Chapter Eighteen
Jam Empat Pagi
POV: Aluna
Aku mencuci handuk itu dua kali.
Sekali dengan tangan, di ember kecil di kamar mandi, hari Rabu malam setelah ia pergi. Sekali lagi dengan mesin cuci tua kami yang bunyinya seperti helikopter mau jatuh, hari Kamis. Lalu aku menjemurnya di tali jemuran di teras belakang, di bawah dahan pohon jambu, dan mengangkatnya sebelum hujan turun Jumat sore.
Wangi daun pisangnya hilang setelah cucian kedua. Aku menyesal mencucinya dua kali.
Mama melihatku melipat handuk itu di meja makan dengan ketelitian seperti melipat bendera pusaka. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya tersenyum sambil mengoles mentega di loyang, dan berkata, “Kalau mau dibalikin, bawa kue juga. Jangan tangan kosong.”
“Siapa yang mau balikin?”
“Kamu.”
“Ini cuma handuk, Ma.”
“Iya. Cuma handuk.” Mama mengangguk-angguk. “Mama bikinin kue lumpur dua puluh biji, ya. Buat ibunya.”
Sabtu, jam dua lewat lima puluh pagi, aku berdiri di depan pagar rumah dengan handuk terlipat di dalam tas kertas, kotak kue lumpur di tangan kiri, dan HP di tangan kanan yang menunjukkan ojek online sedang dalam perjalanan.
KRL belum jalan sepagi itu. Kereta pertama dari Depok baru berangkat jam empat lewat sedikit, dan kalau aku menunggu kereta pertama, aku baru akan sampai di Jakarta Timur hampir jam enam. Aku tahu dari ceritanya bertahun-tahun lalu bahwa gerobak ibunya buka jam lima seperempat. Aku tahu dari ceritanya bahwa ia memotong daun pisang jam tiga lewat empat puluh.
Aku ingin sampai sebelum jam empat.
Aku tidak tahu kenapa harus sebelum jam empat. Mungkin karena aku ingin melihat sendiri. Bukan dari cerita. Bukan dari balik angkot, seperti subuh setelah wisuda delapan tahun lalu. Aku ingin melihat dunia yang ia tinggali sebelum matahari terbit, dunia yang membentuknya menjadi orang yang bisa menyelamatkan tiga ribu delapan ratus pesanan dalam sebelas menit tanpa berteriak.
Papa terbangun karena suara pagar. Ia memanggil dari kamarnya dengan suara pelan yang tersendat.
“Luna... mau... ke mana?”
“Balikin handuk, Pa.”
Hening. Lalu, dari balik pintu kamar, suara tawa kecil yang tersendat-sendat. Tawa yang sudah lama tidak kudengar.
“Hati-hati,” kata Papa. “Salam... buat... ibunya.”
Ojek menurunkanku di mulut gang jam empat kurang tujuh menit.
Aku berdiri di sana lama.
Delapan tahun lalu, di tempat ini, ada gerobak kayu dengan lampu neon panjang yang berkedip, menggantung dari tiang bambu. Ada kontrakan tiga pintu bercat hijau pudar di belakangnya. Ada trotoar di seberang jalan tempat aku duduk menangis dengan nasi uduk di pangkuan dan selebaran sedot WC di sebelah kepala.
Sekarang, di tempat kontrakan tiga pintu itu, berdiri rumah dua lantai bercat putih gading dengan pagar rendah dari besi tempa dan jendela-jendela besar. Di depannya, tenda permanen dengan atap galvalum, meja keramik putih, rak stainless yang mengilap di bawah lampu LED. Papan nama dari kayu jati yang diukir rapi: NASI UDUK BU RATIH — SEJAK 2008.
Dan di teras samping rumah itu, di bawah lampu kecil yang menyala kuning, ada gerobak kayu tua.
Aku mengenalinya. Kayunya sudah lapuk, catnya sudah hilang hampir semua, rodanya tidak ada. Tapi aku mengenalinya, karena aku pernah berdiri di depannya di subuh paling gelap dalam hidupku. Gerobak itu tidak dibuang. Gerobak itu diletakkan di teras, dan di dalamnya, di tempat dandang dulu berada, tumbuh tanaman cabai yang buahnya merah-merah kecil.
Aku menatap gerobak itu dan merasakan mataku panas.
Ia tidak membuangnya. Ia membangun rumah dua lantai, lapak dengan atap galvalum dan lampu LED, tapi ia tidak membuang gerobak lama yang menyekolahkannya. Ia menanaminya cabai.
Itu sangat dia. Itu sangat, sangat dia.
Lampu dapur rumah itu menyala. Pintu sampingnya, yang menghadap lapak, terbuka sedikit. Dari celahnya keluar uap, wangi santan, wangi daun pisang yang dilayukan di atas api, dan suara perempuan bersenandung lagu campursari yang liriknya hanya ia hafal separuh.
Aku berjalan ke pintu itu. Kakiku terasa berat. Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Bu Ratih berdiri di ambang pintu dengan daster batik, celemek, dan sutil di tangan. Rambutnya yang sekarang hampir semuanya putih disanggul asal di tengkuk. Wajahnya lebih berkerut dari yang kuingat, tapi matanya masih sama: hangat, tenang, seperti teh yang baru diseduh.
Ia menatapku.
Aku menunggu kerutan bingung di dahinya. Siapa ya, Mbak? Aku sudah menyiapkan kalimat perkenalan di ojek tadi. Saya Aluna, Bu. Teman SMA Anggana. Saya mau balikin handuk.
Kerutan bingung itu tidak datang.
Yang datang adalah senyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata, senyum yang membuat garis-garis di wajahnya melengkung ke atas seperti daun yang menghadap matahari.
“Lho,” kata Bu Ratih lembut. “Nduk.”
Aku membeku.
“Lama ndak ketemu langsung.”
Langsung.
Kata itu masuk ke telingaku, berjalan ke kepalaku, dan menabrak sesuatu.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak. Tanganku mencengkeram kotak kue lumpur sampai kardusnya penyok di satu sudut.
Lama nggak ketemu langsung. Bukan lama nggak ketemu. Bukan siapa ya. Langsung. Seolah kami pernah bertemu dengan cara yang tidak langsung. Seolah ada sesuatu di antara kami yang tidak memerlukan tatap muka.
Pikiranku berlari ke laci meja kantor. Dua ratus delapan puluh delapan karet merah. Satu kerupuk tambahan yang tidak pernah kupesan.
Tidak. Tidak mungkin. Aku memesan lewat akun yang namanya cuma Jumat. Tanpa foto. Tanpa nomor yang bisa dilacak. Ojeknya yang mengantar. Tidak ada cara Bu Ratih bisa tahu.
Kecuali...
“Masuk, Nduk,” kata Bu Ratih, membuka pintu lebih lebar. “Di luar dingin. Sampeyan dari Depok, toh? Jam segini naik apa?”
Aku tidak bertanya bagaimana ia tahu aku dari Depok.
Aku tidak berani.
Dapur itu luas, terang, dan hangat. Meja marmer panjang penuh dengan tumpukan daun pisang yang sudah dipotong persegi, baskom-baskom nasi uduk yang mengepulkan uap, piring-piring telur balado yang merah mengilap, dan plastik-plastik kecil berisi sambal kacang yang sudah diikat karet merah.
“Angga lagi mandi,” kata Bu Ratih, kembali ke depan kompor. “Habis motong daun. Dara masih tidur, kemarin pulang jam satu. Sampeyan duduk dulu.”
“Saya... saya mau balikin handuk, Bu.” Aku mengeluarkan tas kertas. “Sama ini, dari Mama. Kue lumpur.”
Bu Ratih menerima kotak kue itu dengan dua tangan, membukanya, menghirup wanginya, lalu tersenyum. “Mamamu pinter bikin kue, ya. Wangi mentega asli ini.” Lalu ia mengambil handuk dari tas kertas, membukanya, dan menempelkannya ke hidung, persis seperti yang kulakukan di mobil hari Rabu.
“Lho,” katanya. “Wangi daun pisangnya ilang.”
“Saya cuci, Bu. Dua kali.”
“Dua kali.” Bu Ratih menatapku. Ada sesuatu di matanya yang membuatku ingin menunduk. “Ini handuk lapak, toh. Ibu yang nyuruh Angga bawa satu di mobil.”
“Iya, Bu.”
“Dia kasih ke sampeyan?”
“Waktu hujan, Bu. Hari Rabu. KRL-nya gangguan, terus dia...” Aku berhenti, karena wajahku terasa panas dan aku tidak tahu kenapa aku menjelaskan sebanyak itu kepada seorang ibu tentang sebuah handuk.
Bu Ratih melipat handuk itu lagi, rapi, dan meletakkannya di kursi. Lalu ia menatapku dari atas ke bawah. Kaus abu-abu lengan panjang yang kupakai di bawah jaket denim. Celana jins. Sepatu kets yang sudah aus. Rambut yang kuikat asal di tengkuk.
“Sampeyan tambah ayu, Nduk,” katanya pelan. “Tapi kurus. Kurus banget.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Sini.” Bu Ratih menarik kursi plastik di depan meja marmer. “Bantu Ibu bungkus. Bisa?”
“Nggak bisa, Bu,” kataku jujur. “Tapi saya mau belajar.”
Bu Ratih tertawa. Tawa yang hangat dan dalam, yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa orang yang menertawakan.
“Bagus,” katanya. “Itu jawaban yang bener.”
Ternyata membungkus nasi uduk dengan daun pisang adalah pekerjaan paling sulit yang pernah kulakukan.
Lebih sulit dari ujian Statistika semester tiga. Lebih sulit dari model valuasi untuk perusahaan logistik yang laporan keuangannya berantakan. Lebih sulit dari naik KRL jam enam pagi dengan blazer yang tidak boleh kusut.
Bu Ratih menunjukkan caranya sekali. Daun pisang diletakkan di telapak tangan, bagian yang mengilap di bawah. Nasi diambil satu centong, ditaruh di tengah. Telur diletakkan di atasnya. Lalu daun dilipat dari sisi kiri, sisi kanan, bawah, atas, membentuk kotak kecil yang rapi, dan diikat dengan karet merah. Seluruh proses itu memakan waktu sembilan detik di tangannya. Gerakannya seperti tarian.
Di tanganku, proses itu memakan waktu satu menit dua puluh detik, dan hasilnya terlihat seperti amplop yang dilindas truk.
Bungkus pertama: daun sobek di sudut kiri. Nasi keluar.
Bungkus kedua: lipatannya miring. Telurnya menggelinding keluar dari sisi bawah dan jatuh ke lantai. Aku memungutnya dengan panik, lalu tidak tahu harus kuapakan.
“Taruh situ aja, Nduk. Nanti buat kucing.”
Bungkus ketiga: aku menekan terlalu keras. Nasinya padat seperti batu bata. Karet merahnya putus waktu aku menariknya.
Bu Ratih tidak berkomentar. Ia hanya terus membungkus di sebelahku dengan kecepatan sembilan detik per bungkus, sesekali melirik hasil karyaku, dan sesekali menahan senyum di sudut bibirnya.
Bungkus keempat: aku memutuskan bahwa masalahnya adalah daun pisangnya terlalu kecil. Aku mengambil daun yang lebih besar dari tumpukan di ujung meja. Untuk menjangkaunya, aku berdiri, mencondongkan badan melewati meja, dan siku kiriku menyenggol sesuatu.
Baskom stainless besar. Berisi santan kental yang sudah dimasak dengan daun salam dan serai, yang disiapkan Bu Ratih untuk menanak gelombang nasi berikutnya.
Baskom itu oleng. Aku mencoba menangkapnya. Tanganku meleset.
Baskom itu tumpah. Ke meja marmer. Ke kursi. Ke kaus abu-abuku. Ke jaket denimku. Ke celana jinsku. Ke sepatu ketsku. Santan kental berwarna putih kekuningan, masih hangat, wangi daun salam dan serai, mengalir dari bahu kiriku sampai ke ujung kaki seperti air terjun yang sangat lambat dan sangat memalukan.
Aku berdiri di tengah dapur, basah kuyup oleh santan, dengan sehelai daun pisang besar di tangan kanan dan karet merah yang putus di tangan kiri.
Bu Ratih berhenti membungkus.
Ia menatapku.
Aku menatapnya.
Lalu ia meletakkan sutil, menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan tertawa sampai bahunya berguncang dan matanya berair.
Di saat itulah, tentu saja, ia turun.
Aku mendengar langkah kaki di tangga. Cepat, ringan, seperti orang yang terbiasa turun tangga dalam gelap. Lalu suaranya, dari ujung lorong yang mengarah ke dapur.
“Bu, ada apa? Kok ketawa—”
Anggana muncul di ambang pintu dapur.
Rambutnya basah, baru keramas, menetes di pelipis. Ia memakai kaus oblong putih yang sudah tipis karena terlalu sering dicuci dan celana pendek selutut. Handuk kecil tersampir di bahunya, handuk hijau tua yang sama persis dengan yang ia berikan padaku, rupanya ia punya banyak. Tanpa kemeja kantor, tanpa kerah miring, tanpa laptop, ia terlihat seperti anak laki-laki di konter Cahaya Cell sebelas tahun lalu.
Ia berhenti di ambang pintu.
Ia menatapku.
Aku melihat matanya bergerak. Dari wajahku ke rambutku yang meneteskan santan. Ke kaus abu-abuku yang basah kuyup. Ke daun pisang di tangan kananku. Ke karet merah yang putus. Ke baskom stainless yang terguling di meja marmer. Ke telur balado yang menggelinding di lantai dan sekarang sedang dijilati seekor kucing belang tiga yang entah muncul dari mana.
Membaca. Mencari baris pertama di mana sesuatu mulai salah.
“Luna?” katanya.
“Hai,” kataku.
“Kamu...” Ia berhenti. Lalu mencoba lagi. “Ini jam empat pagi.”
“Empat lewat dua belas.”
“Kamu di dapur Ibu.”
“Aku balikin handuk.”
Ia menatap handuk yang terlipat rapi di kursi plastik. “Aku kan bilang bawa aja.”
“Aku tahu,” kataku. “Makanya aku balikin. Biar ada alasan ke sini.”
Ia menatapku lagi. Santan menetes dari ujung rambutku ke lantai. Tes. Tes.
“Dan kamu...” Ia menunjuk dengan gerakan tangan yang tidak jelas, mencakup seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki.
“Belajar bungkus nasi uduk,” kataku, dengan seluruh martabat yang masih tersisa. “Nggak berhasil.”
Hening.
Lalu aku melihatnya.
Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum sopan. Bukan senyum yang sama untuk semua orang. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ditahan, yang berusaha keras untuk tidak keluar. Sudut bibir kirinya terangkat sedikit, lalu turun lagi dengan paksa. Lalu terangkat lagi. Pipinya mengeras. Ia menunduk, menatap lantai, menarik napas panjang lewat hidung.
Bahunya bergetar sekali.
“Nggak usah ditahan,” kata Bu Ratih dari depan kompor, masih tertawa. “Ketawa aja, Le. Ibu udah duluan.”
Anggana mengangkat wajahnya. Matanya sedikit menyipit. Lebih menyipit dari biasanya. Tidak sampai hilang, tidak sampai seperti dulu waktu ia tertawa sungguhan di kelas sebelas, tapi lebih dari yang pernah kulihat sejak halo, Luna.
“Aku nggak ketawa,” katanya. Suaranya sedikit bergetar.
“Kamu ketawa,” kataku.
“Aku nggak—”
“Telinga kamu merah.”
Ia menyentuh telinganya. Lalu menyadari apa yang baru ia lakukan, dan menurunkan tangan dengan cepat.
Bu Ratih tertawa lebih keras.
Setelah aku mengganti baju dengan daster batik milik Bu Ratih, daster yang terlalu lebar di bahu dan terlalu pendek di betis, dan setelah Anggana mengepel lantai dapur sementara kucing belang tiga masih menjilati sisa santan dengan wajah sangat puas, kami duduk di meja marmer. Bertiga.
“Sini,” kata Anggana. Ia menarik sehelai daun pisang dari tumpukan dan meletakkannya di depanku. “Aku ajarin.”
“Ibumu udah ngajarin.”
“Ibu terlalu cepat. Ibu udah bungkus dari sebelum kita lahir. Tangannya nggak inget gimana rasanya nggak bisa.”
Bu Ratih mendengus pelan, tapi tidak membantah.
Anggana mengambil daun pisang lain untuk dirinya sendiri. “Pegang daunnya di telapak kiri. Bagian yang licin di bawah. Jangan genggam, cuma ditaruh. Kayak naruh kertas.”
Aku mengikutinya.
“Nasinya satu centong, tapi jangan penuh. Tiga perempat. Taruh agak ke bawah, bukan di tengah persis.”
Aku mengikutinya.
“Telurnya di atas, sedikit ke kiri. Biar waktu dilipat, dia nggak gelinding.”
Aku mengikutinya. Tangan kami bergerak bersamaan di atas meja marmer, ia dengan gerakan yang lambat dan sengaja dibuat lambat supaya aku bisa melihat, aku dengan gerakan yang kaku dan ragu.
“Sekarang lipat. Kiri dulu.”
Aku melipat sisi kiri. Terlalu longgar. Daunnya terbuka lagi.
“Tekan sedikit,” katanya. “Bukan pakai telapak. Pakai ujung jari.”
Ia meletakkan daunnya sendiri, lalu mengulurkan tangan ke arah daun di tanganku. Jari telunjuknya menyentuh lipatan daun, menekannya pelan. Ujung jarinya menyentuh ujung jariku.
Kali ini aku tidak merencanakannya. Kali ini ia yang menyentuh.
Aku tidak bergerak. Ia juga tidak. Jarinya berada di atas jariku, menekan lipatan daun pisang, selama satu detik. Dua.
Lalu ia menarik tangannya. Tidak cepat. Tidak lambat.
“Gitu,” katanya. Suaranya biasa. “Sekarang kanan.”
Aku melipat sisi kanan. Lalu bawah. Lalu atas. Aku mengikatnya dengan karet merah, pelan-pelan, takut putus lagi.
Hasilnya miring. Sudut kanannya mencuat sedikit. Lipatan atasnya tidak rata. Tapi nasinya tidak keluar. Telurnya tidak menggelinding. Karetnya tidak putus.
Aku menatap bungkusan itu di telapak tanganku. Bungkusan pertamaku. Delapan tahun setelah aku makan sebungkus nasi uduk di trotoar seberang jalan sambil menangis.
“Miring,” kataku.
“Iya,” katanya. “Kayak kerahku.”
Aku mengangkat kepala. Ia sedang menatap bungkusan di tanganku. Sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Bukan senyum yang sama untuk semua orang. Bukan juga senyum di bawah pohon ketapang. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang belum punya nama.
Di depan kompor, Bu Ratih menatap kami dengan sutil di tangan dan senyum yang sangat, sangat tenang.
Seperti orang yang sudah lama menunggu, dan tidak terkejut sama sekali ketika yang ditunggu akhirnya datang.
Jam lima lewat lima belas, lapak dibuka. Aku membungkus tiga belas nasi uduk pagi itu. Empat di antaranya layak dijual. Bu Ratih menaruh keempat bungkusan miring itu di rak paling depan dengan tulisan kertas yang ditempel pakai selotip: SPESIAL — DIBUNGKUS PEMULA.
Pakde Sarno membeli dua di antaranya dan bilang yang satu untuk istrinya di Cilacap.
Jam lima lewat dua puluh delapan, aku sedang menyerahkan kembalian kepada tukang ojek berjaket hijau dengan daster batik yang terlalu lebar dan rambut yang masih berbau santan samar, ketika suara langkah kaki terdengar di tangga di dalam rumah. Langkah yang berbeda dari langkah Anggana. Lebih berat. Lebih kesal. Seperti seseorang yang dibangunkan oleh suara tawa terlalu banyak di jam yang terlalu pagi.
Lalu sebuah suara dari pintu samping dapur. Serak. Mengantuk. Dan, dalam sepersekian detik, sangat, sangat waspada.
“Kak, siapa yang di lapak jam segini, kok ribut banget—”
Suara itu berhenti.
Aku menoleh.
Dara berdiri di ambang pintu dengan piyama bergambar beruang, rambut dicepol asal, kacamata miring di hidung. Ia menatapku. Menatap daster batik ibunya yang kupakai. Menatap bungkusan miring di rak depan dengan tulisan DIBUNGKUS PEMULA.
Kacamatanya merosot sedikit lebih jauh di hidungnya.
Tidak ada yang bergerak.
Di sebelahku, Anggana menutup mata sebentar, seperti orang yang baru melihat server tumbang di hari yang paling tidak tepat.
Di depan kompor, Bu Ratih mengambil sebuah piring, meletakkan dua kue lumpur buatan Mama di atasnya, dan berkata dengan suara paling tenang di seluruh Jakarta Timur:
“Dara, sarapan dulu. Ini kue dari mamanya Luna.”
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi reading
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis