← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Nine

Terbang Pertama

POV: Anggana

Ibu membawa empat puluh bungkus nasi uduk ke bandara.

Aku tidak tahu itu sampai kami di depan mesin pemindai bagasi kabin di Terminal 3 Soekarno-Hatta, jam lima lewat empat puluh pagi, dan petugas keamanan berseragam biru menatap layar monitornya dengan alis terangkat, lalu menatap tas jinjing kain batik yang baru saja lewat di ban berjalan, lalu menatap Ibu.

“Ibu, ini isinya apa?”

“Nasi uduk, Mas.”

“Berapa banyak?”

“Empat puluh.”

Petugas itu menatap Ibu lama. Lalu ia menatap layar lagi, di mana empat puluh kotak kecil berbentuk persegi tersusun rapi di dalam tas seperti batu bata.

“Buat apa, Bu?”

“Buat di pesawat,” kata Ibu dengan wajah sangat serius. “Kata orang, makanan di pesawat mahal. Terus ndak enak. Terus porsinya kecil.” Ia menunjuk kami satu per satu. “Ini anak saya, ini anak saya, ini calon mantu, ini besan, ini besan. Sama Ibu, enam orang. Sisanya buat pramugari sama pilotnya. Kasihan, kerja dari subuh.”

Di belakangku, Dara menutup wajahnya dengan dua tangan. Aluna, di sebelah kursi roda Pak Hendra, menunduk dengan bahu bergetar menahan tawa. Pak Hendra tidak menahan apa-apa; ia tertawa dengan separuh wajah yang bisa bergerak, suara tawanya tersendat-sendat dan keras.

Tante Melinda menatap Ibu dengan sesuatu yang mirip kekaguman.

Petugas keamanan itu menatap Ibu sekali lagi. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya bergerak.

“Bu,” katanya. “Boleh saya minta satu?”


Ini pertama kalinya Ibu naik pesawat.

Pertama kalinya, setelah lima puluh delapan tahun hidup, delapan belas tahun di antaranya bangun jam tiga pagi membungkus nasi uduk, delapan belas tahun menjadi janda, dan entah berapa ratus kali menonton iklan maskapai di televisi tabung di ruang tamu kontrakan tiga pintu dan bilang Le, kalau nanti kamu sukses, ajak Ibu terbang sekali aja. Ibu pengen lihat awan dari atas.

Aku sudah menawarkan berkali-kali. Dua tahun lalu, waktu Flie pertama kali untung. Tahun lalu, waktu ulang tahun Ibu yang kelima puluh tujuh. Setiap kali, Ibu bilang nanti, kalau sudah waktunya.

Tiga minggu lalu, di dapur, sambil mengoles mentega di loyang untuk kue lumpur yang ia buat bersama Tante Melinda lewat video call, Ibu tiba-tiba berhenti dan berkata:

“Le. Kayaknya udah waktunya.”

Aku menatapnya.

“Ibu mau terbang,” katanya. “Sama Luna. Sama Dara. Sama Pak Hendra sama Bu Melinda juga. Pak Hendra belum pernah naik pesawat sejak sakit. Katanya dia kangen lihat awan juga.”

Aku tidak bisa bicara.

“Pesennya pakai aplikasimu,” lanjut Ibu, kembali mengoles mentega. “Yang buat orang belum pernah nginep di hotel. Ibu kan belum pernah. Ibu yang jadi pelanggan pertamanya.”


Fitur itu diluncurkan Flie hari Senin, lima hari sebelum kami berangkat. Namanya Terbang Pertama.

Aku menulis baris kode pertamanya di malam setelah bangku belakang lab Biologi, jam satu pagi, di meja marmer dapur, dengan memo kuning di saku kemeja. Fitur untuk orang-orang yang belum pernah naik pesawat dan belum pernah menginap di hotel. Panduan langkah demi langkah dengan bahasa yang sederhana: cara check-in, cara melewati pemeriksaan keamanan, apa yang boleh dan tidak boleh dibawa ke kabin. Pendamping bandara yang bisa dipesan, gratis untuk lansia dan penyandang disabilitas. Pilihan hotel dengan staf yang sudah dilatih untuk menyambut tamu yang tidak tahu cara memakai kartu kunci kamar.

Jovan menangis waktu aku menunjukkan prototipenya. Ia bilang ia tidak menangis, ia cuma kemasukan debu, dan Tiara, yang kebetulan ada di kantor hari itu dengan bubur ayam untuknya, bilang di lantai dua puluh tiga nggak ada debu, Sayang.

Itu pertama kalinya Tiara memanggil Jovan Sayang di depan orang lain. Jovan lupa ia sedang menangis.

Kami meluncurkan Terbang Pertama dengan satu video sederhana di media sosial. Bukan iklan dengan slogan yang bisa dinyanyikan. Hanya video sepuluh detik: tangan seorang perempuan tua membungkus nasi uduk dengan daun pisang, lalu tangan yang sama memegang boarding pass. Dan satu kalimat di akhir:

Untuk Ibu, yang ingin lihat awan dari atas.

Video itu ditonton tiga puluh juta kali dalam empat hari. Ibu tidak tahu tangannya yang ada di video itu. Aku merekamnya diam-diam dari balik pintu dapur. Dara yang mengedit. Aluna yang menulis kalimatnya.


Pak Hendra didampingi petugas bandara dari Terbang Pertama, seorang mas-mas muda bernama Gilang yang mendorong kursi rodanya dengan hati-hati dan menjelaskan setiap langkah dengan sabar. Pak Hendra menyimak dengan serius, mengangguk-angguk, lalu di gerbang keberangkatan berkata kepada Gilang dengan suara pelan dan tersendat:

“Kamu... bagus. Kerjamu... bagus. Siapa... bos... kamu?”

Gilang menunjuk aku.

Pak Hendra menatapku. Lalu menatap Gilang. Lalu mengangkat jempol kanannya ke arahku.

“Naikin... gajinya,” katanya.

Aluna tertawa sambil memegangi pegangan kursi roda papanya. Ia memakai kemeja linen putih longgar yang sama dengan di Labuan Bajo, celana jins, dan topi jerami yang kali ini ia pakai sungguhan. Rambutnya sebahu, ujung-ujungnya bergelombang tidak rata, keluar dari bawah topi. Di bawah lampu gerbang keberangkatan yang terang, kulitnya bersih, pipinya sedikit lebih berisi dari sebulan lalu, dan bayangan gelap di bawah matanya sudah hampir hilang.

Ia menoleh, menangkapku sedang menatapnya. Ia tersenyum. Senyum yang hanya untukku.

Dara, di sebelahku, menyikut rusukku.

“Kak,” desisnya. “Kerah.”

Aku menyentuh kerahku. Lurus. Aluna merapikannya di depan pemeriksaan keamanan tadi, waktu Ibu sedang membagikan nasi uduk ke petugas.

“Udah lurus,” kataku.

“Bukan itu.” Dara menunjuk dengan dagu. “Muka Kakak. Kakak senyum-senyum dari tadi. Kayak orang abis menang undian motor. Itu nggak profesional.”

“Kita lagi liburan, Dar.”

“Tetep nggak profesional.” Ia mengeluarkan HP-nya, membuka sesuatu, dan memiringkan layarnya ke arahku. Spreadsheet baru. Judulnya:

LAPORAN AUDIT HUBUNGAN (MASA PERCOBAAN)

Subjek: Anggana Pradipta & Aluna Prameswari Hadinata

Auditor: Dara Pradipta (diangkat kembali atas permintaan Ibu)

Skor saat ini: 70

Catatan: Masih dalam masa percobaan. Auditor belum puas. Auditor tidak akan pernah sepenuhnya puas. Itu profesionalisme.

“Tujuh puluh,” kataku.

“Tujuh puluh itu bagus,” kata Dara. “Klien terbaikku cuma dapet enam puluh delapan.”


Pesawat lepas landas jam enam lewat lima puluh.

Ibu duduk di dekat jendela. Aku di sebelahnya. Di seberang lorong, Aluna duduk di sebelah Pak Hendra, yang dipindahkan dari kursi roda ke kursi pesawat oleh Gilang dengan sangat hati-hati. Tante Melinda dan Dara di baris belakang kami.

Ibu memegang sandaran tangan dengan dua tangan waktu pesawat mulai berjalan di landasan. Buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke depan, ke sandaran kursi di depannya.

“Bu,” kataku. “Nggak apa-apa.”

“Ibu tahu.”

“Mau pegang tanganku?”

Ibu menoleh. Menatapku lama. Lalu ia melepas satu tangan dari sandaran dan menggenggam tanganku. Tangannya kasar, penuh kapal dari bertahun-tahun memegang sutil dan daun pisang, dan hangat, dan sedikit gemetar.

Mesin pesawat menderu. Kecepatan bertambah. Kursi-kursi bergetar. Ibu memejamkan mata dan meremas tanganku.

Lalu roda-roda terangkat dari landasan.

Ibu membuka mata.

Ia menoleh ke jendela. Di luar, Jakarta mengecil dengan cepat. Atap-atap rumah. Jalan-jalan yang berkelok. Kanal-kanal yang berkilau di bawah matahari pagi. Lalu semuanya tertutup kabut tipis.

Lalu awan.

Pesawat menembus lapisan awan pertama. Jendela berubah putih seluruhnya, putih yang buram dan bergerak, seperti uap dari dandang nasi uduk di dapur jam empat pagi. Pesawat bergetar sedikit. Ibu meremas tanganku lebih keras.

Lalu pesawat keluar dari awan.

Dan di bawah kami, membentang sampai cakrawala, lautan awan.

Putih. Bergelombang. Bergulung-gulung seperti kapas yang ditumpuk tinggi, seperti busa santan yang dikocok, seperti salju yang tidak pernah Ibu lihat. Matahari pagi dari timur menyinari puncak-puncaknya dan membuatnya berkilau keemasan di satu sisi, kebiruan di sisi lain. Langit di atasnya biru jernih, biru yang tidak pernah terlihat dari Jakarta, biru yang bersih seperti baru dicuci.

Ibu tidak bergerak.

Ia menatap jendela dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya yang tadi meremas tanganku sekarang diam. Napasnya tertahan.

Lalu ia menangis.

Tidak keras. Tidak tersedu. Air matanya hanya jatuh, pelan, satu-satu, mengalir di pipinya yang keriput, jatuh ke kerah kebaya biru muda yang ia pakai di wisudaku, yang ia pakai di rumah sakit, yang ia pakai lagi hari ini.

“Le,” bisiknya, tanpa melepas pandangan dari jendela.

“Iya, Bu.”

“Awannya.” Suaranya pecah. “Awannya kayak kapas yang dijemur.”

Aku tidak bisa bicara.

“Bapakmu dulu bilang,” kata Ibu, masih menatap jendela, “waktu dia kerja di proyek gedung tinggi di Sudirman, dari lantai paling atas dia bisa lihat awan. Deket banget, katanya. Kayak bisa dipegang.” Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. “Ibu ndak pernah percaya. Ibu bilang, mana ada awan bisa dipegang, Mas. Dia bilang, nanti Dek, kalau anak kita sukses, kita lihat bareng.”

Air mataku jatuh.

“Bapakmu ndak sempat,” kata Ibu pelan. “Tapi Ibu sempat. Dan Ibu lihat bareng kamu.” Ia menoleh padaku. Matanya basah, merah, dan bersinar. “Makasih, Le. Makasih udah ngajak Ibu terbang.”

Aku mencium tangan Ibu. Lama. Di kursi pesawat, di atas awan, dengan pramugari yang sedang mendorong troli minuman berhenti di lorong dan menatap kami dengan mata berkaca-kaca.

Di seberang lorong, Aluna menatap kami. Pipinya basah. Ia menggenggam tangan papanya.

Pak Hendra menatap jendela di sisinya dengan separuh wajah yang tersenyum.

“Luna,” katanya pelan. “Awannya... kayak... kue... lumpur... Mamamu.”

Di belakang kami, Tante Melinda tertawa sambil menangis. Dara, di sebelahnya, pura-pura membaca kartu instruksi keselamatan dengan sangat serius, dan aku melihat dari celah kursi bahwa kartu itu terbalik di tangannya, dan pipinya basah.


Ibu membagikan nasi uduk ke seluruh kru pesawat sebelum pesawat mendarat. Pramugari, pramugara, dan, setelah kepala pramugari mengonfirmasi lewat interkom, pilot dan kopilot. Kepala pramugari kembali dari kokpit dengan wajah tersenyum dan membawa pesan dari pilot: Terima kasih, Bu. Ini nasi uduk terenak yang pernah saya makan di ketinggian tiga puluh tujuh ribu kaki.

Ibu memintanya menuliskan pesan itu di kertas. Kepala pramugari menuliskannya di serbet pesawat. Ibu melipat serbet itu dan memasukkannya ke dompet, di sebelah foto Bapak.


Kami menginap di sebuah penginapan kecil di Sanur. Mitra Flie sejak tahun pertama. Pemiliknya Pak Wayan dan Bu Komang, pasangan berusia enam puluhan yang mengubah rumah keluarga mereka di pinggir pantai menjadi delapan kamar dengan taman bunga kamboja dan kolam renang kecil.

Ibu berdiri di tengah kamarnya selama lima menit penuh tanpa bergerak.

Kasur besar dengan seprai putih yang dilipat rapi. Handuk putih yang dilipat membentuk angsa di atas bantal. Jendela besar menghadap taman. Kamar mandi dengan bak mandi berdiri yang membuat Ibu bertanya apakah itu untuk merendam beras.

“Le,” katanya akhirnya. “Ini kamar Ibu?”

“Iya, Bu.”

“Ibu sendiri?”

“Iya.”

“Kasurnya segede ini, buat Ibu sendiri?”

“Iya, Bu.”

Ibu menatap kasur itu. Lalu ia duduk di pinggirnya, pelan, seperti takut kasurnya pecah. Ia mengusap seprai putih itu dengan telapak tangannya. Lalu ia menatap angsa dari handuk di atas bantal.

“Ini boleh dibuka?”

“Boleh, Bu.”

“Nanti ndak bisa dibikin lagi.”

“Nanti Bu Komang yang bikin lagi.”

Ibu menatap angsa handuk itu lama. Lalu ia memutuskan untuk tidak membukanya. Ia memotretnya dengan HP-nya, tiga kali dari sudut berbeda, lalu mengirimkannya ke Pakde Sarno dengan pesan suara: Sarno, lihat iki. Angsa. Saka handuk. Ibu nginep hotel.

Pakde Sarno membalas sepuluh menit kemudian, juga dengan pesan suara: Bu Ratih, kapan pulang? Saya beli nasi uduk di tempat lain, ndak enak. Istri saya di Cilacap protes.


Malam itu, setelah makan malam bersama di taman penginapan, setelah Ibu dan Tante Melinda duduk berdua di teras sambil bertukar resep dan cerita soal almarhum suami dan suami yang masih hidup, setelah Pak Hendra tidur lebih awal karena kecapekan, setelah Dara berjalan ke pantai sendirian sambil menelepon seseorang yang ia tolak sebutkan namanya tapi yang menurut Aluna mungkin adalah Gilang si pendamping bandara, aku dan Aluna berjalan ke pantai.

Pantai Sanur di malam hari sunyi. Ombaknya kecil, pecah pelan di karang yang jauh. Bulan tergantung rendah di atas laut, hampir purnama lagi, sama seperti di Labuan Bajo. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkedip.

Kami berjalan di pasir dengan sandal di tangan. Tangan kami yang lain bertaut. Jari-jari di sela-sela jari.

Kami tidak bicara lama. Kami tidak perlu bicara.

Lalu, di dekat perahu jukung yang ditarik ke pasir, Aluna berhenti.

“Anggana.”

“Hm.”

“Boleh aku minta sesuatu?”

Aku menoleh. Ia menatapku di bawah cahaya bulan. Wajahnya setengah terang, setengah gelap. Rambutnya bergerak pelan karena angin laut. Matanya, di bawah bulan, tidak keemasan dan tidak cokelat madu, tapi perak, seperti jalan cahaya di atas air.

“Itu permintaan nomor berapa?” tanyaku.

Ia tertawa. “Aku nggak ngitung punyaku.”

“Harusnya ngitung. Dara bakal minta datanya.”

“Nomor satu, kalau gitu.” Ia tersenyum. “Aku nggak pernah minta apa-apa ke kamu. Delapan tahun lalu aku nggak minta. Dua bulan ini aku cuma ngambil. Jari. Kerah. Pipi.” Ia menunduk. “Aku mau belajar minta juga.”

“Mau minta apa?”

Ia mengangkat kepala. Menatapku lurus.

“Jangan pernah pakai senyum yang itu ke aku lagi,” katanya. “Yang buat semua orang. Kalau kamu marah, marah. Kalau kamu sedih, sedih. Kalau kamu kecewa sama aku, bilang. Jangan pasang tembok. Aku lebih takut tembok daripada marah.”

Aku menatapnya lama.

“Oke,” kataku. “Janji.”

Ia tersenyum. Lalu menunduk lagi, menatap tangan kami yang bertaut.

“Aku juga mau minta,” kataku.

Ia mengangkat kepala. “Nomor berapa?”

“Tiga.”

Ia tertawa, pelan, matanya menyipit. “Yang pertama penghapus. Yang kedua gerbang sekolah.”

“Iya.”

“Yang ketiga?”

Aku melepas sandal dari tanganku. Membiarkannya jatuh ke pasir. Lalu aku mengangkat tangan itu ke wajahnya. Menyentuh pipinya. Menyelipkan helai rambut yang tertiup angin ke belakang telinganya, seperti di teras di bawah pohon jambu air.

“Boleh aku cium kamu?” tanyaku.

Ia membeku.

Di stasiun Sudirman, aku menciumnya tanpa bertanya. Di teras atap Flie, ia mencium pipiku tanpa bertanya. Kami berdua sudah terlalu lama mengambil tanpa bertanya, memberi tanpa bertanya, memutuskan tanpa bertanya.

Malam ini aku bertanya.

Ia menatapku. Matanya basah. Bibirnya bergetar sedikit. Lalu, pelan, ia mengangguk.

“Boleh,” bisiknya.


Aku menciumnya.

Tidak seperti di peron. Di peron, ciuman itu singkat, satu detik, dua, ringan seperti daun pisang yang dilayukan di atas api. Di peron, ada kereta yang datang, ratusan orang yang mendorong, ibu-ibu berkerudung cokelat yang berteriak.

Di sini tidak ada apa-apa. Hanya bulan, ombak yang pelan, dan perahu jukung yang diam di pasir.

Aku menciumnya pelan. Lama. Seperti orang yang punya waktu. Bibirnya hangat dan lembut, sedikit asin karena angin laut. Ia membalas ciumanku, ragu-ragu di awal, lalu tidak lagi. Tangannya yang tadi memegang sandal melepasnya ke pasir, lalu naik ke leherku, ke kerahku, mencengkeram kain kemeja di sana seperti di lorong rumah sakit. Tanganku yang lain melingkar di pinggangnya, di tempat yang sama dengan di dermaga Labuan Bajo, dan kali ini tidak ada yang berteriak dari perahu.

Aku menariknya lebih dekat. Ia menyerahkan diri ke dalam pelukanku. Ciuman itu semakin dalam, semakin lama, sampai aku lupa menghitung, sampai aku lupa ada laut dan bulan dan dunia di luar kami berdua.

Ini bukan ciuman orang yang mengambil. Ini bukan ciuman orang yang memberi. Ini ciuman dua orang yang akhirnya bertanya, dan akhirnya menjawab.

Waktu akhirnya kami berhenti, napas kami berdua terengah-engah. Dahinya menempel di dahiku. Matanya terpejam.

“Aluna,” bisikku.

“Hm.”

“Aku cinta kamu.”

Ia membuka mata. Menatapku dari jarak yang sangat dekat. Bintik keemasan di iris kirinya, di bawah bulan, terlihat seperti serpihan bintang yang tenggelam di perak.

“Aku juga,” katanya. “Dari hari nasi uduk itu.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kamu udah bilang. Sebulan lalu. Di dapur jam empat pagi.” Aku tersenyum. “Aku cuma mau bilang balik. Biar kamu tahu.”

Ia tertawa. Basah, keras, kepalanya miring ke kiri. Lalu ia menciumku lagi, singkat kali ini, di sudut bibir.

“Itu nomor dua,” katanya. “Permintaanku.”

“Kamu nggak minta. Kamu ngambil.”

“Aku lagi belajar. Masih sering lupa.” Ia menyandarkan kepalanya di dadaku. “Jangan bilang Dara.”


Kami kembali ke penginapan jam sebelas lewat dua puluh. Tangan bertaut. Sandal di tangan yang lain. Pasir di kaki.

Di teras penginapan, di bawah lampu kuning dan bunga kamboja, Dara duduk di kursi rotan dengan HP di tangan. Ia mengangkat kepala waktu kami datang. Ia menatap tangan kami. Menatap wajah Aluna yang merah. Menatap wajahku. Menatap kerahku, yang miring lagi, karena Aluna mencengkeramnya tadi.

Dara tidak bilang apa-apa. Ia mengetik sesuatu di HP-nya. Lalu memiringkan layarnya ke arah kami.

LAPORAN AUDIT HUBUNGAN (MASA PERCOBAAN)

Skor saat ini: 70

Temuan terbaru: Pukul 23.20. Objek audit kembali dari pantai. Kerah miring (indikasi kontak fisik). Wajah Subjek merah (indikasi kontak fisik). Wajah Objek audit merah (indikasi kontak fisik yang SANGAT). Auditor tidak ingin tahu detailnya.

Penyesuaian skor: +0.

Alasan: Auditor masih adik. Auditor tidak boleh terlalu cepat setuju. Itu prinsip.

Skor tetap: 70.

Catatan pribadi auditor (tidak resmi): Ibu nangis di pesawat. Ibu bilang makasih. Ibu bilang Bapak. Auditor nggak pernah liat Ibu sebahagia ini. Auditor juga nggak pernah liat Kakak sebahagia ini. Auditor... auditor mau tidur.

Dara mengunci layar HP-nya dan berdiri.

“Selamat malam,” katanya. Ia berjalan ke kamarnya. Lalu berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. “Kerah Kakak miring.”

“Aku tahu.”

“Besok pagi dibenerin.”

“Iya.”

“Sama dia.” Dara menunjuk Aluna dengan dagu, tanpa menoleh. “Bukan sama aku. Aku udah pensiun dari tugas itu.”

Pintu kamar Dara tertutup.

Aluna menatap pintu itu. Lalu menatapku. Lalu, pelan, di bawah bunga kamboja dan lampu teras kuning, di penginapan kecil di Sanur yang kutemukan bersama Jovan di tahun pertama Flie, di malam pertama Ibu menginap di hotel seumur hidupnya, ia mengangkat tangannya dan merapikan kerahku.

Lipat sisi kiri keluar. Tekan dengan ibu jari. Turunkan sisi kanan. Tepuk dua kali.

“Kerahmu miring,” katanya.

“Pasti masih miring besok pagi,” kataku.

“Aku benerin lagi.”

“Lusa juga miring.”

“Aku benerin lagi.”

Aku menatapnya. Di bawah lampu kuning, wajahnya terlihat seperti semua versi dirinya sekaligus. Gadis lima belas tahun di dekat gerbang. Gadis bergaun hijau zamrud di teras samping. Perempuan dengan blazer basah di Stasiun Sudirman. Perempuan yang menangis di lorong rumah sakit. Perempuan yang membungkus nasi uduk sembilan detik dan berkata aku cuma mau kamu tahu di dapur jam empat pagi.

Semua versi itu. Dan aku mencintai semuanya.

“Seumur hidup juga bakal miring,” kataku pelan.

Ia menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata.

“Aku tahu,” katanya.

Ia tidak menjawab pertanyaan yang belum kutanyakan. Aku belum menanyakannya. Belum sekarang.

Tapi di saku kemejaku, di samping memo kuning yang terlipat empat, ada sesuatu yang lain. Kotak kecil berlapis beludru biru tua, yang kubeli di toko perhiasan di Blok M dua minggu lalu dengan Dara sebagai penasihat yang sangat cerewet dan sangat tidak berguna.

Belum sekarang.

Aku sudah tahu di mana. Aku sudah tahu kapan.

Di tempat semuanya mulai. Di depan gerbang yang sama. Dengan kerah yang, tentu saja, miring.