← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Nine

Aku Cuma Mau Kamu Tahu

POV: Anggana

Senin, 18 September 2017. Jam dua siang lewat empat puluh lima.

Aku mengirim pesan itu dari bangku kelas, lima menit sebelum bel pulang, dengan jari yang tidak terlalu stabil.

Anggana: Aluna, habis pulang ada waktu sebentar? Bangku belakang lab Biologi. 10 menit aja.

Aku menatap layar sampai titik-titik tanda ia sedang mengetik muncul. Lalu hilang. Lalu muncul lagi. Lalu hilang lagi.

Dua menit kemudian:

Aluna: Oke.

Ucup, yang membaca dari samping karena memang ia tidak pernah punya rasa malu, menatapku lama. Lalu ia menepuk bahuku tiga kali, pelan, tanpa satu pun lelucon. Itu yang membuatku sadar betapa seriusnya wajahku saat itu.

“Mau gue tungguin?” tanyanya.

“Nggak usah.”

“Gue tunggu di parkiran sepeda. Kalau lo butuh, gue di sana. Kalau nggak butuh, gue tetep di sana.” Ia mengambil tasnya. “Itu bukan nolong. Itu gue emang lagi pengen duduk di parkiran.”


Bangku belakang lab Biologi adalah bangku semen panjang di bawah pohon ketapang tua. Jarang ada orang di sana karena letaknya tersembunyi di antara gedung lab dan tembok belakang sekolah. Daun-daun ketapang yang lebar dan merah berguguran sepanjang tahun dan tidak pernah disapu, menumpuk di sekitar kaki bangku seperti karpet yang tidak rata.

Aku sampai lebih dulu. Aku duduk. Lalu berdiri. Lalu duduk lagi.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku menulisnya di halaman belakang buku tulis semalam, di bawah kolom-kolom angka, lalu mencoretnya, lalu menulisnya lagi. Versi pertama terlalu panjang. Versi kedua terlalu puitis, seperti caption Instagram anak-anak kelas sebelas. Versi ketiga terlalu pendek, cuma tiga kata, dan aku takut kalau aku cuma mengucapkan tiga kata itu, aku akan kehabisan napas di tengahnya.

Versi keempat, yang akhirnya kupilih, kuhafalkan sambil membungkus dua ratus sepuluh nasi uduk pagi tadi. Ibu bertanya kenapa bibirku komat-kamit. Aku bilang menghafal rumus Fisika.

Langkah kaki di atas daun kering.

Aku menoleh.

Aluna berjalan pelan dari sudut gedung lab. Matahari sore jam tiga jatuh miring melewati celah daun ketapang, membuat bintik-bintik cahaya bergerak di rambutnya, di bahunya, di wajahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai hari itu, jatuh sampai pinggang, dan angin dari arah tembok belakang membuat ujung-ujungnya bergerak pelan. Cahaya menyentuh matanya dari samping dan iris cokelat madunya berubah jadi keemasan, seperti di pagi MOS dua tahun lalu, seperti hari pertama aku melihatnya, waktu aku belum tahu namanya dan belum tahu bahwa satu tatapan bisa mengubah cara seseorang menghitung waktu.

Ia lebih kurus dari dua bulan lalu. Bayangan di bawah matanya lebih gelap. Tapi ia tetap gadis paling cantik yang pernah kulihat, dan aku tahu, berdiri di bawah pohon ketapang itu, bahwa ia akan tetap jadi gadis paling cantik yang pernah kulihat, apa pun jawabannya nanti.

Ia berhenti dua langkah dariku. Tidak duduk.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Ia memeluk tasnya di depan dada. Matanya menatapku, lalu ke tanah, lalu ke daun-daun ketapang, lalu kembali padaku. Aku tidak pernah melihatnya segugup itu. Bahkan di depan juri Lomba Inovasi. Bahkan di depan kakak OSIS yang menyuruhnya mencari nasi uduk bungkus daun pisang.

Aku sadar, dengan perasaan aneh yang campur aduk, bahwa ia sudah tahu. Ia sudah tahu apa yang akan kukatakan.

