← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Five

Tiga Bulan SPP

POV: Anggana

Ada satu halaman di bagian belakang buku tulisku yang tidak pernah kutunjukkan kepada siapa pun.

Isinya angka. Kolom kiri untuk uang masuk: hasil nasi uduk yang Ibu sisihkan untuk sekolah, gajiku dari konter, sesekali uang tambahan dari servis HP tetangga yang kukerjakan di rumah malam-malam. Kolom kanan untuk uang keluar: SPP separuh yang tidak ditanggung beasiswa, uang buku, iuran ini-itu, uang sekolah Dara, cicilan gerobak baru yang Ibu ambil tahun lalu.

Biasanya, kolom kiri dan kanan berakhir hampir sama. Hampir. Selisihnya tipis, cukup tipis untuk membuatku tidak bisa tidur kalau ada satu hal saja yang meleset.

Bulan Juli, satu hal meleset.

Ibu kena tifus. Dua minggu terbaring di kamar dengan suhu badan naik turun, dan dua minggu itu gerobak tidak keluar. Dara yang merawatnya siang hari, aku yang malam. Obat, periksa ke klinik, cek darah dua kali. Ibu terus bilang ia tidak apa-apa, sambil menggigil di balik dua selimut.

Uang SPP bulan Agustus habis untuk obat. Bulan September, aku membayar cicilan gerobak supaya Ibu tidak ditegur leasing. Bulan Oktober, aku pikir aku bisa mengejar dengan ambil lembur di konter. Ternyata tidak cukup.

Aku tidak memberi tahu Ibu. Ibu baru sembuh, baru kembali berdiri di depan dandang setiap subuh, baru kembali bersenandung campursari. Kalau Ibu tahu, ia akan menjual cincin kawinnya. Aku tahu itu, karena ia pernah melakukannya waktu aku kelas lima SD, dan aku masih ingat jari manisnya yang kosong selama dua tahun, sampai ia akhirnya bisa menebus cincin peninggalan Bapak itu dari pegadaian.

Jadi aku menulis angka-angka itu di buku belakang dan berkata pada diriku sendiri: dua minggu lagi. Aku bisa.


Hari Selasa pertengahan Oktober, saat pelajaran Matematika, pintu kelas diketuk.

Bu Endang dari bagian Tata Usaha berdiri di ambang pintu. Ia perempuan bertubuh kecil dengan kacamata berantai dan suara yang, aku yakin, tidak pernah ia sadari bisa terdengar sampai ke lapangan basket.

“Maaf, Pak Saragih. Anggana Pradipta ada?”

Pak Saragih menoleh ke arahku. Aku berdiri.

“Ke TU sekarang ya, Nak. Pak Darmawan nunggu.” Bu Endang membetulkan kacamatanya, lalu menambahkan, dengan nada ramah yang sama sekali tidak bermaksud jahat: “Tunggakan SPP-nya sudah tiga bulan, jadi harus dibicarakan.”

Kelas mendadak sunyi.

Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak perlu menoleh. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata menempel di punggungku seperti tetesan air hujan yang dingin.

Lalu, dari bangku pojok belakang, seseorang tertawa pelan.

“Waduh. Nasi uduknya nunggak.”

Itu Reza Mahesa. Anak pemilik dealer mobil di Jalan Pemuda, yang setiap hari datang ke sekolah dengan sepatu yang harganya, menurut Ucup, setara dengan tiga bulan SPP. Beberapa anak tertawa bersamanya. Tidak banyak. Tapi cukup.

Pak Saragih memukul meja dengan penggaris. “Reza. Keluar dari kelas saya.”

“Pak, saya cuma bercanda—”

“Keluar.”

Aku berjalan ke pintu. Langkahku normal. Wajahku, aku cukup yakin, juga normal. Aku sudah berlatih seumur hidup untuk membuat wajahku normal di saat-saat seperti ini.

Waktu aku melewati bangku-bangku, aku melihat Ucup menatap Reza dengan pandangan seolah mau melemparnya keluar jendela. Aku melihat Sisil menunduk, tidak enak hati.

Dan aku melihat Aluna.

Ia tidak menunduk. Ia tidak menatapku dengan kasihan. Ia menatap lurus ke depan, ke papan tulis, rahangnya mengeras, dan jari-jarinya mencengkeram pulpen begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya, mata cokelat madu yang biasanya hangat itu, terlihat lebih gelap dari biasanya. Seperti langit sore sebelum badai.

Aku tersenyum padanya waktu lewat. Senyum yang maksudnya tidak apa-apa.

Ia tidak membalas. Untuk pertama kalinya sejak kami saling kenal, ia tidak membalas senyumku.


Ruang TU dingin karena AC-nya disetel terlalu rendah. Pak Darmawan, bendahara yayasan, duduk di balik meja dengan tumpukan map dan kalkulator besar yang tombol-tombolnya sudah pudar.

“Duduk, Anggana.”

Aku duduk.

“Kamu tahu kenapa dipanggil?”

“Tahu, Pak.”

Ia membuka sebuah map dan membaliknya ke arahku. Angkanya tertulis rapi di kolom yang dicetak tebal. Tiga bulan. Lengkap dengan denda keterlambatan yang aku bahkan tidak tahu ada.

“Kamu siswa beasiswa jalur prestasi. Nilai kamu bagus. Saya tidak meragukan itu.” Pak Darmawan menautkan jari-jarinya di atas meja. “Tapi aturan yayasan jelas. Tunggakan lebih dari tiga bulan, orang tua dipanggil. Kalau sampai UTS belum lunas, siswa tidak bisa ikut ujian. Dan kalau tidak ikut UTS, status beasiswanya akan ditinjau ulang.”

Ditinjau ulang. Kata yang sopan untuk dicabut.

“Ibu saya baru sembuh tifus, Pak,” kataku. “Saya mohon jangan panggil Ibu. Saya yang bayar. Kasih saya waktu dua minggu.”

Pak Darmawan menatapku lama. Ia bukan orang jahat. Aku bisa melihat itu dari caranya menghela napas, dari caranya melirik foto keluarga di ujung mejanya.

“Dua minggu,” katanya akhirnya. “Saya tahan suratnya dua minggu. Setelah itu saya tidak bisa bantu lagi.”

“Terima kasih, Pak.”

Aku keluar dari ruang TU dengan punggung tegak dan langkah normal. Di koridor, aku berhenti di depan jendela, menatap lapangan basket yang kosong, dan menghitung di kepala.

Dua minggu. Gaji konter belum turun. Uang servis tetangga paling banyak tiga ratus ribu. Aku bisa minta lembur ke Bang Jali, tapi Bang Jali sendiri sedang susah karena konter baru dibuka di seberang jalan. Aku bisa menjual HP-ku. Aku bisa...

Aku menatap jari-jariku sendiri yang memegang kusen jendela. Lalu aku tersenyum, karena ada dua anak kelas sepuluh lewat dan menyapaku, dan aku tidak mau mereka melihat wajahku yang sebenarnya.


Malam itu aku tidak tidur sampai jam satu.

Aku menulis ulang angka-angka di buku belakang, menghitung semua kemungkinan. Menjual HP: kurang. Menjual sepeda: aku menatap sepeda kumbang Bapak yang bersandar di dinding ruang tamu, rantainya yang sudah tiga kali kuganti, sadelnya yang kulitnya mulai retak, dan aku langsung mencoret pilihan itu dengan dua garis tebal.

Dari kamar sebelah, aku mendengar Ibu batuk kecil dalam tidurnya. Dari kamar Dara, lampu baca masih menyala.

Pintu kamarku terbuka sedikit. Wajah Dara mengintip, rambutnya dikuncir asal, matanya sipit karena kantuk.

“Kakak belum tidur.”

“Bentar lagi.”

“Kakak ngitung duit lagi.” Itu bukan pertanyaan. Dara menatap buku tulisku yang terbuka. Ia sudah kelas sembilan, sudah cukup besar untuk mengerti apa artinya angka-angka di kolom kanan yang lebih panjang dari kolom kiri. “Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa. Tidur sana.”

Dara masuk, duduk di ujung kasurku, dan menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat mirip mata Ibu.

“Kakak selalu bilang nggak ada apa-apa,” katanya pelan. “Tiap kali Kakak bilang gitu, pasti ada apa-apa.”

Aku menutup buku tulisku. “Ini urusan Kakak, Dar.”

“Kita kan bertiga.”

“Iya. Dan Kakak yang paling tua.” Aku mengusap kepalanya. “Udah. Besok kamu ulangan IPS, kan? Tidur.”

Ia tidak bergerak. Lalu, tanpa bicara, ia memelukku dari samping, singkat dan keras, seperti anak kecil, padahal ia sudah lima belas tahun dan biasanya gengsi untuk melakukan hal-hal seperti itu.

“Kakak jangan sendirian terus,” gumamnya di bahuku.

Lalu ia keluar dan menutup pintu, sebelum aku sempat menjawab.


Hari Kamis, dua hari setelah dipanggil, pintu kelas diketuk lagi saat pelajaran Bahasa Indonesia.

Bu Endang. Lagi.

Aku sudah berdiri sebelum namaku dipanggil, perutku melilit.

“Anggana, sebentar ya, Nak. Ke TU.”

Kali ini ia tidak menyebutkan alasannya keras-keras. Mungkin seseorang sudah memberitahunya. Aku berjalan melewati bangku-bangku tanpa melihat siapa pun.

Di ruang TU, Pak Darmawan tidak ada. Hanya Bu Endang, yang langsung duduk di balik mejanya, membuka sebuah map, dan memutarnya ke arahku dengan senyum yang terlalu lebar.

Di kolom yang kemarin dicetak tebal itu sekarang ada stempel merah.

LUNAS.

Aku menatap stempel itu lama. Aku membaca tanggalnya. Aku membaca angkanya, termasuk denda, yang juga sudah dibayar.

“Bu,” kataku, dan suaraku keluar lebih serak dari yang kumaksud. “Ini siapa yang bayar?”

“Donatur.”

“Donatur siapa?”

“Yang tidak mau disebut namanya.” Bu Endang melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung kerudung, gerakan yang menurutku ia lakukan supaya tidak perlu menatap mataku. “Kemarin sore. Dibayar tunai. Langsung lunas semua.”

“Bu, saya harus tahu. Saya harus bayar balik.”

“Donaturnya pesan, jangan dicari.”

“Tapi—”

“Anggana.” Bu Endang memasang kacamatanya lagi dan sekarang menatapku. Suaranya, untuk pertama kalinya, pelan. “Ada orang yang mau kamu tetap di sekolah ini. Itu saja yang perlu kamu tahu. Terima, ya, Nak. Sekali ini aja, terima.”

Aku berdiri di ruang TU yang dingin itu dan tidak bisa bicara.

Seumur hidup, aku yang menolong. Aku yang mengangkat, aku yang memperbaiki, aku yang memberi. Aku tidak tahu bagaimana caranya menerima sesuatu sebesar ini dari seseorang yang bahkan tidak mau aku ucapkan terima kasih padanya. Rasanya seperti seseorang menaruh batu besar di tanganku dan pergi sebelum aku sempat bilang aku tidak kuat mengangkatnya.

“Bu Endang,” kataku akhirnya. “Boleh saya titip pesan?”

“Buat donaturnya? Saya nggak janji bisa nyampein.”

Aku mengambil selembar kertas memo kuning dari meja, meminjam pulpen Bu Endang, dan menulis tiga baris dengan tangan yang tidak terlalu stabil.

Terima kasih. Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.

Bu Endang membaca memo itu. Matanya berkaca-kaca. Ia melipatnya dua kali dan memasukkannya ke laci mejanya.


Aku keluar dari ruang TU dan berjalan menyusuri koridor lantai satu ke arah tangga. Langkahku ringan, terlalu ringan, seperti seseorang yang baru meletakkan karung beras setelah memikulnya terlalu lama.

Di ujung koridor, dekat belokan menuju ruang TU dan ruang kepala sekolah, Aluna muncul.

Ia berjalan cepat, menunduk, dan hampir menabrakku.

“Oh. Anggana.”

“Aluna? Kok di sini?”

“Dari toilet,” katanya cepat. Lalu, setelah satu detik: “Kamu dari TU?”

“Iya.”

“Gimana?”

Aku menatapnya. Pipinya agak merah, seperti orang yang baru berjalan cepat. Matanya sedikit sembap di bagian bawah, atau mungkin cuma cahaya koridor yang memang suram.

“Lunas,” kataku. “Ada donatur yang bayarin.”

“Oh.” Ia mengangguk. Mengangguk lagi. “Syukurlah. Itu bagus. Itu bagus banget.”

“Aku nggak tahu siapa.”

“Nggak apa-apa nggak tahu.” Ia tersenyum, senyum yang kali ini membuat kepalanya miring sedikit ke kiri, tapi matanya tidak ikut menyipit seperti biasa. “Yang penting kamu tetap di sini.”

Lalu ia berbalik dan naik tangga duluan, cepat, dua anak tangga sekaligus.

Aku mengikutinya ke kelas. Waktu itu aku tidak berpikir apa-apa. Aku tidak berpikir bahwa toilet putri di lantai satu ada di ujung lain gedung, dekat kantin, bukan di dekat ruang TU. Aku hanya berpikir bahwa mungkin toilet dekat kantin sedang dikunci, seperti yang kadang-kadang terjadi kalau Pak Karno lupa membukanya.

Aku tidak berpikir apa-apa, karena aku sedang terlalu lega untuk berpikir.


Sepulang sekolah, Dara sudah menunggu di dekat gerbang.

Sekolahnya, SMP negeri di ujung jalan, pulang lebih cepat hari Kamis. Ibu menitip pesan lewat Dara supaya aku mampir beli obat cacing untuk kucing tetangga yang sering tidur di bawah gerobak, kucing yang Ibu sebut “pelanggan VIP” karena selalu dapat sisa telur. Dara memakai seragam putih biru, berdiri dengan tangan bersedekap, dan memasang wajah galak yang menurutnya membuat orang takut padanya. Tingginya baru sebahuku.

Aku sedang berjalan ke arahnya ketika suara itu terdengar lagi dari belakang.

“Eh, Nasi Uduk. Udah lunas? Bayar pakai apa? Pakai bungkus daun pisang?”

Reza Mahesa dan dua temannya bersandar di mobil sedan putih yang menjemputnya. Mereka tertawa.

Aku memutuskan untuk tidak berhenti. Itu yang selalu kulakukan. Tidak berhenti, tidak menoleh, tidak memberi mereka apa-apa.

Tapi Dara berhenti.

Lebih tepatnya, Dara berbalik, berjalan lurus ke arah Reza dengan langkah yang membuat dua teman Reza berhenti tertawa, dan berdiri tepat di depannya. Ia harus mendongak untuk menatap wajah Reza. Ia mendongak dengan sangat galak.

“Kamu tadi ngomong apa ke kakakku?”

Reza mengerjap. “Hah? Siapa lo?”

“Aku adiknya. Kamu ngomong apa?”

“Bukan urusan bocah SMP—”

“Nasi uduk ibuku,” kata Dara, dan suaranya naik, jernih, cukup keras untuk membuat beberapa siswa di dekat gerbang menoleh, “dimakan sama Pak RT, Pak Lurah, guru-guru di sekolahku, tukang ojek, satpam, dan Bapak-bapak di warung kopi Bang Udin yang semuanya kerja lebih keras dari kamu. Kakakku bangun setengah empat bantu bungkus dua ratus nasi uduk, terus sekolah, terus kerja sampai malam, terus belajar, dan nilainya lebih tinggi dari kamu. Pasti. Aku nggak usah lihat rapormu juga aku tahu.”

Reza membuka mulut. Menutupnya.

“Kamu,” lanjut Dara, menunjuk sepatu Reza, “nggak pernah bungkus apa-apa seumur hidupmu.”

“Dar,” kataku, setengah berlari ke arahnya. “Udah, Dar.”

“Belum!” Dara tidak menoleh. “Dia harus minta maaf!”

“Dan,” kata suara lain dari samping, “yang kamu ketawain itu orang yang bulan lalu benerin laptop papamu. Gratis. Waktu teknisi kantor papamu bilang harus ganti baru.”

Aku menoleh.

Aluna berdiri di samping Dara. Aku tidak melihatnya datang. Rambutnya terlepas dari ikatan dan sedikit berantakan karena angin sore, tasnya tersampir di satu bahu, dan ia menatap Reza dengan mata yang membuatku teringat pada pagi MOS, pada gadis yang mencoba membela anak bertopi kerucut di depan kakak OSIS.

Hanya saja kali ini, tidak ada yang bisa menyuruhnya diam.

“Papamu yang bilang ke papaku,” kata Aluna, suaranya rendah dan sangat jelas. “Di arisan. Katanya ada anak SMA yang lebih pinter dari tim IT-nya. Aku langsung tahu itu siapa.”

Wajah Reza berubah merah, lalu pucat, lalu merah lagi.

Ia tidak minta maaf. Tapi ia masuk ke mobil sedan putihnya, membanting pintu, dan mobil itu pergi lebih cepat dari seharusnya. Dua temannya ditinggal dan harus berjalan ke halte.

Dara masih berdiri dengan tangan terkepal, napasnya cepat. Lalu ia berbalik, dan untuk pertama kalinya menatap Aluna dari dekat.

Aku melihat Dara memperhatikan Aluna dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Wajahnya yang tadi garang berubah menjadi sesuatu yang lain. Waspada. Seperti kucing yang baru menyadari ada kucing lain di wilayahnya.

“Kamu siapa?” tanya Dara.

“Aluna. Teman sekelas kakakmu.”

Dara membeku.

Aku melihat nama itu masuk ke telinganya, berjalan ke otaknya, dan menabrak sesuatu. Aku tahu persis apa yang ditabraknya. Kontak di HP-ku, yang pernah Dara intip waktu aku mandi. Nama yang tertulis tanpa embel-embel apa pun. Nama yang membuatku pulang jam setengah empat pagi waktu kelas sepuluh.

“Oh,” kata Dara. “Kamu.”

Aluna mengerjap. “Aku?”

“Yang nasi uduk.”

“Yang... iya, aku pernah pesan nasi uduk ke—”

“Yang bikin Kakak dihukum nyanyi Balonku.”

“Itu udah setahun lalu.”

“Yang bikin Kakak pulang setengah empat pagi.”

“Itu laptopku rusak—”

Dara mengangguk pelan, seperti hakim yang baru selesai mendengarkan saksi. Lalu ia menarik lengan seragamku.

“Ayo pulang, Kak. Obat cacing kucing.”

“Dar, bilang makasih dulu. Aluna tadi bantuin.”

Dara menatap Aluna lagi. Lama. Lalu, dengan suara yang sangat formal dan sangat dingin, seperti petugas imigrasi: “Terima kasih.”

“Sama-sama,” kata Aluna. Lalu, entah kenapa, ia tersenyum. Bukan senyum sopan. Senyum yang lebar dan hangat, senyum yang membuat matanya menyipit. “Kamu keren banget tadi.”

Dara tidak membalas senyum itu. Tapi aku melihat telinganya memerah.


Di jalan pulang, Dara duduk di boncengan sepeda dan tidak bicara selama lima menit. Itu rekor. Biasanya ia tidak bisa diam lebih dari tiga puluh detik.

Lalu, di lampu merah dekat pasar, ia berkata dengan suara datar:

“Dia cantik.”

“Hm.”

“Cantik banget.”

“Hm.”

“Aku nggak suka.”

Aku tertawa sampai sepeda oleng. Dara memukul punggungku.

“Aku serius! Orang secantik itu pasti ribet. Pasti ada maunya. Kakak tuh terlalu baik, gampang dimanfaatin.”

“Dia barusan belain Kakak, Dar.”

“Itu taktik.”

“Taktik buat apa?”

“Nggak tahu. Belum ketemu. Tapi aku bakal cari tahu.” Ia diam lagi. Lalu, lebih pelan: “Tapi dia tadi berani juga sih. Sama cowok setinggi itu.”

“Kamu juga berani.”

“Aku kan adikmu. Wajib.” Ia menempelkan dahinya ke punggungku. “Kakak, tadi pagi yang dipanggil ke TU itu soal SPP, kan?”

Aku tidak menjawab. Lampu hijau menyala. Aku mengayuh.

“Udah beres?” tanyanya.

“Udah. Ada orang baik yang bayarin.”

Dara tidak bicara lagi sampai rumah. Tapi tangannya, yang biasanya cuma memegang ujung bajuku, sore itu melingkar di pinggangku sepanjang jalan.


Malam itu, di halaman belakang buku tulisku, di bawah kolom-kolom angka yang sekarang sudah seimbang, aku menulis satu baris baru dengan tinta biru.

Utang: SPP tiga bulan + denda. Kepada: Orang Baik. Akan dibayar.

Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Aku cuma tahu bahwa suatu hari, kalau aku sudah cukup besar dan cukup kuat, aku akan mencari anak seperti aku yang dipanggil ke ruang TU dengan suara keras di depan teman-temannya.

Dan aku akan memastikan anak itu tidak perlu dipanggil lagi.