia bilang kalau kamu berdiri sedekat ini, aku nggak bisa konsentrasi motong.

Ia mengembalikan kalimat itu kepadaku. Setahun lebih kemudian. Di dapur rumah kami.

Telingaku panas. Leherku panas. Aku tahu wajahku merah. Aku tahu ia tahu.

“Kamu merah,” bisiknya, dengan sangat puas.

“Kompor.”

“Kompornya belum nyala, Matahari.”


Aku memasak sayur asem malam itu dengan satu tangan, karena tangan yang lain dipegang Tamara. Ia duduk di meja dapur dan tidak mau melepaskan tangan kiriku. Ia memainkan jari-jariku. Ia menyusuri garis pucat panjang di lengan bawahku dengan ujung jarinya, berkali-kali, seperti menghitung jahitannya.

“Empat belas,” gumamnya.

“Kamu udah hitung kemarin.”

“Aku hitung tiap hari. Biar nggak lupa.”

Sayur asem matang. Aku menuangkannya ke mangkuk. Aku membawa mangkuk itu ke meja makan.

Tamara tidak turun dari meja dapur. Ia menunggu, dengan dua tangan terulur lagi.

“Gendong ke meja makan,” katanya.

“Tiga langkah, Tam.”

“Tiga langkah itu jauh kalau baterainya nol persen.”

Aku menggendongnya tiga langkah ke meja makan. Aku mendudukkannya di kursi. Ia menatap mangkuk sayur asem di depannya. Lalu menatapku.

“Aaa,” katanya.

Aku duduk di kursi di sebelahnya. Aku menyuapinya. Setiap suapan, ia mengunyah dengan mata terpejam dan bergumam enak. Setiap suapan, ia membuka mata dan menatapku dengan senyum yang membuat sesuatu di dadaku terasa terlalu penuh.

Di suapan kesepuluh, ia menangkap tanganku yang memegang sendok. Ia menahannya di udara.

“Matahari.”

“Hm?”

“Kamu tahu nggak, Head of Legal bilang apa ke Sasha hari ini?”

“Apa?”

“Dia bilang,” Tamara menatap sendok di tanganku, “Bu Tamara sekarang lebih galak dari sebelum nikah. Kok bisa?”

Aku menatapnya. “Kok bisa?”

“Karena,” katanya pelan, “semua sabar yang aku punya, aku simpan buat pulang.”

Ia mengambil sendok dari tanganku. Ia menyendok sayur asem. Ia menyodorkannya ke mulutku.

“Aaa,” katanya. “Giliranmu.”


Malam itu, di kasur, ia memelukku seperti koala lagi.

Kaus Pak Darto yang sekarang bau parfum kayu manisnya bercampur bau sayur asem. Rambut cokelat yang menutupi setengah wajahku. Kaki di atas kakiku. Wajah di leherku.

“Matahari,” gumamnya.

“Hm.”

“Besok kuotanya empat.”

“Kenapa empat?”

“Satu tambahan buat kompensasi kamu ninggalin aku sama guling.”

Aku menatap langit-langit. Aku memikirkan semuanya. Kuota cium berangkat. Sendok yang digigit. Voice note dari bawah meja direksi. Sayaaang yang membuat tablet Sasha retak. Kaus Pak Darto di bawah blazer CFO. Sepatu hak yang dilempar ke kiri, tas kerja ke kanan. Gendong. Baterainya nol persen.

Semua sabar yang aku punya, aku simpan buat pulang.

Aku menunduk. Aku menatap puncak kepalanya di bawah daguku.

“Tam.”

“Hmm?”

“Kamu manja gini cuma ke aku?”

Ia mengangkat wajah sedikit. Menatapku dari jarak tiga sentimeter. Mata hazel yang mengantuk.

“Cuma ke kamu,” katanya. Tanpa ragu. Seperti fakta. Seperti EBITDA.

Aku menatapnya lama. Lalu aku menurunkan kepalaku sampai hidungku menyentuh hidungnya.

“Bagus,” kataku pelan. “Soalnya aku nggak mau berbagi.”

Hening.

Matanya melebar. Pelan. Seperti layar yang loading.

Pipinya memerah. Lalu lehernya. Lalu telinganya. Merah yang naik dari bawah ke atas, seperti termometer yang dicelupkan ke air panas.

Ia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Tidak ada yang keluar.

Tamara Morgan, perempuan yang tidak pernah kehabisan kata-kata, yang menutup Seri C dalam empat bulan dan membuat Head of Product lari ke lift, menatapku dengan mulut terbuka dan wajah merah menyala seperti cabai rawit setan.

Lalu ia mengambil bantal di sebelahnya, dan menutup wajahnya sendiri dengan bantal itu.

“Curang,” katanya dari balik bantal. Teredam. “Kamu curang.”

“Kenapa curang?”

“Karena kamu cuma bales sekali sehari. Dan sekalinya bales, aku langsung KO.” Ia menurunkan bantal sedikit. Hanya matanya yang terlihat. Mata yang berkaca-kaca dan sangat, sangat malu. “Aku udah goda kamu dari jam lima pagi. Kuota cium. Voice note. Foto kaus. Belajar konsentrasi. Gendong. Suap-suapan. Itu tujuh kali. Kamu bales sekali. Dan sekali itu aku kalah total.”

“Itu namanya efisiensi.”

Ia memukul dadaku dengan bantal. Pelan. Lalu ia membuang bantal itu ke lantai, memelukku lagi, lebih erat dari sebelumnya, dan menenggelamkan wajahnya yang masih merah di leherku.

“Nggak mau berbagi juga,” gumamnya ke leherku. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar.

Aku memeluknya balik.

Lampu tidur kecil di nakas masih menyala. Aku mengulurkan tangan dan mematikannya.

Dalam gelap, aku merasakan ia tersenyum di leherku. Lalu aku merasakan bibirnya. Di leher. Di rahang. Di sudut bibir.

“Matahari,” bisiknya.

“Hm.”

“Kuota malam juga ada, lho.”

Aku tidak bertanya berapa.

Di luar jendela kamar, di halaman belakang, pohon jambu air yang kata pemilik lama sudah tidak berbuah sejak tahun dua ribu lima belas bergoyang pelan ditiup angin malam.

Seminggu kemudian, ia berbunga.