Chapter Forty Six
Extra 5: Pertama Kali Cemburu
POV: Aluna
Gaunnya hijau zamrud.
Aku membelinya sendiri, di butik kecil di Kemang, dengan bonus akhir tahun pertama yang namaku tercantum di halaman depan dokumennya. Bukan sutra seperti gaun ulang tahun ketujuh belasku, yang dulu dibeli Mama di Singapura dan sekarang entah di mana, mungkin dijual bersama barang-barang lain waktu rumah dilelang. Gaun ini satin, panjang sampai mata kaki, dengan lengan panjang yang tipis seperti asap dan potongan leher berbentuk perahu yang memperlihatkan tulang selangka.
Waktu aku mencobanya di ruang ganti butik, Tiara yang menemaniku duduk di sofa di depan tirai dan berhenti mengunyah keripik singkong.
“Lun,” katanya. “Itu gaun ulang tahun yang lo ceritain. Yang bikin dia bilang lampunya jadi malu.”
“Hampir.”
“Itu bukan hampir. Itu sengaja.”
“Iya,” kataku ke cermin. “Sengaja.”
Malam Apresiasi Investor Sagara Capital diadakan setiap tahun di ballroom sebuah hotel di Thamrin. Semua perusahaan portofolio diundang, semua limited partner, semua partner dan karyawan Sagara. Tahun ini, untuk pertama kalinya, Flie diundang sebagai perusahaan portofolio. Dan untuk pertama kalinya, aku datang bukan sebagai junior yang berdiri di belakang Marcella dengan tablet, tapi sebagai Associate dengan deal sendiri.
Dan sebagai istri CTO salah satu perusahaan portofolio.
Dua status yang menurut Mbak Kirana, waktu aku menanyakannya, secara hukum tidak ada masalah selama sudah diungkapkan, dan sudah, karena Bu Angga mengungkapkannya jam dua pagi dengan kalimat yang bikin saya nangis.
Anggana menunggu di ruang tamu rumah dengan jas.
Jas hitam. Kemeja putih. Dasi biru tua yang dipilihkan Dara setelah empat puluh lima menit perdebatan. Rambutnya disisir rapi, sangat rapi, terlalu rapi, seperti seseorang yang menyisirnya dengan air dan tekad.
Ia mendengar langkahku di tangga. Ia menoleh.
Lalu ia berdiri.
Pelan. Seperti ditarik. Tangannya, yang tadi memegang HP, turun ke samping tubuhnya. HP itu tergantung di ujung jarinya, hampir jatuh. Mulutnya terbuka sedikit.
Aku berhenti di anak tangga ketiga. Tempat Dara biasanya berdiri dengan papan klip. Tempat Ibu duduk dan bertanya kapan kamu mau ngaku.
Kami saling menatap.
Di sofa, Dara mengangkat kepala dari laptopnya. Ia menatapku. Lalu menatap kakaknya. Lalu, tanpa bicara, ia mengambil HP-nya dan mulai merekam.
“Dar,” kata Anggana tanpa menoleh.
“Dokumentasi,” kata Dara.
Ibu muncul dari dapur dengan celemek dan sutil. Ia menatapku di tangga. Ia berhenti. Lalu, pelan, ia meletakkan sutil di meja makan dan menutup mulut dengan ujung celemek.
“Nduk,” katanya pelan. “Kamu cantik banget.”
Aku turun dua anak tangga terakhir. Aku berhenti di depan Anggana.
“Mas,” kataku.
Ia tidak menjawab.
“Mas, napas.”
Ia menarik napas.
“Kamu,” katanya, suaranya serak. Ia berdeham. “Kamu kayak...”
“Kayak apa?”
Ia menatapku lama. Matanya bergerak dari rambutku, yang kutata bergelombang dan kusibak ke satu sisi dengan jepit perak kecil, ke wajahku, ke leherku, ke gaun hijau zamrud, ke tanganku. Lalu kembali ke mataku.
“Kayak pertama kali aku liat kamu di teras samping,” katanya pelan. “Tapi lebih.”
“Lebih apa?”
“Lebih... kamu.”
Di sofa, Dara menurunkan HP-nya. Ia menatap layar. Lalu ia menatap kakaknya dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Kak,” katanya. “Itu kalimat yang bagus banget. Aku nggak nyangka Kakak bisa ngomong gitu.”
“Aku juga nggak nyangka,” kata Anggana, tanpa melepas tatapannya dariku.
Ballroom hotel itu besar, terang, berkilau. Lampu kristal menggantung dari langit-langit. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga anggrek. Panggung kecil di ujung dengan band jazz yang memainkan lagu-lagu yang tidak kukenal. Sekitar tiga ratus tamu. Setelan jas. Gaun malam. Gelas-gelas kristal yang dipegang dengan tiga jari.
Aku pernah berdiri di ruangan seperti ini. Di rumahku sendiri, sebelas tahun lalu, dengan gaun hijau zamrud yang lain. Waktu itu aku tidak memperhatikan siapa yang berdiri di dekat meja makanan dengan kardus di pelukan dan kemeja dari pasar Jatinegara, merasa tidak pada tempatnya.
Malam ini, laki-laki itu berjalan di sebelahku dengan jas hitam, tanganku di lengannya, dan orang-orang menoleh waktu kami lewat. Bukan karena ia tidak pada tempatnya. Karena ia CTO perusahaan yang dua bulan lalu masuk berita nasional karena fitur Terbang Pertama dan karena berhasil menahan delapan belas juta serangan siber tanpa satu akun pun diambil alih.
Ia tidak memperhatikan orang-orang yang menoleh. Ia memperhatikanku.
Jovan dan Tiara menemukan kami di dekat meja minuman. Jovan memakai jas untuk kedelapan kalinya. Tiara memakai gaun kuning yang membuat Jovan, menurut Tiara sendiri, lupa nama perusahaannya selama lima detik di lobi.
“Lun,” kata Tiara, menatap gaunku. “Lo kejam.”
“Kenapa?”
“Liat suami lo.” Tiara menunjuk Anggana dengan dagu. “Dia kayak orang yang baru liat aurora borealis. Udah lima belas menit.”
“Bro,” kata Jovan ke Anggana, menepuk bahunya. “Lo kedip dong sekali-sekali. Nanti matanya kering.”
Anggana berkedip. Lalu kembali menatapku.
Laki-laki itu datang di jam kedua.
Namanya Rendy Halim. Aku tahu karena ia memperkenalkan dirinya tiga kali dalam lima menit. CEO startup fintech yang baru menutup Seri B dengan Sagara sebagai salah satu investornya. Akhir tiga puluhan. Jas biru tua yang jatuhnya sempurna. Jam tangan yang terlalu mahal. Senyum yang terlalu banyak giginya.
Anggana sedang dipanggil Pak Haryo ke meja depan untuk diperkenalkan ke dua limited partner dari Jepang. Ia menatapku sebelum pergi, sebentar, dan aku mengangguk.
Lima menit kemudian, Rendy Halim berdiri di sebelahku di dekat meja minuman.
“Saya belum pernah lihat Anda di acara Sagara sebelumnya,” katanya. “Saya pasti ingat.”
“Saya Associate di tim Retail. Aluna.”
“Aluna.” Ia mengulang namaku dengan cara yang membuatku ingin mencuci namaku. “Nama yang indah. Seperti bulan.”
“Terima kasih.”
“Tim Retail. Itu artinya kita bisa ketemu lagi. Perusahaan saya mau ekspansi ke pembayaran untuk minimarket.” Ia tersenyum lebih lebar. “Mungkin kita bisa makan malam untuk membahasnya. Berdua.”
“Kalau soal bisnis, Pak, silakan hubungi tim Retail lewat Marcella Tan.”
“Saya lebih suka menghubungi Anda langsung.” Ia mengeluarkan HP. “Boleh minta nomor?”
“Tidak, Pak.”
Ia tertawa, seolah aku sedang bercanda. Ia tidak menyimpan HP-nya.
“Anda tahu,” katanya, mencondongkan badan sedikit lebih dekat dari yang pantas, “mata Anda itu luar biasa. Di bawah lampu kristal ini, warnanya kayak emas.”
Aku mundur satu langkah.
Lalu aku merasakan sesuatu di punggungku. Telapak tangan. Hangat. Di bagian bawah punggung, di atas satin hijau zamrud.
Aku tidak perlu menoleh. Aku kenal tangan itu. Kasar di telapak, dengan kapal di pangkal jari dari dua puluh tahun memegang pisau pemotong daun.
“Selamat malam,” kata Anggana.
Rendy Halim menoleh. Menatap Anggana. Menatap tangan Anggana di punggungku. Senyumnya bergeser, sedikit, seperti layar yang membeku sesaat.
“Oh. Selamat malam. Rendy Halim.” Ia mengulurkan tangan.
Anggana menjabatnya. Satu kali. Singkat.
“Anggana Pradipta. Flie.” Ia tidak melepaskan tangannya dari punggungku. “Suaminya.”
Hening.
Aku melihat Rendy Halim menatap Anggana. Menatap aku. Menatap cincin emas putih di jari manis kiriku, yang dari tadi ada di sana dan yang dari tadi ia tidak lihat, atau pura-pura tidak lihat.
“Ah,” kata Rendy Halim. “Tentu. Selamat. Saya... saya permisi dulu. Harus ke meja Pak Haryo.”
Ia pergi. Cepat. Jas biru tua dan jam tangan yang terlalu mahal menghilang di antara kerumunan.
Anggana tidak bilang apa-apa. Ia tidak tersenyum. Tangannya masih di punggungku.
Aku menatapnya.
Rahangnya mengeras. Sedikit. Ada otot kecil di dekat telinganya yang bergerak, naik turun, seperti orang yang sedang menggertakkan gigi. Matanya menatap ke arah Rendy Halim pergi, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sejak sebelas tahun lalu, aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat.
Bukan senyum untuk semua orang. Bukan tembok. Bukan kesopanan yang rapi dan tertata.
Sesuatu yang panas.
“Mas,” bisikku.
Ia menoleh.
“Ikut aku,” katanya.
Ia membawaku ke balkon.
Balkon ballroom itu panjang, menghadap Bundaran HI di bawah. Air mancur di tengah bundaran menyala biru dan putih. Lalu lintas Thamrin mengalir seperti sungai lampu. Udara malam Jakarta panas dan lembap, tapi setelah dinginnya AC ballroom, rasanya seperti dipeluk.
Balkon itu kosong. Ia menutup pintu kaca di belakang kami.
Ia berdiri di depanku. Ia tidak bilang apa-apa selama sepuluh detik. Ia menatap air mancur di bawah. Lalu menatapku.
“Aku cemburu,” katanya.
Aku membeku.
Ia mengatakannya pelan. Jelas. Tanpa senyum. Tanpa tembok. Seperti orang yang membaca baris log yang tidak ia sukai tapi memutuskan untuk melaporkannya apa adanya.
“Aku nggak suka dia berdiri sedeket itu,” lanjutnya. “Aku nggak suka dia ngulang namamu kayak gitu. Aku nggak suka dia minta nomormu padahal kamu udah bilang nggak.” Ia menarik napas. “Dan aku paling nggak suka dia bilang matamu kayak emas.”
“Kenapa yang itu paling nggak suka?”
“Karena itu kalimatku,” katanya. “Aku yang liat duluan. Sebelas tahun lalu. Di deket gerbang. Matahari jam enam pagi. Itu punyaku.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku menatapnya. Laki-laki yang delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, waktu aku bilang ada orang lain, tersenyum dan bilang dia kelihatan baik, aku seneng kamu punya orang kayak gitu, serius. Laki-laki yang membiarkan orang lain mengambil apa yang ia inginkan, selalu, tanpa protes, karena ia pikir ia tidak berhak.
Malam ini ia berdiri di balkon hotel di Thamrin dengan jas hitam dan rahang yang mengeras, dan bilang itu punyaku.
“Mas,” kataku pelan.
“Hm.”
“Mas cemburu?”
“Iya.”
“Coba bilang lagi.”
Ia mengerjap. “Kenapa?”
“Aku mau denger lagi.”
Ia menatapku lama. Lalu, pelan, sudut bibirnya bergerak. Ia mengerti.
“Aku cemburu,” katanya.
“Lagi.”
“Aku cemburu.”
“Lagi, Mas. Sambil liat mata aku.”
Ia melangkah maju. Satu langkah. Sampai tidak ada jarak lagi di antara kami. Ia mengangkat tangan dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga, di sisi yang tidak dijepit. Lalu tangannya turun ke rahangku. Ibu jarinya di tulang pipiku.
Ia menatap mataku. Dari jarak yang sangat dekat. Di bawah lampu balkon yang kuning dan cahaya air mancur yang biru dari bawah.
“Aku cemburu,” bisiknya. “Matamu punyaku.”
Aku menggigit bibir bawahku.
Aku tidak merencanakannya. Itu refleks. Seperti tanganku yang dulu merapikan kerahnya di koridor Sagara. Aku menggigit bibir bawahku karena dadaku terlalu penuh dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan semua yang ada di dalamnya.
Matanya turun ke bibirku.
“Aluna,” katanya. Suaranya berubah. Lebih rendah. “Jangan gigit bibir kayak gitu.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu kenapa.”
Aku tersenyum. Pelan. Dengan bibir yang masih tergigit sedikit di sudut.
“Mas,” bisikku. “Mas cemburu terus kayak gini, aku jadi pengen dicemburuin tiap hari.”
Ia tertawa. Pendek. Dari dada. Lalu ia menunduk dan menciumku.
Bukan ciuman yang pelan. Bukan ciuman yang bertanya.
Ciuman yang menyatakan sesuatu.
Tangannya di rahangku menarikku. Tangannya yang lain melingkar di pinggangku, di atas satin hijau zamrud, menarikku sampai punggungku menyentuh pagar balkon. Ia menciumku seperti orang yang baru belajar marah dan baru belajar cemburu dan baru belajar bahwa ia boleh menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan memutuskan untuk menginginkan semuanya sekaligus.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Aku menarik kerah kemejanya. Dasi biru tua yang dipilih Dara terjepit di antara kami.
Di bawah, air mancur Bundaran HI berganti warna dari biru ke hijau. Lalu lintas Thamrin terus mengalir. Di dalam ballroom, band jazz memainkan sesuatu yang pelan.
Waktu akhirnya ia melepaskan ciuman itu, ia tidak menjauh. Dahinya menempel di dahiku. Napasnya terengah-engah.
“Itu,” bisiknya, “buat Rendy Halim.”
Aku tertawa sampai harus berpegangan pada kerahnya.
“Rendy Halim nggak liat, Mas.”
“Nggak apa-apa. Itu tetep buat dia.”
Ia membawaku kembali ke ballroom. Tangannya di punggungku. Di tempat yang sama. Tidak bergeser sedikit pun sepanjang malam.
Di dekat panggung, ia berhenti.
“Aluna,” katanya.
“Iya, Mas?”
“Boleh minta tolong?”
Aku menatapnya. Lalu aku tersenyum, karena aku tahu kebiasaannya sekarang.
“Nomor berapa?”
“Seratus... nggak. Sembilan puluh dua.” Ia mengernyit. “Kayaknya sembilan puluh dua.”
“Aku nyatet. Sembilan puluh satu kemarin itu minta dipijitin bahu.”
“Sembilan puluh dua, kalau gitu.” Ia menatapku. “Dansa sama aku. Cuma sama aku. Malam ini.”
Aku menatapnya lama.
“Mas,” kataku. “Mas nggak bisa dansa.”
“Aku tahu.”
“Mas nginjek kakiku tiga kali di Labuan Bajo.”
“Empat. Satu kamu nggak sadar.”
Aku tertawa. Lalu aku melepaskan tangannya dan berjalan ke arah panggung. Ke pemain piano band jazz, laki-laki berusia lima puluhan dengan kacamata bulat dan rambut abu-abu.
“Pak,” kataku. “Boleh request lagu?”
“Tentu, Mbak. Lagu apa?”
“Bengawan Solo. Versi jazz, kalau bisa.”
Pemain piano itu menatapku. Lalu tersenyum. “Bisa banget, Mbak. Itu lagu kesukaan almarhumah istri saya.”
Aku kembali ke Anggana. Ia menatapku dengan alis terangkat.
Lalu piano mulai. Pelan. Akord yang familiar, tapi dimainkan dengan cara yang berbeda, lebih lambat, lebih lembut, dengan nada-nada jazz yang membelok di tempat-tempat yang tidak terduga. Lalu kontrabas. Lalu saksofon, pelan, seperti seseorang yang bersenandung.
Bengawan Solo. Di ballroom hotel di Thamrin. Di depan tiga ratus investor dan pendiri startup.
Anggana menatapku. Matanya basah.
“Kamu,” katanya.
“Aku,” kataku. “Dansa, Mas?”
Kami berdansa di tengah ballroom.
Tidak ada yang lain yang berdansa. Tidak ada yang berdansa di acara seperti ini. Tapi kami berdansa, di ruang kosong di depan panggung, di bawah lampu kristal, dengan Bengawan Solo versi jazz dan saksofon yang bersenandung.
Ia menginjak kakiku sekali. Aku tertawa. Ia minta maaf. Aku bilang tidak apa-apa, injak lagi juga boleh. Ia tidak menginjak lagi. Ia memelukku lebih dekat dan kami hanya bergoyang, kiri dan kanan, seperti di dek di Labuan Bajo.
Lalu, di bait kedua, aku menyadari kami tidak sendirian.
Jovan dan Tiara. Lalu Mbak Kirana dan suaminya. Lalu dua pasangan dari perusahaan portofolio lain. Lalu, aku tidak percaya ini, Marcella Tan, dengan seorang laki-laki yang belum pernah kulihat, berkacamata dan berambut abu-abu, yang menurut Tiara belakangan adalah suaminya, yang tidak pernah ia sebut di kantor selama lima tahun.
Lalu Pak Haryo Wiradharma, dengan batik sutra, berdansa dengan istrinya yang berusia enam puluhan, pelan, dengan wajah yang tersenyum.
Ballroom yang tadinya penuh gelas kristal dan obrolan bisnis berubah. Pelan-pelan. Sampai separuh tamu berdansa di bawah lampu kristal, dan separuhnya lagi menonton sambil tersenyum, dan pemain piano menutup matanya dan memainkan Bengawan Solo seperti memainkannya untuk seseorang yang sudah lama pergi.
Rendy Halim berdiri di dekat meja minuman sendirian.
Anggana tidak menatapnya. Ia menatapku.
“Matamu,” bisiknya di telingaku, “punyaku.”
“Iya, Mas.”
“Aku cemburu tadi.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak pasang tembok.”
“Aku tahu.” Aku menyandarkan kepala di dadanya. “Makasih nggak pasang tembok.”
“Kamu yang minta. Di pantai Sanur.”
“Aku tahu,” bisikku. “Mas nepatin janji.”
Lewat jam sebelas, di lobi hotel, waktu tamu-tamu mulai pulang, aku menariknya ke arah lift.
“Parkiran di bawah, Luna. Bukan atas.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa naik?”
Aku menekan tombol lift. Lalu aku mengeluarkan HP dan menunjukkan layarnya padanya. Aplikasi Flie. Konfirmasi pemesanan.
Kamar Deluxe, lantai 21, menghadap Bundaran HI. 1 malam. Diskon karyawan portofolio: 15%.
Ia menatap layar itu. Lalu menatapku.
“Kamu booking kamar,” katanya pelan.
“Pakai Flie. Aplikasinya bagus. CTO-nya ganteng.”
“Kapan?”
“Tadi sore. Waktu Mas nyisir rambut empat puluh lima menit sama Dara.”
Pintu lift terbuka. Kosong. Aku masuk. Ia masuk. Pintu tertutup.
Aku menekan tombol lantai dua puluh satu.
Lalu aku menekan tombol lantai dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Semua tombol sampai dua puluh.
Ia menatap panel tombol yang sekarang menyala semua. Lalu menatapku.
“Ngapain?”
“Biar lama,” kataku.
Lift berhenti di lantai dua. Pintu terbuka. Koridor kosong. Pintu tertutup.
Aku melangkah ke arahnya. Ia mundur selangkah, sampai punggungnya menyentuh dinding lift yang berlapis cermin. Aku mengangkat tangan ke dasinya. Dasi biru tua yang dipilih Dara. Aku melonggarkannya. Pelan. Satu tarikan.
Lantai tiga. Pintu terbuka. Tertutup.
“Mas,” bisikku, sambil membuka kancing teratas kemejanya. Satu. “Tadi Mas bilang mataku punya Mas.”
“Iya.”
Lantai empat.
“Kalau gitu,” kataku, dan berjinjit sampai bibirku hampir menyentuh telinganya, “sisanya punya siapa?”
Ia membeku.
Lantai lima. Pintu terbuka. Seorang laki-laki tua berpiyama hotel dengan ember es di tangan berdiri di depan pintu lift. Ia menatap kami. Anggana dengan dasi yang longgar dan kerah yang terbuka dan punggung menempel di cermin. Aku dengan gaun hijau zamrud dan tangan di kerah suamiku.
Laki-laki tua itu tidak masuk. Ia hanya tersenyum, mengangkat ember esnya sedikit seperti bersulang, dan berkata, “Pengantin baru, ya? Saya nunggu yang berikutnya.”
Pintu tertutup.
Aku tertawa sampai harus bersandar di dada Anggana. Ia tertawa juga, akhirnya, setelah membeku. Tawa yang membuat matanya hilang.
Lantai enam. Tujuh. Delapan. Di setiap lantai, pintu terbuka dan tertutup. Di setiap lantai, aku menciumnya. Di pipi. Di rahang. Di sudut bibir. Di lekuk leher, tempat kerah kemejanya terbuka. Di setiap lantai, ia membeku sedikit lebih lama dan membalas sedikit lebih berani.
Lantai dua belas. Ia yang menciumku duluan.
Lantai lima belas. Tangannya di pinggangku sudah tidak lagi di atas satin. Di punggungku, di tempat gaun itu tidak punya punggung, karena aku memang memilih gaun hijau zamrud dengan punggung terbuka. Aku belum bilang padanya. Ia baru tahu sekarang. Ia membeku lagi.
Lantai dua puluh. Ia mengangkatku sedikit dari lantai lift, dan aku melingkarkan kakiku di belakang lututnya, dan pintu lift terbuka di lantai dua puluh dan tidak ada yang menunggu dan pintu itu tertutup lagi.
Lantai dua puluh satu.
Pintu terbuka.
Ia tidak menurunkanku. Ia menggendongku keluar dari lift, menyusuri koridor berkarpet tebal yang sunyi, ke kamar di ujung koridor. Aku menempelkan kartu kunci ke pintu dari atas bahunya, karena tangannya penuh.
Lampu di pintu berkedip hijau.
“Mas,” bisikku di telinganya. “Pintunya udah kebuka.”
“Iya.”
“Masuk?”
Ia berhenti di ambang pintu. Ia menatapku.
“Boleh?” tanyanya.
Aku tersenyum. Lalu aku mencium sudut bibirnya.
“Mas nggak usah nanya itu lagi,” bisikku. “Jawabannya selalu boleh.”
Ia masuk.
Pintu tertutup di belakang kami.
Pagi berikutnya, aku bangun dengan jas hitamnya di tubuhku.
Aku tidak ingat kapan aku memakainya. Mungkin jam tiga pagi, waktu AC kamar terlalu dingin dan aku bangun untuk minum air dan jas itu tergeletak di kursi dekat jendela. Jas itu kebesaran. Lengannya menutupi tanganku sampai ujung jari. Wangi parfumnya, wangi sabunnya, wangi dia.
Ia sudah bangun. Duduk di kursi dekat jendela dengan kemeja putih yang tidak dikancingkan dan kerah yang miring ke dua arah, menatapku dengan secangkir teh di tangan.
“Pagi,” katanya.
“Pagi, Mas.”
“Itu jasku.”
“Iya.”
“Kamu kedinginan?”
“Nggak.” Aku menarik lengan jas itu ke wajahku dan menghirup wanginya. “Aku cuma mau pakai sesuatu yang punya Mas.”
Ia meletakkan cangkir teh di meja. Ia berjalan ke kasur. Ia duduk di pinggirnya, di sebelahku.
“Aluna.”
“Iya.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum, senyum yang naik pelan dari sudut bibir dengan sesuatu yang jahil di dalamnya.
“Matamu,” katanya, “di bawah matahari pagi ini, warnanya kayak emas.”
Aku membeku.
Ia tertawa. Tawa yang membuat matanya hilang.
“Itu kalimatku,” katanya. “Aku boleh pakai kapan aja.”
Aku menarik kerahnya dan menciumnya, dengan jas hitamnya masih di tubuhku dan matahari pagi Jakarta masuk lewat jendela lantai dua puluh satu dan menyinari Bundaran HI di bawah sana.
Di meja, HP-ku bergetar. Satu pesan.
Dara: Kalian nggak pulang semalam. Ibu nanya. Aku bilang kalian lembur.
Dara: Ibu bilang “lembur di hotel, toh?”
Dara: Ibu tahu dari mana??? AKU NGGAK BILANG HOTEL.
Dara: Ibu bilang Flie ngirim email konfirmasi ke akun Kakak. Akun Kakak masih kesambung di iPad Ibu buat nonton YouTube masak-masak.
Dara: Ibu baca emailnya. “Kamar Deluxe. Diskon karyawan portofolio.”
Dara: Ibu ketawa sampai sutilnya jatuh lagi.
Dara: Sutil itu udah jatuh empat kali minggu ini. Aku mau beliin Ibu sutil baru. Atau kalian berhenti bikin Ibu ketawa. Pilih.
Aku menunjukkan layar itu ke Anggana. Ia membacanya. Lalu ia menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Aku lupa logout dari iPad Ibu,” katanya dari balik tangan.
“Mas CTO aplikasi yang transaksinya lima puluh miliar sehari.”
“Iya.”
“Dan Mas lupa logout dari iPad Ibu.”
“Iya.”
Aku tertawa sampai jas hitamnya melorot dari bahuku. Ia menurunkan tangan dari wajahnya. Ia menatapku. Ia menatap bahuku yang terbuka. Lalu ia membeku.
Lagi.
Aku menghitung di kepala. Dua puluh tiga. Aku benar-benar harus mulai menulisnya.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu reading
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis