← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty Six

Kali Ini Sengaja

POV: Aluna

Pinggangku masih terasa hangat di tempat lengannya tadi melingkar.

Aku tahu itu tidak masuk akal. Kain linen tidak menyimpan panas selama tiga jam. Kulit tidak mengingat tekanan lengan seseorang setelah mandi air dingin di kamar hotel yang AC-nya terlalu kencang. Tapi aku berdiri di depan cermin kamar mandi hotel kecil di Labuan Bajo dengan handuk melilit badan, dan tanganku naik sendiri ke pinggang kiriku, ke tempat itu, dan aku bisa merasakannya.

Delapan detik.

Tiara menghitungnya. Ia mengirim pesan ke HP-ku dari kamar sebelah, lima menit setelah kami sampai di hotel: 8 DETIK, LUN. GUE NGITUNG. DIA NGGAK LEPAS SELAMA 8 DETIK PADAHAL LO UDAH BERDIRI TEGAK DARI DETIK KE-3.

Lalu satu pesan lagi: Gue minta maaf atas nama Jovan. Gue udah mukul dia pake botol. Dua kali.

Lalu satu lagi, sepuluh menit kemudian: Jovan demam. Kayaknya masuk angin dari perahu. Gue jagain dia. Makan malam lo berdua aja ya. Ini bukan strategi. Dia beneran demam. Gue nggak sejahat itu.

Lalu satu lagi: Oke gue sejahat itu dikit. Tapi dia beneran demam.


Kami makan malam di Kampung Ujung, pasar ikan malam di pinggir pelabuhan Labuan Bajo. Deretan tenda dengan lampu-lampu bohlam kuning, meja-meja plastik panjang, ikan-ikan segar yang dipajang di atas es dan dibakar di atas bara arang di depan mata pembeli. Asap dan wangi bumbu memenuhi udara. Turis-turis asing dengan kulit terbakar matahari duduk di sebelah keluarga lokal yang makan dengan tangan.

Aku memilih ikan kakap merah. Anggana memilih cumi. Kak Ferdi, yang mengantar kami, pamit setelah memastikan pemilik tenda tahu kami tamu penting, jangan dimahalin, Bang, ini bos saya.

Lalu kami tinggal berdua.

Di meja plastik panjang, berhadapan. Di antara kami, sepiring nasi putih, kakap merah bakar dengan sambal colo-colo, cumi bakar, sayur kangkung, dan dua gelas es jeruk. Lampu bohlam kuning menggantung tepat di atas meja, bergoyang pelan kalau angin laut bertiup.

Ia makan dengan tangan. Empat jari dirapatkan. Aku juga.

Kami tidak membahas dermaga.

Kami membahas Mama Rosa, dan anak bungsunya yang lebih jago memakai aplikasi daripada Mama Rosa sendiri. Membahas Marten yang tidak bicara sepatah kata pun sepanjang hari tapi tertawa terbahak-bahak waktu Jovan muntah. Membahas Jovan yang sekarang demam di hotel dan, menurut foto yang Tiara kirim ke grup chat kecil kami berempat, sedang disuapi bubur ayam oleh Tiara dengan wajah orang yang sedang sekarat dan sangat bahagia sekaligus.

Anggana tertawa melihat foto itu. Tawa yang membuat matanya menyipit.

Aku menatapnya tertawa, dan melupakan ikan di tanganku.


Setelah makan, Kak Ferdi sudah pulang dan taksi di Labuan Bajo susah dicari jam sembilan malam. Hotel kami ada di dekat Pantai Pede, dua kilometer dari pasar ikan. Anggana bertanya apakah aku keberatan berjalan.

Aku tidak keberatan.

Kami berjalan menyusuri jalan pinggir laut yang sepi. Lampu-lampu kota kecil itu tertinggal di belakang, dan di depan kami, jalan berubah jadi garis pantai yang gelap. Bulan hampir purnama, tergantung rendah di atas laut, dan cahayanya jatuh di permukaan air seperti jalan perak yang membentang dari pantai sampai ke cakrawala. Pulau-pulau kecil di kejauhan hanya terlihat sebagai bayangan hitam. Ombak berdesir pelan di pasir.

Di ujung jalan, ada tangga kecil turun ke pantai. Anggana berhenti di atasnya, menoleh padaku.

“Lewat pantai? Lebih dekat ke hotel.”

“Boleh.”

Ia turun lebih dulu. Lalu berbalik, mengulurkan tangan untuk membantuku turun.

Aku menatap tangan itu. Lalu aku menerimanya, turun dua anak tangga, dan melepasnya begitu kakiku menyentuh pasir.

Kami berjalan menyusuri pantai. Pasirnya halus dan dingin di bawah sandal. Ombak datang dan pergi di sebelah kanan kami, kadang menyentuh ujung kaki kalau kami berjalan terlalu dekat ke air. Tidak ada orang lain. Hanya kami, bulan, dan suara laut.

Aku melepas sandal dan menentengnya. Ia melakukan hal yang sama.

Kami berjalan lama tanpa bicara.

Bukan diam yang canggung. Diam yang lain. Diam yang seperti di dapur jam empat pagi, waktu kami membungkus nasi uduk di meja marmer yang sama dan tidak perlu mengatakan apa-apa karena tangan kami sudah berbicara.


“Luna.”

“Hm?”

“Tadi di perahu. Kamu nanya kenapa aku ngeliatin kamu.”

Aku berhenti berjalan. Ombak menyentuh ujung kakiku, dingin, lalu mundur lagi.

“Iya,” kataku.

Ia berhenti juga, satu langkah di depanku. Ia tidak menoleh. Ia menatap laut, menatap jalan perak di atas air yang membentang sampai cakrawala.

“Aku nggak tahu jawabannya,” katanya. “Aku pikir aku tahu. Aku pikir aku cuma... ngeliat. Kayak ngeliat apa aja. Kayak ngeliat laut.” Ia diam. “Tapi aku nggak pernah ngeliatin laut sampai lupa Jovan muntah di sebelahku.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nggak pernah ngerasa gini sebelumnya,” lanjutnya pelan. “Atau aku pernah, dulu, lama banget. Terus aku lupa rasanya gimana. Dan sekarang...” Ia berhenti. Mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya di bawah cahaya bulan, seperti membaca sesuatu yang tertulis di sana. “Sekarang aku nggak tahu ini apa.”

Aku menatap punggungnya. Bahunya di balik kaus putih. Tangannya yang terangkat.

Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, ia tahu persis apa yang ia rasakan. Aku suka kamu. Sejak hari nasi uduk itu. Jelas. Utuh. Tanpa keraguan.

Sekarang ia berdiri di pantai di bawah bulan dan bilang aku nggak tahu ini apa. Dan aku tahu itu karena aku. Aku yang merusak kepastian itu. Aku yang membuatnya mengubur perasaan begitu dalam sampai ia lupa bentuknya, sampai waktu perasaan itu muncul lagi ke permukaan, ia tidak bisa mengenalinya.

Aku ingin menangis. Aku tidak menangis.

Aku berjalan selangkah ke depan, sampai berdiri di sebelahnya. Bahu kami hampir bersentuhan. Kami menatap laut yang sama.

“Nggak harus tahu sekarang,” kataku.

Ia menoleh.

Lalu ia menurunkan tangannya. Pelan. Ke samping tubuhnya. Ke samping tanganku.

Dan menggenggamnya.


Di Jakarta, di gang yang banjir, ia menggenggam tanganku karena ada lubang di depan rumah Pak RT dan saluran terbuka di depan rumah Haji Mansur. Ada alasannya. Ada fungsinya. Ia menggenggam tanganku seperti ia menggendong Mbah Sumi dan mengangkat gerobak tua: karena ada sesuatu yang harus diselamatkan.

Di sini tidak ada lubang. Tidak ada banjir. Tidak ada yang harus diselamatkan. Hanya pasir halus, ombak yang pelan, dan bulan yang hampir purnama.

Ia menggenggam tanganku tanpa alasan.

Tangannya hangat. Besar. Kasar di telapak, dengan kapal di pangkal jari. Ia tidak menggenggam dengan kuat seperti di gang yang banjir. Ia menggenggam pelan, longgar, seperti orang yang memegang sesuatu yang rapuh dan tidak yakin boleh memegangnya. Jari-jarinya tidak bertaut dengan jariku. Hanya melingkari telapak tanganku, seperti cangkir yang menampung air.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas.

Ia juga tidak bergerak. Ia menatap laut. Rahangnya mengeras sedikit. Telinganya, di bawah cahaya bulan, aku tidak bisa melihat warnanya, tapi aku tahu pasti merah.

“Aku nggak tahu ini apa,” katanya lagi. Pelan. Ke laut. “Aku cuma nggak mau lepas dulu.”

Aku menatap tangan kami.

Lalu, pelan sekali, aku menggerakkan jari-jariku. Membuka genggamannya yang longgar itu sedikit. Menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya.

Bertaut.

Ia menahan napas. Aku mendengarnya. Napas yang tertahan, lalu keluar pelan, panjang, seperti orang yang baru meletakkan karung beras setelah memikulnya terlalu lama.

Jari-jarinya mengencang di sela-sela jari-jariku. Tidak kuat. Tapi tidak longgar lagi.

Kami berjalan lagi.


Kami berjalan menyusuri pantai dengan tangan bertaut, sandal tergantung di tangan yang lain. Ombak menyentuh kaki kami. Bulan mengikuti di atas laut.

Kami tidak bicara selama hampir lima menit. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Aku memikirkan semuanya sekaligus dan tidak memikirkan apa pun.

Lalu, di dekat batu karang besar yang menjorok ke laut, ia berhenti.

“Aluna.”

Aku membeku.

Aluna.

Bukan Luna. Bukan nama yang dipakai semua orang, nama yang ia ucapkan di ambang pintu Ruang Bromo dengan senyum yang sama untuk semua orang. Aluna. Nama utuh. Setiap suku kata diberi tempat. Seperti pagi MOS. Seperti di koridor sekolah. Seperti di telepon jam satu pagi waktu kelas sepuluh. Seperti di bawah pohon ketapang.

Delapan tahun, dan ia tidak pernah memanggilku begitu lagi.

Sampai sekarang.

Aku menoleh perlahan. Ia sedang menatapku. Di bawah cahaya bulan, wajahnya setengah terang, setengah gelap. Matanya tidak menyipit, tidak membesar. Hanya menatap. Seperti orang yang baru menyadari ia mengucapkan sesuatu yang tidak ia rencanakan.

“Kamu manggil aku Aluna,” kataku. Suaraku pecah di tengah.

Ia diam satu detik. Dua.

“Iya,” katanya. “Kayaknya iya.”

“Kamu nggak pernah manggil aku gitu lagi. Dari pertama ketemu di Bromo.”

“Aku tahu.” Ia menatap tangan kami yang bertaut. “Aku sengaja. Waktu di Bromo. Aku sengaja manggil Luna. Kayak orang lain manggil kamu. Karena aku pikir...” Ia berhenti. “Aku pikir aku bukan lagi orang yang berhak manggil kamu Aluna.”

“Terus sekarang?”

“Sekarang aku nggak sengaja.” Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Keluar sendiri.”

Aku menangis.

Aku tidak bisa menahannya. Air mataku jatuh begitu saja, tanpa suara, tanpa isak. Hanya jatuh, satu-satu, di pipiku yang diterpa angin laut.

Ia melihatnya. Wajahnya langsung berubah. Panik. “Maaf, aku nggak—kalau kamu nggak mau aku manggil—”

“Bukan.” Aku menggeleng. Aku tertawa di tengah tangis, tawa yang basah dan pecah. “Bukan itu. Aku... aku seneng. Aku seneng banget, Anggana.”

Ia menatapku lama. Lalu, pelan, ia mengangkat tangannya yang tidak memegang sandal, dan menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Sekali. Pelan. Seperti menghapus debu dari permukaan sesuatu yang berharga.


Kami duduk di atas batu karang besar itu. Kaki kami menggantung di atas air. Ombak memukul batu di bawah kami, memercik sedikit ke ujung kaki.

Tangan kami masih bertaut.

Aku menatap laut. Bulan. Jalan perak di atas air.

Dan aku merasakan kebenaran itu naik ke tenggorokanku.

Semuanya. Om Gunawan. Bank. Rumah yang dilelang. Pintu ruang wali kelas. Satu dari kami harus kerja. Bastian. SPP. Memo kuning yang sekarang ada di balik casing HP di saku celanaku, sepuluh senti dari tangan kami yang bertaut. Surat di laci meja di Depok. Dua ratus delapan puluh delapan karet merah. Mbak Jumat.

Laki-laki kayak Angga itu bukan orang yang harus dilindungi dari kebenaran, Nduk.

Ini saatnya. Di bawah bulan. Di atas batu karang. Dengan tangannya di tanganku dan nama utuhku di bibirnya. Kalau tidak sekarang, kapan?

Aku membuka mulut.

“Anggana.”

“Hm?”

“Ada yang harus aku ceritain.” Suaraku gemetar. “Soal kelas tiga. Soal kenapa aku—”

Aku berhenti.

Aku membayangkan wajahnya. Di bawah bulan ini, di atas batu ini. Aku membayangkan ia mendengar semuanya. Mendengar bahwa penolakanku delapan tahun lalu bukan karena ia tidak cukup, tapi karena aku memutuskan untuknya. Bahwa ia menangis dengan keran menyala karena keputusan yang kubuat tanpa bertanya.

Aku membayangkan genggaman tangannya melonggar.

Aku membayangkan ia menatapku, bukan dengan mata yang barusan memanggilku Aluna, tapi dengan mata orang yang baru tahu bahwa ia dibohongi selama delapan tahun.

Aku membayangkan senyum yang sama untuk semua orang.

Aku tidak sanggup. Tidak malam ini. Tidak dengan tangannya di tanganku untuk pertama kalinya tanpa alasan.

“Kenapa aku apa?” tanyanya pelan.

Aku menunduk. Aku menggigit bibir bawah.

Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh.

Lalu ia mengencangkan genggaman tangannya sedikit.

“Nggak usah sekarang,” katanya, “kalau kamu belum siap.”

Aku mengangkat kepala. Menatapnya.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuat dadaku sakit dengan cara yang berbeda. Kelegaan. Kecil, sangat kecil, tapi ada. Seperti orang yang baru diberi tahu bahwa ujian yang ia takuti ditunda.

Ia tidak mau tahu. Atau ia takut tahu. Sama seperti aku takut bercerita.

Aku tidak menyadarinya waktu itu. Aku baru menyadarinya berminggu-minggu kemudian, waktu semuanya sudah runtuh: bahwa di atas batu karang di Labuan Bajo malam itu, dua orang yang sama-sama takut membuat kesepakatan diam-diam untuk tidak bicara. Dan kami menyebutnya kesabaran.

“Nanti,” kataku. “Setelah IC. Setelah term sheet beres. Aku janji.”

“Oke.”

Ia mengangguk. Lalu menatap laut lagi.

Kami diam beberapa saat. Ombak memukul batu karang. Bulan naik sedikit lebih tinggi.

“Anggana,” kataku, mencoba suara yang lebih ringan. “Aku boleh nanya satu hal?”

“Boleh.”

“cadangan-svc.” Aku menatapnya dari samping. “Kamu belum jawab.”

Ia diam. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat. Lebih tinggi dari biasanya. Lebih tinggi dari senyum yang sama untuk semua orang. Ia menoleh padaku dengan mata yang menyipit sedikit, mata yang jahil, mata yang tidak pernah kulihat sejak kelas sebelas.

“Nanti,” katanya. “Kalau kamu udah siap dengar jawabannya.”

Aku menatapnya. Lalu tertawa. Tawa yang keras, tidak tertahan, yang membuat kepalaku miring ke kiri dan seekor burung laut di batu sebelah terbang kaget.

Itu kalimatku. Kalimat yang kuucapkan di ruang Rinjani waktu ia bertanya kenapa. Dan sekarang ia mengembalikannya padaku, di atas batu karang, di bawah bulan, dengan senyum yang bukan untuk semua orang.

“Curang,” kataku.

“Kamu yang mulai.”


Kami kembali ke hotel jam sebelas lewat sepuluh. Tangan kami bertaut sepanjang jalan. Di pasir. Di tangga kecil dari pantai ke jalan. Di jalan beraspal yang sepi. Di lobi hotel yang kosong, di depan resepsionis yang mengantuk dan langsung terbangun waktu melihat kami.

Di depan pintu kamarku, di koridor lantai dua, ia berhenti.

Ia tidak melepas tanganku. Ia menatap tangan kami. Lama.

“Ini kali kedua,” katanya pelan.

“Apa?”

“Aku megang tangan kamu.” Ia mengangkat tangan kami sedikit, menatapnya di bawah lampu koridor yang kuning. “Yang pertama di gang banjir. Karena ada lubang.”

“Terus yang ini?”

Ia diam. Lalu ia menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak halo, Luna, matanya tidak menyembunyikan apa-apa. Tidak sopan. Tidak rapi. Tidak sama untuk semua orang.

“Yang ini sengaja,” katanya.

Lalu ia melepas tanganku. Pelan. Jari-jarinya meluncur dari sela-sela jari-jariku, satu per satu.

“Selamat malam, Aluna.”

“Selamat malam, Anggana.”

Ia berjalan ke kamarnya di ujung koridor. Ia tidak menoleh. Tapi di depan pintu kamarnya, waktu ia mengeluarkan kunci kartu dari saku, aku melihat tangannya, tangan yang tadi menggenggam tanganku, mengepal pelan. Lalu membuka. Lalu mengepal lagi.

Seperti waktu di mobil, setelah gang banjir.

Seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang baru saja dipegangnya.

Pintu kamarnya tertutup.

Aku masuk ke kamarku sendiri, menutup pintu, bersandar di baliknya, dan merosot pelan-pelan sampai duduk di lantai.

Di HP-ku, ada tiga puluh dua pesan dari Tiara. Aku tidak membukanya.

Aku menatap tangan kananku. Tangan yang tadi bertaut dengan tangannya.

Lalu aku mengeluarkan HP, melepas casing-nya, dan menatap memo kuning yang terlipat empat di baliknya.

Saya akan membalas. Janji.

Nanti, kataku pada memo itu. Setelah IC. Aku janji.

Aku tidak tahu bahwa janji yang ditunda adalah janji yang paling mudah diingkari. Bukan karena orang yang berjanji berbohong. Tapi karena dunia tidak selalu menunggu sampai kita siap.