Chapter Twenty Three
Hadiah untuk Diriku Sendiri
POV: Anggana
Jovan mengumumkan pesta ulang tahun keempat Flie dengan cara yang paling Jovan mungkin: lewat email ke seluruh karyawan dengan subjek WAJIB DATANG ATAU GAJI DIPOTONG (BERCANDA) (TAPI DATANG) dan isi yang terdiri dari tujuh emoji roket, satu foto kue ulang tahun berbentuk logo burung Flie, dan satu kalimat: Bawa keluarga. Bawa pacar. Bawa mantan juga boleh, biar rame.
Ia juga mengundang tim Sagara. Secara resmi, itu bentuk keramahan kepada calon investor utama. Secara tidak resmi, menurut Ucup, itu karena Jovan ingin melihat Tiara di luar ruang rapat.
“Dia nanya ke gue,” kata Ucup di pantry, dua hari sebelum pesta, sambil menuang kopi. “Nanya, Mbak Tiara suka makanan apa. Gue bilang mana gue tahu. Terus dia nanya ke HRD, minta data alergi semua tamu. Semua tamu, Bro. Buat nyari tahu Mbak Tiara alergi apa nggak.”
“Terus?”
“Nggak alergi apa-apa. Tapi dia jadi tahu Mbak Tiara vegetarian sebagian. Nggak makan daging merah.” Ucup menyeringai. “Sekarang menu katering ada tiga jenis tumis sayur.”
Aku tertawa. Ucup menatapku.
“Lo sekarang gampang ketawa, ya,” katanya.
“Masa?”
“Sejak Sabtu kerupuk itu.” Ucup menyeruput kopinya. “Dara cerita ke gue. Katanya Ibu sampe nangis.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Pestanya diadakan Jumat malam di teras atap gedung, di lantai dua puluh lima. Jovan menyewanya dari pengelola gedung dan mengubahnya jadi sesuatu yang ia sebut “taman Bali di tengah Kuningan”: lampu-lampu kecil digantung di antara tiang-tiang bambu, bean bag warna-warni tersebar di lantai kayu, panggung kecil untuk band akustik yang terdiri dari tiga engineer backend yang ternyata bisa main gitar.
Kateringnya dari lapak Ibu.
Jovan yang memaksa. Ia datang ke rumah dua minggu lalu, makan sebungkus nasi uduk di dapur, lalu berlutut di depan Ibu, benar-benar berlutut, di lantai dapur, dan bilang, “Bu, saya mohon. Tiga ratus porsi. Saya bayar dua kali lipat. Karyawan Flie harus tahu asal-usul CTO mereka.” Ibu tertawa sampai sutilnya jatuh, lalu setuju dengan harga normal.
Jadi di meja panjang di ujung teras atap, di samping prasmanan tumis sayur tiga jenis, ada tiga ratus bungkus nasi uduk Bu Ratih dibungkus daun pisang dan diikat karet merah. Dan di belakang meja itu, berdiri Ibu dengan kebaya biru muda yang dulu ia pakai di wisudaku, dan Dara dengan blus putih dan wajah auditor yang sedang mengawasi siapa saja yang mengambil lebih dari satu bungkus.
Ibu menolak duduk sebagai tamu. “Ibu yang masak, Ibu yang jaga,” katanya. “Ndak enak ninggal dagangan.”
Tim Sagara datang jam delapan.
Marcella dengan setelan hitam dan wajah yang jelas-jelas berharap bisa pulang jam sembilan. Tiara dengan dress kuning muda selutut yang membuat Jovan, yang sedang berdiri di dekat panggung memegang mikrofon, lupa apa yang mau ia katakan selama lima detik penuh.
Dan Aluna.
Ia memakai dress sederhana warna hijau tua, panjangnya sampai bawah lutut, dengan lengan pendek dan potongan leher bulat. Bukan sutra. Katun, mungkin, atau sesuatu yang mirip katun. Tidak ada payet. Tidak ada perhiasan kecuali anting kecil berbentuk titik perak di telinganya.
Hijau tua. Bukan hijau zamrud. Tapi cukup dekat untuk membuat ingatanku melompat ke teras samping sebuah rumah di Pondok Indah, ke kolam renang yang airnya biru karena lampu di dasarnya, ke radio kayu jati yang tabung-tabungnya menyala jingga.
Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai. Ujung-ujungnya yang bergelombang tidak rata bergerak setiap kali angin malam berembus di teras atap. Ia memakai lipstik yang sedikit lebih gelap dari biasanya, warna mawar tua, dan di bawah lampu-lampu kecil yang digantung di antara bambu, kulitnya terlihat hangat seperti madu yang dituang pelan.
Ia berhenti di ujung tangga, menatap sekeliling teras atap. Lalu menemukanku.
Ia tersenyum. Senyum yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata. Senyum yang membuat kepalanya miring sedikit ke kiri.
Aku sadar sedang menatapnya terlalu lama ketika Jovan, dari atas panggung kecil, berkata ke mikrofon dengan suara yang terdengar sampai lantai dua puluh empat:
“CTO KITA LAGI NGELIATIN SESEORANG, TEMAN-TEMAN.”
Tiga ratus kepala menoleh ke arahku.
Aku menoleh ke arah lain.
Jam sembilan, setelah potong kue dan pidato Jovan yang terlalu panjang dan terlalu emosional, ia mengumumkan acara utama.
“Lomba!” teriaknya. “Bukan lomba makan kerupuk. Bukan lomba balap karung. Lomba yang paling Flie!”
Ia menunjuk meja prasmanan. Ibu, di belakangnya, mengangkat tumpukan daun pisang.
“LOMBA BUNGKUS NASI UDUK ALA CTO!”
Teras atap meledak oleh sorakan dan tawa. Seseorang meniup terompet tahun baru yang entah dari mana.
Jovan menjelaskan aturannya. Lima peserta. Masing-masing harus membungkus lima nasi uduk. Yang paling cepat dan rapi menang. Juri: Bu Ratih, karena beliau adalah otoritas tertinggi di bidang ini. Dan taruhannya, Jovan menambahkan dengan seringai lebar, yang kalah harus menuruti satu permintaan dari yang menang.
“Saya ikut,” kata Jovan. “Siapa lagi?”
Ucup mengangkat tangan. Dua engineer mengangkat tangan. Dara mengangkat tangan, lalu Ibu menurunkan tangan Dara dengan sutil.
“Kamu ndak boleh, Nduk. Kamu udah bisa dari SD. Ndak adil.”
Dara cemberut.
“Satu lagi!” kata Jovan. “Ayo! Satu lagi!”
Aluna mengangkat tangan.
Jovan menatapnya dengan alis terangkat. Lalu seringainya makin lebar. “Mbak Luna? Dari Sagara? Yakin? Ini butuh keahlian khusus, Mbak. Butuh pengalaman. Butuh—”
“Saya ikut, Pak Jovan.”
“Oke, oke.” Jovan mengangkat dua tangan. “Tapi jangan nyesel ya, Mbak. Saya udah latihan.”
Aku tahu Jovan tidak latihan. Jovan pernah mencoba membungkus satu nasi uduk di dapur Ibu dua minggu lalu, dan hasilnya terlihat seperti amplop yang ditabrak kereta. Aku juga tahu, karena aku ada di dapur setiap Sabtu jam empat pagi, berapa detik waktu bungkus Aluna sekarang.
Aku tidak bilang apa-apa ke Jovan.
Lima peserta berdiri di belakang meja panjang. Di depan masing-masing ada lima lembar daun pisang, baskom nasi uduk, piring telur balado, dan karet merah.
“Siap,” kata Jovan ke mikrofon, satu tangan di atas daun pisang. “Bu Ratih, silakan.”
Ibu mengangkat sutil ke udara. “Mulai.”
Ucup membungkus dengan penuh semangat dan hasil yang lumayan, karena ia pernah bantu Ibu di lapak waktu SMA. Dua engineer membungkus dengan konsentrasi tinggi dan hasil yang mengerikan; satu dari mereka mengikat karet merah begitu kencang sampai daunnya robek di tengah.
Jovan membungkus dengan kecepatan penuh dan teknik nol. Nasi berhamburan. Telur menggelinding dari meja ke lantai, lalu menggelinding lagi ke bawah bean bag. Ia mengumpat dalam bahasa Batak, lalu meminta maaf ke Ibu dalam bahasa Indonesia, lalu mengumpat lagi.
Di sebelahnya, Tiara, yang tidak ikut lomba tapi berdiri di barisan depan penonton, tertawa sampai harus memegang perutnya.
Dan Aluna.
Aluna membungkus dengan tenang. Daun di telapak kiri, bagian licin di bawah. Nasi tiga perempat centong, agak ke bawah. Telur di atas, sedikit ke kiri. Lipat kiri, tekan dengan ujung jari. Kanan. Bawah. Atas. Karet merah.
Lima belas detik.
Satu bungkus. Diletakkan di piring. Lalu yang kedua.
Penonton berhenti tertawa melihat Jovan dan mulai menonton Aluna. Suara sorakan berubah jadi gumaman, lalu jadi hening yang penuh perhatian.
Bungkus ketiga. Keempat.
Di belakang meja, Ibu menatap tangan Aluna dengan senyum yang tenang dan bangga, seperti guru yang melihat muridnya maju ke depan kelas.
Di sebelah Ibu, Dara mengeluarkan HP-nya dan, aku curiga, membuka spreadsheet.
Bungkus kelima. Karet merah. Selesai.
Aluna mengangkat dua tangan ke udara seperti pesenam yang baru mendarat.
Jovan, di sebelahnya, masih di bungkus kedua. Nasinya menempel di lengan kemejanya. Ada sambal kacang di kacamatanya.
Teras atap meledak lagi.
Ibu memeriksa kelima bungkus Aluna satu per satu. Ia membolak-balik, menekan, mengintip lipatannya. Lalu ia mengangkat salah satunya tinggi-tinggi.
“Ini,” kata Ibu ke mikrofon yang disodorkan Jovan, “bisa Ibu jual.”
Sorakan paling keras malam itu.
“Pemenang!” kata Jovan ke mikrofon dengan wajah orang yang baru kalah perang dan nasi di kacamata. “Mbak Aluna dari Sagara Capital! Dan saya, Jovan Siregar, CEO Flie, harus menuruti satu permintaan beliau. Apa pun. Silakan, Mbak. Asal jangan minta valuasi diturunin.”
Penonton tertawa.
Aluna mengambil mikrofon dari tangan Jovan.
Ia berdiri di belakang meja panjang dengan dress hijau tua dan tangan yang masih wangi daun pisang. Lampu-lampu kecil di antara bambu memantul di matanya. Angin malam meniup rambutnya sedikit ke samping.
“Makasih, Pak Jovan,” katanya. “Tapi hadiahnya nggak dari Bapak.”
Jovan mengerjap. “Hah?”
“Permintaan saya buat Bapak, saya kasih ke Tiara.” Aluna menoleh ke barisan depan penonton, ke Tiara yang masih memegang perutnya karena tertawa. “Ti. Kamu yang minta apa pun dari Pak Jovan.”
Tiara berhenti tertawa. Wajahnya berubah merah dari leher sampai dahi. Jovan menoleh ke Tiara dengan mulut terbuka dan nasi masih di kacamata.
Penonton bersorak CIEEEE dalam satu suara yang begitu kompak sampai terdengar seperti paduan suara.
“Terus hadiah buat Mbak Luna sendiri?” teriak seseorang dari belakang.
Aluna menurunkan mikrofon. Ia meletakkannya di atas meja, di samping lima bungkus nasi uduk yang bisa dijual.
Lalu ia berjalan.
Memutari meja panjang. Melewati Ibu, yang menatapnya dengan sutil di tangan dan mata yang tiba-tiba membesar. Melewati Dara, yang mengangkat kepala dari HP-nya dan langsung menegang seperti kucing yang mencium bahaya.
Ke arahku.
Aku berdiri di dekat tiang bambu paling dekat dengan meja prasmanan, memegang gelas plastik berisi teh melati tanpa gula. Aku tidak bergerak. Aku tidak tahu harus bergerak ke mana.
Ia berhenti di depanku. Jarak kami satu langkah. Sama seperti di wisuda. Sama seperti di koridor Sagara.
Ia menatapku. Mata cokelat madu, bintik keemasan di iris kiri, tahi lalat kecil di bawah mata kanan. Ia tersenyum, senyum yang sedikit gemetar di sudut bibir, senyum orang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang berusaha keras untuk tidak berubah pikiran.
Lalu ia berjinjit.
Dan mencium pipiku.
Itu berlangsung kurang dari satu detik.
Bibirnya menyentuh pipi kiriku. Lembut. Hangat. Sedikit lengket karena lipstik mawar tua. Wangi melati dan sabun bayi dari rambutnya, bercampur wangi daun pisang dari tangannya yang terangkat menyentuh bahuku untuk menjaga keseimbangan.
Kurang dari satu detik. Lalu ia mundur.
Kakinya turun dari jinjit. Tangannya turun dari bahuku. Ia menatapku dari jarak satu langkah dengan pipi yang merah, telinga yang merah, leher yang merah, tapi mata yang tidak berpaling.
“Itu,” katanya pelan, cukup pelan sehingga mungkin hanya aku yang mendengar, tapi cukup jelas sehingga aku tidak mungkin salah dengar, “hadiahku buat diriku sendiri.”
Teras atap itu sunyi.
Bukan sunyi biasa. Sunyi yang penuh, seperti seluruh udara di lantai dua puluh lima tiba-tiba ditarik keluar. Tiga ratus orang berhenti bergerak. Band akustik berhenti memetik gitar. Seseorang di belakang menjatuhkan gelas plastik, dan bunyi tuk-nya di lantai kayu terdengar seperti tembakan.
Aku tidak bisa bergerak.
Pipi kiriku terasa terbakar. Bukan sakit. Panas. Seperti tabung radio yang dinyalakan setelah sembilan tahun mati, langsung menyala jingga terang tanpa perlu desis sepuluh detik.
Aku menatapnya. Aku tidak bisa berhenti menatapnya.
Lalu, dari arah meja prasmanan, terdengar suara yang memecah kesunyian seperti sirene ambulans:
“KAMU—”
Dara.
Adikku berdiri di belakang meja dengan HP masih di tangan, wajahnya berubah dari putih ke merah ke ungu dalam waktu dua detik. Ia melangkah maju. Ibu menahan lengannya dengan satu tangan, tanpa melihat, tanpa berhenti menatapku dan Aluna, dengan wajah yang, aku tidak percaya ini, tersenyum lebar.
“KAMU NGAPAIN KAKAKKU—”
“Dara,” kata Ibu, masih tersenyum, masih menahan lengan Dara. “Duduk.”
“BU, DIA—”
“Ibu lihat. Duduk.”
Lalu seluruh teras atap meledak.
Sorakan. Tepuk tangan. Siulan. Terompet tahun baru ditiup dari tiga arah. Seseorang berteriak ITU DIA! ITU DIA! Seorang engineer backend dari band akustik memetik gitar dengan akord yang sangat dramatis. Ucup memeluk dua engineer di sebelahnya sekaligus dan berteriak sesuatu yang tidak bisa kutangkap.
Di dekat panggung, Jovan berdiri dengan nasi di kacamata dan mulut terbuka lebar, lalu tiba-tiba mengeluarkan HP-nya dan mengetik dengan dua jempol secepat orang yang sedang melaporkan gempa bumi.
Dan aku melihatnya. Di antara kerumunan penonton yang bersorak. Marcella Tan.
Ia tidak bersorak. Ia tidak tersenyum. Ia berdiri dengan tangan bersedekap di dekat tangga, menatap Aluna dengan alis terangkat sangat tinggi dan wajah seperti orang yang baru membaca angka yang tidak cocok di neraca keuangan.
Aluna tidak menunggu reaksiku.
Ia berbalik, berjalan kembali ke meja panjang, mengambil satu bungkus nasi uduk yang ia bungkus sendiri, dan menyerahkannya ke Ibu dengan dua tangan.
“Bu, makasih udah ngajarin.”
Ibu menerimanya dengan dua tangan. “Sama-sama, Nduk.”
Lalu Aluna berjalan ke arah Tiara, yang masih berdiri di barisan depan penonton dengan wajah merah karena alasan yang sama sekali berbeda, dan menariknya ke pinggir teras atap, ke dekat pagar kaca yang menghadap lampu-lampu Kuningan.
Aku masih berdiri di dekat tiang bambu. Gelas teh di tanganku. Pipi kiriku masih terbakar.
Jovan muncul di sebelahku. Ia sudah melepas kacamatanya dan sedang mengelap sambal kacang di lensanya dengan ujung kemeja.
“Bro,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Bro. Lo baik-baik aja?”
“Nggak tahu.”
Jovan berhenti mengelap kacamata. Ia menatapku lama. Lalu ia memasang kacamatanya lagi, menatapku sekali lagi melalui lensa yang masih sedikit berminyak, dan wajahnya berubah. Dari bercanda menjadi sesuatu yang sangat jarang kulihat di wajah Jovan Siregar: serius.
“Empat tahun gue kenal lo,” katanya pelan. “Ini pertama kalinya lo jawab ‘nggak tahu’. Biasanya lo jawab ‘nggak apa-apa’.”
Aku menatapnya.
Jovan menepuk bahuku sekali. Lalu ia berjalan ke arah pagar kaca, ke arah Tiara, dengan langkah yang terlalu kaku dan terlalu cepat, seperti orang yang baru mengumpulkan keberanian dan takut keberanian itu hilang sebelum ia sampai.
Belakangan, Ucup menunjukkan padaku isi grup WhatsApp yang selama ini tidak kuketahui keberadaannya.
Dalam lima menit setelah ciuman itu, ada seratus empat belas pesan. Sebagian besar berisi debat teknis tentang apakah cium pipi dihitung sebagai luluh atau bukan, karena yang mencium adalah Aluna, bukan aku. Seorang engineer frontend menulis esai lima paragraf tentang definisi operasional kata luluh. Seorang engineer data membuat grafik. Sari menulis: Gue cuma mau bilang, muka Pak Angga tadi kayak sistem yang kena DDoS. Freeze total.
Pesan terakhir dari Jovan, dikirim jam sembilan lewat dua puluh delapan:
Taruhan dibekukan sementara sampai ada definisi resmi. Gue lagi sibuk. Mbak Tiara minta gue nganterin dia pulang. Itu permintaan pemenang lomba. Gue wajib nurut. Ini bukan modus. Ini kewajiban kontraktual.
Aku tidak bicara dengan Aluna lagi malam itu.
Bukan karena menghindar. Setiap kali aku mencoba mendekat, ada yang menghalangi. Engineer yang mau foto bareng. Karyawan baru yang mau kenalan. Ibu yang minta tolong mengangkat termos. Dara yang menempel di sebelahku seperti pengawal presiden, mencengkeram lengan kemejaku setiap kali aku melangkah ke arah pagar kaca.
“Kakak diem di sini,” desisnya.
“Dar.”
“Diem. Di. Sini.”
Jam sepuluh lewat lima belas, Aluna pamit. Ia menyalami Ibu, mencium tangannya. Ia menyalami Dara, yang menerima salamannya dengan wajah batu. Ia menyalami Jovan dan Ucup dan Mbak Kirana.
Lalu ia berhenti di depanku.
“Selamat ulang tahun Flie,” katanya.
“Makasih.”
Kami saling menatap. Di sekeliling kami, orang-orang pura-pura tidak menonton dan gagal total.
“Jangan bilang makasih,” kata Aluna pelan. “Buat yang tadi.”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
Ia tersenyum, lalu berbalik dan berjalan ke tangga. Rambutnya bergerak di bahu. Dress hijau tuanya bergerak di lutut.
Aku menatap punggungnya sampai ia menghilang di tangga.
Malam itu, aku tidak tidur.
Aku berbaring di kasur menatap langit-langit dalam gelap, dan setiap beberapa menit, tanganku naik ke pipi kiri. Menyentuhnya. Seperti orang yang memeriksa apakah luka sudah sembuh, atau apakah luka itu memang ada.
Tidak ada luka. Tidak ada bekas. Lipstiknya sudah hilang, terhapus waktu aku cuci muka. Kulitnya sama seperti kulit pipi kananku.
Tapi terasa berbeda.
Aku memikirkan hadiahku buat diriku sendiri. Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, aku bilang kamu nggak perlu jawab, karena aku tidak meminta apa-apa. Aku tidak pernah meminta apa-apa. Dan malam ini, perempuan yang dulu menolakku mengambil sesuatu tanpa meminta, di depan tiga ratus orang, dan menyebutnya hadiah untuk dirinya sendiri.
Bukan untukku. Untuk dirinya sendiri.
Seolah ia memutuskan bahwa ia layak mendapatkan sesuatu, dan mengambilnya.
Aku tidak pernah melakukan itu. Seumur hidup. Aku tidak tahu bagaimana rasanya memutuskan bahwa aku layak mendapatkan sesuatu.
Jam dua lewat sepuluh pagi, aku turun ke garasi, membuka laci dasbor mobil, dan menatap isinya di bawah lampu kecil.
Empat sticky note kuning. Selembar uang sepuluh ribu yang dilipat dua.
Aku menatap benda-benda itu lama. Lalu aku kembali ke kamar, mengambil sesuatu dari meja, kembali ke garasi, dan memasukkannya ke laci dasbor.
Sebuah tisu yang kupakai untuk mengelap pipi kiri malam tadi, sebelum cuci muka. Tisu dengan bekas samar warna mawar tua.
Aku menutup laci dasbor dan berdiri di garasi dalam gelap.
Aku baru saja menyimpan tisu bekas di laci dasbor mobil.
Aku, CTO perusahaan dengan transaksi lima puluh miliar sehari, berdiri di garasi jam dua pagi setelah menyimpan tisu bekas lipstik di laci dasbor.
Aku menutup wajah dengan dua tangan, dan, sendirian di garasi yang gelap, tertawa sampai mataku hilang.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri reading
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis