← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Ten

Yang Tidak Kukatakan

POV: Aluna

Subuh sehari setelah wisuda, aku naik ojek untuk pertama kalinya seumur hidup.

Aku tidak tahu cara memesannya. Aku harus menonton video tutorial di YouTube jam tiga pagi, di kamarku yang sudah setengah kosong, di antara kardus-kardus yang ditempeli kertas bertuliskan BUKU, BAJU MUSIM DINGIN — JUAL, dan JANGAN DIBUANG — RADIO OMA. Aku salah memasukkan titik jemput dua kali. Abang ojeknya menelepon dan bertanya kenapa aku menunggu di depan pagar setinggi itu jam empat pagi, dan apakah aku pembantu yang kabur.

Aku tidak menjawab. Aku cuma memakai helm yang baunya seperti keringat orang lain dan duduk di boncengan dengan dua tangan mencengkeram besi di belakang jok, karena aku tidak tahu bagian mana yang boleh dipegang.

Alamat yang kuketik adalah mulut sebuah gang di Jakarta Timur. Aku tahu alamatnya dari formulir Pekan Sains kelas sepuluh, waktu kelompok kami datang ke sana untuk mengambil sampel air sumur. Aku tidak pernah lupa jalannya. Aku tidak pernah lupa apa pun yang berhubungan dengannya.

Itu masalahku. Selalu itu masalahku.


Gerobak itu sudah buka waktu aku sampai. Lampu neonnya yang panjang menggantung dari tiang bambu, berkedip sesekali. Uap naik dari dandang besar. Antreannya tiga orang: bapak-bapak bersarung, ibu-ibu berdaster dengan rantang, dan seorang tukang ojek yang masih memakai jaket hijau.

Aku memakai hoodie abu-abu dengan tudung yang kutarik sampai ke alis. Aku berdiri di ujung antrean. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku takut orang di depanku mendengarnya.

Dia tidak ada di sana.

Yang berdiri di balik gerobak hanya ibunya. Bu Ratih. Aku mengenalinya dari wisuda kemarin, dari kebaya biru muda dan senyum bangga yang ia berikan kepada anaknya di sepanjang acara. Pagi ini ia memakai daster batik dan celemek, rambutnya disanggul asal, tangannya bergerak cepat membungkus nasi dengan daun pisang, melipat, menyelipkan telur, mengikat karet merah. Gerakannya seperti tarian yang sudah dihafal tubuhnya selama puluhan tahun.

“Mbak, berapa?”

Aku tersentak. Giliranku.

“Satu, Bu,” kataku. Suaraku serak. “Telur balado.”

“Sambalnya dipisah?”

“Iya.”

Bu Ratih membungkusnya untukku. Ia tidak menatap wajahku lama. Ia sibuk. Hari masih gelap, lampu neonnya redup, dan tudung hoodie-ku menutupi separuh wajah. Ia mengulurkan bungkusan itu dengan dua tangan, dan aku menerimanya dengan dua tangan, seperti pagi MOS tiga tahun lalu waktu anaknya mengulurkan bungkusan yang sama.

Delapan ribu. Sudah naik jadi sepuluh ribu. Aku membayar dengan uang pas.

“Makasih, Mbak,” kata Bu Ratih, lalu menambahkan, tanpa alasan, dengan suara yang hangat seperti teh yang baru diseduh: “Hati-hati di jalan. Masih gelap.”

Aku mengangguk dan berjalan cepat menyeberangi jalan sebelum ia sempat melihat mataku.


Aku duduk di trotoar di seberang gang, di samping tiang listrik yang ditempeli selebaran sedot WC, dan membuka bungkus nasi uduk itu di pangkuanku.

Empat jari dirapatkan. Ambil nasinya sedikit. Tekan dulu biar padat. Jempol yang dorong.

Aku masih ingat. Tentu saja aku masih ingat.

Nasinya masih hangat. Sambal kacangnya masih punya rasa jeruk limau samar yang ia bilang rahasia ibunya, rahasia yang ia bocorkan kepadaku di lapangan MOS karena aku pelanggan setia. Telurnya bulat sempurna. Aku curiga Bu Ratih selalu memilih telur yang paling bulat untuk setiap pelanggan, bukan cuma untuk anaknya.

Aku makan suapan pertama, dan menangis.

Aku menangis di trotoar jam setengah lima pagi, dengan tudung hoodie dan nasi uduk di pangkuan dan selebaran sedot WC di sebelah kepalaku, seperti orang gila. Seorang bapak bersepeda melambat untuk menatapku, lalu mengayuh lagi. Seekor kucing belang tiga muncul dari bawah gerobak di seberang dan menatapku dengan mata kuning. Aku curiga itu kucing yang ia ceritakan. Pelanggan VIP.

Lalu aku mendengar bunyi rantai sepeda.

Sepeda kumbang tua muncul dari ujung jalan, dari arah jalan raya. Ia mengayuhnya dengan kaus oblong dan celana pendek, rambutnya basah seperti baru mandi, kantong kresek kosong tergantung di stang. Ia baru pulang mengantar nasi uduk ke warung kopi di jalan raya. Ia pernah cerita. Setiap pagi, jam setengah enam, dua puluh bungkus. Hari ini lebih pagi, mungkin karena hari Minggu.

Aku langsung berdiri dan bersembunyi di balik angkot yang diparkir di pinggir jalan.

Dari celah di antara kaca angkot dan tiang listrik, aku melihatnya memarkir sepeda di samping gerobak. Ia mengambil alih dandang dari tangan ibunya tanpa disuruh. Ia mengatakan sesuatu, dan Bu Ratih tertawa, dan ia juga tertawa.

Ia tersenyum. Senyum yang sama.

Aku tahu senyum itu. Aku menghitungnya selama dua tahun. Senyum untuk Bu Wati, untuk Pak Karno, untuk Mak Inah, untuk anak kelas sepuluh yang dipinjami payung. Senyum yang sama untuk semua orang.

Dan aku juga tahu senyum yang lain. Senyum yang otot-ototnya berbeda, yang kutanyakan di kelas sebelas dan tidak pernah ia jawab. Senyum yang kemarin lusa, di bawah pohon ketapang, akhirnya ia tunjukkan padaku, tepat sebelum ia mengatakan aku cuma mau kamu tahu.

Aku melihat senyum itu, dan aku menolaknya.

Aku berdiri di balik angkot sampai nasi uduk di tanganku dingin. Lalu aku memesan ojek kedua, salah memasukkan titik jemput sekali lagi, dan pulang ke rumah yang dua bulan lagi bukan rumahku.


Aku harus bercerita dari awal. Kalau tidak, semua ini tidak akan masuk akal, bahkan untukku sendiri.

Bulan Juni tahun lalu, di Kyoto, Papa menerima telepon di lobi hotel dan wajahnya berubah. Aku melihatnya dari sofa seberang, di tengah foto-foto gerbang merah yang sedang kukirim ke satu nomor di HP-ku. Papa bicara dengan suara rendah. Lalu suara tinggi. Lalu tidak bicara sama sekali, hanya mendengarkan, dengan tangan menutup mata.

Kami pulang dua hari lebih cepat dari rencana.

Om Gunawan, partner bisnis Papa selama lima belas tahun, orang yang dulu menggendongku waktu bayi dan setiap Lebaran memberiku angpao paling tebal, menghilang. Bersama dana proyek apartemen di Bekasi. Bersama uang dari tiga bank. Bersama cicilan uang muka dari empat ratus pembeli unit yang sudah bayar bertahun-tahun.

Papa tidak tahu. Papa percaya padanya. Papa menandatangani jaminan pribadi untuk pinjaman-pinjaman itu, karena Papa memang begitu: ia percaya pada orang. Ia percaya pada orang seperti ia percaya bahwa matahari akan terbit besok.

