Chapter Forty Five
Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
POV: Aluna
Hari Rabu adalah hari rantang.
Sudah tiga tahun begitu. Setiap Rabu, Ibu memasak nasi uduk, telur balado, tempe orek, sambal kacang dipisah, kerupuk, dalam porsi untuk lima orang, dan seseorang mengantarnya ke kantor Flie di Kuningan. Dulu Dara yang mengantar, karena kantornya cuma dua gedung dari kantor Flie.
Minggu pertama setelah bulan madu, aku mengambil alih tugas itu.
“Itu tugasku,” kata Dara di dapur jam enam pagi, dengan piyama beruang dan papan klip Audit Rumah Tangga di pelukan. “Tiga tahun. Aku nggak pernah absen.”
“Kamu absen dua kali,” kata Ibu dari depan kompor. “Waktu tifus sama waktu kamu ke Bali.”
“Itu force majeure.”
“Mulai sekarang aku yang anter,” kataku sambil menutup rantang susun tiga. “Kantorku di Sudirman. Kuningan cuma lima belas menit naik ojek. Aku bisa pakai jam makan siang.”
Dara menatapku dengan mata menyipit. Lalu menatap rantang. Lalu menatapku lagi.
“Kamu mau ke kantor Kakak cuma buat nganter rantang?”
“Iya.”
“Bohong.”
“Iya,” kataku, tersenyum. “Bohong.”
Dara menghela napas panjang, seperti auditor yang baru menemukan selisih yang sudah ia duga sejak awal. Lalu, tanpa bicara, ia menulis sesuatu di papan klipnya dan menunjukkannya padaku.
Serah terima tugas rantang Rabu: DISETUJUI. Alasan: Auditor sebenarnya capek tiap Rabu harus liat Kakak bagi-bagi tempe ke engineer.
Catatan: Jangan bikin kantor Kakak bangkrut karena produktivitas turun.
Resepsionis lantai dua puluh tiga mengenaliku sebelum aku sempat menyebutkan nama.
“Bu Angga!”
Aku berhenti. Bu Angga. Aku belum pernah dipanggil begitu. Di Sagara aku masih Luna, atau Mbak Aluna. Di rumah aku Nduk, atau Mbak Luna, atau kamu kalau Dara sedang kesal. Tapi Bu Angga, dengan nama suamiku sebagai pengganti namaku sendiri, dengan cara orang-orang di gang kami memanggil istri seseorang.
Aku seharusnya merasa itu kuno. Aku perempuan dengan karier sendiri, nama sendiri, deal sendiri yang namanya tercantum di halaman pertama.
Aku tidak merasa itu kuno. Aku merasa pipiku memanas.
“Pagi, Mbak,” kataku. “Siang, maksudnya.”
“Pak Angga lagi rapat, Bu. Di Bromo. Video call sama investor Vietnam.” Resepsionis itu tersenyum lebar. “Tapi Ibu langsung masuk aja. Pak Jovan bilang kalau Bu Angga dateng, jangan ditahan. Katanya itu perintah CEO.”
Mas Eko, office boy lantai dua puluh tiga, lewat dengan nampan berisi gelas kosong. Ia berhenti, menatapku, menatap rantang di tanganku, lalu tersenyum dan menunduk sopan.
“Siang, Bu Angga. Mau teh?”
“Teh melati, Mas Eko. Tanpa gula.”
Mas Eko mengangguk. “Sama kayak Bapak.”
“Sama kayak Bapak,” kataku.
Ruang Bromo berdinding kaca. Aku tahu itu dari dua bulan due diligence, tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkan apa artinya sampai siang itu.
Artinya, dari koridor, aku bisa melihat semuanya.
Anggana berdiri di depan layar besar di ujung ruangan, memegang spidol, menjelaskan sesuatu di papan tulis kepada wajah-wajah di layar video: empat laki-laki dan satu perempuan berjas di sebuah ruang rapat di Ho Chi Minh, dengan Linh di sudut layar memakai headset dan rambut yang dipotong sangat pendek. Di meja panjang di Ruang Bromo, Jovan, Mbak Kirana, dan dua engineer duduk dengan laptop terbuka.
Ia memakai kemeja putih. Lengan digulung sampai siku. Kerahnya, tentu saja, miring. Aku merapikannya jam enam pagi tadi di lapak, dan sekarang, enam jam kemudian, sisi kirinya sudah terlipat ke dalam lagi.
Aku berdiri di koridor, di depan dinding kaca, dengan rantang di tangan, dan menunggu.
Ia tidak melihatku. Ia sedang menggambar diagram arsitektur. Kotak-kotak, panah, garis putus-putus. Ia bicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang rapi, tenang, dan aku melihat wajah-wajah di layar video mengangguk-angguk.
Lalu ia menoleh untuk menunjuk sesuatu di layar, dan matanya melewati dinding kaca.
Dan berhenti.
Spidol di tangannya berhenti di tengah garis. Mulutnya berhenti di tengah kalimat. The payment layer handles the—
Aku tersenyum. Aku mengangkat tangan dan menunjuk leherku sendiri, lalu menunjuknya. Lalu aku mengucapkan tanpa suara, dengan bibir yang sengaja dibuat pelan dan jelas:
Kerahmu miring.
Ia menatapku. Tiga detik. Lima.
Di layar video, salah satu investor Vietnam mencondongkan badan ke kamera. “Mr. Anggana? Is everything okay? You stopped at the payment layer.”
Jovan menoleh ke arah tatapan Anggana. Melihatku. Lalu menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Sorry,” kata Anggana ke layar. Suaranya serak. Ia berdeham. “Sorry. The payment layer handles the... the...”
“Reconciliation,” bisik Mbak Kirana dari meja.
“Reconciliation. Yes.” Ia kembali ke papan tulis. Ia menggambar panah. Panahnya miring. Ia menghapusnya dengan telapak tangan dan menggambar lagi. Lebih miring.
Aku menahan tawa dengan rantang di depan mulut.
Lalu aku melakukan sesuatu yang bodoh. Aku mencondongkan badan ke dinding kaca, cukup dekat sampai napasku membuat embun kecil di permukaannya. Dan di embun itu, dengan ujung jari, aku menggambar.
Sebuah kerah. Miring. Satu sisi terlipat ke dalam, satu sisi mencuat.
Lalu, di sebelahnya, hati. Juga miring.
Embunnya mulai menghilang. Aku meniupnya lagi supaya gambarnya bertahan.
Di dalam Ruang Bromo, dua engineer di meja menoleh ke dinding kaca. Lalu saling pandang. Lalu salah satunya, Rizky, mengeluarkan HP-nya dan, aku curiga, memotret.
Anggana menoleh lagi. Melihat gambar di embun.
Ia membeku. Lagi. Spidolnya jatuh ke lantai.
“Mr. Anggana?” kata investor di layar.
Jovan berdiri. Ia berjalan ke depan layar dengan senyum CEO yang paling lebar dan paling profesional yang pernah kulihat di wajahnya.
“Gentlemen, ma’am,” katanya ke kamera. “Let me take over the next part. Our CTO needs a short... technical break.”
Rapat selesai dua puluh menit kemudian.
Aku masih di koridor. Gambar di dinding kaca sudah lama hilang. Rantang di tanganku mulai terasa berat. Mas Eko sudah mengantarkan teh melati tanpa gula yang kuminum sambil berdiri.
Pintu Ruang Bromo terbuka. Investor Vietnam sudah keluar dari layar. Jovan, Mbak Kirana, dan dua engineer keluar satu per satu. Jovan menatapku dengan alis terangkat dan menggeleng pelan. Mbak Kirana tersenyum tipis. Rizky mengangkat HP-nya ke arahku dan memberi jempol.
Anggana keluar terakhir.
Tidak. Ia tidak keluar. Ia berdiri di ambang pintu Ruang Bromo dengan satu tangan di kusen dan menatapku.
“Masuk,” katanya.
Aku masuk.
Ia menutup pintu di belakangku. Pintu kaca. Dinding kaca. Seluruh lantai dua puluh tiga bisa melihat ke dalam.
“Kamu,” katanya, “bikin aku lupa kata reconciliation di depan investor Vietnam.”
“Aku cuma nganter rantang.”
“Kamu gambar di kaca.”
“Kerahmu miring. Aku harus kasih tahu.”
“Kamu gambar hati.”
“Itu juga perlu dikasih tahu.”
Ia menatapku lama. Lalu ia menghela napas, panjang, dan tertawa. Pelan. Tawa yang membuat matanya hilang.
Aku meletakkan rantang di meja panjang. Aku berjalan ke arahnya. Aku berhenti tepat di depannya, cukup dekat untuk mencium wangi sabun dan, samar sekali, daun pisang dari tangannya yang tadi pagi memotong daun di dapur.
Aku mengangkat tangan ke kerahnya.
Pelan. Sangat pelan. Lebih pelan dari biasanya. Aku melipat sisi kiri keluar dengan ujung jari, dan ujung jariku menyentuh kulit lehernya lebih lama dari yang diperlukan. Aku menekan lipatan itu dengan ibu jari. Aku menurunkan sisi kanan. Lalu, karena aku bisa, karena ia suamiku, karena dinding ini kaca dan aku tidak peduli, aku membiarkan kedua tanganku di kerahnya. Di kedua sisi lehernya.
“Mas,” bisikku. “Ruangan ini dindingnya kaca.”
“Iya.”
“Semua orang liat.”
Ia melirik ke samping. Aku juga. Di luar dinding kaca, di koridor dan di meja-meja kerja open space, sekitar dua puluh engineer sedang sangat sibuk menatap layar laptop mereka masing-masing. Sangat sibuk. Terlalu sibuk. Dengan kepala yang sedikit miring ke arah Ruang Bromo.
“Iya,” kata Anggana.
“Biarin?”
Ia menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum yang naik dari sudut bibir, senyum yang belajar dariku.
“Biarin,” katanya.
Aku berjinjit dan mencium pipinya.
Di luar dinding kaca, seseorang bersiul. Seseorang yang lain bertepuk tangan. Lalu seluruh lantai dua puluh tiga bertepuk tangan, dan Rizky berdiri di atas kursinya dan berteriak CTO KITA! seperti Jovan di war room dulu.
Lalu Jovan muncul di koridor. Ia membawa papan tulis putih beroda dari ruang rapat sebelah, mendorongnya dengan kecepatan penuh, dan memarkirnya tepat di depan dinding kaca Ruang Bromo, menutupi pandangan dari open space.
Di papan tulis itu, dengan spidol merah, ia sudah menulis besar-besar:
RAPAT PRIVAT. JANGAN DILIAT. INI PERINTAH CEO.
Lalu, di bawahnya, lebih kecil:
Kalian boleh liat dari celah samping, tapi jangan foto. Rizky, hapus fotonya.
Kami makan siang di Ruang Bromo, dengan papan tulis Jovan sebagai tirai.
Aku membuka rantang. Nasi uduk. Telur balado. Tempe orek. Sambal kacang. Kerupuk. Porsi lima orang, seperti biasa, karena Ibu tidak percaya bahwa dua orang bisa makan lebih sedikit dari lima.
Aku duduk di tepi meja panjang. Bukan di kursi. Di tepi meja, dengan kaki menggantung, di sebelah kursinya.
“Kursinya banyak,” katanya.
“Aku mau duduk di sini.”
“Kenapa?”
“Biar lebih tinggi dari Mas.” Aku mengambil sesendok nasi uduk, mencampurnya dengan telur dan sedikit sambal, lalu mengulurkannya ke mulutnya. “Buka.”
Ia membuka mulut. Aku menyuapinya.
Ia mengunyah, menatapku dari bawah. Lalu ia mengambil sendok lain, menyendok nasi, dan mengulurkannya ke mulutku. Aku membuka mulut.
Kami bergantian. Satu suap untuknya, satu suap untukku. Tanpa bicara. Di Ruang Bromo, tempat ia dulu memberiku senyum yang sama untuk semua orang dan bilang halo, Luna, apa kabar. Tempat aku dulu tertidur di meja jam dua pagi dan bangun dengan hoodie HMIF di bahuku.
Di suapan keenam, sambal kacang menempel di sudut bibirku. Aku tahu, karena aku merasakannya, dan aku sengaja tidak menghapusnya.
Ia menatap sudut bibirku.
“Mas,” kataku, dengan nada yang sangat polos. “Kenapa liatin bibir aku?”
Aku sudah menyiapkan lanjutannya. Mau nyium aku? Boleh kok. Aku sudah siap melihatnya membeku.
Ia tidak membeku.
“Karena ada sambal,” katanya.
Lalu ia mengangkat tangan, mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya, pelan, menghapus sambal itu. Lalu, sambil menatap mataku, sangat pelan, ia membawa ibu jari itu ke bibirnya sendiri dan menjilat sambalnya.
Aku membeku.
Sendok di tanganku berhenti di udara. Mulutku terbuka sedikit. Aku duduk di tepi meja Ruang Bromo dengan kaki menggantung dan lupa caranya bernapas.
Ia tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit, dengan sesuatu yang jahil di dalamnya.
“Enak,” katanya. “Sambalnya Ibu.”
“Mas...”
“Hm?”
“Mas belajar dari mana?”
“Dari kamu.” Ia mengambil sendok dari tanganku yang masih menggantung di udara, meletakkannya di rantang. “Bulan madu. Pepaya. Ujung sendok.” Ia menatapku. “Aku kan selalu ngitung, kalau soal kamu. Aku juga selalu nyatet.”
Dari celah di samping papan tulis Jovan, aku mendengar suara Sari, sangat pelan, sangat jelas: “Bu Angga freeze.”
Lalu suara Rizky: “Gue nggak foto. Gue rekam video.”
Lalu suara Jovan, dari kejauhan: “RIZKY.”
Sebelum pulang ke Sagara jam satu lewat sepuluh, aku melakukan satu hal lagi.
Ia sedang membereskan rantang, menutupnya satu per satu, menumpuknya. Aku berdiri di belakangnya. Aku merapikan kerahnya sekali lagi, dari belakang, dengan dua tangan, seperti memeluk tanpa memeluk.
Lalu, sebelum melepaskan, aku mencium bagian dalam kerah kemejanya. Di sisi kanan. Di tempat kain kerah bertemu leher. Di tempat yang tidak akan terlihat kecuali kerahnya terlipat.
Lipstikku hari itu warna mawar tua. Cukup tua untuk meninggalkan bekas di kain putih.
Aku melepaskan tanganku. Ia menoleh.
“Ngapain?”
“Benerin kerah.”
“Kok lama?”
“Kerahmu bandel.” Aku mengambil tas dan berjalan ke pintu kaca. “Sampai nanti, Mas. Jangan kangen.”
“Aku kangen.”
Aku berhenti di ambang pintu. Menoleh.
“Udah?” tanyaku.
“Dari kamu belum keluar ruangan.”
Aku keluar dari Ruang Bromo dengan wajah yang aku yakin semerah sambal balado, melewati dua puluh engineer yang semuanya sangat sibuk menatap laptop mereka, melewati Mas Eko yang tersenyum dengan nampan kosong, melewati resepsionis yang berbisik dadah, Bu Angga, dan baru bisa bernapas normal di dalam lift.
Jam empat sore, HP-ku bergetar di meja kantor Sagara.
Anggana: Kamu ninggalin sesuatu di kerahku.
Aku tersenyum ke layar laptop. Tiara, di meja sebelah, melirikku dan langsung tahu.
Aluna: Masa? Apa?
Anggana: Lipstik. Di dalem kerah.
Aluna: Kok Mas tahu? Kan di dalem.
Anggana: Aku baru rapat dewan. Sama Sagara. Pak Haryo duduk di sebelahku.
Aku berhenti tersenyum.
Anggana: Kerahku miring waktu aku nunduk baca dokumen.
Anggana: Pak Haryo liat.
Aku menutup mulut dengan tangan. Tiara mencondongkan badan untuk mengintip layar HP-ku. Aku tidak menghalanginya.
Anggana: Pak Haryo nggak bilang apa-apa selama sepuluh detik.
Anggana: Terus dia ketawa.
Anggana: Kata Marcella, itu ketawa yang keempat dalam lima tahun.
Anggana: Terus dia bilang: “Pak Anggana, perusahaan yang CTO-nya dicium istrinya di kerah sebelum rapat dewan biasanya punya kinerja yang baik. Saya punya data anekdotal.”
Tiara tertawa begitu keras sampai Marcella keluar dari ruangannya dan menatap kami dengan alis terangkat.
Aku tidak bisa berhenti tertawa. Aku tertawa sampai air mata keluar, sampai aku harus menunduk ke meja, sampai Marcella berjalan ke meja kami, menatap layar HP-ku dari atas bahuku, membaca percakapan itu, dan berkata, dengan suara sangat datar:
“Saya ada di rapat itu, Luna.”
Aku membeku.
“Kerahnya memang miring,” lanjut Marcella. “Dan Pak Haryo memang tertawa.” Ia diam sebentar. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak. “Itu rapat dewan paling lancar yang pernah saya ikuti. Pak Anggana menyetujui semua usulan kami dalam empat puluh menit. Biasanya dua jam.”
Ia kembali ke ruangannya.
Tiara menatapku. “Lun. Lo baru bikin rapat dewan Flie selesai dua kali lebih cepat pakai lipstik.”
“Itu bukan rencanaku.”
“Itu harusnya jadi SOP.”
Jam enam lewat sepuluh, ia menjemputku di lobi Sagara.
Ia berdiri di dekat pintu putar dengan kemeja putih yang sama, kerah yang sekarang sudah dirapikan sendiri dengan sangat tidak berhasil, dan wajah yang langsung berubah waktu melihatku keluar dari lift.
Aku tidak berjalan ke arahnya. Aku berlari.
Melewati satpam lobi. Melewati resepsionis Sagara. Melewati dua analis junior dari tim lain yang baru pulang. Aku berlari dengan blazer hitam dan tas di bahu dan sepatu pantofel yang tidak dibuat untuk berlari, dan waktu aku sampai di depannya, aku tidak berhenti.
Aku melompat.
Ia menangkapku. Refleks. Dua lengan di pinggangku, mengangkatku sedikit dari lantai marmer lobi, seperti di dermaga, seperti di vila di atas tebing. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan tertawa di bahunya.
“Aku kangen,” kataku.
“Kamu baru ninggalin kantorku lima jam lalu.”
“Lima jam itu lama.”
Ia menurunkanku pelan. Tapi tidak melepaskan pinggangku. Ia menatapku, dan di belakangnya, di lobi Sagara Capital yang marmer dan kaca dan sunyi, aku melihat satpam lobi pura-pura membaca buku tamu, dan dua analis junior berhenti di dekat lift dengan mulut terbuka.
Dan di lantai mezanin di atas lobi, berdiri di dekat pagar kaca dengan tablet di tangan, Marcella Tan.
Ia menatap kami. Lalu ia mengangkat tabletnya sedikit. Seperti bersulang.
Lalu ia berbalik dan pergi.
Di mobil, di lampu merah di depan Semanggi, aku melepas sabuk pengaman.
“Luna, sabuknya—”
Aku mencondongkan badan ke kursi kemudi, menarik kerahnya, dan menciumnya.
Lampu merah. Sembilan puluh detik, kata angka hitung mundur di tiang lampu lalu lintas. Aku menciumnya selama enam puluh detik di antaranya. Pelan. Dalam. Tanganku di kerahnya. Tangannya, setelah lima detik pertama yang membeku, di rahangku.
Di detik kedelapan puluh, aku melepaskannya dan kembali ke kursiku. Aku memasang sabuk pengaman. Aku merapikan rambutku.
“Lampunya bentar lagi hijau, Mas,” kataku, sangat tenang.
Ia menatapku. Bibirnya ada bekas lipstik mawar tua. Kerahnya miring ke dua arah sekaligus.
Lampu hijau.
Ia tidak bergerak.
Mobil di belakang kami membunyikan klakson. Satu kali. Lalu dua kali. Lalu panjang.
“Mas,” kataku. “Hijau.”
Ia mengerjap. Ia menjalankan mobil. Terlalu cepat. Mobil tersentak. Ia mengerem. Mobil tersentak lagi. Lalu ia menjalankannya dengan benar, dengan dua tangan di setir dan wajah merah padam dan rahang yang mengeras seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
Aku tertawa sepanjang Gatot Subroto.
Malam itu, di kasur, di lampu tidur yang kuning dan redup, aku berbaring di dadanya dan ia memainkan ujung rambutku.
“Mas,” kataku.
“Hm.”
“Mas suka aku dateng ke kantor?”
Ia diam sebentar.
“Suka,” katanya. “Tapi rapatnya jadi kacau. Aku lupa kata reconciliation. Aku gambar panah miring tiga kali. Jovan harus ngambil alih. Rizky punya video. Pak Haryo liat lipstik.”
“Terus?”
“Terus aku suka.” Ia mencium puncak kepalaku. “Banget.”
“Besok aku dateng lagi.”
“Besok Kamis. Bukan hari rantang.”
“Aku bawa rantang Kamis.”
“Nggak ada rantang Kamis.”
“Mulai besok ada.” Aku mengangkat kepala dan menatapnya. “Rantang Kamis. Isinya aku.”
Ia membeku.
Aku menghitung di kepala. Delapan belas, sejak bulan madu. Aku harus mulai menulisnya di buku biru.
“Aluna,” katanya akhirnya, dengan suara orang yang sudah menyerah sepenuhnya.
“Iya, Mas?”
“Kamu tahu kan, kantorku dindingnya kaca semua.”
“Tahu.”
“Jovan cuma punya satu papan tulis beroda.”
“Aku beliin dia satu lagi,” kataku. “Hadiah. Biar adil.”
Ia tertawa. Tawa yang bergetar di dadanya, di pipiku. Lalu ia menarikku lebih dekat dan menciumku. Pelan. Lama. Di kening dulu. Lalu di ujung hidung. Lalu di bibir.
“Aku sayang banget sama kamu, Mas,” bisikku di bibirnya.
“Itu yang keberapa hari ini?”
“Mas yang ngitung.”
“Lima.”
“Lima doang?”
“Hari ini kamu sibuk bikin aku freeze. Nggak sempet bilang.”
Aku tertawa. Lalu aku mengatakannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Pelan, di bibirnya, di pipinya, di lekuk lehernya, di tempat kerah kausnya terlipat ke dalam, sampai ia berhenti menghitung dan aku berhenti bicara.
Di sudut kamar, radio Oma memutar keroncong. Di HP-ku, yang tertelungkup di meja, satu pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.
Aku membacanya pagi berikutnya.
Rizky (Flie): Bu Angga, maaf ganggu. Saya mau minta izin. Video Pak Angga jatuhin spidol waktu liat gambar di kaca, boleh saya pakai buat video internal ulang tahun Flie bulan depan? Pak Jovan udah setuju. Katanya ini “dokumentasi sejarah perusahaan”.
Aku membalas: Boleh. Asal ada adegan Mas Angga jilat sambal juga.
Rizky membalas dalam lima detik: ADA, BU. SARI YANG REKAM DARI CELAH PAPAN TULIS.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo reading
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis