Chapter Seven
Liga yang Berbeda
POV: Anggana
Undangannya datang di hari Senin, diselipkan di antara halaman buku Kimia-ku waktu aku sedang ke toilet.
Amplopnya krem tebal dengan pinggiran emas. Di dalamnya ada kartu yang dicetak timbul, huruf-hurufnya miring dan anggun.
Dengan penuh sukacita, kami mengundang Anda untuk merayakan ulang tahun ke-17 Aluna Prameswari Hadinata Sabtu, 18 Maret 2017, pukul 19.00 Kediaman Keluarga Hadinata, Jl. Kartika Utama, Pondok Indah
Di bawahnya, di ruang kosong di bagian bawah kartu, ada tulisan tangan dengan tinta biru. Miring ke kanan. Aku langsung mengenalinya dari buku biru yang mencatat empat puluh tujuh orang.
WAJIB. Nggak ada alasan konter. Aku udah izin ke Bang Jali. — A.
Aku membaca baris itu tiga kali.
“Dia izin ke Bang Jali?” tanya Ucup, yang membaca dari atas bahuku tanpa malu. “Kapan? Gimana caranya? Dia tahu konternya di mana?”
“Pernah ke sana. Waktu laptopnya rusak.”
“Itu udah satu setengah tahun lalu, Bro.” Ucup menatapku dengan wajah serius yang jarang ia pasang. “Cewek yang inget jalan ke konter HP satu setengah tahun lalu, terus dateng sendiri buat izin ke bos lo biar lo bisa dateng ke ulang tahunnya. Lo masih mau bilang kalian cuma temen?”
Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tahu jawabannya. Dan karena aku takut, kalau aku memikirkannya terlalu lama, aku akan mulai berharap.
Masalah pertama: aku tidak punya baju.
Maksudku, aku punya baju. Seragam, kaus oblong, celana jins satu-satunya yang lututnya mulai menipis, dan kemeja batik yang kupakai waktu Lebaran tiga tahun lalu dan sekarang lengannya cuma sampai pergelangan.
Dara yang menyelesaikan masalah itu. Ia mengumpulkan uang jajannya selama dua minggu, menambah dengan uang hadiah lomba cerdas cermat yang selama ini ia simpan di kaleng biskuit, lalu menyeretku ke pasar Jatinegara hari Kamis sore dan memilihkan kemeja putih lengan panjang dengan ketelitian seorang perancang busana.
“Bahunya pas. Lengannya pas. Kakak berdiri tegak. Jangan bungkuk.”
“Dar, ini uangmu—”
“Ini investasi.” Ia menyerahkan uang kepada penjual dengan gaya ibu-ibu yang sudah biasa menawar. “Kalau Kakak dateng ke rumah orang kaya pakai baju lebaran yang kekecilan, yang malu bukan cuma Kakak. Aku juga. Ibu juga. Keluarga Pradipta.”
“Kamu kan nggak suka sama Aluna.”
“Aku nggak suka sama dia,” katanya tegas. “Tapi aku lebih nggak suka kalau ada orang di rumahnya yang ngeliatin Kakak kayak ngeliatin tukang antar galon.”
Lalu, di angkot pulang, sambil memeluk kantong plastik berisi kemeja itu, ia menambahkan dengan suara pelan, tanpa menatapku: “Kakak harus kelihatan paling ganteng di sana. Biar dia nyesel.”
“Nyesel apa?”
“Nggak tahu. Nyesel aja. Untuk jaga-jaga.”
Masalah kedua, dan ini yang lebih besar: kado.
Aku tahu apa yang mau kuberikan. Aku sudah tahu sejak empat bulan lalu.
Di bulan November, Aluna datang ke konter Cahaya Cell sendirian, tanpa laptop. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kain batik di dalam tas kertas. Waktu ia membukanya di meja servis, Mas Bowo bersiul pelan.
Sebuah radio tabung kuno, kayu jati berwarna cokelat tua mengilap, dengan kain penutup speaker berwarna krem dan tombol-tombol kenop dari bakelit. Di bagian depannya ada panel kaca kecil dengan angka-angka frekuensi dan jarum merah yang sudah tidak bergerak.