Itu membuatnya lebih mudah. Dan lebih sulit.

“Aku nggak akan lama,” kataku.

Ia mengangguk.

Aku menarik napas. Versi keempat ada di ujung lidahku, lengkap, sudah kuhafal. Tapi waktu aku membuka mulut, yang keluar bukan versi keempat. Yang keluar adalah sesuatu yang tidak pernah kutulis di mana pun.

“Aku suka kamu.”

Angin berhenti. Atau mungkin cuma terasa begitu.

“Sejak hari nasi uduk itu. Hari pertama MOS. Waktu kamu berdiri di dekat gerbang sambil bawa kotak bekal kayu, terus kamu nengok, terus aku lupa lagi berdiri di mana.” Suaraku tenang. Lebih tenang dari yang kukira. Mungkin karena ini adalah hal paling jujur yang pernah kuucapkan seumur hidup, dan kejujuran ternyata tidak butuh banyak tenaga. “Dua tahun. Hampir dua setengah. Aku suka kamu waktu kamu nggak bisa makan pakai tangan. Waktu kamu begadang di telepon jam satu pagi ngedikte angka. Waktu kamu ngitung empat puluh tujuh orang yang aku tolong. Waktu kamu benerin kerahku di gerbang. Waktu kamu nangis di depan radio Oma.”

Aluna tidak bergerak. Tangannya mencengkeram tali tasnya.

“Aku tahu,” lanjutku, “kita beda. Aku tahu kamu tinggal di rumah yang ada air mancurnya, dan aku tinggal di gang yang sumurnya kuning kalau kemarau. Aku tahu ada orang lain yang lebih cocok buat kamu. Aku nggak bodoh, Aluna. Aku nggak ngomong ini karena aku pikir aku punya kesempatan.”

Aku tersenyum. Bukan senyum yang sama untuk semua orang. Senyum yang hanya pernah kuberikan padanya, senyum yang otot-ototnya berbeda, yang ia tanyakan di kelas sebelas dan tidak pernah kujawab.

“Aku cuma mau kamu tahu,” kataku. “Kamu nggak perlu jawab.”

Hening.

Daun ketapang jatuh di antara kami. Satu. Lalu satu lagi. Merah, lebar, berputar pelan sebelum menyentuh tanah.

Aluna menatapku. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup, lalu terbuka lagi. Aku melihat tenggorokannya bergerak, menelan sesuatu. Aku melihat tangannya yang mencengkeram tali tas gemetar.

Lalu ia menjawab. Meskipun aku bilang ia tidak perlu.

“Maaf, Anggana.”

Suaranya pelan. Jelas.

“Aku nggak bisa.”

Aku mengangguk. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak pagi MOS, sejak pesta ulang tahun di rumah marmer, sejak dua bulan kerahku tidak dirapikan. Aku sudah berlatih mendengar kalimat itu ribuan kali di kepalaku, di konter, di boncengan sepeda, di dapur jam tiga lewat empat puluh.

Ternyata latihan tidak ada gunanya. Ternyata mendengar dari mulutnya sendiri terasa seperti seseorang memasukkan tangan ke dadaku dan memindahkan sesuatu dari tempatnya. Tidak mematahkan. Hanya memindahkan. Dan tiba-tiba ada ruang kosong di tempat yang tadinya penuh.

“Iya,” kataku. “Nggak apa-apa.”

Ia menunduk. Rambutnya jatuh menutupi separuh wajahnya.

“Ada orang lain,” katanya. Lebih pelan lagi.

Aku memikirkan mobil SUV putih. Kemeja linen biru muda. Gue kenal Luna dari kecil.

“Bastian?”

Ia tidak menjawab. Ia tidak menggeleng. Ia tidak mengangguk. Ia hanya berdiri di sana dengan kepala tertunduk dan tangan gemetar, dan diamnya cukup.

“Dia kelihatan baik,” kataku. Dan aku bersungguh-sungguh. “Dia kenal kamu dari kecil. Dia tahu radio Oma. Dia bisa berdiri di rumahmu tanpa takut ninggalin bekas sepatu.” Aku tertawa kecil, dan tawaku terdengar aneh di telingaku sendiri. “Aku seneng kamu punya orang kayak gitu. Serius.”

Aluna mengangkat wajahnya.

Air matanya sudah jatuh. Dua garis basah di pipinya, berkilau di bawah bintik-bintik cahaya sore. Matanya menatapku dengan sesuatu yang tidak bisa kubaca, sesuatu yang terlalu besar dan terlalu banyak, seperti seseorang yang sedang berteriak di balik kaca kedap suara.

“Kenapa kamu senyum?” bisiknya.

“Karena aku lega.”

“Lega?”

“Udah dua tahun aku bawa ini sendirian. Sekarang kamu tahu.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak perlu nebak-nebak lagi. Aku nggak perlu nanya-nanya ke diriku sendiri tiap malam. Makasih udah dengerin, Aluna. Makasih udah jawab, padahal aku bilang nggak usah.”

Ia membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Tangannya bergerak, sedikit, ke arahku, ke arah leherku, ke arah kerahku yang miring seperti setiap hari selama dua bulan terakhir.

Lalu tangannya berhenti di udara. Dan turun lagi.

“Aku harus pulang,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Pak Darto nunggu.”

“Iya.”

Ia berbalik. Ia berjalan cepat melewati sudut gedung lab, menginjak daun-daun ketapang yang berderak di bawah sepatunya, rambutnya berayun di punggung. Ia tidak menoleh.

Aku berdiri di bawah pohon ketapang sampai bunyi langkahnya hilang. Lalu aku duduk di bangku semen, dan menatap daun-daun merah di tanah, dan menunggu sampai tanganku berhenti gemetar.

Butuh sebelas menit.


Ucup masih di parkiran sepeda. Ia duduk di atas sadel sepedanya sendiri sambil memainkan HP. Waktu melihatku datang, ia memasukkan HP ke saku dan tidak bertanya apa-apa.

Ia cuma menatap wajahku. Lalu mengangguk pelan.

“Bakso?” tanyanya.

“Aku harus ke konter.”

“Bakso dulu. Gue yang bayar. Ini bukan nolong. Gue cuma lagi pengen makan bakso dan nggak mau makan sendirian, soalnya kalau makan sendirian gue kelihatan kayak orang patah hati, padahal yang patah hati bukan gue.”

Aku tertawa. Dan tawaku pecah di tengah, sedikit, seperti suara Aluna tadi.

Ucup menepuk bahuku dan tidak berkata apa-apa lagi sampai mangkuk bakso kedua.


Di rumah, makan malam berjalan normal.

Ibu memasak sayur asem dan tempe goreng. Dara bercerita tentang guru IPS-nya yang salah menyebut ibu kota Kanada dan tidak mau mengaku salah waktu dikoreksi. Aku tertawa di bagian yang tepat. Aku menambah nasi. Aku mencuci piring.

Aku sangat baik. Aku selalu sangat baik dalam hal-hal seperti itu.

Jam sembilan, aku masuk kamar mandi untuk mandi. Aku menyalakan keran bak, sekencang-kencangnya, sampai suara airnya memenuhi ruangan kecil itu dan memantul di dinding keramik.

Lalu aku duduk di lantai kamar mandi yang basah, bersandar ke dinding, dan menangis.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis. Mungkin di pemakaman Bapak, waktu umurku delapan tahun dan Ibu memelukku begitu erat sampai aku tidak bisa bernapas. Sejak itu, aku tidak pernah. Tidak waktu dipanggil ke TU. Tidak waktu dihukum nyanyi Balonku. Tidak waktu tagihan SPP berwarna merah. Aku berpikir bahwa aku sudah lupa caranya.

Ternyata tidak. Ternyata tubuh ingat hal-hal yang dilupakan kepala.

Aku menangis tanpa suara, dengan mulut ditutup punggung tangan, sementara keran terus mengalir dan bak mandi penuh lalu meluber ke lantai. Aku menangis bukan karena Aluna jahat. Ia tidak jahat. Ia tidak pernah jahat. Aku menangis karena ruang kosong di dadaku tadi sore ternyata lebih besar dari yang kukira, dan aku tidak tahu harus mengisinya dengan apa.

Aku menangis sampai tidak ada yang tersisa. Lalu aku membasuh wajah dengan air dingin, mandi seperti biasa, mematikan keran, dan membuka pintu.

Di lantai, tepat di depan pintu kamar mandi, ada segelas teh manis hangat. Diletakkan di atas piring kecil, supaya tidak ada semut. Uapnya masih naik pelan.

Aku menoleh ke lorong. Pintu kamar Dara baru saja tertutup. Pelan sekali, nyaris tidak berbunyi, tapi aku melihat celahnya mengecil dan hilang.

Lampu kamarnya mati.

Aku berdiri di lorong itu lama sekali dengan segelas teh di tangan. Lalu aku meminumnya, pelan-pelan, sampai habis. Rasanya terlalu manis. Dara selalu menaruh gula terlalu banyak.

Dara tidak pernah membicarakan malam itu. Tidak besoknya, tidak minggu depannya, tidak bertahun-tahun kemudian. Ia cuma, mulai besok paginya, membangunkanku lebih awal untuk membungkus nasi uduk bersamanya, dan menjadi sangat, sangat diam setiap kali seseorang di rumah menyebut nama sekolahku.


Seminggu kemudian, Pak Hardi datang ke gerobak Ibu jam lima pagi.

Ia antre di belakang Pakde Sarno, membeli tiga bungkus, dan waktu Ibu menyerahkan kembaliannya, ia berkata dengan sopan, “Bu, saya gurunya Anggana. Boleh minta waktu lima menit?”

Aku sedang mengantar nasi uduk ke warung Bang Udin waktu itu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Aku baru tahu malam harinya, waktu aku pulang dari konter dan menemukan Ibu duduk di meja makan dengan map cokelat yang kukenal, terbuka di depannya. Dara duduk di sebelahnya dengan tangan bersedekap dan mata merah.

“Duduk, Le,” kata Ibu.

Aku duduk.

Ibu tidak marah. Itu yang paling buruk. Ibu tidak pernah marah dengan suara keras. Ibu marah dengan suara pelan dan mata yang berkaca-kaca, dan aku lebih takut pada itu daripada pada apa pun di dunia.

“Kenapa kamu ndak bilang Ibu?”

“Bu, kalau aku ke Bandung—”

“Ibu sendirian? Ibu bungkus nasi uduk sendirian?” Ibu menggeleng pelan. “Le, Ibu bungkus nasi uduk sendirian sejak kamu umur delapan. Sebelum kamu bisa bantu, Ibu sudah bisa. Sebelum kamu lahir, Ibu sudah bisa.”

“Dara tahun depan SMA. Biayanya—”

“Aku bisa masuk negeri,” potong Dara. Suaranya bergetar. “Negeri gratis. Nilaiku cukup. Aku udah cek. Aku nggak butuh sekolah swasta yang mahal. Aku nggak butuh Kakak kerja buat aku.”

“Dar—”

“Kakak selalu begitu!” Dara berdiri. Air matanya jatuh. “Kakak selalu mutusin semuanya sendiri! Kakak nggak pernah nanya kita mau apa! Kakak pikir kita seneng kalau Kakak ngorbanin semuanya? Kakak pikir aku bisa tidur nyenyak di SMA mahal kalau tahu Kakak harusnya kuliah di ITB?”

Aku tidak bisa menjawab.

Ibu meraih tanganku di atas meja. Tangannya kasar, penuh kapal dari bertahun-tahun memegang sutil dan daun pisang, dan hangat.

“Le,” kata Ibu pelan. “Ibu ndak mau kamu jadi tukang bungkus seumur hidup karena Ibu. Ibu mau kamu terbang. Dulu Ibu pernah bilang, kalau kamu sukses, ajak Ibu terbang. Gimana kamu mau ajak Ibu terbang kalau kamu sendiri ndak pernah dikasih sayap?”

Aku menunduk. Mataku panas. Dua kali dalam satu minggu, setelah delapan tahun tidak sama sekali.

Ibu mendorong map cokelat itu ke depanku. Lalu mengambil pulpen dari saku dasternya dan meletakkannya di atas formulir.

Kolom tanda tangan orang tua sudah terisi. Tanda tangan Ibu, yang selalu terlihat seperti huruf R yang miring karena Ibu tidak pernah benar-benar belajar menulis tanda tangan.

Aku menatap tanda tangan itu lama. Lalu aku mengambil pulpen dan menandatangani kolom di sebelahnya.

Dara memelukku dari belakang, keras, seperti malam waktu tagihan SPP. Ibu menangis sambil tertawa. Kucing pelanggan VIP mengeong dari bawah meja, minta sisa tempe.

Di sekolah, berita itu menyebar dalam dua hari: Anggana Pradipta, anak penjual nasi uduk, dapat beasiswa penuh ITB.

Aku tidak tahu apakah Aluna mendengarnya. Kami sudah tidak saling bicara.


Sejak hari di bawah pohon ketapang, kami tidak sama lagi.

Bukan karena kami bertengkar. Kami tidak pernah bertengkar. Kami hanya berhenti. Seperti radio yang tabungnya putus, tidak meledak, tidak terbakar, hanya diam.

Minggu pertama, ia masih bilang “pagi” di gerbang. Minggu kedua, ia mulai datang lebih siang, setelah aku masuk kelas. Minggu ketiga, aku berhenti menunggu di pos satpam. Pak Karno tidak bertanya. Ia hanya mulai menyapaku dengan “Pagi, Mas” saja, tanpa “kerahnya udah lurus?”

Di kelas, ia duduk di baris paling belakang dekat jendela, dan aku di baris kedua, dan di antara kami ada tujuh bangku yang terasa seperti tujuh kilometer.

Mobil SUV putih kadang masih menjemputnya. Ucup sekali hampir mendatanginya di kantin dengan wajah merah, dan aku menahannya di lengan.

“Dia nggak salah apa-apa, Cup.”

“Dia nolak lo, terus langsung jalan sama cowok lain di depan lo, Bro.”

“Dia jujur. Itu bukan salah.”

Ucup menatapku lama, lalu duduk kembali. “Lo terlalu baik. Gue benci lo kadang-kadang.”

Aku tetap membawa dua bungkus nasi uduk. Setiap pagi. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tanganku sudah terbiasa. Mungkin karena aku sudah berjanji di hari MOS: aku bakal selalu bawa satu cadangan. Dan aku tidak tahu cara membatalkan janji yang tidak pernah diminta untuk dibatalkan.

Setiap siang, aku memakan bungkus kedua sendirian di bangku belakang lab Biologi, di bawah pohon ketapang, di antara daun-daun merah yang tidak pernah disapu.


Wisuda kelulusan diadakan di aula sekolah, Sabtu, 12 Mei 2018.

Aula dihias dengan kain putih dan bunga-bunga kertas. Siswa-siswa memakai toga hitam di atas pakaian terbaik mereka. Orang tua duduk di kursi-kursi plastik yang disusun berbaris, mengipas-ngipas dengan undangan karena AC aula tidak cukup kuat melawan tiga ratus orang.

Ibu datang dengan kebaya biru muda yang dijahitnya sendiri. Dara datang dengan seragam SMP-nya, karena ia baru selesai ujian, dan langsung mengambil posisi di kursi paling depan dengan HP siap merekam.

Di bawah togaku, aku memakai kemeja putih hasil investasi Dara. Kerahnya miring. Aku tidak sempat merapikannya. Aku tidak mencoba.

Aluna duduk tiga baris di depanku, di antara siswa-siswa yang namanya berawalan A.

Ia memakai kebaya. Kebaya kutubaru warna merah bata dengan kain batik sogan cokelat tua, sederhana, tanpa payet berlebihan. Rambutnya disanggul rendah di tengkuk dengan tusuk konde perak kecil, dan beberapa helai pendek lepas di dekat telinga. Lehernya yang jenjang terlihat seluruhnya di atas kerah kebaya. Riasannya tipis. Bibirnya diberi warna merah bata yang sama dengan kebayanya.

Ia lebih kurus dari bulan September. Tulang selangkanya lebih menonjol. Pipinya lebih tirus. Tapi di bawah lampu aula yang kekuningan, dengan toga hitam di bahunya dan kebaya merah bata itu, ia terlihat seperti lukisan perempuan Jawa dari zaman dulu yang tergantung di museum, yang orang-orang tatap lama tanpa tahu kenapa mereka tidak bisa berhenti menatap.

Orang tuanya tidak ada di kursi orang tua. Aku mencari-cari. Pak Hendra tidak ada. Tante Melinda tidak ada.

Yang ada, di kursi paling belakang, hanya Bastian, sendirian, dengan kemeja batik.


Setelah prosesi, aula berubah jadi lautan orang berfoto. Toga dilempar ke udara. Orang tua menangis. Ucup memeluk semua orang, termasuk Pak Karno, termasuk Bu Endang dari TU, yang menangis dan bilang ia akan merindukan suara Ucup yang selalu terdengar sampai ruang TU.

Aku sedang berdiri di dekat pintu aula, menunggu Ibu selesai berfoto dengan Bu Ratna, ketika aku merasakan seseorang berhenti di depanku.

Aluna.

Jarak kami satu langkah. Sejak September, ini pertama kalinya kami berdiri sedekat ini.

Ia menatapku. Lalu matanya turun, ke leherku. Ke kerahku yang miring.

Aku melihat tangannya bergerak. Pelan. Naik dari sisinya, melewati pinggang kebaya merah bata, naik ke arah dadaku, ke arah kerahku. Ujung jarinya, yang ujung kukunya diberi warna merah bata yang sama, berhenti beberapa senti dari lipatan kain yang terlipat ke dalam.

Ia berhenti di sana.

Satu detik. Dua detik.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas. Aku menunggu, seperti dua tahun lalu di gerbang, seperti setiap pagi di dekat pos satpam.

Lalu tangannya turun. Kembali ke sisinya. Mengepal.

“Selamat, Anggana,” katanya. Suaranya tenang. Matanya tidak. “Selamat ITB.”

“Selamat juga, Aluna.”

Ia mengangguk. Ia membuka mulut, seperti mau mengatakan sesuatu yang lain. Aku menunggu.

Tapi yang keluar hanya: “Jaga diri.”

Lalu ia berbalik, berjalan melewati kerumunan, melewati keluarga-keluarga yang berfoto, ke arah kursi paling belakang tempat Bastian berdiri menunggu. Bastian menyerahkan sesuatu padanya, tisu, mungkin, dan Aluna menerimanya dengan kepala tertunduk.

Lalu mereka pergi.

Aku berdiri di dekat pintu aula. Ibu muncul di sebelahku, masih tersenyum bangga dari foto bersama Bu Ratna. Ia menatap wajahku. Lalu menatap arah yang kutatap. Lalu kembali ke wajahku.

Ibu tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengangkat tangannya yang kasar dan hangat, dan merapikan kerahku. Melipat bagian yang terlipat ke dalam. Meratakan bagian yang mencuat. Menepuknya dua kali.

Persis seperti cara Aluna dulu menepuknya.

Mungkin Ibu tahu. Mungkin Ibu tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya.

“Ayo pulang, Le,” kata Ibu. “Besok subuh masih ada dua ratus bungkus.”

Aku mengangguk.

Bulan Agustus, aku berangkat ke Bandung dengan bus malam, membawa satu koper pinjaman Bang Jali, laptop bekas dari yayasan, dan sebungkus nasi uduk dengan telur balado paling bulat yang Ibu selipkan di saku depan tas.

Satu bungkus. Bukan dua.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak membawa cadangan. Tidak ada lagi yang membutuhkannya.