Chapter Nineteen
Dara vs Aluna, Ronde Satu
POV: Aluna
Dara makan kue lumpur buatan Mama dalam tiga gigitan, tanpa melepaskan pandangannya dariku.
Ia duduk di kursi plastik di sudut dapur dengan piyama beruang, kacamata yang sudah dibetulkan posisinya, dan wajah yang menurutku pasti pernah membuat direktur keuangan perusahaan multinasional mengaku menyembunyikan sesuatu di catatan kaki. Setiap gigitan, ia mengunyah perlahan. Setiap kunyahan, matanya tidak beralih dari wajahku.
Gigitan terakhir. Ia menelan.
“Enak,” katanya datar. “Itu nggak masuk penilaian.”
“Oke,” kataku.
“Mamamu yang bikin, bukan kamu. Jadi poinnya buat mamamu.”
“Masuk akal.”
Dara menyipitkan mata. Ia tampak tidak puas karena aku tidak membantah.
Di depan kompor, Bu Ratih membungkus nasi uduk dengan kecepatan sembilan detik per bungkus dan wajah setenang permukaan danau. Di lapak depan, Anggana melayani antrean pelanggan pagi. Aku bisa mendengar suaranya dari dapur, rendah dan sopan. Telur balado atau dadar? Sambalnya dipisah? Sepuluh ribu, Pak.
Lalu, jam enam kurang sepuluh, ia muncul di pintu samping dapur dengan dua kantong kresek besar berisi bungkusan nasi uduk.
“Bu, aku antar ke Bang Udin dulu.”
“Iya, Le. Hati-hati.”
Ia menoleh padaku. Menoleh pada Dara. Kembali padaku. Aku melihat sesuatu berhitung di kepalanya, seperti orang yang menimbang apakah aman meninggalkan dua kabel bertegangan tinggi di ruangan yang sama.
“Dar,” katanya.
“Hm.”
“Baik-baik.”
“Aku selalu baik, Kak.”
Anggana menatap adiknya satu detik lagi. Lalu pergi. Aku mendengar suara motor bebek dinyalakan di depan rumah, lalu menjauh.
Begitu suara motor itu hilang di ujung gang, Dara berdiri.
“Ikut aku,” katanya.
Ia membawaku ke teras samping rumah, ke dekat gerobak tua yang ditanami cabai. Matahari belum terbit, tapi langit di timur sudah berubah dari hitam menjadi biru tua, lalu biru keabu-abuan. Udara pagi masih dingin. Dari lapak di depan, suara Bu Ratih melayani pelanggan terdengar samar.
Dara berdiri di depanku dengan tangan bersedekap. Tingginya sekarang hampir sama denganku, lebih pendek sedikit, mungkin dua senti. Waktu terakhir aku melihatnya di gerbang sekolah, ia baru setinggi bahu kakaknya. Sekarang ia perempuan dewasa dengan bahu tegak dan mata yang tidak berkedip.
Ia mirip kakaknya. Aku baru menyadarinya pagi itu. Bukan wajahnya, wajahnya lebih mirip Bu Ratih. Tapi cara berdirinya. Cara diamnya sebelum bicara. Cara matanya membaca.
“Aku mau tanya satu hal,” kata Dara. “Dan kamu harus jawab jujur.”
“Oke.”
“Kamu ngapain di rumah kami jam empat pagi?”
“Balikin handuk.”
“Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda. Kakakmu minjemin handuk waktu hujan hari Rabu. Aku balikin.” Aku menarik napas. “Dan aku mau lihat.”
“Lihat apa?”
Aku menatap gerobak tua itu. Kayunya yang lapuk. Tanaman cabai yang buahnya merah kecil-kecil.
“Lihat tempat dia tumbuh,” kataku. “Dunia jam empat pagi. Yang dulu cuma dia ceritain.”
Dara diam. Rahangnya mengeras sedikit.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “berapa kali Kakak pulang dari konter jam delapan malam terus masih bantu Ibu nyiapin daun pisang buat besok?”
“Nggak.”
“Setiap hari. Tiga tahun. Kamu tahu berapa kali dia bilang capek?”
“Nggak pernah,” kataku. “Dia nggak pernah bilang capek.”
“Nol kali.” Dara mengangkat dagunya. “Kamu tahu berapa kali dia nangis?”
Aku tidak menjawab.
Angin pagi bertiup. Daun-daun cabai di gerobak tua bergoyang pelan.
“Sekali,” kata Dara.
Suaranya tidak naik. Suaranya justru turun. Pelan. Datar. Seperti auditor yang membacakan temuan paling serius di akhir laporan, setelah semua temuan kecil sudah dibacakan.
“Sejak Bapak meninggal, Kakak nggak pernah nangis. Nggak waktu dipanggil ke TU. Nggak waktu Ibu tifus. Nggak waktu dia dihukum nyanyi di depan tiga ratus orang. Nggak waktu dia diejek anak dealer mobil di depan gerbang sekolah. Aku nggak pernah liat dia nangis. Ibu juga nggak pernah.”
Ia menatapku lurus.
“Kecuali satu malam. Delapan belas September dua ribu tujuh belas.”
Aku berhenti bernapas.
“Dia pulang jam delapan. Makan malam. Ketawa waktu aku cerita guru IPS-ku salah nyebut ibu kota Kanada. Nambah nasi. Cuci piring.” Dara menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca, dan aku melihatnya berusaha keras untuk tidak membiarkan air mata itu jatuh. “Terus dia masuk kamar mandi. Nyalain keran bak sekenceng-kencengnya. Dan aku denger dia nangis. Dari balik pintu. Pelan banget. Dia nutup mulutnya, aku tahu dia nutup mulutnya, karena suaranya kayak... kayak orang yang lagi berusaha nggak ada.”
Tanganku gemetar. Aku menyembunyikannya di saku jaket denim yang masih bau santan.
“Aku umur lima belas,” kata Dara. “Aku nggak tahu harus ngapain. Aku nggak berani ketuk pintu, karena Kakak bakal malu, dan Kakak nggak pernah malu di depan aku. Jadi aku bikin teh. Manis banget, karena tanganku gemeter dan gulanya kebanyakan. Aku taruh di depan pintu kamar mandi pakai piring kecil biar nggak dirubung semut. Terus aku lari ke kamar dan pura-pura tidur.”
Aku teringat wajahnya di bawah pohon ketapang. Senyum yang bukan senyum untuk semua orang. Makasih udah dengerin, Aluna. Aku teringat bahwa ia tersenyum. Bahwa ia bilang ia lega. Bahwa ia mendoakan kebahagiaanku dengan orang yang ia kira menggantikannya.
Lalu ia pulang, makan malam, mencuci piring, dan menangis di kamar mandi dengan keran menyala supaya tidak ada yang mendengar.
Dan adiknya yang berumur lima belas tahun mendengar.
“Kakak nggak pernah tahu aku denger,” kata Dara. “Aku nggak pernah cerita. Ke siapa pun. Bahkan ke Ibu.”
“Kenapa kamu cerita ke aku?”
“Karena kamu harus tahu.” Air mata pertama jatuh di pipi Dara. Ia menghapusnya dengan cepat, kasar, dengan punggung tangan, seperti orang yang marah pada air matanya sendiri. “Kamu satu-satunya orang yang pernah bikin kakakku nangis. Satu-satunya. Di seluruh hidupnya. Bukan kematian Bapak, karena itu bukan orang. Bukan tagihan SPP. Bukan anak dealer mobil. Kamu.”
Aku tidak bisa bicara.
Delapan tahun aku berkata pada diriku sendiri bahwa keputusanku benar. Bahwa ia pergi ke Bandung, terbang, membangun sesuatu. Bahwa ia baik-baik saja. Aku tahu penolakanku menyakitinya. Aku tahu. Tapi aku membayangkan rasa sakit itu seperti luka kecil yang cepat sembuh. Seperti goresan di jari waktu melipat kertas. Aku membayangkan ia sedih seminggu, lalu sibuk dengan ujian dan beasiswa, lalu lupa.
Aku tidak pernah membayangkan keran yang menyala.
Aku tidak pernah membayangkan anak laki-laki yang tidak menangis sejak umur delapan tahun, duduk di lantai kamar mandi yang basah, menutup mulutnya dengan tangan.
Karena aku.
Karena keputusan yang kuambil untuknya, tanpa bertanya, tanpa memberinya pilihan.
“Dan sekarang,” lanjut Dara, suaranya kembali mengeras, “setelah delapan tahun, setelah Kakak susah payah kuliah, bikin perusahaan dari kamar asrama, kerja sampai jam dua pagi bertahun-tahun, sampai akhirnya sukses, sampai bisa beliin Ibu rumah dua lantai, kamu datang.”
Ia menunjuk dadaku.
“Kamu naik KRL. Kamu tinggal di Depok. Papamu di kursi roda. Kakak cerita semalem, waktu pulang dari nganter kamu. Dia nggak bilang apa-apa yang jelek, Kakak nggak pernah bilang yang jelek soal orang. Tapi aku auditor. Aku bisa nyambungin angka.” Ia menarik napas. “Delapan tahun lalu, waktu Kakak anak tukang nasi uduk dan kamu anak orang kaya, kamu nolak dia. Sekarang Kakak CTO perusahaan bernilai triliunan dan kamu yang naik KRL, kamu ngejar dia. Kamu benerin kerahnya. Kamu bilang ‘tujuanku jelas dari awal’. Kamu dateng ke rumah kami jam empat pagi.”
Ia menatapku dengan mata basah dan wajah yang keras seperti batu.
“Jelasin ke aku,” katanya, “kenapa aku nggak boleh mikir kamu datang karena Kakak sekarang sukses.”
Aku punya jawabannya.
Aku punya jawaban yang lengkap. Jawaban yang akan membuat Dara menatapku dengan cara yang berbeda. Om Gunawan. Bank. Rumah yang dilelang. Pintu ruang wali kelas. Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya. Bastian yang bukan siapa-siapa. Tabungan kamera yang kubawa tunai ke ruang TU. Memo kuning di balik casing HP-ku. Dua ratus delapan puluh delapan karet merah di laci meja kantor.
Aku bisa menceritakan semuanya, sekarang, di teras samping ini, di depan gerobak tua yang ditanami cabai. Dan Dara, yang auditor, yang bisa menyambungkan angka, akan mengerti. Mungkin ia akan menangis lagi. Mungkin ia akan berhenti menatapku seperti batu.
Aku membuka mulut.
Lalu aku membayangkan Dara menceritakannya ke kakaknya. Kak, ternyata Aluna punya alasan. Ternyata papanya bangkrut waktu itu. Ternyata dia yang bayar SPP Kakak. Dan aku membayangkan wajahnya. Senyum yang sama untuk semua orang. Oh. Kasihan dia. Rasa bersalah. Rasa kasihan. Pertolongan.
Orang ke empat puluh delapan di buku biru.
Aku menutup mulut.
“Kamu benar,” kataku.
Dara mengerjap.
“Aku pernah bikin dia nangis,” kataku pelan. “Aku nggak akan bilang kamu salah soal itu. Kamu nggak salah. Aku yang salah. Dan aku nggak akan minta kamu maafin aku, karena aku juga belum maafin diri sendiri.”
Dara membuka mulut. Menutupnya. Wajahnya berubah, sedikit, dari batu menjadi sesuatu yang bingung. Ia sudah menyiapkan diri untuk debat. Ia sudah menyiapkan tiga puluh tujuh argumen tandingan, aku yakin. Ia tidak menyiapkan diri untuk pengakuan.
“Tapi,” kataku, “aku nggak datang karena dia sukses.”
“Buktiin.”
“Aku nggak bisa buktiin pakai kata-kata.” Aku menatap gerobak tua itu. Menatap langit di timur yang mulai jingga. “Kata-kata gampang. Kamu auditor. Kamu tahu orang bisa bilang apa aja. Yang nggak bisa bohong itu angka. Itu catatan. Itu yang terjadi berulang-ulang.”
“Terus?”
“Aku bakal datang tiap Sabtu,” kataku. “Jam empat pagi. Bantu Ibu bungkus. Sampai aku bisa bungkus sembilan detik. Sampai kamu nggak bisa nemu satu pun temuan buat dimasukin ke spreadsheet itu.”
Dara menatapku seperti aku baru saja mengatakan bahwa aku akan berenang dari Ancol ke Kepulauan Seribu.
“Kamu tahu soal spreadsheet?”
“Kakakmu nggak bilang. Tapi kamu kelihatan kayak orang yang punya spreadsheet.”
Hening.
Lalu Dara tertawa. Satu kali. Pendek dan kaget, seperti tawa yang keluar tanpa izin. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, seperti kakaknya, dan menatapku dengan marah karena aku berhasil membuatnya tertawa.
“Itu nggak lucu,” katanya dari balik tangan.
“Oke.”
“Kamu nggak bakal tahan. Jam tiga pagi dari Depok. Tiap minggu.”
“Mungkin.”
“Kamu bakal nyerah di minggu ketiga.”
“Mungkin.”
Dara menurunkan tangannya. Ia menatapku lama, dengan mata yang masih basah dan sesuatu di belakangnya yang sedang berhitung ulang, seperti kalkulator yang menemukan dua angka yang seharusnya tidak cocok tapi cocok.
“Kalau gitu,” katanya akhirnya, “aku juga bangun jam tiga.”
“Hah?”
“Tiap Sabtu. Aku bangun jam tiga. Aku awasin kamu.” Ia mengangkat dagu. “Audit lapangan. Langsung di lokasi.”
“Kamu pulang kerja jam satu pagi kemarin.”
“Aku kuat.” Dara berbalik ke arah pintu dapur, lalu berhenti dan menoleh. “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan sampai Kakak nangis lagi.” Suaranya pelan. “Kalau sampai Kakak nangis lagi karena kamu, aku nggak bakal pakai spreadsheet. Aku bakal pakai panci.”
Lalu ia masuk ke dapur, dan aku mendengar suaranya berubah dalam sekejap, dari pengawal galak menjadi anak bungsu yang manja: “Bu, aku mau bungkus juga. Ajarin aku yang sembilan detik.”
“Kamu udah bisa dari SD, Nduk.”
“Aku lupa. Ajarin lagi.”
Anggana kembali jam enam lewat dua puluh, dengan kantong kresek kosong dan wajah yang langsung mencari-cari. Ia melihatku di lapak depan, menyerahkan bungkusan ke pelanggan. Ia melihat Dara di dapur, membungkus nasi uduk di sebelah ibunya dengan kecepatan yang mencurigakan, seperti sedang lomba.
Ia melihat bahwa tidak ada yang berdarah.
Bahunya turun. Sedikit. Lega.
“Kalian ngobrol?” tanyanya padaku dengan suara pelan, sambil menata bungkusan di rak.
“Iya.”
“Soal apa?”
Aku menatapnya. Kemeja kantornya tidak ada, ia masih memakai kaus putih tipis dan celana pendek, dengan handuk hijau tua tersampir di leher. Rambutnya sudah kering, berantakan. Di lengan kirinya ada noda sambal kacang.
Aku memikirkan keran yang menyala. Teh manis di atas piring kecil. Anak laki-laki yang menutup mulutnya dengan tangan supaya tidak ada yang mendengar.
Ia tidak tahu Dara mendengar. Ia tidak tahu aku sekarang tahu.
Aku ingin memeluknya. Di tengah lapak, di depan antrean pelanggan, di depan Pakde Sarno yang sedang menghitung uang receh. Aku ingin memeluknya dan bilang maaf, seribu kali, sampai kata itu kehilangan arti.
Aku tidak melakukannya.
“Soal sembilan detik,” kataku.
Ia menatapku. Bingung.
“Bungkus nasi uduk,” kataku. “Aku mau bisa sembilan detik.”
“Itu butuh bertahun-tahun.”
“Aku punya bertahun-tahun.”
Ia diam. Menatapku lama. Lalu mengangguk pelan, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang lebih dari soal nasi uduk, dan ia tidak yakin apa.
Aku pulang jam tujuh lewat lima belas, naik KRL dari Stasiun Tebet. Hari Sabtu pagi, keretanya tidak penuh. Aku dapat tempat duduk di gerbong khusus perempuan, di dekat jendela.
Di luar, Jakarta lewat dalam warna-warna pagi. Atap-atap rumah. Jemuran di balkon. Anak-anak naik sepeda di gang. Kereta bergoyang pelan, berbunyi di sambungan rel, dug-dug, dug-dug, seperti detak jantung yang lambat.
Aku memeluk tas kertas kosong di pangkuanku. Bajuku, kaus abu-abu dan jaket denim yang bau santan, kubawa di kantong plastik. Aku masih memakai daster batik Bu Ratih, karena Bu Ratih bilang bawa aja, Nduk, nanti Sabtu depan dibalikin. Seolah sudah pasti ada Sabtu depan.
Seorang ibu-ibu di kursi seberang menatap dasterku dengan heran. Aku tersenyum padanya. Ia tersenyum balik dengan ragu.
Lalu aku menatap jendela, dan menangis.
Diam-diam. Tanpa suara. Air mata jatuh satu-satu ke pipiku, ke dagu, ke daster batik yang bukan milikku. Aku tidak menghapusnya. Aku membiarkannya jatuh, seperti hujan di jendela mobilnya hari Rabu, seperti santan dari baskom stainless.
Kalau aku menerimanya, ia akan memikulku.
Kalau aku menolaknya, ia akan bebas.
Itu hitunganku delapan tahun lalu. Hitungan yang kubuat sendirian, di tangga darurat, dengan wajah tertutup dua tangan. Hitungan yang tidak pernah kuperiksa ulang, karena hasilnya tampak benar: ia terbang. Ia sukses. Ia bahagia.
Tapi aku lupa memasukkan satu angka.
Keran yang menyala.
Aku lupa bahwa membebaskan seseorang bukan berarti ia tidak terluka. Aku lupa bahwa orang yang tidak pernah menangis bukan berarti orang yang tidak bisa terluka. Aku lupa bahwa ia juga manusia, bukan cuma orang yang menolong semua orang. Aku memperlakukannya seperti angka di model keuangan: input, output, hasil terbaik. Aku tidak pernah bertanya apa yang ia rasakan. Aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk bilang aku nggak mau dibebaskan dengan cara ini.
Aku memutuskan untuknya. Dan ia membayar keputusanku di lantai kamar mandi, dengan keran menyala, sendirian.
Kereta melambat. Stasiun Pasar Minggu. Pintu terbuka, orang-orang naik dan turun. Pintu tertutup. Kereta berjalan lagi.
Aku mengeluarkan HP dan melepas casing-nya. Memo kuning itu masih di sana, terlipat empat, tepinya lembek seperti kain.
Saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.
Ia menulisnya dengan tangan gemetar di ruang TU, dua hari setelah dipanggil dengan suara keras di depan teman sekelas. Ia tidak tahu siapa yang membayar. Ia berjanji membalas orang yang tidak ia kenal.
Dan setahun kemudian, orang yang tidak ia kenal itu membuatnya menangis dengan keran menyala.
Aku memasang casing HP kembali. Aku menghapus air mata dengan lengan daster Bu Ratih. Aku menatap jendela.
Sabtu depan, jam tiga pagi, aku akan naik ojek dari Depok lagi.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke Dara. Dara benar. Aku tidak bisa membuktikan apa pun dengan kata-kata.
Aku akan datang karena aku berutang delapan tahun Sabtu pagi. Dan aku akan membayarnya satu bungkus demi satu bungkus, sampai tanganku bisa membungkus dalam sembilan detik, sampai ia tertawa lagi tanpa harus menahan diri sampai telinganya merah.
Sampai, suatu hari nanti, ia tidak perlu menyalakan keran lagi untuk apa pun.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu reading
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis