← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Sixteen

Level: Tidak Tahu Malu

POV: Aluna

Hari Selasa, aku meninggalkan gelas teh hangat di meja ruang Rinjani, tepat di tempat ia biasa duduk, sepuluh menit sebelum ia datang.

Gelas kertas dari kafe lobi. Teh melati, tanpa gula, karena ia tidak suka manis kecuali buatan Dara, dan buatan Dara itu terlalu manis untuk dihitung sebagai teh. Di lengan gelasnya, kutempel sticky note kuning dengan tulisan tangan miring ke kanan:

Teh hangat buat CTO yang kerahnya hari ini miring 40 derajat. Lebih baik dari kemarin (65 derajat). Pertahankan.

Ia masuk jam sembilan tepat. Melihat gelas itu. Membaca sticky note-nya.

Aku pura-pura membaca dokumentasi sistem di laptop, padahal mataku mengintip dari balik layar.

Ia membaca catatan itu sekali. Lalu, tanpa sadar, tangannya naik ke kerahnya. Meraba lipatan yang terlipat ke dalam di sisi kiri.

Aku menunduk lebih dalam ke laptop supaya ia tidak melihat aku tersenyum.

“Makasih, Luna,” katanya, lalu duduk dan meminum tehnya. Ia tidak mengomentari catatan itu. Tapi ia juga tidak membuangnya. Ia melepas sticky note itu dari gelas, melipatnya sekali, dan memasukkannya ke saku kemeja.

Ke saku kemeja. Bukan ke tempat sampah.

Aku mencatatnya di halaman terpisah tablet-ku. Selasa. Sticky note masuk saku. Bukan tempat sampah. Ini data penting.


Hari Rabu, sticky note-nya: Teh hangat. Kerah hari ini: 25 derajat. Ada kemajuan. Dara pasti bangga. (Jangan bilang Dara aku bilang gitu.)

Hari Kamis: Teh hangat. Kerah: 70 derajat. Kemunduran parah. Kamu bungkus berapa tadi pagi? Pasti lebih dari 250.

Ia membaca yang hari Kamis itu lebih lama dari biasanya. Lalu, untuk pertama kalinya, ia menjawab.

“Dua ratus delapan puluh,” katanya tanpa mengangkat kepala dari laptop. “Ada pesanan pengajian.”

Aku menahan napas. Ia menjawab. Ia menjawab pertanyaan di sticky note, dengan angka, seperti dulu di gerbang sekolah. Hari ini berapa? Dua ratus sepuluh.

“Pantes,” kataku, berusaha terdengar biasa.

Ia mengangguk. Lalu memasukkan sticky note itu ke saku kemeja, bersama yang lain. Aku tidak tahu apakah ia menyimpan yang Selasa dan Rabu juga, atau sudah membuangnya di rumah. Tapi aku memutuskan untuk percaya bahwa ia menyimpannya. Karena kalau aku tidak memutuskan untuk percaya, aku akan berhenti, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berhenti.


“Ini nggak cukup,” kata Tiara di pantry Sagara, Kamis sore, sambil mengunyah keripik singkong dengan wajah ahli strategi militer. “Sticky note itu manis. Gue akui. Tapi manis kayak kartu ucapan Hari Guru. Lo butuh gerakan.”

“Gerakan apa?”

“Lo udah nyentuh jarinya. Lo udah benerin kerahnya. Sekarang lo butuh dia ngerasa sesuatu yang dia nggak bisa abaikan.” Tiara mengacungkan keripik singkong seperti tongkat komando. “Cemburu.”

“Nggak.”

“Dengerin dulu. Teori gue: cowok yang nggak ngerasa apa-apa, harus dikasih alasan buat ngerasa sesuatu. Dan nggak ada yang lebih cepat bikin cowok ngerasa sesuatu daripada ngelihat cewek yang ngejar dia tiba-tiba perhatian ke cowok lain.”

“Itu manipulatif, Ti.”

“Itu psikologi.” Ia mengunyah keripik dengan suara keras. “Besok. Rapat penutupan due diligence minggu pertama. Jovan ikut. Lo puji Jovan. Lo ketawa sama lelucon Jovan. Lo duduk deket Jovan. Liat reaksi CTO lo.”

“Jovan itu CEO perusahaan yang mau kita danai.”

“Justru. Lebih realistis. Kayak lo beneran tertarik sama orang yang setara.”

Aku menatap Tiara lama. Aku tahu ini ide buruk. Aku tahu ini sangat buruk. Tapi sudah sebelas hari sejak halo, Luna, dan skornya masih satu satu, dan sticky note-nya masuk saku tapi tidak pernah dibahas, dan aku mulai lelah dengan kesopanan yang tidak pernah retak.

“Sekali,” kataku. “Cuma sekali.”

Tiara menyeringai seperti kucing yang baru dapat kunci lemari ikan.


Rapat penutupan minggu pertama dilakukan di ruang Rinjani, Jumat jam tiga sore. Aku, Anggana, Jovan, dan Tiara yang ikut karena katanya perlu mencatat aspek keuangan, padahal ia cuma mau menonton.

Aku memulai operasi di menit kelima.

“Pak Jovan,” kataku, dengan suara yang kuusahakan lebih manis dari biasanya. “Presentasi Bapak di IC kemarin luar biasa. Pak Haryo jarang senyum kayak gitu.”

Jovan, yang sedang minum air mineral, tersedak.

“Eh? Oh. Makasih, Mbak Luna.”

“Visinya jelas banget. Flie untuk orang yang belum pernah nginep di hotel. Itu kalimat yang bikin saya merinding.” Aku memiringkan kepala sedikit, seperti yang Tiara ajarkan semalam lewat video call, gerakan yang menurutnya bikin cowok lupa nama sendiri. “Bapak yang nulis kalimat itu?”

Jovan menatapku. Lalu menatap Anggana. Lalu menatapku lagi. Wajahnya berubah perlahan, dari bingung jadi panik, dari panik jadi sesuatu yang lebih buruk: Jovan mulai salah paham.

“Eh, itu... sebenarnya ide awalnya dari Angga,” katanya, suaranya naik setengah oktaf. “Gue... saya cuma yang bikin jadi kalimat. Angga yang punya ide. Angga yang bilang soal ibunya yang belum pernah naik pesawat—”

“Tapi Bapak yang nyampein dengan semangat,” potongku, tersenyum lebih lebar. “Itu bakat. Nggak semua orang punya karisma kayak Bapak.”

Hening.

Tiara, di sebelahku, menendang pergelangan kakiku di bawah meja. Keras. Aku tidak tahu itu tendangan semangat atau tendangan peringatan.

Lalu aku melirik Anggana.

Ia sedang menatap Jovan. Dengan ekspresi tenang, sopan, dan, aku tidak percaya ini, bangga.

“Luna benar,” katanya. “Jovan memang punya bakat itu. Dari kuliah. Dia bisa bikin dosen killer ketawa di sidang skripsi.” Ia menepuk bahu Jovan. “Dia memang ganteng juga, kalau lagi pakai jas.”

Jovan berubah warna. Dari kulit sawo matang menjadi merah bata. Ia menatap Anggana dengan mulut terbuka, lalu menatapku, lalu menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Bro,” katanya dari balik tangan. “Lo nggak boleh ngomong gitu di depan investor.”

“Kenapa? Itu fakta.”

Aku menatap Anggana. Ia menatapku balik dengan senyum sopan. Senyum yang sama. Tidak ada cemburu. Tidak ada kerutan di dahi. Tidak ada tangan yang mengepal. Hanya seorang laki-laki yang sungguh-sungguh senang melihat temannya dipuji.

Operasi gagal total.

Dan yang lebih buruk: di sebelahku, aku mendengar Tiara mengeluarkan suara kecil. Suara yang tidak kukenali. Aku menoleh.

Tiara sedang menatap Jovan dengan pipi memerah dan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram pulpen. Matanya berpindah dari Jovan ke aku, dari aku ke Jovan, dengan sesuatu yang sangat mirip, sangat persis seperti, cemburu.

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Oh tidak.


Setelah rapat, Tiara menyeretku ke toilet perempuan lantai dua puluh empat dan mengunci pintu.

“Lo,” katanya, menunjukku dengan jari gemetar, “nggak boleh muji Jovan kayak gitu lagi.”

“Ti, itu ide kamu.”

“Itu ide gue buat bikin CTO lo cemburu! Bukan buat bikin Jovan mikir lo naksir dia!”

“Terus kenapa kamu yang merah?”

Tiara membeku. Mulutnya terbuka. Ia menatapku seperti orang yang baru tertangkap basah mencuri mangga di kebun tetangga.

“Gue nggak merah.”

“Kamu merah banget, Ti.”

“Itu AC-nya. Panas.”

“AC-nya delapan belas derajat.”

Tiara menutup wajahnya dengan dua tangan, persis seperti Jovan di ruang rapat tadi, dan mengerang panjang. “Gue benci lo. Gue benci kantor ini. Gue benci CEO yang rambutnya keriting dan ketawanya kedengeran sampai Bekasi.”

“Sejak kapan?”

“Sejak IC.” Ia menurunkan tangan dan menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Dia pakai jas. Dia ngomong soal homestay di desa. Dia bilang ‘Flie nggak dijual’ ke Mr. Koh dengan muka kayak mau perang. Gue... gue nggak siap, Lun.”

Aku menatap sahabatku, ahli strategi flirting bersertifikat dirinya sendiri, yang baru saja jatuh ke jebakan yang ia pasang untukku. Lalu aku tertawa. Tawa yang membuat kepalaku miring ke kiri, tawa yang sudah lama tidak keluar.

Tiara memukul lenganku. Lalu ikut tertawa.

Lalu, di tengah tawa itu, sesuatu di dadaku runtuh pelan-pelan.

Aku berhenti tertawa. Aku menatap pantulan wajahku di cermin toilet. Rambut sebahu yang tidak rata. Lipstik mawar pucat yang mulai pudar. Mata yang lelah.

“Lun?”

“Dia nggak cemburu, Ti.”

“Gue tahu.”

“Dia malah muji Jovan ganteng.”

“Gue denger.”

“Sebelas hari. Teh. Sticky note. Kerah. Jari. Nasi uduk di pantry.” Suaraku mulai bergetar. “Dia baik. Dia sopan. Dia jawab semua pertanyaanku. Dia nyimpen sticky note di saku. Tapi dia nggak...” Aku berhenti. Menarik napas. “Dia senyum ke aku kayak dia senyum ke Mas Eko. Kayak dia senyum ke Jovan. Kayak dia senyum ke semua orang.”

Tiara diam. Ia menatapku lewat cermin.

“Mungkin dia memang udah nggak ngerasa apa-apa,” kataku pelan. “Mungkin aku telat delapan tahun. Mungkin aku yang bikin dia jadi kayak gini, dan sekarang aku nggak berhak minta dia jadi beda.”

Air mataku jatuh. Satu. Aku menghapusnya dengan punggung tangan sebelum yang kedua sempat menyusul.

Tiara tidak bilang apa-apa. Ia cuma memelukku dari samping, singkat dan keras, persis seperti cara seseorang memeluk orang yang ia sayang tapi tidak tahu harus bilang apa.

Lalu ia mundur, mengambil tisu dari dispenser, dan menyerahkannya padaku.

“Lun. Gue mau tanya satu hal.”

“Apa.”

“Lo udah bilang ke dia?”

“Bilang apa?”

“Bahwa lo ngejar dia.” Tiara menatapku serius. “Bukan sticky note. Bukan kerah. Bukan tujuanku jelas di depan adiknya. Bilang langsung. Ke mukanya. Aku lagi ngejar kamu.”

Aku menatapnya.

“Dia itu orang yang nggak pernah nebak,” lanjut Tiara pelan. “Lo sendiri yang cerita. Dia nggak pernah nanya kenapa lo nolak dia. Dia cuma nerima. Dia nggak pernah nanya kenapa lo benerin kerahnya. Dia cuma bilang makasih. Orang kayak gitu, Lun, nggak bakal sadar dikejar kalau lo nggak bilang. Karena di kepalanya, nggak ada orang yang bakal ngejar dia.”

Aku menatap tisu di tanganku.

Kenapa aku? Ia tidak pernah menanyakan itu. Tidak delapan tahun lalu, tidak sekarang. Ia tidak pernah bertanya kenapa aku memilih kotak bekal kayu atau nasi uduk, kenapa aku menghitung empat puluh tujuh orang, kenapa aku menangis di depan radio Oma. Ia selalu cuma menerima. Seolah semua hal baik yang datang padanya adalah kebetulan, dan semua hal buruk adalah wajar.

Seolah tidak ada orang yang pernah memilih dia dengan sengaja.

Aku menghapus sisa air mata. Aku membuka pintu toilet.


Ia masih di ruang Rinjani. Sendirian. Jovan sudah turun ke lantai dua puluh tiga, entah untuk bersembunyi atau untuk menenangkan diri. Anggana sedang menutup laptop dan memasukkan dokumen-dokumen ke tas.

Aku berdiri di ambang pintu.

“Anggana.”

Ia mengangkat kepala. “Luna. Belum pulang?”

Aku masuk. Menutup pintu kaca di belakangku. Di luar, di koridor, aku melihat dua engineer berhenti berjalan dan pura-pura membaca papan pengumuman.

Aku tidak peduli.

“Aku mau bilang sesuatu,” kataku. “Biar kamu nggak perlu nebak.”

Ia menatapku dengan wajah tenang. Menunggu.

Aku menarik napas. Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, ia berdiri di depanku dan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin melangkah dua langkah ke depan. Aku tidak melangkah. Aku diam. Aku memutuskan untuknya.

Hari ini aku melangkah.

“Aku lagi ngejar kamu, by the way.”

Hening.

Di luar dinding kaca, salah satu engineer menjatuhkan HP-nya.

Anggana menatapku. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku melihatnya. Aku melihat sesuatu yang kulihat di koridor Sagara hari Kamis, dua detik beku itu, muncul lagi di matanya, lebih cepat, lebih singkat, seperti kilat yang menyambar di kejauhan dan suaranya belum sampai.

“Teh hangat,” lanjutku, dan suaraku tidak bergetar, karena aku sudah terlalu lelah untuk bergetar. “Sticky note. Kerah. Jari waktu ngambil dokumen. Tadi muji Jovan, itu ide Tiara dan itu gagal total, maaf. Semuanya itu aku lagi ngejar kamu. Aku bilang sekarang, biar kamu nggak perlu nebak-nebak. Biar kamu tahu itu sengaja.”

Ia diam lama. Lima detik. Delapan.

Lalu ia tersenyum.

Senyum yang sopan. Senyum yang hangat. Senyum yang sama.

“Kamu nggak perlu ngejar, Luna,” katanya lembut. “Aku nggak lari ke mana-mana.”

Aku menatapnya.

Itu kalimat paling baik yang pernah diucapkan seseorang padaku. Itu juga kalimat paling kejam. Karena aku tahu persis apa artinya. Aku nggak lari. Bukan karena ia menunggu. Karena ia tidak merasa perlu lari dari sesuatu yang tidak lagi bisa melukainya.

Aku tidak menangis. Aku sudah menangis di toilet tadi. Kuota hari ini sudah habis.

“Oke,” kataku. Aku mengangkat dagu. “Tapi aku tetap ngejar.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutnya pelan. Tidak menuntut. Lebih seperti orang yang benar-benar bingung.

Aku hampir tertawa. Delapan tahun, dan ini pertama kalinya ia bertanya kenapa.

“Nanti,” kataku. “Kalau kamu udah siap dengar jawabannya.”

Aku mengambil tasku dari kursi, membuka pintu kaca, dan berjalan keluar melewati dua engineer yang sekarang sedang membaca papan pengumuman yang sama dengan sangat, sangat serius.

Di lift, aku menekan tombol lobi dan bersandar ke dinding.

Empat puluh satu detik. Aku menghitungnya. Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, aku tidak menghitung untuk menahan tangis.

Aku menghitung karena aku ingin mengingat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk turun dari lantai dua puluh empat, setelah akhirnya, akhirnya, mengatakan hal yang benar dengan suara keras.

Di grup WhatsApp yang tidak kuketahui keberadaannya, Ucup bercerita padaku belakangan, ada tiga puluh dua pesan masuk dalam lima menit. Salah satunya dari engineer yang menjatuhkan HP:

BRO DIA BILANG LANGSUNG. DI MUKANYA. “AKU LAGI NGEJAR KAMU BY THE WAY.” GUE NAIKIN TARUHAN JADI 500.

Dan satu dari Jovan, dua menit kemudian:

Kata anak-anak yang baca gerak bibir dari luar kaca, Angga nanya “kenapa”. Dalam 4 tahun gue kenal dia, dia nggak pernah nanya kenapa soal apa pun yang bukan bug. Gue naikin jadi sejuta.