← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Two

Utang Satu Bungkus

POV: Anggana

Hari kedua MOS, aku membawa dua bungkus nasi uduk.

Aku tidak merencanakannya. Tanganku saja yang mengambil dua dari dandang waktu Ibu sedang menata gerobak. Ibu melihat, tidak bertanya, hanya mengangkat satu alis dan tersenyum sambil mengaduk teh. Dara sudah berangkat ke sekolah lebih pagi karena piket, dan aku bersyukur untuk itu. Kalau Dara melihat, aku harus memberi keterangan resmi di bawah sumpah.

Pemeriksaan atribut berjalan lancar. Topi kerucutku lolos. Kalung permenku lolos. Bekalku, satu dari dua bungkus, lolos dengan anggukan tidak rela dari kakak OSIS jangkung yang kemarin menghukumku. Bungkus kedua kusimpan di dasar tas karung, di bawah buku catatan MOS yang sampulnya harus dihias dengan tema “cita-citaku”.

Aku menggambar laptop di sampulnya. Ucup menggambar dirinya sendiri sedang tidur di hamak dengan tulisan JURAGAN KONTRAKAN 50 PINTU.

“Itu cita-cita?” tanyaku.

“Itu cita-cita paling jujur di angkatan ini,” katanya bangga.


Aluna menemukanku di jam istirahat pertama.

Aku sedang duduk di bangku semen dekat kantin bersama Ucup, menunggu antrean es teh menipis. Siswa baru dilarang membeli di kantin selama MOS, aturan yang tidak masuk akal tapi dipatuhi semua orang, jadi kami hanya duduk dan menatap gerobak es teh seperti dua kucing menatap ikan di akuarium.

Lalu Ucup menyikut rusukku. Keras.

“Bro. Jam dua belas. Bidadari.”

Aku mengangkat kepala.

Ia berjalan menyeberangi halaman kantin dengan langkah cepat seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak mau berubah pikiran di tengah jalan. Topi kerucutnya dilepas dan dipegang di tangan kiri. Rambutnya diikat ekor kuda hari ini, tinggi, sehingga lehernya terlihat lebih panjang dan garis rahangnya lebih jelas. Beberapa helai pendek lepas di dekat telinganya dan bergerak setiap kali ia melangkah. Di tangan kanannya ada amplop putih.

Ia berhenti tepat di depanku.

“Anggana.”

“Pagi,” kataku, lalu sadar sudah jam sepuluh. “Eh. Siang.”

“Ini.” Ia menyodorkan amplop itu. “Bayaran nasi uduk kemarin.”

Aku tidak mengambilnya. “Nggak usah.”

“Harus.”

“Delapan ribu.”

“Aku tahu.” Ia masih menyodorkannya. “Di dalam ada delapan ribu.”

Aku menatap amplop itu. Tebalnya terlalu tebal untuk delapan ribu. Ucup juga menatapnya, dengan intensitas orang yang sedang menghitung dari luar.

“Itu bukan delapan ribu,” kata Ucup pelan.

“Delapan ribu,” kata Aluna, “ditambah biaya hukuman nyanyi Balonku.”

“Hukuman nyanyi nggak ada tarifnya.”

“Sekarang ada.” Ia menatapku lurus. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat bahwa bulu matanya bagian bawah juga lentik, dan ada bintik kecil keemasan di iris kirinya yang tidak ada di iris kanan. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal-hal semacam itu. Aku cuma tahu aku tidak bisa berhenti. “Kemarin kamu bohong.”

“Bohong apa?”

“Kamu bilang kamu masih punya. Ternyata nggak. Kamu dihukum gara-gara aku.” Suaranya tidak meninggi, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. Bukan marah padaku. Marah pada keadaan. “Aku udah coba bilang ke kakak OSIS, tapi dia nggak mau dengar.”

Jadi itu yang kemarin ia lakukan. Aku sudah menduganya, tapi mendengarnya langsung terasa lain. Seperti seseorang menyalakan lampu kecil di dada.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku udah biasa nyanyi.”

“Kamu nyanyinya fals.”

Ucup tertawa begitu keras sampai tersedak udara.

“Maaf,” kata Aluna cepat, pipinya memerah. “Maksudku bukan... maksudku, kamu nggak harus ngalamin itu.”

“Aku nggak keberatan.”

“Aku yang keberatan.” Ia meletakkan amplop itu di bangku di sebelahku, karena aku jelas tidak akan menerimanya dari tangannya. “Pokoknya ini punya kamu.”

Aku mengambil amplop itu, membukanya, mengeluarkan selembar lima ribuan dan tiga lembar seribuan. Lalu aku melipat sisanya, lembaran merah yang bahkan tidak berani kuhitung, memasukkannya kembali, dan mengulurkan amplop itu padanya.

“Delapan ribu,” kataku. “Lunas.”

Ia menatapku lama. Lalu menatap amplop yang kukembalikan. Lalu menatapku lagi, dan untuk pertama kalinya ekspresinya berubah: dari bertekad menjadi bingung, dari bingung menjadi penasaran.

“Kamu aneh,” katanya.

“Sering dibilang begitu.”

“Bukan aneh yang jelek.” Ia mengambil amplopnya kembali, pelan. “Oke. Delapan ribu. Tapi aku masih utang satu bungkus.”

“Kenapa?”

“Karena yang kamu kasih kemarin bukan cuma nasi uduk.” Ia memasang kembali topi kerucutnya. “Kamu ngasih hari pertamaku. Kalau nggak ada kamu, aku yang nyanyi Balonku di depan lapangan.”

“Kamu pasti nyanyinya nggak fals.”

Bibirnya bergerak. Sudut-sudutnya yang memang selalu sedikit terangkat itu naik lebih tinggi, dan untuk sesaat, sebelum ia sempat menahannya, aku melihat apa yang terjadi ketika Aluna tertawa sungguhan: kepalanya miring sedikit ke kiri, matanya menyipit, dan pipinya terangkat sampai tahi lalat kecil di bawah mata kanannya ikut bergeser.

Itu berlangsung kurang dari dua detik. Tapi dua detik itu cukup untuk membuatku tahu bahwa aku akan menghabiskan sangat banyak waktu ke depan berusaha melihatnya lagi.

“Luna!”

Seorang gadis berambut pendek melambai dari pintu aula. Aluna menoleh, lalu kembali padaku.

“Aku dipanggil. Besok aku pesan sepuluh bungkus nasi uduk ibumu. Buat kelompok MOS-ku.”

“Hah?”

“Sepuluh. Bayar penuh. Ini bukan amal, ini bisnis.” Ia mundur dua langkah. “Kamu bisa bawa?”

“Bisa, tapi—”

“Deal.”

Ia berbalik dan berlari ke aula. Ekor kudanya berayun ke kiri dan ke kanan seperti jarum metronom.

Aku masih memegang selembar lima ribuan dan tiga lembar seribuan. Ucup memandangiku dengan wajah orang yang baru saja menonton film bagus di bioskop dan tidak terima filmnya sudah habis.

“Bro,” katanya. “Dia dipanggil Luna.”

“Iya.”

“Tapi ke lo dia ngenalin diri sebagai Aluna?”

“Kemarin dia bilang namanya Aluna.”

“Dan lo manggil dia Aluna.” Ucup menunjuk dadaku. “Lo sadar itu artinya apa?”

“Artinya aku manggil dia pakai nama yang dia kasih ke aku.”

Ucup menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah. Lo polosnya kayak tahu putih.”


Hari ketiga MOS, aku mengayuh sepeda ke sekolah dengan dua kantong kresek besar tergantung di stang. Sebelas bungkus. Sepuluh pesanan, satu bekalku. Ibu membungkusnya sendiri pagi tadi dengan kehati-hatian ekstra, memilih telur paling bulat dan memastikan setiap karet merah terpasang sempurna.

“Pelanggan baru harus dikasih yang terbaik,” kata Ibu. Lalu, tanpa melihatku, ia menambahkan: “Apalagi kalau pelanggannya orang yang bikin anakku senyum-senyum tiga hari berturut-turut.”

“Bu.”

“Ibu cuma ngomong soal pelanggan, Le.”

Dara mengintip dari balik pintu kamar mandi dengan sikat gigi di mulut. “Sepuluh bungkus? Buat siapa?”

“Pelanggan.”

“Pelanggan perempuan?”

“Pelanggan kelompok MOS.”

“Kelompok MOS yang ketuanya perempuan yang kemarin?” Busa pasta gigi menetes di dagunya. “Kakak, aku tanya baik-baik. Siapa namanya.”

Aku keluar rumah sebelum ia sempat berkumur.


Aluna menunggu di dekat pos satpam. Bersama sembilan anggota kelompoknya, dan semuanya menatapku dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan, seolah Aluna sudah menceritakan sesuatu tentangku kepada mereka. Aku tidak tahu apa. Aku memutuskan tidak mau tahu, karena kemungkinan besar isinya soal suara falsku.

Ia membayar sembilan puluh ribu tunai, tidak lebih, tidak kurang, dan memeriksa kembaliannya dengan teliti seperti kasir bank. Aku curiga ia sedang membuktikan sesuatu padaku. Bahwa ia bisa bertransaksi dengan normal. Bahwa ia tidak akan memaksaku menerima lebih.

“Lunas,” katanya.

“Lunas,” kataku.

Lalu, di jam makan siang, bencana terjadi.

Para kakak OSIS memutuskan bahwa siswa baru harus makan bekal di lapangan, duduk melingkar per kelompok, tanpa sendok. “Belajar kesederhanaan,” kata kakak OSIS jangkung itu dengan wajah puas. Ia mengumumkannya lewat pengeras suara, dan di seluruh lapangan, terdengar keluhan pelan dari anak-anak yang membawa sendok garpu dari rumah.

Aku duduk melingkar bersama kelompokku sendiri, kelompok tujuh, di bawah pohon ketapang. Kelompok Aluna, kelompok delapan, duduk tepat di sebelah kami. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sudut mataku. Ia membuka bungkus nasi uduknya pelan-pelan, menatap nasinya, menatap telurnya, menatap jari-jarinya sendiri.

Lalu ia tidak bergerak.

Teman-teman kelompoknya mulai makan. Beberapa canggung, beberapa santai. Aluna masih duduk dengan tangan di pangkuan, menatap nasi uduk seperti menatap soal ujian yang tidak ada di kisi-kisi.

“Lun, makan,” kata gadis berambut pendek di sebelahnya, yang kemudian aku tahu bernama Sisil.

“Iya. Bentar.”

Lima menit berlalu. Nasi uduknya masih utuh.

Aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin tertawa sekaligus tidak tega: Aluna tidak bisa makan pakai tangan.

Mungkin di rumahnya selalu ada sendok perak. Mungkin di restoran-restoran tempat keluarganya makan, tangan cuma dipakai untuk memegang serbet. Dan sekarang, di tengah lapangan, dengan tiga ratus pasang mata di sekelilingnya dan nasi uduk berminyak di depannya, gadis yang turun dari sedan hitam itu terjebak oleh hal paling sederhana di dunia.

Aku tidak berpikir panjang. Aku menggeser dudukku sampai berada di batas kelompok tujuh dan delapan, cukup dekat untuk bicara pelan.

“Aluna.”

Ia menoleh. Matanya sedikit panik.

“Ujung jari aja,” kataku. “Empat jari, dirapatkan. Ambil nasinya sedikit, campur sama telurnya. Terus jempolnya yang dorong ke mulut. Jangan pakai telapak.”

Ia menatapku. “Kamu tahu?”

“Kelihatan.”

Pipinya memerah. “Jangan ketawa.”

“Nggak.”

Ia mencobanya. Empat jari, dirapatkan, terlalu kaku. Nasinya ambrol separuh sebelum sampai ke mulut. Butir-butir nasi menempel di ujung jarinya dan satu jatuh ke rok abu-abunya.

Sisil tertawa. Aluna menatapnya dengan pandangan membunuh.

“Lagi,” kataku. “Lebih sedikit nasinya. Tekan dulu pakai jari, biar padat.”

Ia mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Nasinya sampai ke mulut, separuh, tapi sampai. Ia mengunyah dengan mata membesar, dan aku melihat ekspresinya berubah.

“Ini enak banget,” katanya dengan mulut penuh, lalu menutup mulutnya dengan punggung tangan, malu. “Maaf. Tapi serius. Enak banget.”

“Ibuku yang masak.”

“Sambal kacangnya ada rasa jeruknya.”

“Jeruk limau. Rahasia Ibu.”

“Kamu baru aja bocorin rahasia ibumu.”

“Ke pelanggan setia nggak apa-apa.”

Ia tertawa kecil, dan kali ini ia tidak menahannya. Lalu ia makan lagi, dan lagi, makin lama makin lancar, meskipun masih ada nasi yang berjatuhan dan sambal kacang yang mengotori pergelangan tangannya. Sisil dan teman-teman kelompoknya menonton dengan takjub, seolah menyaksikan seekor angsa belajar berjalan di lumpur.

Di akhir makan, ia mengangkat tangannya yang penuh minyak dan bumbu dengan wajah bingung, mencari tisu yang tidak ada.

Aku sudah menyiapkan. Dari saku celanaku, aku mengeluarkan plastik kecil berisi tisu basah yang Ibu selipkan setiap hari ke tasku sejak aku SD, kebiasaan yang dulu bikin aku malu dan sekarang bikin aku bersyukur.

