← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Eight

Kelas Tiga, Hari Pertama

POV: Anggana

Hari pertama kelas tiga, aku sampai di gerbang jam enam lewat empat puluh tiga. Dua menit lebih awal. Aku sengaja.

Libur kenaikan kelas berlangsung tiga minggu, dan selama tiga minggu itu aku tidak bertemu Aluna. Ia ke Jepang bersama keluarganya, lalu ke rumah neneknya dari pihak mama di Bandung. Kami bertukar pesan beberapa kali. Ia mengirim foto gerbang kuil merah di Kyoto dengan tulisan Ini kayak gerbang sekolah kita, cuma lebih merah dan nggak ada Pak Karno. Aku mengirim foto gerobak Ibu dengan antrean tujuh orang, dan ia membalas Kangen nasi uduk. Kangen kerah miring.

Lalu, di minggu terakhir liburan, pesannya berhenti.

Tidak tiba-tiba. Pelan-pelan. Balasannya makin pendek, makin lama. Iya. Oke. Nanti ya. Lalu tidak ada balasan sama sekali untuk pesanku yang terakhir, foto kucing pelanggan VIP Ibu yang tidur di dalam dandang kosong.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa ia sibuk. Bahwa orang yang sedang liburan memang jarang memegang HP. Bahwa itu bukan apa-apa.

Jadi pagi itu aku berdiri di dekat pos satpam dengan kerah yang sengaja tidak kurapikan, menunggu.

Jam enam lewat empat puluh lima. Enam lewat lima puluh. Pak Karno melongok dari jendela posnya.

“Mbaknya belum, Mas?”

“Belum, Pak.”

Jam enam lewat lima puluh delapan, sedan hitam itu berhenti di depan gerbang.

Aluna turun. Ia memakai seragam yang sama, tas yang sama, ikat rambut yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda, dan butuh beberapa detik sebelum aku bisa menamainya.

Ia lebih kurus. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat tulang pipinya lebih menonjol dan dagunya lebih runcing. Di bawah matanya ada bayangan samar keunguan yang tidak bisa sepenuhnya ditutupi bedak. Rambutnya, yang biasanya jatuh berat dan mengilap, terlihat sedikit kusam, diikat asal di tengkuk. Ia tetap cantik. Ia selalu cantik, bahkan dalam keadaan seperti itu, mungkin justru lebih menusuk karena kecantikannya sekarang punya sesuatu yang rapuh di dalamnya, seperti vas porselen yang ada retak halus di pinggirnya.

Ia berjalan melewati gerbang. Melihatku.

Ia berhenti satu detik. Lalu tersenyum.

“Pagi, Anggana.”

“Pagi.”

Lalu ia terus berjalan.

Ia tidak berhenti di depanku. Ia tidak mengangkat tangannya ke kerahku. Ia tidak bertanya hari ini berapa. Ia berjalan melewatiku menuju gedung, langkahnya cepat, kepalanya sedikit menunduk, dan aku berdiri di dekat pos satpam dengan kerah yang terlipat ke dalam di satu sisi dan mencuat ke atas di sisi lain.

Pak Karno menatapku dari jendela posnya. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia cuma menatapku dengan mata orang tua yang sudah melihat banyak hal, lalu kembali ke koran paginya.


Kelas XII IPA 2 masih di lantai tiga, tapi sekarang di ujung yang lain, menghadap jalan raya. Susunan bangkunya diacak ulang oleh wali kelas baru, Bu Ratna, guru Bahasa Inggris yang terkenal tegas dan, menurut gosip, tidak pernah tersenyum di bulan Juli.

Aku dapat bangku di baris kedua. Ucup di sebelahku, karena Bu Ratna rupanya tahu bahwa memisahkan kami hanya akan menghasilkan lebih banyak kertas yang dilempar lintas kelas.

Aluna dapat bangku di baris paling belakang, dekat jendela.

Sejauh mungkin dariku, di ruangan yang sama.

“Itu diacak,” kata Ucup waktu ia melihat aku menoleh ke belakang untuk keempat kalinya di jam pelajaran pertama. “Bu Ratna yang ngacak. Bukan Aluna yang milih.”

“Aku tahu.”

“Lo kayak anak kucing ditinggal induknya.”

“Aku nggak apa-apa.”

Ucup menatapku dengan alis terangkat. “Lo tahu nggak, Bro? Lo ngomong ‘nggak apa-apa’ persis kayak Aluna ngomong ‘pagi’ tadi. Kayak ada sesuatu yang dikunci di belakangnya.”


