← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Eleven

Delapan Tahun Kemudian

POV: Anggana

Jam tiga lewat empat puluh, rumah kami masih wangi santan.

Delapan tahun, dan beberapa hal tidak berubah. Hidungku masih bangun duluan. Ibu masih bersenandung campursari yang liriknya cuma ia hafal separuh. Daun pisang masih dilayukan di atas api supaya lemas dan tidak sobek waktu dilipat.

Yang berubah adalah dapurnya.

Sekarang dapur kami luasnya tiga kali lipat, dengan kompor empat tungku, meja marmer panjang, dan exhaust fan yang tidak berbunyi seperti helikopter mau jatuh. Rumahnya juga berubah: dua lantai, cat putih gading, berdiri di atas tanah yang dulu kontrakan tiga pintu milik Haji Mansur di mulut gang. Aku membelinya dua tahun lalu, waktu Flie pertama kali untung. Ibu menolak pindah ke perumahan di Bintaro yang kutawarkan. Ibu menolak pindah ke apartemen di Kuningan. Ibu menolak pindah ke mana pun yang jaraknya lebih dari lima puluh langkah dari tempat gerobaknya berdiri selama delapan belas tahun.

“Lapak ini yang nyekolahin anak-anakku,” katanya waktu itu. “Ibu ndak mau sombong sama lapak.”

Jadi aku membangun rumah di sebelah lapak. Dan aku membangun lapaknya juga: tenda permanen dengan atap galvalum, meja keramik, rak stainless, lampu LED yang tidak berkedip. Gerobak lama yang kayunya sudah lapuk tidak dibuang. Ibu menaruhnya di teras samping dan menanam cabai di dalamnya.

“Le, daun pisangnya.”

“Nggih, Bu.”

Aku memotong daun pisang jadi persegi dua puluh senti. Dua ratus lima puluh lembar sekarang, karena antrean di hari biasa sudah sampai belasan orang dan sebagian besar pelanggan baru adalah karyawan kantoran yang lewat sebelum masuk tol.

Jam empat lewat lima, pintu kamar di lantai dua terbuka dengan bunyi yang terlalu keras untuk jam segitu.

“Kakak.”

Dara turun tangga dengan piyama bergambar beruang, rambut dicepol asal, kacamata miring di hidung. Ia berumur dua puluh empat sekarang, auditor junior di salah satu kantor akuntan publik terbesar di Jakarta, dan setiap hari pulang jam sepuluh malam dengan wajah orang yang baru menemukan selisih tujuh rupiah di laporan keuangan senilai triliunan.

“Kenapa nggak bangunin aku?”

“Kamu tidur jam dua.”

“Aku tidur jam dua karena klienku nyembunyiin piutang ragu-ragu di catatan kaki nomor tiga puluh tujuh.” Ia menarik kursi dan mulai melipat daun pisang dengan kecepatan yang masih jauh lebih rapi daripada aku. “Kakak hari ini meeting sama investor, kan?”

“Kok tahu?”

“Kak Jovan nge-story. ‘Hari besar buat Flie.’ Pakai emoji roket tiga.” Dara menatapku dari balik kacamatanya yang miring. “Kakak pakai kemeja yang mana?”

“Yang biru.”

“Yang biru muda atau yang biru dongker?”

“Biru.”

Dara meletakkan daun pisangnya dengan bunyi tak yang tegas, persis seperti sebelas tahun lalu waktu ia memeriksa tinggi topi kerucutku. “Kakak. Seri C. Tujuh puluh lima juta dolar. Kakak mau ketemu investor pakai kemeja yang kerahnya tiap hari miring kayak orang habis disamber petir?”

“Investor nggak liat kerah.”

“Investor liat semuanya. Aku auditor. Aku tahu.” Ia menunjuk Ibu dengan dagu. “Bu, bilangin.”

Ibu tertawa di depan kompor. “Kerahnya Kakakmu itu urusan takdir, Nduk. Ibu sudah nyerah dua puluh tahun lalu.”