Ia menerimanya. “Kamu bawa tisu basah?”

“Ibuku.”

“Ibumu luar biasa.”

“Iya,” kataku, dan untuk sesaat aku tidak sanggup bicara lagi, karena jarang ada orang yang mengatakan itu dengan nada seyakin itu.


Hari terakhir MOS ditutup dengan api unggun di lapangan. Siswa baru duduk melingkar, dan kakak-kakak OSIS yang selama tiga hari bersikap galak tiba-tiba berubah jadi ramah dan bahkan menangis waktu membaca puisi perpisahan. Ucup menyebut ini “sindrom penculik yang baik hati”. Aku tidak tahu istilahnya benar atau tidak, tapi aku setuju.

Aluna duduk di seberang api, di antara anak-anak kelompok delapan. Cahaya api menerangi wajahnya dari bawah dan menciptakan bayangan lembut di bawah tulang pipinya. Rambutnya sudah tidak diikat lagi, tergerai di punggung, dan ujung-ujungnya memantulkan warna jingga. Setiap kali api meletup dan percikannya naik, ia mendongak mengikutinya, dan lehernya yang panjang itu melengkung seperti batang bunga.

Aku sadar sedang menatapnya terlalu lama ketika ia tiba-tiba menurunkan pandangan dan menatapku balik, langsung, melewati api.

Aku ingin memalingkan wajah. Tapi aku tidak melakukannya. Aku tersenyum.

Ia membalas senyum itu. Lalu ia mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya pelan, seperti bilang utang.

Aku tertawa sendirian. Ucup di sebelahku menatapku curiga.


Setelah acara selesai, saat semua orang bergerombol menuju gerbang dan orang tua menjemput, Aluna menyusulku di dekat tempat parkir sepeda.

“Anggana.”

“Hm?”

“Kenapa kamu manggil aku Aluna?”

Pertanyaan itu membuatku berhenti di tengah usaha membuka gembok sepeda.

“Semua orang manggil aku Luna,” katanya. “Mama, Papa, teman-teman. Cuma kamu yang manggil Aluna.”

“Waktu kenalan kamu bilang Aluna.”

“Iya, tapi—”

“Kamu ngucapinnya pelan. Kayak penting.” Aku menatap gembok di tanganku, karena lebih mudah menatap gembok daripada menatap matanya. “Jadi aku pikir, mungkin kamu memang mau dipanggil begitu. Sama orang yang baru kenal. Sebelum semua orang mulai manggil kamu Luna.”

Hening.

Aku mendongak. Aluna sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Bukan senyum, bukan bingung. Sesuatu di antaranya. Seperti orang yang menemukan barang yang ia sendiri lupa pernah kehilangannya.

“Nggak ada yang pernah nyadar itu,” katanya pelan.

“Maaf kalau aneh.”

“Bukan.” Ia menggeleng, lalu tersenyum, senyum yang kali ini sampai ke matanya. “Panggil aku Aluna terus, ya.”

“Oke.”

“Dan aku masih utang satu bungkus.”

“Kamu udah bayar sepuluh.”

“Itu bisnis. Yang satu itu beda.” Ia mundur ke arah sedan hitam yang sudah menunggu di gerbang, sopirnya berdiri di samping pintu. “Kalau suatu hari aku butuh nasi uduk darurat lagi, aku cari kamu, ya.”

“Aku bakal selalu bawa satu cadangan,” kataku, sebelum otakku sempat menyensor.

Ia berhenti melangkah. Menatapku. Lalu tertawa, tawa yang membuat kepalanya miring ke kiri dan matanya menyipit, tawa yang selama tiga hari ini sudah kuhitung kemunculannya: empat kali.

Ini yang kelima.

“Janji?”

“Janji.”

Ia melambai, lalu masuk ke mobil. Sedan hitam itu meluncur keluar gerbang, lampu belakangnya merah menyala di jalan yang mulai gelap.

Aku berdiri di samping sepeda kumbang Bapak, memegang gembok yang belum terbuka, dan menyadari sesuatu yang sederhana dan berbahaya: aku baru saja membuat janji kepada seseorang yang tinggal di dunia yang tidak kupahami, dan aku sama sekali tidak menyesal.

Sejak hari itu, setiap pagi selama tiga tahun berikutnya, di dasar tasku selalu ada dua bungkus nasi uduk.

Aku tidak pernah memberi tahu Aluna untuk siapa bungkus kedua itu. Ia tidak pernah memintanya lagi. Dan aku tidak pernah berhenti membawanya.