← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Three

Konter Cahaya Cell

POV: Anggana

Setelah MOS, sekolah berjalan seperti biasa, dan dunia kembali ke tempatnya masing-masing.

Aku masuk kelas X IPA 1. Aluna masuk X IPA 3. Dua kelas itu dipisahkan tiga pintu, satu tangga, dan, menurut Ucup yang entah bagaimana selalu tahu segalanya, sekitar empat puluh tujuh langkah kaki orang dewasa.

“Gue udah ngitung,” katanya di hari pertama pelajaran, sambil meletakkan tasnya di bangku sebelahku tanpa minta izin. “Kalau lo jalan santai, empat puluh tujuh. Kalau lo jalan pura-pura nggak sengaja lewat, lima puluh dua, soalnya lo bakal melambat di depan pintunya.”

“Aku nggak bakal pura-pura lewat.”

“Lo udah lewat tiga kali pagi ini, Bro.”

Aku tidak membantah, karena itu benar.

Kami tidak sering bertemu. Aluna punya dunianya sendiri: teman-teman yang pulang dijemput mobil, ekskul paduan suara, les piano setiap Selasa dan Kamis, dan, menurut gosip yang beredar di kantin, dua kakak kelas yang sudah mencoba mengajaknya jalan di minggu pertama dan dua-duanya ditolak dengan sopan. Aku punya duniaku: bangun jam tiga lewat empat puluh, sekolah, lalu konter servis HP sampai jam delapan malam, lalu PR, lalu tidur.

Tapi setiap kali kami berpapasan di koridor, ia selalu berhenti. Selalu menyapa. Selalu memanggilku Anggana, nama utuh, seolah kami punya kesepakatan rahasia.

“Anggana. Bawa cadangan?”

“Bawa.”

“Bagus.” Lalu ia pergi, dan aku tidak pernah tahu apakah itu lelucon atau pertanyaan sungguhan.

Lalu, di minggu keenam, Pak Hardi guru Fisika mengumumkan Pekan Sains.


“Kelompok empat orang,” kata Pak Hardi sambil mengocok gulungan kertas dalam toples bekas selai kacang. “Lintas kelas. Diundi. Tidak ada tukar-menukar. Tidak ada protes. Yang protes, saya tambah satu anggota yang paling malas.”

Anak-anak X IPA 1 dan X IPA 3 dikumpulkan di aula. Pak Hardi mengambil gulungan satu per satu dan membacakan nama-nama dengan suara datar seperti penyiar berita duka.

“Kelompok sembilan. Anggana Pradipta.”

Aku mengangkat tangan.

“Yusuf Hidayat.”

“Hadir, Pak,” kata Ucup, lalu berbisik padaku, “takdir, Bro.”

“Sisilia Wibowo.”

Gadis berambut pendek dari kelompok MOS Aluna mengangkat tangan dan langsung menoleh ke kiri, ke arah seseorang.

Aku tahu siapa nama berikutnya sebelum Pak Hardi membacanya. Bukan karena aku bisa membaca masa depan. Karena Ucup sudah mencengkeram lenganku sampai sakit.

“Aluna Prameswari Hadinata.”

Ia mengangkat tangan dari barisan seberang. Lalu menoleh ke arahku. Dan tersenyum seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.


Topik kelompok kami: alat penjernih air sederhana dari bahan bekas.

Aluna yang memilihnya. Ia bilang ia pernah melihat liputan tentang kampung di pinggir Jakarta yang air sumurnya keruh dan berbau, dan ia ingin tahu apakah ada cara murah untuk memperbaikinya. Waktu ia mengatakannya, ia tidak terdengar seperti anak orang kaya yang mencari topik keren. Ia terdengar seperti orang yang benar-benar ingin tahu.

“Kampungku airnya juga begitu,” kataku.

Ia menoleh. “Serius?”

“Sumur di gang kami kuning kalau musim kemarau. Ibu nyaring pakai kain dulu sebelum masak.”

“Kalau gitu kita uji pakai air sumur rumahmu,” katanya langsung. “Data asli. Bukan air keran yang dicampur tanah.”

Ucup dan Sisil saling pandang. Aku tahu apa yang mereka pikirkan, karena aku juga memikirkannya: Aluna baru saja mengusulkan untuk datang ke kampungku. Atau setidaknya, memakai sesuatu dari kampungku. Dan ia mengusulkannya tanpa ragu sedikit pun.

Kami bekerja selama tiga minggu. Setiap Rabu sore di perpustakaan, dan Sabtu pagi di teras rumah Sisil, yang rumahnya di tengah-tengah antara rumahku dan rumah Aluna. Ucup yang paling semangat, terutama soal snack. Sisil yang paling rapi soal catatan. Aluna yang paling teliti soal data, dan ia mengetik semuanya di laptopnya sendiri, laptop hitam tipis yang bunyinya halus seperti kucing mendengkur.

Aku mengerjakan bagian rancangan alat. Botol bekas air mineral, kerikil, pasir, arang aktif, ijuk, kapas. Lapisan demi lapisan. Aku menggambarnya di kertas karton besar dengan pensil, lalu menebalkannya dengan spidol.

Di Rabu kedua, saat aku sedang menggambar penampang lapisan arang, Aluna duduk di sebelahku dan menunjuk sesuatu di gambar.

“Panahnya kebalik. Air masuk dari atas, kan?”

“Oh. Iya.”

“Sini, aku yang benerin.” Ia mengulurkan tangan.

Aku mengulurkan pulpen.

Ujung jarinya menyentuh ujung jariku.

Sentuhan itu tidak lebih dari setengah detik. Kulitnya hangat dan sedikit kering, dan jarinya lebih panjang dari yang kukira. Tidak ada yang istimewa secara teknis. Dua orang mengoper pulpen. Terjadi jutaan kali setiap hari di seluruh dunia.

Tapi tanganku diam di udara lebih lama dari yang seharusnya. Dan tangan Aluna juga.

Lalu ia menarik pulpennya dengan cepat, menunduk ke kertas, dan membenarkan panah itu dengan goresan yang terlalu tebal. Telinganya memerah. Aku melihat itu dari samping, warna merah muda yang merambat dari daun telinga sampai ke tengkuknya di bawah rambut yang diselipkan.

Di seberang meja, Ucup menatap kami berdua sambil mengunyah keripik dengan sangat pelan, seperti penonton yang tidak mau ketinggalan satu adegan pun.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak,” katanya. “Lanjut aja. Gue nggak liat apa-apa. Gue cuma keripik.”


Konter Cahaya Cell terletak di deretan ruko di Jalan Pemuda, sekitar lima belas menit bersepeda dari sekolah. Lebarnya cuma tiga meter, dengan etalase kaca berisi casing HP warna-warni dan papan nama bercat kuning yang huruf “C” pertamanya sudah copot, sehingga dari jauh terbaca ahaya Cell.

Pemiliknya Bang Jali, Betawi asli, perutnya buncit, suaranya keras, dan hatinya jauh lebih lembut dari yang mau ia akui. Ia menerimaku kerja setahun lalu, waktu aku masih kelas tiga SMP, setelah aku memperbaiki HP istrinya yang mati total dan sudah ditolak tiga konter lain.

“Lo nggak gue gaji karena kasihan,” katanya waktu itu. “Gue gaji karena tangan lo lebih pinter dari si Bowo.”

Mas Bowo, teknisi senior yang sudah sepuluh tahun bekerja di situ, mendengarnya dari belakang dan melempar obeng ke arah Bang Jali. Obengnya meleset. Sejak itu kami berteman baik.

Di Kamis malam sebelum presentasi Pekan Sains, aku sedang mengganti konektor cas sebuah HP Samsung ketika pintu kaca konter terbuka dan lonceng kecil di atasnya berbunyi.

“Permisi, ini bisa servis laptop—”

Suara itu berhenti.

Aku mengangkat kepala.

Aluna berdiri di ambang pintu dengan laptop hitam tipis dipeluk di dadanya. Rambutnya berantakan seperti habis diacak-acak, matanya merah, dan ia masih memakai seragam sekolah. Di belakangnya, di trotoar, sopir berseragam yang dulu kulihat di hari MOS berdiri dengan wajah cemas.

Kami saling menatap. Tiga detik. Lima.

“Anggana?”

“Hai.”

“Kamu...” Ia menatap etalase, menatap obeng di tanganku, menatap kaus oblong lusuh bertuliskan CAHAYA CELL yang kupakai di atas celana seragam. “Kamu kerja di sini?”

“Tiap pulang sekolah.”

Ekspresinya berubah beberapa kali dalam satu detik, terlalu cepat untuk kubaca semuanya. Kaget. Lalu sesuatu yang mirip pengertian. Lalu, entah kenapa, sesuatu yang mirip sedih. Tapi semua itu cepat tersapu oleh kepanikan yang membawanya ke sini.

“Laptopku mati,” katanya, suaranya bergetar. “Tadi jatuh dari tempat tidur. Sekarang nyala, tapi bunyi tik-tik-tik terus, terus layarnya hitam. Semua data presentasi besok ada di sini. Semua tabel hasil uji air. Semua foto. Aku belum sempat backup.”

Bang Jali, yang sedang menonton sinetron di TV kecil di pojok, menoleh dengan minat. Mas Bowo keluar dari belakang, mengambil laptop itu dari tangan Aluna dengan sopan, membuka casing bawahnya dengan gerakan terlatih, lalu menempelkan telinganya ke dekat hard disk saat laptop dinyalakan.

Tik. Tik. Tik-tik. Tik.

Mas Bowo menggeleng pelan.

“Head-nya kena, Neng. Hard disk-nya rusak fisik. Ganti baru bisa, tapi datanya...” Ia meringis. “Biasanya udah nggak bisa diambil. Kalau mau dicoba, harus dikirim ke tempat recovery khusus di Glodok. Seminggu. Dan mahal.”

“Presentasinya besok jam sembilan,” kata Aluna. Suaranya nyaris tidak terdengar.

Aku melihat matanya. Ia tidak menangis. Ia sedang berusaha sangat keras untuk tidak menangis, dan itu jauh lebih menyakitkan untuk dilihat.

“Mas Bowo,” kataku. “Boleh aku coba?”

Mas Bowo menatapku. Bang Jali menatapku. Aluna menatapku.

“Lo mau ngapain?” tanya Bang Jali.

“Kalau head-nya belum hancur total, sebagian data masih bisa dibaca. Masalahnya, setiap kali hard disk itu nyoba baca bagian yang rusak, dia makin rusak. Jadi jangan dibuka di Windows. Kita salin dulu seluruh isi piringannya ke disk lain, sektor per sektor, lompati bagian yang susah, ambil yang gampang dulu. Habis itu baru balik lagi ke bagian yang susah, pelan-pelan.”

Mas Bowo menyipitkan mata. “Pakai apa?”

“Flashdisk Linux yang aku bikin bulan lalu. Ada program namanya ddrescue. Aku pernah coba di hard disk bekas yang Bang Jali buang.”

“Hard disk yang gue buang itu kan emang udah mati.”

“Iya. Dari situ aku belajar.” Aku menatap Aluna. “Aku nggak janji semuanya balik. Tapi aku mau coba.”

Ia menatapku lama, lalu mengangguk sekali.


Bang Jali menutup konter jam sembilan seperti biasa. Bedanya, malam itu ia melemparkan kunci gembok ke arahku.

“Lo yang tutup. Jangan bakar konter gue. Kalau kesetrum, jangan mati di sini, repot ngurus surat-suratnya.” Lalu, dengan suara yang lebih pelan, waktu Aluna sedang di luar bicara dengan sopirnya: “Udah kasih tau ibu lo?”

“Udah, Bang. SMS.”

“Bagus.” Ia menepuk kepalaku sekali, kasar seperti biasa, lalu pergi.

Aluna tidak bisa menunggu sampai selesai. Mamanya sudah menelepon tiga kali, dan Pak Darto, sopirnya, terlihat makin gelisah setiap kali melirik jam. Jam setengah sepuluh, ia berdiri di depan meja servis tempat laptopnya terbuka, terhubung kabel ke laptop tua milik konter dan ke hard disk eksternal yang kupinjam dari laci Mas Bowo.

Di layar, baris-baris angka bergerak sangat lambat. Persentase. Sektor terbaca. Sektor gagal.

Rescued: 41%.

“Kamu nggak harus begini,” katanya.

“Aku tahu.”

“Besok kamu juga presentasi.”

“Bagianku cuma gambar alat. Udah selesai.” Aku menunjuk karton besar di pojok, yang kubawa ke konter karena belum sempat pulang. “Kamu pulang aja. Kalau datanya keluar, aku kabarin.”

Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu mengeluarkan HP dari tasnya. “Nomormu.”

Aku menyebutkannya. Ia mengetik. Lalu HP-ku di meja bergetar, nomor baru dengan satu pesan:

Ini Aluna. Jangan lupa makan.

“Kalau ada yang bisa aku bantu, telepon,” katanya. “Jam berapa pun.”


Jam sebelas lewat dua puluh, Rescued: 96,4%.

Sisa tiga koma enam persen adalah bagian yang paling rusak. Aku menjalankan putaran kedua, memaksa disk membaca ulang bagian itu pelan-pelan, satu blok kecil setiap kali. Bunyi tik-tiknya makin sering. Aku menahan napas setiap kali angka di layar berhenti bergerak terlalu lama.

Jam dua belas lewat sepuluh, putaran kedua berhenti di 98,1 persen. Hard disk itu akhirnya menyerah dan tidak mau berputar lagi.

Aku memasang salinan isinya, membuka folder dokumen, dan menemukan file presentasi Aluna.

PEKAN SAINS KEL 9 FINAL FIX BANGET.pptx

Aku tertawa sendirian di konter yang sepi. Lalu aku membukanya, dan berhenti tertawa.

File ini rusak dan tidak dapat dibuka.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku ingat sesuatu yang pernah kubaca di forum komputer jam dua pagi, di bulan-bulan ketika aku tidak bisa tidur dan menghabiskan waktu dengan mempelajari apa saja: file PowerPoint versi baru sebenarnya adalah kumpulan file kecil yang dibungkus jadi satu, seperti kardus berisi banyak amplop. Kalau kardusnya penyok, belum tentu semua amplopnya rusak.

Aku mengganti ekstensi file itu jadi .zip, lalu membukanya dengan program pembuka arsip yang mengabaikan kerusakan.

Dua puluh tiga slide. Yang bisa terbaca enam belas. Semua foto selamat. Tabel hasil uji air, tabel yang Aluna kerjakan selama tiga minggu dengan teliti, tersimpan di slide sebelas dan dua belas, dan keduanya rusak.

Aku mengambil HP. Jam dua belas lewat dua puluh lima. Aku ragu sepuluh detik.

Lalu aku mengetik: Datanya 98% selamat. Foto aman. Tapi slide 11, 12, dan 5 slide lain rusak. Kamu masih ingat isinya?

Balasannya datang dalam waktu kurang dari satu menit.

TELEPON AKU SEKARANG.


Kami bicara di telepon sampai jam satu lewat empat puluh.

Ia mendiktekan angka-angka dari ingatannya, dan ternyata ingatannya luar biasa. Kekeruhan air sebelum dan sesudah penyaringan. Waktu tetes per seratus mililiter. Hasil uji bau dari lima responden, termasuk Ibu dan Pakde Sarno, yang ternyata ikut menjadi responden waktu kelompok kami datang ke gang hari Sabtu dua minggu lalu. Kalau ia lupa satu angka, ia diam beberapa detik, lalu berkata, “Tunggu, aku masih punya catatan tangan,” dan aku mendengar suara kertas dibolak-balik.

Aku membangun ulang tabel-tabel itu satu sel demi satu sel. Lalu menyusun ulang tujuh slide yang hilang dari foto-foto yang selamat dan catatan yang ia bacakan.

Di sela-sela itu, kami tidak hanya bicara soal angka.

“Kamu kerja di konter itu sejak kapan?” tanyanya di satu titik, waktu aku sedang menunggu komputer tua itu memproses gambar.

“Kelas tiga SMP.”

“Kenapa?”

“Biar Ibu nggak harus nambah gerobak kedua.”

Ia diam. Lama. Aku pikir sambungannya putus.

“Aluna?”

“Masih di sini.” Suaranya pelan. “Kamu tiap hari bangun jam berapa?”

“Setengah empat. Kurang dikit.”

“Terus pulang dari konter jam delapan.”

“Iya.”

“Terus sekarang kamu masih di konter jam satu pagi. Buat laptop aku.”

“Buat data kamu,” koreksiku. “Laptopnya udah nggak bisa ditolong.”

Ia tertawa, tapi tawanya basah, seperti ada sesuatu yang ditahan di belakangnya.

“Anggana.”

“Hm?”

“Kamu pernah nggak, sekali aja, minta tolong sama orang?”

Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti di atas keyboard.

Aku memikirkannya dengan jujur. Aku memikirkan Ibu, Dara, Bang Jali, Mas Bowo, Ucup. Aku mencari satu saja ingatan di mana aku meminta sesuatu kepada seseorang.

“Nggak inget,” kataku.

“Itu jawaban paling sedih yang pernah aku dengar.”

“Bukan sedih. Aku cuma nggak pernah perlu.”

“Semua orang perlu, Anggana.” Ia menghela napas. “Kamu aja yang nggak pernah ngaku.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku menyimpan file itu dengan nama PEKAN SAINS KEL 9 FINAL FIX BANGET BENERAN.pptx dan membacakan nama barunya untuknya.

Ia tertawa sampai terbatuk-batuk. Tawa yang ini tidak basah.


Aku tidur dua jam di bangku konter. Jam setengah empat, aku pulang, membantu Ibu membungkus nasi uduk dengan mata setengah terbuka, dan disambut Dara di depan pintu kamar mandi dengan tangan bersedekap.

“Kakak pulang jam berapa?”

“Setengah empat.”

“SETENGAH EMPAT?”

“Ada laptop teman yang rusak.”

“Teman siapa?” Matanya menyipit. “Teman perempuan nasi uduk itu?”

Aku masuk kamar mandi dan menyalakan keran sekencang-kencangnya.


Kelompok sembilan presentasi jam sembilan lewat sepuluh. Aluna yang memimpin. Ia berdiri di depan kelas dengan seragam yang disetrika sempurna, rambutnya diikat rendah di tengkuk, dan tidak ada sedikit pun tanda bahwa ia baru tidur empat jam. Yang ada justru sebaliknya: matanya bersinar, suaranya jernih, dan caranya menjelaskan tabel-tabel itu, tabel yang semalam kubangun ulang dari suaranya di telepon, membuat seisi kelas diam mendengarkan.

Ia bukan cuma cantik. Aku sudah tahu itu sejak hari MOS. Tapi pagi itu aku melihat sesuatu yang lain: ia pintar dengan cara yang tidak berisik, dan ia menghormati angka-angkanya seperti orang menghormati janji.

Pak Hardi memberi kelompok kami nilai tertinggi. Ia juga bertanya siapa yang membuat diagram alat penjernih, dan waktu Ucup menunjukku, Pak Hardi mengangguk dan bilang, “Rapi. Logis. Kamu nanti ke ruang guru sebentar.” Ucup menepuk punggungku begitu keras sampai aku terbatuk.

Setelah kelas bubar, Aluna menungguku di dekat tangga.

Ia memegang dua gelas plastik berisi kopi susu dari kantin. Satu ia sodorkan padaku.

“Ini bukan bayaran,” katanya cepat, sebelum aku sempat protes. “Ini kopi. Teman ngasih kopi ke teman yang begadang. Itu normal.”

“Teman?”

Ia mengangkat dagu sedikit. Pipinya merah, tapi matanya tidak beralih. “Kita teman, kan?”

Aku mengambil kopi itu. Gelasnya dingin dan berembun, dan ujung jarinya tidak menyentuhku kali ini. Aku tidak kecewa. Atau aku kecewa sedikit, tapi aku sudah mulai terbiasa.

“Iya,” kataku. “Teman.”

Ia tersenyum. Lalu ia mengeluarkan HP-nya dan memperlihatkan layarnya padaku, layar kontak yang baru diperbarui pagi itu.

Anggana (Cahaya Cell) 🔧

“Biar kalau HP aku rusak, aku tahu harus nelepon siapa,” katanya.

“Itu nomor pribadiku. Bukan nomor konter.”

“Aku tahu,” katanya, lalu berbalik dan menaiki tangga, ekor kudanya berayun. Di anak tangga ketiga, ia menoleh. “Anggana. Kamu belum makan, kan?”

Aku tidak menjawab. Ia tahu jawabannya.

“Kamu bawa cadangan?”

“Bawa.”

“Makan cadangannya,” katanya. “Kali ini, buat kamu sendiri.”

Ia menghilang di belokan tangga. Aku berdiri sendirian dengan kopi susu dingin di tangan, membuka tasku, dan menatap dua bungkus nasi uduk yang tergeletak di dasarnya.

Aku memakan satu. Bungkus yang satunya, seperti biasa, tetap kusimpan.

Malam itu, waktu aku membuka daftar kontak di HP-ku untuk pertama kalinya sejak kemarin, namanya masih tersimpan persis seperti waktu aku mengetiknya dengan tangan gemetar di konter jam sembilan malam.

Aluna.

Tanpa embel-embel. Tanpa keterangan. Cuma namanya, utuh, seperti waktu ia pertama kali mengucapkannya.