Jam enam pagi, aku masih berdiri di balik meja keramik lapak, menyerahkan bungkusan ke pelanggan, menerima uang, mengembalikan kembalian. Pakde Sarno masih beli tiga bungkus setiap hari dan masih bilang yang satu untuk istrinya di Cilacap. Pak Karno, yang sudah pensiun dari SMA Pelita Nusantara, kadang mampir dan masih menyapaku dengan “Pagi, Mas” sambil melirik kerahku.

Ada yang mengenaliku dari artikel di portal berita teknologi. Seorang mas-mas berkemeja rapi menatapku lama dari antrean, lalu menatap HP-nya, lalu menatapku lagi.

“Mas,” katanya waktu gilirannya tiba. “Mas yang CTO Flie, bukan?”

“Telur balado atau telur dadar?”

“Hah? Eh, balado.” Ia masih menatapku. “Serius, Mas yang di artikel itu? Yang bikin sistem booking yang transaksinya lima puluh miliar sehari?”

“Sambalnya dipisah?”

“Mas—”

“Sepuluh ribu, Mas.”

Ia membayar dengan wajah bingung, menerima bungkusannya, lalu berjalan pergi sambil menoleh tiga kali. Ibu di sebelahku terkekeh pelan.

“Kamu itu,” kata Ibu. “Kenapa ndak ngaku aja?”

“Di sini aku tukang bungkus, Bu.”

“Di mana-mana kamu tukang bungkus.” Ibu menepuk lenganku. “Tukang bungkus yang bikin aplikasi.”


Kantor Flie ada di lantai dua puluh tiga sebuah gedung di Kuningan. Dua lantai, sebenarnya, karena kami menyewa lantai dua puluh empat juga tahun lalu, waktu jumlah engineer kami melewati dua ratus orang.

Aku masuk lewat lobi jam delapan lewat lima belas, menyetir sendiri dari rumah dengan SUV yang kubeli bekas dua tahun lalu dan belum pernah kucuci sendiri karena Dara selalu mencucinya diam-diam setiap Minggu sambil mengomel.

Di lift, layar kecil di atas pintu menampilkan iklan Flie. Terbang ke mana saja, nginep di mana saja. Flie. Desainnya dibuat tim pemasaran yang dipimpin Jovan. Aku tidak terlalu suka slogannya, terlalu panjang. Tapi Jovan bilang orang Indonesia suka kalimat yang bisa dinyanyikan, dan ternyata ia benar, karena iklan itu ditonton dua belas juta kali di media sosial.

Flie lahir di semester terakhir kuliahku di ITB. Jovan Siregar, teman satu angkatan di Informatika yang suaranya terdengar sampai gedung sebelah dan rasa percaya dirinya terdengar sampai Medan, datang ke kamar asramaku suatu malam dengan dua bungkus martabak dan satu ide.

“Bro. Aplikasi booking hotel di Indonesia itu semua dibikin buat orang yang udah biasa nginep di hotel. Gimana kalau kita bikin buat orang yang belum pernah?”

Aku menatapnya lama. Lalu aku teringat Ibu, di depan TV, menonton iklan maskapai.

Le, kalau nanti kamu sukses, ajak Ibu terbang sekali aja. Ibu pengen lihat awan dari atas.

“Namanya Flie,” kataku.

“Fly?”

“F-L-I-E. Biar bisa didaftarin mereknya. Dan biar kedengarannya kayak terbang, tapi nggak sombong.”

Jovan menatapku dengan mulut penuh martabak. Lalu ia menelan, dan berkata dengan suara paling pelan yang pernah kudengar darinya: “Itu buat nyokap lo, ya?”

Aku tidak menjawab. Jovan tidak bertanya lagi. Malam itu kami mulai menulis kode.

Empat tahun kemudian, Flie punya dua belas juta pengguna aktif, kerja sama dengan lebih dari empat puluh ribu hotel, losmen, homestay, dan penginapan di seluruh Indonesia, dan rata-rata nilai transaksi harian menyentuh lima puluh miliar rupiah. Kami fokus pada hal-hal yang dilewatkan aplikasi lain: penginapan kecil di kota kabupaten, homestay di desa wisata, sistem pembayaran yang bisa dicicil, tampilan yang bisa dipahami orang yang belum pernah memesan hotel seumur hidupnya.