“Ini punya Oma,” kata Aluna. “Oma meninggal waktu aku kelas enam. Dulu tiap sore Oma dengerin keroncong di sini sambil nyisirin rambutku. Sejak Oma nggak ada, radionya rusak. Papa udah bawa ke tiga tempat servis. Katanya suku cadangnya udah nggak ada.”
Mas Bowo membuka bagian belakangnya, melihat ke dalam, dan menggeleng dengan berat hati. “Tabungnya putus dua, Neng. Trafonya juga kayaknya kena. Ini radio tahun lima puluhan. Barangnya udah nggak diproduksi. Kalau mau, di Jalan Surabaya kadang ada yang jual bekas, tapi untung-untungan.”
Aluna mengangguk. Ia tidak terlihat kaget. Ia terlihat seperti orang yang sudah mendengar jawaban itu berkali-kali dan cuma datang ke sini untuk mendengarnya sekali lagi, dari tempat yang ia percaya.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Aku cuma mau nyoba.”
Ia membungkus radio itu kembali dan membawanya pulang.
Tapi sebelum ia pergi, aku sudah memotret bagian dalamnya dengan HP. Setiap tabung. Setiap kabel. Kode-kode kecil yang tertulis di komponen. Dan selama empat bulan setelahnya, setiap hari Minggu setelah gerobak Ibu tutup, aku naik angkot ke Jalan Surabaya, ke Pasar Rawabening, ke kios-kios loak di Glodok, mencari tabung radio dengan kode yang sama.
Aku menemukan satu di bulan Januari, di dalam kardus berdebu di kios bapak-bapak tua yang menjual barang elektronik bekas sejak zaman Soeharto. Satu lagi di bulan Februari, dari forum kolektor radio antik di internet, seorang kakek di Semarang yang mengirimnya lewat pos dengan bungkus koran berlapis tujuh dan surat tulisan tangan: Semoga radionya bisa bernyanyi lagi, Nak.
Trafonya tidak bisa kuganti, jadi aku menggulung ulang lilitannya sendiri, mengikuti tutorial dari forum radio Jerman yang kuterjemahkan pakai Google Translate kata demi kata.
Lalu, dua minggu sebelum ulang tahunnya, aku mengirim pesan ke Aluna.
Anggana: Radio Oma masih ada?
Aluna: Masih. Kenapa?
Anggana: Boleh aku pinjam sebentar? Mau aku coba lagi.
Ia mengirimnya lewat Pak Darto besok paginya, tanpa bertanya apa-apa.
Malam sebelum pesta, jam sebelas lewat empat puluh, di meja servis konter yang sudah tutup, aku menyalakan radio itu untuk pertama kalinya.
Tabung-tabungnya menyala pelan. Jingga. Hangat. Seperti bara api kecil di dalam kotak kayu. Lalu, setelah sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh menit, dari speakernya keluar suara desis, lalu suara orang bicara samar-samar, lalu, waktu aku memutar kenop pencari gelombang dengan sangat pelan, sebuah lagu.
Keroncong. RRI Pro 4. Bengawan Solo.
Aku duduk di kursi plastik konter yang kosong dan mendengarkannya sampai habis. Lalu aku membungkus radio itu dengan kain batiknya yang asli, memasukkannya ke kardus, dan baru menyadari bahwa aku menangis sedikit. Bukan karena sedih. Karena lega. Karena untuk sekali ini, sesuatu yang kata semua orang tidak bisa diperbaiki, ternyata bisa.
Rumah keluarga Hadinata tidak terlihat seperti rumah. Ia terlihat seperti hotel yang lupa dipasangi papan nama.
Pagarnya tinggi, hitam, dengan ujung-ujung berbentuk tombak emas. Halaman depannya cukup luas untuk lapangan futsal, dan malam itu dipenuhi lampu-lampu kecil yang digantung di pepohonan seperti bintang yang turun terlalu rendah. Mobil-mobil berjajar di sepanjang jalan, dan petugas parkir berseragam mengarahkan mereka dengan senter.
Aku turun dari ojek, membayar abangnya, dan berdiri di depan pagar dengan kardus berisi radio di pelukan dan kemeja putih hasil investasi Dara.
Ucup berdiri di sebelahku. Ia memakai kemeja batik ayahnya yang kebesaran dua nomor dan sudah keringatan di ketiak sejak dari angkot.
“Bro,” bisiknya. “Itu ada air mancur.”
“Iya.”
“Air mancur, Bro. Di dalam rumah orang.”
“Di halaman.”
“Halaman itu bagian dari rumah.” Ia menelan ludah. “Gue tiba-tiba ngerasa batik bapak gue bau kapur barus.”
“Memang bau kapur barus.”
“Lo nggak membantu.”
Di dalam, ada sekitar seratus tamu. Teman-teman sekolah, sepupu-sepupu, teman bisnis orang tuanya, orang-orang dewasa yang bicara dengan suara pelan dan memegang gelas dengan tiga jari. Lantainya marmer putih yang memantulkan cahaya lampu kristal. Di sudut ruangan, sebuah grup musik kecil memainkan lagu jazz yang tidak kukenal.
Lalu aku melihatnya.
Aluna berdiri di tengah ruangan, di dekat tangga melengkung yang mengarah ke lantai dua, dikelilingi beberapa tamu. Ia memakai gaun panjang warna hijau zamrud, sutra, dengan potongan leher sederhana yang memperlihatkan tulang selangkanya, dan lengan panjang yang tipis seperti asap. Gaun itu jatuh lurus sampai mata kaki, dan setiap kali ia bergerak, kainnya berkilau seperti permukaan danau yang ditiup angin.
Rambutnya dibiarkan tergerai, tapi malam itu ujung-ujungnya digulung lembut, sehingga jatuhnya bergelombang seperti air terjun yang melambat di bagian bawah. Di telinganya ada anting mutiara kecil. Riasannya tipis, tapi berbeda dari biasanya: bulu matanya lebih tegas, kelopak matanya diberi warna keemasan samar yang membuat iris cokelat madunya tampak seperti menyala dari dalam. Bibirnya diberi warna mawar tua. Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya tidak ditutupi. Aku senang ia tidak menutupinya.
Ia tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan seorang tante di sebelahnya, dan kepalanya miring ke kiri.
Aku berhenti berjalan. Ucup menabrak punggungku.
“Bro, jangan berhenti mendadak, gue lagi bawa—oh.” Ia mengikuti arah pandanganku. “Oh. Ya Allah. Oke. Gue ngerti. Gue maafin.”
Aluna menoleh. Melihat kami. Dan wajahnya berubah.
Ia meninggalkan tante itu di tengah kalimat dan berjalan cepat ke arah kami, mengangkat sedikit ujung gaunnya supaya tidak terinjak. Langkahnya tidak anggun seperti waktu ia berdiri. Langkahnya cepat dan tidak sabar, seperti anak kecil yang melihat seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu.
“Kalian dateng.”
“Wajib,” kataku. “Kata kartunya.”
Ia tertawa. Lalu matanya turun ke kemejaku, ke kerahku, dan aku melihat alisnya terangkat dengan kaget.
“Kerahmu lurus.”
“Dara yang setrika. Tiga kali.”
“Adikmu luar biasa.” Ia menatapku lagi, lalu tiba-tiba terlihat sedikit gugup, sesuatu yang jarang kulihat. “Gimana? Aku... aneh nggak?”
Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Karena semua kata yang muncul di kepalaku terasa terlalu kecil.
“Kamu kelihatan,” kataku akhirnya, “kayak orang yang kalau masuk ruangan, lampunya jadi malu.”
Hening.
Ucup di sebelahku tersedak sesuatu, mungkin udara, mungkin harga dirinya sendiri.
Aluna menatapku dengan bibir sedikit terbuka. Pipinya, di bawah lapisan riasan tipis itu, berubah warna dengan sangat cepat. Lalu ia menunduk, menyibak rambutnya ke belakang telinga dengan dua jari, gerakan yang sama seperti pagi MOS hampir dua tahun lalu.
“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu,” katanya pelan.
“Maaf.”
“Bukan nggak boleh karena salah.” Ia mengangkat wajahnya lagi, dan matanya berkilau. “Nggak boleh karena aku nggak siap.”
Papanya Aluna, Pak Hendra Hadinata, bersalaman denganku di dekat meja makanan. Ia lelaki tinggi berusia lima puluhan dengan rambut beruban di pelipis, senyum yang hangat, dan jabat tangan yang kuat.
“Jadi kamu yang benerin laptop Pak Mahesa?” tanyanya. “Pak Mahesa cerita di arisan. Katanya ada anak SMA yang lebih pinter dari tim IT-nya.”
“Kebetulan aja, Om.”
“Tidak ada yang kebetulan kalau tiga orang lain sudah menyerah.” Ia menepuk bahuku. “Luna banyak cerita soal kamu. Soal nasi uduk ibumu juga. Kapan-kapan Om mau coba.”
“Saya bawain, Om.”
“Jangan dibawain. Om yang datang ke sana. Biar Om antre kayak orang lain.”
Aku menyukainya. Langsung, tanpa syarat. Ia orang kaya yang tidak terdengar seperti orang kaya.
Mamanya Aluna, Tante Melinda, lebih pendiam. Ia perempuan cantik dengan wajah yang mirip Aluna versi lebih dewasa, dan ia menatapku dengan rasa ingin tahu yang sopan, lalu menawariku makanan tiga kali.
Lalu seseorang menepuk bahu Pak Hendra dari belakang.
“Om Hendra. Papa nyari Om, katanya mau bahas yang kemarin.”
Aku menoleh. Seorang anak laki-laki seusiaku, tinggi, dengan rambut yang dipangkas rapi dan kemeja linen biru muda yang jatuhnya sempurna, seperti baru dikeluarkan dari katalog. Wajahnya bersih, tampan dengan cara yang tidak berusaha. Ia memegang gelas air soda dengan santai, seperti orang yang sudah sering berdiri di rumah-rumah besar dan tidak pernah merasa canggung.
“Oh, Bastian,” kata Pak Hendra. “Ini Anggana, teman sekelas Luna. Anggana, ini Bastian, anaknya Om Hartono, pengacara Om.”
Bastian menjabat tanganku. Jabatannya sopan dan singkat.
“Hai. Lo yang radio itu?”
Aku mengerjap. “Radio?”
“Luna cerita lo minjem radio omanya.” Bastian tersenyum. “Gue tahu radio itu. Gue kenal Luna dari kecil. Om Hendra udah bawa ke mana-mana, nggak ada yang bisa.”
Ia mengatakannya dengan ramah. Tidak sombong. Tidak meremehkan. Tapi di dalam kalimat itu ada sesuatu yang membuatku sadar di mana aku berdiri: gue kenal Luna dari kecil. Ia memanggilnya Luna, seperti semua orang. Ia tahu radio itu. Ia tahu rumah ini. Ia tahu cara berdiri di atas lantai marmer tanpa takut sepatunya meninggalkan bekas.
Lalu Bastian pergi bersama Pak Hendra, dan aku berdiri sendirian di dekat meja makanan dengan kardus radio di pelukan, menatap ruangan besar itu dengan mata yang tiba-tiba melihat semuanya lebih jelas.
Lampu kristal yang harganya mungkin lebih mahal dari rumah kami. Tamu-tamu yang bicara soal liburan ke Eropa dan sekolah di luar negeri. Tante-tante yang menyebut nama-nama merek yang tidak pernah kudengar. Seorang pelayan yang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal, berjalan melewatiku, dan, untuk sepersekian detik, menatapku seolah bertanya apakah aku juga pelayan yang tersesat.
Liga yang berbeda.
Ucup pernah mengatakannya, bercanda, di kelas sepuluh. Bro, lo suka sama cewek dari liga yang beda. Kita main tarkam, dia main Liga Champions.
Waktu itu aku tertawa. Malam ini, berdiri di atas marmer putih dengan kemeja seharga uang jajan adikku selama dua minggu, aku tidak tertawa.
Acara potong kue selesai. Kado-kado ditumpuk di meja panjang di dekat jendela, kotak-kotak berbungkus kertas mengilap dan pita satin, tas-tas kertas dengan logo merek yang bahkan Ucup kenali dan bisikkan harganya dengan nada ngeri.
Aku tidak menaruh kardusku di sana.
Aku menunggu sampai tamu-tamu mulai menipis, sampai grup jazz beristirahat, sampai Aluna berjalan ke teras samping untuk menghirup udara segar. Lalu aku mengikutinya.
Teras samping menghadap kolam renang yang airnya berwarna biru karena lampu di dasarnya. Aluna berdiri di dekat pagar kaca, sendirian, tangannya memegang pagar, dan malam itu ia terlihat lelah dengan cara yang hanya bisa terjadi pada orang yang tersenyum terlalu banyak dalam satu malam.
“Aluna.”
Ia menoleh. Lalu melihat kardus di pelukanku, dan matanya membesar.
“Itu...”
Aku meletakkan kardus itu di meja kecil di teras, membuka penutupnya, dan mengeluarkan radio kayu jati itu dari bungkus batiknya. Aku mencari stopkontak di dinding teras, menemukannya di dekat lampu taman, menyambungkan kabelnya, dan memutar kenop pertama.
Tabung-tabung di dalamnya menyala pelan. Jingga. Hangat.
Aluna tidak bergerak.
Sepuluh detik. Desis. Suara samar. Lalu aku memutar kenop pencari gelombang dengan sangat pelan, seperti malam sebelumnya di konter, dan menemukan RRI Pro 4.
Keroncong. Kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan, lagunya Bengawan Solo lagi. Diputar dua malam berturut-turut, seperti semesta sedang bercanda.
Aluna menutup mulutnya dengan dua tangan.
Lalu ia menangis.
Bukan menangis yang pelan. Ia menangis seperti anak kecil yang baru menemukan mainan yang hilang bertahun-tahun di bawah tempat tidur, bahunya berguncang, air matanya merusak riasan keemasan di kelopak matanya, dan ia tidak peduli. Ia berlutut di depan radio itu dengan gaun hijau zamrudnya yang menyapu lantai teras, dan menyentuh kayu jatinya dengan ujung jari, pelan, seperti menyentuh pipi seseorang.
“Oma,” bisiknya.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku berdiri di sebelahnya dan membiarkan Bengawan Solo mengisi teras itu, mengisi kolam renang, mengisi malam.
Lagu itu selesai. Aluna mengusap pipinya dengan punggung tangan, merusak riasannya lebih parah lagi, lalu mendongak menatapku dari posisi berlutut.
“Gimana caranya?”
“Cari tabung di Jalan Surabaya. Sama Glodok. Sama kakek di Semarang. Trafonya aku gulung ulang.”
“Berapa lama?”
“Empat bulan.”
“Empat bulan?” Ia berdiri, cepat, terlalu cepat sampai hampir tersandung gaunnya sendiri. Aku menangkap sikunya. Ia tidak menarik tangannya. “Kamu kerja, kamu sekolah, kamu bangun setengah empat, kamu bungkus dua ratus nasi uduk, dan kamu ngabisin empat bulan buat radio Oma aku?”
“Tiap Minggu sore aja.”
“Anggana.”
“Hm?”
Ia menatapku lama. Matanya masih basah, bulu matanya menempel satu sama lain, dan cahaya biru dari kolam renang membuat wajahnya terlihat seperti lukisan yang belum kering.
“Kenapa?” tanyanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
Aku ingin menjawabnya. Aku punya jawabannya. Jawabannya sudah ada di dadaku sejak pagi MOS, sejak gadis bertopi kerucut hijau menoleh di dekat gerbang dan cahaya bergerak lebih cepat dari tiga ratus ribu kilometer per detik.
Tapi dari dalam rumah, aku mendengar suara Bastian tertawa bersama Pak Hendra. Aku mendengar dentingan gelas kristal. Aku melihat bayanganku di pagar kaca teras: anak laki-laki dengan kemeja dari pasar Jatinegara, berdiri di samping gadis bergaun sutra di rumah dengan air mancur di halaman depan.
“Karena kamu bilang Oma dengerin keroncong sambil nyisirin rambutmu,” kataku. “Aku pikir, kamu pasti kangen.”
Itu bukan seluruh jawabannya. Tapi itu bukan bohong.
Aluna menatapku beberapa detik lagi. Lalu ia tersenyum, senyum yang basah dan sedikit gemetar, dan berkata dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang memutuskan untuk tidak bertanya lagi:
“Kamu tahu nggak, waktu kecil Oma pernah bilang, orang yang bisa benerin barang rusak itu langka. Tapi orang yang mau benerin barang rusak punya orang lain, tanpa diminta, itu lebih langka lagi.”
“Oma kamu bijak.”
“Oma kamu bakal suka kamu.” Ia tertawa kecil di tengah sisa tangisnya, lalu meralat dirinya sendiri. “Oma aku. Maksudku Oma aku. Oma aku bakal suka kamu.”
Kami duduk di bangku teras sampai radio itu memutar tiga lagu keroncong lagi. Ia bercerita tentang Oma. Tentang liburan keluarga ke Jepang bulan depan, ke Kyoto, karena Papa sedang ada proyek dengan investor dari sana.
“Kamu pernah ke luar negeri?” tanyanya.
“Belum.”
“Naik pesawat?”
“Belum.”
Ia menoleh. “Serius?”
“Ibu juga belum pernah. Ibu bahkan belum pernah nginep di hotel.” Aku menatap air kolam renang yang bergoyang pelan. “Kadang kalau nonton TV terus ada iklan maskapai, Ibu bilang, ‘Le, kalau nanti kamu sukses, ajak Ibu terbang sekali aja. Ibu pengen lihat awan dari atas.’”
Aluna diam lama.
“Nanti kamu ajak,” katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan. “Kamu pasti bisa ajak Ibu terbang.”
“Semoga.”
“Bukan semoga.” Ia menyenggol bahuku dengan bahunya. “Pasti. Aku yang jamin.”
Malam itu aku pulang naik ojek dengan kardus kosong di pangkuan dan pikiran yang terlalu penuh untuk ditampung kepala.
Aku memikirkan gaun hijau zamrud. Air mata yang merusak riasan keemasan. Bastian dan kemeja linen biru mudanya. Lampu kristal. Seorang pelayan yang mengira aku juga pelayan.
Aku memikirkan Ucup dan Liga Champions-nya.
Lalu aku memikirkan suara Aluna di teras: Kenapa?
Dan aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan di liga mana aku bermain. Aku tidak bisa mengubah rumahku jadi rumah dengan air mancur, atau mengubah kemeja pasar Jatinegara jadi linen biru muda. Tapi aku bisa mengendalikan satu hal: apakah suatu hari aku akan menyesal karena tidak pernah mengatakannya.
Ojek berhenti di mulut gang. Lampu dapur rumah kami masih menyala. Ibu pasti sudah merendam beras untuk besok.
Aku berdiri di mulut gang itu sebentar, menatap langit Jakarta yang tidak punya bintang, dan memutuskan.
Sebelum lulus, aku akan bilang. Aku akan bilang meskipun aku tahu jawabannya. Karena lebih baik ditolak dengan lega daripada bertanya-tanya seumur hidup dengan penyesalan.
Mungkin awal kelas tiga. Sebelum semuanya sibuk dengan ujian dan pendaftaran kuliah.
Aku punya waktu enam bulan untuk mengumpulkan keberanian. Enam bulan, pikirku, pasti cukup.
Aku tidak tahu bahwa enam bulan itu akan mengubah segalanya. Bukan untukku. Untuknya.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda reading
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis