Chapter Twenty Two
Mbak Jumat
POV: Aluna
Lima tahun lalu, di bulan Oktober, aku duduk di trotoar yang sama untuk kedua kalinya dalam hidupku.
Waktu itu tahun ketiga kuliah. Malam sebelumnya aku bekerja sebagai SPG di pameran properti di sebuah mal di Jakarta Selatan, berdiri dengan sepatu hak tujuh senti dari jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam, membagikan brosur apartemen yang harganya lebih mahal dari rumah kami dulu. Setelah pameran tutup, aku membantu membongkar stan sampai jam dua. Lalu aku menerima telepon dari Mama.
Papa masuk rumah sakit lagi. Tekanan darahnya naik. Dokter bilang harus dirawat seminggu, mungkin lebih. Uang untuk semester depan, yang sudah kukumpulkan sedikit demi sedikit dari les privat dan pameran, harus dipakai untuk rumah sakit.
Aku harus cuti kuliah. Lagi.
Aku tidak pulang. Aku tidak tahu kenapa aku tidak pulang. Aku memesan ojek dari depan mal jam tiga pagi, dan waktu abang ojeknya bertanya mau ke mana, aku menyebutkan alamat mulut sebuah gang di Jakarta Timur.
Aku ingin makan nasi uduk. Itu saja. Aku ingin makan sesuatu yang rasanya seperti hari-hari sebelum semuanya runtuh.
Gerobak kayu itu masih ada lima tahun lalu. Lampu neonnya masih berkedip. Kontrakan tiga pintu di belakangnya masih bercat hijau pudar. Anggana tidak ada. Ia di Bandung, di tahun ketiga kuliahnya juga. Aku tahu dari Instagram Ucup, yang sesekali memposting foto mereka berdua di depan kampus ITB dengan caption anak nasi uduk ama anak bakso, sama-sama nyasar di kota kembang.
Aku antre di belakang dua orang. Aku memakai jaket hitam yang menutupi seragam SPG, dan riasan tebal yang sudah luntur di bawah mata. Rambutku waktu itu baru setahun kupotong sendiri, belum terbiasa sebahu.
“Satu, Bu. Telur balado. Sambal dipisah.”
Bu Ratih membungkusnya. Lalu, waktu menyerahkannya padaku, tangannya berhenti.
Ia menatap wajahku. Lama. Lebih lama dari pembeli biasa.
“Sampeyan,” katanya pelan. “Yang kebaya merah bata.”
Aku membeku.
“Wisuda Angga,” lanjut Bu Ratih. “Sampeyan yang berdiri di depan anak Ibu. Yang tangannya mau benerin kerahnya, terus ndak jadi.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ibu lihat,” katanya, masih memegang bungkusan nasi uduk itu. “Ibu lihat anak Ibu natap sampeyan kayak orang natap bulan yang mau pergi.”
Nasi uduk itu tidak pernah sampai ke tanganku. Aku menangis di depan gerobak, di depan dua pelanggan yang baru selesai antre, di bawah lampu neon yang berkedip. Bu Ratih meletakkan bungkusan itu, berjalan memutari gerobak, dan memelukku. Ia wangi santan dan daun pisang. Pelukannya kuat, seperti pelukan orang yang sudah terbiasa mengangkat dandang besar setiap pagi selama belasan tahun.
Ia menutup gerobak setengah jam lebih awal hari itu, untuk pertama kalinya, kata Pakde Sarno belakangan. Ia membawaku masuk ke kontrakan tiga pintu itu, mendudukkanku di dingklik dapur yang sempit, membuatkan teh manis, dan mendengarkan.
Aku menceritakan semuanya.
Om Gunawan. Bank. Rumah yang dilelang. Pintu ruang wali kelas. Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya. Pohon ketapang. Bastian yang bukan siapa-siapa. SPP tiga bulan. Memo kuning. Surat yang tidak pernah dikirim. Papa di rumah sakit. Cuti kuliah.
Aku menceritakannya kepada ibu dari laki-laki yang kutolak, di dapur sempit tempat laki-laki itu dulu memotong daun pisang jam tiga lewat empat puluh. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tidak ada orang lain di seluruh dunia yang bisa kuceritakan. Mungkin karena dari semua orang, hanya Bu Ratih yang melihat tanganku terangkat di wisuda dan turun lagi.
Bu Ratih mendengarkan tanpa memotong sekali pun. Ia tidak menangis. Tapi tangannya, yang memegang gelas teh di pangkuan, berhenti bergerak di bagian satu dari kami harus kerja, dan tidak bergerak lagi sampai aku selesai.
Lalu ia bertanya satu hal.
“SPP tiga bulan itu. Sampeyan yang bayar?”
Aku mengangguk.
Bu Ratih menutup mata. Lama. Lalu membukanya lagi, dan matanya basah.
“Waktu itu Ibu tifus,” katanya pelan. “Angga ndak pernah bilang soal SPP. Ibu baru tahu setahun kemudian, dari gurunya. Katanya ada donatur. Ibu selalu doain donatur itu. Tiap habis sholat. Lima tahun.” Ia tersenyum, senyum yang gemetar. “Ternyata Ibu doain sampeyan.”
Sebelum aku pulang pagi itu, aku memohon padanya.
“Bu, jangan bilang Anggana. Tolong. Dia di Bandung. Dia udah baik-baik aja. Kalau dia tahu, dia bakal...” Aku tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Bakal nolong,” kata Bu Ratih. Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk.
Bu Ratih menatapku lama. Lalu menghela napas, panjang, seperti orang yang menimbang sesuatu yang sangat berat dan memutuskan untuk memikulnya.
“Ibu ndak akan cerita,” katanya. “Itu cerita sampeyan, bukan cerita Ibu. Kalau mau diceritain, sampeyan yang cerita. Kapan pun sampeyan siap.”
“Makasih, Bu.”
“Tapi, Nduk.” Ia memegang kedua tanganku dengan tangannya yang kasar dan hangat. “Ibu juga ndak akan lupa.”
Aku mulai memesan setiap Jumat sejak minggu berikutnya.
Aku membuat akun ojek online baru dengan nama Jumat. Tanpa foto. Aku memesan lewat fitur antar barang, bukan pesan makanan, karena gerobak Bu Ratih tidak terdaftar di aplikasi mana pun. Aku mengirim pesan ke nomor Bu Ratih yang ia tuliskan di sobekan kertas bungkus pagi itu: Bu, ini saya. Tiap Jumat ya, satu bungkus. Ojeknya saya yang pesan dari sini.
Setiap Jumat jam enam pagi, ojek datang ke gerobak, mengambil sebungkus nasi uduk, dan mengantarkannya ke mana pun aku berada. Ke kampus. Ke kantor notaris tempat aku jadi admin. Ke bank. Ke Sagara.
Dan setiap Jumat, di dalam kantong kresek, ada satu kerupuk tambahan yang tidak pernah kupesan.
Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku tahu kenapa.
Bu Ratih tidak pernah mengirim pesan apa pun selain nggih setiap Kamis malam, sebagai konfirmasi. Ia tidak pernah bertanya kapan aku akan bercerita. Ia tidak pernah menyebut nama anaknya. Kecuali sekali, dua tahun lalu, satu pesan yang ia kirim di hari Kamis malam bersama nggih:
Angga bikin aplikasi. Namanya Flie. Kata dia buat Ibu, biar Ibu bisa terbang. Ibu ndak ngerti, tapi Ibu bangga.
Aku membaca pesan itu di KRL jam sembilan malam, dan turun dua stasiun terlalu jauh.
Lima tahun. Dua ratus delapan puluh delapan Jumat. Dua ratus delapan puluh delapan kerupuk tambahan. Dua ratus delapan puluh delapan karet merah di laci meja.
Bu Ratih tidak pernah cerita. Dan Bu Ratih tidak pernah lupa.
Sabtu pagi ini, aku membawa hoodie abu-abu bertuliskan HMIF ITB — ANGKATAN 2018, dicuci sekali saja kali ini, karena aku sudah belajar dari handuk.
Aku membungkus tiga puluh enam nasi uduk. Rata-rata delapan belas detik. Dara mencatat di papan klipnya dengan wajah orang yang semakin kehabisan temuan, dan sekali, waktu aku berhasil membungkus satu dalam empat belas detik, ia menulis sesuatu lalu menutupi tulisannya dengan telapak tangan seperti murid yang menyembunyikan contekan.
Anggana menerima hoodie itu dengan dua tangan. Ia menatapnya sebentar. Lalu menciumnya. Sebentar sekali. Seperti tanpa sadar.
“Wangi pelembut,” katanya.
“Aku cuma cuci sekali,” kataku.
“Kenapa?”
“Kalau dua kali, wangi kamunya ilang.”
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Itu keluar begitu saja, seperti tanganku yang merapikan kerahnya di koridor Sagara. Aku langsung menyesal, lalu tidak menyesal, lalu menyesal lagi.
Anggana menatapku. Telinganya memerah. Lalu ia berbalik dan masuk ke rumah membawa hoodie itu tanpa berkata apa-apa.
Dara, dari meja marmer, menjatuhkan pulpennya.
Bu Ratih, di depan kompor, tersenyum ke arah dandang.
Jam delapan pagi, setelah lapak tutup, Bu Ratih memintaku tinggal sebentar untuk membantu mencuci dandang.
Anggana sudah pergi. Ada rapat mendadak di kantor soal tim Vietnam, katanya, dan ia pergi dengan wajah menyesal dan kerah yang lebih miring dari biasanya. Dara naik ke kamar untuk tidur lagi, setelah memberiku tatapan peringatan terakhir dari ambang tangga.
Hanya ada aku dan Bu Ratih di dapur yang luas dan terang itu. Bunyi air keran. Bunyi sabut menggosok dasar dandang. Di luar, langit mulai gelap. Awan hitam bergulung dari arah barat.
“Nduk,” kata Bu Ratih tanpa menoleh dari dandang.
“Iya, Bu.”
“Kemarin Jumat, kerupuknya kamu makan?”
Tanganku berhenti menggosok.
Aku menatap punggung Bu Ratih. Daster batiknya. Sanggul putihnya. Bahunya yang sedikit bungkuk karena bertahun-tahun mengangkat dandang.
“Iya, Bu,” kataku pelan. “Selalu.”
Bu Ratih mematikan keran. Ia berbalik. Ia mengelap tangannya di celemek, pelan, lalu menatapku dengan mata yang sama seperti lima tahun lalu di dapur kontrakan sempit itu. Hangat. Tenang. Seperti teh yang baru diseduh.
“Ibu ndak pernah cerita,” katanya. “Tapi Ibu juga ndak pernah lupa.”
Aku meletakkan sabut di pinggir wastafel. Tanganku gemetar.
“Ibu tahu dari awal,” kataku. “Waktu aku datang dua minggu lalu. Waktu Ibu bilang lama ndak ketemu langsung.”
“Ibu tahu dari awal,” Bu Ratih membenarkan. “Lima tahun Ibu bungkusin nasi uduk buat sampeyan tiap Jumat. Lima tahun Ibu nambahin kerupuk. Masa Ibu ndak kenal tangan yang ngirim karet merahnya balik?”
“Karet merah?”
“Sampeyan kira Ibu ndak sadar?” Bu Ratih tersenyum. “Tiap habis lebaran, ojek langganan sampeyan nganterin satu kantong kresek ke sini. Isinya karet merah baru. Satu bungkus besar, yang isinya seribu. Diikat pita. Ndak ada suratnya. Ndak ada namanya.” Ia menggeleng pelan. “Siapa lagi yang ngirim karet merah ke tukang nasi uduk, Nduk?”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Aku memang melakukannya. Setiap tahun. Setelah lebaran. Aku menyimpan setiap karet dari setiap Jumat di laci mejaku, tidak sanggup membuang satu pun, dan aku merasa berutang. Jadi setiap tahun aku membeli satu bungkus karet merah baru di pasar dan mengirimkannya tanpa nama. Aku pikir tidak ada yang akan tahu itu dari siapa.
“Ibu pakai,” kata Bu Ratih. “Karet dari sampeyan Ibu pakai buat ngiket nasi uduk sampeyan sendiri. Muter-muter. Dari sampeyan ke Ibu, dari Ibu ke sampeyan.”
Aku menangis.
Bukan menangis seperti di KRL hari Sabtu lalu, diam-diam, tanpa suara. Aku menangis seperti lima tahun lalu di depan gerobak, dengan bahu berguncang dan napas tersendat. Bu Ratih berjalan memutari meja marmer dan memelukku. Ia masih wangi santan dan daun pisang. Pelukannya masih kuat.
“Kapan mau cerita ke Angga, Nduk?” tanyanya pelan di bahuku.
“Nggak, Bu,” kataku di antara isak. “Aku nggak mau dia balik karena kasihan. Aku nggak mau dia tahu terus ngerasa bersalah. Aku mau dia... aku mau dia milih aku. Bukan karena alasan. Karena aku.”
Bu Ratih diam lama. Tangannya mengusap punggungku pelan, naik turun, seperti mengusap punggung anak kecil yang demam.
“Dulu Ibu juga mikir gitu,” katanya akhirnya. “Sama bapaknya Angga.”
Aku mengangkat kepala.
“Bapaknya Angga dulu kuli bangunan. Ibu anak juragan beras di Solo. Bapak Ibu ndak setuju. Ibu ndak pernah cerita ke Bapaknya Angga kalau Ibu ditawarin nikah sama anak lurah, karena Ibu takut dia mundur. Ibu takut dia ngerasa ndak cukup.” Bu Ratih tersenyum, matanya menerawang ke dinding dapur. “Ibu diem. Ibu kira diem itu melindungi.”
“Terus, Bu?”
“Terus dia tahu sendiri. Dari orang lain. Dan dia marah.” Bu Ratih tertawa kecil. “Bukan marah karena Ibu ditawarin nikah sama anak lurah. Marah karena Ibu ndak percaya sama dia. Marah karena Ibu mutusin sendiri, apa yang dia kuat dan apa yang dia ndak kuat.”
Aku tidak bisa bicara.
“Laki-laki kayak bapaknya Angga, kayak Angga,” lanjut Bu Ratih pelan, “itu bukan orang yang harus dilindungi dari kebenaran, Nduk. Mereka orang yang paling kuat ngangkat kebenaran. Yang bikin mereka jatuh itu bukan kebenarannya. Tapi ndak dikasih tahu.”
Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya, menghapus air mata.
“Ibu ndak maksa. Itu cerita sampeyan. Tapi jangan kelamaan. Ibu sudah tua. Ibu pengen lihat anak Ibu bahagia sebelum Ibu naik pesawat.”
Aku tertawa di tengah tangis. Bu Ratih juga.
Di luar, petir menyambar. Lalu hujan turun, deras, seperti langit tiba-tiba memutuskan untuk menuang semua airnya sekaligus.
Hujan tidak berhenti selama tiga jam.
Jam sebelas siang, gang di depan rumah sudah tergenang setinggi mata kaki. Jam sebelas lewat tiga puluh, setinggi betis. Saluran air di ujung gang meluap, dan air cokelat mulai masuk ke rumah-rumah yang lantainya lebih rendah. Tetangga-tetangga keluar rumah, mengangkat barang-barang ke tempat lebih tinggi, berteriak satu sama lain.
Aku sedang membantu Bu Ratih memindahkan karung-karung beras dari lantai dapur ke atas meja marmer ketika suara motor terdengar di depan. Menerobos genangan. Lalu berhenti.
Anggana masuk lewat pintu samping, basah kuyup dari kepala sampai kaki. Ia masih memakai kemeja kantor. Kerahnya tidak lagi miring. Kerahnya sudah lepas sama sekali, satu kancing atasnya copot, entah di mana.
“Bu, aman?”
“Aman, Le. Dapur tinggi.”
“Mbah Sumi?”
Bu Ratih menoleh ke jendela. Wajahnya berubah. “Ya Allah. Mbah Sumi.”
Mbah Sumi, Bu Ratih menjelaskan sambil berjalan cepat ke pintu, adalah tetangga paling tua di gang itu. Delapan puluh tiga tahun. Tinggal sendirian di rumah petak paling ujung, rumah yang lantainya paling rendah. Kakinya sudah tidak kuat berjalan jauh. Anaknya bekerja di Kalimantan.
Anggana sudah keluar sebelum Bu Ratih selesai bicara.
Aku mengikutinya ke ambang pintu samping. Air di gang sekarang setinggi lutut, cokelat dan deras, membawa sandal jepit, botol plastik, dan daun-daun. Hujan masih turun seperti tirai.
Aku melihatnya berjalan menembus air ke ujung gang. Langkahnya mantap. Ia tidak berlari, karena berlari di air setinggi lutut bisa membuatmu jatuh. Ia berjalan, cepat dan hati-hati, seperti waktu ia berdiri di tengah war room: tidak panik, tidak berteriak, hanya bergerak.
Ia menghilang ke dalam rumah petak paling ujung.
Dua menit kemudian, ia keluar. Menggendong seorang nenek kecil berkerudung putih di punggungnya. Nenek itu memeluk lehernya dengan dua tangan kurus, wajahnya ketakutan. Di tangan Anggana yang bebas, ia menenteng sebuah tas kain berisi, aku menebak dari bentuknya, obat-obatan dan surat-surat penting.
Ia berjalan kembali menembus air. Pelan. Setiap langkah diperhitungkan. Tetangga-tetangga yang berdiri di teras rumah mereka berhenti mengangkat barang dan menonton. Seorang bapak berteriak, “Hati-hati, Mas Angga! Di depan rumah Pak RT ada lubang!”
Anggana mengangguk dan berjalan memutar, menghindari lubang itu tanpa melihat, seperti orang yang hafal setiap jengkal gang ini sejak kecil.
Ia membawa Mbah Sumi ke rumahnya sendiri. Ke ruang tamu yang lantainya tinggi. Bu Ratih menyambut di pintu dengan handuk dan teh hangat.
Lalu ia keluar lagi.
Kali ini ke lapak. Tenda permanen dengan atap galvalum itu masih berdiri, tapi meja keramiknya terendam setengah. Di bawah meja, ada kotak-kotak plastik berisi stok daun pisang, karet merah, dan termos-termos teh. Anggana mengangkat semuanya, satu per satu, ke teras rumah yang lebih tinggi.
Lalu ia ke gerobak tua di teras samping. Gerobak yang ditanami cabai. Air sudah setinggi rodanya, atau tempat rodanya dulu berada. Ia mengangkat gerobak itu, sendirian, dengan otot lengan yang menegang di balik kemeja basah, dan memindahkannya ke anak tangga paling atas teras.
Aku menatapnya dari ambang pintu dengan dada sesak.
Ia menyelamatkan nenek tetangga lebih dulu. Lalu dagangan ibunya. Lalu gerobak tua yang sudah tidak dipakai lagi, yang tidak ada harganya, yang cuma berisi tanaman cabai.
Ia menyelamatkan semuanya.
Jam dua belas lewat lima belas, hujan mulai reda. Air di gang masih setinggi lutut, tapi tidak lagi naik.
“Luna,” kata Anggana dari teras, napasnya terengah-engah, rambutnya menetes. “Kamu harus pulang. KRL dari Tebet pasti gangguan. Mobilku di parkiran minimarket di jalan raya, aman dari banjir. Aku anter.”
“Aku bisa sendiri—”
“Air di gang setinggi lutut. Ada lubang di depan rumah Pak RT. Ada saluran terbuka di depan rumah Haji Mansur.”
Aku menatap gang yang berubah jadi sungai cokelat. Ia benar. Aku tidak tahu di mana lubangnya.
Ia turun dari teras, masuk ke air. Lalu ia berbalik, dan mengulurkan tangan padaku.
Aku menatap tangan itu.
Tangan yang membungkus dua ratus lima puluh nasi uduk setiap pagi. Yang menulis kode untuk empat puluh ribu penginapan. Yang menggendong Mbah Sumi dan mengangkat gerobak tua. Yang delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, tidak pernah terulur padaku, karena ia tidak pernah meminta apa pun.
Sekarang terulur.
Aku turun dari teras. Air cokelat yang dingin langsung merendam sampai lututku. Aku mengulurkan tanganku.
Ia menggenggamnya.
Tangannya hangat, meskipun basah. Besar, kasar di bagian telapak, dengan kapal di pangkal jari dari bertahun-tahun memegang pisau pemotong daun. Ia menggenggam tanganku dengan kuat, tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuatku tahu bahwa ia tidak akan melepaskan.
“Ikutin langkahku,” katanya. “Injek di tempat yang aku injek.”
Kami berjalan menembus gang yang banjir. Ia di depan, aku di belakang, tangan kami bertaut. Ia berjalan pelan, memutar lubang di depan rumah Pak RT, memutar saluran terbuka di depan rumah Haji Mansur. Setiap beberapa langkah, ia menoleh ke belakang, memastikan aku masih di sana.
Aku masih di sana.
Tetangga-tetangga menonton dari teras-teras rumah mereka. Seorang ibu berdaster berbisik ke ibu di sebelahnya, cukup keras untuk terdengar: “Itu calonnya Mas Angga, ya?” Ibu di sebelahnya menjawab: “Yang tiap Sabtu bungkus nasi uduk itu, toh? Yang bungkusannya miring?”
Aku tidak menoleh. Wajahku panas, meskipun air di kakiku dingin.
Lima puluh langkah sampai mulut gang. Lalu jalan raya, yang airnya hanya setinggi mata kaki. Lalu trotoar, yang kering. Lalu parkiran minimarket, tempat SUV-nya terparkir di bagian paling tinggi.
Kami sudah keluar dari air.
Ia tidak melepas tanganku.
Kami berjalan di trotoar yang kering, melewati tukang gorengan yang sedang membuka payung besar, melewati anak-anak yang bermain air di pinggir jalan, melewati warung kopi Bang Udin yang pemiliknya melambaikan tangan dan berteriak, Woy, Angga! Bawa apaan tuh?
Ia tidak melepas tanganku.
Kami sampai di depan mobilnya. Ia mengeluarkan kunci dari saku celana basahnya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih menggenggam tanganku. Ia menekan tombol. Lampu mobil berkedip. Ia membuka pintu penumpang.
Lalu, akhirnya, ia melepas tanganku.
Pelan. Tidak cepat. Jari-jarinya meluncur dari jari-jariku, satu per satu, seperti orang yang tidak terlalu ingin melepas tapi tahu harus.
“Masuk,” katanya.
Aku masuk. Ia menutup pintu. Ia berjalan memutar ke sisi kemudi, masuk, dan menyalakan mesin. Ia tidak menatapku. Ia menatap lurus ke depan, ke jalan yang basah, dengan tangan di atas setir.
Tangan kanannya, yang tadi menggenggam tanganku, mengepal pelan di atas setir. Lalu membuka. Lalu mengepal lagi.
Seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang baru saja dipegangnya.
Aku menatap tanganku sendiri di pangkuan. Masih hangat.
Laki-laki kayak Angga itu bukan orang yang harus dilindungi dari kebenaran, Nduk.
Mobil berjalan. Hujan sudah benar-benar reda. Di langit barat, awan hitam mulai pecah, dan di celahnya ada sedikit biru.
Aku tidak bilang apa-apa sepanjang perjalanan ke Depok. Ia juga tidak.
Tapi di lampu merah di Pasar Minggu, waktu mobil berhenti, aku melirik ke samping. Ia sedang menatap tangannya sendiri di atas setir.
Dan ia tersenyum. Sedikit. Ke tangannya, bukan ke aku.
Senyum yang bukan untuk semua orang.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat reading
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis