← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty Nine

Peluk

POV: Anggana

Aku sampai di depan pagar hijau jam dua belas lewat tujuh belas. Dua puluh lima menit, seperti yang kujanjikan.

Lampu rumah menyala semua. Pintu depan terbuka lebar. Pagar tidak dikunci.

Aku masuk tanpa mengetuk.

Pak Hendra terbaring di lantai ruang tamu, di atas kasur lipat yang entah ditarik dari mana, dengan bantal di bawah kepalanya dan badan dimiringkan ke kiri. Kaus dalamnya basah oleh keringat. Separuh wajahnya yang dulu masih bisa tersenyum sekarang ikut turun, sama dengan separuh yang lain. Matanya terbuka setengah, menatap kosong ke langit-langit. Napasnya berbunyi, berat dan tidak teratur, seperti mesin yang tersendat.

Tante Melinda berlutut di sebelahnya dengan daster dan wajah pucat, memegang tangan kanan suaminya dengan dua tangan.

Aluna berlutut di sisi lain. Kaus abu-abu, celana training, rambut terurai berantakan. Ia mendongak waktu aku masuk. Matanya merah. Bibirnya gemetar.

“Kamu dateng,” katanya.

“Kapan jatuhnya?”

“Jam sebelas lewat dua puluh. Kira-kira.” Ia menelan ludah. “Mama denger bunyi dari kamar mandi.”

Hampir satu jam. Aku menghitung di kepala, seperti menghitung waktu pemulihan di war room. Aku sudah menelepon call center rumah sakit swasta di Margonda dari mobil, rumah sakit yang punya unit stroke dua puluh empat jam, yang kucari di internet di lampu merah pertama sambil Dara memegang kemudi untuk dua detik. Aku sudah memberi tahu mereka gejala-gejalanya, waktu kejadiannya, riwayat stroke pertama tiga tahun lalu. Mereka bilang tim stroke akan menunggu di pintu IGD.

Waktu emasnya empat setengah jam. Kami masih punya tiga setengah jam.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” kataku. “Bukan RSUD. Yang di Margonda. Mereka udah nunggu.”

“Ambulansnya—”

“Nggak usah nunggu ambulans.”

Aku berlutut di sebelah Pak Hendra. Aku menyelipkan satu lengan di bawah lututnya, satu lengan di bawah punggungnya. Aku mengangkatnya.

Ia ringan.

Lelaki yang dulu menjabat tanganku di atas lantai marmer, yang tingginya hampir sama denganku, yang suaranya mengisi ruangan seperti suara Pak Haryo di ruang IC, sekarang lebih ringan dari dandang nasi uduk Ibu yang penuh. Tulang-tulangnya terasa di lenganku melalui kaus dalam yang basah. Kepalanya terkulai di bahuku.

Aku membawanya keluar. Dara sudah membuka pintu belakang mobil dan menyiapkan bantal yang ia ambil dari sofa ruang tamu.

“Luna, duduk di belakang. Pangku kepala Papa. Miringin sedikit.” Aku membaringkan Pak Hendra di jok belakang dengan hati-hati, kepalanya di pangkuan Aluna. “Tante di depan. Dara, kamu di belakang juga, pegang kakinya biar nggak jatuh kalau aku ngerem.”

Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bertanya.

Tante Melinda duduk di kursi depan dengan tas berisi map hasil pemeriksaan yang ia ambil sambil berlari keluar rumah. Dara duduk di ujung jok belakang, memegang kaki Pak Hendra dengan dua tangan, wajahnya serius seperti auditor yang memegang dokumen bukti.

Aku menyalakan mesin.


Jalan Margonda jam dua belas malam tidak sepi, tapi tidak macet. Aku menyetir cepat. Tidak secepat di tol tadi, karena ada orang yang berbaring di jok belakang, tapi cepat. Setiap lampu merah terasa seperti satu jam.

Di kaca spion, aku melihat Aluna menunduk ke wajah papanya. Mengusap rambutnya yang putih. Berbisik sesuatu yang tidak bisa kudengar. Tangannya yang lain memegang tangan kanan papanya yang terkulai.

Di sebelahku, Tante Melinda menatap lurus ke depan dengan tangan saling meremas di pangkuan.

“Anggana,” katanya pelan. Suaranya gemetar.

“Iya, Tante.”

“Terima kasih.”

“Belum, Tante. Nanti, kalau Om udah baik.”

Tante Melinda menoleh padaku. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis.


Tim stroke rumah sakit memang menunggu di pintu IGD. Dua perawat dengan brankar dan seorang dokter muda berkacamata. Mereka mengambil alih Pak Hendra dari jok belakang dalam waktu kurang dari satu menit, mendorongnya masuk dengan cepat, dan pintu IGD menutup di belakang mereka.

CT scan. Lalu dokter spesialis saraf, perempuan berusia empat puluhan dengan rambut diikat ketat dan suara yang tenang, keluar ke ruang tunggu dengan tablet di tangan.

“Keluarga Pak Hendra Hadinata?”

Tante Melinda dan Aluna berdiri bersamaan.

“Stroke iskemik,” kata dokter itu. “Penyumbatan di pembuluh darah otak, sisi yang berbeda dari stroke pertama. Masih dalam waktu emas. Kami bisa beri obat untuk menghancurkan sumbatannya. Trombolisis. Ada risikonya, perdarahan, tapi kalau tidak dilakukan, kerusakannya bisa jauh lebih parah.” Ia menatap Tante Melinda. “Kami butuh persetujuan keluarga. Dan ada prosedur administrasi di kasir untuk tindakan dan perawatan intensif.”

Tante Melinda mengangguk. Ia menandatangani formulir persetujuan dengan tangan gemetar. Lalu dokter itu menyebutkan perkiraan deposit untuk tindakan dan perawatan intensif selama beberapa hari ke depan.

Aku melihat wajah Tante Melinda berubah.

Angkanya tidak kecil. Untuk keluarga yang tinggal di rumah cicilan dua kamar dan hidup dari kue pesanan dan gaji junior, angka itu bukan angka yang bisa dikeluarkan dari dompet jam setengah satu malam. Aku melihat Tante Melinda menatap Aluna. Aku melihat Aluna menggigit bibir, mengeluarkan HP, membuka sesuatu, mungkin aplikasi bank, dan menatap layar dengan wajah yang perlahan memucat.

Aku sudah berdiri sebelum otakku selesai rapat.

Aku sudah berjalan tiga langkah ke arah meja kasir di ujung lorong IGD, dompet sudah di tangan. Seperti hari MOS. Seperti laptop rusak di konter. Seperti radio Oma. Seperti semua hal yang kulakukan seumur hidupku: melihat ada yang butuh, dan langsung memberi, tanpa bertanya, tanpa menunggu.

Sebuah tangan mencengkeram lengan kemejaku.

Dara.

Ia berdiri di belakangku, memegang lenganku dengan kuat, dan menatapku dengan mata yang tidak pernah kulihat di wajahnya. Bukan mata auditor. Bukan mata adik yang galak. Mata yang sangat mirip mata Ibu di anak tangga ketiga tadi malam.

“Kak,” katanya pelan.

“Dar, mereka butuh—”

“Aku tahu mereka butuh.” Ia tidak melepas lenganku. “Kakak mau bayar, kan?”

“Iya.”

“Kakak udah nanya mereka?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Kakak selalu gitu,” bisik Dara. “Langsung bayar. Langsung bantu. Langsung mutusin. Kayak dulu waktu Kakak mau nolak ITB buat aku, tanpa nanya aku mau apa.” Matanya basah. “Bilang dulu, Kak. Tanya dulu. Mereka bukan orang yang nggak punya harga diri. Papanya Luna antre nasi uduk di belakang tukang ojek karena dia nggak mau dikasihani.”

Aku berdiri diam di lorong IGD dengan dompet di tangan.

Lo tanya dia. Jangan nunggu.

Om mau antre. Kayak orang lain.

Aku berbalik. Aku berjalan kembali ke kursi ruang tunggu tempat Tante Melinda dan Aluna duduk. Aku berjongkok di depan Tante Melinda, supaya mata kami sejajar.

“Tante,” kataku. “Boleh saya bantu?”

Tante Melinda menatapku. Bibirnya bergetar.

“Bukan ngasih,” kataku pelan. “Saya talangin dulu. Nanti kalau Tante udah siap, Tante kembaliin. Pelan-pelan. Kapan aja. Nggak ada bunga. Nggak ada tenggat.” Aku menarik napas. “Tapi kalau Tante nggak mau, saya nggak akan maksa. Ini keputusan Tante.”

Hening.

Tante Melinda menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya berguncang. Lalu, dari balik tangannya, ia mengangguk. Sekali. Dua kali.

Aku menoleh ke Aluna.

Ia menatapku dengan mata yang membesar dan basah. Ia tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang lebih besar dari terima kasih. Seperti orang yang baru melihat seseorang melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, dan tahu persis betapa sulitnya itu.

Aku berdiri dan berjalan ke kasir.

Di belakangku, aku mendengar Dara menghela napas panjang dan duduk di kursi di sebelah Tante Melinda. Lalu, pelan-pelan, aku mendengar adikku, yang selama dua bulan menatap Aluna seperti tersangka, berkata dengan suara lembut yang biasanya hanya ia pakai untuk Ibu:

“Tante, minum dulu. Aku beliin teh di kantin, ya. Yang manis.”


Obat trombolisis masuk jam satu lewat lima belas. Pak Hendra dipindahkan ke ruang perawatan intensif jam dua.

Dokter keluar sekali lagi jam tiga kurang sepuluh. Wajahnya lebih lelah dari sebelumnya.

“Obatnya sudah masuk. Respons awal ada, tapi belum bisa dipastikan. Dua puluh empat jam ke depan sangat menentukan. Risiko perdarahan masih ada. Kami pantau terus.” Ia menatap Tante Melinda dan Aluna bergantian. “Keluarga bisa istirahat dulu. Kalau ada perubahan, kami kabari.”

Lalu ia pergi.

Tante Melinda duduk diam. Dara memegang tangannya.

Aluna berdiri.

Ia berjalan ke ujung lorong, ke dekat jendela besar yang menghadap parkiran rumah sakit yang gelap. Langkahnya pelan, kaku, seperti orang yang berjalan dalam tidur. Ia berhenti di depan jendela. Menatap keluar.

Aku mengikutinya.

Aku berdiri di sebelahnya. Di luar jendela, lampu-lampu jalan Margonda menyala kuning, dan sesekali ada motor lewat. Di kaca jendela, aku bisa melihat bayangan kami berdua samar-samar. Ia dengan kaus abu-abu dan rambut berantakan. Aku dengan kemeja kerja yang belum sempat kuganti sejak pagi, kerah miring, lengan digulung.

“Dua puluh empat jam,” katanya pelan. Ke jendela.

“Iya.”

“Tiga tahun lalu, waktu stroke pertama, dokternya juga bilang dua puluh empat jam.” Suaranya datar. Terlalu datar. “Aku duduk di lorong rumah sakit sendirian. Mama di dalam. Aku nggak punya siapa-siapa buat ditelepon. Sisil di Surabaya. Tiara belum kenal. Aku duduk di lorong itu sendirian selama dua puluh empat jam, dan aku nggak nangis. Sama sekali. Karena kalau aku nangis, nggak ada yang bakal ngurus Mama.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nggak nangis tiga tahun lalu,” katanya. Suaranya mulai retak. “Aku nggak nangis waktu rumah dilelang. Aku nggak nangis waktu Pak Darto turunin kardus terakhir. Aku nggak nangis waktu aku harus cuti kuliah dua kali. Aku—”

Suaranya pecah.

Ia menutup mulut dengan tangan. Bahunya berguncang sekali. Dua kali. Ia mencoba menahannya, aku bisa melihatnya mencoba, dengan seluruh tenaga yang ia punya, seperti orang yang menahan pintu dari dorongan banjir.

Lalu pintu itu jebol.

Ia menangis. Tidak tanpa suara. Tidak diam-diam seperti di KRL atau di toilet sekolah. Ia menangis dengan isak yang keras, yang membuat perawat di ujung lorong menoleh, yang membuat tubuhnya membungkuk dan tangannya mencengkeram ambang jendela.

Aku tidak berpikir.

Aku tidak menimbang. Aku tidak bertanya pada diriku sendiri apakah boleh, apakah pantas, apakah ia mau. Lenganku sudah bergerak sebelum otakku sempat rapat, seperti di dermaga Labuan Bajo, seperti hari MOS.

Aku memeluknya.

Penuh. Dua lengan melingkar di punggungnya. Satu tangan di belakang kepalanya, di antara rambutnya yang berantakan. Aku menariknya ke dadaku dan memeluknya, erat, seperti memeluk seseorang yang sedang jatuh dari tempat yang sangat tinggi.

Ia membeku sedetik.

Lalu ia menyerah.

Seluruh tubuhnya melemas di dalam pelukanku. Tangannya melepas ambang jendela dan mencengkeram bagian belakang kemejaku dengan dua kepalan. Wajahnya menekan dadaku. Isaknya teredam di kain kemeja, di tempat jantungku berdebar.

Aku tidak bilang apa-apa. Aku tidak bilang nggak apa-apa. Aku tidak bilang semua bakal baik-baik aja. Aku tidak tahu apakah semua akan baik-baik saja, dan aku tidak mau berbohong padanya.

Aku hanya memeluknya.

Kemejaku basah oleh air matanya. Rambutnya wangi melati dan sabun bayi, bercampur bau rumah sakit dan keringat. Tubuhnya kecil di dalam pelukanku, lebih kecil dari yang kubayangkan, bahunya kurus, tulang punggungnya terasa di bawah telapak tanganku. Ia gemetar seperti orang yang kedinginan.

Aku mengeratkan pelukanku.

Aku memikirkan perempuan yang duduk sendirian di lorong rumah sakit tiga tahun lalu selama dua puluh empat jam dan tidak menangis karena tidak ada yang akan mengurus mamanya kalau ia menangis. Aku memikirkan gadis yang berlari menembus hujan dengan blazer di atas kepala. Yang naik ojek jam tiga pagi dari Depok. Yang memotong rambutnya sendiri di kamar mandi.

Selama delapan tahun, ia memikul semuanya sendirian. Dan aku di Bandung, tidak tahu. Tidak bertanya.

Ia menangis lama. Aku tidak menghitung berapa lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung.


Isaknya mereda perlahan. Napasnya mulai teratur. Tapi ia tidak melepas pelukannya, dan aku juga tidak.

“Maaf,” katanya pelan, suaranya teredam di dadaku. “Kemejamu basah.”

“Nggak apa-apa.”

“Ada ingusnya juga.”

“Nggak apa-apa.”

Ia tertawa. Kecil, basah, pecah. Tapi tertawa.

Lalu ia diam lagi. Tangannya masih mencengkeram bagian belakang kemejaku.

“Anggana.”

“Hm.”

“Aku belum cerita.” Suaranya bergetar lagi. “Aku janji Senin. Terus besok. Terus... aku belum cerita ke kamu. Soal kelas tiga. Soal semuanya. Aku—”

Aku memejamkan mata.

Aku ingin bilang cerita sekarang. Aku ingin bilang aku mau tahu. Ucup bilang lo tanya dia. Pak Hendra di ruang tamu kecil, di lapak, di depan pagar hijau: waktu kamu kelas tiga—.

Tapi papanya baru saja dimasukkan obat penghancur sumbatan otak. Dua puluh empat jam ke depan menentukan. Ia baru saja menangis untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Ia gemetar di dalam pelukanku.

“Nanti,” kataku pelan. “Papa dulu.”

Aku merasakan ia mengangguk di dadaku.

Itu bukan nggak usah sekarang kalau kamu belum siap. Itu berbeda. Aku tahu itu berbeda. Kali ini aku tidak lega karena ditunda. Kali ini aku menunda karena ada sesuatu yang lebih penting dari jawabanku sendiri.

Tapi aku juga tahu, berdiri di lorong rumah sakit jam tiga pagi dengan perempuan yang menangis di dadaku, bahwa nanti sudah terlalu sering diucapkan di antara kami berdua.


Ibu datang jam lima lewat dua puluh.

Ia datang naik taksi online, dengan dua tas kain besar di tangan dan wajah yang tenang. Di dalam tas-tas itu, tiga puluh bungkus nasi uduk. Bukan untuk kami saja. Untuk semua keluarga pasien di ruang tunggu IGD dan ICU yang duduk di kursi-kursi plastik dengan wajah lelah dan mata merah.

“Ibu tutup lapak?” tanyaku, kaget.

“Sekali-sekali.” Ibu meletakkan tas di kursi. “Delapan belas tahun Ibu ndak pernah tutup kecuali Lebaran. Pakde Sarno bisa beli di tempat lain sehari.”

Lalu Ibu melihat Tante Melinda.

Dua perempuan itu saling menatap. Tante Melinda dengan daster dan wajah yang sudah tidak punya air mata lagi. Ibu dengan kebaya biru muda yang ia pakai di wisudaku, yang entah kenapa ia pakai pagi ini, dan sanggul putih yang disisir rapi.

Mereka pernah bertemu sekali, delapan tahun lalu, di aula wisuda yang penuh orang. Mereka tidak pernah bicara.

Ibu berjalan ke arah Tante Melinda. Tidak bilang apa-apa. Ia memeluknya.

Tante Melinda membeku sebentar, seperti Aluna tadi. Lalu ia membalas pelukan itu, dan menangis lagi, dan Ibu mengusap punggungnya pelan, naik turun, seperti mengusap punggung anak kecil yang demam.

“Sing sabar, Bu,” kata Ibu pelan. “Sing sabar.”

Aluna menatap dua ibu itu dari kursinya, dengan kepala bersandar di bahu Dara. Ia sudah tertidur setengah. Dara duduk tegak dengan wajah kaku, membiarkan bahunya dijadikan bantal, dan ketika aku menatapnya, ia mendelik.

“Jangan liat,” desisnya. “Ini bukan apa-apa. Ini kebutuhan operasional. Subjek butuh sandaran.”


Pak Hendra sadar jam tujuh lewat sepuluh pagi.

Dokter jaga yang memberi tahu. Responsnya baik. Belum ada tanda perdarahan. Gerakan tangan kanannya kembali. Ia bisa membuka mata dan mengenali orang. Masih jauh dari pulih, masih harus dipantau, tapi yang terburuk sudah lewat.

Tante Melinda masuk lebih dulu ke ruang ICU. Lalu Aluna, setelah dibangunkan Dara dengan cara menggoyangkan bahunya terlalu keras. Lalu, setelah mereka keluar dua puluh menit kemudian dengan wajah basah dan tersenyum, Tante Melinda menatapku.

“Om minta ketemu kamu,” katanya. “Sendirian.”


Ruang ICU dingin dan sunyi kecuali bunyi mesin-mesin. Pak Hendra terbaring di ranjang dengan selang oksigen di hidung, kabel-kabel di dada, infus di lengan. Wajahnya pucat. Separuh wajahnya kembali tidak bergerak, separuh yang lain bergerak sangat sedikit.

Matanya terbuka. Menatapku.

Aku berdiri di samping ranjang. “Om.”

Ia menggerakkan tangan kanannya. Sedikit. Ke arahku. Aku meraihnya. Tangannya dingin dan gemetar.

Bibirnya bergerak. Tidak ada suara. Ia mencoba lagi. Aku membungkuk, mendekatkan telingaku ke bibirnya.

Suaranya keluar sangat pelan. Lebih tersendat dari sebelumnya. Setiap kata butuh waktu, butuh napas, butuh tenaga yang ia tidak punya.

“Dia... dulu...”

Aku menahan napas.

“...nggak nolak kamu... karena... nggak mau.”

Aku membeku.

Mesin-mesin di sekitar ranjang berbunyi pelan. Bip. Bip. Bip.

“Om?”

Pak Hendra menatapku. Matanya basah. Tangan kanannya meremas tanganku, lemah, tapi meremas.

“Tanya... dia,” bisiknya. “Om... nggak berhak... cerita. Tapi... tanya... dia.”

Lalu matanya terpejam. Napasnya teratur. Ia tertidur.

Aku berdiri di samping ranjang ICU, memegang tangan lelaki tua yang baru saja kembali dari tepi jurang, dan dunia di sekelilingku berubah jadi suara desis.

Nggak nolak kamu karena nggak mau.

Waktu kamu kelas tiga.

Ada yang harus aku ceritain soal kelas tiga.

Tahun-tahun itu nggak hilang. Cuma belum diceritain.

Aku meletakkan tangan Pak Hendra kembali di atas selimut. Pelan. Lalu aku keluar dari ruang ICU.


Di lorong, Aluna sedang duduk di kursi plastik dengan kepala bersandar di dinding dan mata terpejam. Ia tertidur lagi. Dara duduk di sebelahnya, memegang gelas teh dari kantin, dan menatapku waktu aku keluar.

Ia membaca wajahku. Aku tidak tahu apa yang ia baca. Tapi ia tidak bertanya.

Aku berdiri di lorong rumah sakit dan menatap Aluna yang tertidur.

Rambutnya berantakan. Kaus abu-abunya kusut. Ada bekas air mata kering di pipinya, dan lingkaran gelap di bawah matanya, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanan yang tidak tertutup apa pun. Tangannya terkulai di pangkuan, tangan yang tadi malam mencengkeram bagian belakang kemejaku sampai kusut.

Aku menatapnya, dan sesuatu yang sudah berminggu-minggu bergerak di dadaku akhirnya diam. Bukan berhenti. Diam. Seperti tabung radio yang sudah melewati sepuluh detik desis, sudah melewati suara samar-samar, dan akhirnya menemukan gelombang yang tepat.

Lagunya jelas sekarang.

Delapan tahun lalu, aku jatuh cinta pada gadis yang kulihat di dekat gerbang sekolah. Gadis bertopi kerucut hijau dengan kotak bekal kayu berpelitur, yang matanya berubah keemasan di bawah matahari pagi. Aku jatuh cinta pada wajahnya, pada cahayanya, pada caranya mengucapkan namanya pelan dan utuh. Aku jatuh cinta pada gadis dari liga yang berbeda, yang tidak pernah benar-benar kukenal.

Pagi ini, di lorong rumah sakit di Margonda, aku jatuh cinta lagi.

Tapi bukan pada gadis yang kulihat. Pada perempuan yang kukenal. Perempuan yang naik KRL jam enam pagi dan memotong rambutnya sendiri. Yang membungkus nasi uduk dua belas detik setelah enam minggu jam empat pagi. Yang menyelimuti adikku dan membawa papanya antre. Yang duduk sendirian di lorong rumah sakit tiga tahun lalu dan tidak menangis, dan tadi malam akhirnya menangis di dadaku.

Ini bukan cinta yang sama.

Ini lebih berat. Lebih dalam. Lebih menakutkan.

Dan aku tahu, berdiri di lorong itu dengan kemeja yang masih basah oleh air matanya, bahwa kali ini aku tidak akan bilang kamu nggak perlu jawab.

Kali ini, aku mau jawaban.