Chapter Twenty Eight
Audit Ulang
POV: Anggana
Penerbangan dari Ho Chi Minh dijadwalkan mendarat di Jakarta Senin jam tujuh pagi.
Pesawatnya tidak berangkat sampai jam satu siang waktu setempat. Ada masalah teknis di roda pendarat, kata petugas di gerbang keberangkatan, dengan senyum minta maaf dan voucher makan senilai seratus lima puluh ribu dong yang hanya cukup untuk satu mangkuk pho dan setengah gelas es kopi.
Aku duduk di ruang tunggu Bandara Tan Son Nhat selama enam jam, dengan laptop terbuka dan kerah yang miring, dan menatap satu pesan yang kukirim jam enam pagi.
Anggana: Pesawatku delay. Kayaknya baru sampai sore. Maaf.
Balasannya datang tiga menit kemudian.
Aluna: Nggak apa-apa. Hati-hati.
Lalu satu menit kemudian:
Aluna: Kerahmu pasti miring.
Anggana: 75 derajat.
Aluna: Rekor. Simpen buat besok. Aku benerin.
Lalu, sepuluh menit kemudian, waktu aku sudah memasukkan HP ke saku:
Aluna: Ceritanya juga. Besok.
Aku membaca pesan itu berulang kali di ruang tunggu Bandara Tan Son Nhat. Ceritanya. Sesuatu yang ia sebut di acara sekolah hari Sabtu. Hari ini aku liat ada orang baik. Sesuatu yang ia janjikan untuk hari Senin, lalu sekarang untuk besok.
Aku tidak tahu ceritanya apa. Aku tidak tahu apakah itu sama dengan yang harus aku ceritain soal kelas tiga di atas batu karang di Labuan Bajo, kalimat yang ia hentikan di tengah dan aku biarkan berhenti.
Aku tidak bertanya. Aku mengetik: Oke. Besok.
Lalu aku menatap kalimat itu, dan untuk pertama kalinya, aku merasa ada yang salah dengan caraku menjawab.
Perjalanan ke Vietnam berjalan baik. Aku mewawancarai empat calon kepala tim teknis Flie untuk Vietnam dan memilih yang keempat: Nguyen Thi Linh, perempuan berusia tiga puluh dua tahun dengan rambut dipotong sangat pendek dan tawa yang keras, yang dulu bekerja di perusahaan logistik dan pernah membangun sistem pengiriman untuk pedagang kecil di Delta Mekong. Waktu aku bertanya kenapa ia mau meninggalkan pekerjaan yang lebih bergaji untuk startup yang belum masuk Vietnam, ia menjawab dalam bahasa Inggris dengan aksen yang kental:
“Because my mother sells noodles on a boat in Cần Thơ. Nobody ever built anything for her.”
Aku menawarinya pekerjaan hari itu juga. Jovan, lewat video call, menangis sedikit dan pura-pura kemasukan debu.
Aku sampai di rumah Senin jam sembilan malam.
Ibu sudah tidur. Lampu dapur sudah dimatikan, tapi di atas meja marmer ada piring tertutup tudung saji. Nasi, sayur asem, tempe goreng. Di sebelahnya, secarik kertas dengan tulisan tangan Ibu yang miring seperti huruf R:
Makan. Jangan sambil buka laptop.
Aku makan sambil buka laptop.
Jam sembilan lewat dua puluh, Dara turun dari tangga. Piyama beruang. Kacamata di atas kepala. Laptopnya sendiri di pelukan.
Ia duduk di seberangku di meja marmer. Menatap piring di depanku. Menatap laptopku yang terbuka.
“Ibu bilang jangan sambil buka laptop.”
“Aku tahu.”
“Kakak selalu tahu. Tapi Kakak selalu ngelanggar.” Ia membuka laptopnya sendiri. “Aku mau presentasi.”
“Presentasi apa?”
Dara tidak menjawab. Ia mengetik sesuatu, lalu memutar laptopnya menghadapku.
LAPORAN AUDIT CALON KAKAK IPAR.
REVISI PERIODE BERJALAN.
Aku meletakkan sendok.
Spreadsheet itu sudah berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Barisnya lebih banyak. Ada tab-tab baru di bawah dengan nama-nama seperti AUDIT LAPANGAN (SABTU) dan CATATAN TAMBAHAN dan satu tab dengan nama JANGAN DIBUKA KAKAK yang tentu saja langsung membuatku ingin membukanya.
Dara menggulirkan halaman ke bagian paling bawah. Ke baris ringkasan.
TOTAL SKOR PERIODE SEBELUMNYA: −999
PENYESUAIAN:
Di bawahnya, daftar.
Audit lapangan Sabtu (6 minggu): kehadiran 100%. Tidak pernah terlambat. Rata-rata tiba 03.56. (+60)
Waktu bungkus: dari 45 detik ke 12 detik. Ibu bilang bisa dijual. (+40)
Menyelimuti auditor yang tertidur. (+2, sudah dicatat sebelumnya, dipindahkan ke sini untuk konsolidasi)
Membawa Pak Hendra antre. (+50) (Catatan auditor: Ibu nangis.)
Menjejalkan kerupuk ke ayah sendiri. Hasil: Kakak tertawa. (Tidak dapat dinilai dengan angka. Lihat catatan kaki 1.)
Tindakan fisik tanpa izin di pesta Flie. (−100) (Catatan auditor: Ibu tersenyum. Penilaian auditor dipengaruhi. −100 tetap berlaku.)
Temuan 13. (Dirahasiakan — etika profesi.) (+337)
TOTAL SKOR SAAT INI: −500
Aku menatap angka itu lama.
“Temuan tiga belas,” kataku. “Plus tiga ratus tiga puluh tujuh?”
“Dirahasiakan.”
“Dar, itu angka yang aneh.”
“Itu angka yang tepat.” Dara memutar laptopnya kembali menghadap dirinya. “Aku hitung pakai rumus. Kakak nggak perlu tahu rumusnya.”
“Kenapa plus tiga ratus tiga puluh tujuh?”
“Karena,” kata Dara datar, “kalau aku kasih plus tiga ratus empat puluh, totalnya jadi minus empat ratus sembilan puluh tujuh. Dan itu angka ganjil yang jelek. Minus lima ratus lebih rapi.”
Aku menatap adikku. Adikku menatap layar laptopnya dengan wajah auditor yang sangat profesional dan telinga yang sangat merah.
“Ada apa di acara sekolah hari Sabtu?” tanyaku.
“Nggak ada apa-apa. Aku nyerahin dana ke Pak Hardi. Pak Hardi nangis. Bu Endang dapet plakat. Nurul pidato. Udah.”
“Luna dateng.”
“Iya.”
“Kamu ketemu dia?”
Dara diam satu detik terlalu lama. Itu kesalahan. Di rumah ini, diam terlalu lama sama dengan pengakuan.
“Ketemu,” katanya. “Sebentar.”
“Terus?”
“Terus nggak ada apa-apa.” Dara menutup laptopnya. “Dia kelihatan capek. Aku udah bilang lewat chat.”
Aku menatapnya. Ia menatap tutup laptopnya.
“Dar.”
“Kak, itu etika profesi. Auditor nggak boleh bocorin temuan yang dirahasiakan. Kalau aku bocorin, izin praktikku bisa dicabut.”
“Kamu belum punya izin praktik.”
“Calon izin praktik.”
Dari arah tangga, terdengar suara pintu kamar Ibu terbuka. Langkah pelan. Lalu Ibu muncul di ujung tangga dengan daster dan rambut terurai, mata setengah tertutup.
“Kalian ribut apa jam segini?”
“Dara presentasi, Bu.”
Ibu turun dua anak tangga, menatap laptop Dara yang tertutup, menatapku, menatap piring yang nasinya baru habis separuh karena aku makan sambil membuka laptop. Lalu Ibu menghela napas, duduk di anak tangga ketiga, dan menopang dagu dengan tangan.
“Le,” katanya pelan.
“Iya, Bu.”
“Kapan kamu mau ngaku?”
Hening.
Dara mengangkat kepala dengan cepat. Aku menatap Ibu.
“Ngaku apa, Bu?”
Ibu menatapku dengan mata yang sudah tidak setengah tertutup lagi. Mata yang hangat, tenang, seperti teh yang baru diseduh. Mata yang, entah sejak kapan, tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
“Kamu tahu ngaku apa,” kata Ibu.
Lalu ia berdiri, naik tangga kembali ke kamarnya, dan menutup pintu.
Dara menatapku. Aku menatap tangga yang kosong.
“Kak,” kata Dara pelan. “Ibu barusan...”
“Iya.”
“Ibu nggak pernah ngomong gitu.”
“Iya.”
Dara membuka laptopnya lagi, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menutupnya sebelum aku bisa melihat. Lalu ia berdiri, membawa laptopnya, dan berjalan ke tangga.
Di anak tangga ketiga, tempat Ibu tadi duduk, ia berhenti.
“Minus lima ratus,” katanya tanpa menoleh. “Itu masih minus. Aku belum setuju. Tapi aku juga udah nggak yakin aku nolak.”
Lalu ia naik.
Selasa pagi, aku datang ke kantor jam tujuh, lebih pagi dari biasanya. Ada tumpukan pekerjaan dari empat hari aku di Vietnam. Ada persiapan Investment Committee final hari Jumat. Ada laporan insiden kecil di sistem pembayaran hari Sabtu yang ditangani tim dengan baik tapi tetap harus kubaca.
Aluna mengirim pesan jam tujuh lewat lima belas.
Aluna: Hari ini aku di Sagara seharian. Marcella minta revisi model buat IC. Kamu sibuk?
Anggana: Banget. Rapat dari jam 9 sampai jam 7.
Aluna: Besok?
Anggana: Besok lebih longgar. Makan malam?
Aku menatap kata itu setelah mengirimnya. Makan malam. Aku tidak pernah mengajak siapa pun makan malam. Aku pernah makan malam dengan Nadia, dulu, di Bandung, tapi itu selalu Nadia yang mengajak. Aku tidak pernah mengajak.
Tiga titik. Lama.
Aluna: Makan malam. Besok. Oke.
Lalu satu pesan lagi:
Aluna: Kerahmu besok aku benerin. Sekalian ceritanya. Janji.
Anggana: Oke.
Aku menatap kata oke itu. Lagi-lagi, ada yang salah dengan caraku menjawab. Tapi aku tidak tahu apa.
Jam dua belas siang, di sela-sela rapat, aku makan siang di pantry lantai dua puluh empat. Sendirian, dengan rantang yang ternyata Dara titipkan ke resepsionis pagi tadi meskipun hari itu bukan Rabu.
Ucup masuk dengan cangkir kopi dan wajah orang yang baru selesai menghadapi pelanggan marah.
“Bro. Lo udah balik.”
“Udah.”
“Vietnam gimana?”
“Dapet orang bagus. Linh.”
“Gue denger. Jovan nangis di video call.” Ucup duduk di seberangku, membuka tutup rantang, mengambil satu tempe goreng tanpa izin. “Terus?”
“Terus apa?”
“Terus lo.” Ucup mengunyah tempe. “Lo kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Lo ngeliatin HP lo tiap tiga menit. Lo udah ngeliatin HP lo empat kali sejak gue masuk. Gue ngitung.” Ucup menunjuk HP di meja di sebelah rantang. “Lo nunggu pesan.”
Aku menatap HP itu. Layarnya gelap. Tidak ada pesan baru sejak jam tujuh lewat lima belas.
“Cup,” kataku.
“Hm.”
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena ruang tunggu Bandara Tan Son Nhat selama enam jam. Mungkin karena Ibu di anak tangga ketiga. Mungkin karena Dara yang tidak lagi yakin ia menolak. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menyimpan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu bentuknya, dan Ucup adalah satu-satunya orang yang sudah melihat semuanya dari awal.
“Kayaknya aku mulai lagi,” kataku.
Ucup berhenti mengunyah.
Ia menatapku lama. Lalu meletakkan tempe gorengnya yang tinggal separuh kembali ke rantang, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang sakral.
“Mulai lagi,” ulangnya.
“Iya.”
“Yang dulu itu.”
“Iya.”
Ucup bersandar ke kursi. Ia menatap langit-langit pantry. Lalu ia tertawa. Pelan, dari perut, tawa orang yang sudah menunggu sesuatu terjadi sejak lama.
