Chapter Fifteen
Kerah
POV: Aluna
“Fase dua,” kata Tiara, “adalah kontak fisik terencana.”
Ia menulis tiga kata itu di papan tulis kecil di pantry lantai tiga puluh satu dengan spidol merah, lalu menggarisbawahinya dua kali. Di bawahnya, ia menggambar sesuatu yang mungkin seharusnya adalah tangan, tapi lebih mirip garpu yang sedang sekarat.
Jam tujuh pagi. Pantry Sagara masih kosong kecuali kami berdua dan mesin kopi yang berdengung pelan. Tiara datang lebih pagi dariku, padahal ia biasanya datang paling siang, khusus untuk sesi ini. Ia menyebutnya rapat strategi. Aku menyebutnya Tiara kurang hiburan.
“Fase satu udah,” kataku. “Jari.”
“Fase satu gagal,” koreksi Tiara. “Lo bilang sendiri. Dia langsung balik ke laptop. Nggak ada reaksi. Nol. Kosong. Kayak lo nyentuh mesin ATM.”
“Bukan gagal. Itu pemanasan.”
“Pemanasan.” Tiara menatapku dari balik kacamata bulatnya dengan rasa kasihan yang terlalu dramatis. “Lun. Gue sayang lo. Tapi lo flirting kayak orang yang ngirim surat lamaran kerja. Sopan. Rapi. Nggak ada yang ngerti itu flirting kecuali lo sendiri.”
“Kemarin di pantry aku bilang ‘tujuanku jelas dari awal’ di depan adiknya.”
Tiara berhenti menulis. Spidolnya menggantung di udara. Ia menoleh perlahan, sangat perlahan, seperti tokoh film horor yang baru mendengar suara di belakangnya.
“Lo ngomong apa?”
“Tujuanku jelas dari awal.”
“Di depan adiknya.”
“Adiknya nanya tujuanku apa. Selain due diligence.”
“Dan lo jawab—”
“Sambil senyum.”
Tiara meletakkan spidol di meja. Lalu ia duduk di kursi di depanku, mengambil kedua tanganku, dan menatapku dengan mata berkaca-kaca seperti ibu yang baru melihat anaknya berjalan untuk pertama kali.
“Gue salah,” katanya. “Lo bukan ngirim surat lamaran kerja. Lo truk tanpa rem.”
“Aku cuma jujur.”
“Itu jauh lebih bahaya.” Ia melepas tanganku dan kembali ke papan tulis dengan semangat baru. “Oke. Hari ini mereka presentasi ke IC. Di sini. Lantai tiga puluh satu. Wilayah kita. Ini momen. Gue punya rencana.”
Ia menulis di bawah KONTAK FISIK TERENCANA:
OPERASI KERAH.
“Nggak,” kataku.
“Dengerin dulu—”
“Nggak, Ti.”
“Lo cerita sendiri ke gue, dulu waktu SMA lo tiap pagi benerin kerahnya di gerbang. Itu ikonik. Itu senjata pamungkas. Kalau hari ini kerahnya miring, dan pasti miring, lo tinggal—”
“Nggak.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Tiara terdiam. Aku menunduk, menatap cangkir teh di tanganku. “Bukan yang itu. Yang itu bukan strategi.”
Tiara menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, ia menghapus OPERASI KERAH dari papan tulis dengan ujung lengan blazernya, meninggalkan noda merah di kain abu-abu.
“Oke,” katanya lembut. “Yang itu bukan strategi.”
Presentasi Flie ke Investment Committee Sagara dijadwalkan jam sepuluh. Ini bukan keputusan akhir, melainkan presentasi pendahuluan, supaya para partner bisa melihat langsung para pendiri sebelum due diligence selesai dan term sheet disusun. Tapi semua orang di Sagara tahu: kalau Pak Haryo tidak suka pendirinya di presentasi pendahuluan, tidak akan ada term sheet.
Pak Haryo Wiradharma adalah managing partner Sagara Capital. Enam puluh dua tahun, rambut putih disisir rapi ke belakang, batik sutra setiap hari Kamis, dan suara yang tidak pernah naik tapi membuat semua orang di ruangan berhenti bergerak setiap kali ia bicara. Ia mendirikan Sagara dua puluh tahun lalu dengan uang dari menjual perusahaan tekstil keluarganya, dan menurut legenda kantor, ia pernah menolak berinvestasi di startup yang sekarang jadi unicorn karena pendirinya datang terlambat lima menit dan tidak minta maaf.
Jam sembilan empat puluh lima, aku berdiri di koridor lantai tiga puluh satu, di dekat lift, menunggu tamu dari Flie. Marcella sudah di ruang IC. Tiara di sebelahku, pura-pura memeriksa tablet, padahal ia sedang memeriksa wajahku.
Pintu lift terbuka.
Jovan keluar lebih dulu. Ia memakai jas lagi, jas yang sama dengan hari Kamis lalu, dan ia terlihat seperti orang yang tidak tidur semalaman, karena memang mungkin ia tidak tidur semalaman.
Lalu Anggana.
Kemeja biru muda. Lengan tidak digulung kali ini. Celana panjang abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan, seperti biasa, seperti baru disisir dengan jari. Ia membawa laptop di satu tangan dan gelas teh plastik di tangan lain. Teh, bukan kopi.
Dan kerahnya.
Kerahnya bukan sekadar miring. Kerahnya hancur. Sisi kiri terlipat ke dalam sampai hampir tidak terlihat. Sisi kanan mencuat ke atas seperti sayap burung yang patah, ujungnya menyentuh rahang. Di bagian belakang, kain kerahnya terlipat dua di satu titik, membentuk gundukan kecil, seperti ia memakai kemeja itu sambil berlari, atau sambil membungkus dua ratus lima puluh nasi uduk lalu langsung menyetir ke Sudirman.
“Pagi, Luna,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Aku tidak berpikir. Aku tidak merencanakan. Tidak ada sudut, kecepatan, atau durasi yang kuhitung semalam. Tidak ada papan tulis. Tidak ada OPERASI apa pun.
Tanganku bergerak sendiri.
Aku melangkah ke depannya. Mengangkat kedua tangan ke lehernya. Dan merapikan kerahnya.
Sisi kiri kulipat keluar. Kutekan lipatannya dengan ibu jari supaya rata. Sisi kanan kuturunkan. Gundukan kecil di belakang kurapikan dengan dua jari, menyentuh kulit tengkuknya sebentar. Lalu aku menepuk kerahnya dua kali. Pelan. Seperti menepuk bantal yang baru dirapikan.
Seperti dulu.
Seperti setiap pagi di gerbang sekolah, jam enam lewat empat puluh lima, selama setahun, sebelum semuanya runtuh.
“Kerahmu miring,” kataku.
Lalu aku sadar apa yang baru saja kulakukan.
Aku sadar di mana aku berdiri. Koridor lantai tiga puluh satu Sagara Capital. Lima belas langkah dari pintu ruang Investment Committee. Jovan berdiri satu meter di sebelah kananku dengan mulut terbuka lebar. Tiara berdiri satu meter di sebelah kiriku dengan tablet terjatuh di lantai. Seorang staf administrasi yang kebetulan lewat dengan setumpuk map berhenti di tengah langkah.
Dan Marcella Tan berdiri di ambang pintu ruang IC, satu tangan di gagang pintu, menatap kami dengan alis yang terangkat sangat, sangat tinggi.
Aku menurunkan tanganku.
Lalu aku menatap wajahnya. Wajah Anggana.
Ia membeku.
Bukan diam. Diam adalah hal yang ia lakukan setiap hari. Diam yang sopan, yang tenang, yang terkendali. Ini berbeda. Ini membeku, seperti layar komputer yang tiba-tiba berhenti di tengah proses dan semua angka di layarnya berhenti bergerak.
Matanya sedikit membesar. Bibirnya terbuka sangat sedikit, cukup untuk aku melihat napasnya tertahan. Jakunnya bergerak sekali, naik, turun, seperti menelan sesuatu yang tidak ingin ditelan. Tangannya yang memegang gelas teh plastik mengencang sampai gelas itu berbunyi pelan, krek, dan sedikit teh tumpah ke jari-jarinya.
Ia tidak merasakannya. Aku tahu ia tidak merasakannya, karena ia tidak menoleh ke tangannya.
Ia menatapku.
Satu detik.
Dua detik.
Selama dua detik itu, aku melihat sesuatu di matanya yang tidak ada di sana hari Kamis lalu, di ambang pintu Ruang Bromo, waktu ia bilang halo, Luna, apa kabar dengan senyum yang sama untuk semua orang. Sesuatu yang muncul ke permukaan dari tempat yang sangat dalam, seperti ikan yang naik ke permukaan kolam, sebentar sekali, sebelum menyelam lagi.
Lalu ia mengedip. Dan sesuatu itu hilang.
“Makasih,” katanya. Suaranya biasa. Tapi sedikit lebih serak dari biasanya.
“Sama-sama,” kataku.
“Ehem,” kata Marcella Tan dari ambang pintu. “IC sudah siap. Silakan masuk, Pak Jovan, Pak Anggana.”
Anggana menoleh ke Marcella, mengangguk sopan, dan berjalan ke ruang IC. Di tengah langkah, ia mengibaskan tangannya yang basah teh, seperti baru menyadari tangannya basah. Jovan mengikutinya dengan wajah orang yang baru menyaksikan kecelakaan lalu lintas yang indah.
Di ambang pintu, Jovan menoleh padaku. Ia menunjuk mataku dengan dua jari, lalu menunjuk matanya sendiri, lalu menunjuk punggung Anggana. Lalu ia masuk.
Pintu tertutup.
Tiara memungut tabletnya dari lantai dengan tangan gemetar.
“Lun,” bisiknya. “Itu bukan strategi.”
“Aku tahu.”
“Itu lebih bahaya dari strategi.”
“Aku tahu.”
“Dia beku, Lun. Dua detik. Gue ngitung. Gelasnya bunyi krek.”
Aku menatap tanganku sendiri. Ujung jari yang tadi menyentuh kerahnya, dan tengkuknya, sebentar, waktu merapikan gundukan kecil di belakang.
Masih hangat.
Aku ikut masuk ke ruang IC lima menit kemudian sebagai pendamping Marcella, duduk di kursi di belakang meja utama, tempat para junior biasa duduk untuk mencatat.
Ruang IC Sagara adalah ruangan panjang dengan meja kayu jati gelap dan jendela yang menghadap Bundaran HI. Di kepala meja, Pak Haryo duduk dengan batik sutra cokelat. Di kiri dan kanannya, tiga partner lain dan satu orang yang tidak kukenal: lelaki berusia empat puluhan dengan setelan biru navy yang terlalu rapi dan jam tangan yang terlalu mahal, yang diperkenalkan Marcella sebagai Mr. Adrian Koh dari Halcyon Partners. Salah satu limited partner Sagara. Salah satu pemilik uang di balik dana yang akan diinvestasikan.
Presentasi dimulai. Jovan membuka dengan visi: Flie bukan untuk orang yang sudah biasa menginap di hotel, tapi untuk orang yang belum pernah. Ia bicara dengan semangat, sedikit terlalu keras, tapi tulus, dan aku melihat dua partner tersenyum.
Lalu Anggana mengambil alih untuk bagian teknis.
Ia berdiri di depan layar. Ia bicara pelan. Ia menjelaskan arsitektur sistem dengan bahasa yang bisa dipahami orang yang tidak pernah menulis satu baris kode. Ia menceritakan insiden flash sale hari Senin, sebelas menit, nol transaksi hilang, tanpa menyombongkan diri, seperti orang yang melaporkan cuaca. Ia menjawab setiap pertanyaan partner dengan jawaban yang lengkap, lalu berhenti. Tidak menambahkan. Tidak berputar-putar.
Di menit kedua puluh, Pak Haryo mengangkat tangan.
“Pak Anggana.”
“Iya, Pak.”
“Trivio.” Pak Haryo menyebut nama itu pelan, seperti menyebut nama penyakit. Trivio adalah aplikasi perjalanan terbesar di Asia Tenggara, dengan modal dari dana-dana raksasa dan kebiasaan membakar uang untuk membunuh pesaing. “Kalau besok Trivio memutuskan menurunkan komisi untuk penginapan kecil sampai nol, dan memberi diskon lima puluh persen untuk pengguna baru, selama setahun, apa yang terjadi dengan Flie?”
Ruangan sunyi. Itu pertanyaan yang dihindari semua pendiri startup di Indonesia. Pertanyaan yang tidak ada jawabannya, karena jawabannya adalah kami mati.
Anggana tidak menjawab langsung. Ia diam lima detik. Ia menatap layar, lalu menatap Pak Haryo.
“Trivio bisa menurunkan komisi sampai nol, Pak. Tapi Trivio nggak bisa datang ke homestay Bu Karsinah di Desa Penglipuran yang nggak punya komputer, dan ngajarin anaknya pakai aplikasi di HP Android seharga delapan ratus ribu yang sinyalnya cuma dua garis.” Suaranya tetap pelan. “Kami punya empat puluh ribu mitra kayak Bu Karsinah. Aplikasi mitra kami bisa jalan tanpa internet, nyimpen pesanan, dan baru sinkron waktu sinyal muncul. Kami punya tim lapangan di tiga puluh dua provinsi yang tahu nama anak-anak pemilik losmen. Trivio bisa membeli pengguna. Trivio nggak bisa membeli Bu Karsinah, karena Bu Karsinah nggak peduli diskon. Bu Karsinah peduli siapa yang datang waktu HP-nya rusak.”
Pak Haryo menatapnya lama.
“Dan kalau Trivio membeli Flie?”
Di kursi sebelah Pak Haryo, Mr. Adrian Koh mengangkat kepalanya sedikit. Aku melihatnya. Gerakan kecil, sangat kecil, seperti kucing yang mendengar suara dari kejauhan.
“Flie nggak dijual, Pak,” kata Jovan.
“Semua dijual, Pak Jovan,” kata Mr. Adrian Koh dengan aksen yang setengah Singapura setengah Inggris, nada suaranya ramah. “Hanya soal harga. Strategic consolidation di industri ini akan terjadi. Pertanyaannya cuma, kapan.”
Anggana menoleh ke Mr. Koh. Ia tersenyum. Sopan. Rapi.
“Kalau Flie digabung ke Trivio, Bu Karsinah akan jadi satu baris di database berisi sepuluh juta baris. Dan nggak ada lagi yang datang waktu HP-nya rusak.” Ia mengangguk sopan. “Itu bukan konsolidasi, Pak Koh. Itu penghapusan.”
Hening.
Lalu Pak Haryo tertawa. Pelan. Sekali. Sesuatu yang menurut Marcella belakangan, hanya terjadi tiga kali dalam lima tahun ia bekerja di Sagara.
“Lanjutkan due diligence-nya, Marcella,” katanya. “Saya mau lihat term sheet.”
Setelah presentasi, waktu Jovan dan Anggana sudah turun dengan lift dan Tiara sedang berjoget kecil di pantry dengan gelas kopi di tangan, Marcella memanggilku ke ruangannya.
Ia menutup pintu. Ia tidak duduk. Ia berdiri di depan jendela dengan tangan terlipat, punggung menghadapku.
“Tadi di koridor,” katanya. “Itu apa?”
Aku menelan ludah. “Refleks, Bu.”
“Refleks.”
“Kerahnya miring. Dia mau presentasi ke IC. Saya... refleks.”
Marcella berbalik. Ia menatapku lama, dengan mata yang sama seperti waktu ia membaca neraca keuangan: mencari angka yang tidak cocok.
“Luna. Kamu bilang kalian teman SMA.”
“Iya, Bu.”
“Teman SMA yang dekat.”
“Dulu.”
“Dulu.” Marcella menghela napas. “Saya tidak tanya apa yang terjadi dulu. Itu bukan urusan saya. Tapi saya kasih tahu kamu satu hal, dan saya mau kamu ingat.” Ia melangkah mendekat. Suaranya tidak naik. Suaranya tidak perlu naik. “Di dunia ini, refleks bisa dibaca orang lain sebagai konflik kepentingan. Mr. Koh tadi lihat. Dua partner lihat. Kalau sampai ada yang mempertanyakan objektivitas due diligence karena junior kita merapikan kerah CTO target di depan ruang IC, bukan cuma kamu yang kena. Saya juga. Sagara juga.”
“Saya mengerti, Bu.”
“Bagus.” Marcella kembali ke mejanya dan duduk. Ia membuka laptop. Lalu, tanpa mengangkat kepala, dengan suara yang sedikit lebih pelan: “Kerahnya memang parah tadi, sih.”
Aku mengerjap.
“Keluar, Luna. Kerjakan laporanmu.”
Malam itu, jam sembilan lewat empat puluh, aku sedang duduk di kasur dengan laptop di pangkuan, menulis laporan due diligence hari keempat, ketika HP-ku bergetar.
Satu pesan. Nomor yang tidak tersimpan di kontakku sejak HP ketiga, karena aku sengaja tidak menyimpannya. Tapi aku hafal angka-angkanya. Aku hafal angka-angkanya sejak kelas sepuluh, sejak ia menyebutkannya di konter Cahaya Cell dan aku mengetiknya dengan jari gemetar.
Anggana: Makasih soal kerah tadi.
Aku menatap layar itu.
Aku membacanya sekali. Dua kali. Sepuluh kali. Aku menghitung hurufnya: dua puluh tujuh, termasuk spasi dan titik. Aku memperhatikan bahwa ia tidak memakai emoji. Bahwa ia tidak memanggilku Luna. Bahwa ia menulis soal kerah tadi seolah kerah adalah urusan bisnis yang perlu diucapkan terima kasih secara resmi.
Aku membacanya untuk keempat puluh kalinya.
Lalu aku menutup wajah dengan bantal dan berteriak.
Teriakan itu teredam bantal, tapi rupanya tidak cukup teredam. Dari ruang tamu, suara Papa terdengar, pelan, tersendat-sendat, tapi sangat jelas:
“Kenapa?!”
Lalu suara Mama dari dapur: “Luna! Kamu kenapa? Kesurupan?”
“Nggak apa-apa, Ma!”
“Kok teriak?”
“Kesandung!”
“Kamu di kasur, kesandung apa?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap layar HP lagi. Jari-jariku mengetik jawaban, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi.
Sama-sama. Terlalu pendek.
Sama-sama! Kerahmu tadi parah banget, kayak habis diterjang angin puting beliung. Terlalu panjang, terlalu bersemangat, terlalu ketahuan.
Sama-sama, Anggana. Itu refleks. Bohong.
Kapan pun kamu butuh. Terlalu seperti iklan asuransi.
Delapan belas menit kemudian, setelah menghapus tiga belas versi, aku mengirim:
Sama-sama. Besok juga, kalau masih miring.
Aku melempar HP ke ujung kasur dan menatap langit-langit kamar yang catnya mengelupas di satu sudut. Jantungku berdebar seperti waktu aku berdiri di balik kaca ruang server, delapan tahun lalu.
Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Tidak ada balasan.
Lima belas menit.
Aku mengambil HP lagi, memastikan pesannya terkirim. Dua centang. Biru. Sudah dibaca.
Dua puluh menit.
HP-ku bergetar.
Anggana: Pasti masih miring.
Aku tidak berteriak kali ini. Aku cuma memeluk HP di dada dan berbaring diam, menatap langit-langit, sementara di sudut meja, radio Oma memutar keroncong dengan suara pelan dan tabung-tabung jingganya menyala seperti bara api kecil.
Pasti masih miring.
Bukan iya. Bukan oke. Bukan nggak usah.
Pasti masih miring.
Aku tahu ia tidak bermaksud apa-apa. Aku tahu itu cuma lelucon kecil, seperti lelucon yang ia lemparkan ke Pak Karno atau Mak Inah. Aku tahu dua detik beku di koridor tadi mungkin cuma kaget, bukan apa-apa, dan besok ia akan kembali tersenyum padaku dengan senyum yang sama untuk semua orang.
Tapi dua puluh menit. Ia butuh dua puluh menit untuk mengetik tiga kata.
Orang yang tidak merasakan apa-apa tidak butuh dua puluh menit untuk mengetik tiga kata.
Aku memejamkan mata. Di kepalaku, Tiara berdiri di depan papan tulis kecil di pantry, menggarisbawahi sesuatu dua kali dengan spidol merah.
Skor: satu satu.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah reading
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis