← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Four

Kamu Memutuskan Untukku

POV: Anggana

Lapak sudah tutup waktu aku sampai jam dua siang.

Tenda galvalum dilipat setengah. Meja keramik sudah dilap bersih. Termos-termos teh dijejer terbalik di rak stainless untuk dikeringkan. Gerobak tua di teras samping tegak di anak tangga paling atas, tempat aku memindahkannya waktu banjir, dan tanaman cabai di dalamnya berbuah lebih lebat dari minggu lalu.

Ibu ada di dapur. Aku tahu dari suara air yang mengalir dan senandung campursari yang liriknya hanya ia hafal separuh.

Aku berdiri di ambang pintu samping dapur dan menatapnya.

Ibu sedang mencuci beras di baskom besar untuk besok pagi. Daster batik, celemek, sanggul putih. Tangannya bergerak di dalam air, meremas butir-butir beras, membuang air keruhnya, mengisi lagi. Gerakan yang sama sejak aku berumur delapan tahun. Gerakan yang menyekolahkanku, membangun rumah ini, dan entah sejak kapan, menyimpan rahasia dari anaknya sendiri.

Ia merasakan aku di pintu. Ia menoleh.

Senandungnya berhenti.

Ia menatap wajahku, dan aku melihat ia tahu. Seperti Aluna di depan ruang rapat Sagara delapan minggu lalu, ketika ia membaca sesuatu di wajahku sebelum aku bicara. Ibu selalu bisa membaca wajahku. Ucup bilang wajahku seperti papan pengumuman. Bagi Ibu, wajahku mungkin seperti buku yang sudah ia baca berkali-kali.

Ibu mematikan keran. Ia mengelap tangan di celemek. Pelan.

“Le,” katanya.

“Bu.” Suaraku keluar tenang. Terlalu tenang. “Aku mau nanya sesuatu.”

Ibu diam.

Aku tidak pernah bertanya hal-hal sulit pada Ibu. Seumur hidup. Aku tidak bertanya kenapa Bapak harus bekerja di proyek bangunan yang tidak aman. Aku tidak bertanya kenapa Ibu menjual cincin kawinnya waktu aku kelas lima. Aku tidak bertanya kenapa Ibu menangis setiap tanggal dua puluh tiga Maret. Aku tahu jawabannya, atau aku pikir aku tahu, dan aku tidak mau membuat Ibu mengucapkannya.

Hari ini aku bertanya.

“Ibu tahu soal Aluna,” kataku. “Dari kapan?”


Ibu menceritakan semuanya.

Ia duduk di kursi plastik di depan meja marmer, aku di seberangnya, dan ia menceritakannya dengan suara yang pelan dan rata, seperti orang yang sudah lama menyiapkan cerita ini dan berharap tidak pernah harus menceritakannya.

Lima tahun lalu. Bulan Oktober. Seorang perempuan muda dengan jaket hitam dan riasan luntur, antre di gerobak jam setengah empat pagi. Ibu mengenalinya dari wisuda. Yang kebaya merah bata. Yang tangannya mau benerin kerahmu, terus ndak jadi. Ibu menutup gerobak setengah jam lebih awal. Ibu membawanya ke dapur kontrakan sempit. Ibu membuatkan teh manis.

Dan Aluna menceritakan semuanya.

“Semuanya, Le,” kata Ibu. “Bapaknya bangkrut. Rumahnya dilelang. Kamu yang mau nolak ITB. Bastian yang bukan siapa-siapa.” Ibu menatap tangannya sendiri di atas meja. “Dan SPP.”

Aku berhenti bernapas.

“SPP?”

Ibu mengangkat kepala. Matanya basah.

“Waktu Ibu tifus,” katanya. “Kamu ndak pernah bilang ke Ibu soal SPP. Ibu baru tahu setahun kemudian dari Pak Hardi. Katanya ada donatur yang bayarin. Tiga bulan, sama dendanya. Ibu doain donatur itu tiap habis sholat. Lima tahun.” Suaranya pecah. “Lima tahun lalu, di dapur itu, Ibu tanya ke dia. SPP tiga bulan itu, sampeyan yang bayar?”

Aku menunggu.

“Dia ngangguk, Le.”

Dunia di dapur itu berhenti.

Bunyi kulkas. Bunyi kipas angin di langit-langit. Bunyi motor lewat di gang. Semuanya terdengar jauh.

Donatur yang tidak mau disebut namanya. Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Memo kuning yang kutulis dengan tangan gemetar di ruang TU. Empat tahun Beasiswa Orang Baik. Dua puluh tiga siswa. Empat kali aku mampir ke ruang TU dan bertanya ke Bu Endang, pernah datang? pernah nanyain saya?

Dan setiap kali, Bu Endang bilang belum, Nak.

Aluna yang membayar. Kelas sebelas. Sebelum keluarganya runtuh. Sebelum pohon ketapang.

Aku teringat lorong di dekat ruang TU. Aluna yang muncul dari belokan, berjalan cepat, menunduk, hampir menabrakku. Dari toilet. Pipinya merah. Matanya sedikit sembap. Yang penting kamu tetap di sini.

Toilet putri di lantai satu ada di ujung lain gedung, dekat kantin.

Aku tahu itu waktu itu. Aku tahu, dan aku tidak memikirkannya. Aku terlalu lega untuk berpikir.

“Terus,” kataku. Suaraku keluar aneh. “Terus apa lagi, Bu?”

Ibu menceritakan sisanya. Akun ojek bernama Jumat. Satu bungkus setiap Jumat, lima tahun. Kerupuk tambahan. Karet merah baru yang datang setiap habis Lebaran tanpa nama. Ibu ndak pernah cerita. Tapi Ibu juga ndak pernah lupa.

“Lima tahun,” kataku.

“Lima tahun.”

“Ibu tahu kenapa dia nolak aku. Ibu tahu dia yang bayar SPP-ku. Ibu tahu dia pesan nasi uduk tiap Jumat. Lima tahun.” Aku menatap Ibu. “Dan Ibu nggak pernah bilang.”

“Dia minta Ibu ndak bilang, Le.”

“Aku anak Ibu.”

Ibu diam. Air matanya jatuh. Satu. Dua.

“Iya,” katanya pelan. “Kamu anak Ibu. Dan dia anak orang yang lagi hancur, yang datang ke Ibu jam setengah empat pagi dan cerita semuanya sambil nangis, dan minta satu hal aja.” Ibu menyeka matanya dengan ujung celemek. “Ibu pikir... Ibu pikir itu bukan cerita Ibu. Itu cerita dia. Kalau mau diceritain, dia yang cerita.”

“Jadi Ibu mutusin buat aku.”

Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menahannya.

Ibu menatapku. Lama. Lalu ia mengangguk. Pelan.

“Iya,” katanya. “Ibu mutusin buat kamu. Ibu salah.”

Aku berdiri.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan tubuhku. Aku berdiri di dapur yang luas dan terang itu, dapur yang kubangun untuk Ibu, dengan meja marmer tempat Aluna belajar membungkus nasi uduk dari empat puluh lima detik sampai dua belas detik, tempat Dara menulis di papan klip, tempat aku menyentuh jari Aluna untuk pertama kalinya tanpa alasan.

Selama enam minggu, setiap Sabtu jam empat pagi, Ibu berdiri di depan kompor dan tersenyum ke arah kami. Senyum yang tenang dan penuh pengetahuan. Senyum orang yang sudah lama menunggu, dan tidak terkejut sama sekali ketika yang ditunggu akhirnya datang.

Ibu tahu. Dari awal.

Semua orang tahu, kecuali aku.

“Aku pergi dulu, Bu,” kataku.

“Le—”

“Aku nggak marah sama Ibu.” Aku mengatakannya dengan sopan. Dengan suara yang tenang. “Aku cuma perlu pergi dulu.”

Aku berbalik ke pintu. Lalu aku berhenti. Tanpa menoleh.

“Bu. Ibu tahu kan, aku ke Bandung bukan karena dia nolak aku?”

Hening di belakangku.

“Aku ke Bandung karena Ibu sama Dara,” kataku. “Karena Ibu tanda tangan duluan. Karena Dara nangis dan teriak. Bukan karena dia.”

Aku mendengar Ibu menarik napas, tajam, seperti orang yang baru menyadari sesuatu.

“Dia nggak tahu itu,” kataku pelan. “Delapan tahun, dia pikir dia yang bikin aku pergi. Dia pikir pengorbanannya ada artinya.”

Aku keluar dari dapur.


Di mobil, di depan rumah, aku menelepon Bu Endang.

Nomornya kusimpan sejak empat tahun lalu, waktu pertama kali menyerahkan dana Beasiswa Orang Baik ke Pak Hardi. Aku tidak pernah meneleponnya. Aku hanya mampir ke ruang TU sekali setahun.

Ia mengangkat di dering ketiga.

“Halo?”

“Bu Endang. Ini Anggana.”

Hening sebentar. Lalu suara Bu Endang berubah. Hangat, lalu cemas.

“Nak Anggana. Ada apa? Kok nelepon—”

“Bu.” Aku memejamkan mata. “Donatur SPP saya dulu. Aluna Prameswari Hadinata?”

Hening yang sangat panjang.

Lalu aku mendengar Bu Endang menangis.

“Maafin Ibu, Nak,” katanya di antara isak. “Ibu udah janji. Delapan tahun. Ibu janji ke Mbak Luna nggak bakal nyebut namanya. Tiap tahun kamu dateng nanya, Ibu bilang belum. Tiap tahun Ibu pulang dan nangis di angkot.”

“Bu, nggak apa-apa—”

“Dia bawa tunai, Nak. Tabungannya sendiri. Katanya buat beli kamera. Dia bilang, Bu, saya nggak butuh kamera.” Bu Endang terisak. “Dan memo kuning yang kamu tulis waktu itu. Yang kamu titipin ke Ibu buat donaturnya.”

Aku membuka mata.

“Ibu kasih ke dia,” kata Bu Endang. “Dua hari setelah kamu nulis. Ibu panggil dia ke TU, Ibu kasih. Dia baca di depan Ibu, terus dia nangis, terus dia lipat empat dan masukin ke casing HP-nya.” Bu Endang menghela napas. “Di acara sekolah kemarin, Ibu liat dia ngeluarin HP. Casing-nya udah beda. HP-nya udah beda. Tapi Ibu liat ada kertas kuning di baliknya. Masih, Nak. Delapan tahun. Masih dia simpen.”

Aku tidak bisa bicara.

“Nak Anggana?”

“Makasih, Bu,” kataku akhirnya. “Makasih udah nyimpen janji.”

Aku menutup telepon.

Lalu aku duduk di mobil di depan rumah dengan tangan di atas setir dan menatap kaca depan yang kosong, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak tahu apakah yang kurasakan marah atau sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih menyakitkan dari marah.


Aku mengirim pesan jam tujuh malam.

Anggana: Aku di depan rumahmu.

Aku memang di depan rumahnya. Aku sudah di sana sejak jam enam lewat empat puluh, duduk di mobil di ujung gang di belakang Stasiun Depok Baru, menatap pagar hijau yang catnya mengelupas dan pohon jambu air yang bunganya mulai jatuh berserakan di atap.

Lampu teras menyala. Pintu depan terbuka.

Aluna keluar.

Ia memakai kaus abu-abu longgar dan celana training, rambut diikat asal, wajah tanpa riasan. Ia berjalan cepat ke pagar, membukanya, lalu berhenti waktu melihatku turun dari mobil.

Ia menatap wajahku.

Aku melihat ia membaca. Aku melihat ia menemukan baris pertama di mana sesuatu mulai salah. Aku melihat warna hilang dari wajahnya, pelan-pelan, seperti air yang surut dari pasir.

“Anggana,” katanya.

“Empat September,” kataku.

Ia membeku.


Kami duduk di teras. Di kursi plastik yang sama dengan hari Minggu, waktu aku mencium keningnya di bawah bunga jambu air. Bunga-bunga itu sekarang berserakan di lantai teras, sudah mulai cokelat di tepinya.

Lampu ruang tamu dimatikan. Tapi aku melihat bayangan di balik gorden jendela. Pak Hendra, di kursi rodanya, di ruang tamu yang gelap.

Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak. Aku duduk di kursi plastik dengan tangan di pangkuan dan bicara dengan suara pelan dan sopan, dan aku tahu, dari wajah Aluna, bahwa suara pelan dan sopan itu jauh lebih buruk dari teriakan.

“Bastian,” kataku. “Tadi siang. Kantor hukumnya yang ngurus entitas Singapura Flie.”

Aluna menutup mata.

“Dia kira kamu udah cerita. Dia bilang kamu nelepon dia dua minggu lalu, nanya apa aku bakal benci kamu.” Aku menatap gang yang gelap. “Terus aku ke Ibu. Terus aku nelepon Bu Endang.”

Aluna membuka mata. Air matanya sudah jatuh.

“Anggana, aku mau cerita Sabtu. Aku janji Sabtu. Aku udah—”

“Kamu udah bilang nanti delapan kali.” Suaraku tetap pelan. “Aku ngitung. Di batu karang di Labuan Bajo. Di ruang tunggu fisioterapi. Di rumah sakit. Di lorong Sagara. Di teras ini hari Minggu. Senin. Besok. Sabtu.”

Ia tidak bisa menjawab.

“Di ruang tunggu fisioterapi,” kataku, “aku nanya kapan papamu bangkrut. Kamu jawab semester dua kuliah. Kamu jawab dengan lancar. Kamu udah nyiapin jawabannya.”

“Aku—”

“Kamu bohong ke aku, Aluna. Sambil megang tanganku.”

Ia menutup mulut dengan dua tangan. Bahunya berguncang.

Aku menatapnya. Dan bagian dariku, bagian yang membungkus dua ratus lima puluh nasi uduk setiap pagi dan menolong semua orang tanpa bertanya, ingin berhenti bicara. Ingin memeluknya. Ingin bilang nggak apa-apa.

Tapi bagian lain dariku, bagian yang baru lahir hari ini di kafe kecil di Mega Kuningan, bagian yang untuk pertama kalinya meminta dan untuk pertama kalinya marah, tidak mau berhenti.

“Delapan tahun,” kataku. Suaraku akhirnya bergetar. “Delapan tahun aku pikir aku nggak cukup.”

Ia menatapku dengan mata basah.

“Aku pikir kamu milih orang dari liga kamu sendiri. Orang yang tahu radio Oma. Orang yang bisa berdiri di lantai marmer tanpa takut ninggalin bekas sepatu. Aku pikir itu wajar. Aku pikir itu adil. Aku anak tukang nasi uduk, kamu anak orang kaya. Aku terima. Aku senyum. Aku bilang makasih.” Aku menarik napas. “Terus aku pulang, makan malam, cuci piring, masuk kamar mandi, nyalain keran sekenceng-kencengnya, dan nangis. Pertama kali sejak Bapak meninggal.”

Aluna terisak. Ia tahu. Dara sudah menceritakannya. Aku melihat di wajahnya bahwa ia tahu, dan aku tidak tahu bagaimana ia tahu, dan aku tidak peduli.

“Dan selama delapan tahun itu,” kataku, “aku bangun dinding. Aku senyum ke semua orang pakai senyum yang sama, biar nggak ada lagi yang bisa nyentuh tempat itu. Aku pikir aku nggak cukup. Aku pikir itu kebenaran.”

Aku menatapnya.

“Ternyata aku cukup. Ternyata kamu yang mutusin aku nggak boleh tahu.”


Aluna mencoba menjelaskan.

Ia menceritakan semuanya. Dengan suara yang pecah, dengan kalimat yang tersendat, dengan air mata yang tidak berhenti jatuh. Om Gunawan. Bank. Empat September. Pintu ruang wali kelas. Satu dari kami harus kerja. Lebih baik saya. Tangga darurat. Ketakutannya bahwa aku akan memikulnya, bahwa aku tidak akan pergi ke Bandung, bahwa aku akan bekerja tiga pekerjaan untuk keluarganya yang hancur.

“Aku mau kamu terbang,” katanya. “Itu aja. Aku mau kamu pergi jauh, ke tempat yang orang-orangnya bisa liat apa yang aku liat di balik kaca ruang server. Aku pikir kalau aku nolak kamu, kamu bakal bebas.”

“Aku ke Bandung karena Ibu sama Dara.”

Ia berhenti.

“Seminggu setelah pohon ketapang,” kataku. “Pak Hardi dateng ke gerobak Ibu jam lima pagi. Ibu tanda tangan formulir duluan. Dara berdiri di meja makan, nangis, teriak Kakak selalu mutusin semuanya sendiri. Mereka berdua yang maksa. Bukan kamu.” Aku menatapnya. “Kalau kamu bilang iya di bawah pohon ketapang, aku tetap ke Bandung. Ibu sama Dara tetap bakal maksa. Kamu nggak perlu ngorbanin apa-apa.”

Wajahnya hancur.

Aku melihatnya hancur. Pelan. Seperti dinding yang retak di tengah, lalu retaknya menjalar ke seluruh permukaan, lalu runtuh. Delapan tahun. Delapan tahun ia mengulang kalimat keputusanku benar setiap malam. Delapan tahun ia hampir percaya.

Dan aku baru saja mengambil satu-satunya hal yang membuat delapan tahun itu masuk akal.

Aku tidak bermaksud melukainya. Aku hanya mengatakan kebenaran. Tapi kebenaran, aku belajar hari itu, bisa sama tajamnya dengan kebohongan.

Ia merogoh saku celananya. Tangannya gemetar. Ia mengeluarkan HP-nya, melepas casing-nya dengan jari-jari yang tidak stabil, dan mengeluarkan sesuatu dari baliknya.

Selembar kertas memo kuning. Terlipat empat. Tepinya lembek seperti kain, warnanya sudah pudar, sudut-sudutnya sobek sedikit karena terlalu sering dipindahkan.

Ia membukanya. Menyodorkannya padaku.

Aku menatapnya.

Tulisan tanganku sendiri. Miring dan tidak terlalu stabil, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar.

Terima kasih. Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.

Aku tidak mengambilnya.

Aku tidak bisa mengambilnya. Tanganku tidak mau bergerak. Aku menatap kertas kuning itu di tangannya yang gemetar, kertas yang ia bawa ke mana-mana selama delapan tahun, dari HP pertama ke HP kelima, dari kontrakan ke kontrakan, dari kampus ke bank ke Sagara.

Ia menyimpan janjiku. Dan aku menepati janji itu. Dan kami berdua melakukannya dalam gelap, tanpa pernah saling tahu.

“Kamu bawa ini ke mana-mana,” kataku. Suaraku pecah.

“Setiap hari.”

“Kamu duduk di aula sekolah hari Sabtu dan denger Pak Hardi baca kalimatku. Kamu denger Nurul doain dua-duanya. Kamu tahu itu kamu.” Aku menatapnya. “Dan kamu nggak bilang.”

“Aku mau bilang Senin—”

“Aku nanya ke Bu Endang tiap tahun.” Kalimat itu keluar dari tempat yang sangat dalam. “Empat tahun. Pernah datang? Pernah nanyain saya? Aku cuma mau bilang makasih, Aluna. Itu aja. Aku cuma mau tahu siapa orang baik itu, supaya aku bisa bilang makasih langsung ke mukanya.”

Aku berdiri.

“Waktu di bawah pohon ketapang,” kataku, “aku bilang aku cuma mau kamu tahu. Karena aku nggak minta apa-apa. Aku cuma mau kamu tahu perasaanku, dan itu cukup.” Aku menatapnya. “Dan kamu... kamu bahkan nggak kasih aku tahu. Apa pun. Delapan tahun.”

Ia menangis dengan kedua tangan menutupi wajah. Memo kuning itu terjatuh di lantai teras, di antara bunga-bunga jambu air yang sudah cokelat.

Aku menatap memo itu di lantai. Aku tidak memungutnya.

“Aku perlu waktu,” kataku.

Ia mengangkat kepala. “Anggana—”

“Aku nggak benci kamu.” Aku mengatakannya dengan pelan, sungguh-sungguh. “Aku nggak bisa benci kamu. Aku udah coba tadi siang, di basement, di lampu merah Pancoran. Aku nggak bisa.” Aku menelan ludah. “Tapi aku nggak tahu harus ngapain sama semua ini. Aku perlu waktu buat ngerti.”

Aku berjalan ke pagar. Membukanya.

Di jendela ruang tamu yang gelap, gorden bergerak. Aku melihat siluet Pak Hendra di kursi rodanya.

Aku berhenti. Aku membungkuk sedikit ke arah jendela itu, dengan sopan, seperti yang selalu kulakukan.

“Selamat malam, Om.”

Lalu aku masuk ke mobil, dan pergi.


Aku tidak menangis di mobil.

Aku menyetir pulang dengan kecepatan yang sangat normal. Aku berhenti di setiap lampu merah. Aku memberi jalan pada motor yang memotong. Aku menyalakan lampu sein setiap kali berbelok.

Di lampu merah Pasar Minggu, aku membuka laci dasbor.

Empat sticky note kuning. Uang sepuluh ribu yang dilipat dua. Tisu dengan bekas samar mawar tua.

Aku menatap benda-benda itu lama.

Lalu aku menutup laci dasbor, pelan, tanpa menyentuh apa pun.

Aku sampai di rumah jam sembilan lewat sepuluh. Lampu dapur menyala. Ibu duduk di meja marmer, menunggu. Matanya merah. Di sebelahnya, Dara, dengan blus kantor yang belum diganti dan wajah yang aku tidak bisa baca.

Mereka menatapku waktu aku masuk.

Aku tersenyum pada mereka. Senyum yang sopan. Hangat. Rapi.

Senyum yang sama untuk semua orang.

“Aku capek, Bu,” kataku. “Aku tidur duluan.”

Aku naik ke kamar. Aku menutup pintu. Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit dalam gelap.

Aku tidak menyalakan keran. Aku tidak menangis.

Aku hanya berbaring di sana, dan untuk pertama kalinya sejak delapan minggu lalu, ruang di dadaku terasa kosong lagi. Bukan kosong seperti dulu, ruang biasa yang bisa diisi apa saja atau dibiarkan kosong tanpa ada yang sakit.

Kosong seperti dapur jam empat pagi waktu tidak ada yang datang.

Sabtu, dua hari lagi, jam empat pagi.

Aku tidak tahu apakah aku akan turun.