← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Forty Eight

Extra 7: Dua Garis

POV: Aluna

Jam tiga lewat dua belas pagi, aku duduk di lantai kamar mandi lantai dua dengan sebatang plastik putih kecil di tangan.

Dua garis.

Aku menatapnya. Aku menatapnya lagi. Aku memejamkan mata, menghitung sampai sepuluh, membuka mata, dan menatapnya lagi.

Masih dua garis.

Garis pertama tegas, merah muda tua, seperti karet merah yang baru. Garis kedua lebih samar, lebih pucat, seperti karet merah yang sudah lama di laci meja kantor. Tapi ada. Jelas ada. Aku memiringkannya ke arah lampu. Aku membaca petunjuk di kotaknya untuk keempat kalinya. Dua garis, meskipun samar: positif.

Aku sudah terlambat sebelas hari. Aku tidak pernah terlambat. Delapan tahun naik KRL jam enam pagi membuat tubuhku berjalan seperti jadwal kereta: kadang gangguan, tapi selalu sampai. Tiga hari lalu aku mulai mual waktu mencium wangi santan di dapur jam empat pagi, padahal wangi santan adalah wangi favoritku di seluruh dunia. Kemarin aku menangis di kantor karena Tiara membawa kue lumpur dan rasanya terlalu mirip buatan Mama.

Aku membeli tiga alat tes di apotek dekat Stasiun Sudirman kemarin sore. Aku menyembunyikannya di tas, di balik laptop, di samping buku biru. Aku menunggu sampai jam tiga pagi, karena kotak alat tes itu bilang hasil paling akurat di pagi hari, dan karena jam tiga pagi adalah satu-satunya jam di rumah ini di mana tidak ada yang bangun.

Kecuali aku, setiap hari, jam tiga lewat dua puluh. Untuk memotong daun pisang.

Aku memakai alat tes yang kedua. Dua garis.

Yang ketiga. Dua garis.

Aku meletakkan ketiganya berjejer di lantai kamar mandi. Enam garis.

Lalu aku menyalakan keran bak mandi. Sekencang-kencangnya.

Bukan untuk menyembunyikan tangis. Aku tidak sedih. Aku menyalakannya karena tanganku gemetar dan aku butuh sesuatu untuk dilakukan, dan karena Dara bilang keran emang enak buat nangis, dan karena aku memang menangis. Bukan tangisan yang tersedu-sedu. Tangisan yang keluar bersama tawa, yang membuat bahuku berguncang dan napasku tersendat, yang membuatku menutup mulut dengan dua tangan di lantai kamar mandi yang dingin sementara air mengalir deras ke bak mandi.

Aku menangis dan tertawa sampai bak mandinya penuh dan meluber ke lantai dan membasahi celana tidurku.


Lalu aku mematikan keran. Aku mengelap wajahku dengan handuk. Aku menatap pantulanku di cermin.

Rambut berantakan. Mata merah. Pipi basah. Kaus HMIF yang sekarang ada noda air di ujungnya.

Dan aku memikirkan sesuatu.

Sebelas tahun lalu, aku memutuskan sesuatu sendirian di tangga darurat sekolah. Aku menyimpannya delapan tahun. Aku menundanya dengan nanti sampai ia mendengarnya dari orang lain.

Aku tidak akan melakukan itu lagi. Tidak untuk apa pun. Terutama tidak untuk ini.

Bukan nanti. Bukan setelah ke dokter. Bukan setelah yakin. Bukan setelah menemukan cara yang sempurna.

Hari ini. Pagi ini. Sebelum siapa pun.

Ia yang pertama tahu.


Jam tiga lewat dua puluh lima, aku turun ke dapur.

Ibu belum bangun. Lampu dapur masih mati. Aku menyalakannya, mengambil dandang, mengisinya dengan air, dan mulai menyiapkan semuanya seperti biasa. Daun pisang dilayukan di atas api. Beras yang sudah direndam semalam dicuci.

Wangi santan mulai naik dari dandang. Perutku bergejolak. Aku menahan napas dan membuka jendela dapur.

Ibu turun jam tiga lewat empat puluh. Ia melihatku berdiri di depan jendela yang terbuka dengan wajah pucat dan tangan di perut.

Ia berhenti di ujung tangga. Ia menatapku lama. Matanya menyipit, lalu membesar.

Aku menggeleng pelan ke arahnya. Sangat pelan. Belum.

Ibu menatapku. Lalu, tanpa bicara, ia berjalan ke kompor, mengambil alih dandang santan dari tanganku, dan menunjuk kursi plastik di depan meja marmer, di sudut yang paling jauh dari kompor.

“Kamu motong daun aja, Nduk,” katanya pelan. “Yang jauh dari santan.”

Aku duduk. Mataku panas lagi.

Ibu tahu. Ibu selalu tahu. Ibu ndak pernah cerita, tapi Ibu juga ndak pernah lupa. Tapi kali ini Ibu tidak bertanya, karena Ibu melihat gelengan kepalaku, dan Ibu mengerti: ini bukan cerita untuk Ibu dengar pertama.


Aku membungkus satu nasi uduk khusus.

Daun pisang yang paling lebar, paling hijau, paling mengilap. Nasi tiga perempat centong, agak ke bawah. Telur balado yang paling bulat, yang kupilih dari piring dengan sangat hati-hati seperti Ibu dulu memilihkan telur untuk pelanggan baru di hari ketiga MOS. Sambal kacang dipisah dalam plastik kecil.

Lalu, sebelum melipat, aku menyelipkan selembar sticky note kuning di dalam, di atas telur, terlipat dua.

Aku melipat. Kiri. Kanan. Bawah. Atas.

Lalu aku mengikatnya.

Bukan dengan satu karet merah. Dengan dua. Bersilang. Seperti tanda X. Seperti dua garis yang bertemu di tengah.

Ibu menatap bungkusan itu dari depan kompor. Ia tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihat tangannya, yang memegang sutil, gemetar sedikit.


Ia turun jam tiga lewat lima puluh. Terlambat sepuluh menit dari biasanya, karena semalam ia lembur sampai jam sebelas untuk peluncuran Flie di Filipina. Rambutnya berantakan. Kaus putih tipis. Kerah kaus terlipat ke dalam di satu sisi.

Ia melihatku di kursi. Ia tersenyum.

“Pagi, Sayang.”

Ia mulai memanggilku Sayang dua bulan lalu, setelah sakit. Pertama kali, aku menjatuhkan daun pisang. Ia tertawa sampai Ibu menyuruhnya diam.

“Pagi, Mas.”

Ia berjalan ke kursi di sebelahku. Aku berdiri. Aku merapikan kerah kausnya. Lipat sisi kiri keluar. Tekan dengan ibu jari. Tepuk dua kali.

“Kerahmu miring.”

“Pasti masih miring besok.”

“Aku benerin lagi.”

Ia duduk. Ia mengambil pisau pemotong daun. Lalu ia berhenti dan menatapku.

“Kamu pucet.”

“Nggak.”

“Pucet. Matamu merah.” Ia meletakkan pisau. Tangannya naik ke dahiku. “Kamu sakit?”

“Nggak, Mas.”

“Kamu nangis?”

Aku menatapnya. Aku sudah memutuskan. Bukan nanti. Bukan setelah apa pun. Tapi aku mau ia membukanya. Aku mau ia membaca sticky note itu sendiri, dengan tangannya sendiri, seperti aku dulu membaca memo kuning di ruang TU.

Aku mengambil bungkusan nasi uduk dengan dua karet merah bersilang dari pinggir meja marmer. Aku menyodorkannya dengan dua tangan.

“Sarapan dulu,” kataku. “Yang ini spesial. Buka sekarang.”

Ia menatap bungkusan itu. Lalu menatapku.

“Sekarang? Lapak belum buka.”

“Sekarang, Mas.”

Ia menerima bungkusan itu dengan dua tangan. Seperti pagi MOS, tapi terbalik. Lalu ia menatap ikatannya.

“Dua karet,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa dua?”

“Buka aja.”

Di depan kompor, Ibu berhenti mengaduk.

Dari ujung tangga, aku mendengar langkah kaki. Dara. Turun dengan piyama beruang dan papan klip, seperti setiap pagi. Ia berhenti di anak tangga ketiga, melihat suasana dapur, melihat Ibu yang membeku di depan kompor, melihat kakaknya yang memegang bungkusan nasi uduk, melihatku yang berdiri dengan tangan saling meremas.

Dara tidak bicara. Ia hanya diam di anak tangga ketiga.

Anggana membuka ikatan karet merah. Satu. Lalu yang kedua. Ia meletakkan keduanya di meja marmer, berdampingan.

Ia membuka lipatan daun pisang. Atas. Bawah. Kanan. Kiri.

Sticky note kuning, terlipat dua, di atas telur balado yang paling bulat.

Ia mengambilnya. Membukanya. Membaca.

Kerah hari ini: 0 derajat (baru aku benerin).

Mulai sekarang, yang benerin bakal ada dua.

Delapan bulan lagi.

— Aluna (dan seseorang yang belum punya nama)


Ia membeku.

Aku sudah melihatnya membeku puluhan kali. Di depan gaun merah. Di depan kemeja di tangga. Di dapur waktu aku bilang mau di sini atau di kamar. Di lift hotel. Di ruang Bromo. Aku sudah menghitungnya. Aku punya catatannya.

Tapi aku belum pernah melihatnya membeku seperti ini.

Seluruh tubuhnya berhenti. Tangannya, yang memegang sticky note kuning, tidak bergerak. Matanya menatap tulisan itu dan tidak berkedip. Bibirnya terbuka sedikit. Aku bahkan tidak yakin ia bernapas.

Lima detik.

Sepuluh.

Di depan kompor, Ibu menutup mulut dengan ujung celemek.

Di anak tangga ketiga, Dara menjatuhkan papan klipnya. Bunyi klak di lantai keramik.

Lima belas detik.

Lalu, pelan, ia mengangkat kepala. Ia menatapku.

Matanya basah. Tidak, lebih dari basah. Air matanya sudah jatuh, dua garis di pipinya, dan ia tidak menghapusnya. Ia tidak sadar.

“Aluna,” katanya. Suaranya tidak keluar dengan benar. “Ini...”

Aku mengangguk.

Aku mengeluarkan tiga batang plastik putih dari saku celana tidurku. Aku meletakkannya berjejer di meja marmer, di sebelah dua karet merah.

Enam garis.

Ia menatapnya.

“Jam tiga lewat dua belas,” kataku. Suaraku pecah. “Tadi pagi. Mas yang pertama tahu. Bukan Ibu. Bukan Dara. Bukan Tiara. Bukan dokter. Mas.” Air mataku jatuh. “Aku nggak mau nunda. Aku nggak mau bilang nanti. Aku udah janji di bangku belakang lab Biologi. Aku nggak akan mutusin apa pun buat Mas tanpa ngasih tahu Mas duluan.”

Ia menatapku.

Lalu bungkusan nasi uduk di tangannya jatuh.

Bukan ke lantai. Ke tangan Ibu, yang entah bagaimana sudah berdiri di sebelahnya, karena Ibu sudah menduga, karena Ibu selalu tahu, karena Ibu sudah menangkap jatuhnya nasi uduk selama dua puluh tahun.

Anggana berdiri.

Kursi plastiknya terdorong ke belakang dan jatuh ke lantai. Ia tidak memungutnya. Ia melangkah ke arahku. Ia mengangkat dua tangannya. Ke pinggangku.

Lalu ia berhenti.

Tangannya di pinggangku, siap mengangkat, membeku di sana.

“Dar,” katanya, tanpa menoleh, dengan suara yang panik dan basah. “Dar, ibu hamil boleh diangkat nggak?”

Dara, di anak tangga ketiga, mengeluarkan HP dari saku piyamanya dengan tangan gemetar.

“Bentar, Kak. Aku googling.”

“Cepet, Dar.”

“Bentar! Sinyalnya lemot!”

Ibu tertawa sambil menangis, memeluk bungkusan nasi uduk di dadanya.

Aku tertawa sambil menangis. Aku mengangkat kedua tanganku ke wajahnya. Aku menghapus air matanya dengan ibu jariku.

“Mas,” kataku. “Boleh. Pelan-pelan.”

Ia menatapku. Lalu ia mengangkatku. Sangat pelan. Sangat hati-hati. Seperti mengangkat radio Oma yang baru diperbaiki. Hanya beberapa senti dari lantai. Lalu ia memelukku, dengan kakiku masih tergantung di udara, dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leherku.

Aku merasakan bahunya berguncang.

Ia menangis. Bukan dengan keran menyala. Bukan di kamar mandi dengan mulut ditutup tangan. Di dapur. Di depan Ibu dan Dara. Dengan suara.

“Boleh, kata Google,” kata Dara dari tangga, suaranya bergetar. “Kalau trimester pertama, nggak ada masalah, nggak diangkat terlalu tinggi, nggak dibanting. Kak, jangan dibanting.”

“Nggak dibanting,” kata Anggana ke leherku.


Ia menurunkanku. Pelan. Lalu ia berlutut.

Di lantai dapur. Di depanku. Di antara kursi plastik yang terjatuh dan daun-daun pisang yang berserakan karena tadi tersenggol.

Ia meletakkan dua tangannya di perutku. Di atas kaus HMIF yang ada noda air di ujungnya. Pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang baru saja dibuat dan masih belum kering.

Ia menatap perutku. Lama.

Lalu ia bicara. Pelan. Ke perutku. Bukan ke aku.

“Halo,” katanya.

Ibu menangis lebih keras.

“Ini Ayah,” kata Anggana ke perutku. Suaranya pecah di tengah kata Ayah. Ia berhenti. Menarik napas. Mencoba lagi. “Ini Ayah. Ayah... Ayah nggak tahu harus ngomong apa. Ayah biasanya tahu. Ayah bisa baca delapan belas juta baris log. Tapi Ayah nggak tahu harus ngomong apa ke kamu.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Jadi Ayah bilang satu hal aja,” katanya. “Kerah Ayah miring. Selalu miring. Ibumu yang benerin tiap pagi.” Ia mengusap perutku dengan ibu jari. “Nanti kamu bantu, ya. Delapan bulan lagi. Ibumu bilang yang benerin bakal ada dua.”

Aku berlutut juga. Di depannya. Di lantai dapur. Aku memeluk kepalanya ke dadaku.

Di anak tangga ketiga, Dara duduk. Ia memeluk lututnya. Ia menangis tanpa suara, dengan HP masih di tangan, layarnya masih menampilkan artikel Bolehkah Ibu Hamil Diangkat Suami?


Jam lima lewat lima belas, lapak dibuka. Terlambat lima belas menit. Kata Ibu, ini baru kedua kalinya dalam delapan belas tahun lapak tidak buka tepat waktu. Yang pertama, pagi setelah Papa stroke kedua.

Pakde Sarno berdiri di depan antrean bersama istrinya. Ia menatap Ibu yang matanya bengkak. Menatap Dara yang matanya bengkak. Menatap Anggana yang matanya bengkak, berdiri di balik meja keramik dengan satu tangan melayani pembeli dan satu tangan tidak pernah lepas dari pinggangku.

“Ada apa, Bu Ratih?” tanya Pakde Sarno. “Kok nangis semua?”

Ibu menatapku. Aku mengangguk.

“Saya mau jadi Mbah, Sarno,” kata Ibu.

Pakde Sarno membeku. Istrinya menutup mulut dengan dua tangan.

Lalu Pakde Sarno berbalik ke antrean di belakangnya, sembilan orang, tukang ojek, ibu-ibu berdaster, mas-mas berkemeja, dan berteriak dengan suara yang tidak pernah kudengar darinya:

“BU RATIH MAU JADI MBAH!”

Antrean meledak. Tepuk tangan. Siulan. Bang Ipul si tukang ojek berjaket hijau mengangkat helmnya ke udara. Seorang ibu berdaster dengan rantang berlari ke rumahnya sendiri dan kembali dua menit kemudian dengan tiga butir telur ayam kampung, buat Mbak Luna, biar sehat, Mbak.

Pakde Sarno membeli lima bungkus hari itu. Satu untuknya. Satu untuk istrinya. Satu untuk Pak Hendra. Satu, katanya, untuk cucunya Bu Ratih, nanti kalau udah bisa makan nasi uduk. Dan satu, katanya sambil mengusap mata dengan lengan baju, buat saya lagi, soalnya saya terharu dan kalau terharu saya lapar.


Jam tujuh, kami menelepon Depok lewat video call.

Mama yang mengangkat. Ia sedang mengoles mentega di loyang di dapur kecil di Depok. Ia melihat wajahku di layar, mata bengkak, dan langsung meletakkan kuas mentega.

“Luna? Kenapa? Ada apa?”

“Ma. Papa ada?”

Mama memutar kamera. Papa duduk di kursi roda di dekat meja makan, membaca berita bisnis di HP yang disandarkan di toples kerupuk.

“Pa,” kataku. “Papa mau jadi Opa.”

Papa diam lama.

Separuh wajahnya tidak bergerak. Separuh yang lain bergerak sangat pelan, seperti tabung radio yang menyala. Matanya membesar. Lalu basah. Lalu tangan kanannya, yang gemetar, naik ke mulutnya.

“Op...a,” katanya. Pelan. Tersendat. Seperti mencoba kata itu untuk pertama kalinya. “Papa... jadi... Opa.”

“Iya, Pa.”

“Luna.” Papa menatapku di layar. Air matanya jatuh. “Anak... Papa... yang... dulu... nggak... bisa... makan... pakai... tangan.”

Aku tertawa sambil menangis. Anggana, di sebelahku, menunduk ke layar.

“Om,” katanya. “Nanti cucunya Om ajak antre nasi uduk.”

Papa menatapnya. Lalu, pelan, separuh wajahnya tersenyum.

“Antre...” katanya. “Kayak... orang... lain.”


Hari itu Anggana tidak ke kantor.

Jovan mengirim pesan jam delapan lewat sepuluh: Bro, lo hari ini cuti. Perintah CEO. Tiara udah cerita. Jangan buka laptop. Rizky udah siapin skrip.

Lalu satu pesan lagi, dua menit kemudian: Bro. Selamat. Gue nangis di parkiran. Tiara juga. Kita berdua nangis di mobil kayak orang bodoh. Satpam nanya kita kenapa. Gue bilang CTO gue mau jadi bapak. Satpamnya juga nangis.

Aku memberi tahu Tiara jam tujuh lewat dua puluh, setelah video call dengan Papa dan Mama. Setelah Anggana. Setelah Ibu dan Dara. Urutan yang benar.

Tiara membalas dengan empat puluh tiga emoji menangis dan satu kalimat: GUE MAU JADI TANTE. JOVAN JADI OM. JOVAN NGGAK BOLEH NGAJARIN DIA NGUMPAT BAHASA BATAK.


Siang itu, aku berbaring di sofa di ruang tamu dengan kepala di pangkuan Anggana.

“Mas,” kataku.

“Hm.”

“Aku ngidam.”

Ia langsung menegakkan punggung. “Ngidam apa? Mangga muda? Rujak? Aku beliin. Sekarang.”

“Bukan.”

“Terus?”

Aku menatapnya dari bawah. Dari pangkuannya. Aku tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir.

“Ngidam liat Mas freeze.”

Ia menatapku. “Itu bukan ngidam.”

“Itu ngidam. Bayinya yang mau.”

“Bayinya baru seukuran biji.”

“Biji yang punya keinginan kuat.” Aku mengangkat tangan dan menarik kerahnya pelan. “Mas. Kenapa liatin perut aku terus dari tadi?”

Ia membeku. Sedikit.

“Mau ngobrol sama dia lagi?” bisikku. “Boleh kok.”

Ia menatapku. Lalu, pelan, ia membungkuk. Bukan ke perutku. Ke wajahku. Dan menciumku. Pelan. Lama. Di kening. Di ujung hidung. Di bibir.

“Ini juga ngidam?” bisiknya di bibirku.

“Iya. Ngidam dicium.” Aku menarik kerahnya lebih dekat. “Bayinya minta tiap jam.”

Dari dapur, Dara berteriak:

“AKU DENGER! KALIAN NGGAK BISA PAKAI BAYI BUAT ALASAN! DIA MASIH SEUKURAN BIJI WIJEN! AKU UDAH CEK!”


Sore hari, kami ke dokter kandungan di rumah sakit swasta di Margonda. Rumah sakit yang sama tempat Papa dirawat waktu stroke kedua. Lorong yang sama, di lantai yang berbeda.

Dokternya perempuan berusia lima puluhan, dokter Ayu, dengan suara tenang dan tangan yang dingin. Ia mengoleskan gel di perutku, menempelkan alat ultrasonografi, dan menatap layar monitor di sebelah ranjang periksa.

Gambar hitam putih. Bergerak. Buram. Lalu, di tengah, sebuah titik kecil. Lebih kecil dari biji wijen, kata dokter Ayu.

Lalu sesuatu berkedip di dalam titik itu. Cepat. Teratur.

“Itu detak jantungnya,” kata dokter Ayu.

Anggana, yang berdiri di samping ranjang periksa dengan tanganku di genggamannya, berhenti bernapas.

Ia menatap monitor. Matanya bergerak, cepat, membaca. Seperti membaca layar di war room. Seperti mencari baris pertama di mana sesuatu dimulai.

“Berapa per menit?” tanyanya, dengan suara serak.

Dokter Ayu menatap monitor. “Seratus enam belas. Normal untuk usia kehamilan ini.”

“Seratus enam belas,” ulang Anggana. Pelan. Seperti menyimpan angka itu di tempat yang tidak akan pernah ia hapus.

Lalu ia mencondongkan badan ke arah monitor. “Dok, resolusi alatnya berapa? Ini pakai frekuensi berapa? Kalau di minggu depan diulang, gambarnya bakal lebih jelas atau—”

“Mas,” kataku.

Ia berhenti. Menoleh padaku. Dokter Ayu tertawa pelan.

“Suami Ibu kerjanya apa?”

“CTO, Dok.”

“Ah.” Dokter Ayu mengangguk dengan wajah orang yang sudah sering melihat ini. “Bapak-bapak insinyur selalu nanya resolusi. Minggu lalu ada yang nanya algoritma pengukuran panjang janinnya.”

Anggana menatap monitor lagi. Titik kecil. Kedipan cepat. Seratus enam belas per menit.

Lalu ia menunduk dan mencium punggung tanganku. Lama.

“Hai,” bisiknya ke monitor. “Seratus enam belas.”


Malam itu, Dara masuk ke kamar kami tanpa mengetuk, membawa laptop, dan memutarnya menghadap kami.

Spreadsheet baru. Judul di sel A1, huruf tebal ukuran dua puluh:

AUDIT CALON KEPONAKAN

Periode: Delapan Bulan (Diperkirakan) + Seumur Hidup

Auditor: Dara Pradipta (diangkat sendiri, tidak perlu persetujuan)

Temuan 1. Hari ini, pukul 03.12. Subjek (calon keponakan) terdeteksi dalam bentuk dua garis (x3). Ukuran: biji wijen. Detak jantung: 116 bpm (sumber: Kakak, yang nanya resolusi alat ke dokter, memalukan).

Kategori: Sangat Ditunggu.

Skor: Tidak relevan. Calon keponakan tidak perlu diaudit. Calon keponakan sudah 100 dari lahir. Itu aturan auditor yang baru.

Di bawahnya, ada tab baru. Namanya USULAN NAMA.

Aku membukanya. Daftar panjang. Kolom pertama: nama. Kolom kedua: pengusul. Kolom ketiga: catatan auditor.

Ratih — Pengusul: Dara — Catatan: Dari nama Ibu. Klasik.

Hendra — Pengusul: Dara — Catatan: Dari nama Papanya Luna. Kalau laki-laki.

Sutrisno — Pengusul: Ibu — Catatan: Nama Bapak. Ibu nangis waktu ngusulin.

Bengawan — Pengusul: Jovan — Catatan: DITOLAK. Ini bukan nama. Ini sungai.

Kerah — Pengusul: Tiara — Catatan: DITOLAK. Tiara bercanda. Mudah-mudahan.

Balon — Pengusul: Ucup — Catatan: DITOLAK KERAS. Ucup dilarang mengusulkan nama lagi.

Cadangan — Pengusul: Rizky — Catatan: DITOLAK. Tapi auditor ngerti maksudnya. Auditor terharu sedikit.

Aku tertawa sampai harus berpegangan pada lengan Anggana. Ia menatap layar dengan wajah yang tidak bisa memutuskan mau tertawa atau menangis.

“Dar,” katanya. “Hari ini baru jam tiga pagi kita tahu.”

“Aku tahu.”

“Ini udah ada tujuh usulan nama.”

“Jovan bikin grup WhatsApp jam sembilan pagi. Namanya Tim Nama Bayi CTO. Anggotanya tiga puluh dua orang. Sebagian besar engineer Flie.” Dara menutup laptopnya. “Grup taruhan yang lama dibubarin di nikahan kalian. Ini grup baru. Jovan bilang ini bukan taruhan. Ini crowdsourcing.”


Lewat jam sebelas, setelah Dara keluar dan Ibu tidur dan rumah sunyi, aku berdiri di depan jendela kamar menatap gang yang gelap.

Radio Oma menyala di sudut kamar. Tabung-tabung jingga. RRI Pro 4.

Bengawan Solo. Lagi. Semesta konsisten.

Lalu dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.

Pelan. Hati-hati. Dua telapak tangan yang besar dan kasar, dengan kapal di pangkal jari dari dua puluh tahun memegang pisau pemotong daun, berhenti di perutku. Di atas kaus HMIF. Di tempat sesuatu seukuran biji wijen berdetak seratus enam belas kali per menit.

Ia memelukku dari belakang. Dagunya di bahuku. Pipinya di pipiku.

Pertama kalinya. Selama ini, aku yang memeluknya dari belakang. Di dapur jam empat pagi. Di kamar waktu ia sakit. Malam ini, ia yang datang dari belakang.

“Mas,” bisikku.

“Hm.”

“Mas peluk aku dari belakang.”

“Iya.”

“Mas belajar dari mana?”

“Dari kamu.” Ia mengusap perutku dengan ibu jari. Pelan. “Aku selalu nyatet.”

Kami berdiri di depan jendela. Keroncong mengalun pelan dari radio Oma. Di luar, gang sunyi. Lampu jalan di mulut gang berkedip. Di teras samping di bawah, gerobak tua yang ditanami cabai, buah-buahnya merah kecil di bawah lampu teras.

“Aluna,” bisiknya di telingaku.

“Iya.”

“Aku sayang banget sama kamu.”

Aku membeku.

Ia tidak pernah mengatakannya dengan kata-kata itu. Aku cinta kamu, iya. Di pantai Sanur. Di dapur jam empat pagi. Di akad. Aku juga, setiap kali aku bilang aku sayang banget sama kamu, Mas. Tapi aku sayang banget sama kamu, dengan kata-kataku sendiri, dari mulutnya sendiri, belum pernah.

“Bilang lagi,” bisikku.

Ia tertawa pelan di bahuku. Ia tahu. Ia ingat. Bulan madu. Tidur siang. Bilang lagi.

“Aku sayang banget sama kamu,” katanya. “Sayang banget. Banget banget.” Telapak tangannya di perutku mengusap pelan. “Sama kalian.”

Aku menangis. Lagi. Hari ini aku sudah menangis lebih banyak dari delapan tahun di KRL.

Aku berbalik di dalam pelukannya. Menghadapnya. Aku mengangkat tangan ke kerah kausnya.

Miring. Tentu saja.

Aku merapikannya. Lipat sisi kiri keluar. Tekan dengan ibu jari. Tepuk dua kali.

“Kerahmu miring,” kataku.

“Pasti masih miring besok.”

“Aku benerin lagi.” Aku meletakkan tangannya, yang tadi di perutku, kembali ke sana. Di bawah tanganku. “Delapan bulan lagi, kita benerin berdua.”

Ia menatapku. Matanya basah. Senyumnya pelan, naik dari sudut bibir, sampai ke mata, sampai matanya hilang.

“Aluna.”

“Iya, Mas.”

“Aku cuma mau kamu tahu,” katanya.

Aku tersenyum. Lalu aku menjawab, seperti di pernikahan, seperti di teras samping di depan gerobak tua, seperti yang akan kukatakan setiap kali ia mengatakannya, sampai kerahnya tidak miring lagi atau sampai tidak ada lagi yang perlu dirapikan.

“Aku cuma mau kamu tahu.”


Malam itu, sebelum tidur, aku membuka buku biru.

Halaman Anggana Minta Tolong. Sudah sampai nomor seratus sembilan puluh tiga. Aku sudah membeli buku kedua bulan lalu, sampul biru juga, dan menyimpannya di laci, menunggu buku pertama habis.

Aku membalik ke halaman paling belakang buku pertama. Halaman kosong. Belum pernah ditulis.

Aku menulis judul baru. Huruf besar. Tinta biru. Garis bawah dua kali.

Untuk Seseorang yang Belum Punya Nama.

Di bawahnya, satu baris.

1. Ayahmu akan selalu bawa cadangan. Ibumu akan selalu benerin kerahnya. Dan kalau kamu butuh sesuatu, apa pun, kamu boleh minta. Kamu nggak perlu nunggu delapan tahun. Kamu nggak perlu nunggu sebentar pun.

Minta aja.

Kami akan selalu jawab.

Aku menutup buku itu dan meletakkannya di laci kecil di bagian bawah radio Oma. Di sebelah surat yang tidak pernah dikirim. Di sebelah memo kuning dengan noda air mata di kata janji.

Di kasur, ia sudah tertidur. Telentang. Satu tangan di atas dada. Satu tangan terkulai di antara kami di atas seprai, telapaknya menghadap ke atas, seperti sedang menunggu sesuatu diletakkan di sana.

Aku berbaring di sebelahnya. Aku meletakkan tanganku di telapak tangannya.

Dalam tidurnya, jari-jarinya menutup. Pelan. Menggenggam.

Di radio Oma, keroncong terus mengalun pelan, untuk kami bertiga.


Tamat (Extra).