Minggu-minggu berikutnya, Aluna berubah dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, tapi bisa kurasakan seperti merasakan perubahan cuaca sebelum hujan.

Ia absen dua hari di minggu kedua. Sisil bilang sakit. Ia absen lagi satu hari di minggu keempat. Sisil bilang ada urusan keluarga, dengan nada yang membuatku tahu Sisil sendiri tidak tahu urusan apa.

Waktu ia masuk, ia lebih pendiam. Ia masih menjawab pertanyaan guru dengan benar, masih mengerjakan tugas dengan teliti, masih tertawa kalau Ucup melontarkan lelucon. Tapi tawanya tidak membuat kepalanya miring ke kiri lagi. Matanya tidak menyipit lagi. Tawanya sekarang seperti tawa yang dipinjam dari orang lain, dipakai sebentar, lalu dikembalikan.

Ia sering menerima telepon di jam istirahat dan pergi ke tangga darurat di ujung koridor untuk mengangkatnya. Sekali, waktu aku kebetulan lewat untuk mengembalikan buku ke perpustakaan, aku mendengar suaranya dari balik pintu tangga darurat yang setengah terbuka. Pelan. Bergetar.

“…iya, Ma. Aku ngerti. Aku nggak bilang siapa-siapa…”

Aku berjalan terus. Aku tidak berhenti untuk mendengarkan. Itu bukan urusanku, kataku pada diriku sendiri. Tapi malam itu, di konter, aku salah memasang konektor LCD dua kali dan Mas Bowo harus menegurku.

Lalu ada Bastian.

Tiga kali dalam sebulan, sedan hitam keluarga Hadinata tidak menjemput Aluna sepulang sekolah. Yang menjemputnya adalah mobil SUV putih dengan sopir, dan di kursi belakangnya duduk Bastian dengan kemeja seragam sekolah internasionalnya. Aluna masuk ke mobil itu dengan cepat, tanpa menoleh ke kiri atau kanan, dan mobil itu pergi.

Sekali, mereka terlihat duduk berdua di kafe dekat sekolah. Gilang yang melihat, dan Gilang yang menyebarkannya. Dalam satu hari, satu angkatan tahu bahwa Aluna Prameswari Hadinata punya pacar anak sekolah internasional yang ganteng dan kaya.

“Itu belum tentu pacar,” kata Sisil waktu Gilang bertanya padanya di kantin.

“Terus apa?”

Sisil membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tidak tahu. Sahabat Aluna sejak MOS, dan ia tidak tahu.

Aku tidak bertanya pada siapa pun. Aku tidak bertanya pada Aluna. Aku memutuskan bahwa itu bukan hakku untuk bertanya.

Tapi setiap pagi, aku tetap berdiri di dekat pos satpam jam enam lewat empat puluh lima. Dan setiap pagi, Aluna melewatiku dengan “pagi” yang sopan dan senyum yang tidak sampai ke mata.

Kerahku miring setiap hari. Tidak ada yang merapikannya.


Di akhir bulan Agustus, aku mencoba sekali.

Waktu itu jam istirahat terakhir, dan Aluna sedang duduk sendirian di bangku semen dekat lapangan basket, memegang HP yang layarnya mati, menatap kosong ke lapangan. Aku membawa dua gelas teh manis dari kantin dan duduk di sebelahnya, dengan jarak satu jengkal.

“Teh,” kataku, menyodorkan satu.

Ia menoleh. Kaget sebentar, lalu tersenyum. “Makasih.”

Kami duduk diam beberapa saat. Di lapangan, anak-anak kelas sepuluh bermain basket dengan teriakan-teriakan yang terdengar jauh.

“Aluna.”

“Hm?”

“Kamu baik-baik aja?”

Ia diam. Tangannya memegang gelas teh dengan dua tangan, seperti orang yang kedinginan, padahal siang itu panasnya menyengat.

“Kalau ada yang bisa aku bantu,” kataku, “bilang aja. Apa pun.”

Ia menoleh ke arahku. Dan untuk sesaat, sangat singkat, aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya. Seperti dinding yang retak. Matanya berkaca-kaca, bibirnya terbuka sedikit, dan aku yakin, sangat yakin, bahwa ia akan mengatakan sesuatu.

Lalu dindingnya berdiri lagi.

“Aku nggak apa-apa,” katanya. Senyumnya kembali. Senyum yang sopan, rapi, tidak sampai ke mata. “Cuma capek. Kelas tiga kan berat.”

Aku menatapnya. Aku mengenali senyum itu. Aku mengenalinya karena aku melihatnya setiap pagi di cermin kamar mandi.

Aku nggak apa-apa. Kalimat yang kuucapkan seribu kali dalam hidupku, dan setiap kali, itu bohong.

“Oke,” kataku, karena aku tidak tahu cara memaksa seseorang untuk menerima pertolongan. Aku tidak pernah belajar caranya. Aku hanya pernah belajar cara menolak.

Ia berdiri, membawa gelas tehnya, dan kembali ke kelas. Di pintu gedung, ia berhenti dan menoleh. Menatapku lama. Lalu masuk tanpa berkata apa-apa.


Simulasi UNBK pertama diadakan di minggu kedua September.

Tiga ratus dua belas siswa kelas dua belas, dibagi tiga sesi, di tiga lab komputer yang semuanya terhubung ke satu server lokal di ruang kecil di belakang lab utama. Simulasi itu penting. Bukan untuk nilainya, tapi karena dinas pendidikan memantau, dan kalau sekolah gagal menjalankan simulasi dengan baik, sekolah bisa diwajibkan menumpang ujian di sekolah lain di bulan April nanti.

Aku di sesi satu. Aluna di sesi dua.

Sesi satu dimulai jam tujuh tiga puluh. Di menit kesepuluh, layar komputer di depanku membeku.

Lalu layar di sebelahku. Lalu seluruh ruangan.

Pesan yang sama muncul di seratus empat layar sekaligus: Koneksi ke server terputus. Hubungi proktor.

Lab mendadak riuh. Anak-anak saling pandang. Beberapa tertawa gugup. Beberapa panik karena sudah menjawab lima belas soal dan takut jawabannya hilang.

Pak Fajar, guru TIK sekaligus proktor, masuk ke ruang server dengan wajah pucat. Lima menit kemudian ia keluar dengan wajah lebih pucat. Lalu ia menelepon seseorang, bicara dengan suara keras, menutup telepon, dan menelepon orang lain.

“Teknisi dinas baru bisa datang jam sebelas,” katanya ke Pak Kepala Sekolah yang tergesa-gesa masuk ke lab. “Saya sudah restart server dua kali. Masih nggak bisa.”

“Sesi dua jam sepuluh, Pak Fajar.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kalau sesi satu dan dua gagal, kita lapor apa ke dinas?”

Pak Fajar tidak menjawab. Ia mengusap wajahnya dengan dua tangan. Lalu, entah kenapa, matanya mencari-cari di antara deretan siswa, dan berhenti padaku.

“Anggana,” katanya. “Sini sebentar.”


Ruang server ukurannya tidak lebih besar dari kamar mandi rumah kami. Isinya satu komputer server yang berdengung keras, satu switch jaringan dengan lampu-lampu berkedip hijau dan oranye, dan kabel-kabel yang diikat asal dengan tali rafia.

“Kamu kan sering bantu saya benerin lab,” kata Pak Fajar. “Coba lihat. Saya udah nggak ngerti.”

Aku duduk di depan monitor server. Layarnya penuh pesan galat.

Aku tidak langsung menyentuh apa-apa. Itu pelajaran pertama yang kuambil dari hard disk laptop Aluna di kelas sepuluh: kalau sesuatu sedang rusak, jangan buru-buru. Setiap gerakan yang salah bisa membuat kerusakan lebih parah. Lihat dulu. Baca dulu. Pahami dulu.

“Pak, tadi restart-nya gimana? Dimatikan dari tombol, atau dari sistem?”

“Tombol. Dua kali.”

Aku membuka log aplikasi ujian. Baris-baris teks bergulir di layar. Aku membacanya dari bawah ke atas, mencari baris pertama di mana sesuatu mulai salah.

07.40.12. Sesi siswa terdaftar. 07.40.13. Sesi siswa terdaftar. Lalu, di 07.41.06, satu baris berwarna lain: sinkronisasi gagal, basis data terkunci.

Aku menggulir lebih jauh. Lalu aku melihat polanya. Sekitar tiga puluh komputer di lab tiga mengirim permintaan masuk dua kali dalam waktu kurang dari satu detik, mungkin karena jaringan di lab tiga sempat putus sebentar dan otomatis mencoba lagi. Server menerima keduanya. Sesi ganda. Lalu, waktu dua sesi yang sama mencoba menyimpan jawaban di tempat yang sama di waktu yang sama, basis datanya mengunci diri untuk melindungi data. Seperti pintu yang otomatis terkunci kalau ada dua orang mendorongnya dari arah berlawanan.

Lalu Pak Fajar mematikan servernya dari tombol. Dua kali. Basis data yang sedang terkunci itu dipaksa mati di tengah proses, dan sekarang ia tidak mau bangun karena takut datanya rusak.

“Pak,” kataku. “Datanya belum hilang. Tapi jangan dimatikan lagi.”

“Bisa dibenerin?”

“Bisa. Tapi saya harus pelan-pelan.”

Pak Kepala Sekolah muncul di pintu ruang server. Lalu dua guru lain. Lalu Bu Ratna. Mereka berdiri berdesakan di ambang pintu, menatap punggungku, dan aku bisa merasakan napas mereka tertahan.

Aku tidak menoleh. Bagian otakku yang tenang sudah menyala, bagian yang sama yang muncul di konter jam satu pagi, dan di bagian itu, tidak ada kepala sekolah, tidak ada dinas pendidikan, tidak ada tiga ratus siswa. Hanya ada masalah, dan masalah itu punya jalan keluar.

Aku menyalin seluruh folder basis data ke flashdisk lebih dulu. Cadangan. Kalau langkahku salah, setidaknya ada yang bisa dikembalikan.

Lalu aku membuka basis datanya dalam mode pemulihan. Sistem menemukan sesi-sesi ganda yang menggantung, tiga puluh satu jumlahnya, dan aku memeriksa satu per satu: dari setiap pasangan, mana yang menyimpan jawaban paling lengkap. Aku mempertahankan yang lengkap dan menutup yang kosong.

Lalu aku mengembalikan basis data ke titik simpan otomatis terakhir sebelum kunci terjadi, jam 07.41.05, dan menyuruh sistem menarik jawaban yang tersimpan di masing-masing komputer siswa sejak saat itu. Setiap komputer siswa diam-diam menyimpan salinan jawaban sementara. Aku pernah membaca itu di dokumen teknis aplikasi ujian yang Pak Fajar tinggalkan di meja lab tahun lalu, dokumen yang tidak pernah dibaca siapa pun kecuali aku, karena aku penasaran.

Lampu-lampu di switch jaringan berkedip lebih cepat.

“Pak Fajar,” kataku. “Tolong ke lab tiga. Minta anak-anak jangan pencet apa-apa dulu. Biarkan komputernya yang konek sendiri.”

Pak Fajar berlari keluar.

Aku menatap layar. Angka-angka bergerak. Satu komputer terhubung kembali. Lima. Dua puluh. Lima puluh tiga. Delapan puluh. Seratus empat.

Seratus empat dari seratus empat.

Aku memeriksa jawaban salah satu siswa secara acak. Lengkap. Sampai soal terakhir yang dijawab sebelum layar membeku. Aku memeriksa sepuluh siswa lagi. Lengkap semua.

Aku melirik jam di pojok monitor. Delapan lewat dua puluh satu.

Empat puluh menit.

Di belakangku, ruangan sempit itu benar-benar sunyi. Lalu Bu Ratna, Bu Ratna yang tidak pernah tersenyum di bulan Juli, mulai bertepuk tangan. Pelan. Lalu Pak Kepala Sekolah. Lalu dua guru lain.

Aku berbalik, malu, tidak tahu harus berbuat apa dengan tepuk tangan itu.

Dan di balik dinding kaca yang memisahkan ruang server dengan lab utama, di antara kerumunan siswa sesi dua yang sudah datang lebih awal dan berdiri di koridor menunggu, aku melihatnya.

Aluna berdiri dengan dua tangan menempel di kaca. Ia menatapku. Bukan dengan senyum sopan yang tidak sampai ke mata. Dengan sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang membuat matanya berkilau dan bibirnya bergetar, seperti orang yang sedang menyaksikan sesuatu yang ia tahu tidak akan bisa ia lihat lagi.

Lalu ia menunduk dan pergi dari kaca itu, bersembunyi di antara siswa-siswa lain.


Sesi satu dilanjutkan. Sesi dua dimulai tepat waktu. Teknisi dinas datang jam sebelas, memeriksa server, membaca catatan yang kutulis di kertas tentang apa yang kulakukan dan kenapa, lalu menatapku dengan alis terangkat dan berkata, “Kamu yang ngerjain ini? Kelas berapa?”

“Dua belas, Pak.”

“Kuliah mau ambil apa?”

Aku tidak menjawab. Aku tersenyum.

Jam pulang, Bu Ratna memanggilku ke ruang wali kelas.

Ruangannya kecil, dengan rak buku penuh novel bahasa Inggris dan pot kaktus di jendela. Pak Hardi juga ada di sana, duduk di kursi sebelah meja, memegang sebuah map cokelat.

“Duduk, Anggana,” kata Bu Ratna.

Aku duduk.

Pak Hardi membuka map itu dan memutarnya ke arahku. Di dalamnya ada brosur dan formulir. Logo sebuah yayasan pendidikan dari perusahaan besar. Di bagian atas formulir, huruf tebal: PROGRAM BEASISWA PENUH — INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG.

“Yayasan ini mitra sekolah,” kata Pak Hardi. “Setiap tahun mereka minta satu nama dari kami. Kuliah gratis di ITB, biaya hidup ditanggung, asrama, laptop. Syaratnya cuma nilai rapor dan rekomendasi sekolah. Tahun ini, kami mau rekomendasikan kamu.”

Aku menatap formulir itu. Huruf-hurufnya jelas. Angka-angkanya jelas. Tapi otakku tidak bisa membacanya, seperti layar yang membeku.

“Setelah hari ini,” kata Bu Ratna, “saya rasa tidak ada guru di sekolah ini yang tidak setuju.”

“Formulirnya harus dikembalikan akhir September,” lanjut Pak Hardi. “Tanda tangan kamu, tanda tangan orang tua.”

Aku diam lama. Lalu aku menutup map itu pelan-pelan dan mendorongnya kembali ke arah Pak Hardi.

“Terima kasih, Pak. Bu.” Suaraku tenang. Aku sudah memikirkan ini bertahun-tahun, di halaman belakang buku tulis, di antara kolom-kolom angka. “Tapi saya nggak bisa ambil.”

Bu Ratna mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Kalau saya ke Bandung, Ibu sendirian bungkus nasi uduk. Dara tahun depan masuk SMA. Kalau saya kerja penuh habis lulus, Dara bisa sekolah di tempat yang bagus. Bisa kuliah nanti.” Aku tersenyum. “Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya.”

“Anggana—”

“Ini sudah saya putuskan, Bu. Dari lama.”

Pak Hardi menatapku dengan wajah seperti orang yang baru melihat seseorang menuang air ke tanah di tengah kemarau. “Kamu nggak mau pikir dulu? Bicarakan dengan ibumu?”

“Ibu nggak usah tahu, Pak. Nanti Ibu sedih.”

Hening.

Lalu, dari koridor di luar ruang wali kelas, terdengar suara langkah kaki. Cepat. Menjauh. Seperti seseorang yang tadinya berdiri dekat pintu, lalu berlari.

Aku menoleh ke pintu yang setengah terbuka. Koridor itu kosong.

“Mungkin anak kelas sepuluh,” kata Bu Ratna. “Mereka suka lari-larian di koridor.”


Aku pulang lewat jalan biasa, mengayuh sepeda kumbang Bapak di bawah langit sore yang jingga. Di kepalaku, dua hal berputar bergantian seperti dua roda sepeda.

Formulir beasiswa yang kutolak. Dan Aluna di balik kaca, dengan dua tangan menempel di sana.

Aku memikirkan senyumnya yang tidak sampai ke mata. Pesan-pesannya yang makin pendek. Telepon di tangga darurat. Mobil SUV putih dan Bastian. Kerahku yang tidak dirapikan selama dua bulan.

Aku memikirkan bahwa kelas tiga akan berakhir dalam delapan bulan. Bahwa setelah lulus, aku akan bekerja, dan ia akan kuliah, mungkin di luar negeri, mungkin di kampus yang namanya terlalu panjang untuk kuingat. Bahwa dunia kami akan berpisah seperti dua jalan yang bercabang, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku bertanya-tanya.

Aku sudah memutuskan enam bulan lalu, di mulut gang, setelah pesta ulang tahun itu. Sebelum lulus, aku akan bilang.

Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku tidak mau menunggu sampai ia benar-benar pergi.

Lampu merah di dekat pasar menyala. Aku berhenti. Tanganku naik ke kerahku, yang tentu saja miring, dan aku tidak merapikannya.

Minggu depan, pikirku. Senin. Sepulang sekolah.

Aku sudah siap ditolak. Aku sudah berlatih ditolak di kepalaku ribuan kali. Aku tahu jawabannya. Aku cuma perlu mendengarnya dari mulutnya sendiri, supaya aku bisa berhenti bertanya, dan mulai belajar caranya berhenti berharap.

Lampu hijau. Aku mengayuh.

Di belakangku, jauh di gedung sekolah, aku tidak tahu ada seseorang yang sedang duduk di tangga darurat dengan wajah tertutup dua tangan, mengulang di kepalanya kalimat yang baru ia dengar dari balik pintu ruang wali kelas.

Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya.