← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Seventeen

KRL Jam Sembilan

POV: Anggana

Hujan mulai turun jam delapan malam, dan pada jam sembilan kurang lima belas, Sudirman sudah berubah jadi sungai lampu merah.

Aku baru keluar dari makan malam dengan Jovan dan tim konsultan hukum di sebuah restoran di Thamrin. Pertemuan untuk membahas struktur ekspansi regional, tiga jam penuh dengan istilah-istilah yang membuat kepalaku berdengung. Jovan pulang naik taksi ke Kemang. Aku menyetir sendiri ke arah Jakarta Timur, lewat jalan yang seharusnya memotong di depan Stasiun Sudirman.

Mobil merangkak. Wiper bekerja secepat yang ia bisa dan tetap kalah melawan hujan. Di radio, penyiar berita membacakan pengumuman: KRL lintas Bogor mengalami gangguan sinyal di antara Manggarai dan Tebet, perjalanan tertahan, penumpang diimbau bersabar.

Di trotoar depan stasiun, ratusan orang berdiri berdesakan di bawah kanopi yang tidak cukup luas. Payung-payung bertabrakan. Ojek online berjajar di pinggir jalan dengan jas hujan plastik warna-warni. Sebagian orang memilih menunggu. Sebagian lagi memutuskan berlari ke halte TransJakarta di seberang, menembus hujan.

Lalu aku melihatnya.

Ia berlari dari arah gedung-gedung perkantoran di seberang jalan, melintasi zebra cross dengan blazer hitam diangkat di atas kepala sebagai payung darurat. Blazer itu basah kuyup dalam lima langkah. Rambutnya yang sebahu menempel di pipi dan leher. Kemeja putihnya basah di bahu dan lengan. Ia memeluk tas di dada, menunduk, langkahnya cepat tapi hati-hati di atas aspal yang licin.

Ia sampai di bawah kanopi stasiun, berdiri di pinggir kerumunan, menurunkan blazer basahnya, dan menatap papan informasi elektronik yang berkedip merah.

GANGGUAN. ESTIMASI KEBERANGKATAN: BELUM DAPAT DIPASTIKAN.

Aku melihat bahunya turun. Sedikit. Seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk kecewa, tapi tetap kecewa.

Lampu lalu lintas di depanku berubah hijau. Mobil-mobil di belakangku membunyikan klakson.

Aku tidak berpikir. Aku menyalakan lampu sein kiri, menepi ke pinggir jalan tepat di depan kanopi stasiun, menurunkan kaca jendela penumpang, dan membunyikan klakson sekali.

Ia tidak menoleh. Ratusan klakson berbunyi di Sudirman malam itu.

Aku membunyikannya lagi. Lalu, karena tidak ada cara lain, aku memanggil namanya lewat jendela yang terbuka, menembus suara hujan.

“Luna!”

Ia menoleh. Matanya mencari-cari, lalu menemukan mobilku. Lalu menemukan wajahku di balik kemudi.

Ia membeku.

“Masuk,” kataku.


Ia ragu lama. Cukup lama sampai seorang bapak berpayung di belakangnya ikut menoleh ke arahku dengan curiga, dan seorang satpam stasiun mulai berjalan mendekat dengan tongkat lampu di tangan, siap menyuruhku pergi karena berhenti di tempat terlarang.

Lalu ia berlari kecil dari bawah kanopi, membuka pintu penumpang, dan masuk.

Air menetes dari rambutnya ke jok. Dari blazernya. Dari ujung celananya. Ia menutup pintu dan duduk dengan punggung tegak, memeluk tas di pangkuan, menatap lurus ke depan.

“Maaf,” katanya. “Jok kamu basah.”

“Nggak apa-apa.”

Aku menjalankan mobil. Satpam stasiun memandangi kami dengan wajah tidak puas, lalu kembali ke kerumunan.

“Rumah kamu di mana?”

Ia diam satu detik. “Depok.”

Aku melirik. “Depok?”

“Depok Baru. Deket stasiun.”

Aku memutar setir di perempatan berikutnya. Arah ke selatan, berlawanan dengan arah rumahku.

“Anggana, nggak usah. Turunin aku di halte TransJakarta aja. Aku bisa—”

“Depok jauh.”

“Aku tahu Depok jauh. Aku tinggal di sana.”

“Hujan.”

“Aku tiap hari naik KRL. Hujan atau nggak.”

“Malam ini KRL-nya nggak jalan.”

Ia diam. Lalu menghela napas pelan dan bersandar ke jok, seperti seseorang yang tahu ia kalah debat tapi tidak mau mengaku.

Aku melihatnya menggigil. Sedikit. Bahunya bergetar setiap beberapa detik, dan bibirnya, di bawah sisa lipstik mawar pucat yang mulai pudar, sedikit kebiruan. Aku mematikan AC, membuka laci dasbor untuk mengambil handuk kecil yang selalu kubawa.

Dan di dalam laci dasbor, di atas handuk itu, ada empat lembar sticky note kuning.

Aku menutup laci itu dengan sedikit terlalu cepat. Lalu membukanya lagi, mengambil handuk dari bawah sticky note tanpa menyentuh kertas-kertas kuning itu, dan menutupnya lagi.

Aku tidak tahu kenapa aku menyimpan sticky note itu di laci dasbor. Aku memasukkannya ke saku kemeja setiap hari, lalu setiap malam, sebelum turun dari mobil, aku memindahkannya ke laci dasbor. Aku tidak memikirkannya. Aku hanya melakukannya, seperti aku membawa dua bungkus nasi uduk ke sekolah selama tiga tahun tanpa memikirkannya.

“Ini,” kataku, menyodorkan handuk.

Ia menerimanya. Handuk kecil berwarna hijau tua, sudah agak kusam karena terlalu sering dicuci. Ia mengusap rambutnya, lalu wajahnya, lalu tiba-tiba berhenti. Ia menempelkan handuk itu ke hidungnya.

“Ini wangi daun pisang,” katanya pelan.

“Itu handuk lapak. Ibu nyuruh aku bawa satu di mobil buat lap tangan.”

Ia tidak menjawab. Ia memegang handuk itu di pangkuannya, dengan dua tangan, dan menatap ke luar jendela. Aku melihat bayangan wajahnya di kaca yang berembun.

Ia tersenyum. Sedikit. Ke arah hujan, bukan ke arahku.


Perjalanan ke Depok memakan waktu satu jam sepuluh menit. Tol macet. Jalan arteri tergenang di dua titik. Hujan tidak berhenti.

Kami tidak banyak bicara di setengah jam pertama. Di radio, penyiar berganti lagu: lagu-lagu lama, pop Indonesia tahun sembilan puluhan, yang diputar untuk orang-orang yang terjebak macet dan butuh teman. Ia bersandar ke jok dengan handuk di pangkuan. Kadang ia memejamkan mata. Kadang ia menatapku sebentar, lalu menatap jalan lagi.

Di menit ketiga puluh lima, waktu kami berhenti di antrean panjang di gerbang tol, aku bertanya.

“Kamu tinggal di Depok sejak kapan?”

Ia membuka mata. Menatapku. Aku melihat sesuatu berhitung di belakang matanya, seperti orang yang memutuskan berapa banyak yang mau ia ceritakan.

“Lama,” katanya.

“Lama itu berapa?”

“Delapan tahun. Kurang lebih.”

Delapan tahun. Aku menghitung. Delapan tahun lalu kami lulus SMA. Delapan tahun lalu, rumahnya adalah rumah dengan pagar hitam berujung tombak emas dan air mancur di halaman depan, di Pondok Indah.

“Pindah?”

“Pindah.”

Antrean bergerak. Aku menjalankan mobil. Ia kembali menatap jendela.

Aku tidak bertanya lagi. Bukan karena aku tidak penasaran. Karena aku tidak tahu caranya bertanya lebih jauh tanpa terdengar seperti sedang mengorek. Aku tidak pernah belajar cara bertanya pada orang tentang hal-hal yang menyakitkan. Aku hanya pernah belajar cara memperbaiki barang yang mereka bawa ke konter.


Rumahnya ada di ujung gang di belakang Stasiun Depok Baru. Gangnya cukup lebar untuk satu mobil, tapi pas-pasan. Aku memarkir di depan pagar besi rendah bercat hijau yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Rumahnya kecil, satu lantai, dengan teras sempit dan dahan pohon jambu air milik tetangga yang menjulur ke atap.

Lampu teras menyala. Di bawahnya, duduk di kursi roda dengan sarung tersampir di pangkuan, seorang lelaki tua menatap mobilku dengan mata menyipit.

Aku butuh tiga detik untuk mengenalinya.

Rambutnya sudah putih semua. Tubuhnya lebih kurus, jauh lebih kurus. Separuh wajah kirinya tidak bergerak, sedikit turun, seperti lilin yang meleleh di satu sisi. Tangan kirinya terkulai di atas sandaran kursi roda. Tapi matanya, matanya masih sama. Hangat. Tajam. Mata orang yang pernah menjabat tanganku di atas lantai marmer dan bilang tidak ada yang kebetulan kalau tiga orang lain sudah menyerah.

Pak Hendra Hadinata.

Aluna membuka pintu mobil. “Makasih, Anggana. Kamu langsung pulang aja, udah malem—”

“Luna.”

Suara Pak Hendra. Pelan. Tersendat-sendat. Tapi cukup keras untuk menembus suara hujan yang mulai mereda.

“Itu...” Ia memiringkan kepala ke arah mobilku. Mulutnya bergerak lambat, satu kata demi satu kata. “Itu cowok... yang dulu... kan?”

Aluna membeku dengan satu kaki di luar mobil.

Aku melepas sabuk pengaman dan keluar.


Lima belas menit kemudian, aku duduk di ruang tamu rumah kecil itu dengan segelas teh manis di tangan dan sepiring kue lumpur di meja.

Ruang tamunya sempit. Sofa dua dudukan yang kainnya sudah pudar. Meja kayu kecil. Televisi tabung yang masih menyala dengan suara pelan, menayangkan berita bisnis. Dinding dicat krem dengan satu foto keluarga berbingkai: Pak Hendra, Tante Melinda, dan Aluna remaja dalam kebaya merah bata, di aula sekolah. Foto wisuda. Pak Hendra dan Tante Melinda difoto belakangan dan ditempel di samping Aluna dengan teknik yang tidak terlalu rapi, karena mereka tidak datang hari itu.

Aku tidak tahu kenapa mereka tidak datang. Aku baru menyadari, duduk di sofa itu, bahwa aku tidak pernah bertanya.

Tante Melinda menyambutku dengan senyum yang sama seperti dulu, sopan dan penasaran, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di dalamnya. Sesuatu yang lebih lelah dan lebih hangat. Ia memakai daster dan celemek bertepung. Dari dapur, wangi kayu manis dan mentega.

“Kamu Anggana,” katanya. “Yang benerin laptop Pak Mahesa.”

“Iya, Tante.”

“Yang benerin radio Oma.”

Aku mengangguk.

Tante Melinda tersenyum lebih lebar. Lalu ia menoleh ke arah lorong kecil yang mengarah ke kamar-kamar, tempat Aluna menghilang untuk berganti baju, dan berkata dengan suara sedikit lebih keras, seolah memastikan suaranya sampai ke sana:

“Radionya masih dinyalain tiap malem, lho. Luna nggak pernah absen. Katanya yang benerin itu orang paling pinter sedunia.”

Dari balik lorong, terdengar bunyi sesuatu jatuh. Lalu suara Aluna, tertahan: “Mama.”

Tante Melinda tertawa kecil, lalu kembali ke dapur.

Aku menatap gelas teh di tanganku. Sesuatu terjadi di dadaku. Tidak besar. Seperti tabung radio yang dinyalakan setelah lama mati. Sepuluh detik desis. Lalu, samar-samar, sesuatu yang mungkin suara.


Pak Hendra yang paling banyak bicara malam itu, meskipun setiap kalimatnya butuh waktu tiga kali lebih lama dari orang biasa.

Ia bertanya soal Flie. Ia sudah membaca artikel tentang aku, katanya. Ia membacanya di koran digital, di HP yang dipegang Tante Melinda di depan matanya karena tangan kirinya tidak bisa memegang dan tangan kanannya gemetar. Ia bertanya soal lima puluh miliar sehari. Ia bertanya soal Seri C. Ia bertanya soal Trivio, dengan nada seorang lelaki yang dulu pernah duduk di ruang-ruang rapat yang sama.

“Om... dulu... juga... begitu,” katanya pelan. “Bikin sesuatu... dari nol.”

“PT Hadinata Graha, Om?”

Ia mengangguk lambat.

“Sekarang...” Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar dan melambai pelan ke sekeliling ruang tamu kecil itu. Lalu tersenyum, separuh wajah. “Ditipu... partner. Om... percaya... orang. Rumah... disita. Semuanya... habis.”

Aku menatapnya. Aku memikirkan pagar hitam dengan ujung tombak emas. Air mancur. Lampu kristal. Pelayan yang mengira aku juga pelayan.

“Kapan, Om?”

“Waktu... Luna... masih—”

“Pa.”

Aluna berdiri di ujung lorong. Ia sudah berganti baju: kaus abu-abu longgar dan celana training, rambutnya diikat asal dengan handuk kecil hijau tua milikku masih tersampir di bahunya. Tanpa blazer, tanpa riasan, tanpa lipstik, ia terlihat lebih muda. Lebih seperti gadis di lapangan MOS yang tidak bisa makan pakai tangan. Kulitnya yang pucat karena kedinginan mulai kembali hangat di pipi. Tahi lalat di bawah mata kanannya terlihat lebih jelas tanpa bedak.

“Udah malem, Pa,” katanya. “Anggana harus pulang. Rumahnya di Jakarta Timur. Jauh.”

Pak Hendra menoleh ke anaknya. Menatapnya lama. Lalu, pelan-pelan, mengangguk.

Aku tidak tahu apa yang barusan terjadi. Aku hanya tahu ada kalimat yang dipotong, dan aku tidak tahu ujungnya.


Di teras, waktu aku memakai sepatu, Pak Hendra memanggilku.

“Anggana.”

“Iya, Om.”

“Om dulu... pernah janji.” Ia menarik napas, mengumpulkan kata-kata. “Mau... antre... nasi uduk ibumu.”

Aku teringat. Lantai marmer. Meja makanan. Jangan dibawain. Om yang datang ke sana. Biar Om antre kayak orang lain.

“Belum... sempat,” kata Pak Hendra. Separuh wajahnya tersenyum. “Keburu... jatuh.”

Tenggorokanku tiba-tiba terasa sempit.

“Nanti saya jemput, Om,” kataku. “Hari Minggu. Saya bawa mobil, Om nggak usah—”

“Jangan... dijemput.”

Ia mengangkat tangan kanannya. Gemetar. Tapi tegas.

“Om... mau... antre.”

Aku menatapnya. Lelaki yang dulu punya rumah dengan air mancur, sekarang duduk di kursi roda di teras sempit dengan sarung di pangkuan, dan masih ingin berdiri di antrean gerobak nasi uduk seperti orang lain. Seperti Pakde Sarno. Seperti tukang ojek berjaket hijau. Seperti semua orang.

“Iya, Om,” kataku pelan. “Nanti Om antre.”


Aluna mengantarku sampai pagar.

Hujan sudah reda, tinggal gerimis halus yang turun di bawah lampu jalan seperti debu emas. Dahan pohon jambu di atas kami menjatuhkan tetes-tetes air sesekali.

“Maaf soal Papa,” katanya. “Dia suka cerita panjang kalau ada tamu.”

“Nggak apa-apa. Om Hendra baik.”

“Iya.” Ia memeluk dirinya sendiri dengan dua tangan. Handuk hijau tua masih di bahunya. “Makasih udah nganterin. Beneran. Kamu nggak harus.”

“Aku tahu.”

Ia tersenyum, senyum kecil, lelah. Lalu ia mengangkat handuk dari bahunya dan menyodorkannya.

“Handukmu.”

Aku menatap handuk itu. Lalu menatapnya.

“Bawa aja,” kataku. “Besok-besok kalau KRL gangguan lagi.”

Ia diam. Tangannya yang memegang handuk itu tidak bergerak. Lalu, pelan-pelan, ia menarik handuk itu kembali ke dadanya.

“Oke,” katanya.

Aku masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Di kaca spion, aku melihatnya berdiri di depan pagar hijau yang catnya mengelupas, di bawah gerimis dan lampu jalan, memeluk handuk kecil berwarna hijau tua yang wangi daun pisang.

Ia tidak melambai. Ia cuma berdiri di sana sampai mobilku belok di ujung gang.


Perjalanan pulang memakan waktu satu jam dua puluh menit. Aku tidak menyalakan radio.

Aku memikirkan pagar hijau yang catnya mengelupas. Televisi tabung. Foto wisuda dengan orang tua yang ditempel belakangan.

Aku memikirkan dua blazer yang ia pakai bergantian setiap hari selama due diligence. Hitam dan abu-abu. Aku memperhatikannya tanpa menyadari aku memperhatikannya. Jam tangan kecil dengan tali kulit yang retak di bagian gesper. Sepatu pantofel yang aus di ujung. Bekal nasi dan tempe dalam kotak plastik biru. Air putih dari dispenser pantry tiga kali sehari, tidak pernah kopi dari kafe lobi.

Empat jari dirapatkan. Tidak ada satu butir nasi pun yang jatuh.

Gadis di lapangan MOS tidak bisa makan pakai tangan karena di rumahnya selalu ada sendok perak. Perempuan di pantry lantai dua puluh empat bisa makan pakai tangan dengan sempurna, karena entah sejak kapan, sendok perak itu sudah tidak ada.

Junior Strategic Investment. Umur dua puluh enam.

Teman-teman SMA-ku yang dulu dari keluarga kaya sudah jadi manajer. Yang kuliah di luar negeri sudah pulang dengan jabatan. Aluna, yang dulu paling pintar di angkatan, yang mengingat setiap angka di tabel Pekan Sains tanpa melihat catatan, baru empat bulan jadi junior.

Pasti ada alasannya. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara gadis yang turun dari sedan hitam dan perempuan yang berlari menembus hujan dengan blazer di atas kepala.

Dan aku tidak tahu apa.

Aku tidak tahu, karena selama delapan tahun aku tidak pernah bertanya. Aku tidak pernah mencari. Aku menerima penolakannya di bawah pohon ketapang, tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu menutup pintu dan tidak pernah membukanya lagi. Aku berpikir bahwa itu adalah hal yang benar. Bahwa itu menghormati keputusannya. Bahwa orang yang ditolak tidak berhak bertanya.

Tapi malam ini, di jalan tol yang basah, dengan jok penumpang yang masih lembap dan wangi samponya yang samar, melati dan sabun bayi, masih tertinggal di dalam mobil, aku menyadari sesuatu yang tidak nyaman.

Selama delapan tahun, aku kenal Aluna yang dulu. Gadis bergaun hijau zamrud. Gadis yang menangis di depan radio Oma. Gadis yang menolakku.

Aluna yang ini, yang naik KRL, yang memotong rambutnya tidak rata, yang ayahnya duduk di kursi roda di teras sempit, yang bilang aku lagi ngejar kamu dengan suara yang tidak bergetar, aku tidak mengenalnya.

Aku tidak mengenalnya sama sekali.

Aku memarkir mobil di depan rumah. Jam setengah dua belas malam. Lampu dapur masih menyala; Ibu pasti sudah merendam beras untuk besok.

Sebelum turun, aku membuka laci dasbor.

Empat sticky note kuning. 40 derajat. 25 derajat. 70 derajat. Kamu bungkus berapa tadi pagi?

Aku menatap kertas-kertas itu lama. Lalu aku menutup laci dasbor, pelan, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku ingin tahu sesuatu tentang Aluna yang bukan masa lalu.

Aku ingin tahu siapa dia sekarang.

Itu bukan perasaan. Aku cukup yakin itu bukan perasaan.

Itu cuma rasa ingin tahu.

Tapi aku juga ingat, di kelas sepuluh, di konter Cahaya Cell, aku memotret bagian dalam sebuah radio tua hanya karena ingin tahu apakah ia bisa diperbaiki. Dan empat bulan kemudian, aku menangis sendirian di konter jam dua belas malam, mendengarkan Bengawan Solo.

Rasa ingin tahu, pada orang sepertiku, tidak pernah benar-benar berhenti di rasa ingin tahu.