← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty Five

Dermaga

POV: Anggana

Marcella Tan meminta kunjungan lapangan dua minggu sebelum Investment Committee final.

“Saya mau lihat Bu Karsinah,” katanya dalam rapat video hari Senin, dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Atau versi Labuan Bajo-nya. Bapak bilang di IC bahwa Trivio tidak bisa membeli mitra-mitra kecil Flie. Saya mau lihat sendiri mitra kecil itu.”

“Ibu mau ikut?” tanya Jovan.

“Saya tidak bisa. Ada rapat dengan Halcyon di Singapura.” Marcella berhenti sebentar. Di layar, wajahnya tidak berubah, tapi aku melihat matanya bergerak ke sudut, ke tempat yang aku tahu adalah kotak video Aluna. “Tiara dan Luna yang berangkat.”

Hening sedetik.

“Dua-duanya?” tanya Jovan, dengan suara yang terlalu cepat.

“Dua-duanya. Tiara untuk aspek keuangan mitra. Luna untuk aspek operasional.” Marcella menatap kamera. “Dan Pak Jovan, Pak Anggana. Ini kunjungan kerja. Saya harap semua pihak ingat itu.”

Ia memutus sambungan sebelum siapa pun bisa menjawab.

Jovan menatapku dari seberang meja. Lalu menatap layar yang sudah gelap. Lalu menatapku lagi.

“Bro,” katanya pelan. “Itu tadi peringatan, kan?”

“Iya.”

“Buat lo atau buat gue?”

“Dua-duanya.”


Kami terbang hari Kamis pagi. Penerbangan jam enam dari Soekarno-Hatta, tiba di Labuan Bajo jam sembilan waktu setempat.

Aku duduk di kursi lorong. Aluna di kursi jendela. Jovan dan Tiara di baris depan, dan selama dua jam penerbangan, aku mendengar mereka bertengkar soal hal-hal yang sama sekali tidak penting dengan nada yang sama sekali tidak seperti orang bertengkar. Apakah kacang di pesawat lebih enak yang asin atau yang madu. Apakah awan cumulus atau cumulonimbus. Apakah Jovan boleh meminjam bantal leher Tiara.

“Nggak boleh,” kata Tiara.

“Kenapa?”

“Itu bantal leher pribadi.”

“Bantal leher memang pribadi semua. Nggak ada bantal leher umum.”

“Pokoknya nggak boleh.”

Lima menit kemudian, aku melihat dari celah kursi bahwa Jovan tertidur dengan kepala di atas bantal leher Tiara, dan Tiara menatap jendela dengan wajah merah dan tidak bergerak sedikit pun supaya tidak membangunkannya.

Aluna di sebelahku melihat itu juga. Ia menoleh padaku dengan alis terangkat. Aku membalasnya dengan alis terangkat. Ia menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa.

Lalu ia menatap jendela. Lama. Aku pikir ia tertidur.

Waktu pesawat mulai turun dan pilot mengumumkan kami akan mendarat sebentar lagi, aku melihat bahwa ia tidak tidur. Ia menatap jendela dengan mata terbuka lebar, dan tangannya menempel di kaca.

Aku mencondongkan badan sedikit untuk melihat apa yang ia lihat.

Di bawah sana, laut. Biru yang tidak pernah kulihat di Jakarta. Biru tua di tengah, lalu biru kehijauan, lalu hijau toska di pinggir pulau-pulau, lalu putih di garis pantai. Pulau-pulau kecil bertebaran seperti kepingan batu hijau di atas kaca. Matahari pagi memantul di permukaan air dan membuat seluruhnya berkilau.

“Ibu pasti suka ini,” kata Aluna pelan. Ke jendela, bukan ke aku.

Aku tidak menjawab. Tenggorokanku tiba-tiba terasa sempit.

Ia ingat. Ibu pengen lihat awan dari atas. Aku pernah mengatakannya padanya sekali, di teras samping sebuah rumah di Pondok Indah, sembilan tahun lalu. Ia ingat.


Mitra Flie di Labuan Bajo yang akan kami kunjungi adalah sebuah homestay di Desa Warloka, empat puluh menit perjalanan darat dari kota, lalu dua puluh menit naik perahu kayu kecil menyusuri pesisir. Pemiliknya Mama Rosa, perempuan Manggarai berusia lima puluhan, janda dengan empat anak, yang tiga tahun lalu mengubah rumah panggungnya jadi homestay lima kamar setelah tim lapangan Flie datang ke desanya.

