← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty

Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu

POV: Anggana

Due diligence teknis selesai hari Jumat. Laporan Aluna setebal delapan puluh empat halaman dikirim ke Marcella Tan, dan menurut Jovan, yang mendengar dari seseorang yang mendengar dari seseorang di Sagara, laporan itu “bersih, tajam, dan nggak ada satu pun kalimat yang bisa dipakai buat nurunin valuasi”.

Ruang Rinjani kosong lagi di hari Senin.

Aku tidak memikirkannya. Aku sibuk. Ada post-mortem insiden flash sale yang harus diterjemahkan jadi perbaikan sistem. Ada tim baru di Vietnam yang harus diwawancarai lewat video call. Ada laporan bulanan untuk dewan direksi. Ada rapat dengan tim hukum soal struktur term sheet yang akan datang.

Tapi hari Senin jam sembilan pagi, waktu aku masuk lewat lobi, kakiku berhenti di depan kafe kecil di pojok.

Aku tidak pernah membeli apa pun di kafe itu. Empat tahun kantor kami di gedung ini, dan aku tidak pernah sekali pun berdiri di depan kasirnya.

“Teh melati,” kataku. “Tanpa gula.”

Kasirnya, perempuan muda dengan apron cokelat, menatapku sebentar. “Atas nama siapa, Pak?”

“Angga.”

“Ditunggu sebentar ya, Pak.”

Aku membawa gelas kertas itu ke lantai dua puluh tiga. Aku meminumnya di mejaku sambil membuka email.

Rasanya salah.

Bukan tehnya. Tehnya sama persis. Teh melati, tanpa gula, dari kafe yang sama, dengan gelas kertas yang sama. Tapi ada yang kurang, dan butuh sepuluh menit penuh sebelum aku menyadari apa yang kurang.

Tidak ada sticky note kuning di lengan gelasnya.

Jovan masuk ke ruanganku jam sembilan lewat dua puluh dengan setumpuk dokumen. Ia berhenti di depan mejaku dan menatap gelas teh itu.

“Bro.”

“Hm.”

“Lo beli teh di kafe bawah?”

“Iya.”

“Lo nggak pernah beli apa-apa di kafe bawah. Empat tahun. Gue pernah nawarin lo kopi tiga ratus kali, lo tolak semua.”

“Lagi pengen.”

Jovan menatapku lama. Lalu menatap gelas teh. Lalu menatapku lagi. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengeluarkan HP dan mengetik sesuatu dengan dua jempol.

“Kamu ngetik apa?”

“Nggak ada,” katanya. “Urusan kerjaan.”

Belakangan aku tahu, dari Ucup, bahwa pesan Jovan di grup taruhan pagi itu berbunyi: CTO BELI TEH SENDIRI DI KAFE BAWAH. TEH MELATI. TANPA GULA. PERSIS KAYAK YANG DIBELIIN SI MBAK SAGARA. GUE ULANGI: CTO. BELI. SENDIRI.


Sabtu pertama, jam tiga lewat tiga puluh, aku turun ke dapur dan menemukan Dara sudah duduk di meja marmer.

Ia memakai piyama beruang dan jaket hoodie kantor yang terlalu besar. Kacamatanya di atas kepala. Matanya setengah tertutup. Di depannya ada papan klip dengan kertas bergaris dan pulpen biru.

“Kamu ngapain?” tanyaku.

“Audit lapangan.”

“Audit apa?”

“Rahasia.” Ia menguap lebar. “Kakak potong daun aja.”

Ibu, di depan kompor, menatapku dengan senyum yang tenang dan penuh pengetahuan, dan tidak berkata apa-apa.

Jam tiga lewat lima puluh delapan, lampu motor menyorot dari ujung gang. Ojek. Berhenti di depan lapak. Seseorang turun dengan jaket denim dan tas punggung kecil, membayar abangnya, dan berjalan ke pintu samping dapur.

Aluna mengetuk pintu. Dua kali. Pelan.

Ibu yang membukakan. “Masuk, Nduk. Dingin.”