Ibu masih belum pernah naik pesawat. Setiap kali kutawari, ia bilang nanti, kalau sudah waktunya. Aku tidak tahu kapan waktunya. Aku tidak memaksa.


“BRO!”

Jovan menyambutku di pintu kaca lantai dua puluh tiga dengan dua gelas kopi dan wajah seperti anak kecil di pagi Lebaran. Ia tinggi besar, berkacamata, rambut keriting yang tidak pernah bisa disisir rapi, dan hari ini ia memakai jas. Jovan memakai jas. Itu kejadian yang cuma terjadi tiga kali dalam empat tahun: waktu pernikahan kakaknya, waktu Flie menutup Seri B, dan hari ini.

“Lo pakai jas,” kataku.

“Hari ini Sagara Capital datang, Bro. Sagara. Kalau mereka lead, Seri C kita kelar. Tujuh puluh lima juta dolar. Kita bisa ekspansi ke Malaysia, Vietnam, Filipina.” Ia menyodorkan satu gelas kopi padaku, lalu menatap kerahku. Lalu wajahnya berubah. “Ya Tuhan. Kerah lo.”

“Kenapa?”

“Kenapa? KENAPA?” Ia menaruh kopinya di meja resepsionis dan meraih kerahku dengan dua tangan. “Lo CTO perusahaan yang valuasinya mau naik ke angka sembilan digit dolar, dan kerah lo kayak abis diterjang angin puting beliung.”

“Dara juga bilang gitu.”

“Dara itu nabi. Dengerin Dara.” Jovan menarik-narik kerahku dengan gerakan yang sama sekali tidak membantu. Lipatannya malah makin kusut. Ia mundur selangkah, menatap hasil karyanya, dan menyerah. “Udahlah. Biar mereka lihat lo jenius aja. Jenius kan boleh berantakan. Einstein rambutnya kayak sarang burung.”

“Aku bukan Einstein.”

“Lo lebih ganteng dari Einstein. Itu modal.” Ia mengambil kopinya lagi. “Meeting jam sepuluh. Ruang Bromo. Mereka bawa tiga orang. VP-nya namanya Marcella Tan, galak, katanya pernah bikin founder unicorn nangis di ruang rapat. Terus dua junior.”

“Oke.”

“Lo nggak gugup?”

“Kenapa harus gugup? Sistemnya jalan.”

Jovan menatapku lama, lalu menggeleng. “Itu yang gue suka sekaligus gue benci dari lo, Bro. Dunia bisa kiamat, lo cuma bakal nanya servernya masih nyala apa nggak.”


Jam sembilan lewat empat puluh, aku sudah duduk di Ruang Bromo, ruang rapat terbesar di lantai dua puluh tiga, dengan jendela kaca yang menghadap gedung-gedung Kuningan dan langit Jakarta yang abu-abu muda. Di layar besar di dinding, presentasi sudah siap: arsitektur sistem, statistik transaksi, rencana ekspansi.

Ucup masuk membawa air mineral. Yusuf Hidayat, Head of Customer Operations Flie, yang kurekrut tiga tahun lalu waktu ia baru di-PHK dari perusahaan asuransi dan menelepon untuk bertanya apakah aku butuh orang yang “jago ngomong sama orang marah”. Ternyata ia memang jago. Tim layanan pelanggan Flie adalah yang terbaik di industri, dan Ucup memimpinnya dengan gaya yang ia sebut “menyelesaikan masalah orang dengan cara bikin mereka ketawa dulu”.

Ia meletakkan botol air di depan kursi-kursi tamu, lalu berhenti di sebelahku.

“Bro. Kerah lo.”

“Aku tahu.”

“Mau gue benerin?”

“Kamu bakal nyabut kayak nyabut rumput.”

Ucup terdiam. Ia menatapku dengan alis terangkat, dan aku tahu ia juga teringat. Gerbang sekolah. Pos satpam. Penipuan kerah.

“Lo masih inget itu?” tanyanya pelan.

“Inget aja.”

Ia menatapku sebentar lagi, lalu menepuk bahuku dan keluar tanpa berkata apa-apa.


Jam sepuluh kurang tiga menit, resepsionis mengetuk pintu dan membukanya.

“Pak Jovan, Pak Anggana. Dari Sagara Capital.”

Jovan berdiri dengan gerakan terlalu cepat sampai kursinya berputar. Aku berdiri juga, lebih pelan.

Yang masuk pertama adalah seorang perempuan berusia akhir tiga puluhan dengan setelan abu-abu arang, rambut lurus sebahu yang dipotong tajam, dan sepatu hak yang bunyinya terdengar seperti ketukan palu hakim. Marcella Tan. Aku tahu wajahnya dari artikel-artikel tentang Sagara. Ia menjabat tangan Jovan dengan kuat, lalu tanganku, dan matanya menatapku dengan cara orang menatap neraca keuangan: mencari angka yang tidak cocok.

Yang kedua adalah perempuan muda berkacamata bulat, rambut dikuncir tinggi, dengan senyum yang terlalu lebar untuk ruang rapat. Ia memperkenalkan diri sebagai Tiara, analis.

Lalu yang ketiga masuk.

Aku melihatnya, dan selama satu detik, otakku melakukan hal yang ia lakukan setiap kali melihat log server yang aneh: membaca, mengenali pola, mencari baris pertama di mana sesuatu berbeda.

Rambutnya tidak panjang lagi. Itu yang pertama. Rambut yang dulu jatuh sampai pinggang seperti tirai beludru sekarang dipotong sebahu, dengan gelombang lembut di ujung-ujungnya yang bergerak setiap kali ia menoleh. Potongannya tidak terlalu rapi. Ada satu sisi yang sedikit lebih pendek dari sisi lainnya, sangat sedikit, seperti dipotong oleh seseorang yang tidak punya waktu untuk ke salon.

Wajahnya berubah. Pipi yang dulu masih punya sisa kebulatan remaja sekarang sudah tirus, tulang pipinya lebih tegas, garis rahangnya tajam seperti dipahat. Kecantikannya tidak hilang. Kecantikannya berubah bentuk. Dulu ia cantik seperti foto di sampul majalah, sempurna, terang, hampir tidak nyata. Sekarang ia cantik seperti sesuatu yang sudah melewati musim hujan dan kemarau, dan masih berdiri.

Matanya sama. Almond, besar, cokelat madu. Di bawah lampu ruang rapat yang putih, warnanya tidak berubah jadi keemasan, tapi tetap terang. Tetap jernih. Dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya masih ada di sana, satu titik cokelat yang sedikit lonjong seperti tetesan.

Ia memakai blazer hitam di atas kemeja putih, celana panjang hitam, sepatu pantofel yang sudah sedikit aus di bagian ujung. Lipstiknya warna mawar pucat. Jam tangannya kecil dan sederhana, dengan tali kulit yang retak halus di bagian lubang gesper. Ia memeluk map dan tablet di dada, persis seperti dulu ia memeluk map biru di depan aula Lomba Inovasi.

Ia berhenti di ambang pintu.

Ia melihatku.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Sesuatu yang cepat dan besar dan tidak sempat disembunyikan: matanya membesar, bibirnya terbuka sedikit, napasnya tertahan. Tangannya yang memeluk map mengencang sampai buku-buku jarinya memutih.

Aku menunggu sesuatu terjadi padaku juga.

Aku menunggu jantungku melewatkan satu ketukan, seperti pagi MOS sebelas tahun lalu. Aku menunggu cahaya bergerak lebih cepat dari tiga ratus ribu kilometer per detik. Aku menunggu ruang kosong yang dulu ditinggalkan di dadaku di bawah pohon ketapang terisi lagi, atau sakit lagi, atau setidaknya bergetar.

Tidak ada apa-apa.

Aku mengenalinya. Aku mengingat namanya, cara ia menyibak poni dengan dua jari, cara kepalanya miring ke kiri kalau tertawa. Tapi semua itu terasa seperti membuka album foto SMA di rumah Ibu: wajah-wajah yang dikenal, kenangan yang tersimpan rapi, dan jarak yang begitu jauh sampai tidak ada lagi yang bisa melukai.

Di tahun kedua kuliah, aku sempat pacaran dengan Nadia, anak Arsitektur yang suka menggambar gedung-gedung di serbet kafe. Setahun. Kami berpisah baik-baik waktu ia mendapat beasiswa ke Melbourne. Waktu Nadia pergi, aku sedih, tapi aku tidak menangis dengan keran menyala. Saat itulah aku tahu bahwa ruang kosong di dadaku sudah tidak lagi berbentuk seseorang. Ia sudah jadi ruang biasa. Ruang yang bisa diisi apa saja, atau dibiarkan kosong, dan tidak ada yang sakit.

“Ini Luna,” kata Marcella Tan. “Junior Strategic Investment kami. Luna yang akan pegang due diligence teknis bersama saya.”

Luna.

Aku mendengar nama itu, dan aku menyadari sesuatu tentang diriku sendiri. Dulu, aku satu-satunya yang memanggilnya Aluna. Nama utuh, setiap suku kata diberi tempat, karena ia mengucapkannya begitu di pagi MOS, dan aku pikir ia ingin dipanggil begitu oleh orang yang baru kenal.

Sekarang aku bukan orang yang baru kenal. Aku juga bukan lagi orang yang dulu.

Aku tersenyum. Senyum yang kuberikan pada pelanggan lapak, pada mas-mas berkemeja rapi yang mengenaliku dari artikel, pada resepsionis yang mengetuk pintu tadi. Senyum yang sopan, hangat, rapi. Senyum yang sama untuk semua orang.

Aku mengulurkan tangan.

“Halo, Luna,” kataku. “Apa kabar?”

Ia menatap tanganku. Satu detik. Dua detik. Terlalu lama untuk ukuran sopan santun ruang rapat. Marcella melirik ke arahnya. Jovan melirik ke arahku.

Lalu Aluna mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku.

Tangannya dingin. Lebih kurus dari yang kuingat. Ada kapal kecil di pangkal jari telunjuknya, seperti orang yang terbiasa memegang sesuatu dengan keras berjam-jam.

“Baik,” katanya. Suaranya sedikit serak. Lalu ia berdeham, dan suaranya kembali jernih, profesional, rapi. “Baik, Anggana. Lama nggak ketemu.”

“Lho,” kata Jovan, matanya berpindah-pindah di antara kami seperti penonton tenis. “Kalian saling kenal?”

“Teman SMA,” kataku.

Itu jawaban yang benar. Itu jawaban yang jujur. Dan aku melihat Aluna menunduk sedikit waktu mendengarnya, seperti seseorang yang baru saja ditampar dengan sangat lembut.

Aku tidak tahu kenapa ia bereaksi begitu. Aku tidak bertanya. Aku menunjuk kursi-kursi di seberang meja dan berkata, “Silakan duduk. Kita mulai dari arsitektur sistemnya.”


Rapat berlangsung dua jam lima belas menit.

Marcella Tan bertanya dengan tajam, satu pertanyaan setiap tiga puluh detik, dan aku menjawab semuanya. Bagaimana sistem kami bertahan di lonjakan trafik. Bagaimana kami menangani pembayaran dari empat puluh tiga metode berbeda. Bagaimana kami memastikan penginapan kecil di kabupaten yang tidak punya sistem komputer tetap bisa menerima pesanan dalam hitungan detik. Berapa persen biaya server dari pendapatan. Berapa lama sistem pernah mati dalam setahun terakhir. Apa rencana kami kalau penyedia awan utama tumbang.

Di menit keempat puluh, Marcella berhenti mencatat dan hanya mendengarkan.

Di menit keenam puluh, ia mulai mengangguk.