Kak Ferdi, koordinator lapangan Flie untuk wilayah Flores, menjemput kami di bandara dengan mobil pikap dan senyum lebar. Ia anak Labuan Bajo asli, kurus, kulitnya legam, dan bicaranya cepat.

“Mama Rosa sudah masak dari subuh, Pak Angga,” katanya. “Katanya CTO Flie harus makan ikan bakar paling enak di Flores.”

“Mama Rosa tahu aku?”

“Semua mitra di Flores tahu Pak Angga.” Kak Ferdi tertawa. “Mama Rosa simpan nomor HP Bapak dengan nama Anak Jakarta yang Benerin HP Saya.”

Aku memang pernah memperbaiki HP Mama Rosa. Lewat video call, dua tahun lalu, jam sebelas malam waktu Indonesia tengah, waktu aplikasi mitranya tidak mau sinkron dan ada empat tamu dari Belanda yang tidak tercatat. Aku memandunya membersihkan cache aplikasi selama empat puluh menit, dan di menit ketiga puluh, ia menyerahkan HP-nya ke anak bungsunya yang berumur dua belas tahun karena “jari Mama terlalu besar untuk tombol-tombol ini”.

Aku lupa. Mama Rosa tidak lupa.


Perahu kayu kecil itu bernama Bintang Laut dan dikemudikan oleh anak sulung Mama Rosa, Marten, yang berusia sembilan belas tahun dan tidak banyak bicara. Perahunya bergoyang lebih dari yang kuduga.

Jovan muntah di menit ketujuh.

Ia muntah ke laut, dengan kepala menjulur di pinggir perahu, dengan suara yang membuat Marten menoleh dan menahan tawa. Tiara langsung berdiri, kehilangan keseimbangan, duduk lagi, lalu merangkak ke arah Jovan dengan botol air mineral dan tisu.

“Lo nggak bilang lo mabuk laut,” katanya, mengusap punggung Jovan.

“Gue nggak tahu,” kata Jovan di antara muntah. “Gue orang Medan. Danau Toba nggak ada ombaknya.”

“Danau Toba ada ombaknya.”

“Ombak Danau Toba sopan. Ini ombak kurang ajar.”

Tiara tertawa, lalu menyodorkan air. Jovan meminumnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara dengan wajah pucat. Tiara tidak menyingkir.

Aluna duduk di sebelahku di bangku kayu di tengah perahu. Ia menatap Jovan dan Tiara dengan senyum kecil. Lalu menatap laut.

Aku menatapnya.

Aku tidak bermaksud menatapnya. Aku bermaksud menatap laut, seperti dia. Tapi mataku berhenti di wajahnya, dan tidak mau pindah.

Di Jakarta, di bawah lampu kantor yang putih dan lampu dapur yang kuning, aku sudah terbiasa melihat wajahnya. Tulang pipi yang tegas. Mata cokelat madu. Tahi lalat kecil di bawah mata kanan. Tapi di sini, di bawah matahari Flores jam sepuluh pagi, di atas perahu kayu yang bergoyang di laut biru toska, wajahnya terlihat seperti orang lain. Atau seperti dirinya yang sebenarnya.

Cahaya matahari dari timur jatuh langsung di wajahnya, tanpa penghalang, tanpa kaca, tanpa debu Jakarta. Kulitnya yang biasanya pucat karena lampu kantor sekarang terlihat hangat, keemasan, seperti pasir di pantai yang baru kami lewati. Matanya, yang menyipit sedikit karena silau, berubah warna sepenuhnya: tidak lagi cokelat madu, tapi emas. Emas yang jernih, seperti teh melati yang dituang ke gelas bening di bawah jendela pagi. Seperti di hari MOS. Seperti di bawah pohon ketapang.

Angin laut meniup rambutnya yang sebahu ke segala arah. Ia tidak mencoba merapikannya. Ia membiarkannya berantakan, helai-helai yang bergelombang tidak rata itu menari di sekitar wajahnya, menyentuh pipinya, menyentuh bibirnya yang hari itu tidak memakai lipstik apa pun, merah muda alami seperti waktu ia berumur lima belas.

Ia memakai kemeja linen putih longgar dengan lengan digulung, celana pendek khaki selutut, dan sandal gunung. Ada topi jerami di pangkuannya, tapi ia tidak memakainya. Lehernya yang jenjang, yang dulu kulihat seluruhnya di atas kerah kebaya merah bata, terlihat seluruhnya lagi, dengan butir-butir keringat kecil yang berkilau di bawah matahari.

Dulu, sembilan tahun lalu, aku berpikir bahwa ia terlihat seperti foto di sampul majalah. Sempurna. Terang. Hampir tidak nyata.

Sekarang ia tidak terlihat seperti foto. Ia terlihat nyata. Terlalu nyata. Seperti seseorang yang sudah melewati musim hujan dan kemarau, dan entah bagaimana, di tengah laut Flores, di atas perahu yang bergoyang dengan CEO yang muntah di sebelahnya, terlihat lebih cantik dari yang pernah kulihat seumur hidupku.

Ia menoleh. Menangkap mataku.

Aku tidak memalingkan wajah. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak memalingkan wajah.

“Apa?” tanyanya pelan.

“Nggak.”

“Kamu ngeliatin aku.”

“Iya.”

Ia mengerjap. Ia jelas tidak mengira aku akan mengaku. Pipinya, yang sudah keemasan karena matahari, berubah sedikit lebih merah.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Lalu Jovan muntah lagi, dengan suara yang membuat burung camar di atas kami terbang menjauh, dan Tiara berteriak JOVAN, JANGAN KE ARAH ANGIN, dan Marten di buritan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Aluna menatapku sedetik lagi. Lalu ia tertawa juga, dan menoleh ke laut.

Pertanyaannya menggantung di udara, terbang bersama burung camar.


Homestay Mama Rosa berdiri di atas tiang-tiang kayu di pinggir pantai, dengan lima kamar berdinding anyaman bambu, teras lebar menghadap laut, dan dermaga kayu kecil tempat perahu-perahu tamu bersandar.

Mama Rosa menyambut kami di ujung dermaga dengan kain tenun Manggarai di bahu dan suara yang terdengar sampai ke perahu.

“Anak Jakarta yang benerin HP saya!”

Ia memelukku sebelum aku sempat naik ke dermaga dengan benar. Pelukannya kuat, wangi minyak kelapa dan asap kayu bakar.

Lalu ia melihat Aluna, yang naik ke dermaga di belakangku. Mama Rosa melepaskan pelukannya, menatap Aluna dari atas ke bawah dengan mata menyipit, lalu menatapku, lalu menatap Aluna lagi.

“Ini istri?”

“Bukan, Mama,” kataku cepat. “Ini dari investor.”

“Investor?” Mama Rosa mengangguk-angguk. “Investor yang cantik begini, sa kira istri.” Ia menyalami Aluna dengan dua tangan. “Nona, selamat datang. Nona cantik sekali. Nona jangan marah sa bilang istri. Sa sudah tua, mata sudah rabun.”

“Nggak apa-apa, Mama,” kata Aluna, tertawa. Telinganya merah.


Kami menghabiskan siang itu di homestay Mama Rosa. Aluna mewawancarainya tentang bisnis, tentang jumlah tamu sebelum dan sesudah bergabung dengan Flie, tentang bagaimana ia mengelola pesanan. Tiara mencatat angka-angka pendapatan di laptop, sesekali melirik Jovan yang terbaring di hammock di teras dengan wajah pucat dan handuk basah di dahi.

Aku memeriksa HP Mama Rosa.

Aplikasi mitranya berjalan baik. Tapi di bagian sinkronisasi, ada tiga pesanan yang tertahan sejak minggu lalu. Bukan karena aplikasinya rusak. Karena sinyal di Desa Warloka hanya ada di satu titik: di ujung dermaga, di dekat tiang kayu paling luar, dan hanya kalau angin bertiup dari arah barat.

“Mama tiap hari ke ujung dermaga?” tanyaku.

“Tiap sore, Nak. Jam lima. Bawa HP, angkat tinggi-tinggi, tunggu sampai bunyi ting.” Mama Rosa mengangkat tangannya ke udara, memperagakan. “Kalau angin dari timur, sa tunggu sampai besok.”

Aku duduk di teras dengan laptop dan HP Mama Rosa selama satu jam. Aku mengubah pengaturan aplikasinya supaya sinkronisasi otomatis mencoba lebih sering di jam-jam ketika sinyal paling mungkin muncul, dan supaya data yang dikirim dipecah jadi potongan-potongan kecil yang bisa lewat walaupun sinyal cuma muncul tiga detik. Lalu aku mencatat masalah itu untuk tim di Jakarta: mitra di daerah sinyal lemah butuh mode kirim-pecah. Prioritas.

Aluna duduk di sebelahku waktu aku mengerjakannya. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menatap tanganku di atas keyboard, lalu menatap Mama Rosa yang sedang menjelaskan sesuatu pada Tiara, lalu menatap laut.

“Ini yang kamu maksud,” katanya pelan. “Di depan Pak Haryo. Bu Karsinah. Trivio nggak bisa beli ini.”

“Trivio bisa beli aplikasinya,” kataku tanpa mengangkat kepala. “Nggak bisa beli satu jam di teras ini.”

Aluna diam. Lalu ia mengeluarkan tablet dan menulis sesuatu. Lama.

Aku tidak tahu apa yang ia tulis. Belakangan, waktu laporan kunjungan lapangan itu sampai ke mejaku sebagai lampiran term sheet, aku membaca satu paragraf yang ditulis dengan gaya berbeda dari paragraf-paragraf lain. Lebih pelan. Lebih panjang.

Nilai Flie yang tidak tercantum dalam neraca: sebuah perusahaan yang CTO-nya duduk satu jam di teras homestay di Desa Warloka untuk memastikan seorang janda dengan empat anak tidak perlu berdiri di ujung dermaga setiap sore mengangkat HP ke udara. Aset ini tidak dapat diakuisisi. Aset ini hanya dapat dihancurkan.


Jam empat sore, kami bersiap kembali ke kota. Marten sudah menyalakan mesin perahu Bintang Laut. Jovan, yang wajahnya sudah kembali berwarna setelah tidur dua jam di hammock, berdiri di perahu dengan wajah pasrah dan tangan mencengkeram tiang.

Tiara naik lebih dulu. Lalu Kak Ferdi. Lalu aku.

Aluna berjalan paling belakang, menyalami Mama Rosa sekali lagi, menerima sebungkus ikan asin yang dipaksakan Mama Rosa ke tangannya buat mama di Jakarta, lalu berjalan ke ujung dermaga.

Dermaga kayu itu sudah tua. Papan-papannya sudah lapuk di beberapa bagian, dan di ujungnya, tempat tangga kayu kecil turun ke perahu, papan-papannya ditumbuhi lumut hijau tipis yang basah karena cipratan ombak.

“Hati-hati, Nona,” teriak Mama Rosa. “Licin!”

Aluna menoleh untuk mengangguk ke Mama Rosa.

Itu kesalahannya. Ia menoleh ke belakang sambil melangkah ke depan, dan kakinya menginjak papan berlumut di anak tangga paling atas.

Aku melihatnya terjadi dalam gerakan lambat, seperti waktu di war room aku melihat grafik menukik.

Sandal gunungnya tergelincir. Tubuhnya oleng ke belakang, lalu ke samping, ke arah celah antara dermaga dan perahu. Tangannya yang memegang bungkusan ikan asin terangkat ke udara. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Aku sudah bergerak sebelum otakku selesai rapat.

Aku melangkah dari perahu ke anak tangga terbawah dermaga, satu kaki di kayu, satu kaki masih di pinggir perahu yang bergoyang. Tangan kananku meraih tiang dermaga. Tangan kiriku meraih dia.

Pinggangnya.

Lenganku melingkar di pinggangnya, menariknya ke arahku, menahan seluruh berat tubuhnya yang sedang jatuh. Ia menabrak dadaku. Tangannya yang bebas mencengkeram bahuku. Bungkusan ikan asin terjepit di antara kami.

Perahu bergoyang. Aku menahan tiang dermaga lebih erat. Kakiku menemukan pijakan yang lebih stabil di anak tangga.

Lalu semuanya diam.

Ia tidak jatuh. Ia ada di dalam pelukanku, setengah, dengan punggung melengkung di atas lenganku dan wajah beberapa senti dari wajahku.

Aku bisa merasakan pinggangnya di bawah kemeja linen yang tipis. Ramping. Hangat. Naik-turun cepat karena napasnya terengah-engah. Aku bisa merasakan jantungnya, atau jantungku, aku tidak tahu yang mana, berdebar begitu keras sampai terasa seperti berdebar di tempat yang sama.

Wajahnya begitu dekat. Aku bisa melihat setiap bulu matanya. Bintik keemasan di iris kirinya, yang di bawah matahari Flores terlihat seperti serpihan emas yang tenggelam di madu. Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya. Butir keringat di pelipisnya. Bibirnya yang sedikit terbuka, merah muda alami, gemetar.

Ia menatapku. Aku menatapnya.

Tidak ada yang bergerak.

Ombak memukul tiang dermaga. Burung camar berteriak di atas kami. Mesin perahu menderu pelan. Dan di tengah semua suara itu, ada keheningan yang sangat besar, keheningan yang hanya ada di antara dua wajah yang terpisah lima senti dan tidak ada yang berani bergerak lebih dekat atau lebih jauh.

Tanganku di pinggangnya tidak melonggar.

Aku tahu ia sudah tidak akan jatuh. Aku tahu kakinya sudah menapak dengan benar. Aku tahu tidak ada alasan lagi untuk tanganku tetap di sana.

Tanganku tetap di sana.

Lima detik.

Delapan detik.

Aluna membuka mulutnya. Pelan. Seperti mau mengatakan sesuatu.

“BRO!”

Jovan. Dari perahu. Dengan suara yang terdengar sampai Pulau Komodo.

“BRO, GUE TAHU INI MOMEN, GUE NGERTI, GUE NGGAK BUTA, TAPI BISA NGGAK DIPERCEPAT SEDIKIT, GUE MAU MUNTAH LAGI DAN PERAHUNYA NGGAK BERHENTI GOYANG!”

Keheningan itu pecah seperti kaca.

Aluna tersentak. Aku tersentak. Tanganku lepas dari pinggangnya. Ia mundur selangkah, ke anak tangga dermaga yang tidak berlumut, dan hampir tergelincir lagi. Aku menangkap sikunya. Ia menarik sikunya dengan cepat, menunduk, rambut menutupi wajahnya.

Di perahu, Tiara memukul lengan Jovan dengan botol air mineral. “JOVAN.”

“Apa? Gue cuma jujur!”

“Kamu ngerusak segalanya!”

“Gue ngerusak segalanya karena gue mau muntah! Itu kebutuhan biologis!”

Kak Ferdi tertawa sampai terbatuk. Marten, di buritan, menutup wajahnya dengan topi.

Di ujung dermaga, Mama Rosa bertepuk tangan. Keras. Lalu berteriak dengan suara yang pasti terdengar sampai kampung sebelah:

“SA BILANG JUGA APA! ITU ISTRI!”


Perjalanan pulang dengan perahu memakan waktu dua puluh menit. Tidak ada yang bicara.

Jovan muntah dua kali lagi. Tiara mengusap punggungnya. Kak Ferdi bersiul pelan. Marten mengemudikan perahu dengan wajah yang masih tertutup setengah oleh topi.

Aluna duduk di ujung bangku yang paling jauh dariku, memeluk bungkusan ikan asin yang sudah penyok, dan menatap laut. Rambutnya terbang ke segala arah. Ia tidak menatapku sekali pun.

Aku duduk di ujung bangku yang lain, menatap tangan kiriku.

Tangan yang tadi melingkar di pinggangnya. Tangan yang tidak melonggar walaupun sudah tidak ada alasan.

Delapan detik.

Aku tidak pernah memegang apa pun selama delapan detik tanpa alasan. Aku memegang obeng karena harus memutar baut. Aku memegang daun pisang karena harus membungkus nasi. Aku memegang setir karena harus menyetir. Semua hal yang kupegang, kupegang karena ada fungsinya. Karena ada sesuatu yang harus diperbaiki, dibuat, atau dibawa.

Tadi, di dermaga, tidak ada yang harus diperbaiki. Ia sudah tidak jatuh. Tidak ada fungsinya.

Aku memegangnya karena aku tidak mau melepas.

Aku menutup tangan kiriku. Mengepal. Lalu membukanya lagi.

Di ujung bangku, Aluna masih menatap laut. Tapi aku melihat, dari sudut mata, bahwa tangannya, yang memeluk bungkusan ikan asin, perlahan naik ke pinggangnya sendiri. Ke tempat lenganku tadi melingkar.

Dan berhenti di sana. Sepanjang perjalanan.