Chapter Forty Two
Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
POV: Anggana
Godaan pertama datang di ketinggian tiga puluh tujuh ribu kaki, empat puluh menit setelah lepas landas dari Jakarta.
Aku sedang membaca laporan mingguan tim Vietnam di tablet, karena Jovan bersumpah tidak akan menghubungiku selama dua minggu dan aku tidak percaya pada sumpah Jovan. Aluna duduk di kursi jendela. Ia memakai kemeja linen putih longgar, celana pendek khaki, topi jerami di pangkuan, dan cincin emas putih di jari manisnya yang sesekali menangkap cahaya dari jendela.
Ia menyentuh lenganku dengan ujung jari.
“Mas.”
Kata itu masih membuatku berhenti. Dua hari menikah, dan setiap kali ia memanggilku Mas, sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya selama dua puluh tujuh tahun hidupku. Seperti tabung radio yang menyala tanpa perlu desis sepuluh detik.
“Hm?”
“Aku boleh tidur di bahu Mas?”
“Boleh. Kamu ngantuk?”
“Nggak.”
Aku menoleh. Ia sedang menatapku dengan dagu bertumpu di telapak tangan, mata cokelat madu yang di bawah cahaya jendela pesawat berubah sedikit keemasan, sudut bibir yang terangkat jauh lebih tinggi dari biasanya.
“Terus kenapa mau tidur di bahuku?”
“Biar Mas nggak bisa baca laporan.” Ia mengambil tablet dari tanganku, mematikan layarnya, dan memasukkannya ke kantong kursi di depanku. “Ini bulan madu, Mas. Bukan rapat dewan direksi.”
Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku, melingkarkan tangannya di lenganku, dan menghela napas panjang seperti kucing yang akhirnya menemukan tempat paling hangat di rumah.
Aku duduk diam dengan tangan kosong. Di seberang lorong, seorang ibu-ibu menatap kami dengan senyum penuh pengertian.
“Pengantin baru, Mas?” tanyanya.
Aku membuka mulut. Aluna menjawab duluan, tanpa mengangkat kepala dari bahuku:
“Iya, Bu. Dua hari. Suami saya masih belum percaya.”
Ibu itu tertawa. Aku merasakan telingaku memanas sampai ke tengkuk.
Mama Rosa menunggu di pelabuhan Labuan Bajo dengan kain tenun Manggarai di bahu, kantong plastik berisi dua kilo ikan asin di satu tangan, dan suara yang terdengar sampai kapal-kapal pinisi yang berlabuh di teluk.
“SA BILANG JUGA APA!”
Ia memeluk Aluna lebih dulu kali ini. Lama. Lalu memelukku. Lalu memegang wajah kami berdua dengan dua tangannya yang wangi minyak kelapa dan asap kayu bakar.
“Dari dulu sa bilang istri,” katanya, matanya berkaca-kaca. “Waktu nona hampir jatuh di dermaga. Sa lihat tangan Anak Jakarta tidak mau lepas. Sa sudah tahu.”
“Delapan detik, Mama,” kata Aluna. “Tiara yang ngitung.”
“Delapan detik?” Mama Rosa menatapku dengan alis terangkat. “Terlalu lama untuk cuma menolong. Terlalu cepat untuk melamar.” Ia menepuk pipiku pelan. “Untung sekarang sudah sah. Mama tidak usah pusing lagi.”
Resor yang kami tempati berdiri di atas tebing di ujung barat Labuan Bajo. Mitra Flie sejak tahun kedua. Pemiliknya pasangan muda dari Ruteng yang dulu bekerja di kapal pesiar dan pulang untuk membangun delapan vila kayu dengan atap ilalang, masing-masing punya dek sendiri yang menghadap laut dan matahari terbenam.
Vila kami yang paling ujung. Dek kayu jati yang menggantung di atas tebing, kolam renang kecil yang airnya seperti menyatu dengan laut di cakrawala, dan kamar dengan dinding kaca dari lantai sampai langit-langit.
Dan satu kasur.
Kasur besar dengan seprai putih, kelambu tipis yang diikat di empat tiang kayu, dan kelopak bunga kamboja yang disebar di atasnya membentuk hati.
Aluna berdiri di ambang pintu kamar, menatap kasur itu. Lalu menatapku.
Lalu ia berlari dan menjatuhkan diri ke atas kasur itu, telentang, merentangkan tangan dan kaki seperti bintang laut, membuat kelopak-kelopak kamboja beterbangan ke udara.
“Mas,” katanya ke langit-langit. “Kasurnya gede banget.”
“Iya.”
“Kita bisa tersesat di sini.”
“Kasur nggak bisa bikin orang tersesat.”
Ia mengangkat kepala sedikit dari bantal dan menatapku yang masih berdiri di ambang pintu dengan dua koper di tangan.
“Bisa kok,” katanya pelan. “Kalau Mas mau tersesat.”
Aku berdiri diam.
Kedua koper masih di tanganku. Aku tidak meletakkannya. Aku tidak bergerak. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap istriku yang berbaring di atas kelopak kamboja dengan rambut sebahu yang menyebar di bantal putih, dan otakku, yang bisa membaca delapan belas juta percobaan login dan menemukan pola jeda tiga ratus dua belas milidetik, berhenti memproses.
Aluna tertawa. Tawa yang membuat kepalanya miring ke kiri di atas bantal.
“Mas,” katanya. “Kopernya taruh dulu.”
Aku meletakkan koper. Salah satunya jatuh miring ke lantai. Aku tidak membetulkannya.
Sore itu, ia menceburkanku ke kolam.
Bukan cara yang romantis. Aku sedang berdiri di pinggir kolam dengan kemeja dan celana panjang, memotret matahari yang mulai turun di atas pulau-pulau untuk dikirim ke Ibu, karena Ibu minta fotoin laut yang kayak di video Flie, Le. Aluna sudah di dalam kolam, berenang pelan dengan baju renang hitam sederhana yang membuat bahunya terlihat keemasan di bawah cahaya sore.
Ia berenang ke pinggir. Ia memegang pergelangan kakiku.
“Mas.”
“Bentar, lagi motret buat Ibu—”
“Mas, sini.”
“Aluna, HP-ku—”
Ia menarik.
Aku jatuh. Dengan kemeja. Dengan celana panjang. Dengan HP di tangan yang untungnya tahan air karena Dara memaksaku membeli model itu setelah insiden banjir di gang.
Aku muncul ke permukaan dengan rambut menempel di dahi dan kemeja yang mengembang seperti balon. Aluna tertawa sampai harus berpegangan pada pinggir kolam.
“Kamu sengaja,” kataku.
“Iya.”
“Kemejaku basah semua.”
“Iya.” Ia berenang mendekat. Air menetes dari ujung rambutnya ke tulang selangkanya. Ia berhenti tepat di depanku, cukup dekat sampai aku bisa melihat butir-butir air di bulu matanya. Lalu ia mengangkat tangan dan merapikan kerahku yang basah dan miring, melipatnya keluar dengan ibu jari, menepuknya dua kali.
“Kerahmu miring,” katanya. “Bahkan di dalam air.”
“Kamu yang bikin miring.”
“Iya,” katanya, tanpa sedikit pun penyesalan. “Biar aku punya alasan benerin.”
Lalu ia mencium pipiku, cepat, dan berenang menjauh sebelum aku sempat membalas.
Aku berdiri di tengah kolam dengan kemeja basah dan pipi yang lebih panas dari matahari Flores.
Di HP-ku yang tahan air, satu pesan masuk dari Ibu: Le, fotonya kok miring? Kamu kecebur?
Makan malam disajikan di dek jam tujuh.
Meja kecil untuk dua orang di ujung dek yang menggantung di atas tebing. Lilin-lilin dalam gelas kaca. Taplak putih. Ikan kakap merah bakar dengan sambal colo-colo, cumi bakar, nasi putih, dan sebotol jus markisa. Di bawah kami, laut sudah berubah dari biru menjadi ungu tua, dan di cakrawala, sisa-sisa matahari menyisakan garis jingga tipis seperti bara yang hampir padam.
Aku sudah duduk di meja. Kemeja linen putih yang kering, yang aku pastikan kancing teratasnya terpasang supaya kerahnya tidak miring. Aluna bilang ia butuh waktu sebentar untuk bersiap.
Sebentar itu ternyata empat puluh lima menit.
Lalu pintu kaca kamar bergeser.
Dan aku lupa caranya bernapas.
Gaun itu merah.
Bukan merah cerah. Merah tua, merah anggur, merah seperti bibir yang baru selesai dicium. Kainnya satin, jatuh mengikuti tubuhnya dari bahu sampai pergelangan kaki seperti air yang dituang pelan-pelan, memantulkan cahaya lilin di setiap lekukan. Talinya tipis, dua garis halus di atas bahu yang keemasan karena matahari Flores. Potongan lehernya sederhana, tidak terlalu rendah, tapi cukup untuk memperlihatkan tulang selangkanya, dan cahaya lilin berkumpul di cekungan kecil di antaranya seperti madu di dalam sendok.
Rambutnya yang sebahu ditata bergelombang, lebih rapi dari biasanya, ujung-ujungnya jatuh menyentuh tali gaun di bahu. Ia memakai anting kecil berbentuk tetesan, perak. Bibirnya diberi warna yang sama persis dengan gaunnya. Merah anggur. Riasan di matanya tipis tapi tegas, sedikit keemasan di kelopak, membuat iris cokelat madunya terlihat menyala di bawah cahaya lilin seperti sesuatu yang terbakar pelan dari dalam. Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya tidak ditutupi.
Ia berdiri di ambang pintu kaca, satu tangan di kusen, satu kaki sedikit di depan kaki lainnya. Celah di sisi gaun, yang aku tidak sadari ada sampai ia melangkah, terbuka sedikit dan memperlihatkan kulit dari lutut sampai paha.
Ia menatapku.
Aku menatapnya.
Garpu di tanganku jatuh ke piring dengan bunyi ting yang terdengar sampai ke laut.
“Mas,” katanya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Mulutku terbuka sedikit dan tidak ada yang keluar.
Ia berjalan ke arah meja. Pelan. Setiap langkahnya membuat satin merah itu bergerak dan memantulkan cahaya. Bunyi sandal tumitnya di atas dek kayu jati terdengar seperti hitungan mundur.
Ia berhenti di samping meja. Di sampingku. Ia menunduk sedikit, cukup untuk wangi parfumnya, sesuatu yang baru, bukan melati dan sabun bayi, sesuatu yang lebih hangat dan lebih dalam seperti kayu cendana dan mawar, sampai ke hidungku.
“Mas,” katanya lagi, lebih pelan. “Napas.”
Aku menarik napas. Ternyata aku memang belum bernapas.
Ia tertawa. Pelan. Rendah. Tawa yang belum pernah kudengar darinya, tawa yang tidak membuat kepalanya miring ke kiri tapi membuat sudut bibirnya naik dengan cara yang membuat jantungku melompat ke tenggorokan.
“Bagus?” tanyanya.
“Kamu...” Suaraku keluar serak. Aku berdeham. “Kamu...”
“Aku apa?”
“Kamu kayak orang yang kalau masuk ruangan, lampunya jadi malu.”
Ia berhenti tertawa.
Ia menatapku. Matanya membesar sedikit. Lalu melunak.
“Kamu masih inget,” katanya pelan.
“Pesta ulang tahunmu. Teras samping. Gaun hijau zamrud.” Aku menatapnya. “Waktu itu kamu bilang aku nggak boleh ngomong gitu karena kamu nggak siap.”
“Sekarang aku siap,” katanya.
Lalu ia berbalik.
Pelan. Seperti memamerkan sesuatu di etalase. Satu putaran setengah. Sampai punggungnya menghadapku.
Gaun itu tidak punya punggung.
Kainnya berhenti di pinggang bagian bawah, dan dari situ sampai ke tengkuknya, hanya ada kulit. Keemasan di bawah cahaya lilin. Garis tulang punggungnya yang halus, seperti untaian mutiara yang tertanam di bawah kulit. Tulang belikatnya yang bergerak sedikit setiap kali ia bernapas. Dua tali tipis yang menyilang di tengah punggung, terlalu tipis untuk menahan apa pun, cukup tebal untuk membuatku tidak bisa berpikir.
Aku membeku untuk kedua kalinya.
Lebih parah dari yang pertama. Yang pertama, setidaknya, garpuku jatuh. Yang kedua, aku bahkan tidak bisa menjatuhkan apa-apa, karena tanganku sudah kosong dan tidak bisa bergerak.
Ia menoleh dari balik bahunya. Menatapku dengan satu mata, rambut jatuh menutupi separuh wajah.
“Mas,” katanya. “Napas lagi.”
Ia duduk di seberangku. Menuang jus markisa ke gelasku, lalu ke gelasnya sendiri. Mengambil sepotong ikan kakap dengan garpu. Makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah ia tidak baru saja membuat CTO perusahaan dengan transaksi lima puluh miliar sehari lupa caranya bernapas dua kali dalam tiga menit.
Aku mengambil garpuku dari piring. Aku mencoba makan. Aku memasukkan sepotong cumi ke mulut dan tidak merasakan apa-apa.
“Enak?” tanyanya.
“Enak.”
“Itu sambal colo-colo, Mas. Mas makan sambalnya doang. Cuminya masih di piring.”
Aku menunduk. Ia benar. Di garpuku hanya ada sambal.
Ia tertawa lagi, tawa yang rendah itu, dan aku merasakan sesuatu menyentuh pergelangan kakiku di bawah meja. Ujung sandalnya. Lalu bukan sandal. Ujung jari kakinya, telanjang, naik pelan dari pergelangan kakiku ke betis, di balik kain celana.
Garpuku jatuh lagi.
“Mas,” katanya, sangat polos, sambil memotong ikan. “Garpunya jatuh mulu. Mau aku ambilin yang baru?”
“Kamu...” Aku menatapnya. “Kamu sengaja.”
“Sengaja apa?” Kakinya masih di betisku. Ia memasukkan sepotong ikan ke mulutnya dan mengunyah dengan wajah sangat tenang.
“Gaunnya. Kakinya. Semuanya.”
“Oh, itu.” Ia menelan. “Iya, sengaja. Aku beli gaunnya sama Tiara, dua minggu sebelum nikah. Tiara bilang gaun ini namanya senjata pemusnah CTO.” Ia mengangkat bahu, dan tali tipis gaunnya bergeser sedikit. “Aku cuma mau ngetes. Ternyata Tiara bener.”
HP-ku di meja bergetar. Satu pesan. Aku tidak mau membukanya. Aku tahu dari siapa.
Aluna mengambil HP-ku, membuka pesan itu, dan membacakannya dengan suara keras.
“Tiara: Pak Angga, gaunnya udah keluar belum? UDAH FREEZE BELUM? Jovan nanya juga. Kami taruhan. Jovan bilang tiga kali, gue bilang lima.”
Aluna mengetik balasan dengan cepat, lalu menunjukkan layarnya padaku sebelum mengirim.
Anggana: Ini Aluna. Sejauh ini dua kali. Malam masih panjang. Tiara menang kayaknya.
Ia menekan kirim.
“Aluna—”
“Mas,” katanya, meletakkan HP-ku kembali di meja dengan layar menghadap bawah. “Kenapa liatin bibir aku?”
Aku membeku untuk ketiga kalinya.
Karena ia benar. Aku memang sedang melihat bibirnya. Sejak ia duduk. Sejak ia menyeruput jus markisa dan setetes kecil tertinggal di sudut bibirnya yang merah anggur, dan ia menyekanya dengan ujung lidah dengan sangat pelan, terlalu pelan, jelas sengaja.
“Aku nggak—”
“Mas liatin.” Ia mencondongkan badan ke depan, siku di atas meja, dagu di atas tangan, persis seperti di pesawat tadi siang. Cahaya lilin di antara kami membuat wajahnya terlihat seperti lukisan yang hidup. “Mau nyium aku?”
Aku tidak bisa menjawab.
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum, senyum yang naik pelan dari sudut bibir.
“Boleh kok,” bisiknya.
Aku mencondongkan badan ke depan. Pelan. Seperti ditarik sesuatu yang tidak bisa kulawan. Wajah kami semakin dekat di atas lilin. Aku bisa merasakan napasnya. Aku bisa melihat bintik keemasan di iris kirinya.
Satu senti sebelum bibir kami bersentuhan, ia mundur.
Bersandar kembali ke kursinya. Mengambil garpu. Memotong ikan.
“Nanti,” katanya, sangat santai. “Makan dulu. Mas belum makan apa-apa selain sambal.”
Aku duduk di sana, membungkuk di atas meja, dengan bibir yang masih sedikit terbuka dan wajah yang aku yakin semerah gaunnya.
Di bawah meja, kakinya kembali naik ke betisku.
Aku menghitung di kepala. Empat kali. Tiara menang.
Kami tidak menghabiskan makan malam.
Setelah ikan kakap tinggal separuh, Aluna mengeluarkan HP-nya, membuka sesuatu, dan meletakkannya di tengah meja. Dari speakernya yang kecil, keluar suara desis, lalu suara samar, lalu keroncong.
Bengawan Solo.
Aku menatapnya.
“Aku rekam dari radio Oma,” katanya. “Malam sebelum kita berangkat. Biar kita bawa radionya ke sini.” Ia berdiri. Mengulurkan tangan. “Dansa, Mas?”
“Aku nggak bisa dansa.”
“Aku juga nggak bisa,” katanya. “Tapi aku bisa minta. Ini permintaan nomor...” Ia berpikir. “Nomor tujuh belas, kayaknya.”
Aku berdiri. Aku menerima tangannya.
Ia menarikku ke tengah dek, ke tempat lampu lilin paling redup dan cahaya bulan paling terang. Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku, lalu, pelan, melingkarkannya di leherku. Aku meletakkan tanganku di pinggangnya.
Tanganku di pinggangnya menyentuh satin di bagian depan dan kulit di bagian belakang, tempat gaun itu berhenti. Kulit yang hangat dan halus di bawah telapak tanganku, di tempat yang sama dengan di dermaga setahun lebih yang lalu. Tapi waktu itu ada kemeja linen di antara tanganku dan kulitnya.
Malam ini tidak ada apa-apa.
Ia merasakan tanganku menegang. Ia tersenyum ke bahuku.
“Nggak apa-apa, Mas,” bisiknya. “Aku istri kamu. Boleh pegang.”
Kami bergerak pelan. Tidak benar-benar berdansa. Hanya bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti keroncong yang terdengar tipis dari speaker HP, di atas dek kayu jati yang menggantung di atas tebing, di bawah bulan, di atas laut yang berkilau perak.
Ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku menyandarkan pipiku di puncak kepalanya. Wangi kayu cendana dan mawar, dan di bawahnya, samar sekali, melati dan sabun bayi, yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Mas,” bisiknya di dadaku.
“Hm.”
“Jantung Mas kenceng banget.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu kenapa.”
Ia mengangkat kepala. Menatapku. Cahaya bulan membuat matanya terlihat perak, dan bibirnya, merah anggur, sedikit terbuka.
“Aku mau denger Mas bilang,” katanya.
Aku menatapnya lama.
“Karena kamu cantik banget,” kataku. “Karena gaun itu bikin aku lupa napas empat kali. Karena kaki kamu di bawah meja. Karena kamu ngerjain aku dari pesawat tadi siang dan aku nggak bisa ngelawan sama sekali.” Aku menarik napas. “Karena aku cinta kamu, dan aku masih belum percaya kamu istriku.”
Ia diam.
Lalu ia berjinjit, menarik tengkukku dengan tangan yang melingkar di leherku, dan menciumku.
Bukan ciuman di peron. Bukan ciuman di pantai Sanur, di mana aku yang bertanya dan ia yang menjawab.
Ini ciuman yang ia mulai. Dan ia memulainya seperti orang yang sudah menunggu terlalu lama dan tidak mau menunggu satu detik lagi.
Bibirnya menekan bibirku, hangat dan lembut dan sedikit manis karena jus markisa. Tangannya di tengkukku menarikku lebih dekat. Lalu ia membuka bibirnya, pelan, dan ciuman itu berubah. Lebih dalam. Lebih lambat. Lebih berani. Ia menciumku seperti ia membungkus nasi uduk sembilan detik: dengan keyakinan penuh, tanpa ragu, seperti tubuhnya sudah hafal semuanya.
Tanganku di punggungnya yang terbuka menariknya lebih erat. Ia mengeluarkan suara kecil di bibirku, suara yang belum pernah kudengar, dan suara itu membuat sesuatu di dalam dadaku yang selama dua puluh tujuh tahun selalu tertata rapi, terlipat, terkendali, mulai lepas satu per satu seperti kancing yang dibuka.
Keroncong di HP sudah berganti lagu. Aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengar ombak di bawah tebing. Aku hanya mendengar napasnya, napasku, dan detak jantungku yang terlalu keras.
Waktu akhirnya ia melepaskan ciuman itu, ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya menempel di dahiku. Napasnya terengah-engah. Lipstik merah anggurnya sudah tidak rapi lagi.
Sebagian ada di bibirku, aku yakin.
“Mas,” bisiknya.
“Hm.”
“Mau tidur sekarang?”
Aku menelan ludah. “Kamu capek?”
Ia menarik dahinya dari dahiku. Sedikit. Cukup untuk menatapku. Dan senyumnya, senyum yang naik pelan dari sudut bibir, sekarang punya sesuatu yang lain di dalamnya. Sesuatu yang membuat lututku tidak terlalu bisa dipercaya.
“Siapa bilang mau tidur buat tidur?” katanya.
Aku membeku untuk kelima kalinya.
Tiara menang telak.
Ia tertawa. Pelan, rendah, di dadaku. Lalu, karena aku masih membeku, ia mengambil tanganku yang masih di punggungnya, menautkan jari-jarinya di sela-sela jari-jariku, dan mulai berjalan mundur ke arah pintu kaca kamar. Pelan. Menarikku bersamanya. Matanya tidak lepas dari mataku.
Tiga langkah. Lima.
Di ambang pintu kaca, ia berhenti. Kelambu tipis di belakangnya bergerak pelan karena angin laut. Kelopak kamboja masih tersebar di kasur membentuk hati yang sudah setengah berantakan karena ia menjatuhkan diri di sana tadi siang.
Ia menunggu.
Aku tahu ia menunggu. Aku tahu, karena aku sudah belajar membaca wajahnya. Ia sudah menarikku sejauh ini. Ia sudah memulai semuanya: pesawat, kasur, kolam, gaun, kaki di bawah meja, ciuman. Sekarang ia berdiri di ambang pintu dan menungguku melakukan sesuatu.
Menungguku meminta.
Aku melangkah maju. Aku menyelipkan satu lengan di bawah lututnya, satu lengan di punggungnya yang terbuka. Aku berhenti sebelum mengangkatnya.
“Boleh?” tanyaku.
Ia menatapku. Matanya basah. Bibirnya, yang lipstiknya sudah berantakan, bergetar.
“Dari tadi aku nunggu Mas nanya,” bisiknya.
Aku mengangkatnya.
Ia ringan. Ia tertawa kecil waktu kakinya terangkat dari lantai, lalu melingkarkan kedua tangannya di leherku dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leherku. Aku merasakan bibirnya di kulitku di sana. Satu ciuman kecil. Lalu satu lagi.
Aku membawanya masuk melewati pintu kaca. Melewati kelambu tipis yang menyapu bahuku.
Di belakang kami, di atas meja di dek, HP-nya masih memutar keroncong dari radio Oma, pelan, untuk laut dan bulan dan lilin-lilin yang perlahan mencair.
Aku menggeser pintu kaca dengan kaki.
Pintu itu tertutup.
Jauh lewat tengah malam, aku terbangun dan menemukan sisi kasur di sebelahku kosong.
Aku duduk. Kelopak kamboja menempel di lenganku. Pintu kaca ke dek terbuka sedikit, dan kelambu bergerak pelan karena angin.
Ia duduk di ujung dek, di kursi rotan, terbungkus selimut putih dari kasur. Kakinya ditekuk ke dada. Rambutnya berantakan. Ia menatap laut, yang di bawah bulan sekarang terlihat seperti lembaran perak yang bernapas.
Aku keluar dan duduk di kursi rotan di sebelahnya. Ia tidak menoleh. Ia hanya membuka selimutnya sedikit dan menyelimutkan separuhnya ke bahuku, lalu menyandarkan kepalanya di sana.
Kami diam lama. Ombak pecah pelan di kaki tebing.
“Mas,” katanya akhirnya. Suaranya serak.
“Hm.”
“Aku dulu mikir, kalau aku nolak kamu, aku bakal hidup sendiri selamanya. Aku pikir itu harganya.” Ia memainkan cincin di jari manisnya. “Aku nggak pernah mikir aku bakal duduk di sini. Pakai selimut hotel. Sama kamu.”
Aku mencium puncak kepalanya.
“Aku juga nggak pernah mikir,” kataku. “Aku pikir kamu bakal jadi radio yang rusak selamanya. Yang kata semua orang nggak bisa dibenerin.”
“Terus?”
“Terus ternyata bisa.” Aku mengeratkan selimut di bahunya. “Butuh empat bulan nyari tabung. Butuh delapan tahun nyari kamu.”
Ia tertawa pelan. Lalu ia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku. Wajahnya tanpa riasan sekarang, bersih, dengan bekas samar lipstik merah anggur di sudut bibir. Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya. Bulu mata yang sedikit basah.
“Mas,” katanya.
“Iya.”
“Kerahmu.”
Aku menunduk. Aku tidak memakai kemeja. Aku memakai kaus putih tipis yang tadi kusambar dari koper sebelum keluar, dan tentu saja, kerah kaus itu terlipat ke dalam di satu sisi.
Ia mengangkat tangan dan merapikannya. Melipat sisi kiri keluar. Menekan dengan ibu jari. Menepuknya dua kali.
“Miring,” katanya. “Bahkan kaus.”
“Bahkan kaus.”
Ia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya kembali di bahuku.
Di meja di dek, HP-nya sudah mati kehabisan baterai. Keroncong sudah lama berhenti. Tapi di kepalaku, aku masih mendengarnya.
Di HP-ku, yang kutinggal di dalam kamar, ada satu pesan yang belum kubaca sampai pagi.
Tiara: Lima kali kan? LIMA KALI KAN? Jovan kalah. Jovan harus cuci piring seminggu. Btw selamat ya Pak Angga. Jangan lupa napas.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo reading
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis