← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Forty Seven

Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus

POV: Anggana

Aku tidak pernah sakit.

Itu bukan sombong. Itu fakta. Sejak kelas lima SD, waktu aku demam tiga hari dan Ibu menjual cincin kawinnya untuk membeli obat, aku memutuskan bahwa aku tidak boleh sakit. Tubuhku sepertinya mendengar keputusan itu. Dua puluh tahun, tidak pernah lebih dari pilek dua hari. Tidak pernah absen sekolah. Tidak pernah absen kuliah. Tidak pernah absen kerja. Tidak pernah absen bangun jam tiga lewat empat puluh.

Lalu, hari Selasa di bulan Juni, aku bangun jam tiga lewat empat puluh dan tidak bisa berdiri.

Kepalaku berat seperti dandang nasi uduk yang penuh. Badanku panas dan dingin sekaligus. Waktu aku mencoba duduk di pinggir kasur, ruangan berputar pelan, seperti kipas angin di langit-langit kontrakan lama yang bautnya kendur.

Sisi kasur di sebelahku kosong. Dari dapur, dua suara bersenandung campursari.

Aku mencoba berdiri. Lututku menolak. Aku duduk lagi.

Aku mencoba lagi. Kali ini aku berhasil berdiri, berjalan tiga langkah ke pintu kamar, dan menabrak kusen pintu dengan bahu.

Bunyinya cukup keras untuk membuat senandung di dapur berhenti.


Aluna yang sampai duluan. Ia berlari menaiki tangga dengan kaus HMIF kebesaran dan celemek Ibu dan tangan yang masih berminyak santan, dan menemukanku bersandar di kusen pintu dengan mata setengah tertutup.

“Mas?”

“Nggak apa-apa.”

Ia berhenti di depanku. Ia menatap wajahku. Lalu ia mengangkat tangan, telapak tangan yang berminyak santan, dan menempelkannya di dahiku.

Wajahnya berubah.

“Mas,” katanya pelan. “Kamu panas banget.”

“Nggak apa-apa. Aku harus turun. Daunnya—”

“Mas.”

“Dua ratus delapan puluh—”

“Mas.”

Ia mengatakannya dengan nada yang belum pernah kudengar darinya. Bukan nada menggoda. Bukan nada manja. Nada yang sangat mirip nada Ibu waktu aku kelas lima SD dan bilang aku tidak apa-apa padahal suhu badanku tiga puluh sembilan derajat.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk. Di lantai. Karena kasur terlalu jauh.

Dara muncul di ujung tangga. Piyama beruang. Kacamata miring. Termometer digital di tangan, karena tentu saja Dara punya termometer digital di kamarnya.

Ia berjongkok di depanku. Ia menempelkan termometer di dahiku. Bunyi bip.

Dara menatap layarnya. Lalu menatapku. Lalu menatap Aluna.

“Tiga puluh sembilan koma dua,” katanya.

Ibu muncul di belakang Dara dengan sutil di tangan dan wajah yang langsung pucat.


Dokter keluarga kami, dokter Wahyu, yang praktik di klinik di jalan raya dekat warung kopi Bang Udin dan sudah memeriksa kami sejak aku SD, datang ke rumah jam tujuh pagi. Ia memeriksaku dengan stetoskop dingin dan wajah yang serius, menekan perutku, melihat lidahku, mengukur tekanan darahku.

“Gejala tifus,” katanya. “Belum parah. Tapi harus istirahat total. Seminggu. Bubur, banyak minum, obat diminum teratur. Nggak boleh kerja. Nggak boleh mikir berat.”

“Saya ada rapat dewan hari Kamis—”

“Nggak boleh kerja,” ulang dokter Wahyu.

“Rapatnya cuma dua jam—”

“Mas Angga.” Dokter Wahyu menatapku dari balik kacamatanya. “Dua puluh tahun saya kenal kamu. Kamu nggak pernah sakit. Itu bukan karena kamu kuat. Itu karena badan kamu nunggu kesempatan. Sekarang badan kamu nagih.” Ia menutup tas dokternya. “Seminggu. Kalau minggu depan masih panas, masuk rumah sakit.”

Aluna mengantarkan dokter Wahyu ke pintu. Aku mendengar mereka bicara pelan di tangga. Lalu Aluna kembali ke kamar.

Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Ia sudah melepas celemek. Ia sudah mencuci tangan. Ia menatapku yang berbaring di kasur dengan selimut sampai ke dagu.

“Laptop Mas mana?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Laptop Mas mana.”

“Di tas.”

Ia berjalan ke tas laptopku di kursi. Ia mengeluarkan laptopnya. Ia mengeluarkan charger-nya. Ia mengambil HP-ku dari meja di sebelah kasur.

“Aluna—”

“Disita,” katanya. “Seminggu.”

“Aku harus balesin email Jovan—”

“Jovan udah aku telepon. Jovan bilang dia bakal handle semuanya. Jovan juga bilang, aku kutip, kalau Bro buka laptop, gue suruh Rizky ngunci akunnya dari server.”

“Dia nggak bisa ngunci akun CTO.”

“Rizky bilang bisa. Rizky bilang dia udah siapin skripnya dari tahun lalu, buat jaga-jaga kalau Mas nggak mau cuti.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan laptop dan HP-ku di pelukannya.

“Kamu mau taruh di mana?”

Ia tersenyum. Senyum yang tidak bisa kubaca.

“Rahasia.”


Belakangan, aku tahu: Aluna menyembunyikan laptopku di dalam dandang nasi uduk yang paling besar, dandang cadangan yang hanya dipakai kalau ada pesanan pengajian, yang disimpan di lemari paling bawah di dapur. Ia memasukkan HP-ku ke dalam kantong plastik dan menyelipkannya di antara tumpukan daun pisang kering di rak atas.

Ibu yang memberitahuku, di hari kelima. Sambil tertawa sampai sutilnya jatuh.


Hari pertama, aku tidur hampir sepanjang hari.

Setiap kali aku membuka mata, ia ada di sana. Duduk di kursi di sebelah kasur dengan laptopnya sendiri, mengerjakan analisis untuk tim Retail, karena ia cuti dari Sagara tapi Marcella tetap mengirim satu email setiap hari dengan subjek TIDAK PERLU DIBALAS HARI INI. Atau berbaring di sebelahku di atas selimut, membaca buku. Atau berdiri di jendela, berbicara pelan di telepon dengan Ibu yang di lantai bawah.

Sore hari, aku terbangun karena haus.

Aku membuka mulut untuk bilang aku mau minum. Lalu aku menutupnya. Gelas air ada di meja di sebelah kasur. Aku bisa mengambilnya sendiri. Aku mengulurkan tangan.

Tanganku gemetar. Gelasnya terlalu jauh. Aku menggeser badan. Kepalaku berputar.

“Mas.”

Aluna duduk di kursi, menatapku dari balik laptop.

“Mas mau apa?”

“Nggak. Aku ambil sendiri—”

“Mas,” katanya pelan. “Mas mau apa?”

Aku menatapnya. Gelas air di meja. Tanganku yang gemetar.

“Minum,” kataku.

Ia tidak bergerak. Ia menunggu.

Aku tahu apa yang ia tunggu. Sudah setahun lebih ia menunggu hal yang sama setiap kali aku butuh sesuatu dan mencoba mengambilnya sendiri.

“Boleh minta tolong?” kataku. “Ambilin minum.”

Ia tersenyum. Ia menutup laptopnya, berdiri, mengambil gelas air, duduk di pinggir kasur, membantuku duduk dengan satu tangan di punggungku, dan memegangi gelas itu di bibirku sementara aku minum.

Lalu ia meletakkan gelas itu kembali. Ia mengambil sesuatu dari meja di sebelah laptopnya.

Buku tulis. Sampul biru. Sudutnya sudah lusuh. Sampulnya sudah pudar.

Aku mengenalinya.

Daftar Orang yang Ditolong Anggana dalam Satu Bulan. Kelas sebelas. Dua belas tahun lalu.

Ia membukanya. Bukan di halaman depan, yang berisi empat puluh tujuh orang. Di halaman tengah. Halaman yang judulnya ditulis dengan huruf yang lebih besar, dengan tinta biru, dengan garis bawah dua kali.

Anggana Minta Tolong.

Di bawahnya, daftar bernomor. Nomor satu: Jumat, 19 Agustus 2016. Pinjam penghapus. Nomor dua: Gerbang sekolah (lewat Dara). Nomor tiga: Boleh aku cium kamu (Sanur).

Lalu nomor-nomor berikutnya, dengan tulisan tangan yang lebih baru. Lebih santai. Kadang ada gambar hati kecil di sebelahnya. Kadang ada tanda seru.

17. Dansa (Labuan Bajo). Nginjek kaki 4x.

34. Minta dipijitin kepala habis rapat sama Trivio.

58. Minta dibangunin jam 3.15 biar bisa liat aku motong daun. (!!!)

91. Minta dipijitin bahu.

92. Dansa cuma sama aku (gala Sagara). Bengawan Solo jazz.

Ia mengambil pulpen dan menulis di baris berikutnya.

96. Ambilin minum (sakit, hari pertama). Hampir ngambil sendiri. Hampir.

Ia menutup buku itu. Ia menatapku.

“Sembilan puluh enam,” katanya. “Targetnya dulu sepuluh. Semester itu.”

Aku menatap buku biru di tangannya. Aku tidak bisa bicara. Mungkin karena demam. Mungkin karena bukan.

“Kamu nyatet semuanya,” kataku akhirnya.

“Dari penghapus.”

“Dua belas tahun.”

“Halamannya hampir kosong,” katanya, tersenyum. “Halaman ini kosong dari nomor satu sampai nomor dua. Delapan tahun lebih. Terus tiba-tiba nomor dua, gerbang sekolah. Terus nomor tiga, pantai. Terus aku harus beli pulpen baru karena tintanya abis.”


Hari kedua, aku disuapi.

Bubur ayam buatan Ibu. Encer, tanpa sambal, dengan potongan ayam yang disuwir halus dan taburan bawang goreng yang sangat sedikit, karena dokter Wahyu bilang jangan yang berminyak.

Aluna duduk di pinggir kasur dengan mangkuk di tangan. Ia menyendok bubur. Meniupnya. Lama. Lebih lama dari yang diperlukan.

“Udah dingin,” kataku.

“Belum.” Ia meniup lagi. “Ini bubur, Mas. Bukan pepaya.”

Aku tertawa, lalu batuk, lalu tertawa lagi. Ia menyuapiku.

“Gantian,” katanya, sambil menyendok suapan kedua. “Di Labuan Bajo aku yang disuapin. Sekarang Mas.”

“Aku bisa makan sendiri.”

“Tangan Mas gemetar.”

“Sedikit.”

“Mas nyendok bubur kemarin, setengahnya tumpah ke selimut. Ibu yang nyuci selimutnya.” Ia mengulurkan sendok. “Buka.”

Aku membuka mulut.

Ia menyuapiku sampai mangkuknya kosong. Pelan. Satu suap demi satu suap. Kadang ia meniup. Kadang ia mengusap sudut bibirku dengan tisu. Kadang ia hanya menatapku mengunyah dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Di suapan terakhir, ia berhenti.

“Mas,” katanya.

“Hm.”

“Mas kalau sakit gini lucu banget.”

“Lucu gimana?”

“Pipinya merah.” Ia menyentuh pipiku dengan punggung jari. Pelan. “Kayak waktu aku bilang siapa bilang mau tidur buat tidur di Labuan Bajo.”

Aku membeku. Demam tiga puluh delapan koma tujuh, kata termometer Dara pagi tadi, dan aku tetap membeku.

Ia tertawa pelan. Lalu wajahnya berubah. Ia menempelkan punggung tangannya di pipiku lagi, lalu di dahiku.

“Oh,” katanya pelan. “Itu demam, ya. Bukan malu.”

“Dua-duanya.”

Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan mangkuk kosong di meja, membungkuk, dan mencium dahiku. Lama. Di tempat yang panas.

“Cepet sembuh, Mas,” bisiknya di dahiku.


Hari ketiga, kamar kami jadi tempat wisata.

Ibu naik jam tujuh pagi dengan jamu kunyit asam yang ia buat sendiri dan tatapan yang sama seperti waktu aku kelas lima SD. Ia duduk di pinggir kasur, mengusap rambutku, dan tidak bilang apa-apa selama lima menit. Lalu ia bilang:

“Le. Akhirnya kamu sakit juga.”

“Maaf, Bu.”

“Ndak usah minta maaf.” Ibu tersenyum. “Ibu malah lega. Dua puluh tahun Ibu nunggu kamu sakit. Biar Ibu bisa ngerawat kamu sekali-sekali. Kamu selalu yang ngerawat Ibu.”

Aku menatap Ibu. Mataku panas. Demam, mungkin.

“Tapi sekarang,” kata Ibu, melirik Aluna di kursi, “udah ada yang ngerawat. Ibu cuma bawa jamu.”

Dara naik jam delapan dengan papan klip.

Judul di kertasnya: AUDIT PASIEN — HARI KE-3.

Ia mengukur suhu badanku dengan termometer digital. Tiga puluh delapan koma satu. Ia mencatatnya. Ia memeriksa gelas air di meja, menghitung berapa gelas yang sudah kuminum sejak pagi, dan mencatatnya. Ia memeriksa strip obat, menghitung berapa tablet yang sudah diminum, dan mencatatnya. Lalu ia menatap Aluna.

“Subjek,” katanya. “Berapa kali Kakak minta tolong hari ini?”

“Empat.”

“Nomornya?”

“Seratus satu sampai seratus empat.”

Dara mencatat. Lalu berhenti. Ia mengangkat kepala.

“Seratus?”

“Iya.”

“Kakak udah minta tolong seratus kali?”

“Seratus empat. Sejak nikah.” Aluna mengangkat buku biru. “Mau liat datanya?”

Dara mengambil buku biru itu. Ia membukanya. Ia membaca halaman Anggana Minta Tolong dari nomor satu sampai nomor seratus empat. Pelan. Dengan wajah auditor yang membaca laporan keuangan untuk pertama kalinya. Lalu, di nomor lima puluh delapan, minta dibangunin jam 3.15 biar bisa liat aku motong daun (!!!), ia berhenti.

Ia menatapku.

“Kak,” katanya. “Kakak minta dibangunin jam tiga lima belas cuma buat liat dia motong daun?”

“Iya.”

Dara menatapku lama. Lalu ia menutup buku biru itu, mengembalikannya ke Aluna, dan menulis sesuatu di papan klipnya dengan sangat cepat. Aku tidak bisa membacanya dari kasur.

Belakangan, Aluna memotretnya dan mengirimkannya padaku.

Catatan auditor: Objek dulu nggak pernah minta tolong. 0 dalam 26 tahun (sumber: buku biru, 47:0). Sekarang 104 dalam 5 bulan. Auditor tidak tahu harus menangis atau tertawa. Auditor menangis. Di kamar mandi. Sambil nyalain keran. Biar nggak ada yang denger.

Catatan auditor tambahan: Itu bukan ngikutin Kakak. Itu kebetulan. Keran emang enak buat nangis.


Jovan datang hari ketiga sore. Dengan Tiara. Dengan tiga balon helium berbentuk hati, bunga, dan, entah kenapa, dinosaurus.

“Bro,” kata Jovan di ambang pintu kamar. “Lo sakit.”

“Iya.”

“Lo nggak pernah sakit.”

“Iya.”

“Sepuluh tahun gue kenal lo. Lo nggak pernah sakit. Lo pernah ngoding tiga hari nggak tidur, nggak sakit. Lo pernah begadang di war room sembilan belas jam, nggak sakit.” Jovan menatapku dengan wajah tragis. “Lo nikah lima bulan, langsung sakit.”

“Jovan,” kata Tiara.

“Gue cuma bilang.”

“Jovan, itu nggak ada hubungannya.”

“Bisa ada hubungannya. Gue punya data anekdotal. Kayak Pak Haryo.” Jovan mengikatkan balon dinosaurus di kaki kasur. “Lo kecapean, Bro. Lo bangun jam tiga lima belas buat liat istri lo motong daun. Lo kerja sampai jam tujuh. Lo pulang, istri lo pakai kemeja lo di tangga. Lo—”

“JOVAN.” Tiara menutup mulut Jovan dengan tangan. “Gimana kamu tahu soal kemeja?”

Jovan menatap Tiara dari balik tangan yang menutup mulutnya. Lalu menatap Aluna. Lalu menatap Dara, yang berdiri di ambang pintu dengan papan klip.

Dara menatap langit-langit.

“Dara,” kata Aluna pelan. “Kamu cerita ke Jovan?”

“Aku cerita ke Ucup,” kata Dara. “Ucup yang cerita ke Jovan. Itu bukan tanggung jawab auditor. Itu kebocoran pihak ketiga.”


Ucup datang hari keempat. Ia membawa sekantong jeruk dan bernyanyi Balonku di samping kasur dengan gerakan lengkap sampai Ibu datang dan menyuruhnya diam karena anak Ibu butuh istirahat, Cup, bukan konser.

Pak Hendra datang hari kelima, didorong Tante Melinda di kursi roda, karena dua puluh langkah dengan walker tidak cukup untuk naik tangga. Aku, kata Ibu, harus turun ke ruang tamu. Aku turun dengan dibantu Aluna, satu lengan di bahunya, dan duduk di sofa dengan selimut.

Pak Hendra menatapku dari kursi rodanya lama.

“Anggana,” katanya pelan. Tersendat. “Kamu... sakit.”

“Iya, Om.”

“Kamu... nggak... pernah... sakit.”

“Semua orang bilang gitu, Om.”

Pak Hendra tersenyum dengan separuh wajah. “Om... juga... dulu... nggak... pernah... sakit.” Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk kursi rodanya sendiri. “Terus... sekali... sakit... langsung... gini.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau tidak.

“Jadi,” kata Pak Hendra, “istirahat. Biar... anak Om... yang... ngerawat. Jangan... nolak.”

“Iya, Om.”

“Om... serius.” Ia menatapku. “Luna... dari... kecil... pengen... ngerawat... orang. Dulu... radio... Oma. Sekarang... kamu.”

Aku menatap Aluna di sebelahku. Ia menunduk, pipinya merah.


Malam hari kelima, aku tidak bisa tidur.

Demamnya sudah turun. Tiga puluh tujuh koma empat, kata termometer Dara jam sembilan malam. Tapi badanku masih lemah, dan kepalaku terlalu penuh, dan setelah lima hari tidur hampir sepanjang waktu, aku tidak mengantuk.

Aku berbaring miring, membelakangi Aluna, menatap radio Oma di sudut kamar. Tabung-tabungnya mati. Lampu tidur kuning dan redup.

Lalu lengan-lengan melingkar di pinggangku dari belakang.

Ia memelukku. Seluruh tubuhnya menempel di punggungku dari bahu sampai lutut. Dagunya di bahuku. Pipinya di pipiku dari belakang.

“Mas nggak bisa tidur,” bisiknya.

“Kok tahu?”

“Napas Mas beda.”

Aku diam. Ia mengeratkan pelukannya.

“Mau aku ceritain sesuatu?” bisiknya.

“Apa?”

“Rahasia.”

“Kamu masih punya rahasia?”

Ia tertawa pelan di telingaku. “Satu. Kecil. Aku belum pernah cerita ke siapa-siapa. Bahkan ke Tiara.”

“Apa?”

Ia diam lama. Lalu bicara, sangat pelan, ke telingaku, seperti orang yang mengaku dosa.

“Dua tahun lalu, sebelum aku masuk Sagara, Flie bikin iklan di YouTube. Yang slogannya terbang ke mana saja, nginep di mana saja. Di akhir iklan, ada CTO-nya. Lima detik. Lagi ngoding di depan layar besar. Kerahnya miring.”

Aku diam.

“Aku nonton iklan itu,” bisiknya. “Aku nggak bisa skip. Karena aku nggak mau skip. Lima detik itu satu-satunya cara aku bisa liat Mas tanpa ketahuan.” Ia menarik napas. “Aku nonton iklan itu di KRL, tiap pagi. Dari Depok sampai Sudirman. Kadang sepuluh kali sehari. YouTube mikir aku penggemar aplikasi booking hotel paling setia di Indonesia.”

Aku tertawa. Pelan. Lalu berhenti, karena dadaku terlalu penuh untuk tertawa.

“Algoritma YouTube jadi rusak,” lanjutnya. “Setahun penuh, iklan yang muncul di HP-ku cuma iklan hotel sama tiket pesawat. Padahal aku nggak pernah nginep di hotel. Aku nggak pernah naik pesawat. Aku cuma pengen liat lima detik itu.”

Aku memutar badan. Pelan. Sampai menghadapnya. Di bawah lampu tidur kuning, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Matanya basah.

“Kenapa nggak pernah cerita?” tanyaku.

“Malu.” Ia tersenyum. “Itu rahasia paling memalukan di hidupku. Lebih memalukan dari baskom santan.”

Aku menatapnya. Lalu aku mengangkat tangan yang masih lemah dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

“Aluna,” kataku.

“Hm.”

“Boleh minta tolong?”

Ia mengerjap. Lalu, pelan, ia tersenyum. “Nomor seratus lima.”

“Seratus lima.”

“Minta tolong apa?”

Aku diam sebentar. Aku tidak tahu kenapa aku memintanya. Mungkin karena demam. Mungkin karena lima detik iklan YouTube yang ditonton sepuluh kali sehari di KRL. Mungkin karena aku sudah lima hari berbaring di kasur dan dirawat dan disuapi dan diukur suhunya dan dibuatkan jamu, dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku tidak merasa bersalah karena dirawat.

“Jangan pergi,” kataku.

Ia diam.

“Bukan sekarang,” kataku cepat. “Maksudku... nggak cuma sekarang. Selamanya. Jangan pergi.” Aku menelan ludah. “Aku tahu itu permintaan yang egois. Aku tahu kamu nggak bisa janji soal selamanya. Nggak ada yang bisa. Tapi aku minta. Karena kamu bilang aku boleh minta.”

Ia menatapku lama. Air matanya jatuh, menyeberang batang hidungnya ke bantal.

“Nggak akan,” bisiknya. “Aku nggak akan pergi. Aku udah pernah pergi sekali, di bawah pohon ketapang. Aku tahu rasanya. Aku nggak akan pernah lagi.”

Ia mencium sudut bibirku.

“Seratus lima,” bisiknya. “Dikabulkan.”


Jam dua belas lewat lima, ia masih memelukku, sekarang dari depan, dengan kepalanya di dadaku.

“Mas,” bisiknya, setengah tidur.

“Hm.”

“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”

Aku mengusap rambutnya.

“Bilang lagi,” kataku.

“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”

“Lagi.”

“Mas, itu permintaan tolong ya? Aku harus nyatet?”

“Iya. Seratus enam.”

Ia tertawa di dadaku. Lalu ia mengatakannya lagi. Dan lagi. Pelan. Setengah tidur. Aku sayang banget sama kamu, Mas. Sayang banget. Banget banget. Mas yang sakit, Mas yang lucu, Mas yang nyembunyiin HP sendiri di bawah bantal padahal udah aku sita.

Aku membeku.

“Kamu tahu?”

“Aku selalu tahu, Mas.” Ia menguap di dadaku. “HP cadangan. Yang buat testing aplikasi. Di bawah bantal sebelah kiri. Mas pikir aku nggak tahu.”

“Aku nggak buka. Aku cuma...”

“Cuma apa?”

“Cuma liat foto kamu. Waktu kamu tidur siang tadi.”

Ia diam.

Lalu ia mengangkat kepala dari dadaku. Menatapku dalam cahaya lampu tidur kuning.

“Mas liat foto aku,” katanya pelan. “Waktu aku di sebelah Mas?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku tidak menjawab langsung. Aku memikirkan jawabannya dengan jujur, seperti membaca log server dari baris pertama.

“Karena aku pengen tahu rasanya,” kataku. “Rasanya kamu waktu nonton iklan Flie di KRL. Liat seseorang dari layar, padahal orangnya deket.”

Ia menatapku lama.

“Terus?” bisiknya. “Rasanya gimana?”

“Nggak enak,” kataku. “Lebih enak liat langsung.”

Ia tertawa. Basah. Lalu ia menciumku. Pelan. Lama. Di bibir. Bibirnya hangat. Bibirku masih sedikit panas karena demam yang belum benar-benar turun.

“Mas,” bisiknya di bibirku, waktu akhirnya ia menarik diri. “Cepet sembuh, ya.”

“Iya.”

“Aku kangen.”

“Aku di sini.”

“Bukan kangen yang itu.” Ia menatapku. Sudut bibirnya naik pelan, dengan sesuatu yang jahil dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantungku melompat meskipun badanku masih lemah. “Kangen yang... itu.”

Aku membeku.

Tiga puluh tujuh koma empat derajat, dan aku membeku.

Ia tertawa sampai harus menyembunyikan wajahnya di dadaku lagi.

“Sembuh dulu,” bisiknya ke kausku. “Kangennya nunggu. Aku sabar.”

“Kamu nggak sabar.”

“Iya, aku nggak sabar.” Ia mengeratkan pelukannya. “Makanya cepet sembuh.”


Hari ketujuh, demamnya hilang.

Dokter Wahyu datang lagi, memeriksaku, mengangguk, dan bilang aku boleh kembali bekerja hari Senin. Setengah hari dulu. Tidak boleh lembur.

Setelah dokter Wahyu pergi, Aluna turun ke dapur. Ia kembali lima menit kemudian dengan dua benda.

Laptopku, yang ia keluarkan dari dandang cadangan. Dan HP-ku, yang ia ambil dari antara tumpukan daun pisang kering.

Ia meletakkan keduanya di pangkuanku.

“Dikembalikan,” katanya. “Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

Ia duduk di pinggir kasur. Ia mengambil buku biru dari meja. Ia membukanya di halaman Anggana Minta Tolong, di baris paling bawah, di bawah nomor seratus enam.

Ia menyerahkan buku itu padaku. Dan pulpen.

“Mas yang nulis nomor seratus tujuh,” katanya. “Sendiri. Pakai tangan Mas.”

Aku menatap buku itu. Halaman yang dulu, selama delapan tahun, hanya punya satu baris. Pinjam penghapus. Halaman yang sekarang penuh sampai ke pinggir kertas, dengan tulisan tangannya yang miring ke kanan dan gambar hati kecil dan tanda seru.

Aku mengambil pulpen. Tanganku sudah tidak gemetar.

Aku menulis.

107. Minta Aluna tetap nyatet. Sampai bukunya habis. Sampai beli buku baru. Sampai kita tua.

Aku menyerahkan buku itu kembali padanya.

Ia membacanya. Lama.

Lalu ia menutup buku biru itu, memeluknya di dada, dan menangis. Bukan menangis sedih. Menangis seperti orang yang baru diberi kunci rumah, dan rumah itu sudah lama menunggunya.

“Dikabulkan,” bisiknya. “Seratus tujuh dikabulkan.”

Dari lantai bawah, aku mendengar suara sutil jatuh ke lantai dapur. Dan suara Ibu tertawa. Dan suara Dara, keras, ke arah tangga:

“BU, ITU SUTIL BARU! BARU DIBELI KEMARIN!”