← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty Four

Tahun yang Hilang

POV: Anggana

Sabtu pagi setelah pesta, Aluna datang jam tiga lewat lima puluh delapan.

Ia mengetuk pintu samping dapur dua kali, pelan, seperti biasa. Ibu membukakan. Aluna masuk dengan kaus lengan panjang hitam, celana training, dan rambut diikat ekor kuda rendah, seperti biasa. Ia memakai daster batik Ibu, mengambil kursi plastik di depan meja marmer, dan mulai membungkus, seperti biasa.

Kami tidak membahas tadi malam.

Ia tidak menatapku lebih lama dari biasanya. Aku tidak menatapnya lebih lama dari biasanya. Atau mungkin kami berdua menatap lebih lama dari biasanya, dan sama-sama pura-pura tidak.

Dara duduk di ujung meja dengan papan klip. Ia tidak mencatat apa-apa selama satu jam pertama. Ia hanya menatap Aluna dengan mata menyipit dan pulpen yang diketuk-ketukkan ke kertas, tuk, tuk, tuk, seperti bom waktu.

Jam lima lewat sepuluh, Dara akhirnya menulis sesuatu. Aku mengintip waktu mengambil tumpukan daun baru.

Temuan 12. Jumat malam. [Pesta Flie.] Subjek melakukan TINDAKAN FISIK TANPA IZIN terhadap objek audit di depan 300 saksi termasuk auditor dan Ibu.

Kategori Risiko: SANGAT TINGGI.

Skor: −

Ia berhenti di situ. Pulpennya menggantung di atas kolom skor.

Lalu ia melirik Ibu, yang sedang membungkus di sebelah Aluna dan bersenandung campursari dengan suara yang lebih riang dari biasanya. Ibu sudah bersenandung seperti itu sejak tadi malam. Ibu bersenandung waktu menutup tenda katering di teras atap. Ibu bersenandung di mobil pulang. Ibu bersenandung waktu menggosok gigi.

Dara menatap Ibu lama. Lalu menatap kolom skor yang kosong.

Ia tidak menulis apa-apa. Ia menutup papan klipnya dengan bunyi klik yang sangat keras dan berkata, “Aku mau bikin teh.”


Waktu Pak Hendra antre di lapak tiga minggu lalu, setelah kerupuk dan setelah tawaku yang membuat semua orang terdiam, ia bercerita sesuatu yang kusimpan di kepala.

“Om... tiap Minggu... fisioterapi,” katanya sambil menunggu Aluna dan Tante Melinda memanggil taksi untuk pulang. “Di RSUD... Depok. Jam sembilan. Taksi... susah. Kursi roda... nggak muat... di bagasi... yang kecil.”

Aku tidak bilang apa-apa waktu itu. Aku hanya mengangguk.

Hari Rabu setelah pesta, jam sepuluh malam, aku mengetik pesan. Menghapusnya. Mengetiknya lagi. Ini pertama kalinya, dalam sebelas tahun aku mengenal Aluna, aku mengirim pesan duluan yang bukan soal kerja dan bukan balasan.

Anggana: Minggu ini Om fisioterapi jam 9 kan? Aku bisa anter. Mobilku muat kursi roda.

Balasannya datang dua puluh tiga menit kemudian. Aku tahu, karena aku menatap layar HP selama dua puluh tiga menit itu.

Aluna: Kamu nggak harus.

Anggana: Aku tahu.

Satu menit.

Aluna: Kenapa?

Aku menatap pertanyaan itu. Kenapa. Kata yang sama yang kutanyakan padanya di ruang Rinjani, waktu ia bilang aku lagi ngejar kamu. Kata yang ia jawab dengan nanti, kalau kamu udah siap dengar jawabannya.

Aku mengetik: Karena Om bilang taksinya susah.

Lalu menghapusnya.

Aku mengetik: Karena aku mau.

Lalu menatapnya lama. Lalu mengirimnya, sebelum aku sempat menghapus.

Lima menit. Tidak ada balasan.

Sepuluh menit.

Aluna: Jam setengah delapan ya. Papa suka siap duluan.


Minggu pagi, jam tujuh lewat dua puluh lima, aku memarkir mobil di depan pagar hijau yang catnya mengelupas.

Pak Hendra sudah menunggu di teras. Ia memakai kemeja batik cokelat yang sama dengan waktu antre, disetrika rapi, dan sepatu kulit hitam yang disemir mengilap. Rambut putihnya disisir ke belakang dengan minyak rambut. Di pangkuannya, di atas sarung, ada tas kecil berisi map hasil pemeriksaan.

“Pagi, Om.”

“Pagi.” Separuh wajahnya tersenyum. “Kamu... tepat waktu.”

“Om siap duluan, kata Luna.”

“Om... selalu... siap duluan.” Ia menepuk lengan kursi rodanya dengan tangan kanan. “Dari dulu. Rapat... jam delapan... Om datang... jam tujuh.”

Aluna keluar dari pintu rumah dengan tas jinjing berisi botol air, handuk kecil, dan kotak bekal. Ia memakai kemeja linen putih longgar dan celana jins, rambutnya diikat setengah. Di bawah matahari pagi Depok yang masih lembut, kulitnya terlihat bersih dan hangat, dan matanya yang cokelat madu berubah sedikit keemasan waktu ia menyipit karena silau.

Ia melihatku. Berhenti di anak tangga teras.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Kami berdua berdiri diam sebentar. Pak Hendra menatap kami bergantian dari kursi rodanya dengan separuh wajah yang tersenyum sangat lebar.

“Kalian... mau... berdiri... di situ... sampai... siang?”

Aluna memerah. Aku membuka bagasi.


Ruang fisioterapi RSUD Depok ada di lantai dua, di ujung lorong yang dindingnya dicat hijau muda dan lantainya keramik putih yang sudah retak di beberapa bagian. Ruang tunggunya berisi dua baris kursi plastik biru, satu televisi yang menayangkan acara masak-masak tanpa suara, dan tujuh pasien dengan pendamping masing-masing.

Pak Hendra dipanggil jam sembilan lewat sepuluh. Seorang fisioterapis muda bernama Mas Rendi, berkacamata dan berlogat Sunda, mendorong kursi rodanya masuk ke ruang terapi sambil bercanda.

“Pak Hendra, minggu lalu katanya mau angkat tangan kiri sampai dada. Hari ini kita coba sampai bahu, ya.”

“Kamu... minggu lalu... bilang... sampai dada... dapat... bonus.”

“Bonus apa, Pak?”

“Kamu... yang janji... Om... nggak tahu.”

Mas Rendi tertawa. Pintu ruang terapi tertutup.

Aku dan Aluna duduk di kursi plastik biru di ruang tunggu. Bersebelahan. Ada satu kursi kosong di antara kami, lalu Aluna menggeser tasnya ke kursi kosong itu, lalu, setelah ragu, mengambil tasnya lagi dan memindahkannya ke pangkuan.

Kursi kosong itu tetap kosong. Tapi rasanya lebih dekat dari sebelumnya.

Di televisi tanpa suara, seorang koki mengiris bawang dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

“Makasih,” kata Aluna pelan. “Papa senang banget. Tadi pagi dia bangun jam empat. Nyemir sepatu sendiri pakai satu tangan.”

“Om memang rapi.”

“Dulu iya.” Aluna tersenyum ke televisi. “Dulu Papa punya tiga orang yang nyemirin sepatunya. Sekarang dia nyemir sendiri, pakai tangan kanan, sambil megangin sepatunya pakai lutut. Butuh setengah jam satu sepatu.” Ia diam sebentar. “Tapi dia nggak pernah minta tolong. Bahkan ke aku.”

Aku menatapnya dari samping.

“Kayak seseorang,” kataku.

Ia menoleh. Matanya bertemu mataku. Lalu ia tertawa kecil, pelan, dan menunduk ke tangannya.

“Iya,” katanya. “Kayak seseorang.”


Di menit kedua puluh, aku bertanya.

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu sejak malam hujan di ruang tamu kecil di Depok, sejak Pak Hendra bilang ditipu partner, rumah disita, semuanya habis, dan kalimat yang dipotong: waktu Luna masih—. Aku memikirkannya di jalan tol. Di war room. Di dapur jam empat pagi waktu melihat Aluna membungkus nasi uduk dengan lidah terjulur sedikit di sudut bibir.

Aku tidak pernah bertanya hal seperti itu pada siapa pun. Aku tidak tahu cara bertanya yang benar.

Jadi aku bertanya dengan cara yang paling sederhana.

“Luna.”

“Hm?”

“Kapan Om bangkrut?”

Aluna diam.

Di televisi tanpa suara, koki itu sekarang menumis sesuatu di wajan besar. Api menyala tinggi. Penonton studio bertepuk tangan tanpa suara.

Aku melihat bahu Aluna menegang. Sedikit. Sangat sedikit. Kalau aku tidak memperhatikan, aku tidak akan melihatnya. Tapi aku memperhatikan. Aku selalu memperhatikan, kalau soal dia. Mungkin aku tidak pernah berhenti memperhatikan.

“Waktu aku kuliah,” katanya. Suaranya biasa. “Semester dua.”

“Semester dua?”

“Iya. Om Gunawan, partner Papa, kabur bawa dana proyek. Bank-bank nagih. Rumah disita. Kami pindah ke kontrakan di Depok.” Ia mengatakannya dengan lancar, terlalu lancar, seperti orang yang membacakan sesuatu yang sudah dihafal. “Aku kuliah sambil kerja. Les privat, admin, SPG. Lulus lima tahun. Papa stroke tiga tahun lalu.”

Semester dua. Itu berarti beberapa bulan setelah kami lulus SMA. Setelah aku berangkat ke Bandung dengan bus malam.

Aku memikirkan foto wisuda di ruang tamu kecil itu. Orang tua yang ditempel belakangan. Aku memikirkan bahwa mereka tidak datang ke wisuda, dan aku tidak pernah bertanya kenapa.

“Waktu wisuda,” kataku pelan, “Om sama Tante nggak datang.”

“Papa dirawat. Tekanan darah.” Jawabannya cepat. Terlalu cepat. “Kebetulan.”

Aku diam.

Ada sesuatu yang tidak cocok. Aku bisa merasakannya, seperti waktu membaca log server dan menemukan baris yang benar secara teknis tapi terasa salah. Seperti tab tujuh di model valuasi Sagara: angkanya masuk akal di permukaan, tapi kalau ditelusuri ke belakang, ada yang dihitung dua kali, atau ada yang tidak dihitung sama sekali.

Tapi aku tidak tahu di mana. Dan aku tidak tahu cara menanyakannya tanpa terdengar seperti menuduhnya bohong.

Jadi aku tidak bertanya lagi.

Sebaliknya, aku menatap tanganku sendiri di pangkuan. Dan sesuatu yang sudah tiga minggu menempel di dadaku akhirnya keluar.

“Delapan tahun,” kataku. “Aku nggak tahu.”

Aluna menoleh.

“Om bangkrut. Kalian pindah. Om sakit. Kamu kuliah sambil kerja tiga tempat. Kamu potong rambut sendiri.” Aku menatap tanganku. “Delapan tahun, dan aku nggak tahu. Aku di Bandung, bikin aplikasi, ngerasa hidupku berat karena harus begadang ngoding. Dan kamu di sini, naik KRL jam enam pagi, nyemirin sepatu Papa.”

“Anggana—”

“Aku nggak pernah nanya.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Seorang ibu di kursi seberang menoleh. Aku menurunkan suara. “Sebelas tahun aku kenal kamu. Aku nggak pernah nanya apa pun. Aku nggak nanya kenapa kamu berubah di kelas tiga. Aku nggak nanya kenapa orang tuamu nggak datang ke wisuda. Aku nggak nanya kenapa kamu nolak aku. Aku cuma nerima. Aku senyum, bilang makasih, terus pergi.”

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan semua ini. Aku tidak pernah mengatakan hal seperti ini kepada siapa pun. Kalimat-kalimat itu keluar sendiri, seperti air dari keran yang dibuka tanpa sengaja.

“Aku pikir itu menghormati,” kataku pelan. “Nggak nanya. Nggak maksa. Nerima aja. Aku pikir itu hal yang benar.”

Aluna diam lama.

Lalu, pelan sekali, ia mengulurkan tangan. Melewati kursi kosong di antara kami. Dan meletakkan tangannya di atas tanganku, di pangkuanku.

Tangannya dingin. Lebih kecil dari tanganku. Ada kapal kecil di pangkal jari telunjuknya.

“Kamu nggak berkewajiban tahu,” katanya.

“Bukan soal kewajiban.”

“Terus soal apa?”

Aku menatap tangannya di atas tanganku. Aku tidak menarik tanganku.

“Nggak tahu,” kataku jujur. “Aku cuma ngerasa... kayak ada tahun-tahun yang hilang. Tahun-tahun yang harusnya aku tahu, tapi nggak.”

Aluna menatap tangan kami. Matanya basah. Bibirnya terbuka, sedikit, seperti mau mengatakan sesuatu. Aku melihat tenggorokannya bergerak. Menelan.

Lalu ia menarik tangannya kembali ke pangkuannya sendiri.

“Tahun-tahun itu nggak hilang,” katanya pelan. “Cuma... belum diceritain.”

Pintu ruang terapi terbuka. Mas Rendi keluar mendorong kursi roda Pak Hendra, yang wajahnya berkeringat tapi bersinar.

“Sampai bahu!” kata Mas Rendi. “Pak Hendra berhasil angkat tangan kiri sampai bahu! Rekor!”

Pak Hendra mengangkat tangan kanannya ke udara seperti juara tinju. “Bonus...” katanya. “Mana... bonus.”

Aluna tertawa sambil menghapus sudut matanya dengan cepat. Aku berdiri dan mengambil alih kursi roda dari Mas Rendi.

Kalimat itu menempel di kepalaku. Belum diceritain.

Bukan nggak ada yang perlu diceritain. Belum.


Di perjalanan pulang, Pak Hendra duduk di kursi belakang, kursi rodanya dilipat di bagasi. Aluna duduk di kursi penumpang depan. Ia memutar badannya setengah ke belakang sepanjang jalan, memastikan papanya nyaman, memberinya air, membetulkan sarung di pangkuannya.

Di lampu merah dekat Margonda, Pak Hendra batuk. Sedikit air tumpah dari botol ke dagunya.

“Tisu,” kata Aluna. Ia melihat sekeliling dasbor. “Anggana, ada tisu?”

“Di laci—”

Aku berhenti.

Terlambat.

Aluna sudah membuka laci dasbor.

Aku melihatnya dari sudut mata. Tangannya yang meraba ke dalam laci. Lalu berhenti.

Di dalam laci dasbor, di atas kotak tisu yang ia cari, ada empat lembar sticky note kuning. Teh hangat buat CTO yang kerahnya hari ini miring 40 derajat. 25 derajat. Dara pasti bangga. 70 derajat. Kamu bungkus berapa tadi pagi? Dan satu lagi yang tulisannya miring ke kanan dengan huruf-huruf yang sudah kuhafal.

Di sebelahnya, selembar uang sepuluh ribu yang dilipat dua, rapi.

Dan di atas semuanya, selembar tisu putih yang sudah kusut, dengan bekas samar warna mawar tua.

Aluna tidak bergerak.

Lampu masih merah. Di belakang kami, sebuah motor membunyikan klakson tanpa alasan. Di televisi kecil di kios rokok di pinggir jalan, seseorang tertawa.

Aku mencengkeram setir. Aku menatap lurus ke depan, ke lampu lalu lintas yang merah, ke angka hitung mundur yang menunjukkan empat puluh tiga detik. Aku bisa merasakan telingaku memanas. Lalu leherku. Lalu seluruh wajahku, seperti seseorang menyalakan kompor di bawah kulitku.

Empat puluh detik.

Aluna menatap isi laci itu. Lalu, pelan sekali, ia menoleh. Menatapku.

Aku tidak menoleh balik. Aku tidak bisa. Aku menatap lampu merah dengan intensitas orang yang belum pernah melihat lampu lalu lintas seumur hidupnya.

Tiga puluh lima detik.

Aluna mengambil dua lembar tisu dari kotak di bawah tumpukan itu. Hati-hati. Tanpa menyentuh sticky note, tanpa menyentuh uang sepuluh ribu, tanpa menyentuh tisu bekas lipstik.

Lalu ia menutup laci dasbor. Pelan. Tanpa suara.

Ia berbalik ke belakang dan mengelap dagu papanya.

“Apa... itu?” tanya Pak Hendra, yang rupanya melihat semuanya dari kursi belakang dengan separuh wajah yang sangat, sangat penasaran.

“Tisu, Pa,” kata Aluna.

“Bukan... yang... itu. Yang... kuning—”

“Tisu, Pa.”

Lampu hijau. Aku menjalankan mobil.

Aluna kembali duduk menghadap ke depan. Ia tidak bilang apa-apa. Aku tidak bilang apa-apa. Di kursi belakang, Pak Hendra mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti tawa tertahan.

Aku melirik ke samping, sekali, sangat cepat.

Aluna menatap jendela. Pipinya merah. Tangannya di pangkuan, saling meremas. Dan bibirnya, sudut-sudut bibirnya yang memang selalu sedikit terangkat bahkan saat diam, sekarang terangkat jauh lebih tinggi, membentuk senyum yang ia coba tahan dan gagal total.

Ia tersenyum ke jendela sepanjang Margonda.


Di depan pagar hijau, waktu aku membuka bagasi dan mengeluarkan kursi roda, Pak Hendra mencoba bicara lagi.

“Anggana.”

“Iya, Om.”

“Tadi... di RS... Luna... cerita... soal... Om... bangkrut?”

Aku melirik Aluna, yang sedang membuka pagar. Punggungnya menegang.

“Iya, Om. Sedikit.”

“Dia... bilang... kapan?”

“Semester dua kuliah, Om.”

Pak Hendra diam. Ia menatap anaknya. Lalu menatapku. Separuh wajahnya tidak tersenyum lagi.

“Bukan,” katanya pelan. “Waktu... kamu... kelas tiga—”

“Pa.”

Aluna sudah berdiri di samping kursi roda. Tangannya di bahu papanya. Suaranya lembut, tapi tegas.

“Papa salah inget. Semester dua.”

“Papa... nggak... salah... inget—”

“Papa capek habis terapi.” Aluna mendorong kursi roda ke arah pagar. “Kita masuk ya, Pa. Makan siang.”

Pak Hendra menoleh ke belakang, ke arahku, dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Separuh wajah yang lumpuh, separuh wajah yang menatapku dengan sesuatu yang mirip permohonan. Atau peringatan. Atau keduanya.

Lalu pagar tertutup.


Aku duduk di mobil di depan pagar hijau itu selama sepuluh menit tanpa menyalakan mesin.

Waktu kamu kelas tiga.

Bukan semester dua kuliah. Kelas tiga.

Ini ketiga kalinya. Malam hujan di ruang tamu: waktu Luna masih—, dipotong. Sabtu di lapak: lima tahun tiap—, dipotong dengan kerupuk. Hari ini: waktu kamu kelas tiga—, dipotong dengan Papa salah inget.

Tiga kali. Tiga kali Pak Hendra mencoba mengatakan sesuatu, dan tiga kali Aluna menghentikannya.

Aku mengeluarkan HP. Membuka mesin pencari. Mengetik dengan jari yang tidak terlalu stabil.

PT Hadinata Graha pailit

Putusan pengadilan pasti ada di internet. Tanggalnya pasti tercatat. Berita lama di portal-portal bisnis. Satu klik, dan aku akan tahu. Apakah semester dua kuliah. Atau kelas tiga.

Jempolku menggantung di atas tombol cari.

Kelas tiga. Kalau kelas tiga, itu berarti di bulan-bulan waktu Aluna berubah. Waktu ia lebih kurus, lebih pendiam, absen dua hari, menerima telepon di tangga darurat, dijemput mobil SUV putih. Waktu ia berhenti merapikan kerahku. Waktu aku menyatakan perasaan di bawah pohon ketapang.

Kalau kelas tiga, maka—

Aku tidak menyelesaikan pikiran itu.

Aku menatap layar HP. Kursor berkedip di ujung kalimat pencarian.

Tahun-tahun itu nggak hilang. Cuma belum diceritain.

Kalau aku mencarinya sekarang, aku akan tahu sesuatu yang ia tidak mau ceritakan. Aku akan mencurinya. Seperti membuka laci dasbor orang lain tanpa izin.

Dan selama sebelas tahun, aku tidak pernah bertanya. Aku tidak pernah mencari. Aku menerima apa pun yang orang berikan padaku, dan tidak pernah mengambil apa yang tidak diberikan. Itu prinsipku. Itu yang membuatku bisa tersenyum dan bilang terima kasih di bawah pohon ketapang. Itu yang membuatku bisa pergi ke Bandung tanpa menoleh.

Kalau ia mau cerita, ia akan cerita.

Aku menghapus kalimat pencarian itu. Huruf demi huruf. P-T H-a-d-i-n-a-t-a. Sampai layar kosong.

Lalu aku menyalakan mesin dan pulang.

Di lampu merah dekat Pasar Minggu, aku membuka laci dasbor. Empat sticky note kuning. Uang sepuluh ribu dilipat dua. Tisu dengan bekas mawar tua.

Ia melihat semuanya. Dan ia tersenyum ke jendela sepanjang Margonda.

Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa keputusanku untuk tidak mencari adalah kesalahan yang sama dengan yang kubuat delapan tahun lalu. Bahwa diam yang kukira menghormati, sebenarnya cuma takut. Takut pada jawaban. Takut bahwa kalau aku bertanya, aku harus memikul apa pun yang kudengar.

Aku tidak tahu bahwa ada dua orang di cerita ini yang memutuskan sesuatu sendirian, dan menyebutnya kebaikan.

Dan bahwa salah satunya adalah aku.