← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Twenty Seven

Beasiswa Orang Baik

POV: Aluna

Sisil yang menyeretku.

Undangannya datang lewat grup WhatsApp alumni angkatan, grup yang sudah kubisukan sejak tahun kedua kuliah karena isinya foto-foto pernikahan, foto bayi, dan foto liburan ke Eropa yang membuatku harus menahan napas setiap kali membukanya. Malam Apresiasi Alumni dan Donatur — 30 Tahun Yayasan Pelita Nusantara. Sabtu, pukul 16.00, Aula Sekolah.

Aku tidak berniat datang. Lalu Sisil meneleponku, pertama kalinya dalam dua tahun, dengan suara yang sama persis seperti di kantin kelas sepuluh.

“Lun. Lo dateng. Gue jemput.”

“Sil, aku—”

“Gue udah di Jakarta seminggu. Minggu depan balik ke Surabaya. Lo nggak dateng, gue datengin rumah lo di Depok, gue gedor pintunya sampai bapak lo buka.”

Sisil tahu soal Depok. Sisil tahu soal Papa. Sisil satu-satunya teman SMA yang tahu, karena ia yang datang ke rumah kontrakan pertama kami di tahun pertama kuliah dengan dua kantong belanjaan dan tidak bertanya apa-apa.

“Oke,” kataku. “Aku dateng.”


Anggana tidak akan ada di sana. Ia berangkat ke Ho Chi Minh hari Kamis untuk tiga hari, mewawancarai calon kepala tim teknis Flie untuk Vietnam. Ia mengirim pesan dari bandara, foto gerbang keberangkatan dengan caption: Kerahku miring. Nggak ada yang benerin.

Aku membalas: Pulang hari apa?

Senin pagi.

Senin aku benerin.

Ia mengirim satu emoji. Senyum. Bukan senyum yang lebar, yang biasa dipakai orang di chat. Senyum yang kecil, yang sopan, yang di HP-nya mungkin terlihat paling sederhana.

Aku menatap emoji itu terlalu lama di KRL dan, lagi-lagi, turun satu stasiun terlalu jauh.

Sejak Labuan Bajo, sudah sepuluh hari. Kami bertemu dua kali: Sabtu pagi di dapur jam empat, dan Selasa di rapat lanjutan term sheet di kantor Flie. Dua-duanya bersama orang lain. Dua-duanya kami bersikap seperti biasa.

Tapi di dapur hari Sabtu, waktu aku membungkus nasi uduk keempat puluh dan mencapai waktu dua belas detik, ia menepuk punggung tanganku sekali dari seberang meja marmer. Pelan. Tanpa bicara. Dan Dara, yang melihatnya, menjatuhkan papan klipnya.

Dan di rapat hari Selasa, waktu Mbak Kirana membacakan pasal empat belas tiga dan bertanya dengan nada tajam apa definisi pembeli strategis yang memenuhi syarat, Anggana melirikku dari seberang meja. Hanya melirik. Tapi aku tahu ia membaca sesuatu di wajahku, dan aku tahu ia menyimpannya.

Aku belum menceritakan apa-apa. Belum soal kelas tiga. Belum soal empat belas tiga.

Nanti. Setelah IC.


Aula SMA Pelita Nusantara tidak berubah banyak.

Dindingnya sudah dicat ulang, putih bersih dengan garis biru di bagian bawah. Kursi-kursi plastiknya sudah diganti kursi lipat berbantalan. AC-nya sudah ditambah dua unit, sehingga ruangan itu tidak lagi panas seperti hari wisuda delapan tahun lalu. Tapi panggungnya sama. Tirai beludru merahnya sama. Logo obor emas di dinding belakang panggung sama.

Sisil memelukku begitu lama di pintu aula sampai orang-orang di belakang kami mulai menggerutu. Ia lebih gemuk sedikit, rambutnya dipotong pendek sekali, dan ia sudah menikah dengan dokter gigi di Surabaya dan punya anak perempuan berumur dua tahun yang fotonya ia tunjukkan padaku sebanyak tujuh kali dalam lima menit.

“Lo kurus,” katanya, memegang kedua pipiku. “Tapi lo cantik banget. Cantik yang beda. Kayak... kayak lo udah ngelewatin sesuatu.”

“Udah,” kataku.

“Gue tahu.” Ia memelukku lagi. “Gue tahu, Lun.”

Kami duduk di barisan tengah, di antara alumni-alumni dari berbagai angkatan. Ada yang kukenal samar-samar. Ada yang sama sekali tidak. Di barisan depan duduk para guru, beberapa sudah pensiun. Bu Ratna dengan rambut yang sudah memutih sebagian. Pak Saragih dengan tongkat. Dan Bu Endang dari TU, dengan kacamata berantai yang sama, rambut yang sudah putih seluruhnya, dan tubuh yang lebih kecil dari yang kuingat.

Di panggung, berdiri di balik podium kayu, Pak Hardi.

Guru Fisika yang dulu mengocok gulungan kertas dalam toples bekas selai kacang. Yang memanggil Anggana ke ruang guru setelah Pekan Sains dan bertanya kamu bisa bikin aplikasi? Yang datang ke gerobak Bu Ratih jam lima pagi untuk memberi tahu soal beasiswa ITB.

Sekarang kepala sekolah. Rambutnya menipis di puncak kepala, tapi suaranya masih sama, datar seperti penyiar berita duka.

Aku tidak melihat Anggana di mana pun. Tentu saja tidak. Ia di Vietnam.

Tapi di barisan paling belakang, di dekat pintu, aku melihat seseorang yang kukenal.

Blus putih. Rambut dicepol rapi. Kacamata. Di pangkuannya ada map cokelat yang dipegang dengan dua tangan, seperti dokumen rahasia negara.

Dara.

Ia belum melihatku. Ia sedang menatap panggung dengan wajah serius.

Aku tidak tahu kenapa ia ada di sini. Ia bukan alumni SMA Pelita Nusantara. Ia sekolah di SMA negeri.


Acara berjalan seperti acara-acara yayasan pada umumnya. Sambutan ketua yayasan yang terlalu panjang. Video sejarah tiga puluh tahun sekolah dengan musik latar yang terlalu dramatis. Penghargaan untuk guru-guru yang sudah mengabdi lebih dari dua puluh tahun. Bu Endang naik ke panggung dan menerima plakat, dan seluruh aula bertepuk tangan lebih lama untuknya daripada untuk siapa pun, karena semua orang yang pernah bersekolah di sini pernah dipanggil ke ruang TU olehnya dengan suara yang bisa terdengar sampai lapangan basket.

Lalu Pak Hardi kembali ke podium.

“Bagian terakhir malam ini,” katanya, “adalah penghargaan untuk para donatur beasiswa.”

Ia menyebutkan beberapa nama. Perusahaan-perusahaan. Alumni-alumni yang sudah sukses. Keluarga-keluarga yang menyumbang atas nama orang tua yang sudah meninggal. Setiap nama disambut tepuk tangan, dan perwakilan mereka naik ke panggung untuk menerima plakat.

Lalu Pak Hardi berhenti. Ia menatap kertas di podium. Ia tersenyum, senyum kecil yang tidak pernah kulihat di wajahnya waktu ia masih guru Fisika.

“Dan yang terakhir,” katanya, “adalah beasiswa yang paling istimewa bagi saya pribadi. Beasiswa ini sudah berjalan empat tahun. Sudah membiayai dua puluh tiga siswa kurang mampu dari kelas sepuluh sampai lulus. Donaturnya adalah alumni sekolah ini. Tapi ia meminta namanya tidak pernah disebut.”

Aula sunyi.

“Ia hanya memberi satu syarat,” lanjut Pak Hardi. “Bahwa beasiswa ini harus diberi nama tertentu. Dan bahwa setiap tahun, di surat pemberitahuan kepada penerima, harus ada satu kalimat dari dia. Saya akan membacakan kalimat itu sekarang, dengan izinnya.”

Pak Hardi mengangkat selembar kertas. Ia membetulkan kacamatanya. Lalu membaca dengan suara datar yang tiba-tiba sedikit bergetar:

“Beasiswa ini dibuat untuk membalas seseorang yang dulu melunasi SPP saya tanpa menyebut namanya. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak pernah bisa berterima kasih langsung. Jadi beasiswa ini atas nama dia.”

Ia menurunkan kertas itu.

“Beasiswa Orang Baik.”


Aku tidak mendengar tepuk tangan yang menyusul.

Aku tidak mendengar apa pun.

Aku duduk di kursi lipat berbantalan di barisan tengah aula SMA Pelita Nusantara, dan dunia di sekelilingku berubah jadi suara desis, seperti radio yang tabungnya baru dinyalakan.

Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.

Memo kuning. Di balik casing HP-ku. Di saku tasku. Satu meter dari tanganku.

Empat tahun. Dua puluh tiga siswa.

Empat tahun lalu, Flie belum ada. Empat tahun lalu, Anggana masih mahasiswa tingkat akhir di Bandung, menulis kode di kamar asrama bersama Jovan. Uang dari mana? Beasiswa dari mana? Ia pasti mulai dari kecil. Dari gaji magang. Dari proyek lepas. Satu siswa dulu, mungkin. Lalu dua. Lalu, waktu Flie mulai untung, lebih banyak.

Ia membalas. Seperti janjinya. Ke orang lain yang butuh, atas nama orang yang tidak ia kenal.

Atas namaku.

Selama empat tahun, setiap tahun, ia menulis kalimat itu di surat kepada siswa-siswa yang tidak ia kenal, untuk orang yang tidak ia kenal. Saya tidak pernah bisa berterima kasih langsung.

Dan selama empat tahun itu, orang yang tidak ia kenal itu, aku, mengirim karet merah tanpa nama ke ibunya setiap Lebaran, dan memesan nasi uduk atas nama Jumat setiap minggu, dan tidak pernah sekali pun memberitahunya.

Kami berdua membalas satu sama lain dalam gelap. Selama bertahun-tahun. Tanpa pernah tahu.


Di panggung, Pak Hardi memanggil salah satu penerima beasiswa untuk memberi sambutan.

Seorang siswi kelas dua belas naik ke podium. Kurus, berkerudung putih, dengan seragam yang disetrika rapi dan sepatu yang sudah aus di ujung. Ia memegang secarik kertas dengan dua tangan yang gemetar.

“Nama saya Nurul,” katanya. Suaranya kecil. “Ibu saya jualan gorengan di depan pasar. Bapak saya sudah meninggal waktu saya kelas lima SD.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Waktu kelas sepuluh, saya hampir keluar sekolah karena nggak bisa bayar SPP. Saya dipanggil ke TU.” Nurul tersenyum ke arah Bu Endang di barisan depan. “Bu Endang yang manggil. Suaranya keras.”

Aula tertawa. Bu Endang menutup wajah dengan plakatnya.

“Tapi besoknya, Bu Endang manggil saya lagi. Katanya ada beasiswa. Namanya Beasiswa Orang Baik. Saya nggak tahu siapa donaturnya. Nggak ada yang tahu. Saya cuma tahu namanya.” Nurul menatap kertas di tangannya. “Jadi setiap pagi, habis sholat Subuh, saya doain Orang Baik. Siapa pun dia. Dan saya doain juga orang yang dia balas. Orang yang dulu bayarin SPP-nya. Karena kalau nggak ada orang itu, nggak ada beasiswa ini. Nggak ada saya di sini.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Saya nggak tahu kalian siapa,” kata Nurul, menatap ke seluruh aula, seperti mencari wajah yang tidak ia kenal di antara ratusan wajah. “Tapi terima kasih. Dua-duanya.”


Aku berdiri.

Sisil menoleh, kaget. “Lun?”

“Toilet,” kataku. Suaraku tidak keluar dengan benar.

Aku berjalan cepat menyusuri barisan kursi, melewati lutut-lutut orang yang menggeser kaki untuk memberiku jalan, menuju pintu samping aula. Di dekat pintu, seseorang menyentuh lenganku.

Bu Endang.

Ia sudah turun dari panggung, berdiri di dekat pintu dengan plakat di pelukan. Ia menatapku dari balik kacamata berantainya. Lama. Matanya yang sudah tua menyipit, lalu membesar.

“Mbak Luna,” katanya pelan.

Aku membeku.

Bu Endang memegang tanganku dengan dua tangannya yang kecil dan keriput. Ia menarikku sedikit ke samping, ke dekat dinding, jauh dari orang-orang.

“Saya nggak pernah cerita ke siapa pun,” bisiknya. “Delapan tahun. Saya pegang janji saya ke Mbak.”

“Bu—”

“Tapi saya tahu siapa donatur beasiswa itu. Dan saya tahu siapa orang baik-nya.” Ia meremas tanganku. “Tiap tahun, waktu dia nyerahin dana beasiswa ke Pak Hardi, dia mampir ke ruang TU. Nanya ke saya. Tiap tahun, pertanyaannya sama. Bu, donatur SPP saya dulu pernah datang? Pernah nanyain saya?”

Air mataku jatuh.

“Saya nggak bisa bilang,” kata Bu Endang, matanya juga basah. “Saya udah janji ke Mbak. Jadi tiap tahun saya bilang belum, Nak. Dan tiap tahun dia senyum, bilang makasih, terus pergi.” Ia menghela napas. “Empat tahun, Mbak. Empat kali dia nanya.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya tidak bisa berdiri di sana lagi.

“Maaf, Bu,” kataku. “Saya... saya harus...”

Aku berlari.


Toilet putri di lantai satu ada di ujung lain gedung, dekat kantin. Masih sama. Bilik-bilik dengan pintu biru muda. Wastafel berderet dengan cermin yang sudut-sudutnya mulai berkarat.

Delapan tahun lalu, di bilik paling pojok toilet ini, aku menutup mulut dengan dua tangan supaya tidak ada yang mendengarku tertawa sambil menangis, setelah Sisil memberitahuku Anggana menandatangani formulir beasiswa ITB. Berhasil. Ia akan pergi. Keputusanku benar.

Hari ini aku tidak masuk ke bilik. Aku tidak punya tenaga untuk sampai ke sana.

Aku merosot di lantai, bersandar ke dinding di bawah wastafel, dan menangis.

Aku menangis untuk Nurul, yang setiap pagi mendoakan dua orang yang tidak ia kenal. Untuk dua puluh tiga siswa yang tidak perlu dipanggil ke ruang TU lagi. Untuk anak laki-laki di ruang TU delapan tahun lalu yang menulis memo kuning dengan tangan gemetar, berjanji membalas orang yang tidak ia kenal, dan menepati janjinya selama empat tahun tanpa pernah tahu.

Untuk laki-laki yang setiap tahun mampir ke ruang TU dan bertanya pernah datang? pernah nanyain saya? dan setiap tahun mendengar belum, dan setiap tahun tersenyum, bilang makasih, dan pergi.

Aku menangis karena aku yang menyebabkan belum itu. Empat kali.

Aku menangis karena aku sudah dekat sekali dengannya selama dua bulan, membungkus nasi uduk di sebelahnya, menggenggam tangannya di pantai, mendengarnya memanggilku Aluna lagi, dan aku masih belum bilang. Masih nanti. Masih setelah IC.

Dan ia masih bertanya ke Bu Endang setiap tahun.


Pintu toilet terbuka.

Aku tidak mengangkat kepala. Aku pikir itu Sisil, atau siapa pun. Aku tidak peduli.

Langkah kaki berhenti. Lalu suara yang kukenal, serak karena kaget:

“Kamu?”

Aku mengangkat kepala.

Dara berdiri di ambang pintu toilet dengan blus putih dan map cokelat di pelukan. Ia menatapku. Menatap posisiku di lantai di bawah wastafel. Menatap wajahku yang basah, riasan yang sudah luntur, mata yang pasti merah dan bengkak.

Wajahnya berubah. Dari kaget, jadi bingung, jadi sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya selama dua bulan ini. Bukan curiga. Bukan galak. Sesuatu yang lain.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia menutup pintu toilet di belakangnya. Ia meletakkan map cokelat di pinggir wastafel. Lalu ia mengambil gulungan tisu dari dispenser, merobek panjang, dan berjongkok di depanku.

Ia menyodorkan tisu itu.

Aku menerimanya. Tanganku gemetar.

Dara tidak berdiri. Ia duduk di lantai. Di sebelahku. Bersandar ke dinding yang sama, di bawah wastafel yang sama, dengan blus putih yang pasti kotor kena lantai toilet. Ia menatap pintu bilik di depan kami.

Kami duduk diam. Aku mengelap wajahku dengan tisu. Dara tidak bertanya apa-apa.

Lalu, setelah dua menit, ia bicara. Pelan. Datar. Tanpa menoleh.

“Kamu kenapa?”

Aku menatap tisu di tanganku. Aku memikirkan jawaban yang lengkap. Aku memikirkan memo kuning di tasku, satu meter dari tangan Dara. Kalau aku memberikannya padanya, ia akan mengerti. Ia auditor. Ia bisa menyambungkan angka.

“Aku cuma...” Suaraku pecah. Aku mencoba lagi. “Aku cuma seneng. Ada orang baik.”

Dara menoleh. Menatapku lama dari balik kacamata.

“Beasiswa itu dari Kakak,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

Matanya menyipit. Seketika. Seperti kalkulator yang menemukan angka yang tidak cocok.

“Kok kamu tahu?” Suaranya turun satu oktaf. “Itu rahasia. Yang tahu cuma aku, Ibu, sama Pak Hardi. Kakak nyuruh aku ke sini karena dia di Vietnam. Buat nyerahin dana tahun ini ke Pak Hardi diam-diam.” Ia mengangkat map cokelat di pinggir wastafel sedikit. “Nggak ada yang tahu. Bahkan Ucup nggak tahu.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku tahu tanpa menjelaskan semuanya.

“Siapa lagi,” kataku pelan, “yang bakal namain beasiswa Orang Baik?”

Dara menatapku. Lama. Sangat lama. Aku bisa melihat sesuatu berhitung di belakang matanya, sesuatu yang rumit, rumus yang bertumpuk tiga lapis. Aku bisa melihat ia menemukan satu sel yang aneh dan mulai menelusurinya.

Lalu ia berhenti menelusuri.

Ia tidak bertanya lagi. Ia menatap pintu bilik di depan kami.

“Aku nggak tahu kamu kenapa,” katanya akhirnya. Pelan. “Aku nggak tahu kenapa kamu tahu soal beasiswa itu. Aku nggak tahu kenapa kamu nangis kayak gitu. Aku punya banyak pertanyaan, dan nanti aku bakal nanya semuanya, karena aku auditor dan aku nggak suka ada angka yang nggak cocok.”

Ia diam.

“Tapi orang yang nangis kayak gitu di toilet sekolah,” katanya, “biasanya bukan orang jahat.”

Aku menatapnya.

Ia tidak menatapku balik. Ia menatap pintu bilik. Telinganya merah. Persis seperti telinga kakaknya.

Aku menangis lagi. Kali ini lebih pelan.

Dara menghela napas panjang, seperti orang yang sangat kesal pada dirinya sendiri, lalu merobek tisu lagi dari dispenser dan menyodorkannya tanpa menoleh.


Kami keluar dari toilet dua puluh menit kemudian. Aku sudah mencuci muka. Dara sudah mengelap blusnya yang kotor dengan tisu basah dan tidak berhasil.

Di koridor, sebelum kembali ke aula, Dara berhenti.

“Aku nggak bakal bilang Kakak kamu nangis di sini,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena dia bakal khawatir. Dan dia lagi di Vietnam. Dan kalau dia khawatir, dia bakal nelepon kamu jam dua pagi waktu sana, terus besoknya wawancara kepala tim teknis dengan mata panda, terus calon kepala tim teknisnya nolak karena CTO-nya kelihatan kayak zombie.” Dara mengangkat bahu. “Itu risiko operasional.”

Aku tertawa. Basah, tapi tertawa.

Dara tidak tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak. Sedikit.

Lalu ia mengeluarkan HP dari saku, membuka sesuatu, dan mengetik dengan cepat. Aku melihat sekilas layarnya. Spreadsheet. Baris baru.

Temuan 13. Sabtu. Toilet SMA Pelita Nusantara. Subjek ditemukan menangis di lantai di bawah wastafel setelah pengumuman Beasiswa Orang Baik. Subjek mengetahui identitas donatur (RAHASIA — sumber tidak diketahui — investigasi lanjutan WAJIB).

Kategori Risiko: —

Skor: +

Ia berhenti di tanda plus. Jempolnya menggantung.

Lalu ia mengunci layar dan memasukkan HP ke saku sebelum aku sempat melihat angkanya.

“Ayo masuk,” katanya. “Sisil nyariin kamu. Dari tadi dia nanya ke semua orang di aula, ‘Liat Luna nggak? Cewek cantik, kurus, rambut sebahu, mukanya kayak orang abis ngelewatin sesuatu.’”

“Dia bilang gitu?”

“Persis gitu.” Dara berjalan duluan. Lalu, tanpa menoleh: “Deskripsinya akurat.”


Malam itu, di KRL pulang ke Depok, HP-ku bergetar.

Anggana: Udah sampai rumah?

Aluna: Masih di KRL.

Anggana: Tadi Dara ke acara sekolah. Katanya kamu juga dateng.

Aku menatap layar. Jantungku berdebar.

Aluna: Iya. Sisil ngajak.

Satu menit. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Anggana: Dara bilang kamu kelihatan capek. Kamu nggak apa-apa?

Aku menatap pesan itu lama.

Kamu nggak apa-apa? Pertanyaan yang ia ajukan di bangku semen dekat lapangan basket, delapan tahun lalu, waktu aku sedang hancur dan menjawab aku nggak apa-apa, cuma capek, kelas tiga kan berat.

Dara tidak bilang aku menangis. Dara cuma bilang aku kelihatan capek. Dara menepati janjinya.

Aku mengetik: Aku nggak apa-apa.

Lalu aku menatap kalimat itu. Kalimat yang sama yang kuucapkan di bangku semen. Kalimat yang ia ucapkan seribu kali sepanjang hidupnya, dan setiap kali, bohong.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik ulang:

Aluna: Aku capek. Tapi aku seneng. Hari ini aku liat ada orang baik.

Kirim.

Tiga titik. Lama. Lama sekali.

Anggana: Siapa?

Aku menatap jendela KRL. Di luar, lampu-lampu Jakarta lewat seperti garis-garis cahaya.

Aluna: Nanti aku ceritain. Senin. Aku benerin kerahmu, terus aku ceritain.

Kali ini aku tidak menulis setelah IC.

Aku menulis Senin.

Aku memasukkan HP ke tas, di sebelah memo kuning, dan menutup mata. KRL bergoyang pelan, dug-dug, dug-dug, seperti detak jantung yang lambat.

Senin. Dua hari lagi.

Aku tidak tahu bahwa dua hari kadang terlalu lama.