← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Seven

Anggana Bertanya

POV: Anggana

Pak Hardi membuka gerbang sekolah jam setengah delapan malam, sendiri, dengan kunci yang ia keluarkan dari saku kemeja batiknya.

Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menatapku di bawah lampu jalan, menatap kerahku yang miring, dan mengangguk pelan seperti guru yang melihat muridnya datang untuk ujian ulang.

“Lampu lab Biologi saya nyalain satu,” katanya. “Yang di teras belakang. Biar nggak gelap banget.”

“Makasih, Pak.”

“Satpam saya suruh jaga di depan aja. Nggak bakal ke belakang.” Ia menyerahkan kunci gerbang padaku. “Kalau udah selesai, kunci lagi. Kuncinya titip ke Dara besok.”

Aku menerima kunci itu. Pak Hardi berbalik untuk pergi. Lalu ia berhenti.

“Anggana.”

“Iya, Pak.”

“Delapan tahun lalu, waktu saya dateng ke gerobak ibumu jam lima pagi buat ngasih tahu soal beasiswa ITB,” katanya tanpa menoleh, “ibumu cerita sesuatu. Katanya, seminggu sebelumnya, kamu pulang, makan malam, cuci piring, terus lama banget di kamar mandi. Keran nyala terus. Ibumu nggak tahu kenapa, tapi dia tahu itu bukan mandi biasa.”

Aku membeku.

“Saya nggak pernah tanya kamu soal itu,” kata Pak Hardi. “Saya guru Fisika. Saya cuma ngerti hal-hal yang bisa diukur.” Ia menoleh sedikit. “Tapi saya ngerti satu hal yang nggak bisa diukur. Kadang, orang yang paling pinter di kelas justru orang yang paling lama belajar nanya.”

Lalu ia pergi.


Bangku belakang lab Biologi masih di tempat yang sama.

Bangku semen panjang, catnya sudah dicat ulang dari abu-abu menjadi hijau muda, tapi retakannya masih sama, di ujung kiri, tempat dulu aku duduk dan menunggu tanganku berhenti gemetar selama sebelas menit. Pohon ketapang di atasnya lebih besar, dahannya lebih lebar. Lampu teras lab yang dinyalakan Pak Hardi menerangi bangku itu dengan cahaya kuning yang lembut.

Dan di sekitar kaki bangku, tidak disapu, menumpuk seperti karpet yang tidak rata, daun-daun ketapang. Merah. Cokelat. Kuning. Lebar-lebar.

Pak Hardi menepati janjinya.

Aku duduk di ujung kiri bangku, di atas retakan. Aku menatap daun-daun di kakiku. Delapan tahun lalu, di tempat ini, aku menunggu dengan versi keempat dari kalimat yang kuhafalkan sambil membungkus nasi uduk. Malam ini aku tidak menghafalkan apa-apa.

Aku hanya punya pertanyaan. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku berniat menanyakan semuanya.

Langkah kaki di atas daun kering.

Aku menoleh.


Ia berjalan dari sudut gedung lab, persis seperti delapan tahun lalu. Tapi kali ini tidak ada matahari sore jam tiga yang menembus celah daun ketapang. Kali ini hanya ada lampu teras kuning dan bulan yang sepotong di atas atap gedung.

Ia memakai kemeja linen putih longgar yang ia pakai di Labuan Bajo dan celana jins. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, ujung-ujungnya yang bergelombang tidak rata bergerak pelan karena angin malam. Tanpa riasan. Tanpa lipstik. Di bawah matanya ada bayangan gelap yang belum hilang dari minggu-minggu terakhir. Tulang pipinya terlihat lebih tajam dari sebulan lalu, seperti ia kehilangan berat badan lagi.

Ia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Dan di bawah lampu teras kuning, di antara daun-daun ketapang yang tidak disapu, ia terlihat seperti gadis lima belas tahun yang menoleh di dekat gerbang dan perempuan dua puluh enam tahun yang menangis di lorong rumah sakit, sekaligus.

Ia berhenti dua langkah dariku. Tidak duduk. Persis seperti delapan tahun lalu.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Ia memeluk tasnya di depan dada. Matanya menatapku, lalu ke tanah, lalu ke daun-daun ketapang, lalu kembali padaku.

“Duduk,” kataku. “Tolong.”

Ia menatapku. Kata itu. Tolong. Aku melihat ia menyadarinya.

Ia duduk. Di ujung kanan bangku. Ada jarak satu orang di antara kami.


Kami diam lama.

Di kejauhan, bunyi lalu lintas di jalan raya. Di atas, daun ketapang bergemerisik. Satu daun jatuh, berputar pelan, mendarat di antara kami di atas bangku semen.

“Aku mau nanya,” kataku akhirnya.

“Iya.”

“Dan kamu harus jawab. Semuanya. Nggak ada nanti. Nggak ada belum siap.” Aku menatap daun di antara kami. “Aku juga nggak bakal bilang nggak usah sekarang kalau kamu belum siap. Aku udah terlalu sering bilang gitu. Itu bukan sabar. Itu aku takut.”

Ia menatapku. “Kamu takut?”

“Iya.” Aku menelan ludah. “Di batu karang di Labuan Bajo, waktu kamu berhenti di tengah cerita, aku lega. Aku lega kamu berhenti. Aku nggak sadar waktu itu, tapi aku lega.” Aku menatapnya. “Delapan tahun aku nggak nanya, bukan karena aku menghormati keputusan kamu. Karena aku takut jawabannya. Karena kalau aku tahu, aku harus mikul apa pun yang aku denger. Dan aku udah mikul terlalu banyak hal seumur hidup. Aku nggak mau mikul satu lagi.”

Aluna menutup mulut dengan tangan.

“Itu yang pertama,” kataku. “Aku juga mutusin sesuatu buat kamu. Aku mutusin kamu nggak perlu ditanya. Aku mutusin kamu nggak perlu tahu aku ke Bandung karena Ibu sama Dara. Aku mutusin senyum ke kamu pakai senyum yang itu, minggu lalu, biar kamu nggak bisa nyentuh aku.” Aku menatap tanganku sendiri. “Dara bilang kita berdua sama. Dara bener.”


Lalu aku bertanya.

Aku bertanya semuanya. Satu per satu. Seperti membaca log server dari baris pertama, tidak melompat, tidak menebak.

“Kapan kamu tahu papamu bangkrut?”

“Juli. Di Kyoto. Papa terima telepon di lobi hotel. Resminya empat September.”

“Kenapa kamu berhenti benerin kerahku di kelas tiga?”

“Karena tiap pagi aku dijemput ke kantor pengacara, atau ke bank, atau aku nggak bisa tidur sampai subuh. Dan karena aku takut kalau aku nyentuh kamu, aku bakal cerita semuanya.”

“Telepon di tangga darurat?”

“Mama. Tiap hari. Nanya aku udah tanda tangan dokumen yang mana.”

“Bastian?”

“Anak pengacara Papa. Kayak kakak. Nggak pernah apa-apa. Sekarang udah nikah, istrinya hamil anak kedua.”

“Waktu aku bilang Bastian?, kenapa kamu diem?”

Ia menatapku. Matanya basah.

“Karena aku tahu kamu nggak bakal ngerebut sesuatu dari orang lain,” katanya. “Kalau kamu pikir aku punya seseorang, kamu bakal mundur. Kamu bakal senyum, bilang makasih, terus pergi. Dan kamu ngelakuin persis itu.”

Aku memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya.

“Kamu denger aku di ruang wali kelas?”

“Iya. Aku yang lari di koridor.”

“Kenapa kamu nolak aku?”

Ia menarik napas panjang. Lalu ia menjawab. Tidak membela diri. Tidak menambahkan alasan. Hanya menjawab.

“Karena aku takut kamu nggak bakal ke Bandung. Karena aku takut kamu bakal mikul aku sama keluargaku di atas keluargamu sendiri. Karena aku pikir aku tahu apa yang terbaik buat kamu, lebih dari kamu sendiri.” Suaranya pecah. “Dan aku salah. Bukan cuma soal Bandung. Aku salah karena aku nggak nanya kamu. Aku nggak pernah kasih kamu kesempatan buat bilang aku mau mikul, atau aku nggak mau. Aku ambil pilihannya dari tangan kamu.”

“SPP?”

“Tabungan kamera. Dari angpao sejak SD.” Ia tersenyum, basah. “Aku nggak pernah beli kamera.”

“Memo kuning?”

Ia merogoh tasnya. Mengeluarkan HP. Melepas casing-nya dengan tangan yang gemetar, tapi lebih stabil dari Kamis minggu lalu. Mengeluarkan kertas kuning yang terlipat empat, lembek seperti kain, dengan noda bulat kecil di tintanya.

Ia menyodorkannya padaku.

Kali ini aku mengambilnya.

Aku membuka lipatannya di bawah lampu teras kuning. Tulisan tanganku sendiri. Miring dan tidak stabil. Saya akan membalas. Janji.

Ada noda bulat kecil di kata janji. Seperti tetes air yang sudah lama kering.

“Ini air mata siapa?” tanyaku pelan.

“Punyaku. Kamis minggu lalu. Di teras.”

Aku menatap noda itu lama. Lalu melipat memo itu kembali, pelan, mengikuti lipatan lamanya, dan memegangnya di telapak tangan.

“Nasi uduk tiap Jumat?”

“Lima tahun. Akun namanya Jumat. Ibu nambahin kerupuk satu. Aku kirim karet merah baru tiap habis Lebaran.” Ia tertawa kecil, di tengah tangis. “Dua ratus delapan puluh delapan karet. Di laci meja kantor. Sekarang dua ratus sembilan puluh. Dua Jumat terakhir aku tetap pesan. Ibu tetap nambahin kerupuk.”

Aku tidak bisa bicara.

Ibu tetap menambahkan kerupuk. Bahkan setelah aku membentaknya dengan suara pelan di dapur. Bahkan setelah Kamis malam. Ibu ndak pernah cerita, tapi Ibu juga ndak pernah lupa.

“Kenapa kamu bohong soal semester dua?”

Ia menunduk. Lama.

“Karena aku pengecut,” katanya. “Karena kamu baru aja megang tanganku di ruang tunggu, dan bilang kamu ngerasa ada tahun-tahun yang hilang, dan aku takut kalau aku cerita, kamu bakal ngelepas tanganku.” Ia mengangkat kepala. “Itu bukan alasan. Itu cuma kenyataan. Aku pengecut. Aku bohong ke kamu sambil megang tangan kamu. Itu hal paling jelek yang pernah aku lakuin, lebih jelek dari pohon ketapang. Karena pohon ketapang aku lakuin karena aku pikir aku ngelindungin kamu. Semester dua aku lakuin buat ngelindungin diri sendiri.”

Aku menatapnya. Ia tidak memalingkan wajah.

Lalu ia menarik napas, dan berkata sesuatu yang tidak kutanyakan.

“Aku dapet tawaran ke Singapura.”


Aku diam.

“Marcella,” katanya. “Sagara Singapura. Senior Associate. Tim Retail Asia Tenggara. Gajinya hampir dua kali lipat. Surat peringatanku nggak ikut. Berangkat dua minggu lagi.” Ia menatap daun di antara kami. “Marcella minta jawaban hari Senin.”

Senin. Tiga hari.

“Hari Rabu aku hampir bilang iya,” lanjutnya. “Aku udah ngetik emailnya. Terima kasih atas tawarannya, saya menerima. Aku berhenti di tengah. Tapi aku hampir.” Ia menelan ludah. “Karena aku pikir, kalau aku pergi, kamu bakal tenang. Kamu nggak perlu liat aku lagi. Kamu nggak perlu senyum pakai senyum itu tiap kali ketemu aku.”

Aku menatapnya.

“Dara yang ngehalangin aku,” katanya. “Di peron Sudirman. Dia bilang aku mau ngulang. Mutusin sendiri lagi. Lebih baik aku pergi biar dia tenang. Persis kalimat yang sama kayak delapan tahun lalu.” Ia tersenyum, sedih. “Dara bener. Dara selalu bener soal kamu.”

“Terus?”

“Terus aku nggak kirim emailnya.” Ia mengangkat kepala dan menatapku lurus. “Aku dateng ke sini buat bilang ke kamu. Di depan muka kamu. Aku dapet tawaran ke Singapura, dan aku belum jawab. Aku nggak mau mutusin ini tanpa kamu tahu. Aku nggak minta kamu nyuruh aku tinggal. Aku nggak minta kamu nyuruh aku pergi. Aku cuma mau kamu tahu, dan aku mau kamu ngomong apa yang kamu mau. Apa pun.” Suaranya bergetar. “Biar kamu yang milih kali ini. Atau setidaknya, biar kamu punya suara.”

Aku menatapnya lama.

Delapan tahun lalu, di bangku ini, ia memutuskan untukku tanpa memberiku suara. Malam ini, di bangku yang sama, ia memberiku suara itu. Di tangannya. Diulurkan padaku seperti bungkusan nasi uduk di pagi MOS.

“Kamu mau ke Singapura?” tanyaku.

Ia menggeleng pelan. “Itu bukan pertanyaan yang aku mau kamu tanya.”

“Aku tetap tanya.”

Ia diam. Lalu, jujur: “Sebagian dari aku mau. Gajinya. Papa. Cicilan rumah. Oven kedua buat Mama. Itu bukan hal kecil, Anggana.” Ia menarik napas. “Tapi sebagian besar dari aku nggak mau. Karena semua yang aku mau ada di sini. Papa. Mama. Tiara. Dapur Ibu jam empat pagi. Dan kamu.”

Aku menunduk. Menatap memo kuning di telapak tanganku.

Lalu aku mengatakan apa yang kumau. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, tanpa menyesuaikan dengan apa yang orang lain butuhkan, tanpa menimbang apa yang terbaik untuk semua orang kecuali diriku sendiri.

“Aku nggak mau kamu pergi.”

Ia menatapku. Matanya membesar.

“Aku nggak mau kamu pergi,” ulangku. Suaraku pelan, tapi tidak bergetar. “Itu yang aku mau. Itu egois. Aku tahu Singapura bagus buat kamu. Aku tahu gajinya. Aku tahu Papa dan cicilan rumah. Tapi kamu nanya aku mau apa, dan itu yang aku mau. Aku nggak mau kamu pergi.”

Air matanya jatuh.

“Tapi,” kataku, dan ia menahan napas. “Kalau kamu pergi karena kamu mau, karena itu mimpimu, karena kamu pengen jadi Senior Associate di Singapura dan bikin deal yang namanya nggak bisa dihapus siapa pun, aku tunggu. Aku bakal terbang tiap minggu kalau perlu. Flie punya kantor di sana sekarang. Aku punya alasan.” Aku menatapnya. “Tapi kalau kamu pergi biar aku tenang, jangan. Aku nggak bakal tenang. Aku udah delapan tahun nggak tenang tanpa tahu kenapa. Aku nggak mau ngulang tanpa kamu di dekatku, padahal aku tahu kenapa.”

Ia menangis. Tanpa suara. Air matanya jatuh ke kemeja linen putihnya, ke tangannya di pangkuan, ke daun ketapang di bawah kakinya.

“Itu jawabanku,” kataku. “Keputusannya tetap punya kamu. Aku cuma mau kamu tahu.”


Kami diam lama setelah itu.

Lalu, pelan-pelan, ia menggeser duduknya. Melewati jarak satu orang di antara kami. Sampai bahunya menyentuh bahuku.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya duduk di sana, bahunya di bahuku, menatap daun-daun ketapang yang tidak disapu.

“Anggana,” katanya akhirnya.

“Hm.”

“Aku mau janji sesuatu.”

“Iya.”

“Aku nggak akan mutusin buat kamu lagi.” Suaranya pelan, tapi jelas. Setiap kata diberi tempat. “Apa pun. Soal apa pun. Bahkan kalau aku takut. Bahkan kalau aku pikir aku tahu yang terbaik. Aku bakal tanya kamu dulu. Aku bakal kasih tahu kamu dulu. Bahkan kalau jawabannya bikin aku takut setengah mati.”

Aku menatap tangannya di pangkuan. Lalu aku mengulurkan tanganku dan menggenggamnya.

“Aku juga mau janji,” kataku.

Ia menoleh.

“Aku bakal nanya.” Aku mengencangkan genggamanku. “Apa pun yang aku pengen tahu. Bahkan kalau aku takut sama jawabannya. Aku nggak bakal bilang nggak usah sekarang. Aku nggak bakal nerima aja terus senyum terus pergi. Kalau ada yang aneh, aku tanya. Kalau aku marah, aku bilang. Kalau aku butuh sesuatu, aku minta.” Aku menatapnya. “Dara udah ngitung. Aku baru minta tolong dua kali seumur hidup. Penghapus sama gerbang sekolah ini.”

Ia tertawa. Basah. Kepalanya miring ke kiri.

“Target semester ini sepuluh,” katanya.

“Aku tahu. Aku udah baca bukunya.”

Ia membeku. “Dara nunjukin?”

“Di proyektor. Di dinding dapur. Ibu nangis.”

Ia menutup wajahnya dengan tangan yang tidak kugenggam dan tertawa sampai bahunya berguncang, dan tertawanya menular padaku, dan untuk beberapa detik, di bangku belakang lab Biologi di bawah pohon ketapang di malam hari, kami tertawa bersama seperti dua anak SMA yang baru selesai ujian.


Ponselku bergetar di saku. Aku mengabaikannya. Bergetar lagi. Aku mengeluarkannya, berniat mematikannya.

Jovan: Bro. Gue cuma mau bilang. Tim forensik udah kirim laporan final. Trivio ngaku. Pengacara mereka nawarin penyelesaian di luar pengadilan. CEO-nya minta ketemu lo minggu depan buat minta maaf langsung. Halcyon ganti Mr. Koh. Seri C kita bersih total. Udah. Gue nggak ganggu. Lanjut.

Jovan: Btw Dara bilang lo di sekolah. Gue nggak nanya kenapa. Gue cuma pasang taruhan baru.

Jovan: Jangan buka grup.

Aku menunjukkan layar itu ke Aluna. Ia membacanya, lalu tertawa lagi.

“Seri C kamu bersih,” katanya.

“Karena kamu.”

“Karena kamu. Kamu yang ngelawan delapan belas juta serangan.”

“Kamu yang nemuin empat belas tiga. Kamu yang ngasih tahu soal skenario integrasi. Kamu yang kehilangan namamu di dokumen biar deal-nya bersih.” Aku menatapnya. “Marcella nelepon aku hari Senin. Dia bilang refleks bisa dibaca sebagai integritas.”

Ia menatapku lama. Lalu menunduk dan tersenyum ke tangan kami yang bergenggaman.


Jam sembilan lewat empat puluh, kami berdiri.

Aku mengunci gerbang sekolah dengan kunci yang dititipkan Pak Hardi. Daun-daun ketapang menempel di sol sepatu kami. Di jalan di depan sekolah, lampu jalan menyala kuning, dan angin malam meniup rambutnya ke wajahnya.

Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan dua jari. Gerakan yang sama seperti pagi MOS, sebelas tahun lalu.

“Anggana,” katanya.

“Hm.”

“Kamu belum nanya satu hal.”

Aku menatapnya. Aku tahu satu hal yang ia maksud. Pertanyaan yang kuajukan di ruang Rinjani, sembilan minggu lalu, waktu ia bilang aku lagi ngejar kamu, by the way.

Kenapa?

Dan ia menjawab: Nanti. Kalau kamu udah siap dengar jawabannya.

“Kenapa kamu ngejar aku?” tanyaku.

Ia tersenyum. Lalu ia menggeleng pelan.

“Bukan nanti,” katanya cepat, sebelum aku sempat salah paham. “Bukan nanti yang kayak dulu. Aku mau jawab. Malam ini juga bisa.” Ia menarik napas. “Tapi ada satu tempat yang lebih pantes buat jawaban itu. Tempat semuanya mulai. Bukan di sini. Di sini tempat aku nolak kamu.”

“Lapak,” kataku.

“Jam empat pagi.” Ia menatap jam tangannya, jam tangan kecil dengan tali kulit yang retak di bagian gesper. “Enam jam lagi. Kurang. Itu bukan nanti. Itu besok pagi.”

Aku menatapnya lama.

“Enam jam,” kataku. “Aku bisa.”

“Kamu yakin?”

“Aku udah nunggu delapan tahun.” Aku tersenyum. Bukan senyum untuk semua orang. “Enam jam itu kayak antrean di depan lapak. Pakde Sarno nunggu lebih lama dari itu tiap pagi.”

Ia tertawa.

Aku mengantarnya ke Depok. Kami tidak banyak bicara di mobil. Tangannya di atas pahanya, tanganku di atas setir, dan di lampu merah di Pasar Minggu, tanpa bicara, ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tanganku di setir. Aku membalik tanganku. Menggenggamnya. Lampu hijau. Aku menyetir dengan satu tangan sampai Margonda.

Di depan pagar hijau, sebelum ia turun, ia membuka laci dasbor.

Empat sticky note kuning. Uang sepuluh ribu dilipat dua. Tisu dengan bekas samar mawar tua.

Ia menatapnya. Lalu, dari saku kemejanya, ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di atas tumpukan itu.

Sticky note kuning yang baru. Ditulis dengan tulisan tangan miring ke kanan.

Kerah hari ini: 80 derajat. Rekor baru. Besok jam empat aku benerin. — A.

Ia menutup laci dasbor. Lalu turun dari mobil, membuka pagar, dan menoleh di ambang pintu.

“Jam empat,” katanya.

“Jam empat.”

Pintu tertutup.

Aku duduk di mobil di depan pagar hijau. Di jendela ruang tamu yang gelap, gorden bergerak. Siluet Pak Hendra di kursi rodanya.

Ia mengangkat tangan kanannya. Melambai pelan.

Aku membalas lambaiannya.

Lalu aku menyetir pulang, dengan memo kuning di saku kemejaku, di tempat sticky note-sticky note itu dulu kusimpan sebelum memindahkannya ke laci dasbor. Aku tidak memindahkannya ke laci. Aku membiarkannya di saku. Di dekat dada.

Di rumah, Ibu masih bangun. Ia duduk di meja marmer dengan secangkir teh, menungguku. Ia menatap wajahku waktu aku masuk.

Aku tidak tersenyum dengan senyum untuk semua orang.

Aku berjalan ke Ibu, membungkuk, dan memeluknya. Lama. Seperti Bapak berdiri di depan pintu rumah Kakek di hari keempat.

“Bu,” kataku di bahunya. “Aku marah. Tapi aku lebih takut kehilangan Ibu daripada aku marah.”

Ibu menangis. Aku juga.

“Besok jam empat,” kataku setelah lama. “Aluna dateng.”

Ibu menghapus air matanya dengan ujung daster dan tersenyum. Senyum yang tenang dan penuh pengetahuan, yang sudah lama menunggu.

“Ibu tahu, Le,” katanya. “Ibu udah rendem berasnya.”