← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Two

Ciuman Pertama

POV: Anggana

Senin pagi, Halcyon Partners mundur dari pendanaan Seri C Flie.

Kabar itu datang lewat email resmi jam delapan lewat sepuluh, dua paragraf pendek dengan bahasa hukum yang sopan dan dingin: Halcyon Partners telah memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam putaran pendanaan ini karena pertimbangan alokasi portofolio. Tidak ada kata Trivio. Tidak ada kata serangan. Tidak ada kata maaf.

Jam delapan lewat tiga puluh, Mbak Kirana masuk ke ruanganku dengan laptop dan wajah yang tidak bisa memutuskan mau puas atau marah.

“Tim forensik independen udah konfirmasi,” katanya. “User-agent itu dari repositori internal Trivio. Mereka bisa lacak versinya. Dua koma empat koma satu. Rilis internal tiga bulan lalu.” Ia meletakkan laptop di mejaku. “Kita udah kirim somasi ke Trivio. Dan laporan resmi ke unit siber kepolisian, lengkap dengan bukti.”

“Trivio jawab?”

“Belum. Tapi pengacara mereka udah nelepon pengacara kita jam tujuh pagi. Nadanya...” Mbak Kirana mencari kata. “Nadanya kayak orang yang baru tahu anak buahnya nyolong mangga di kebun tetangga, dan tetangganya punya CCTV.”

“Mr. Koh?”

“Pak Haryo nelepon Jovan jam tujuh lewat lima belas. Sagara tetap lead. Bagian Halcyon ditutup dari dana Sagara sendiri plus dua investor lain yang udah antre dari bulan lalu. Dan Mr. Koh...” Mbak Kirana menurunkan kacamatanya. “Dikeluarkan dari komite penasihat LP Sagara sampai ada peninjauan. Pak Haryo sendiri yang minta.”

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

Sembilan belas jam di war room. Delapan belas juta percobaan login. Nol akun diambil alih. Satu baris user-agent yang lupa dihapus.

Dan entah di mana, di lantai tiga puluh satu sebuah gedung di Sudirman, perempuan yang dua hari lalu mempertaruhkan pekerjaannya untuk memperingatkanku.

“Term sheet bisa ditandatangani besok,” kata Mbak Kirana. “Tanpa empat belas tiga. Dengan semua perubahan yang kita minta.” Ia berdiri, mengambil laptopnya, lalu berhenti di pintu. “Pak Angga.”

“Hm.”

“Saya nggak tahu siapa yang ngasih tahu Bapak soal dokumen integrasi itu. Dan saya nggak mau tahu, secara hukum.” Ia menatapku. “Tapi siapa pun dia, dia nyelametin perusahaan ini dua kali. Sekali waktu dia nemuin empat belas tiga di term sheet dan bikin catatan di pinggirnya. Sekali lagi waktu dia ngasih tahu Bapak.”

“Kamu tahu soal catatan di pinggir?”

“Tiara yang cerita ke Jovan. Jovan yang cerita ke saya.” Mbak Kirana tersenyum tipis. “Perusahaan ini bocor kayak saringan teh, Pak. Untung bocornya ke arah yang benar.”


Jam empat sore, Jovan masuk ke ruanganku tanpa mengetuk.

Itu biasa. Jovan tidak pernah mengetuk. Yang tidak biasa adalah wajahnya.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak membawa kopi. Ia menutup pintu di belakangnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam empat tahun, karena katanya pintu tertutup bikin kantor terasa kayak penjara.

Di tangannya, HP. Di layar HP, panggilan video yang sedang berlangsung. Tiara.

“Bro,” kata Jovan. “Lo harus denger ini.”

Ia memutar HP menghadapku. Wajah Tiara memenuhi layar. Matanya merah. Ia berdiri di tangga darurat sebuah gedung, aku bisa melihat dinding beton dan pegangan besi di belakangnya.

“Pak Angga,” kata Tiara. Suaranya bergetar. “Luna dikeluarin dari tim deal Flie.”

Aku membeku.

“Dia ngelaporin dirinya sendiri,” lanjut Tiara cepat, seperti takut kehabisan waktu. “Ke kepatuhan. Tadi malem. Jam dua pagi. Gue tahu karena dia nge-cc gue di email terpisah, cuma satu kalimat, Ti, besok aku mungkin nggak ada di kantor, jangan panik.” Tiara menyeka matanya dengan punggung tangan. “Dia ngaku semuanya. Hubungan pribadi sama Bapak. Dia ngaku dia ngasih tahu Bapak soal dokumen Trivio. Dia minta dikeluarin dari tim deal biar prosesnya bersih.”

“Dia dipecat?”

“Nggak. Hampir. Tadi pagi rapat kepatuhan, kayaknya keputusannya mau dipecat, karena pelanggaran kerahasiaan itu berat. Tapi Pak Haryo masuk ke ruangan.” Tiara menarik napas. “Gue nggak ada di dalam. Gue denger dari asistennya Marcella. Katanya Pak Haryo bilang, Orang yang melaporkan dirinya sendiri jam dua pagi bukan orang yang perlu dipecat. Yang perlu dipecat adalah orang yang tidak pernah melapor.”

Jovan, di sebelahku, menghela napas panjang.

“Jadi dia dapet surat peringatan,” kata Tiara. “Dikeluarin dari deal Flie. Namanya dihapus dari semua dokumen closing. Dipindah ke tim lain.” Suaranya pecah. “Pak Angga, ini deal pertama dia. Deal pertama yang dia pegang sejak masuk Sagara. Dia lembur tiap malem. Dia nulis laporan delapan puluh empat halaman. Dia yang nemuin empat belas tiga. Dan sekarang namanya nggak ada di mana-mana.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dia di mana sekarang?” tanyaku akhirnya.

“Udah pulang. Marcella nyuruh dia pulang lebih awal. Dia bilang mau naik KRL dari Sudirman.” Tiara melirik jam. “Biasanya kereta jam enam lewat dua puluh.”

Aku melihat jam di laptopku. Lima lewat empat puluh.

“Bro,” kata Jovan.

Aku sudah berdiri.


Sebelum aku sampai ke pintu, HP-ku berbunyi. Nomor yang tidak kukenal. Aku hampir mengabaikannya. Lalu aku mengangkatnya karena sesuatu menyuruhku mengangkatnya.

“Pak Anggana. Ini Marcella Tan.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Saya tidak berhak menceritakan isi laporan kepatuhan,” katanya. Suaranya datar, profesional, seperti di ruang rapat. “Itu rahasia. Dan saya juga tidak seharusnya menelepon CTO perusahaan target soal urusan internal karyawan.”

“Iya, Bu.”

“Tapi saya mau Bapak tahu satu hal.” Ia diam sebentar. Aku mendengar napasnya, dan untuk pertama kalinya, napas itu tidak terdengar seperti napas orang yang tidak pernah menangis sejak 2009. “Dia melaporkan dirinya sendiri. Jam dua pagi. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang tahu. Kalau dia diam, tidak akan ada yang pernah tahu. Dan dia meminta dikeluarkan dari tim, bukan untuk melindungi dirinya, tapi supaya tidak ada yang bisa mempertanyakan keabsahan deal Bapak di kemudian hari.”

Aku memejamkan mata.

“Dia kehilangan deal pertamanya supaya deal Bapak bersih,” kata Marcella. “Saya sudah lima belas tahun di industri ini, Pak Anggana. Saya belum pernah lihat junior melakukan itu.”

“Kenapa Ibu kasih tahu saya?”

Hening sebentar.

“Karena di depan ruang IC, delapan minggu lalu, saya bilang ke dia bahwa refleks bisa dibaca sebagai konflik kepentingan,” kata Marcella. “Saya salah satu hal. Refleks bisa juga dibaca sebagai integritas.” Suaranya kembali datar. “Selamat atas Seri C-nya, Pak Anggana. Selamat sore.”

Ia menutup telepon.


Jalan Sudirman jam enam sore adalah parkiran raksasa.

Aku tidak menyetir. Aku menyetir sampai lampu merah kedua, menyadari bahwa mobil-mobil di depanku tidak bergerak sama sekali, lalu memarkir mobil sembarangan di gedung parkir sebuah mal dan berlari.

Aku tidak pernah berlari di Sudirman. Tidak ada yang berlari di Sudirman, kecuali orang yang ketinggalan TransJakarta atau orang yang dikejar penjambret. Orang-orang di trotoar menatapku waktu aku lewat dengan kemeja kerja, kerah miring, napas terengah-engah. Seorang tukang kopi keliling hampir menjatuhkan termosnya.

Aku berlari melewati gedung-gedung kaca, melewati halte TransJakarta yang penuh, melewati jembatan penyeberangan, sampai ke Stasiun Sudirman.

Enam lewat empat belas.

Stasiun penuh. Ribuan orang pulang kerja, berdesakan di gerbang tiket, berdiri di peron dengan tas di dada dan wajah lelah. Aku menempelkan kartu, menerobos gerbang, berlari menuruni tangga ke peron jalur menuju Bogor.

Peron itu panjang dan sesak. Ratusan orang berdiri di garis kuning, menunggu kereta. Pengumuman berbunyi dari pengeras suara: Kereta tujuan Bogor akan tiba di jalur dua. Para penumpang diharap berdiri di belakang garis kuning.

Aku mencarinya.

Di antara ratusan kepala, ratusan punggung, ratusan tas. Blazer hitam. Blazer abu-abu. Rambut panjang, rambut pendek, kerudung. Aku berjalan menyusuri peron dengan mata bergerak dari wajah ke wajah, seperti membaca log server yang terlalu panjang, mencari satu baris.

Lalu aku menemukannya.

Di ujung peron, dekat tanda gerbong khusus perempuan. Berdiri sendirian di belakang garis kuning, memeluk tas di dada. Blazer hitam. Rambut sebahu yang ujung-ujungnya bergelombang tidak rata. Ia menatap rel kosong di depannya dengan wajah yang tidak menangis, tapi seperti orang yang sudah selesai menangis dan tidak punya air mata lagi untuk hari ini.

Aku berhenti berlari.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Napasku masih terengah-engah. Keringat menetes di pelipis dan punggungku.

Ia tidak melihatku sampai aku berdiri tepat di sebelahnya.

Ia menoleh. Melihat wajahku. Melihat kemejaku yang basah keringat. Melihat kerahku yang miring ke dua arah. Matanya membesar.

“Anggana?”

“Hai.”

“Kamu...” Ia menatapku dari atas ke bawah. “Kamu lari?”

“Dari mal. Mobilnya kutinggal.”

“Kenapa?”

“Sudirman macet.”

“Bukan. Kenapa kamu ke sini?”

Aku menatapnya. Di sekeliling kami, ratusan orang menunggu kereta. Seseorang di belakang kami sedang menelepon dengan suara keras soal tagihan listrik. Dua ibu-ibu di sebelah Aluna sedang membicarakan harga cabai. Pengeras suara berbunyi lagi: kereta tujuan Bogor akan segera tiba.

“Tiara cerita,” kataku.

Wajahnya berubah. Ia menunduk.

“Tiara nggak seharusnya—”

“Marcella juga nelepon.”

Ia mengangkat kepala dengan cepat. “Marcella?”

“Dia bilang kamu ngelaporin dirimu sendiri jam dua pagi. Dia bilang kamu minta dikeluarin dari tim, biar deal-ku bersih.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Dua ibu-ibu berhenti membicarakan harga cabai. “Kamu kehilangan deal pertamamu, Aluna. Laporan delapan puluh empat halaman. Empat belas tiga. Namamu nggak ada di mana-mana.”

Ia menatapku. Matanya mulai basah lagi. Ternyata ia masih punya air mata.

“Kenapa?” tanyaku. Pelan. “Kenapa kamu lakuin itu?”

Ia diam lama. Di kejauhan, aku mendengar bunyi kereta mendekat. Rel bergetar pelan di bawah kaki kami.

“Karena aku mau cerita semuanya ke kamu,” katanya. “Hari Sabtu. Dan aku nggak mau cerita ke kamu dengan tangan kotor.” Suaranya bergetar. “Aku udah delapan tahun nyembunyiin sesuatu dari kamu. Aku nggak mau nambah satu hal lagi yang disembunyiin dari orang lain. Aku mau, waktu aku cerita ke kamu nanti, aku udah nggak nyembunyiin apa-apa dari siapa pun. Dari Marcella. Dari Pak Haryo. Dari Sagara.” Ia menarik napas. “Dari diriku sendiri.”

“Tapi kamu kehilangan—”

“Aku kehilangan nama di dokumen.” Ia tersenyum. Senyum yang gemetar, basah, tapi sungguhan. “Itu bukan apa-apa. Aku udah kehilangan rumah, Anggana. Aku udah kehilangan sopir yang ikut kami dua puluh tahun. Aku udah kehilangan kamera, tabungan, rambut panjang, dua semester kuliah. Nama di dokumen itu nggak ada artinya.” Air matanya jatuh. “Yang ada artinya cuma satu. Aku nggak mau kehilangan kamu dua kali karena aku nyembunyiin sesuatu.”

Kereta datang.

Bunyinya memenuhi peron. Desis rem. Angin yang didorong gerbong-gerbong panjang menerpa wajah kami, menerbangkan rambutnya ke depan, menerbangkan ujung blazernya. Lampu-lampu jendela gerbong lewat satu per satu, melambat, melambat.

Aku menatapnya. Rambutnya berantakan di wajahnya. Air mata di pipinya berkilau di bawah lampu peron yang putih. Bibirnya terbuka sedikit, gemetar.

Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, aku bilang aku cuma mau kamu tahu, kamu nggak perlu jawab. Aku tidak meminta apa-apa. Aku tidak mengambil apa-apa. Aku tersenyum dan pergi.

Seminggu lalu, di teras atap, ia mengambil sesuatu tanpa meminta, dan menyebutnya hadiah untuk dirinya sendiri.

Kereta berhenti. Pintu-pintu gerbong mendesis. Ratusan orang di peron mulai bergerak, mendorong, berdesakan menuju pintu.

Aku tidak bergerak. Aku menatapnya.

Lalu aku melangkah maju, mengangkat tangan ke wajahnya, menyingkirkan rambut yang menutupi pipinya, dan menciumnya.


Itu singkat.

Satu detik. Mungkin dua. Bibirku menyentuh bibirnya, pelan, ringan, seperti daun pisang yang dilayukan di atas api, cukup untuk lemas tapi tidak cukup untuk sobek. Bibirnya hangat dan basah oleh air mata dan sedikit asin. Ia menahan napas. Aku merasakan napasnya berhenti di wajahku.

Lalu aku menarik diri.

Hanya beberapa senti. Dahi kami hampir bersentuhan. Matanya terbuka lebar, menatapku, dengan bulu mata yang basah dan bintik keemasan di iris kiri yang di bawah lampu peron terlihat seperti serpihan bintang.

Di sekeliling kami, ratusan orang mendorong menuju pintu kereta. Seseorang menyenggol bahuku. Seseorang menyenggol bahunya. Tidak ada yang berhenti. Ini Stasiun Sudirman jam enam sore. Tidak ada yang punya waktu untuk berhenti.

Kecuali dua ibu-ibu di sebelah Aluna.

Mereka berhenti. Mereka menatap kami dengan mulut terbuka. Lalu salah satu dari mereka, yang memakai kerudung cokelat dan menenteng kantong belanja berisi cabai, menepuk bahu Aluna dengan keras.

“Mbak! Pintunya mau nutup! Naik, Mbak! Pacarnya ditinggal dulu, besok ketemu lagi!”

Aluna tersentak. Ia menatapku. Menatap pintu gerbong khusus perempuan yang sudah setengah penuh. Menatapku lagi.

“Naik,” kataku. Suaraku serak.

“Anggana—”

“Sabtu,” kataku. “Jam empat. Di lapak.”

Ia menatapku sedetik lagi. Lalu ibu-ibu berkerudung cokelat itu menarik lengannya, dan ia masuk ke gerbong, terdorong arus orang-orang, sampai ia berdiri di dekat pintu.

Pintu mendesis. Mulai menutup.

Ia berbalik. Ia menempelkan tangannya di kaca pintu.

Aku mengangkat tanganku dan menempelkannya di kaca dari sisi luar. Telapak tangan kami terpisah oleh kaca setebal satu senti. Aku bisa melihat jari-jarinya, kapal kecil di pangkal jari telunjuknya, dan di balik tangannya, wajahnya. Ia menangis. Dan ia tersenyum. Dua-duanya sekaligus.

Kereta mulai bergerak.

