← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty One

Kening

POV: Aluna

Jam satu lewat dua puluh pagi, aku berdiri di balik dinding kaca war room Flie dengan dua kantong kresek di tangan.

Isinya dua puluh bungkus nasi uduk dan dua termos teh melati tanpa gula. Bu Ratih yang membungkus nasi uduknya. Aku meneleponnya jam sepuluh malam dari rumah sakit, ragu, takut membangunkannya, dan Bu Ratih mengangkat di dering pertama seperti orang yang memang sedang menunggu telepon.

“Angga belum pulang, Nduk,” katanya sebelum aku sempat bertanya. “Dara bilang kantornya diserang. Ibu ndak ngerti diserang pakai apa. Tapi Ibu udah masak.”

Aku naik ojek dari Margonda ke Jakarta Timur, mengambil dua kantong kresek dari tangan Bu Ratih yang menunggu di depan lapak dengan daster dan sanggul putih, lalu naik ojek lagi ke Kuningan. Satpam gedung menahanku di lobi sampai Ucup turun menjemput dengan wajah orang yang belum tidur dan mata merah.

“Mbak Aluna,” katanya, menatap kantong kresek di tanganku. “Itu...”

“Dari Ibu.”

Ucup menatap kantong itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengambil satu kantong dari tanganku dan berjalan ke lift.


War room malam itu tidak seperti siang flash sale delapan minggu lalu.

Waktu itu, layar-layar merah dan suara-suara tumpang tindih, lalu Anggana masuk dan semuanya mereda dalam hitungan detik. Sebelas menit. Selesai.

Malam ini, tidak ada yang selesai dalam sebelas menit.

Sudah sembilan jam. Dua puluh tiga engineer duduk di depan laptop dengan wajah pucat dan mata merah. Kaleng-kaleng minuman energi bertumpuk di meja. Seseorang tertidur di bean bag di pojok dengan laptop masih terbuka di dada. Di layar-layar dinding, grafik-grafik bergerak: garis merah yang naik turun seperti detak jantung yang tidak teratur, angka-angka yang terus bertambah di pojok kanan atas. Percobaan login: 14.287.331. Diblokir: 14.281.006. Berhasil: 0.

Nol.

Dan di tengah ruangan, berdiri dengan tangan terlipat di dada dan kemeja kerja yang sudah kusut seharian, kerah yang miring ke dua arah sekaligus, rambut yang berantakan karena terlalu sering diacak-acak dengan tangan, Anggana.

Ia tidak berteriak. Sembilan jam, dan menurut Ucup, ia tidak berteriak sekali pun. Ia berdiri di sana, membaca layar, dan setiap beberapa menit memberi satu perintah pendek ke satu orang.

Aku berdiri di balik dinding kaca dan menatapnya.

Sembilan tahun lalu, aku berdiri di balik dinding kaca ruang server SMA Pelita Nusantara dengan dua tangan menempel di kaca, dan melihat anak laki-laki kelas tiga menyelamatkan tiga ratus siswa dalam empat puluh menit. Waktu itu aku berpikir orang ini harus pergi jauh. Dan aku mendorongnya pergi.

Malam ini aku berdiri di balik dinding kaca yang lain, dengan dua kantong kresek nasi uduk, dan aku tidak berpikir ia harus pergi ke mana-mana.

Aku berpikir aku ingin tetap di sini.


“Pak Angga,” kata Sari dari pojok, suaranya serak. “Pola berubah. Mereka mulai pakai IP residensial. Dari HP-HP orang biasa yang kena malware.”

Anggana mendekat ke laptop Sari. Membaca. Sepuluh detik.

“Mereka tahu kita blokir berdasarkan pusat data,” katanya. “Jadi mereka pindah ke HP orang biasa. Kita nggak bisa blokir IP residensial satu-satu tanpa ngeblokir pengguna asli.”

“Terus gimana, Pak?”

“Jangan blokir IP-nya. Blokir perilakunya.” Ia menunjuk sesuatu di layar Sari. “Lihat ini. Orang asli login sekali, salah password, nunggu, coba lagi. Pola ketikannya nggak rata. Bot ini login dengan jeda yang terlalu rapi. Tiga ratus dua belas milidetik. Tiap kali. Orang nggak ngetik serapi itu.” Ia menegakkan badan. “Rizky, pasang aturan baru: kalau ada percobaan login dengan jeda yang terlalu konsisten, tanya pertanyaan keamanan. Orang asli bisa jawab. Bot nggak.”

“Siap, Pak.”

“Dimas. Akun yang emailnya ada di daftar bocoran yang mereka pakai, paksa ganti password. Semua. Kirim notifikasi ke pengguna. Bahasa yang jelas, jangan nakut-nakutin. Akun Anda aman. Kami minta Anda ganti password sebagai langkah pencegahan.”

“Berapa akun, Pak?”

“Berapa pun. Kalau satu juta, satu juta. Lebih baik satu juta orang kesel disuruh ganti password daripada satu orang kehilangan saldo.”

Aku melihat Dimas menelan ludah. Lalu mengetik.

Anggana kembali berdiri di tengah ruangan. Ia menatap layar besar. Grafik merah masih naik turun, tapi aku bisa melihat sesuatu berubah. Garis yang tadinya bergerigi mulai lebih rata. Angka Diblokir bertambah lebih cepat.

Lalu ia menoleh. Seperti merasakan sesuatu.

Ia melihatku di balik kaca.

Ekspresinya berubah. Hanya sebentar. Hanya sedetik. Matanya yang lelah membesar sedikit, lalu sesuatu di wajahnya melunak, seperti es yang menyentuh air hangat.

Ia mengangguk padaku. Kecil. Hanya sekali.

Lalu ia kembali ke layar.

Ucup, yang berdiri di sebelahku memegang kantong kresek, menghela napas.

“Gue nggak pernah liat dia gitu,” katanya pelan. “Sembilan jam, mukanya kayak batu. Terus lo dateng, dan dia...” Ucup menggeleng. “Satu detik. Mukanya jadi manusia lagi.”


Ucup membagikan nasi uduk ke dua puluh tiga engineer. Mereka makan di depan laptop dengan satu tangan dan mengetik dengan tangan lain. Seseorang menangis waktu membuka bungkusan daun pisang dan mencium wanginya, lalu bilang ia tidak menangis, ia cuma kurang tidur.

Aku menuang teh melati dari termos ke gelas kertas, berjalan masuk ke war room, dan berdiri di sebelah Anggana.

Aku tidak bilang apa-apa. Aku menyodorkan gelas itu.

Ia menatap gelas itu. Lalu menatapku. Lalu menerimanya.

“Dari Ibu?” tanyanya pelan.

“Tehnya dari aku. Nasi uduknya dari Ibu.”

Ia meminum teh itu. Matanya terpejam sebentar.

“Tanpa gula,” katanya.

“Tanpa gula.”

Ia membuka mata, menatap layar lagi. “Kamu nggak harus ke sini. Papa—”

“Papa tidur. Mama sama Dara.”

Ia menoleh. “Dara?”

“Dia nggak pulang dari tadi sore. Duduk di kursi sebelah ranjang Papa, buka laptop, kerja. Waktu Papa bangun, dia bacain berita bisnis.” Aku tersenyum ke layar. “Papa suka. Katanya suara Dara kayak penyiar Metro TV.”

Anggana menatapku lama. Lalu ia tertawa, sangat pelan, dari hidung, dan menggeleng.


Jam empat lewat sepuluh, Rizky berteriak.

“PAK! Ketemu!”

Semua kepala menoleh. Anggana sudah berjalan ke laptop Rizky sebelum teriakannya selesai.

“Skrip bot-nya,” kata Rizky, suaranya bergetar karena lelah dan semangat. “Salah satu bot nggak sempurna. Dia kirim permintaan dengan header yang lupa dihapus. Ada user-agent custom.” Ia menunjuk satu baris di layar. “trivio-partner-sync/2.4.1.”

Hening.

“Itu nama internal,” kata Rizky. “Bukan nama publik. Nggak ada yang bakal namain bot pakai itu kecuali orang yang copy-paste kode dari repositori internal Trivio dan lupa ganti.”

Anggana menatap layar lama.

“Simpan,” katanya akhirnya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Ambil snapshot lengkap. Hash semua log. Kirim salinan ke Mbak Kirana, ke tim hukum eksternal, dan ke tim forensik independen yang kita kontrak tahun lalu. Jangan sentuh apa pun lagi. Ini bukti.”

Ia menegakkan badan. Menatap layar besar di dinding.

Percobaan login: 18.904.212.

Diblokir: 18.904.212.

Berhasil: 0.

“Dan pengguna?” tanyanya.

“Dua belas juta akun aman, Pak,” kata Dimas. “Nol akun diambil alih. Notifikasi ganti password udah terkirim ke satu koma dua juta akun yang ada di daftar bocoran. Transaksi tetap jalan. Sistem pembayaran nggak terganggu sama sekali. Malam ini kita proses transaksi senilai sebelas miliar rupiah di tengah serangan.”

Anggana mengangguk. Pelan.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat ia lakukan.

Ia duduk. Di lantai. Di tengah war room, bersandar ke kaki meja, dengan gelas teh kosong di tangan. Ia menutup mata dan menghela napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang baru meletakkan sesuatu yang sangat berat setelah memikulnya sembilan belas jam.

Dua puluh tiga engineer menatapnya.

Lalu, satu per satu, mereka bertepuk tangan. Tidak bersorak seperti siang flash sale. Tidak ada terompet atau bantal leher yang dilempar. Hanya tepuk tangan pelan dari orang-orang yang terlalu lelah untuk bersorak, tapi tidak terlalu lelah untuk bersyukur.

Anggana membuka mata. Melihat mereka. Tersenyum.

“Pulang,” katanya. “Semua. Tidur. Hari Senin kita bahas.”

Tidak ada yang bergerak.

“Pak,” kata Sari. “Bapak yang pulang duluan.”

Semua orang menatapnya. Anggana menatap balik. Lalu, untuk pertama kalinya mungkin dalam empat tahun, ia menurut.


Pak Hendra pulang dari rumah sakit hari Minggu sore.

Anggana yang mengantar. Ia tidur enam jam hari Sabtu, lalu datang ke rumah sakit hari Minggu jam tiga dengan mobil yang sudah dibersihkan, kursi belakang sudah dilipat supaya kursi roda muat tanpa harus dibongkar, dan termos teh hangat untuk Mama.

Pak Hendra menolak dibantu naik ke mobil. Ia mencoba sendiri, dengan tangan kanan yang gemetar mencengkeram pegangan pintu, dan butuh empat menit. Anggana berdiri di sebelahnya dengan dua tangan siap menangkap, tapi tidak menyentuh, sampai Pak Hendra akhirnya duduk di jok belakang dengan napas terengah-engah dan separuh wajah yang tersenyum puas.

“Om... masih... bisa,” katanya.

“Iya, Om,” kata Anggana. “Om masih bisa.”


Malam itu, setelah Papa dibaringkan di kamarnya dan tertidur dengan cepat, setelah Mama menyiapkan teh dan kue lumpur di ruang tamu dan lalu pamit tidur karena katanya Mama capek banget, Nak, kalian ngobrol aja, setelah lampu kamar orang tuaku dimatikan, aku dan Anggana duduk di teras.

Teras kecil itu hanya cukup untuk dua kursi plastik dan satu meja rendah. Di atas kami, dahan pohon jambu air milik tetangga menjulur ke atap. Bunga-bunganya yang putih kecil mulai bermekaran, dan sesekali satu jatuh ke lantai teras dengan bunyi yang sangat pelan. Lampu teras kuning menyala redup. Di ujung gang, lampu jalan berkedip.

Kami tidak bicara lama. Kami duduk di kursi plastik masing-masing, minum teh, menatap gang yang sepi.

“Makasih,” kataku akhirnya.

“Kamu udah bilang makasih.”

“Belum buat semuanya.”

Ia menoleh. “Semuanya?”

“Dua puluh lima menit. Gendong Papa. Telepon ke rumah sakit dari mobil. Nanya ke Mama sebelum bayar.” Suaraku mulai bergetar. Aku menarik napas. “Meluk aku di lorong. Nggak bilang nggak apa-apa.”

Ia diam.

“Kamu tahu nggak,” kataku, “dari semua orang yang ada di rumah sakit malam itu, kamu satu-satunya yang nggak bilang semua bakal baik-baik aja. Dokter bilang. Perawat bilang. Bahkan Mama bilang ke aku. Cuma kamu yang nggak.”

“Aku nggak tahu apa semua bakal baik-baik aja.”

“Aku tahu kamu nggak tahu.” Aku tersenyum ke gang. “Makanya aku percaya sama kamu.”

Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan gelas tehnya di meja rendah. Lalu ia berdiri.

Aku mendongak. “Kamu mau pulang?”

Ia tidak menjawab. Ia melangkah ke depanku. Lalu, pelan, ia mengulurkan tangan ke wajahku.

Ujung jarinya menyentuh rambutku. Helai-helai di dekat pelipis yang berantakan karena angin, karena seharian di rumah sakit, karena aku tidak sempat menyisir. Ia menyelipkan helai-helai itu ke belakang telingaku. Satu. Lalu satu lagi. Gerakan yang lambat dan hati-hati, seperti menyusun lipatan daun pisang di sudut yang sulit.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.

Ia menatapku. Di bawah lampu teras kuning, wajahnya setengah terang. Matanya tidak menyembunyikan apa-apa.

Lalu ia membungkuk.

Dan mencium keningku.

Bibirnya menyentuh kulit di antara alisku dan garis rambut. Hangat. Lembut. Lama. Lebih lama dari ciuman di pipinya di teras atap. Lebih lama dari apa pun.

Aku memejamkan mata.

Aku merasakan napasnya di rambutku. Tangannya masih di sisi wajahku, ibu jarinya di tulang pipiku. Aku merasakan sesuatu jatuh di bahuku, sangat ringan, dan aku tahu itu bunga jambu air dari dahan di atas kami.

Delapan tahun.

Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, aku mengangkat tangan untuk merapikan kerahnya dan menurunkannya lagi. Aku memutuskan bahwa aku tidak berhak menyentuhnya. Bahwa kalau aku menyentuhnya, ia tidak akan pergi.

Malam ini, di bawah pohon jambu air, ia yang menyentuhku. Dan ia tidak pergi ke mana-mana.

Ia menarik bibirnya dari keningku. Pelan. Tapi tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya menempel di dahiku. Kami berdua bernapas di jarak yang sangat dekat.

“Aluna,” bisiknya.

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Jantungku berhenti.

Aku tahu pertanyaannya. Aku tahu, dari cara ia menyebut namaku. Dari Papa yang berbisik sesuatu padanya di ICU, yang tidak pernah ia ceritakan padaku tapi aku bisa membacanya di wajahnya waktu ia keluar dari ruangan itu. Dari aku mau nanya kamu sesuatu, dan aku mau kamu cerita semuanya di lorong lantai tiga puluh satu.

Ia akan bertanya. Dan aku akan menjawab. Malam ini. Di sini.

Lalu aku teringat sesuatu.

Email yang kubuka sekilas tiga minggu lalu. Trivio - Flie Integration Scenario. Informasi internal Sagara yang kuberitahukan padanya di lorong lantai tiga puluh satu dua hari lalu, tanpa izin siapa pun. Pelanggaran kerahasiaan yang bisa membuatku dipecat. Dan hubungan pribadiku dengan CTO perusahaan target, yang tidak pernah kulaporkan ke kepatuhan, yang Marcella sudah peringatkan di depan ruang IC, yang tiga ratus orang lihat di teras atap Flie.

Kalau aku menceritakan semuanya pada Anggana malam ini, aku akan menceritakannya sebagai orang yang masih menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Dari Marcella. Dari Sagara. Dari Pak Haryo, yang malam itu tertawa di ruang IC dan percaya pada laporanku.

Aku sudah menyembunyikan terlalu banyak hal selama delapan tahun. Aku tidak mau menceritakan kebenaran pada Anggana sambil masih menyembunyikan kebenaran lain dari orang lain. Aku tidak mau ia menerima pengakuanku dari tangan yang masih kotor.

Aku membuka mata.

“Anggana,” kataku pelan. “Aku tahu kamu mau nanya apa.”

Ia menarik dahinya dari dahiku. Sedikit. Cukup untuk menatapku.

“Dan aku mau jawab. Semua. Tanpa ada yang aku simpen.” Suaraku bergetar. “Tapi sebelum itu, ada yang harus aku beresin dulu. Di Sagara. Aku nggak mau cerita ke kamu sambil masih nyembunyiin sesuatu dari orang lain. Aku udah kebanyakan nyembunyiin sesuatu.”

Ia menatapku lama. Aku tidak bisa membaca wajahnya.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Besok. Aku ke Marcella besok pagi.” Aku menelan ludah. “Terus Sabtu. Jam empat pagi. Di lapak. Di tempat semuanya mulai. Aku ceritain semuanya ke kamu. Janji.”

“Sabtu,” ulangnya.

“Aku tahu aku udah terlalu sering bilang nanti.” Mataku panas. “Aku tahu. Tapi ini yang terakhir. Aku janji, Anggana. Ini nanti yang terakhir.”

Ia diam lama. Bunga jambu air jatuh lagi, kali ini di bahunya.

Lalu ia mengangguk.

“Sabtu,” katanya.

Lalu ia berdiri tegak, mengulurkan tangan, dan menarikku berdiri dari kursi plastik. Kami berdiri berhadapan di teras sempit itu. Ia masih memegang tanganku.

Aku menatap kerahnya.

Miring. Tentu saja miring. Sisi kiri terlipat ke dalam, sisi kanan mencuat. Sembilan belas jam di war room, enam jam tidur, rumah sakit, mengangkat kursi roda, dan ia tidak sempat bercermin.

Aku mengangkat tangan. Merapikan kerahnya. Melipat sisi kiri keluar. Menekan dengan ibu jari. Menurunkan sisi kanan. Menepuknya dua kali.

“Kerahmu miring,” kataku.

Ia tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit sampai hampir hilang. Senyum yang bukan untuk semua orang.

“Pasti masih miring,” katanya.

Aku tertawa, basah.


Ia pulang jam sepuluh lewat empat puluh. Aku berdiri di depan pagar hijau sampai mobilnya belok di ujung gang.

Lalu aku masuk ke kamar, duduk di kasur, membuka laptop, dan mulai menulis.

Butuh tiga jam. Aku menulis, menghapus, menulis lagi. Radio Oma menyala di sudut meja, memutar keroncong dengan suara pelan.

Email untuk tim kepatuhan Sagara Capital. Tembusan untuk Marcella Tan. Tembusan untuk Pak Haryo Wiradharma.

Perihal: Pengungkapan Konflik Kepentingan dan Pelanggaran Kerahasiaan — Aluna Prameswari Hadinata, Junior Strategic Investment, Transaksi Seri C Flie

Aku menulis semuanya. Bahwa aku memiliki hubungan pribadi dengan Chief Technology Officer perusahaan target, Anggana Pradipta, yang berkembang selama proses due diligence. Bahwa hubungan itu tidak kulaporkan ketika seharusnya kulaporkan. Bahwa pada hari Jumat, setelah rapat Investment Committee final, aku memberitahukan kepada yang bersangkutan keberadaan dokumen internal berjudul Trivio - Flie Integration Scenario yang kulihat secara tidak sengaja dalam email yang ditembuskan kepada atasanku. Bahwa aku melakukannya karena aku percaya dokumen itu menunjukkan konflik kepentingan dari pihak limited partner yang dapat merugikan perusahaan target dan nilai investasi Sagara sendiri. Bahwa aku menyadari tindakanku melanggar kewajiban kerahasiaan, terlepas dari alasannya.

Bahwa aku bersedia menerima konsekuensi apa pun.

Bahwa aku meminta dikeluarkan dari tim transaksi Seri C Flie, efektif segera, untuk menjaga integritas proses.

Aku membaca ulang email itu tujuh kali.

Lalu aku menatap kalimat terakhir yang kutulis, satu-satunya kalimat yang tidak formal, yang aku tidak tahu apakah boleh ada di email kepatuhan:

Saya pernah memutuskan sesuatu untuk orang lain tanpa memberitahunya, dan saya menyesalinya selama delapan tahun. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kepada siapa pun.

Aku tidak menghapusnya.

Jam satu lewat empat puluh tujuh pagi, aku menekan tombol kirim.

Lalu aku menutup laptop, berbaring di kasur, dan menatap langit-langit kamar yang catnya mengelupas di satu sudut. Di kening, di antara alis dan garis rambut, aku masih bisa merasakannya. Hangat. Lembut. Lama.

Aku mungkin akan kehilangan pekerjaanku besok. Pekerjaan yang kuperjuangkan dari tiga ratus pelamar. Pekerjaan yang membayar cicilan rumah dan obat Papa.

Tapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidur tanpa menyembunyikan apa pun dari siapa pun.

Kecuali satu orang. Dan untuk satu orang itu, aku punya waktu sampai Sabtu.

Enam hari.

Aku tidak tahu bahwa kali ini, waktunya bahkan tidak sampai enam hari.