← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Four

Orang yang Menolong Semua Orang

POV: Anggana

Daftar kelas XI ditempel di papan pengumuman lobi hari Senin pagi, dan dalam lima menit papan itu sudah dikerubungi seperti gerobak Ibu di jam enam.

Aku tidak ikut berdesakan. Aku berdiri di belakang, menunggu kerumunan menipis, karena tahun lalu aku melihat seorang anak kelas sepuluh terinjak kakinya sampai sepatunya lepas, dan aku tidak mau jadi anak itu. Lagi pula, aku sudah tahu aku masuk IPA. Yang aku tidak tahu cuma IPA berapa, dan bersama siapa.

Ucup yang menerobos untukku. Ia muncul dari tengah kerumunan dengan seragam yang sudah keluar dari celana di satu sisi dan wajah seperti orang yang baru menang undian motor.

“Bro.”

“Kelas berapa?”

“XI IPA 2.” Ia mencengkeram kedua bahuku. “Kita sekelas. Tapi itu bukan berita utamanya.”

“Terus?”

Ia menarik napas panjang dengan dramatis, seperti pembawa acara kuis sebelum mengumumkan pemenang.

“Aluna Prameswari Hadinata. XI IPA 2.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku juga tidak tersenyum. Atau setidaknya, aku pikir aku tidak tersenyum, sampai Ucup menunjuk wajahku dan berkata, “Tuh kan. Tuh. Pipi lo naik sendiri. Gue udah bilang dari kelas sepuluh, lo nggak bisa nyembunyiin apa-apa, muka lo kayak papan pengumuman.”


Kelas XI IPA 2 ada di lantai tiga, di ujung koridor yang menghadap lapangan basket. Jendelanya besar-besar, dan di pagi hari cahaya matahari masuk miring, membentuk kotak-kotak terang di lantai keramik.

Aku duduk di bangku ketiga dari depan, dekat jendela. Ucup langsung mengklaim kursi di sebelahku dengan melempar tasnya seperti orang menancapkan bendera di gunung.

Aluna masuk sepuluh menit kemudian bersama Sisil.

Libur kenaikan kelas membuatnya sedikit berbeda. Rambutnya masih panjang, tapi sekarang ujungnya sedikit bergelombang, seolah ia baru menghabiskan dua minggu di dekat laut. Kulitnya sedikit lebih gelap di bagian tulang pipi dan batang hidung, warna madu yang hangat, dan itu membuat matanya yang cokelat terang tampak lebih terang lagi. Ia sedikit lebih tinggi juga, atau mungkin cuma cara ia berdiri yang berubah: lebih santai, kurang kaku, seperti seseorang yang mulai nyaman dengan dirinya sendiri.

Ia melihatku. Lalu tersenyum, senyum yang naik pelan dari sudut bibir dan berakhir di matanya.

“Anggana.”

“Aluna.”

“Bawa cadangan?”

“Bawa.”

Sisil memutar bola matanya sampai hanya putihnya yang terlihat. “Kalian tuh ya. Setahun. Setahun dialognya cuma itu.”

Aluna menarik Sisil ke bangku tepat di belakangku. Tepat di belakang. Aku bisa mendengar ia meletakkan tasnya, menggeser kursinya, membuka tempat pensil. Aku bisa mencium wangi samponya, sesuatu yang lembut seperti melati dicampur sabun bayi, setiap kali angin dari jendela berembus ke arah belakang.

Pelajaran pertama Kimia. Aku tidak ingat satu pun yang diajarkan.


Malam itu, Dara mendapat informasi dalam waktu kurang dari tiga menit setelah aku pulang. Aku masih membuka tali sepatu waktu ia muncul di ambang pintu dengan buku PR di pelukan dan wajah penyidik.

“Kelas berapa?”

“XI IPA 2.”

“Sama siapa aja?”

“Ucup. Gilang. Sisil. Banyak.”

“Banyak itu siapa aja?”

Aku menarik sepatu kiri. Lalu sepatu kanan. Lalu kaus kaki, pelan-pelan, karena aku tahu begitu aku mengangkat wajah, Dara akan membaca semuanya di sana.

“Kakak,” kata Dara, nadanya turun satu oktaf, “perempuan nasi uduk itu sekelas sama Kakak, kan?”

“Namanya Aluna.”

“Aku nggak nanya namanya.” Ia menatapku dengan mata menyipit, lalu menghela napas panjang seperti ibu-ibu yang anaknya baru pulang membawa rapor merah. “Duduk di mana?”

“Di belakang Kakak.”

Dara menjatuhkan buku PR-nya ke lantai. Dari dapur, Ibu tertawa sampai sutil yang dipegangnya membentur wajan.

“Bu!” protes Dara. “Ibu kok ketawa? Ini bahaya!”

“Bahaya apanya, Nduk?”

“Dia di belakang Kakak. Kakak nggak bisa lihat dia, tapi dia bisa lihat Kakak terus. Itu posisi strategis!”

Ibu mematikan kompor, muncul di pintu dapur sambil mengelap tangan, dan menatapku dengan senyum yang membuatku ingin masuk ke kolong meja.

“Le,” katanya, “besok bawa nasi uduknya tiga, ya. Biar temanmu yang di belakang itu nggak cuma lihat punggungmu.”

Aku tidak membawa tiga. Aku tetap membawa dua, seperti biasa. Tapi malam itu, Dara memeriksa tasku sebelum tidur, menghitungnya, lalu menatapku dengan wajah orang yang sudah tahu jawaban sebuah teka-teki tapi belum mau mengumumkannya.


Bulan pertama kelas sebelas, aku melakukan hal-hal yang selalu kulakukan.

Aku tidak menganggapnya istimewa. Bagiku itu seperti bernapas. Kalau kipas angin di langit-langit kelas berbunyi seperti helikopter mau jatuh, aku naik ke meja dan mengencangkan bautnya. Kalau Bu Wati guru Biologi membawa tumpukan buku latihan setinggi dagu, aku mengambil separuhnya. Kalau proyektor di ruang multimedia menampilkan warna ungu semua, aku menggoyang kabelnya, menemukan pin yang bengkok, dan meluruskannya dengan ujung jangka.

Mak Inah di kantin tidak kuat mengangkat tabung gas tiga kilo ke atas kompor. Aku mengangkatnya. Pak Karno satpam lupa cara mengirim foto lewat WhatsApp ke anaknya di Medan. Aku mengajarinya, tiga kali, karena tiap besoknya ia lupa lagi. Teman sekelas yang namanya Gilang tidak bisa piket hari Kamis karena harus mengantar adiknya terapi, jadi aku menggantikannya. Hujan turun waktu pulang dan seorang anak kelas sepuluh yang tidak kukenal berdiri bingung di lobi tanpa payung. Aku meminjamkan payungku, lalu mengayuh sepeda pulang dengan baju basah kuyup.

Aku tidak mencatat semua itu. Tidak pernah terpikir untuk mencatatnya.

Ternyata ada orang lain yang mencatat.


Hari Jumat di akhir bulan, saat jam istirahat, Aluna mengetuk bahuku dari belakang dengan ujung pulpen.

“Anggana. Balik badan.”

Aku memutar kursiku. Ia sedang duduk dengan buku tulis bersampul biru terbuka di meja. Di halaman itu, dengan tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan, ada daftar bernomor.

“Apa itu?”

“Penelitian.” Ia memutar buku itu supaya menghadapku. “Judulnya: Daftar Orang yang Ditolong Anggana dalam Satu Bulan.”

Aku membaca baris pertama.

1. Senin, 18 Juli. Kipas angin kelas. Naik meja tanpa disuruh. Hampir jatuh.

2. Senin, 18 Juli. Bu Wati. Buku latihan. Ngambil separuh tanpa ditanya.

3. Selasa, 19 Juli. Gilang. Pinjam kalkulator. Nggak dibalikin sampai sekarang. (Anggana nggak nagih.)

Aku membalik halaman. Daftarnya berlanjut. Halaman berikutnya juga. Di setiap baris ada tanggal, nama, dan catatan kecil dalam kurung yang ditulis dengan nada seperti petugas sensus yang mulai kehilangan kesabaran.

22. Kamis, 28 Juli. Pak Karno. WhatsApp. Ketiga kalinya. (Anggana senyum terus. Pak Karno juga senyum terus. Nggak ada yang belajar apa-apa.)

31. Rabu, 3 Agustus. Anak kelas X, nggak tahu namanya. Payung. (Anggana pulang basah. Besoknya bersin-bersin. Nggak ngaku pilek.)

Nomor terakhir di halaman ketiga adalah empat puluh tujuh.

Aku mengangkat kepala. Aluna menatapku dengan tangan terlipat di atas meja, dagunya bertumpu di atas tangan, rambutnya jatuh menutupi separuh bahu.

“Empat puluh tujuh,” katanya. “Dalam satu bulan.”

“Kamu ngitung?”

“Aku duduk di belakangmu. Aku nggak punya pilihan.”

Ucup, yang dari tadi pura-pura membaca komik, mencondongkan badan untuk mengintip. “Gue masuk nggak?”

“Nomor sembilan, empat belas, dua puluh enam, tiga puluh, dan tiga puluh delapan,” kata Aluna tanpa melihat bukunya. “Kamu pinjam uang buat bakso dua kali, pinjam PR Fisika dua kali, dan minta dia bilangin ke Bu Wati kalau kamu sakit perut padahal kamu main PS di rumah Gilang.”

Ucup menarik badannya kembali dengan wajah orang yang baru dibacakan dakwaan. “Gue ngerasa diserang.”

“Kamu memang diserang.”

Aku tertawa. Aluna tidak. Ia masih menatapku, dan ekspresinya berubah sedikit, dari jahil jadi serius.

“Sekarang pertanyaanku,” katanya. “Dalam satu bulan ini, kamu minta tolong ke siapa?”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.

Ia menunggu. Sabar. Seperti malam di telepon waktu kelas sepuluh, jam satu pagi, waktu ia menanyakan hal yang sama dan aku tidak bisa menjawab.

“Nggak ada,” kataku akhirnya.

“Nol.”

“Nol.”

“Empat puluh tujuh banding nol.” Ia mengetuk buku itu dengan pulpen. “Ini bukan statistik, Anggana. Ini kecelakaan.”

“Aku nggak butuh apa-apa.”

“Semua orang butuh sesuatu.”

“Aku punya Ibu, punya Dara, punya kerjaan, punya sepeda. Aku cukup.”

“Itu bukan jawaban. Itu daftar.” Ia menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Cahaya dari jendela jatuh di separuh wajahnya, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya terlihat lebih jelas. “Ada satu hal lagi yang aku perhatiin.”

“Apa?”

“Senyummu.”

Aku diam.

“Kamu senyum ke Bu Wati. Ke Pak Karno. Ke Mak Inah. Ke anak kelas sepuluh yang kamu kasih payung. Ke Gilang yang nggak balikin kalkulator. Ke Ucup yang bohong soal sakit perut.” Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Senyumnya sama. Persis sama. Kayak dicetak.”

“Masa senyum harus beda-beda.”

“Nggak harus.” Ia menatapku lama. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, nyaris tidak terdengar di tengah riuhnya kelas saat istirahat: “Ke aku juga sama?”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Aku tahu. Aku tahu persis bahwa setiap kali aku menoleh ke belakang dan melihatnya, ada sesuatu yang terjadi di wajahku yang tidak terjadi untuk Bu Wati atau Pak Karno. Aku bisa merasakannya, seperti otot yang berbeda ikut bergerak. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa mengatakan semuanya.

Dan aku belum siap mengatakan semuanya. Tidak di kelas sebelas. Tidak di jam istirahat, dengan Ucup di sebelahku dan Sisil yang pura-pura tidur tapi telinganya jelas terbuka.

Aluna menunggu lima detik. Lalu ia tersenyum, sedikit, dan menutup buku birunya.

“Nggak usah dijawab,” katanya. “Aku cuma penasaran.”


Pelajaran terakhir hari itu Matematika, dan Pak Saragih memberi kami latihan soal yang harus dikumpulkan sebelum pulang.

Di soal nomor tujuh, aku salah menulis tanda. Aku meraba tempat pensilku. Penghapusku tidak ada. Aku ingat sekarang: tadi pagi Gilang meminjamnya. Seperti kalkulatornya, penghapus itu kemungkinan tidak akan pernah kembali.

Aku menatap soal nomor tujuh. Aku bisa mencoretnya. Aku bisa menulis ulang di sebelahnya. Itu yang biasanya kulakukan. Itu yang selalu kulakukan.

Tapi di belakangku, aku mendengar Aluna menggoreskan pensilnya dengan cepat, dan aku teringat buku biru itu. Empat puluh tujuh banding nol.

Aku memutar kursiku setengah.

“Aluna.”

Ia mengangkat kepala. “Hm?”

“Boleh minta tolong?”

Ia membeku.

Pensilnya berhenti di tengah angka. Matanya membesar. Sisil di sebelahnya langsung membuka mata, padahal sudah dua puluh menit pura-pura tidur. Ucup di sebelahku menjatuhkan penggarisnya.

“Apa?” kata Aluna. Suaranya naik setengah oktaf. “Apa? Kamu butuh apa? Bilang aja.”

“Pinjam penghapus.”

Hening sedetik.

Lalu Aluna mengambil penghapusnya, penghapus putih berbentuk persegi dengan sudut yang sudah tumpul, dan menyerahkannya padaku dengan kedua tangan. Pelan. Khidmat. Seperti petugas museum menyerahkan artefak kerajaan.

“Ini,” katanya. “Pakai. Pakai sepuasnya. Nggak usah dibalikin.”

“Aku cuma salah satu tanda.”

“Nggak apa-apa. Hapus semua tanda. Hapus semua soal.”

Sisil menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar. Ucup memukul meja pelan-pelan dengan kepalan tangan, berulang-ulang, seperti orang menonton pertandingan bola di menit terakhir.

“Kalian kenapa?” tanyaku.

“Nomor satu,” kata Aluna. Ia sudah membuka buku birunya lagi, ke halaman baru, dan menulis dengan huruf yang lebih besar dari biasanya. “Jumat, 19 Agustus. Anggana minta tolong. Ke Aluna. Pinjam penghapus.”

Ia menggarisbawahinya dua kali.

Lalu ia menatapku, dan aku melihat matanya berkilau dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari penghapus. Seperti ia baru saja membuka pintu yang selama ini terkunci, cuma satu senti, tapi cukup untuk melihat ada cahaya di baliknya.

“Mulai sekarang,” katanya, “kalau kamu butuh apa pun, minta ke aku. Latihan. Biar kamu terbiasa.”

“Latihan minta tolong?”

“Iya. Kamu jago banget nolong, tapi nol besar soal ditolong. Kayak orang yang bisa nyetir tapi nggak bisa duduk di kursi penumpang.” Ia mengetuk buku birunya. “Aku catat. Target semester ini: sepuluh.”

“Sepuluh?”

“Itu udah aku turunin. Awalnya aku mau dua puluh, tapi aku realistis.”

Aku menatapnya. Gadis yang turun dari sedan hitam setahun lalu, yang tidak bisa makan pakai tangan, yang kemarin bilang les pianonya dipindah ke Rabu supaya bisa ikut kelompok belajar Fisika di perpustakaan bersama aku, Ucup, dan Sisil. Gadis yang menghitung semua orang yang kutolong, karena ia ingin tahu apakah ada satu saja yang menolongku balik.

Aku menghapus tanda yang salah di soal nomor tujuh. Lalu aku mengembalikan penghapus itu.

“Makasih,” kataku.

Ia mengambilnya kembali. Ujung jarinya menyentuh telapak tanganku sebentar, sangat sebentar, dan ia tidak menarik tangannya secepat waktu di perpustakaan setahun lalu.

“Sama-sama,” katanya. “Sembilan lagi.”


Malam itu, di konter Cahaya Cell, Mas Bowo menatapku dari balik etalase sambil mengunyah gorengan.

“Lo kenapa senyum-senyum sambil ganti LCD?”

“Nggak apa-apa.”

“Bang,” panggil Mas Bowo ke arah Bang Jali yang sedang menonton sinetron. “Bocah ini senyum-senyum sendiri dari jam empat. Kesurupan apa gimana?”

Bang Jali tidak menoleh dari TV. “Biarin. Itu namanya masa muda. Lo nggak pernah ngerasain, makanya lo nggak ngerti.”

“Gue pernah muda!”

“Lo dari lahir udah kayak bapak-bapak, Wo.”

Aku menunduk lebih dalam ke layar LCD yang sedang kupasang dan tidak berkata apa-apa. Tapi di kepalaku, satu pertanyaan masih berputar sejak siang, dan aku belum menemukan cara untuk menjawabnya bahkan kepada diriku sendiri.

Ke aku juga sama?

Tidak, Aluna. Tidak pernah sama.

Aku cuma belum tahu bagaimana cara bilang itu tanpa kehilangan kamu.