Aku menarik tanganku. Ia tidak. Tangannya tetap menempel di kaca sampai kereta bergerak menjauh, sampai gerbongnya melewati ujung peron, sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.

Di sebelahku, ibu-ibu yang satunya, yang tidak memakai kerudung cokelat, yang tadi membicarakan harga cabai dan sekarang ketinggalan kereta karena terlalu sibuk menonton, menatapku dengan alis terangkat.

“Mas,” katanya. “Mas nggak naik?”

“Saya nggak ke Bogor, Bu.”

“Lho. Terus Mas ngapain di sini?”

Aku menatap rel kosong. Lampu merah di belakang gerbong terakhir masih terlihat samar di kejauhan.

“Ngejar,” kataku.

Ibu itu menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang keras, dari perut, tawa ibu-ibu yang sudah melihat banyak hal di peron KRL selama bertahun-tahun.

“Dapet?” tanyanya.

Aku menyentuh bibirku dengan ujung jari. Masih hangat. Masih sedikit asin.

“Dapet,” kataku.


Aku berjalan kembali ke mal tempat mobilku terparkir. Pelan. Tidak berlari lagi. Kemejaku basah keringat. Kerahku miring ke dua arah. Orang-orang di trotoar Sudirman tidak menatapku lagi, karena sekarang aku berjalan seperti orang biasa.

Tapi di dalam dadaku, tidak ada yang biasa.

Aku menciumnya. Aku, yang seumur hidup tidak pernah mengambil apa pun tanpa diberi, mengambil sesuatu di peron Stasiun Sudirman jam enam sore di depan ratusan orang dan dua ibu-ibu yang membicarakan harga cabai.

Dan ia tidak menolak.

HP-ku bergetar. Satu pesan.

Aluna: Ibu-ibu kerudung coklat dari tadi nanyain kamu. Aku bilang kamu temen.

Aluna: Dia bilang “temen kok nyium, Mbak.”

Aluna: Aku nggak bisa jawab.

Aku berhenti di tengah trotoar. Orang-orang di belakangku menggerutu dan berjalan memutar. Aku tidak peduli.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Anggana: Bilang aja Sabtu dijawab.

Tiga titik. Lama.

Aluna: Aku bilang gitu. Dia bilang “Mbak, laki-laki yang ngejar sampai peron jangan disuruh nunggu sampai Sabtu.”

Aku tertawa. Di tengah trotoar Sudirman, sendirian, dengan kemeja basah dan kerah miring. Seorang satpam gedung di dekatku menoleh dengan curiga.

Anggana: Ibu-ibunya bener.

Aluna: Iya.

Aluna: Tapi Sabtu. Aku janji. Biar aku ceritain semuanya dulu. Biar kamu bisa milih setelah kamu tahu semuanya. Bukan sebelum.

Aku menatap pesan itu lama.

Biar kamu bisa milih setelah kamu tahu semuanya.

Aku tidak mengerti kenapa ia menulis itu. Apa yang harus kupilih? Aku sudah memilih. Aku sudah memilih di lorong rumah sakit jam tujuh pagi. Aku sudah memilih di peron tadi.

Tapi ada sesuatu di kalimat itu yang membuatku diam. Seperti baris log yang terasa salah.

Anggana: Oke. Sabtu.

Aku memasukkan HP ke saku dan berjalan lagi.

Di kepalaku, aku merencanakan Sabtu. Jam empat pagi. Dapur. Meja marmer. Ia akan bercerita, dan aku akan mendengarkan, apa pun ceritanya. Lalu, setelah ia selesai, aku akan bertanya satu hal. Bukan soal kelas tiga. Bukan soal delapan tahun lalu.

Aku akan bertanya apakah ia mau jadi pacarku. Dengan kata-kata itu. Sederhana. Seperti anak SMA. Seperti anak laki-laki bertopi kerucut hijau yang dulu tidak berani bertanya apa-apa.

Empat hari lagi.

Aku tidak tahu bahwa hari Kamis, dua hari sebelum Sabtu, aku punya rapat dengan sebuah kantor hukum yang baru ditunjuk untuk menangani pendirian entitas Flie di Singapura.

Dan bahwa partner yang memimpin tim hukum itu baru kembali ke Jakarta minggu lalu.