Chapter Thirty Three
Bastian
POV: Anggana
Jovan memakai jas untuk keempat kalinya dalam empat tahun.
“Ini rekor,” katanya di lobi gedung kantor hukum di Mega Kuningan, Kamis jam sepuluh pagi, sambil membetulkan dasi di depan pantulan dinding kaca. “Empat kali dalam dua bulan. Tiara bilang gue harus mulai biasa pakai jas, soalnya gue CEO perusahaan yang baru dapet Seri C.”
“Tiara bilang gitu?”
“Itu bagian dari masa percobaan. Hari kesepuluh.” Ia mengeluarkan HP dan menunjukkan layar padaku. Sebuah aplikasi catatan dengan judul EVALUASI MASA PERCOBAAN JOVAN SIREGAR — DISUSUN OLEH TIARA ANGGRAINI. Di bawahnya, daftar bernomor. “Liat. Hari pertama: nganterin pulang, nilai A. Hari ketiga: lupa bales chat dua jam karena meeting, nilai C. Hari ketujuh: bawain bubur ayam ke kantor waktu dia flu, nilai A plus. Hari kesembilan: salah sebut nama kucingnya, nilai D.”
“Nama kucingnya apa?”
“Kopi. Gue nyebutnya Teh.” Jovan menatap layar dengan wajah tragis. “Itu kesalahan yang bisa dimengerti, Bro. Kopi sama Teh itu satu kategori minuman.”
Mbak Kirana, yang berdiri di sebelah kami, menghela napas sangat panjang. “Pak Jovan, kita ke sini buat rapat pendirian entitas Singapura. Bukan buat konsultasi asmara.”
“Gue tahu. Tapi Mbak Kirana orang hukum. Menurut Mbak, salah sebut nama kucing itu pelanggaran ringan atau berat?”
“Saya bukan pengacara kucing, Pak Jovan.”
Aku tertawa. Jovan menatapku dengan alis terangkat.
“Lo ketawa lagi,” katanya. “Sejak hari Senin, lo ketawa terus. Lo senyum-senyum sendiri di rapat direksi. Lo nyanyi dangdut di pantry. Rizky bilang lo nyanyi Begadang sambil bikin teh.”
“Nggak.”
“Rizky punya rekamannya, Bro.”
Aku tidak membantah. Aku memang menyanyi. Aku tidak sadar aku menyanyi sampai Rizky muncul di pintu pantry dengan HP terangkat dan wajah seperti orang yang baru menemukan harta karun.
Sejak hari Senin, sejak peron Stasiun Sudirman, ada sesuatu di dadaku yang tidak bisa diam. Seperti radio yang volumenya tidak bisa dikecilkan. Aku bangun jam tiga lewat lima belas setiap pagi, bukan jam tiga lewat empat puluh. Aku membeli teh melati di kafe lobi dan kasirnya sekarang sudah hafal namaku. Aku membaca pesan-pesan pendek dari Aluna di sela-sela rapat dan Jovan menendang kakiku di bawah meja setiap kali aku tersenyum ke layar HP.
Aluna: Hari ini aku di tim baru. Retail. Bosnya galak tapi lucu.
Aluna: Papa udah bisa jalan pakai walker 5 langkah.
Aluna: Ibu-ibu kerudung coklat ketemu lagi di KRL. Dia nanya “Mas yang lari itu gimana?”
Aluna: Aku bilang “Sabtu.”
Aluna: Dia bilang “Mbak, Sabtu itu lama.”
Dua hari lagi. Sabtu. Jam empat. Dapur.
Aku sudah memutuskan apa yang akan kukatakan setelah ia bercerita. Aku sudah memutuskan, dan aku tidak akan berubah pikiran, apa pun ceritanya.
Kantor hukum itu bernama Hartono & Partners. Aku tidak memikirkan namanya waktu Mbak Kirana memilihnya dua minggu lalu dari tiga kandidat untuk menangani pendirian entitas Flie di Singapura. Hartono nama yang umum. Ada ribuan Hartono di Jakarta.
Ruang rapatnya di lantai dua puluh delapan, dengan meja kaca panjang dan jendela yang menghadap gedung-gedung Mega Kuningan. Seorang asisten mempersilakan kami duduk, menyajikan air mineral dan kopi, lalu bilang partner yang memimpin tim akan segera datang.
Pintu terbuka.
Laki-laki yang masuk tinggi, berusia akhir dua puluhan, dengan setelan abu-abu yang jatuhnya sempurna dan rambut yang dipangkas rapi. Wajahnya bersih, tampan dengan cara yang tidak berusaha. Di jari manis tangan kirinya, cincin kawin perak polos. Ia membawa map kulit dan tersenyum dengan cara orang yang sudah sering berdiri di ruang-ruang rapat dan tidak pernah merasa canggung.
Aku mengenalinya dalam satu detik.
Kemeja linen biru muda. Lantai marmer. Gelas air soda yang dipegang dengan santai. Hai. Lo yang radio itu?
Bastian Hartono.
Ia berhenti di ujung meja. Menatap Jovan, menatap Mbak Kirana, lalu menatapku. Senyumnya berubah. Dari senyum profesional menjadi senyum kaget, lalu senyum yang lebar dan tulus.
“Anggana Pradipta?” katanya. “Ya ampun. Yang radio Oma?”
Jovan menoleh padaku dengan alis terangkat. Mbak Kirana menurunkan kacamatanya.
“Hai, Bastian,” kataku.
Rapatnya berjalan dua jam. Bastian ternyata pengacara yang sangat baik. Tajam, teliti, dan bisa menjelaskan struktur perusahaan lintas negara dengan bahasa yang bisa dipahami Jovan. Ia sudah lima tahun di Singapura, katanya, mengurus kantor cabang firma ayahnya di sana, dan baru kembali ke Jakarta minggu lalu untuk memimpin beberapa klien besar di Indonesia. Flie salah satunya.
Ia tidak menyebut nama Aluna selama rapat. Aku juga tidak.
Setelah rapat, Jovan harus pergi ke pertemuan lain di Sudirman. Mbak Kirana harus kembali ke kantor untuk menyiapkan dokumen closing Seri C. Bastian mengantar mereka ke lift, lalu kembali ke ruang rapat, tempat aku sedang membereskan laptop.
“Lo ada waktu?” tanyanya. “Kopi sebentar. Di bawah ada kafe yang lumayan. Udah lama banget, Bro.”
Aku ragu satu detik. Lalu mengangguk.
Kafe di lantai dasar gedung itu kecil dan tenang. Kami duduk di meja di dekat jendela. Bastian memesan kopi hitam. Aku memesan teh melati tanpa gula.
“Teh,” kata Bastian, tersenyum. “Luna juga sekarang minum teh melati tanpa gula. Dulu dia anak kopi susu. Gue yakin itu gara-gara lo.”
Aku menatapnya.
“Kalian ketemu lagi, kan?” lanjutnya santai, mengaduk kopinya meskipun kopinya tidak pakai gula. “Luna cerita ke gue. Dua minggu lalu dia nelepon gue ke Singapura. Malem-malem. Pertama kalinya dalam dua tahun dia nelepon gue duluan.”
“Dia cerita?”
“Iya. Dia bilang lo CTO startup yang mau didanai kantornya. Dia bilang kalian sering ketemu. Dia bilang lo masih sama. Masih nggak pernah ngeluh, masih nolongin semua orang, masih kerahnya miring.” Bastian tertawa. “Gue lihat tadi. Emang masih miring.”
Aku menyentuh kerahku tanpa sadar.
“Terus dia nanya ke gue,” kata Bastian, suaranya sedikit lebih pelan. “Dia nanya, Bas, kalau aku cerita semuanya ke dia, menurut kamu dia bakal benci aku nggak?”
Aku diam.
“Gue bilang nggak,” kata Bastian. “Gue bilang, orang kayak lo nggak bakal benci orang. Gue inget lo dari pesta ulang tahun itu. Lo berdiri di teras samping, nunggu semua tamu pergi, cuma buat ngasih radio yang lo benerin empat bulan. Orang kayak gitu nggak bakal benci.” Ia menyeruput kopinya. “Terus dia bilang dia bakal cerita. Habis IC. Gitu katanya.”
Ia meletakkan cangkir.
“Jadi udah cerita, kan? IC kalian udah lewat. Gue denger dari Tiara, Flie dapet Seri C. Selamat, ngomong-ngomong.”
“Makasih,” kataku. Lalu: “Cerita soal apa?”
Bastian menatapku. Ada kerutan kecil yang muncul di antara alisnya.
“Soal minggu itu,” katanya. “Kelas tiga.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bastian menatapku lebih lama. Kerutan di antara alisnya makin dalam. Tapi ia tidak berhenti. Mungkin karena ia mengira aku sudah tahu sebagian. Mungkin karena ia pengacara yang terbiasa menyelesaikan kalimat. Mungkin karena ia sudah menyimpan cerita itu terlalu lama dan ia lega akhirnya bisa membicarakannya dengan seseorang.
“Gue masih inget hari itu,” katanya, menatap cangkir kopinya. “Senin. Gue jemput dia di gerbang belakang sekolah, kayak biasa, buat nganter ke kantor bokap gue. Ada dokumen yang harus dia tandatangani. Rekening atas nama dia ikut dibekukan, jadi dia harus kasih keterangan.” Ia tersenyum, sedih. “Dia masuk mobil dan langsung nangis. Sejam, Bro. Gue suruh sopir muter-muter di tol karena dia nggak bisa pulang dengan muka kayak gitu. Nyokapnya nggak boleh tahu. Nyokapnya udah punya terlalu banyak yang ditangisin.”
Dunia di sekitarku menjadi sangat sunyi.
Bunyi mesin kopi di belakang konter. Bunyi sendok yang diaduk di meja sebelah. Bunyi lalu lintas di balik jendela. Semuanya terdengar jauh, seperti suara dari ruangan lain.
“Dia baru nolak lo,” kata Bastian. “Di belakang lab Biologi. Gue nggak lihat, tapi dia cerita di mobil. Sambil nangis. Katanya lo bilang kamu nggak perlu jawab, terus dia jawab, dan jawabannya bohong.”
Aku memegang gelas teh dengan dua tangan. Tanganku tidak gemetar. Aku tidak tahu kenapa tanganku tidak gemetar.
“Bohong,” kataku. Suaraku keluar datar.
“Dia bilang ada orang lain.” Bastian tertawa kecil, tanpa humor. “Dan lo nanya Bastian? Dan dia diem. Nggak bilang iya, nggak bilang nggak. Dia biarin lo percaya.” Ia menggeleng. “Kami nggak pernah pacaran, Bro. Nggak pernah. Gue kenal Luna dari kecil, dia udah kayak adik gue. Waktu itu gue cuma anak pengacara yang disuruh bokapnya jemput klien di gerbang belakang sekolah, karena keluarga Hadinata nggak mau sopirnya tahu mereka bangkrut.”
“Bangkrut,” ulangku.
“Minggu itu bokapnya baru diputus pailit. Dua minggu sebelumnya, kalau nggak salah. Awal September.” Bastian mengerutkan kening, mengingat. “Iya. Gue inget, karena bokap gue pulang malem-malem tanggal empat September dan bilang ke nyokap gue, Hendra udah habis.”
Empat September.
Delapan belas September.
Empat belas hari.
Aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti menghitungnya. Seperti membaca log server dan menemukan timestamp yang tidak masuk akal, dan mengecek ulang, dan mengecek ulang lagi, dan setiap kali hasilnya sama.
Semester dua kuliah. Itu yang ia katakan di ruang tunggu fisioterapi. Dengan lancar. Terlalu lancar.
Waktu kamu kelas tiga. Itu yang Pak Hendra coba katakan di depan pagar hijau, dan Aluna memotongnya dengan Papa salah inget.
“Kenapa,” kataku. Pelan. “Kenapa dia nolak?”
Bastian berhenti.
Ia menatapku. Lama. Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Kerutan di antara alisnya hilang, berganti dengan sesuatu yang lain. Kesadaran. Lalu panik. Lalu sesuatu yang sangat mirip rasa bersalah.
“Lo...” Suaranya mengecil. “Lo belum tahu.”
Aku tidak menjawab.
“Dia belum cerita.” Bastian menutup mata. “Ya Tuhan. Gue kira... dia bilang habis IC... gue kira dia udah...” Ia membuka mata dan menatapku dengan wajah orang yang baru sadar ia membuka pintu yang seharusnya tidak ia buka. “Anggana. Bro. Gue minta maaf. Ini bukan hak gue. Ini cerita dia. Gue harusnya—”
“Kenapa dia nolak?”
“Gue nggak bisa—”
“Bastian.”
Aku tidak menaikkan suaraku. Aku tidak pernah menaikkan suaraku. Tapi Bastian berhenti bicara.
Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku tidak menerima. Aku tidak tersenyum dan bilang nggak apa-apa, nanti aja. Aku tidak menunggu sampai orang lain siap memberi.
Aku meminta.
“Tolong,” kataku.
Bastian menatapku lama. Lalu ia menghela napas, panjang, seperti orang yang memutuskan untuk melompat dari tempat yang sangat tinggi.
“Dia denger lo,” katanya pelan. “Di ruang wali kelas. Lo bilang ke guru lo, lo mau nolak beasiswa ITB. Lo mau kerja penuh waktu habis lulus, biar adik lo bisa sekolah. Satu dari kami harus kerja, lebih baik saya. Itu yang dia denger. Dia ceritain kalimat itu ke gue berkali-kali, di mobil, sambil nangis.”
Gelas teh di tanganku berhenti.
“Dia tahu keluarganya bangkrut. Dia tahu lo orang yang nolong semua orang. Dia takut, kalau dia bilang iya ke lo, lo bakal tahu keluarganya hancur. Dan lo bakal nolong. Dan lo bakal makin yakin buat nggak pergi ke Bandung. Lo bakal kerja dua kali lebih keras buat dia, buat keluarganya, di atas keluarga lo sendiri.” Bastian menatap jendela. “Gue bilang ke dia waktu itu, di mobil. Lun, lo yakin? Lo bisa bilang yang sebenarnya. Dia kelihatan kayak orang yang bakal ngerti.”
“Dia jawab apa?”
Bastian menelan ludah.
“Justru itu,” katanya. “Dia bakal ngerti. Terus dia bakal nolong. Terus dia nggak bakal pergi.”
Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari kafe itu.
Aku ingat Bastian mengatakan sesuatu lagi. Minta maaf, mungkin. Berkali-kali. Aku ingat ia memegang lenganku di pintu kafe dan bilang Bro, jangan marah ke dia, dia ngelakuin itu karena dia sayang sama lo. Aku ingat aku mengangguk. Aku ingat aku bilang makasih, Bastian. Dengan sopan. Dengan senyum.
Senyum yang sama untuk semua orang.
Aku ingat berjalan ke parkiran basement. Membuka pintu mobil. Duduk di kursi kemudi.
Aku tidak menyalakan mesin.
Aku duduk di sana, di basement gedung di Mega Kuningan, di bawah lampu neon yang berkedip seperti lampu di dapur rumah lama kami, dan menatap setir.
Lalu aku mengeluarkan HP.
Aku membuka mesin pencari. Aku mengetik, huruf demi huruf, kalimat yang dulu kuketik di depan pagar hijau dan kuhapus.
PT Hadinata Graha pailit
Jempolku tidak menggantung kali ini.
Aku menekan tombol cari.
Hasilnya muncul dalam setengah detik. Portal berita bisnis. Situs putusan pengadilan niaga. Artikel lama dengan foto Pak Hendra yang masih berdiri tegak, rambut hitam beruban di pelipis, setelan jas, di depan maket apartemen yang tidak pernah dibangun.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nyatakan PT Hadinata Graha Pailit. Senin, 4 September 2017.
Aku menatap tanggal itu.
Lalu aku menatap tanggal lain di kepalaku. Tanggal yang ada di spreadsheet Dara, di baris yang dirahasiakan, dengan skor minus delapan ratus. Tanggal yang tidak akan pernah kulupakan.
18 September 2017.
Empat belas hari.
Aku memikirkan bangku semen di dekat lapangan basket. Teh manis di gelas plastik. Kamu baik-baik aja? Kalau ada yang bisa aku bantu, bilang aja. Dan wajahnya, sesaat, seperti dinding yang retak. Lalu berdiri lagi. Aku nggak apa-apa. Cuma capek. Kelas tiga kan berat.
Aku memikirkan mobil SUV putih di gerbang belakang. Bastian di kursi belakang. Ada orang lain.
Aku memikirkan pintu ruang wali kelas yang setengah terbuka. Langkah kaki di koridor. Cepat. Menjauh. Mungkin anak kelas sepuluh. Mereka suka lari-larian di koridor.
Aku memikirkan bahwa yang berlari di koridor itu adalah dia.
Aku memikirkan delapan tahun.
Delapan tahun aku percaya bahwa aku tidak cukup. Bahwa ia memilih orang lain dari liganya sendiri, orang yang tahu radio Oma dan bisa berdiri di atas lantai marmer tanpa takut meninggalkan bekas sepatu. Delapan tahun aku membangun dinding di sekitar ruang kosong di dadaku, sampai ruang itu jadi ruang biasa, sampai aku bisa tersenyum ke semua orang dengan senyum yang sama.
Delapan tahun aku menangis dengan keran menyala untuk sesuatu yang bahkan bukan kebenaran.
Dan ia tahu. Selama dua bulan ini, ia tahu. Waktu ia merapikan kerahku di koridor Sagara. Waktu ia membungkus nasi uduk di dapur Ibu. Waktu ia bilang tahun-tahun itu nggak hilang, cuma belum diceritain di ruang tunggu fisioterapi, lalu langsung berbohong soal semester dua. Waktu ia menangis di dadaku di lorong rumah sakit. Waktu aku menciumnya di peron.
Aku pernah mutusin sesuatu buat kamu tanpa ngasih tahu kamu.
Biar kamu bisa milih setelah kamu tahu semuanya. Bukan sebelum.
Aku sekarang mengerti kalimat-kalimat itu.
Dan ada satu hal lagi yang membuat dadaku terasa seperti dicengkeram tangan yang sangat besar.
Aku pergi ke Bandung bukan karena ia menolakku.
Aku pergi ke Bandung karena Ibu duduk di meja makan dengan map cokelat dan tanda tangan berbentuk huruf R yang miring. Karena Dara berdiri dan menangis dan berteriak Kakak selalu mutusin semuanya sendiri. Karena mereka berdua memaksaku menandatangani formulir itu, seminggu setelah pohon ketapang.
Penolakan Aluna tidak membuatku pergi. Penolakan Aluna hanya membuatku menangis.
Ia mengorbankan sesuatu yang tidak perlu dikorbankan, untuk hasil yang akan terjadi juga tanpa pengorbanannya. Dan ia tidak pernah tahu. Dan aku tidak pernah tahu. Kami berdua memutuskan sesuatu sendirian, dan menyebutnya kebaikan, dan selama delapan tahun kami sama-sama membayar harganya dalam gelap.
Aku menyalakan mesin mobil jam satu lewat dua puluh siang.
Aku tidak kembali ke kantor. Aku mengirim pesan ke Jovan: Aku nggak balik ke kantor hari ini. Ada urusan. Jovan membalas dengan tiga tanda tanya. Aku tidak membalasnya.
Aku menyetir ke arah Jakarta Timur. Ke arah gang. Ke arah lapak dengan papan nama kayu jati dan tenda galvalum dan gerobak tua yang ditanami cabai.
Ada satu orang lagi yang harus kutanyai.
Karena di kafe tadi, sebelum aku pergi, Bastian mengatakan satu hal lagi yang tidak kumengerti waktu itu, dan baru kumengerti di lampu merah di Pancoran:
Dia bilang dia nggak sendirian nyimpen ini. Dia bilang ada satu orang lagi yang tahu dari dulu. Orang yang nggak pernah cerita, tapi nggak pernah lupa.
Aku tahu persis siapa orang yang seumur hidupku selalu mengucapkan kalimat itu. Setiap kali Pakde Sarno curhat soal istrinya di Cilacap, setiap kali tetangga menitipkan rahasia di antara bungkusan nasi uduk, Ibu selalu bilang hal yang sama: Ibu ndak pernah cerita. Tapi Ibu juga ndak pernah lupa.
Aku tidak menangis di mobil. Aku tidak menyalakan keran. Aku tidak tersenyum ke siapa pun.
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku marah.
Dan aku tidak tahu harus marah pada siapa.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian reading
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis