← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Six

Laporan Audit Final

POV: Dara

Proyektor itu kupinjam dari ruang rapat kantor tanpa izin.

Secara teknis, itu pelanggaran prosedur aset. Kalau aku menemukan hal yang sama di audit klien, aku akan menulisnya sebagai temuan dengan kategori risiko rendah dan rekomendasi perlu penguatan kontrol atas penggunaan aset kantor di luar jam kerja. Tapi malam itu aku tidak peduli. Malam itu aku memasukkan proyektor seberat tiga kilo itu ke tas laptop, membawanya naik KRL dari Sudirman ke Tebet dengan dua tangan seperti membawa bayi, dan memesan ojek dari stasiun ke rumah sambil memeluknya di boncengan.

Jam sepuluh lewat lima belas malam, aku memasangnya di meja marmer dapur.

Kakak sedang di kamarnya. Ibu sedang di kamarnya. Rumah sunyi kecuali bunyi kulkas dan kipas angin di langit-langit.

Aku menyambungkan kabel proyektor ke laptop. Aku mengarahkan lensanya ke dinding putih di sebelah lemari dapur, dinding yang dulu dipakai Ibu untuk menempel kalender dari toko emas. Aku menekan tombol power.

Proyektor itu berbunyi klik. Lalu diam.

Lampu indikatornya berkedip merah. Tidak ada gambar di dinding.

Aku menekan tombolnya lagi. Klik. Berkedip merah.

Aku mencabut kabelnya, menyambungkannya lagi, menekan tombol power tiga kali dengan semakin keras. Klik. Klik. Klik. Berkedip merah, merah, merah.

Aku menatap proyektor itu dengan kebencian yang biasanya kusimpan untuk klien yang menyembunyikan piutang ragu-ragu di catatan kaki.

“Lampunya kepanasan.”

Aku menoleh.

Kakak berdiri di ujung tangga. Kaus putih tipis, celana training, rambut berantakan. Wajahnya lelah, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang sudah ada sejak Kamis malam dan tidak hilang-hilang. Ia menatap proyektor di meja marmer.

“Lampunya kepanasan,” ulangnya. “Kamu bawa dari kantor, kan? Masih panas dari dipakai tadi sore. Terus kamu masukin tas. Ventilasinya ketutup.” Ia turun dua anak tangga. “Tunggu sepuluh menit. Atau balik badannya, biar ventilasinya ngadep atas.”

Aku membalik proyektor itu. Menekan tombol power.

Klik. Lampu indikator hijau. Gambar muncul di dinding.

Aku menatap Kakak. Kakak menatapku.

“Itu nggak masuk penilaian,” kataku.

“Penilaian apa?”

“Duduk,” kataku. “Aku mau presentasi.”


Aku harus bercerita tentang kakakku dulu. Kalau tidak, tidak ada yang akan mengerti kenapa aku membawa proyektor seberat tiga kilo dari Sudirman ke Jakarta Timur jam sembilan malam.

Waktu aku umur enam tahun, Bapak meninggal. Aku tidak banyak ingat soal Bapak. Aku ingat bau keringat dan semen di bajunya. Aku ingat ia suka menggendongku di bahu. Aku ingat pemakamannya, karena hari itu Kakak, yang umurnya delapan tahun, memegang tanganku sepanjang hari dan tidak melepaskannya sekali pun. Tidak waktu Ibu pingsan. Tidak waktu orang-orang menangis. Tidak waktu tanah ditimbun.

Sejak hari itu, Kakak tidak pernah melepas tanganku. Tidak secara harfiah. Tapi aku tahu. Aku selalu tahu.

Waktu aku SD, Kakak yang mengajariku membaca, karena Ibu sibuk membungkus nasi uduk. Waktu aku SMP, Kakak yang bayar uang buku, dari kerjaan di konter yang ia mulai di umur lima belas. Waktu aku masuk SMA negeri yang gratis, karena aku menangis di meja makan dan memaksanya ke ITB, Kakak mengirimiku uang jajan setiap bulan dari uang saku beasiswanya di Bandung, padahal aku tahu uang saku itu tidak cukup untuk dirinya sendiri.

Kakak tidak pernah minta apa-apa. Kakak tidak pernah mengeluh. Kakak tidak pernah marah.

Dan kakakku tidak pernah menangis, kecuali satu kali.

Aku yang dengar.


Kakak duduk di kursi plastik di seberang meja marmer. Di dinding putih di sebelahnya, slide pertama presentasiku:

LAPORAN AUDIT FINAL

Subjek: [DIREVISI]

Auditor: Dara Pradipta

Status: Rahasia — Hanya untuk Objek Audit dan Ibu

Pintu kamar Ibu di atas terbuka. Ibu turun dengan daster, rambut terurai, mata merah. Sejak Kamis malam, mata Ibu selalu merah. Ia duduk di anak tangga ketiga, tempat yang sama seperti malam ia bertanya kapan kamu mau ngaku.

“Kalian ngapain jam segini?” tanya Ibu.

“Audit, Bu.”

Ibu menatap proyektor. Menatap dinding. Menatap Kakak. Lalu ia menopang dagu dengan tangan dan tidak bertanya lagi.

Aku menekan tombol. Slide berikutnya.

BAGIAN I: RIWAYAT AUDIT

Spreadsheet “Laporan Audit Calon Kakak Ipar” dibuat pada tanggal pertemuan kembali di pantry lantai 24.

Skor awal: −999.

Skor terakhir: −500.

Catatan auditor: Skor ini salah.

Kakak mengangkat alis.

“Salah?”

“Salah.” Aku menekan tombol lagi. “Karena aku ngaudit orang yang salah.”


Slide berikutnya hanya berisi satu kalimat.

18 SEPTEMBER 2017.

Aku melihat Kakak menegang. Sedikit. Tapi aku melihatnya. Aku selalu melihatnya.

“Ini temuan tiga,” kataku. “Yang aku rahasiain dari Kakak. Skor minus delapan ratus.” Aku menarik napas. “Sekarang aku buka.”

Aku tidak menekan tombol slide berikutnya. Tidak ada slide berikutnya untuk ini. Aku tidak tahu cara membuat slide untuk ini.

Aku cuma bicara.

“Malam itu Kakak pulang jam delapan. Makan malam. Ketawa waktu aku cerita guru IPS-ku salah sebut ibu kota Kanada. Nambah nasi. Cuci piring.” Suaraku mulai bergetar. Aku memaksanya tetap rata. Aku auditor. Auditor tidak bergetar waktu membacakan temuan. “Terus Kakak masuk kamar mandi. Nyalain keran bak. Kenceng banget. Dan aku denger Kakak nangis.”

Kakak tidak bergerak.

“Aku berdiri di depan pintu kamar mandi,” kataku. “Aku umur lima belas. Aku nggak tahu harus ngapain. Kakak nggak pernah nangis. Nggak waktu Bapak... aku nggak inget waktu Bapak, tapi Ibu bilang Kakak nggak nangis. Kakak megang tanganku seharian. Nggak waktu dipanggil ke TU. Nggak waktu Ibu tifus.” Aku menelan ludah. “Dan malam itu, Kakak nangis. Pelan banget. Kayak orang yang lagi berusaha nggak ada.”

Di anak tangga ketiga, Ibu menutup mulut dengan tangan.

“Aku nggak berani ketuk pintu,” lanjutku. “Kakak bakal malu. Jadi aku bikin teh. Tanganku gemeter, gulanya kebanyakan. Aku taruh di depan pintu pakai piring kecil biar nggak dirubung semut. Terus aku lari ke kamar dan pura-pura tidur.”

Hening.

“Yang naruh teh itu aku, Kak.”

Kakak menatapku. Lama.

“Aku tahu, Dar,” katanya pelan.

Aku membeku.

“Aku nggak tahu malam itu,” katanya. “Aku pikir Ibu. Atau aku nggak mikir apa-apa. Tapi beberapa minggu lalu, waktu kamu nunjukin spreadsheet itu pertama kali, temuan tiga yang dirahasiain dari aku, tanggal delapan belas September.” Ia tersenyum, kecil, lelah. “Kamu satu-satunya orang yang bisa tahu tanggal itu penting buat aku. Dan teh itu terlalu manis. Ibu nggak pernah bikin teh semanis itu.”

Aku tidak bisa bicara. Mataku panas. Aku menatap layar laptop supaya tidak harus menatap Kakak.

“Kamu umur lima belas,” kata Kakak pelan. “Dan kamu bikin teh.”

“Gulanya kebanyakan,” kataku. Suaraku pecah.

“Aku minum sampai habis.”

Aku menangis.

Aku tidak mau menangis. Aku sudah merencanakan presentasi ini dengan sangat rapi. Lima belas slide. Bagian I, II, III, kesimpulan, rekomendasi. Auditor tidak menangis di tengah presentasi. Tapi aku menangis, di depan proyektor curian dan dinding putih bekas kalender toko emas, seperti anak lima belas tahun di depan pintu kamar mandi.

Kakak berdiri. Ia berjalan memutari meja marmer. Ia memelukku dari samping. Persis seperti malam tagihan SPP, waktu aku memeluknya dari samping dan bilang Kakak jangan sendirian terus.

“Makasih, Dar,” bisiknya di atas kepalaku. “Buat tehnya.”


Butuh lima menit sebelum aku bisa melanjutkan.

Kakak kembali ke kursinya. Ibu mengusap matanya dengan ujung daster di anak tangga. Aku membersihkan kacamata dengan ujung baju, memasangnya lagi, dan menekan tombol slide.

BAGIAN II: AUDIT ULANG

Subjek audit yang benar: Objek Audit.

Kakak menatap dinding. “Objek audit?”

“Kakak.”

Ia menatapku.

“Selama dua bulan,” kataku, “aku ngaudit Aluna. Aku cari temuan. Aku kurangin poin kalau dia jatuhin telur. Aku catet kalau dia telat dua menit. Aku pikir dia yang harus dibuktiin.” Aku menekan tombol. “Ternyata dari awal, yang harus diaudit itu Kakak.”

Slide berikutnya. Daftar bernomor.

TEMUAN 1. Objek Audit tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Dalam 26 tahun. (Sumber: buku biru milik Aluna, kelas XI, “Daftar Orang yang Ditolong Anggana dalam Satu Bulan” — 47 banding 0. Diperoleh dari Aluna atas permintaan auditor, Kamis malam, via foto WhatsApp.)

Kakak membeku waktu membaca baris itu.

“Dia masih nyimpen buku itu?”

“Masih. Di laci yang sama dengan surat yang nggak pernah dia kirim.” Aku tidak menjelaskan surat apa. Itu bukan ceritaku. “Lanjut.”

TEMUAN 2. Objek Audit tidak pernah bertanya.

— Tidak bertanya kenapa Aluna berubah di kelas tiga.

— Tidak bertanya kenapa orang tua Aluna tidak datang ke wisuda.

— Tidak bertanya kenapa Aluna menolak.

— Tidak bertanya selama delapan tahun.

— Baru mencari “PT Hadinata Graha pailit” setelah orang lain memberi tahu. Delapan tahun tidak pernah mencari sendiri. (Sumber: riwayat pencarian HP Objek Audit, dipinjam auditor Kamis malam untuk menelepon Ibu. Pelanggaran privasi. Auditor minta maaf.)

Kakak menatap dinding. Wajahnya tidak bergerak.

“Kakak marah karena dia mutusin buat Kakak,” kataku pelan. “Kakak marah karena dia nggak kasih Kakak tahu. Itu wajar. Aku juga marah. Aku marah banget waktu Ibu cerita Kamis malam.” Aku menatap Kakak lurus. “Tapi Kak. Delapan tahun. Kakak nggak pernah nanya kenapa.”

Kakak diam.

“Kakak nggak pernah minta apa-apa. Kakak juga nggak pernah nanya. Delapan tahun, Kakak nggak nanya kenapa.” Aku menelan ludah. “Kakak bilang ke diri Kakak sendiri, itu menghormati. Nggak nanya, nggak maksa. Tapi itu bukan menghormati, Kak. Itu takut. Kakak takut jawabannya. Kakak takut kalau nanya, Kakak harus mikul jawabannya.”

Di anak tangga, Ibu menghela napas panjang.

Aku menekan tombol lagi.

TEMUAN 3. Objek Audit memutuskan untuk orang lain.

— Memutuskan untuk menolak beasiswa ITB demi adiknya, tanpa bertanya adiknya mau apa. (Auditor adalah adiknya. Auditor tidak mau. Auditor menangis di meja makan.)

— Memutuskan untuk membayar deposit rumah sakit Pak Hendra tanpa bertanya. (Dicegah auditor. Objek Audit kemudian bertanya. +1 untuk perbaikan.)

— Memutuskan bahwa Aluna tidak perlu tahu bahwa Objek Audit pergi ke ITB karena Ibu dan adiknya, bukan karena penolakannya. Selama delapan tahun.

— Memutuskan untuk tersenyum kepada Aluna dengan “senyum yang sama untuk semua orang” sejak Kamis malam.

Kakak menatap baris terakhir itu.

“Itu bukan mutusin,” katanya pelan. “Itu cuma...”

“Itu mutusin, Kak.” Suaraku tegas sekarang. Suara auditor. “Kakak mutusin dia nggak boleh lihat Kakak marah. Kakak mutusin dia nggak boleh lihat Kakak sedih. Kakak pasang senyum yang itu biar dia nggak bisa nyentuh Kakak. Sama kayak delapan tahun lalu. Kakak bangun tembok lagi, dan Kakak nggak nanya dia mau nembus tembok itu atau nggak.”

Kakak membuka mulut. Lalu menutupnya.

“Kalian berdua sama,” kataku. Dan suaraku akhirnya melunak. “Kalian berdua mutusin sendiri-sendiri, terus nyebutnya kebaikan. Dia nolak Kakak biar Kakak bebas. Kakak nggak nanya biar dia nggak terbebani. Dia bohong soal semester dua biar Kakak nggak ngerasa bersalah. Kakak senyum pakai senyum yang itu biar dia nggak ngerasa bersalah juga.” Aku menggeleng. “Delapan tahun, Kak. Delapan tahun dua orang pintar, dua orang baik, saling ngelindungin dalam gelap, dan nggak ada satu pun yang pernah nanya ke yang lain, kamu mau dilindungin kayak gini nggak?”


Ibu turun dari anak tangga ketiga.

Ia berjalan ke meja marmer, pelan, dan duduk di kursi di sebelah Kakak. Ia menatap anaknya dengan mata merah.

“Le,” katanya. “Ibu juga mau ngaku.”

Kakak menoleh.

“Ibu dulu sama Bapakmu,” kata Ibu pelan. “Ibu anak juragan beras di Solo. Bapakmu kuli bangunan. Kakekmu ndak setuju. Terus Ibu ditawarin nikah sama anak Pak Lurah.”

Aku tidak pernah mendengar cerita ini. Kakak juga tidak. Aku melihatnya di wajahnya.

“Ibu ndak pernah cerita ke Bapakmu,” lanjut Ibu. “Ibu takut dia mundur. Ibu takut dia ngerasa ndak cukup. Ibu diem. Ibu kira diem itu ngelindungin.” Ibu tersenyum, sedih. “Terus Bapakmu tahu sendiri. Dari tetangga. Dan dia marah sama Ibu.”

“Karena Ibu ditawarin nikah sama orang lain?” tanya Kakak.

“Bukan.” Ibu menggeleng. “Karena Ibu ndak percaya sama dia. Karena Ibu mutusin sendiri apa yang dia kuat dan apa yang dia ndak kuat.” Ia mengusap punggung tangan Kakak. “Tiga hari Bapakmu ndak ngomong sama Ibu. Tiga hari. Terus hari keempat dia dateng ke rumah Kakekmu, berdiri di depan pintu, dan bilang ke Ibu: Dek, aku marah. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu daripada aku marah.”

Ibu menangis. Pelan. Tanpa suara.

“Ibu udah cerita ini ke Aluna, Le. Dua minggu lalu. Di dapur ini. Ibu bilang ke dia, laki-laki kayak Bapakmu, kayak kamu, bukan orang yang harus dilindungin dari kebenaran. Yang bikin mereka jatuh bukan kebenarannya, tapi ndak dikasih tahu.” Ibu menatap Kakak. “Ibu bilang itu ke dia. Dan Ibu sendiri ndak ngelakuin. Ibu nyimpen lima tahun. Ibu munafik.”

“Ibu bukan munafik,” kata Kakak pelan.

“Ibu manusia,” kata Ibu. “Sama kayak dia. Sama kayak kamu.”

Ia meremas tangan Kakak.

“Le. Bapakmu marah tiga hari. Terus dia dateng ke pintu. Kamu udah marah dari Kamis minggu lalu. Udah seminggu, Le.”

Kakak menatap Ibu lama.


Aku menekan tombol. Slide terakhir.

BAGIAN III: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Total skor Aluna Prameswari Hadinata: TIDAK BERLAKU.

Alasan: Auditor mengaudit subjek yang salah. Seluruh penilaian dibatalkan.

Total skor Objek Audit (Anggana Pradipta): TIDAK DAPAT DIHITUNG.

Alasan: Auditor terlalu sayang. Konflik kepentingan. Auditor mengundurkan diri dari audit ini.

REKOMENDASI AUDITOR:

Aku tidak menulis apa-apa di bawahnya. Kolomnya kosong.

Kakak menatap kolom kosong itu. “Rekomendasinya apa?”

“Nggak ada.”

“Dar—”

“Nggak ada, Kak.” Aku menutup laptop. Proyektor masih menampilkan cahaya putih kosong di dinding. “Aku nggak bakal mutusin buat Kakak. Ibu juga nggak. Aluna juga nggak, aku udah pastiin. Kakak yang nentuin. Bukan aku. Bukan Ibu. Bukan dia.” Aku menatapnya. “Kakak.”

Kakak diam lama. Lama sekali.

“Dia mau ngomong ke Kakak,” kataku akhirnya. “Ada yang mau dia bilang. Di depan muka Kakak. Aku nggak bakal bilang soal apa. Itu bukan hakku.” Aku tersenyum, sedikit. “Aku belajar dari Ibu. Yang nggak boleh.”

Ibu tertawa di tengah tangisnya.

“Tapi Kak,” lanjutku. “Kalau Kakak mau ketemu dia, jangan nunggu dia yang ngomong. Kakak yang nanya duluan. Kakak yang minta duluan. Sekali-sekali.” Aku menatap dinding putih yang kosong. “Ucup bilang, season dua lo tanya dia. Ucup bener. Ucup jarang bener, tapi kali ini bener.”


Kakak berdiri.

Ia berjalan ke dinding putih tempat cahaya proyektor masih menyala, berdiri di depannya, sehingga bayangannya jatuh di tengah kotak cahaya putih itu. Ia menatap bayangannya sendiri. Lama.

Lalu ia berbalik dan menatapku.

“Dar.”

“Hm.”

“Boleh minta tolong?”

Aku membeku.

Ibu di sebelahku menegakkan punggung.

Kakak minta tolong. Ke aku. Seumur hidupku, Kakak tidak pernah minta tolong ke aku. Ia minta aku tidur. Ia minta aku belajar. Ia minta aku jangan khawatir. Tapi ia tidak pernah minta tolong. Ia tidak pernah minta aku melakukan sesuatu untuknya.

“Apa?” tanyaku. Suaraku naik setengah oktaf. “Apa? Kakak butuh apa? Bilang aja.”

Kakak menatapku. Dan untuk sesaat, sudut bibirnya bergerak. Seperti ia mengingat sesuatu. Seperti ia mendengar kalimatku dan kalimat itu menggema dari tempat yang sangat jauh, dari kelas sebelas, dari bangku di belakangnya.

“Tolong mintain izin ke Pak Hardi,” katanya. “Buat buka gerbang sekolah besok malam. Jam delapan. Kamu kenal dia, kamu yang nganter dana beasiswa.”

Aku menatapnya. “Gerbang sekolah?”

“Bangku belakang lab Biologi.”

Aku tidak bisa bicara.

Bangku belakang lab Biologi. Di bawah pohon ketapang. Tempat yang tidak pernah Kakak sebut selama delapan tahun. Tempat tanggal delapan belas September dua ribu tujuh belas.

“Bisa?” tanya Kakak.

Aku mengangguk. Lalu mengangguk lagi. Lalu, karena aku Dara Pradipta dan aku tidak bisa membiarkan momen seperti ini berlalu tanpa dicatat, aku bertanya:

“Itu permintaan tolong nomor berapa?”

Kakak menatapku. Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum. Bukan senyum untuk semua orang. Senyum yang membuat matanya menyipit, sedikit, untuk pertama kalinya sejak Kamis malam.

“Nomor dua,” katanya. “Yang pertama penghapus. Kelas sebelas.”

Ia tahu. Ia ingat. Buku biru di laci yang sama dengan surat yang tidak pernah dikirim. Target semester ini: sepuluh.

Ibu menangis lebih keras. Aku juga.


Kakak naik ke kamarnya jam sebelas lewat lima puluh.

Aku masih di dapur, membereskan proyektor yang harus kukembalikan ke kantor sebelum jam tujuh pagi supaya tidak ketahuan bagian umum. Ibu sudah kembali ke kamarnya. Dapur sunyi.

HP-ku bergetar. Satu pesan. Dari Kakak. Padahal ia hanya satu lantai di atasku.

Kakak: Dar, aku udah kirim pesan ke dia.

Lalu satu lagi, tangkapan layar. Percakapan Kakak dengan Aluna.

Anggana: Besok malam. Jam delapan. Bangku belakang lab Biologi.

Anggana: Aku mau nanya. Semuanya.

Anggana: Dan aku mau minta kamu jawab. Semuanya.

Di bawahnya, tiga titik. Lalu balasan.

Aluna: Aku dateng.

Aluna: Aku juga mau bilang sesuatu. Di depan muka kamu.

Aluna: Biar kamu yang milih.

Aku menatap tangkapan layar itu lama. Lalu aku membuka laptopku, membuka spreadsheet yang sudah dua bulan kupakai, dan menatap judulnya di sel A1.

LAPORAN AUDIT CALON KAKAK IPAR.

Aku menghapus kata CALON.

Lalu aku menatapnya, mencoret ulang di kepalaku, dan mengetiknya kembali. Belum. Belum saatnya. Auditor tidak boleh menulis kesimpulan sebelum bukti terakhir masuk.

Tapi di bawahnya, di kolom rekomendasi yang tadi kubiarkan kosong, aku mengetik satu kalimat kecil, dengan huruf yang sangat kecil, yang tidak akan pernah kutunjukkan pada siapa pun.

Rekomendasi pribadi (tidak resmi, tidak profesional, sangat bias): Tolong, Kak. Kali ini, tanya.

Aku menyimpan file itu. Aku mematikan proyektor. Aku menatap dinding putih yang sekarang gelap.

Lalu aku mengirim pesan ke Pak Hardi jam dua belas kurang lima malam, dengan nada yang sangat sopan dan sangat profesional, meminta izin untuk membuka gerbang sekolah besok malam jam delapan, untuk keperluan yang tidak bisa dijelaskan secara detail tetapi sangat, sangat penting.

Pak Hardi membalas dalam dua menit. Ia ternyata belum tidur.

Pak Hardi: Untuk Anggana?

Dara: Iya, Pak.

Pak Hardi: Bangku belakang lab Biologi?

Aku menatap layar. Bagaimana ia bisa tahu?

Dara: Kok Bapak tahu?

Pak Hardi: Saya guru Fisika delapan tahun di sekolah itu, Nak. Saya tahu setiap bangku. Dan saya tahu bangku yang mana yang nggak pernah disapu daun ketapangnya, karena ada anak laki-laki yang dulu makan nasi uduk sendirian di sana setiap siang sampai hari terakhir sekolah.

Pak Hardi: Gerbangnya saya buka jam setengah delapan. Saya sendiri yang buka.

Pak Hardi: Dan saya nggak bakal nyapu daunnya.