Di bulan Juli, bank-bank mulai menelepon. Di bulan Agustus, para pembeli unit mulai datang ke kantor Papa. Di awal September, pengadilan memutuskan: aset-aset PT Hadinata Graha disita. Rumah kami di Pondok Indah, yang atas nama Papa, akan dilelang setelah aku lulus. Tabungan pendidikanku, yang dulu dibuka atas namaku sejak aku lahir, ikut dibekukan karena dananya berasal dari rekening perusahaan.

Mama memintaku berjanji tidak memberi tahu siapa pun.

“Sampai kamu lulus, Luna,” katanya sambil memegang dua tanganku di dapur, tengah malam, dengan mata sembap. “Mama mohon. Selesaikan sekolahmu dengan tenang. Jangan sampai teman-temanmu tahu. Jangan sampai gurumu tahu. Biar Papa dan Mama yang urus.”

Aku berjanji.

Om Hartono, pengacara Papa sejak aku kecil, mengurus semuanya. Karena ada satu properti kecil dan satu rekening yang atas namaku, aku harus hadir di beberapa pertemuan. Tanda tangan. Memberi keterangan. Duduk di ruang rapat ber-AC dingin dengan map-map tebal dan orang-orang dewasa yang bicara dengan bahasa yang tidak kupahami.

Mama tidak mau Pak Darto tahu, karena Pak Darto sudah ikut kami dua puluh tahun dan Mama tidak sanggup melihat wajahnya waktu ia tahu ia akan diberhentikan. Jadi Bastian yang menjemputku. Anak Om Hartono, teman masa kecilku, yang mengenalku sejak kami berdua masih memakai popok di pesta ulang tahun keluarga. Bastian tahu semuanya, karena ayahnya yang memegang semuanya.

Setiap kali mobil SUV putih itu menjemputku di gerbang sekolah, aku masuk dengan cepat, tidak menoleh ke kiri atau kanan. Karena aku tahu, kalau aku menoleh, aku akan melihatnya berdiri di dekat parkiran sepeda. Dan kalau aku melihatnya, aku tidak akan sanggup.


Di hari simulasi UNBK, aku berdiri di balik kaca dan melihatnya menyelamatkan tiga ratus siswa.

Aku melihat punggungnya di depan monitor server. Tegak. Tenang. Tangannya bergerak di atas keyboard tanpa ragu, dan orang-orang dewasa di belakangnya, kepala sekolah, guru-guru, menahan napas seolah sedang menonton ahli bedah. Lalu tepuk tangan. Lalu ia berbalik, malu, tidak tahu harus berbuat apa dengan tepuk tangan itu.

Dan aku tahu, berdiri di balik kaca itu, bahwa orang ini harus pergi jauh. Bahwa ia harus berada di tempat di mana orang-orang yang tepat bisa melihat apa yang kulihat.

Siangnya, aku menunggunya di dekat ruang wali kelas. Aku mau bicara. Aku tidak tahu mau bicara apa. Mungkin cuma mau bilang kamu hebat. Mungkin mau bilang semuanya.

Pintunya setengah terbuka. Aku mendengar suara Pak Hardi. ITB. Beasiswa penuh. Dan aku mendengar suaranya, tenang, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu bertahun-tahun lalu.

Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya.

Ibu nggak usah tahu, Pak. Nanti Ibu sedih.

Aku berlari.

Aku berlari ke tangga darurat di ujung koridor dan duduk di anak tangga yang berdebu, menutup wajah dengan dua tangan, dan tidak bisa berhenti gemetar.

Aku mengenalnya. Aku sudah mengenalnya selama dua tahun. Aku punya buku biru berisi empat puluh tujuh orang yang ia tolong dalam satu bulan, dan nol orang yang menolongnya. Aku tahu ia bangun setengah empat. Aku tahu ia membungkus dua ratus nasi uduk. Aku tahu ia bekerja sampai jam delapan malam dan masih membaca dokumen teknis aplikasi ujian yang tidak dibaca siapa pun, karena ia penasaran. Aku tahu ia menghabiskan empat bulan mencari tabung radio untuk Oma yang tidak pernah ia temui.

Aku tahu, dengan kepastian yang membuat perutku mual, apa yang akan terjadi kalau ia tahu keluargaku sedang runtuh.

Ia akan menolong.

Ia akan menolong seperti ia menolong semua orang, tanpa diminta, tanpa menghitung. Ia akan menambah satu nama di daftar orang yang ia pikul. Ia sudah memikul ibunya, adiknya, SPP-nya sendiri, dan sekarang ia sudah memutuskan untuk memikul masa depan adiknya dengan mengorbankan masa depannya sendiri.

Kalau aku ada di sisinya, kalau aku jadi alasan baginya untuk tetap di Jakarta, ia tidak akan pernah pergi ke Bandung.

Ia akan tinggal. Ia akan bekerja dua pekerjaan, tiga pekerjaan. Ia akan mengantarku ke rumah kontrakan kecil yang sebentar lagi jadi rumahku. Ia akan membawakan nasi uduk untuk Papa yang hancur dan Mama yang menangis setiap malam. Ia akan memperbaiki apa pun yang rusak di keluargaku, tanpa diminta, tanpa menghitung, sampai tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Dan ia akan tersenyum sepanjang waktu. Senyum yang sama untuk semua orang.

Aku tidak sanggup jadi alasan itu.


Dua minggu setelah putusan pengadilan, ia mengirimku pesan.

Bangku belakang lab Biologi. 10 menit aja.

Aku tahu apa yang akan ia katakan. Aku sudah tahu sejak lama. Mungkin sejak radio Oma. Mungkin sejak telepon jam satu pagi di kelas sepuluh. Mungkin sejak pagi MOS, waktu aku menoleh di dekat gerbang dan melihat anak laki-laki bertopi kerucut menatapku seolah lupa sedang berdiri di mana.

Aku tahu sejak lama, dan aku sudah menunggunya sejak lama.

Hanya saja, ia mengatakannya di saat yang paling salah di seluruh hidupku.

Aku berjalan ke bangku itu dan mendengarnya. Setiap kata. Sejak hari nasi uduk itu. Waktu kamu nggak bisa makan pakai tangan. Waktu kamu nangis di depan radio Oma. Ia mengatakannya dengan tenang, dengan senyum yang bukan senyum untuk semua orang, dan setiap kata terasa seperti seseorang memaku sesuatu di dadaku.

Aku cuma mau kamu tahu. Kamu nggak perlu jawab.

Aku ingin bilang iya.

Aku ingin bilang iya dengan seluruh tubuhku. Aku ingin melangkah dua langkah ke depan, merapikan kerahnya yang sudah dua bulan miring, dan bilang aku juga, sejak hari itu, dari dulu, dari awal.

Tapi aku teringat suaranya di balik pintu ruang wali kelas. Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya.

Dan aku memutuskan untuknya.

“Maaf, Anggana. Aku nggak bisa.”

Itu tidak bohong. Aku memang tidak bisa. Bukan karena aku tidak mau.

“Ada orang lain.”

Itu juga tidak sepenuhnya bohong. Ada orang lain. Papa. Mama. Empat ratus pembeli unit. Bank-bank. Rumah yang akan dilelang. Ada begitu banyak orang lain di antara kami, dan tidak satu pun dari mereka bernama Bastian.

Lalu ia bertanya, Bastian?

Dan aku diam.

Aku tidak mengangguk. Aku tidak menggeleng. Aku membiarkannya percaya. Aku memilih diam, karena diam adalah cara paling bersih untuk membuatnya mundur. Karena aku tahu ia tidak akan pernah merebut sesuatu dari orang lain. Karena aku tahu, kalau ia pikir aku punya seseorang, ia akan tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan pergi.

Ia melakukan persis itu.

Dia kelihatan baik. Aku seneng kamu punya orang kayak gitu. Serius.

Ia bersungguh-sungguh. Aku tahu ia bersungguh-sungguh. Itu yang paling menyakitkan. Ia baru saja ditolak, dan ia mendoakan kebahagiaanku dengan orang yang ia kira menggantikannya.

Aku hampir merapikan kerahnya. Tanganku sudah terangkat. Lalu aku sadar, kalau aku menyentuhnya sekarang, aku tidak akan bisa berhenti.

Aku berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh.

Di mobil SUV putih yang menunggu di depan gerbang belakang, aku menangis selama satu jam penuh. Bastian duduk di sebelahku, diam, menyodorkan tisu setiap lima menit. Mobil itu berputar-putar di jalan tol tanpa tujuan, karena aku tidak bisa pulang dengan wajah seperti itu, dan Mama tidak boleh tahu, karena Mama sudah punya terlalu banyak hal untuk ditangisi.

Di menit keempat puluh, Bastian akhirnya bicara.

“Lun. Lo yakin?”

“Dia harus ke Bandung.”

“Lo bisa bilang yang sebenarnya. Dia kelihatan kayak orang yang bakal ngerti.”

“Justru itu,” kataku, dengan suara yang hancur. “Dia bakal ngerti. Terus dia bakal nolong. Terus dia nggak bakal pergi.”

Bastian tidak membantah. Ia cuma menghela napas, menyodorkan tisu lagi, dan menyuruh sopirnya keluar di gerbang tol berikutnya untuk membeli es krim, karena waktu kami kecil, es krim selalu membuatku berhenti menangis.

Kali itu tidak berhasil.


Tiga minggu kemudian, Sisil memberitahuku di kantin dengan wajah antusias. Anggana dapat beasiswa penuh ITB. Ia menandatangani formulirnya. Ia akan berangkat bulan Agustus tahun depan.

Aku mengangguk. Aku bilang wah, keren. Aku makan bekalku sampai habis.

Lalu aku pergi ke toilet putri di ujung gedung, mengunci diri di bilik paling pojok, dan menutup mulut dengan dua tangan supaya tidak ada yang mendengarku tertawa sambil menangis.

Berhasil. Ia akan pergi. Keputusanku benar.

Aku tidak pernah tahu, sampai bertahun-tahun kemudian, bahwa yang membuatnya menandatangani formulir itu bukan aku.


Ada hal-hal lain yang tidak pernah ia ketahui.

Bahwa di bulan Oktober kelas sebelas, aku pernah mengambil tabungan angpaoku sejak SD dari rekening yang masih atas namaku sendiri, rekening kecil yang bukan dari perusahaan Papa, uang yang kukumpulkan bertahun-tahun untuk membeli kamera. Aku membawanya tunai ke ruang TU dan meminta Bu Endang berjanji tidak menyebut namaku.

Bu Endang menatapku lama, dan berkata, “Mbak Luna, ini banyak sekali.”

“Itu cuma kamera, Bu,” kataku. “Saya nggak butuh kamera.”

Dua hari kemudian, Bu Endang memanggilku ke TU dan menyerahkan selembar kertas memo kuning yang dilipat dua kali.

Terima kasih. Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.

Tulisan tangannya miring dan tidak terlalu stabil, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar.

Aku menyimpan memo itu di dalam casing HP-ku selama sisa SMA. Aku masih menyimpannya.

Bahwa di kelas sebelas, aku tahu bungkus kedua itu bukan cadangan. Aku tahu sejak hari ia tidak membawa uang jajan dan Ucup menawarinya bakso dan ia menolak, lalu di jam istirahat kedua ia tetap tidak membuka bungkus kedua itu, padahal perutnya berbunyi sampai Ucup menoleh. Ia menyimpannya. Untukku. Untuk kemungkinan bahwa aku butuh nasi uduk darurat. Ia sudah menyimpannya selama setahun lebih, setiap hari, dan aku tidak pernah memintanya lagi, karena aku takut kalau aku memintanya, aku harus mengakui bahwa aku tahu.

Bahwa setelah hari di bawah pohon ketapang, ia tetap membawa dua bungkus. Aku melihatnya dari jendela kelas lantai tiga. Setiap siang, ia memakan bungkus kedua sendirian di bangku belakang lab Biologi. Setiap siang, sampai hari terakhir sekolah.

Bahwa di hari wisuda, Papa dan Mama tidak datang karena tekanan darah Papa naik tinggi dua malam sebelumnya dan ia dirawat di rumah sakit. Bastian datang menggantikan mereka, karena Om Hartono yang memintanya.

Bahwa di hari wisuda, waktu aku berdiri di depannya dan melihat kerahnya miring untuk terakhir kalinya, aku sudah mengangkat tanganku. Ujung jariku sudah hampir menyentuh lipatan kain itu.

Dan aku menurunkannya. Karena kalau aku merapikan kerahnya hari itu, aku akan merapikannya besok, dan lusa, dan setiap pagi sampai ia lupa bahwa Bandung ada di peta.


Malam setelah aku makan nasi uduk di trotoar, aku menulis surat.

Aku menulisnya di kertas binder bergaris, dengan pulpen biru, di kamarku yang dikelilingi kardus. Aku menulis semuanya. Om Gunawan. Bank. Rumah yang dilelang. Pintu ruang wali kelas. Tangga darurat. Bastian yang bukan siapa-siapa. Memo kuning di casing HP-ku. Bungkus kedua.

Di baris terakhir, aku menulis:

Aku cuma mau kamu tahu. Aku juga. Dari hari nasi uduk itu. Dari awal.

Aku melipat surat itu jadi empat dan memasukkannya ke amplop. Aku menulis namanya di depan amplop, utuh, setiap suku kata diberi tempat. Anggana.

Aku tidak pernah mengirimnya.

Surat itu ada di laci meja, lalu di kardus berlabel BUKU, lalu di laci lemari di rumah kontrakan kecil di Depok tempat kami pindah bulan Juli, setelah rumah di Pondok Indah dilelang dan Pak Darto menangis waktu menurunkan kardus terakhir dari mobil yang juga harus dijual minggu depannya.

Barang yang paling kujaga waktu pindahan adalah radio Oma. Aku memangkunya sepanjang jalan dari Pondok Indah ke Depok, di dalam mobil pikap sewaan yang AC-nya mati, dan Mama menatapku dengan mata sembap dan bertanya kenapa aku tidak menaruhnya di belakang bersama barang-barang lain.

“Takut rusak,” kataku.

“Kan sudah pernah rusak, Luna. Dan sudah diperbaiki.”

“Justru itu, Ma.”


Di bulan Agustus, Sisil mengirimiku foto. Dari Ucup, yang mengirimnya ke grup kelas. Foto stasiun bus malam di Kampung Rambutan. Anggana berdiri di depan bus dengan koper yang terlalu besar dan tas punggung yang terlalu penuh, dikelilingi ibunya, adiknya, Ucup, dan seorang bapak-bapak berperut buncit yang kuduga Bang Jali.

Ia tersenyum ke arah kamera. Senyum yang sama untuk semua orang.

Kerahnya miring.

Aku menatap foto itu lama sekali, di kamar sempit di Depok dengan kipas angin berderit dan dinding yang catnya mengelupas. Lalu aku memperbesar gambarnya, sampai pikselnya pecah, sampai aku bisa melihat kantong samping tas punggungnya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang hijau, diikat karet merah.

Satu bungkus. Bukan dua.

Aku menutup HP-ku dan memeluk lututku di atas kasur.

Maaf, kataku di dalam kepala, kepada seseorang yang sedang duduk di bus malam menuju Bandung. Aku memutuskan untukmu.

Ia akan terbang. Ia akan pergi jauh, ke tempat di mana orang-orang yang tepat bisa melihat apa yang kulihat. Ia tidak akan memikulku. Ia tidak akan memikul keluargaku yang hancur. Ia akan bebas.

Keputusanku benar.

Aku mengulang kalimat itu setiap malam selama delapan tahun berikutnya, dan setiap malam, aku hampir percaya.