“Bro,” katanya. “Gue udah nonton ini delapan tahun lalu. Dari kursi paling depan. Season satu. Gue liat lo dihukum nyanyi Balonku. Gue liat lo ngitung langkah ke kelas dia. Gue liat lo dihukum nyanyi Balonku lagi di hati lo waktu dia nggak benerin kerah lo dua bulan.” Ia menggeleng. “Season dua lebih seru, Bro. Season dua ada CEO yang muntah di perahu.”
Aku tertawa.
Lalu Ucup berhenti tertawa. Wajahnya berubah. Serius. Seperti malam di parkiran sepeda, delapan tahun lalu, waktu ia menunggu tanpa bertanya dan cuma bilang bakso?.
“Tapi, Bro,” katanya pelan. “Gue mau ngomong satu hal. Dan lo dengerin, ya.”
“Oke.”
“Season satu, lo nggak pernah nanya.” Ucup menatapku lurus. “Lo nembak dia. Dia nolak. Lo bilang makasih. Lo pergi. Lo nggak pernah nanya kenapa dia berubah di kelas tiga. Lo nggak pernah nanya kenapa dia nolak. Lo nggak pernah nanya apa-apa. Lo cuma nerima.”
Aku diam.
“Gue nggak bilang itu salah,” lanjut Ucup. “Itu lo. Lo emang gitu. Lo nerima semua yang dikasih orang ke lo, termasuk yang jelek-jelek. Tapi Bro.” Ia mengetuk meja pantry dengan ujung jari. “Season dua, lo tanya dia. Apa pun yang lo pengen tahu, lo tanya. Jangan nunggu dia cerita. Jangan bilang ‘oke, nanti aja kalau kamu siap’. Lo tanya.”
Aku menatap Ucup.
Aku teringat batu karang di Labuan Bajo. Ada yang harus aku ceritain soal kelas tiga. Dan aku, dengan kelegaan kecil yang aku sendiri tidak sadari waktu itu: nggak usah sekarang kalau kamu belum siap.
Aku teringat jempolku yang menggantung di atas tombol cari. PT Hadinata Graha pailit. Dan aku menghapusnya, huruf demi huruf.
Aku teringat oke. Besok.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
“Karena lo pantes tahu, Bro.” Ucup berdiri, mengambil cangkir kopinya. “Lo udah nolong semua orang seumur hidup lo tanpa nanya apa-apa. Sekali-sekali, lo boleh minta jawaban. Itu bukan maksa. Itu bukan nggak sopan. Itu cuma... lo minta sesuatu buat diri lo sendiri.”
Ia berjalan ke pintu pantry. Lalu berhenti dan menoleh.
“Dan Bro.”
“Hm.”
“Kalau season dua ini lo bikin dia nangis, atau dia bikin lo nangis,” Ucup menyeringai, “gue yang traktir bakso. Dua mangkok. Kayak dulu.”
Ia keluar.
Aku duduk sendirian di pantry dengan rantang Ibu yang tempe gorengnya tinggal setengah karena dicuri Ucup.
Lo tanya dia.
Besok. Makan malam. Ia akan merapikan kerahku dan menceritakan sesuatu.
Dan kali ini, kalau ia berhenti di tengah cerita, aku tidak akan bilang nggak usah sekarang. Kali ini, aku akan bertanya.
Jam empat sore, di tengah rapat persiapan IC dengan Jovan dan Mbak Kirana, Jovan membuat pengumuman.
Ia berdiri di depan papan tulis putih di Ruang Bromo, dengan spidol di tangan dan wajah yang terlalu serius untuk diskusi tentang struktur dewan direksi.
“Sebelum kita lanjut,” katanya, “ada satu hal yang harus gue disclose. Demi transparansi. Demi tata kelola perusahaan yang baik.”
Mbak Kirana menurunkan kacamatanya. “Apa, Pak Jovan?”
Jovan menarik napas panjang. “Gue sama Mbak Tiara dari Sagara.”
Hening.
“Kalian kenapa?” tanya Mbak Kirana.
“Kami...” Jovan mencari kata. “Kami sedang dalam masa percobaan.”
“Masa percobaan apa?”
“Pacaran. Masa percobaan pacaran. Tiga bulan. Kalau lulus, jadi permanen.” Jovan mengangkat tangan seperti orang bersumpah. “Ini bukan konflik kepentingan. Mbak Tiara nggak pegang keputusan investasi. Dia analis. Tapi gue disclose. Demi transparansi.”
Mbak Kirana menatap Jovan lama. Lalu menatapku. Lalu kembali ke Jovan.
“Pak Jovan,” katanya dengan suara sangat datar, “Bapak tahu kan bahwa masa percobaan pacaran bukan istilah hukum?”
“Itu istilah Mbak Tiara.”
“Dan Bapak setuju?”
“Gue setuju sama semua yang Mbak Tiara bilang. Itu juga bagian dari masa percobaan.” Jovan meletakkan spidol. “Oke, lanjut. Struktur dewan direksi.”
Mbak Kirana menulis sesuatu di catatannya. Aku mengintip. Disclosure: CEO, hubungan pribadi dengan analis Sagara. Tidak material. Tapi catat.
Lalu, di bawahnya, dengan tulisan lebih kecil:
CTO belum disclose. Tapi semua orang tahu.
Jam sebelas lewat empat puluh tujuh malam, aku sedang duduk di meja marmer dapur dengan laptop terbuka, membaca draf akhir presentasi untuk IC hari Jumat, ketika HP-ku berbunyi.
Bukan pesan. Telepon.
Aluna.
Ia tidak pernah meneleponku. Selama dua bulan ini, semuanya lewat pesan. Satu-satunya kali kami bicara di telepon adalah kelas sepuluh, jam satu pagi, waktu ia mendiktekan angka-angka tabel Pekan Sains dari ingatan.
Aku mengangkatnya di dering pertama.
“Luna?”
Yang kudengar pertama adalah napas. Cepat. Tersendat. Lalu suara di belakangnya, suara Tante Melinda yang berteriak memanggil nama seseorang. Lalu suara Aluna, pecah, seperti kaca yang retak di tengah:
“Anggana.”
Aku sudah berdiri.
“Papa jatuh. Di kamar mandi. Napasnya aneh. Dia nggak jawab waktu dipanggil. Ambulans bilang empat puluh menit. Empat puluh menit, Anggana. Taksi online nggak ada yang mau ambil karena kursi rodanya—”
“Aku berangkat sekarang.”
“Kamu nggak harus—”
“Aluna.”
Ia diam.
“Aku berangkat sekarang,” kataku lagi. Aku sudah memegang kunci mobil. Aku sudah di pintu. “Jangan pindahin Papa. Miringkan badannya, kepala sedikit ke samping. Longgarin bajunya. Jangan kasih minum apa-apa. Telepon aku lagi kalau napasnya berubah. Aku sampai dua puluh lima menit.”
“Depok jauh—”
“Dua puluh lima menit.”
Aku menutup telepon.
Di tangga, Dara sudah berdiri dengan piyama beruang dan wajah pucat. Ia mendengar. Di belakangnya, pintu kamar Ibu terbuka.
“Kak—”
“Papanya Luna. Stroke lagi, kayaknya.”
Dara tidak bertanya apa-apa. Ia berbalik dan berlari ke kamarnya. Tiga detik kemudian, ia keluar lagi dengan jaket dan HP. “Aku ikut.”
“Dar, besok kamu kerja—”
“Aku ikut, Kak.” Ia sudah menuruni tangga. “Mamanya Luna butuh orang. Kakak bakal sibuk sama dokter. Aku ikut.”
Di belakangnya, Ibu berdiri di ambang pintu kamar dengan daster dan rambut terurai. Wajahnya tenang. Matanya tidak.
“Berangkat, Le,” kata Ibu. “Ibu nyusul subuh. Ibu bawain makanan.”
Aku mengangguk.
Jam sebelas lewat lima puluh dua, mobilku keluar dari gang. Dara di kursi penumpang, memegang HP dengan dua tangan, menelepon Aluna untuk memberi tahu bahwa kami sudah di jalan.
Jalan tol kosong. Lampu-lampu kuning lewat seperti garis.
Aku menyetir lebih cepat dari yang pernah kulakukan seumur hidup, dan sepanjang jalan, di kepalaku hanya ada satu kalimat. Bukan rencana. Bukan rute. Bukan daftar hal-hal yang harus dilakukan di rumah sakit.
Hanya satu kalimat, yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun dalam delapan tahun, dan yang tiba-tiba sangat, sangat ingin kuucapkan sebelum terlambat.
Aku menekan gas lebih dalam.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang reading
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis