Chapter Thirteen
Due Diligence Hari Pertama
POV: Aluna
Senin pagi, aku berdiri di depan cermin kamar mandi selama sebelas menit.
Itu rekor. Biasanya aku cuma butuh tiga: cuci muka, bedak tipis, lipstik mawar pucat, sisir rambut dengan jari, berangkat. Hari ini aku mencoba mengikat rambut, melepasnya, mengikatnya lagi setengah, melepasnya lagi. Aku memakai blazer hitam, menggantinya dengan yang abu-abu, menggantinya lagi dengan yang hitam.
Dari balik pintu kamar mandi, Mama mengetuk.
“Luna, kamu nggak telat? Udah jam lima lewat dua puluh.”
“Bentar, Ma.”
“Kamu kenapa? Biasanya lima menit.”
Aku menatap pantulan wajahku. Rambut sebahu yang ujungnya bergelombang tidak rata, karena dulu dipotong dengan gunting dapur. Tulang pipi yang terlalu tajam. Mata yang di bawahnya ada bayangan tipis karena semalam aku tidur jam satu, menyusun daftar pertanyaan due diligence sampai empat halaman, padahal yang dibutuhkan cuma dua.
Di bawah mata kananku, tahi lalat kecil yang dulu dibilang Sisil sebagai titik paling mahal di wajahmu, Lun.
Aku mengoleskan lipstik sekali lagi. Lalu menghapusnya sedikit dengan ujung jari supaya tidak terlihat seperti orang yang berusaha terlalu keras.
Padahal aku memang berusaha terlalu keras.
Kantor Flie hari Senin terasa berbeda dari hari Kamis. Hari Kamis aku datang sebagai tamu, dengan Marcella dan Tiara. Hari ini aku datang sendirian dengan tablet, laptop kantor, dan surat tugas yang mengizinkanku duduk di ruang rapat kecil di lantai dua puluh empat selama dua minggu ke depan, mewawancarai tim teknis, membaca dokumentasi sistem, dan menilai apakah semua yang dikatakan CTO mereka hari Kamis itu benar.
Ruang rapat itu bernama Rinjani. Semua ruang rapat di Flie dinamai gunung. Bromo, Rinjani, Semeru, Kerinci. Ada satu ruang kecil di pojok yang dinamai Gunung Kidul, dan menurut resepsionis, itu ruangan untuk tidur siang.
Anggana masuk jam sembilan tepat.
Ia memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Kerahnya, tentu saja, miring. Sisi kiri terlipat ke dalam, sisi kanan mencuat. Ia membawa laptop dan segelas teh, bukan kopi, dan aku ingat ia memang tidak pernah suka kopi. Kopi susu dari kantin yang kuberikan padanya setelah Pekan Sains kelas sepuluh adalah satu-satunya kopi yang pernah kulihat ia habiskan.
“Pagi, Luna.”
Luna.
“Pagi, Anggana.”
Ia duduk di seberang meja. Membuka laptop. Tersenyum, senyum yang sopan dan rapi dan sama.
“Mau mulai dari mana?”
Aku menatapnya. Delapan tahun lalu aku menghitung empat puluh tujuh orang yang ia tolong dan nol orang yang menolongnya. Hari ini aku akan memulai hitungan baru. Dan nomor satunya harus bagus.
“Arsitektur pembayaran,” kataku. “Lalu rencana kalau mitra pembayaran utama kalian tumbang.”
Ia mengangguk. Lalu ia mulai menjelaskan, dan aku lupa untuk sementara bahwa aku sedang mengejarnya.
Ia selalu pintar. Aku tahu itu sejak laptop rusak di kelas sepuluh, sejak server UNBK, sejak juri Lomba Inovasi yang mengangguk pelan. Tapi delapan tahun telah mengubah kepintarannya menjadi sesuatu yang lain. Dulu kepintarannya seperti anak yang membongkar radio karena penasaran. Sekarang kepintarannya seperti arsitek yang berdiri di depan gedung yang ia bangun sendiri dan tahu letak setiap paku.
Ia menggambar di papan tulis putih dengan spidol biru. Kotak-kotak, panah, garis putus-putus. Ia menjelaskan bagaimana setiap pesanan yang masuk ke Flie diberi semacam nomor unik yang tidak bisa dipakai dua kali, supaya kalau jaringan putus dan pengguna menekan tombol bayar dua kali karena panik, uangnya tidak terpotong dua kali. Ia menjelaskan bagaimana pesanan yang belum selesai disimpan dalam antrean, seperti orang yang menunggu di depan loket, dan tidak ada yang boleh menyerobot. Ia menjelaskan bagaimana setiap malam, sebuah program kecil mencocokkan semua uang yang masuk dengan semua pesanan yang tercatat, sampai rupiah terakhir.
“Kayak auditor,” kataku.
Ia berhenti menggambar dan menoleh. “Adikku auditor.”
“Dara?”
Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sedikit. Mungkin kaget karena aku masih ingat nama adiknya. Mungkin bukan apa-apa.
“Iya. Dara. Dia yang ngajarin aku konsep rekonsiliasi waktu dia magang.” Ia kembali ke papan tulis. “Dia bilang kalau angka nggak cocok satu rupiah pun, berarti ada yang bohong.”
Aku menunduk ke tablet dan mencatat. Lalu aku mencatat hal lain di halaman terpisah, yang tidak akan pernah kulampirkan di laporan due diligence.
Masih minum teh. Masih nggak suka kopi. Masih nyebut Dara dengan nada kayak orang nyebut pahlawan.
Jam sebelas, ia menyodorkan dokumen setebal dua jari. Dokumentasi teknis sistem pembayaran.
“Ini versi lengkapnya. Kalau ada yang nggak jelas, tandain aja.”
Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Dan aku melakukannya. Aku sudah merencanakannya sejak semalam, di antara pertanyaan nomor tiga puluh dua dan tiga puluh tiga. Aku sudah memikirkan sudutnya, kecepatannya, durasinya. Tiara bilang ini terlalu halus untuk disebut flirting. Aku bilang justru itu intinya.
Aku tidak mengambil dokumen itu dari pinggirnya. Aku mengambilnya dari tengah, tempat jari-jarinya masih memegang.
Ujung jariku menyentuh ujung jarinya. Lalu, alih-alih menarik tangan, aku membiarkannya di sana. Satu detik. Dua. Aku menggeser ujung jari telunjukku sedikit, pelan, sepanjang buku jarinya, sebelum akhirnya mengambil dokumen itu.
Delapan tahun lalu, di perpustakaan, jari kami bersentuhan waktu mengoper pulpen, dan tangannya diam di udara lebih lama dari yang seharusnya. Tanganku juga. Lalu aku menarik pulpen itu dengan cepat dan menebalkan panah yang salah dengan goresan terlalu tebal karena telingaku panas.
Kali ini aku tidak menarik tangan dengan cepat. Kali ini aku menatap matanya.
Ia menatapku balik.
“Makasih,” kataku. Pelan.
“Sama-sama,” katanya.
Lalu ia kembali ke laptopnya.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada telinga yang memerah. Tidak ada tangan yang diam di udara. Tidak ada jeda. Ia mengetik sesuatu, mengangkat gelas tehnya, meminumnya, dan bertanya apakah aku mau dipesankan makan siang.
Aku memegang dokumen setebal dua jari itu di pangkuanku dan menatap jendela, karena aku butuh beberapa detik untuk mengatur wajahku.
Satu nol, pikirku. Untuk dia.
Yang tidak kusadari adalah bahwa dinding ruang Rinjani terbuat dari kaca.
Dan di balik kaca itu, di koridor, seorang lelaki tinggi besar berkacamata dengan rambut keriting sedang berdiri dengan mug kopi di tangan, mulut setengah terbuka, menatap tangan kami.
Jovan Siregar tidak berkedip selama lima detik penuh. Lalu ia menaruh mugnya di atas tempat sampah, entah kenapa, mengeluarkan HP-nya, dan mulai mengetik dengan dua jempol secepat orang yang mau melaporkan kebakaran.
Aku baru tahu dua hari kemudian, dari Ucup, bahwa siang itu sebuah grup WhatsApp baru dibuat di Flie. Anggotanya Jovan dan tiga puluh dua engineer senior. Nama grupnya: PAPAN TARUHAN: KAPAN CTO LULUH (RAHASIA, YANG BOCOR DIPECAT).
Taruhan pertama dipasang dua menit setelah grup dibuat. Jovan memasang seratus ribu untuk dua minggu.
Jam dua belas lewat tiga menit, semua layar di lantai dua puluh empat berubah merah.
Aku sedang di tengah pertanyaan. Pertanyaan nomor dua belas, tentang berapa lama sistem mereka bisa bertahan kalau penyedia pembayaran utama gagal. Anggana sedang membuka mulut untuk menjawab.
Lalu laptopnya berbunyi. Lalu HP-nya. Lalu, di luar dinding kaca, aku mendengar seseorang berteriak, “PAK ANGGA!”
Seorang engineer muda dengan hoodie abu-abu membuka pintu ruang Rinjani tanpa mengetuk. Wajahnya pucat.
“Pak, flash sale Terbang Hemat. Trafik naik empat belas kali lipat. Payment gateway utama mati. Pesanan nggantung. Udah tiga ribu lebih dan naik terus.”
Anggana sudah berdiri sebelum engineer itu selesai bicara.
Ia menoleh padaku. Satu detik.
“Maaf, Luna. Sebentar.”
“Boleh aku ikut?”
Ia menatapku, dan aku melihat sesuatu berhitung di belakang matanya. Lalu ia mengangguk. “Jangan pegang apa-apa.”
War room Flie adalah ruangan besar di tengah lantai dua puluh empat dengan dinding yang penuh layar. Grafik-grafik bergerak. Angka-angka merah berkedip. Dua puluh engineer duduk di depan laptop dengan wajah tegang, dan suara-suara tumpang tindih: Gateway timeout lagi! Retry naik! Customer service udah kebanjiran telepon! Pak Jovan nanya!
Anggana masuk ke ruangan itu, dan sesuatu berubah.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ruangan itu tidak tiba-tiba sunyi. Tidak ada yang berdiri atau memberi hormat. Tapi suara-suara yang tumpang tindih itu perlahan mereda, seperti air yang berhenti mendidih begitu api dikecilkan. Kepala-kepala menoleh ke arahnya. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap layar-layar dinding selama sepuluh detik penuh tanpa bicara.
Aku melihat matanya bergerak. Dari satu grafik ke grafik lain. Dari angka ke angka. Seperti waktu di ruang server SMA, delapan tahun lalu, di balik kaca. Membaca. Mencari baris pertama di mana sesuatu mulai salah.
“Rizky,” katanya. Suaranya pelan. Lebih pelan dari suara siapa pun di ruangan itu. “Gateway utama mati total atau lambat?”
“Lambat parah, Pak. Sembilan puluh persen timeout.”
“Jangan retry ke sana lagi. Tutup jalurnya.”
“Tutup, Pak?”
“Tutup. Setiap retry bikin dia makin tersedak.” Ia menoleh ke engineer lain. “Sari. Aktifkan jalur cadangan.”
Sari, perempuan berkerudung hitam di pojok, menatapnya. “Jalur cadangan belum pernah dipakai di trafik segini, Pak.”
“Belum pernah dipakai. Tapi dirancang buat ini.” Ia mendekat ke laptop Sari dan menunjuk sesuatu di layar. “Tiga tahun lalu, waktu kita masih dua puluh orang. Aku bikin dengan asumsi suatu hari kita bakal empat belas kali lipat dan gateway utama bakal tumbang di hari yang paling nggak tepat. Hari ini hari itu. Aktifkan.”
Sari mengetik. Satu perintah. Tekan enter.
Aku melihat layar di depan Sari dari balik bahunya. Sebuah daftar layanan muncul, nama-nama sistem yang ditulis dengan huruf kecil dan tanda hubung. Di antara nama-nama berbahasa Inggris yang tidak kupahami, ada satu yang berbahasa Indonesia.
cadangan-svc
Aku berhenti bernapas.
Mungkin kebetulan. Pasti kebetulan. Kata cadangan itu kata biasa. Semua sistem punya cadangan. Insinyur mana pun bisa menamai layanan mereka dengan kata itu.
Tapi aku teringat parkiran sepeda di hari terakhir MOS, sebelas tahun lalu. Anak laki-laki dengan kemeja putih kekecilan dan gembok sepeda di tangan, yang berkata sebelum otaknya sempat menyensor: Aku bakal selalu bawa satu cadangan.
Dan aku teringat bus malam ke Bandung. Satu bungkus. Bukan dua.
Di layar, status cadangan-svc berubah dari abu-abu ke hijau.
“Antrean,” kata Anggana. “Dimas, pesanan yang nggantung jangan dilepas. Biarin di antrean. Jalur cadangan ambil pelan-pelan dari depan. Jangan dibuang satu pun.”
“Ada tiga ribu delapan ratus, Pak.”
“Ambil satu-satu. Nomor uniknya masih nempel. Nggak bakal ada yang kepotong dua kali.”
Angka merah di layar besar mulai bergerak. Turun. Tiga ribu delapan ratus. Tiga ribu dua ratus. Dua ribu. Grafik yang tadi menukik ke bawah mulai merangkak naik.
Anggana berdiri di tengah ruangan dengan tangan terlipat di dada. Ia tidak berteriak. Ia tidak berlari ke sana kemari. Ia hanya berdiri, membaca, dan setiap tiga puluh detik memberi satu perintah pendek kepada satu orang. Rizky, cek latensi. Sari, naikkan kapasitas dua kali. Dimas, kasih tahu tim Ucup, pesanan yang dobel dibatalkan otomatis dalam lima menit, jangan dijanjiin refund manual. Suaranya tetap pelan. Makin genting situasinya, makin pelan dan jernih suaranya, seperti orang yang berbicara kepada anak kecil yang ketakutan.
Dan ruangan itu mendengarkan.
Jovan masuk, napasnya terengah-engah, jasnya dilepas dan tergantung di satu lengan. “Bro! Berapa lama?”
“Delapan menit lagi.”
“Ada yang hilang?”
“Nggak ada.”
Jovan menatapnya, lalu menatap layar, lalu menatapku yang berdiri di pojok dekat pintu dengan tablet di dada. Matanya menyipit sebentar. Lalu ia mengetik sesuatu di HP-nya dengan dua jempol.
Delapan menit kemudian, angka merah di layar besar menunjukkan nol.
Tiga ribu delapan ratus empat belas pesanan, semuanya selesai. Nol transaksi hilang. Nol pembayaran ganda.
Waktu pemulihan: sebelas menit dari layar pertama berubah merah.
Ruangan itu meledak. Engineer-engineer bersorak, saling tos, seseorang melempar bantal leher ke udara. Sari menangis sambil tertawa. Rizky memeluk Dimas. Jovan berteriak ITU DIA CTO GUE! ke langit-langit seperti komentator sepak bola.
Anggana tersenyum. Lalu ia mengangguk ke arah Sari, mengangguk ke arah Rizky, mengangguk ke arah semua orang di ruangan itu.
“Makasih, semua. Nanti sore post-mortem. Jangan lupa makan siang.”
Lalu ia berjalan keluar dari war room, melewatiku di dekat pintu, dan berkata dengan suara biasa, seolah tidak terjadi apa-apa:
“Ayo, Luna. Tadi kamu nanya nomor dua belas.”
Kami kembali ke ruang Rinjani.
Ia duduk. Membuka laptop. Mengambil gelas tehnya yang sudah dingin, meminumnya, meringis sedikit karena dingin, lalu menatapku.
“Pertanyaan kamu tadi: berapa lama sistem bisa bertahan kalau penyedia pembayaran utama gagal.” Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Jawabannya, kamu udah lihat sendiri. Sebelas menit buat pulih penuh. Nol yang hilang.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku menatapnya. Kerahnya miring, lebih miring dari tadi pagi karena entah di menit keberapa ia menarik-nariknya tanpa sadar. Lengan kemejanya masih digulung. Ada noda spidol biru di pinggir telapak tangannya. Ia baru saja menyelamatkan empat ribu pesanan dan reputasi perusahaan yang akan didanai tujuh puluh lima juta dolar, dan ia kembali ke ruang rapat kecil ini untuk menjawab pertanyaan nomor dua belas dari daftar seorang junior.
“Anggana,” kataku.
“Hm?”
Aku ingin bertanya soal cadangan-svc. Aku ingin bertanya apakah itu kebetulan. Aku ingin bertanya apakah ia masih ingat parkiran sepeda.
Tapi kalau aku bertanya, dan ia bilang iya, itu kebetulan, aku tidak tahu apakah aku sanggup.
“Kamu hebat,” kataku sebagai gantinya.
Ia tersenyum. Sopan. Rapi. Sama.
“Makasih. Tim yang hebat.”
Aku mencatat sesuatu di tablet. Lalu, di halaman terpisah, yang tidak akan pernah masuk laporan:
Hari ini dia nyelametin 3.814 pesanan dalam 11 menit. Dia nggak teriak sekali pun. Ada layanan namanya cadangan-svc. Aku nggak berani nanya.
Skor: masih satu nol. Tapi aku nggak peduli. Aku baru jatuh cinta lagi, dan kali ini aku nggak bakal lari.
Jam tiga sore, waktu aku sedang membaca dokumentasi setebal dua jari itu sendirian di ruang Rinjani, pintu diketuk.
Seorang lelaki gempal dengan kemeja batik dan tanda pengenal bertuliskan Head of Customer Operations masuk membawa sepiring gorengan.
“Mbak dari Sagara? Ini dari tim saya, buat makasih udah sabar nunggu tadi siang. Kata Pak Angga, tamu harus—”
Ia berhenti di tengah kalimat.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Wajahnya berubah perlahan, dari ramah jadi bingung, dari bingung jadi kaget, dari kaget jadi sesuatu yang sangat, sangat berbahaya.
“Lo...” katanya pelan. “Lo yang dulu benerin kerah—”
“Cup.”
Suara itu datang dari pintu. Anggana berdiri di sana dengan laptop di tangan, ekspresinya tenang, hanya alisnya yang terangkat sedikit.
Ucup menutup mulutnya. Lalu membukanya lagi. Lalu menutupnya lagi. Ia menaruh piring gorengan di meja di depanku dengan gerakan sangat hati-hati, seperti orang meletakkan bom yang belum dijinakkan.
“Selamat sore, Mbak Aluna,” katanya, sangat formal. “Selamat datang di Flie. Gorengannya enak. Bakwannya pakai udang. Saya permisi.”
Ia keluar. Di koridor, aku mendengar ia berjalan cepat, lalu berhenti, lalu dengan suara yang ia kira pelan tapi terdengar sampai ke ruang Rinjani:
“Bro. Bro. Lo tahu dia nyebut lo apa tadi siang ke Pak Jovan? Gue denger dari Sari. Dia nyebut lo Anggana. Nama lengkap. Nggak ada yang manggil lo Anggana di sini, Bro. Semua orang manggil lo Angga. Cuma dia.”
Hening.
Lalu suara Anggana, pelan, datar:
“Kerja, Cup.”
Langkah kaki menjauh.
Aku menatap piring gorengan di depanku, dan tersenyum sendirian di ruang rapat kaca bernama Gunung Rinjani.
Ia tidak bilang Ucup salah.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama reading
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis