← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Forty

Kerah yang Lurus

POV: Aluna

Undangannya datang di bulan Juni, dalam amplop putih dengan logo obor emas di pojok kiri atas.

Kepada Yth. Bapak Anggana Pradipta, alumni angkatan 2018. Dengan hormat, kami mengundang Bapak untuk menjadi pembicara pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Pelita Nusantara, Senin, 12 Juli, pukul 07.00.

Di bawahnya, tulisan tangan dengan tinta biru, miring dan tegas, yang pasti milik Pak Hardi:

Saya tidak menerima penolakan. Bawa nasi uduk. — H.

Anggana menunjukkan undangan itu padaku di dapur hari Sabtu, jam empat lewat sepuluh pagi, di antara tumpukan daun pisang. Aku sedang membungkus. Delapan detik sekarang. Bu Ratih bilang aku sudah lebih cepat dari Dara, dan Dara sangat tersinggung dan menuntut perlombaan ulang setiap minggu.

“MPLS,” kataku. “Bukan MOS lagi?”

“Udah nggak ada MOS. Udah diganti sejak lama. Nggak ada topi kerucut, nggak ada tas karung, nggak ada kalung permen.” Ia tersenyum. “Nggak ada yang disuruh bawa nasi uduk bungkus daun pisang.”

“Kasihan.”

“Kenapa kasihan?”

“Karena nggak ada yang bakal nolongin cewek panik di deket gerbang.” Aku mengikat karet merah. “Nggak ada yang bakal jatuh cinta di hari pertama.”

Anggana menatapku dari seberang meja marmer. Lalu tertawa. Tawa yang membuat matanya hilang. Di ujung meja, Dara, yang sedang memeriksa papan klip yang sekarang tidak lagi berisi temuan audit tapi daftar pesanan katering, mengerang panjang.

“Kalian berdua,” katanya, “bikin aku pengen pindah ke Kalimantan.”

“Gilang di Kalimantan?” tanya Bu Ratih dari depan kompor, tanpa menoleh.

Dara membeku. “Siapa yang bilang Gilang di Kalimantan?”

“Ndak ada. Ibu cuma nanya.”

“Gilang di Bandara Soekarno-Hatta, Bu. Dia pendamping. Dia nggak di Kalimantan.”

“Oh,” kata Bu Ratih. “Jadi Ibu bener soal Gilang-nya.”

Dara menjatuhkan papan klipnya.


Delapan bulan sudah lewat sejak dapur jam empat pagi itu. Sejak sembilan koma nol detik dan aku cuma mau kamu tahu dan mau jadi pacarku.

Delapan bulan, dan beberapa hal berubah.

Aku menutup deal pertamaku di tim Retail di bulan Desember. Jaringan minimarket di Jawa Tengah, tiga ratus dua puluh gerai, pendanaan pertumbuhan untuk memperluas ke desa-desa yang tidak dijangkau jaringan besar. Namaku tercantum di setiap dokumen. Di halaman pertama. Marcella menandatangani dokumen penutupnya di sebelah tanda tanganku, lalu menatapku dengan mata yang biasanya membaca neraca keuangan, dan berkata, pelan, nama yang dihapus dari satu dokumen bisa ditulis lagi di dokumen lain. Kalimat dari emailku. Ia mengingatnya.

Bulan Maret, aku dipromosikan jadi Associate. Bukan Senior Associate di Singapura. Associate di Jakarta. Aku memilihnya, dan aku tidak menyesal.

Papa bisa berjalan dua puluh langkah dengan walker sekarang. Dua puluh langkah, dari kamarnya ke teras. Setiap pagi ia berjalan dua puluh langkah itu, duduk di kursi plastik di bawah pohon jambu air, dan membaca berita bisnis di HP yang dipegangkan Mama. Setiap Sabtu, ia minta diantar ke lapak Bu Ratih untuk antre. Ia dan Pakde Sarno sekarang punya kebiasaan duduk berdua di bangku di sebelah lapak setelah membeli nasi uduk, makan bersama, dan membicarakan istri Pakde Sarno di Cilacap yang menurut Papa jelas-jelas sudah pulang tiga tahun lalu tapi kamu malu ngaku, Sarno.

Mama punya oven kedua. Ia membelinya sendiri, dengan uang dari pesanan katering kue untuk pernikahan Jovan dan Tiara.

Jovan dan Tiara menikah di bulan April. Jovan memakai jas untuk keenam kalinya dan menangis sepanjang akad, dan Tiara menikahinya dengan wajah sangat serius dan sangat merah. Di resepsi, mereka menyajikan nasi uduk Bu Ratih di samping tiga jenis tumis sayur. Tiara memberikan pidato yang berisi evaluasi akhir masa percobaan Jovan, lengkap dengan nilai per kategori, dan nilai akhirnya A minus, karena Jovan masih kadang memanggil Kopi dengan nama Teh.

Trivio membayar penyelesaian di luar pengadilan yang angkanya tidak boleh disebutkan, dan CEO-nya datang ke kantor Flie untuk minta maaf langsung. Anggana menerimanya di Ruang Bromo dengan teh melati tanpa gula, dan menurut Jovan, yang menguping dari balik pintu, Anggana tidak tersenyum dengan senyum yang sama untuk semua orang. Ia tidak tersenyum sama sekali. Ia hanya bilang, dengan sopan dan sangat jelas: Saya terima permintaan maaf Bapak. Saya nggak terima kalau ini terulang. Itu dua hal yang berbeda.

Jovan bilang itu kalimat paling keren yang pernah ia dengar dari mulut Anggana. Aku bilang itu karena Anggana sekarang tahu caranya marah tanpa pasang tembok.

Dan setiap Jumat jam tujuh pagi, di mejaku di lantai tiga puluh satu, masih ada sebungkus nasi uduk dalam kantong kresek putih. Dari akun bernama Jumat. Dengan satu kerupuk tambahan.

Tiara masih bertanya dari mana. Aku masih bilang rahasia. Tiara sekarang tahu jawabannya, tentu saja. Tapi ia tetap bertanya setiap Jumat, karena katanya itu sudah jadi ritual.

Dua ratus sembilan puluh empat karet merah di laci mejaku. Ditambah tiga puluh dua yang baru.


Senin, 12 Juli, jam enam lewat empat puluh lima pagi, aku berdiri di dekat pos satpam SMA Pelita Nusantara.

Pos satpamnya sudah dibangun ulang. Dindingnya kaca sekarang, dengan AC dan monitor CCTV. Tapi di dalamnya, duduk di kursi plastik yang sama, dengan topi satpam yang sama, ada seseorang yang kukenal.

“Pak Karno?”

Pak Karno menoleh. Matanya menyipit di balik kacamata yang tebal. Lalu wajahnya berubah, melebar, seperti matahari pagi yang muncul dari balik awan.

“Mbak! Mbak yang kerah!”

“Bapak kan udah pensiun?”

“Pak Hardi yang manggil. Katanya hari ini saya harus jaga gerbang. Sehari aja.” Pak Karno keluar dari pos satpam dengan langkah yang lebih lambat dari dua belas tahun lalu, tapi senyum yang sama. “Katanya ada yang penting. Saya nggak tahu apa. Tapi Pak Hardi bilang, Pak Karno harus ada di sini, karena Pak Karno saksi.”

“Saksi apa?”

Pak Karno mengangkat bahu. “Nggak tahu, Mbak. Saya cuma disuruh dateng.”

Aku menatap gerbang sekolah. Gerbang putih tinggi dengan logo obor emas. Siswa-siswa baru mulai berdatangan, diantar orang tua, dengan seragam putih abu-abu yang masih kaku karena baru. Tidak ada topi kerucut. Tidak ada tas karung. Tidak ada kalung permen. Hanya anak-anak lima belas tahun dengan wajah gugup dan sepatu baru.

Sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Sedan hitam. Pintu belakangnya terbuka, dan seorang gadis turun dengan seragam putih abu-abu dan tas punggung, rambut panjang yang dikuncir tinggi, wajah yang terlalu cantik untuk umur lima belas dan terlalu panik untuk hari pertama.

Ia menatap kertas di tangannya. Lalu menatap sekeliling. Lalu menatap kertas di tangannya lagi.

Aku tidak bisa menahan senyum.


Anggana datang jam enam lewat lima puluh dengan SUV yang sudah dicuci Dara kemarin sambil mengomel. Ia memakai kemeja putih lengan panjang. Celana panjang abu-abu. Sepatu kerja yang disemir. Di tangannya, tas kertas berisi sesuatu yang berat.

Ia melihatku di dekat pos satpam. Ia berhenti.

Ia tersenyum. Senyum yang hanya untukku.

Aku menatap kerahnya.

Miring. Tentu saja miring. Sisi kiri terlipat ke dalam, sisi kanan mencuat ke atas. Kemeja putih baru, yang aku tahu ia beli khusus untuk hari ini di pasar Jatinegara, di toko yang sama tempat Dara dulu membelikannya kemeja untuk pesta ulang tahunku, dan kerahnya tetap miring.

“Kamu bungkus berapa tadi pagi?” tanyaku.

“Dua ratus delapan puluh,” katanya. “Plus dua.”

“Plus dua?”

Ia mengangkat tas kertas di tangannya sedikit. “Buat hari ini.”

Aku menatap tas kertas itu. Lalu menatapnya.

“Pak Hardi bilang bawa nasi uduk,” katanya.

“Itu cuma bercanda.”

“Aku tahu.” Sudut bibirnya terangkat. “Tapi aku bawa juga. Satu buat aku. Satu cadangan.”

Aku tertawa.

Lalu aku mengangkat tangan untuk merapikan kerahnya. Ia menahan tanganku. Lembut. Dengan ujung jari.

“Nanti,” katanya.

Aku membeku. Nanti. Kata yang kami berdua sudah sepakat untuk tidak dipakai lagi tanpa alasan yang sangat, sangat jelas.

“Nanti kenapa?”

Ia menatapku. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca. Sesuatu yang berhitung. Sesuatu yang gugup.

“Habis aku ngomong di depan anak-anak,” katanya. “Aku mau kamu benerin kerahku di gerbang. Di tempat yang sama. Jam yang sama. Habis itu.”

“Kenapa?”

“Nanti kamu tahu.” Ia tersenyum, sedikit gemetar. “Ini nanti yang beda. Ini nanti dua jam. Aku janji.”

Aku menatapnya lama. Lalu aku menurunkan tanganku.

“Dua jam,” kataku.

“Dua jam.”


Di lapangan upacara, tiga ratus siswa baru berbaris di bawah matahari pagi yang mulai serius bekerja. Kakak-kakak OSIS dengan ban lengan berdiri di depan barisan, tidak galak seperti dua belas tahun lalu, tapi ramah dengan cara yang dibuat-buat, seperti orang yang sudah diberi pelatihan tentang anti-perundungan.

Di panggung kecil di depan lapangan, Pak Hardi memperkenalkan pembicara.

“Alumni angkatan 2018. Co-founder dan Chief Technology Officer Flie. Penerima beasiswa penuh ITB dari sekolah ini.” Pak Hardi berhenti. Lalu, dengan suara datar seperti penyiar berita duka yang tiba-tiba sedikit bergetar: “Dan anak yang dulu memperbaiki server ujian sekolah ini dalam empat puluh menit, waktu masih kelas dua belas.”

Tiga ratus siswa baru bertepuk tangan dengan sopan. Mereka tidak tahu siapa dia. Mereka tidak tahu apa itu server ujian.

Anggana naik ke panggung.

Ia tidak membawa slide. Tidak membawa kertas. Ia berdiri di depan mikrofon dengan kemeja putih yang kerahnya miring, menatap tiga ratus wajah gugup di bawah matahari pagi, dan diam lima detik.

Lalu ia bicara.

“Dua belas tahun lalu, di gerbang sekolah ini, aku ngasih bekal nasi uduk ke seseorang yang nggak aku kenal.”

Aku berdiri di pinggir lapangan, di dekat tiang bendera, dan berhenti bernapas.

“Dia butuh nasi uduk bungkus daun pisang buat pemeriksaan atribut MOS. Aku punya satu. Aku kasih. Terus aku bohong, aku bilang aku masih punya. Terus aku dihukum nyanyi Balonku di lapangan ini, di depan tiga ratus orang.” Ia tersenyum. “Suaraku fals. Dia bilang gitu besoknya.”

Tiga ratus siswa baru tertawa. Di sebelahku, Pak Karno tertawa paling keras.

“Aku cerita ini bukan karena aku pahlawan,” kata Anggana. “Aku cerita ini karena butuh dua belas tahun buat aku ngerti kesalahanku hari itu.”

Lapangan diam.

“Kesalahanku bukan ngasih nasi uduk. Itu bagus. Nolong orang itu bagus.” Ia menatap barisan siswa. “Kesalahanku adalah aku bohong. Aku bilang aku masih punya. Aku nggak mau dia tahu aku berkorban. Aku nggak mau dia ngerasa utang. Aku mutusin sendiri apa yang dia boleh tahu.” Ia diam sebentar. “Dan selama dua belas tahun, aku terus ngelakuin itu. Ke semua orang. Aku nolong, terus aku sembunyiin harganya. Aku nggak pernah minta tolong. Aku nggak pernah nanya orang lain mau apa. Aku pikir itu kebaikan.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Ternyata bukan,” katanya pelan. “Ternyata, minta tolong itu bukan kelemahan. Bertanya itu bukan nggak sopan. Dan ngasih tahu orang lain kebenaran, bahkan yang bikin mereka sedih, itu lebih baik daripada mutusin buat mereka apa yang mereka kuat dan apa yang nggak kuat.”

Tiga ratus siswa baru diam. Beberapa orang tua yang masih berdiri di pinggir lapangan saling pandang.

“Jadi kalau ada satu hal yang mau aku bilang ke kalian di hari pertama SMA,” kata Anggana, “itu ini. Tolong orang. Sering-sering. Tapi jangan lupa minta tolong juga. Dan kalau ada yang kalian pengen tahu, tanya. Jangan nunggu sampai dua belas tahun.” Ia tersenyum. “Kadang dua belas tahun itu terlalu lama.”

Ia mundur dari mikrofon.

Lapangan hening satu detik. Lalu tepuk tangan. Lebih keras dari tepuk tangan sopan di awal. Di barisan depan, seorang siswa laki-laki dengan kacamata tebal bertepuk tangan dengan wajah serius. Di barisan tengah, seorang siswi berkerudung menghapus sudut matanya.

Dan di barisan paling kiri, gadis dari sedan hitam dengan rambut dikuncir tinggi, yang tadi panik di dekat gerbang, menatap panggung dengan mulut sedikit terbuka.


Setelah acara, waktu siswa-siswa baru bubar ke kelas masing-masing, gadis dari sedan hitam itu berdiri sendirian di dekat gerbang. Ia memegang kertas di tangannya dan menatap sekeliling dengan wajah panik yang sama seperti tadi pagi.

Anggana berjalan ke arahnya.

Aku menonton dari dekat pos satpam, di sebelah Pak Karno.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Anggana.

Gadis itu menoleh. Kaget. “Eh. Kak. Bapak. Saya...” Ia menatap kertas di tangannya. “Saya disuruh bawa bekal sendiri buat makan siang bareng kelompok. Saya lupa. Mama saya udah pulang. Kantin belum buka buat siswa baru.”

Anggana menatapnya. Lalu, tanpa bicara, ia membuka tas kertas di tangannya, mengeluarkan satu bungkus nasi uduk yang dibungkus daun pisang dan diikat karet merah, dengan plastik kecil sambal kacang yang diikat terpisah, dan menyodorkannya.

“Telurnya balado,” katanya. “Sambalnya dipisah.”

Gadis itu menatap bungkusan itu seperti menatap tiket lotre yang menang. Lalu menatap Anggana.

“Terus punya Bapak?”

Anggana tersenyum. Lalu ia membuka tas kertasnya lebih lebar dan memperlihatkan isinya. Satu bungkus lagi.

“Aku masih punya,” katanya. “Beneran. Kali ini aku nggak bohong.”

Aku tertawa sambil menangis. Pak Karno, di sebelahku, menatapku dengan alis terangkat, lalu menatap Anggana, lalu kembali padaku, dan aku melihat ia akhirnya mengerti saksi yang dimaksud Pak Hardi.

Gadis itu menerima bungkusan nasi uduk dengan dua tangan. “Makasih, Pak. Saya harus bayar—”

“Nggak usah.”

“Harus.”

“Kalau gitu,” kata Anggana, “nanti kalau kamu liat ada orang yang butuh nasi uduk darurat, kamu yang kasih. Itu bayarannya.”

Gadis itu menatapnya lama. Lalu mengangguk, serius, seperti menerima tugas negara. Lalu ia berlari ke arah gedung, ekor kudanya berayun ke kiri dan ke kanan seperti jarum metronom.


Jam sembilan lewat empat puluh lima.

Halaman depan sekolah sudah sepi. Siswa-siswa baru di kelas masing-masing. Orang tua sudah pulang. Hanya ada aku, Pak Karno di pos satpam, dan, entah sejak kapan, Pak Hardi yang berdiri di ambang pintu lobi dengan tangan di saku dan wajah yang sangat datar.

Dan Anggana, yang berjalan dari arah lapangan ke gerbang, ke tempatku berdiri di dekat pos satpam.

Ia berhenti di depanku. Satu langkah. Persis seperti dua belas tahun lalu, waktu ia mengulurkan nasi uduk dan aku menoleh.

“Udah dua jam,” katanya.

“Dua jam kurang lima belas menit.”

“Aku nggak sabar.”

Aku menatap kerahnya. Masih miring. Lebih miring dari tadi pagi, karena ia berdiri di bawah matahari dan bicara di depan tiga ratus orang dan memberikan nasi uduk ke gadis panik.

Aku mengangkat tangan.

Kali ini ia tidak menahanku.

Aku merapikan kerahnya. Melipat sisi kiri keluar. Menekan dengan ibu jari. Menurunkan sisi kanan. Menepuknya dua kali.

“Kerahmu miring,” kataku.

Ia menatapku. Matanya tidak menyembunyikan apa-apa. Ia menarik napas, panjang, seperti hampir sepuluh tahun lalu di bawah pohon ketapang, seperti delapan bulan lalu di dapur jam empat pagi.

“Kerahku bakal miring terus,” katanya. “Seumur hidup.”

Aku diam.

“Aku udah coba benerin sendiri. Di cermin kamar mandi, di kaca jendela tangga sekolah waktu kamu demam, di pantulan lift kantor. Nggak pernah bisa. Selalu tambah parah.” Ia tersenyum, gemetar. “Kayaknya tanganku nggak dibikin buat benerin kerahku sendiri.”

Ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru biru tua.

Di pos satpam, Pak Karno menjatuhkan topinya.

Di ambang pintu lobi, Pak Hardi melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung kemeja batik, dengan gerakan yang menurutku ia lakukan supaya tidak perlu terlihat menangis.

Anggana membuka kotak itu. Di dalamnya, cincin. Sederhana. Emas putih tipis dengan satu batu kecil di tengahnya, tidak besar, tidak mencolok, tapi berkilau di bawah matahari pagi seperti bintik keemasan di iris kiriku.

Ia tidak berlutut. Ia berdiri di depanku, di gerbang sekolah, di tempat yang sama, dengan kerah yang baru saja kurapikan.

“Aluna,” katanya. Nama utuh. Setiap suku kata diberi tempat. “Kerahku bakal miring terus seumur hidup. Mau ngecek tiap pagi?”


Aku tidak langsung menjawab.

Aku menatapnya. Aku menatap cincin itu. Aku menatap gerbang sekolah di belakangnya, pos satpam, Pak Karno yang memungut topinya dengan tangan gemetar, Pak Hardi di ambang pintu.

Dua belas tahun lalu, di tempat ini, ia menyerahkan sesuatu padaku tanpa bertanya apakah aku mau. Hampir sepuluh tahun lalu, di bangku belakang lab Biologi, aku menjawab pertanyaannya dengan memutuskan untuknya. Delapan bulan lalu, di dapur jam empat pagi, kami berdua akhirnya belajar bertanya.

Aku tidak mau menjawab tanpa bertanya.

“Boleh aku nanya satu hal dulu?” kataku.

Ia mengerjap. Lalu, pelan, ia tersenyum. Senyum yang mengerti.

“Boleh.”

“Kamu nanya ini karena kamu mau,” kataku, “atau karena kamu pikir ini yang terbaik buat aku?”

Ia diam satu detik.

“Karena aku mau,” katanya. “Egois. Buat aku sendiri. Aku mau kamu yang benerin kerahku tiap pagi sampai aku tua. Aku mau bangun jam tiga lewat empat puluh dan kamu ada di dapur. Aku mau minta tolong ke kamu sampai nomor seribu.” Ia menelan ludah. “Aku nggak tahu ini yang terbaik buat kamu atau nggak. Itu kamu yang tahu. Makanya aku nanya.”

Aku menatapnya. Air mataku sudah jatuh. Aku tidak menghapusnya.

“Satu lagi,” kataku.

“Iya.”

“Kamu mau aku jawab sekarang, atau nanti?”

Ia tertawa. Pelan, basah, dari dada. Tawa yang membuat matanya hilang.

“Sekarang,” katanya. “Nggak ada nanti lagi.”

Aku mengangguk. Aku mengulurkan tangan kiriku.

“Iya,” kataku. “Iya, Anggana. Tiap pagi. Seumur hidup.”

Ia memasangkan cincin itu di jari manisku. Tangannya gemetar. Lebih gemetar dari waktu ia menulis memo kuning di ruang TU. Butuh dua kali percobaan sebelum cincinnya masuk.

Cincin itu pas. Dara pasti mengukur jariku diam-diam. Aku tidak tahu kapan.

Aku menatap cincin di jariku. Lalu aku menyadari ada sesuatu yang terukir di bagian dalamnya. Aku melepasnya sebentar dan memiringkannya ke arah matahari.

Satu kata. Huruf kecil. Miring.

Aluna.

Bukan Luna. Nama utuh. Setiap suku kata diberi tempat.

Aku memasang cincin itu kembali. Lalu aku melangkah maju, melewati jarak satu langkah yang tersisa di antara kami, dan memeluknya. Di gerbang sekolah. Di depan Pak Karno dan Pak Hardi dan, aku sadar kemudian, beberapa wajah siswa baru yang menempel di jendela kelas lantai dua.

Ia memelukku balik. Erat. Seperti orang yang memeluk seseorang yang sudah lama dicari dan akhirnya pulang.

Dari pos satpam, Pak Karno bertepuk tangan. Keras. Sendirian. Lalu ia berteriak, dengan suara yang terdengar sampai lapangan basket:

“PAGI, MAS, MBAK! KERAHNYA UDAH LURUS?”

Anggana tertawa di rambutku. Aku tertawa di dadanya.

“Udah, Pak,” kataku, tanpa melepas pelukan. “Udah lurus.”


Di HP-ku, tiga puluh detik kemudian, satu pesan masuk.

Dara: Pak Hardi ngirim foto.

Dara: Aku liat cincinnya. Itu ukuran yang aku ukur dari karet rambut kamu yang ketinggalan di dapur. Pas, kan? PAS, KAN?

Dara: Spreadsheet sudah diperbarui.

Lalu satu tangkapan layar.

LAPORAN AUDIT HUBUNGAN (MASA PERCOBAAN)

Skor: 70 → 95.

Catatan: Lima poin sisanya ditahan sampai akad. Auditor belum pensiun sepenuhnya. Itu profesionalisme.

Catatan pribadi auditor (tidak resmi): Ibu nangis di dapur. Sambil bungkus. Ibu bilang Bapak pasti seneng. Auditor juga nangis. Auditor menyalahkan bawang merah.

Catatan pribadi auditor tambahan: Di dapur tidak ada bawang merah.

Aku menunjukkan layar itu ke Anggana. Ia membacanya, lalu tertawa sampai harus berpegangan pada pagar sekolah.

Lalu ia mengeluarkan bungkus nasi uduk terakhir dari tas kertasnya. Bungkus cadangan. Ia membukanya dengan hati-hati, membagi nasi dan telur balado di atas daun pisang menjadi dua bagian, dan menyodorkan setengahnya padaku.

Kami duduk di bangku semen di dekat pos satpam. Pak Karno membawakan dua gelas teh dari pos, manis, terlalu manis, seperti teh buatan Dara.

Kami makan dengan tangan. Empat jari dirapatkan. Ambil nasinya sedikit. Tekan dulu biar padat. Jempol yang dorong.

Tidak ada satu butir pun yang jatuh.

“Anggana,” kataku dengan mulut setengah penuh.

“Hm.”

“Ini permintaanku. Nomor tiga.”

“Apa?”

Aku menelan. Aku menatap cincin di jariku, lalu kerahnya yang lurus, lalu wajahnya.

“Jangan pernah berhenti bawa cadangan.”

Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang membuat matanya menyipit sampai hampir hilang, senyum yang hanya untukku, dan menjawab dengan kalimat yang ia ucapkan dua belas tahun lalu di parkiran sepeda, sebelum otaknya sempat menyensor.

“Janji.”