Aluna masuk. Rambutnya diikat ekor kuda rendah. Ia memakai kaus lengan panjang hitam dan celana training, dan di tangannya ada daster batik Ibu yang terlipat rapi dalam kantong plastik.

“Bu, dasternya,” katanya. “Udah saya cuci.”

“Pakai aja lagi,” kata Ibu. “Nanti kena santan lagi.”

Aluna tersenyum. Lalu ia melihat Dara di meja marmer dengan papan klip, dan senyumnya berubah jadi sesuatu yang lebih hati-hati.

“Pagi, Dara.”

“Pagi,” kata Dara tanpa mengangkat kepala. Ia menulis sesuatu di papan klip. Aku mengintip dari samping. 03.58. Subjek tiba. Ojek. Bawa daster (dicuci, terlipat). Tidak bawa kue. (−5, Ibu suka kue.)

“Dar,” kataku.

“Kakak potong daun.”


Aluna membungkus dua puluh tujuh nasi uduk Sabtu itu. Rata-rata waktunya empat puluh lima detik per bungkus. Sebelas di antaranya layak jual.

Dara membungkus dengan kecepatan tujuh detik per bungkus. Lebih cepat dari Ibu. Aku tidak pernah melihat Dara membungkus secepat itu seumur hidupku. Ia membungkus dengan wajah serius, sesekali melirik Aluna, sesekali mencatat di papan klip.

04.35. Subjek menjatuhkan telur. (−3.)

04.52. Subjek bertanya ke Ibu cara melipat sudut. Ibu menjawab dengan sabar. Subjek mengucapkan terima kasih dua kali. (Netral. Sopan tidak masuk penilaian.)

05.10. Subjek tertawa waktu Kakak salah memotong daun. Kakak tidak marah. (Perlu diselidiki.)

Aku tidak salah memotong daun. Aku memotong daun terlalu kecil karena sedang melihat Aluna mencoba melipat sudut bawah yang terus terbuka lagi, dan tanganku bergerak tanpa melihat. Aluna menunjuk daun yang terlalu kecil itu dan bilang, “Itu buat nasi uduk anak TK?” dan tertawa. Tawa yang membuat kepalanya miring ke kiri.

Aku tidak marah. Aku tidak tahu kenapa Dara pikir aku akan marah.


Sabtu kedua, Aluna datang jam tiga lewat lima puluh lima, membawa kotak kue nastar dari mamanya. Dara mencatat: Subjek bawa kue. (+5, kembali ke nol untuk kategori kue.)

Aluna membungkus tiga puluh satu nasi uduk. Rata-rata tiga puluh detik. Dua puluh di antaranya layak jual.

Jam empat lewat empat puluh, Dara tertidur.

Ia tertidur dengan kepala di atas lengan, di atas papan klipnya, dengan pulpen masih di tangan. Ia pulang kerja jam setengah dua belas malam sebelumnya. Kacamatanya bergeser miring di wajahnya. Napasnya pelan dan teratur. Dari tumpukan daun pisang di depannya, satu helai menempel di pipinya.

Ibu menatap Dara, lalu menghela napas pelan. Ia hendak berdiri untuk membangunkannya.

Aluna lebih cepat.

Ia berdiri pelan, berjalan memutar meja tanpa suara, dan melepas jaket denimnya. Ia menyampirkan jaket itu di bahu Dara dengan sangat hati-hati, seperti menyelimuti anak kecil. Lalu ia mengambil helai daun pisang yang menempel di pipi Dara, pelan, dengan dua jari. Lalu, setelah ragu satu detik, ia membetulkan kacamata Dara yang miring supaya tidak menekan pelipisnya.

Ia kembali ke kursinya dan melanjutkan membungkus tanpa berkata apa-apa.

Aku menatapnya dari seberang meja.

Ia tidak tahu aku melihat. Atau mungkin ia tahu, dan tidak peduli. Ia menunduk ke daun pisang di tangannya, lidahnya terjulur sedikit di sudut bibir karena konsentrasi, persis seperti Dara dulu waktu menempel karton di ujung topi kerucutku. Rambutnya yang diikat ekor kuda rendah bergeser ke bahu. Di bawah lampu dapur yang terang, aku bisa melihat bulu matanya yang lentik menunduk, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya.

Ia baru saja menyelimuti adikku. Adikku, yang selama dua minggu terakhir menatapnya seperti tersangka, mencatat setiap gerakannya di papan klip, dan mengurangi poinnya karena menjatuhkan telur.

Di depan kompor, Ibu juga melihatnya. Ibu menatap Aluna lama. Lalu Ibu menatapku. Lalu Ibu kembali membungkus nasi uduk, dan aku melihat matanya sedikit basah.

Jam lima lewat lima, Dara terbangun. Ia mengangkat kepala, bingung, menatap jaket denim di bahunya.

“Ini punya siapa?”

“Aku,” kata Aluna tanpa mengangkat kepala. “Kamu kedinginan.”

Dara menatap jaket itu. Lalu menatap Aluna. Wajahnya berubah beberapa kali, seperti layar yang tidak bisa memutuskan mau menampilkan apa.

Ia melepas jaket itu, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya di kursi di sebelah Aluna. Lalu ia mengambil papan klipnya dan menulis dengan cepat.

Aku mengintip.

05.05. Subjek menyelimuti auditor yang tertidur. Subjek membetulkan kacamata auditor.

Dara berhenti menulis. Pulpennya menggantung di atas kertas. Lalu, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih miring:

(Tidak masuk penilaian.)

Lalu ia mencoret kalimat itu. Lalu menulis lagi di bawahnya, lebih kecil lagi:

(Masuk. +2. Tapi jangan bilang Kakak.)

Aku memalingkan wajah sebelum Dara sempat melihat aku membaca.


Selama seminggu setelahnya, aku sering memikirkan jaket denim itu.

Di rapat dengan tim Vietnam. Di depan layar dashboard sistem. Di mobil, di jalan tol, di antara lampu-lampu merah. Aku memikirkan dua jari yang mengambil helai daun pisang dari pipi Dara. Kacamata yang dibetulkan supaya tidak menekan pelipis.

Aku memikirkan bahwa itu persis hal yang akan kulakukan. Kalau aku yang duduk di sebelah Dara. Kalau aku yang melihatnya tertidur.

Dan aku memikirkan buku biru di kelas sebelas. Daftar Orang yang Ditolong Anggana dalam Satu Bulan. Empat puluh tujuh orang. Aku tidak pernah menghitung. Ia yang menghitung. Ia yang memperhatikan.

Mungkin, pikirku di lampu merah dekat Pancoran, ia tidak pernah berhenti memperhatikan. Mungkin ia hanya berhenti menunjukkannya.

Lampu hijau. Aku menjalankan mobil.

Hari Jumat malam, aku tidak bisa tidur.


Sabtu ketiga, aku bangun jam tiga lewat lima belas.

Tanpa alarm. Aku memang tidak pernah memakai alarm. Tapi biasanya aku bangun jam tiga lewat empat puluh, karena hidungku mencium santan dari dapur. Hari itu, aku bangun dua puluh lima menit lebih awal, sebelum Ibu menyalakan kompor, sebelum ada wangi apa pun.

Aku berbaring di kasur menatap langit-langit dalam gelap. Lalu aku bangun, berjalan ke jendela kamar di lantai dua, dan menyibak gorden.

Gang di bawah gelap. Lampu jalan di mulut gang menyala kuning. Tenda lapak masih tertutup terpal. Tidak ada siapa-siapa.

Aku berdiri di jendela itu lama, menatap ujung gang tempat lampu motor ojek biasanya muncul.

Lalu aku sadar apa yang sedang kulakukan, dan menutup gorden dengan cepat.


Aluna datang jam tiga lewat lima puluh dua. Rata-rata waktu bungkusnya hari itu dua puluh dua detik. Dua puluh enam dari tiga puluh layak jual. Dara, yang hari itu tidak tertidur, mencatat dengan wajah yang semakin lama semakin tidak puas, seperti auditor yang tidak bisa menemukan kesalahan dan mulai curiga justru karena tidak ada kesalahan.

Jam lima lewat empat puluh, sebuah mobil taksi online berhenti di mulut gang.

Aluna, yang sedang melayani pelanggan di lapak depan, menoleh. Wajahnya berubah. Ia meletakkan bungkusan di tangannya dan berlari kecil ke mobil itu.

Pintu belakang taksi terbuka. Tante Melinda turun lebih dulu, memakai kardigan cokelat dan kerudung tipis. Lalu ia dan Aluna, bersama-sama, dengan gerakan yang terlatih, membuka bagasi, mengeluarkan kursi roda lipat, membukanya, dan membantu seseorang turun dari jok belakang ke atas kursi roda itu.

Pak Hendra Hadinata, dengan kemeja batik cokelat yang disetrika rapi dan sarung di pangkuan.

Aku berdiri diam di balik meja keramik lapak.

Aluna mendorong kursi roda itu ke arah lapak. Tante Melinda berjalan di sebelahnya. Antrean pagi itu panjang, sembilan orang: Pakde Sarno di depan, lalu tukang ojek berjaket hijau, lalu dua ibu-ibu berdaster, lalu mas-mas berkemeja rapi yang mengenaliku dari artikel beberapa minggu lalu, lalu yang lain.

Aluna berhenti mendorong di depan lapak. Ia menunduk ke arah papanya, mengatakan sesuatu dengan pelan.

Pak Hendra menggeleng.

Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar dan menunjuk ke belakang. Ke ujung antrean.

Aluna menatap papanya lama. Lalu, tanpa membantah, ia memutar kursi roda itu dan mendorongnya ke belakang antrean. Di belakang orang kesembilan. Di belakang semua orang.

Om mau antre.

Tenggorokanku menyempit.

Antrean bergerak lambat. Aku melayani setiap orang. Telur balado atau dadar. Sambal dipisah. Sepuluh ribu. Aku tidak bisa berhenti melirik ke ujung antrean, ke lelaki tua di kursi roda yang menunggu dengan sabar di belakang tukang ojek dan ibu-ibu berdaster, dengan anaknya berdiri di belakangnya dan istrinya di sampingnya.

Pakde Sarno, yang sudah dapat tiga bungkusnya, tidak langsung pergi. Ia berjalan ke ujung antrean dan berhenti di sebelah kursi roda Pak Hendra.

“Pagi, Pak. Baru pertama ke sini?”

Pak Hendra mengangguk pelan.

“Wah, telat Bapak. Saya udah delapan belas tahun.” Pakde Sarno mengangkat kantong kresek berisi tiga bungkus nasi uduk. “Yang satu ini buat istri saya. Di Cilacap.”

Pak Hendra menatapnya. Lalu, perlahan, separuh wajahnya tersenyum. “Jauh... ya.”

“Jauh, Pak. Tapi saya tetap beliin. Tiap hari.” Pakde Sarno tertawa. “Siapa tahu dia pulang.”

Pak Hendra tertawa juga. Tawa yang tersendat-sendat, pelan, tapi tawa.


Giliran Pak Hendra datang jam enam lewat tujuh menit.

Aluna mendorong kursi roda itu sampai tepat di depan meja keramik. Pak Hendra menatapku. Lalu menatap papan nama kayu jati di atas lapak. Lalu menatap rak yang berisi bungkusan nasi uduk, termasuk beberapa yang bentuknya miring sedikit di sudut, hasil tangan Aluna.

“Satu,” kata Pak Hendra. Pelan. Setiap kata butuh waktu. “Telur... balado. Sambal... dipisah.”

Aku membungkusnya sendiri. Aku memilih telur yang paling bulat. Aku memastikan karet merahnya terpasang sempurna.

Lalu aku menyerahkannya dengan dua tangan.

Pak Hendra menerimanya dengan tangan kanan. Gemetar. Lalu ia meletakkannya di pangkuan, di atas sarung, dan dengan tangan yang sama, dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari saku kemeja batiknya. Uang itu terlipat dua, rapi, seperti sudah disiapkan sejak di rumah.

Ia mengulurkannya padaku.

“Om... antre,” katanya. “Kayak... orang lain.”

Aku menerima uang sepuluh ribu itu.

Aku tidak bisa bicara. Aku berdiri di balik meja keramik dengan uang sepuluh ribu di tangan dan sesuatu di dadaku yang bergerak, besar, seperti tabung radio yang menyala setelah lama mati, bukan sepuluh detik desis, tapi langsung suara, langsung lagu.

Di belakang kursi roda, Aluna menatapku. Matanya basah. Bibirnya terkatup rapat.

Di sampingnya, Tante Melinda menutup mulut dengan ujung kerudung.

Di belakangku, aku mendengar Ibu berhenti membungkus.

“Makasih, Om,” kataku akhirnya. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumaksud. “Makasih udah antre.”


Pak Hendra makan nasi uduknya di sana. Di samping lapak, di kursi roda, dengan Aluna berjongkok di sebelahnya membukakan bungkus daun pisang dan menuangkan sambal kacang ke pinggir nasi.

Ia makan dengan tangan kanan. Empat jari dirapatkan. Pelan. Gemetar. Beberapa butir nasi jatuh ke sarung. Aluna memungutnya satu per satu tanpa berkata apa-apa.

Setelah tiga suapan, Pak Hendra berhenti. Ia mengunyah lama. Menatap nasi di pangkuannya. Lalu menatap Ibu, yang sudah keluar dari dapur dan berdiri di sebelahku di balik meja keramik.

“Bu,” kata Pak Hendra. “Ini... enak... sekali.”

Ibu tersenyum. “Matur nuwun, Pak.”

“Pantes,” kata Pak Hendra, lalu menoleh ke anaknya dengan separuh wajah yang tersenyum jahil. “Pantes... anak Om... lima tahun... tiap—”

Aluna bergerak sangat cepat.

Ia menyambar sepotong kerupuk dari rak lapak, kerupuk besar berwarna putih yang biasanya dijual seribu rupiah, dan menjejalkannya ke mulut papanya.

Pak Hendra berhenti bicara. Matanya membesar. Kerupuk itu menempel di mulutnya, separuh di dalam, separuh di luar, seperti lidah yang terjulur. Ia mengunyah dengan wajah sangat tersinggung, bunyi kriuk-kriuk yang keras di tengah keheningan pagi.

Aluna berjongkok di sebelahnya dengan tangan masih terangkat, wajahnya merah padam sampai ke telinga, menatap papanya dengan mata yang jelas-jelas bilang diam.

Tante Melinda menutup wajah dengan dua tangan.

Pak Hendra terus mengunyah kerupuk itu dengan gigih, tanpa memutus tatapan tersinggungnya dari anaknya. Kriuk. Kriuk. Kriuk.

Dan aku tertawa.

Aku tidak merencanakannya. Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari dadaku seperti air dari keran yang dibuka penuh, tiba-tiba, keras, tidak terkendali. Aku tertawa sampai bahuku berguncang. Sampai aku harus berpegangan pada pinggir meja keramik. Sampai mataku menyipit begitu dalam sampai aku hampir tidak bisa melihat apa-apa, sampai pandanganku kabur oleh air mata.

Aku tidak tahu apa yang lucu. Mungkin kerupuk itu. Mungkin wajah tersinggung Pak Hendra. Mungkin Aluna yang berjongkok dengan wajah merah padam. Mungkin semuanya. Mungkin aku sudah terlalu lama tidak tertawa seperti ini, dan sesuatu di dalam diriku memutuskan sudah waktunya.

Aku tertawa lama.

Lalu, pelan-pelan, aku menyadari bahwa sekelilingku sunyi.

Aku menghapus mata dengan punggung tangan dan melihat.

Antrean berhenti bergerak. Tukang ojek berjaket hijau menatapku dengan mulut terbuka. Pakde Sarno, yang masih berdiri di dekat kursi roda, menatapku dengan alis terangkat tinggi.

Di pintu samping dapur, Dara berdiri dengan centong nasi di tangan. Centong itu jatuh dari tangannya, membentur lantai dengan bunyi klang yang nyaring. Ia tidak memungutnya. Ia hanya menatapku dengan mata membesar di balik kacamata.

“Kakak ketawa,” gumam Dara. Pelan. Seperti melaporkan sesuatu yang tidak mungkin.

Di sebelahku, Ibu menatapku. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia mengangkat celemeknya dan mengusap ujung matanya, sambil berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun:

“Wis suwe.”

Sudah lama.

Dan Aluna.

Aluna masih berjongkok di sebelah kursi roda papanya. Tangannya yang tadi terangkat sekarang turun ke pangkuannya. Wajahnya yang merah padam sekarang berubah. Ia menatapku seolah melihat sesuatu yang hilang selama delapan tahun dan tiba-tiba muncul di depan matanya, di tempat yang paling tidak terduga, di samping lapak nasi uduk jam enam pagi, karena sepotong kerupuk.

Matanya basah. Bibirnya bergetar. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata, senyum yang membuat kepalanya miring sedikit ke kiri.

Aku menatapnya balik. Aku masih bernapas terengah-engah dari tawa. Mataku masih basah.

Aku tidak mengerti kenapa semua orang menatapku seperti itu.

Aku hanya tertawa.


Malam itu, Dara masuk ke kamarku tanpa mengetuk, membawa laptop, dan memutarnya menghadapku.

Spreadsheet. LAPORAN AUDIT CALON KAKAK IPAR.

Ada baris baru.

Temuan 11. Sabtu, pukul 06.09. Subjek menjejalkan kerupuk ke mulut ayahnya sendiri untuk mencegah ayahnya membocorkan sesuatu (perlu investigasi lanjutan — “lima tahun tiap” APA?). Akibat: Kakak tertawa. Tertawa yang itu. Yang matanya hilang. Pertama kali sejak 2017.

Kategori Risiko: Tidak dapat ditentukan.

Skor: —

Kolom skornya kosong.

“Kenapa kosong?” tanyaku.

Dara menatap layar laptopnya lama. Lalu menutupnya.

“Belum ada format angka buat itu,” katanya. Lalu ia keluar, dan berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. “Kak.”

“Hm.”

“Kakak tadi ketawanya kayak dulu.”

Ia menutup pintu sebelum aku sempat bertanya dulu kapan.


Aku berbaring di kasur menatap langit-langit dalam gelap.

Aku memikirkan kerupuk. Memikirkan uang sepuluh ribu yang dilipat dua, rapi, yang sekarang ada di laci dasbor mobilku, bersama empat sticky note kuning. Aku tidak menaruhnya di kas lapak. Aku tidak tahu kenapa.

Aku memikirkan Pak Hendra di ujung antrean.

Aku memikirkan lima tahun tiap. Lima tahun tiap apa? Aku tidak mengerti, dan Aluna menjejalkan kerupuk sebelum aku sempat mengerti, dan aku tertawa terlalu keras untuk bertanya.

Aku memikirkan bahwa besok hari Minggu. Lapak tutup. Tidak ada yang datang jam empat pagi.

Dan aku memikirkan bahwa Sabtu depan masih enam hari lagi.

Enam hari. Aku menghitungnya tanpa sengaja, seperti aku menghitung baris log server. Dan menyadari bahwa aku menghitung, membuatku duduk tegak di kasur dalam gelap.

Aku tidak pernah menghitung hari menuju Sabtu. Sabtu cuma hari. Lapak buka, lapak tutup, sama seperti hari Selasa atau Kamis.

Kenapa aku menunggu hari Sabtu?

Aku tidak punya jawabannya. Atau aku punya, dan aku belum siap mendengarnya.

Di laci dasbor mobil di garasi, ada empat sticky note kuning dan selembar uang sepuluh ribu yang dilipat dua. Di dalam dadaku, ada ruang yang dulu kosong, yang sudah jadi ruang biasa, yang bisa diisi apa saja atau dibiarkan kosong tanpa ada yang sakit.

Malam ini ruang itu tidak terasa kosong.

Ruang itu terasa seperti dapur jam empat pagi. Terang. Hangat. Wangi santan. Dan ada seseorang di dalamnya yang sedang belajar membungkus nasi uduk dua puluh dua detik, dengan lidah terjulur sedikit di sudut bibir, dan sambal kacang di pergelangan tangannya.