Aluna duduk di sebelah Marcella dan mencatat di tablet. Ia mengajukan tiga pertanyaan selama rapat. Ketiganya bagus. Satu tentang ketergantungan kami pada satu mitra pembayaran, satu tentang perlindungan data pengguna, dan satu tentang bagaimana sistem menangani penginapan yang membatalkan pesanan secara sepihak. Ia bertanya dengan suara tenang dan nada profesional, dan setiap kali bertanya, matanya menatap layar, bukan aku.

Aku menjawab dengan jawaban yang sama telitinya seperti untuk Marcella.

Di akhir rapat, Marcella menutup laptopnya dan menatapku dengan ekspresi yang, menurut Jovan nanti, belum pernah ia lihat di wajah investor mana pun.

“Pak Anggana,” katanya. “Saya sudah lihat banyak CTO. Kebanyakan bisa jelaskan apa sistemnya. Sedikit yang bisa jelaskan kenapa. Bapak bisa jelaskan kenapa sambil kerahnya miring.” Sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir senyum. “Kami akan mulai due diligence teknis minggu depan. Luna yang akan koordinasi dengan tim Bapak.”

“Siap, Bu.”

Kami berdiri. Bersalaman. Jovan mengantar mereka ke lift dengan langkah yang terlalu bersemangat untuk orang yang memakai jas.

Aluna berjalan paling belakang. Di pintu Ruang Bromo, ia berhenti, setengah menoleh. Bibirnya terbuka sedikit, seperti mau mengatakan sesuatu.

Aku menunggu dengan sopan.

Lalu Mas Eko, office boy lantai dua puluh tiga, lewat di koridor sambil membawa nampan berisi gelas kotor. Ia menunduk sopan ke arahku.

“Pagi, Pak Angga. Kopinya mau diganti?”

Aku tersenyum padanya. “Nggak usah, Mas. Makasih, ya.”

Waktu aku menoleh kembali ke pintu, Aluna sudah tidak ada. Hanya ada bunyi langkah pantofel di koridor, cepat, menjauh, ke arah lift.


Lima menit kemudian, Ucup menerobos masuk ke Ruang Bromo tanpa mengetuk.

“BRO.”

“Hm.”

“BRO. Itu kan—”

“Iya.”

“Itu Aluna. Aluna itu. Aluna nasi uduk. Aluna kerah. Aluna pohon ketapang—”

“Iya, Cup.”

Ucup menutup pintu di belakangnya dan bersandar di sana, napasnya terengah-engah seperti baru lari dari lantai dasar. Ia menatapku lama dengan wajah yang tidak bisa memutuskan mau marah, kaget, atau khawatir.

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya akhirnya.

Aku memikirkan pertanyaan itu dengan jujur. Aku memeriksa diriku sendiri seperti memeriksa log server: baris demi baris, mencari tanda-tanda galat.

Tidak ada apa-apa. Hanya ada rapat yang berjalan baik, investor yang mengangguk, dan seseorang dari masa lalu yang kebetulan duduk di seberang meja.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Beneran.”

Ucup menyipitkan mata. Ia menatap wajahku dengan intensitas yang sama seperti waktu kelas sepuluh, waktu ia bilang wajahku seperti papan pengumuman yang tidak bisa menyembunyikan apa-apa.

Lalu ekspresinya berubah. Pelan-pelan. Dari curiga jadi heran, lalu dari heran jadi sesuatu yang mirip sedih.

“Anjir,” gumamnya. “Lo beneran nggak apa-apa.”

“Kan udah aku bilang.”

“Itu yang bikin gue takut, Bro.”

Ia keluar dan menutup pintu.

Aku duduk sendirian di Ruang Bromo, menatap layar presentasi yang masih menyala dan langit Kuningan yang abu-abu muda. Aku memikirkan nggak apa-apa. Kalimat yang kuucapkan seribu kali sepanjang hidupku, di koridor sekolah, di depan Pak Darmawan, di depan Aluna di bangku semen dekat lapangan basket.

Setiap kali, kalimat itu bohong.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, kalimat itu benar.

Aku tidak tahu kenapa, tapi itu terasa lebih sepi daripada semua kebohongan sebelumnya.