Chapter Forty Four
Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
POV: Anggana
Pagi pertama setelah pulang dari Labuan Bajo, aku bangun jam tiga lewat empat puluh dan sisi kasur di sebelahku kosong.
Bukan kosong yang dingin. Seprainya masih hangat. Bantalnya masih menyimpan cekungan bentuk kepalanya dan wangi rambutnya, melati dan sabun bayi, yang sekarang juga wangi samponya yang ia taruh di kamar mandi kami di lantai dua, di sebelah sampoku, seolah sudah di sana sejak dulu.
Dari lantai bawah, aku mendengar senandung campursari. Dua suara. Satu suara Ibu, yang liriknya hanya ia hafal separuh. Satu lagi suara yang lebih muda, lebih tinggi, yang liriknya hanya ia hafal seperempat dan mengisi sisanya dengan na-na-na.
Aku duduk di kasur dan tersenyum ke kegelapan.
Ia menepati janjinya. Besok subuh, jam tiga lewat empat puluh, aku bangun duluan. Biar aku yang motong daun pisangnya.
Aku turun tangga.
Dapur itu terang dan hangat dan wangi santan, seperti setiap pagi selama dua puluh tahun. Daun pisang dilayukan di atas api kompor. Dandang mengepulkan uap. Ibu di depan kompor dengan daster dan sanggul putih.
Dan di kursi plastik di depan meja marmer, di tempat yang selama dua puluh tahun adalah tempatku, duduk Aluna.
Ia memakai salah satu kausku. Kaus abu-abu lama bertuliskan HMIF ITB yang sudah pudar, kebesaran dua nomor di tubuhnya, sampai lengan kausnya melewati siku dan ujungnya menutupi celana training-nya sampai paha. Rambutnya dicepol asal di puncak kepala, dengan helai-helai yang lepas di tengkuk dan di sekitar telinga. Tanpa riasan. Pipinya masih sedikit merah karena matahari Flores. Ia memegang pisau pemotong daun di tangan kanan dan selembar daun pisang lebar di tangan kiri, dan lidahnya terjulur sedikit di sudut bibir karena konsentrasi.
Ia memotong daun itu menjadi persegi. Dua puluh senti. Rapi.
Ia tidak melihatku datang. Ibu melihatku. Ibu menatapku dari depan kompor, lalu menatap Aluna, lalu kembali padaku, dan tersenyum dengan senyum yang tenang dan penuh pengetahuan.
Lalu Ibu berbalik ke kompor dan mulai bersenandung lebih keras, seolah memberi tahu aku untuk tidak berdiri di sana seperti orang bodoh.
Aku berdiri di sana seperti orang bodoh selama satu menit.
Lalu aku berjalan ke kursi plastik di sebelahnya, mengambil pisau pemotong daun yang lain, dan mulai memotong.
“Pagi, Mas,” katanya tanpa menoleh.
“Pagi. Kamu udah dari jam berapa?”
“Tiga lewat dua puluh.”
“Kenapa nggak bangunin aku?”
“Kan aku udah janji. Gantian.” Ia meletakkan selembar daun yang sudah dipotong di tumpukan. “Mas udah motong daun dari umur delapan tahun. Sekarang giliran aku. Mas tidur aja tiap pagi sampai jam lima.”
“Aku nggak bisa tidur sampai jam lima.”
“Kenapa?”
“Hidungku bangun duluan. Santan.”
Ia tertawa. Lalu ia menoleh, dan menatap kerah kaus tidurku. Kaus putih tipis. Kerahnya, tentu saja, terlipat ke dalam di satu sisi.
Ia meletakkan pisau. Mengangkat tangan. Merapikannya.
“Kerahmu miring,” katanya.
“Ini kaus tidur.”
“Kaus tidur juga punya kerah.”
Di depan kompor, Ibu tertawa kecil tanpa menoleh.
Jam empat lewat sepuluh, waktu aku sedang memotong lembar daun pisang yang keempat puluh, ia menghilang dari kursinya.
Aku pikir ia pergi ke kamar mandi. Atau ke kulkas. Aku tidak memperhatikan. Aku sedang memotong daun yang sobek di satu sisi dan mencoba menyelamatkannya.
Lalu dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.
Aku membeku.
Pisau di tanganku berhenti di tengah daun. Lengan-lengan itu, dengan lengan kaus abu-abu kebesaranku yang jatuh melewati siku, melingkar penuh di pinggangku, dan kedua tangannya bertaut di atas perutku. Lalu sesuatu bersandar di punggungku. Hangat. Seluruh tubuhnya, menempel di punggungku dari bahu sampai pinggang.
Lalu dagunya. Di bahu kananku. Pipinya menempel di pipiku dari samping.
“Mas wangi daun pisang,” bisiknya di telingaku.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku tidak bisa memotong daun. Aku tidak bisa meletakkan pisau. Aku tidak bisa menoleh. Aku duduk di kursi plastik di dapur Ibu jam empat lewat sepuluh pagi, dengan pisau di tangan dan daun pisang setengah terpotong di meja, dan istriku memelukku dari belakang dengan seluruh tubuhnya, dan otakku berhenti memproses.
“Mas,” bisiknya. “Pisaunya taruh dulu. Nanti kepotong.”
Aku meletakkan pisau. Tanganku sedikit gemetar.
Ia mengeratkan pelukannya. Lalu ia mencium tengkukku. Sekali. Pelan. Di tempat kerah kausku berakhir.
Aku menahan napas.
Di depan kompor, Ibu berdeham. Keras. Satu kali.
Aluna tidak melepaskan pelukannya. Ia hanya tertawa pelan di bahuku, tawanya bergetar di punggungku.
“Pagi, Bu,” katanya ke arah kompor, masih menempel di punggungku.
“Pagi, Nduk,” kata Ibu, tanpa menoleh, sambil mengaduk sambal kacang dengan sangat, sangat serius. “Santannya jangan sampai gosong, ya. Ibu ndak lihat apa-apa. Ibu lagi ngaduk.”
Ia tidak melepaskan pelukan itu selama lima menit.
Aku menghitung. Aku tidak bisa tidak menghitung. Lima menit dua belas detik, dengan dagunya di bahuku dan lengannya melingkar di pinggangku, sementara aku mencoba memotong daun pisang dengan tangan yang tidak stabil dan menghasilkan persegi yang sama sekali tidak dua puluh senti.
Di menit ketiga, ia mulai bicara pelan di telingaku. Suaranya rendah, hampir berbisik, cukup pelan supaya Ibu tidak mendengar dari depan kompor yang mendesis.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini daunnya kekecilan.”
“Iya.”
“Ini buat nasi uduk anak TK lagi?”
“Kamu yang bikin aku nggak fokus.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.” Lengannya mengencang sedikit. “Aku cuma meluk.”
“Itu ngapa-ngapain.”
Ia tertawa di bahuku. Lalu, lebih pelan lagi, sangat pelan, bibirnya hampir menyentuh telingaku:
“Mas. Mau di sini atau di kamar?”
Pisau di tanganku jatuh ke meja marmer dengan bunyi klang.
Aku menoleh setengah. Wajahnya ada di sana, di bahuku, sangat dekat. Matanya menatapku dengan sesuatu yang sangat polos dan sangat tidak polos sekaligus.
“Emang,” kataku, dengan suara yang keluar jauh lebih serak dari yang kumaksud, “mau ngapain?”
Ia mengangkat alis. Sedikit. Sudut bibirnya naik pelan.
“Mas ini,” bisiknya, “pura-pura nggak tahu.”
Aku membeku.
Benar-benar membeku. Lebih parah dari gaun merah. Lebih parah dari siapa bilang mau tidur buat tidur. Karena ini bukan di vila di atas tebing di Labuan Bajo. Ini dapur Ibu. Jam empat lewat tiga belas pagi. Dengan Ibu di depan kompor, tiga meter dari kami, mengaduk sambal kacang.
“Aku denger.”
Suara itu datang dari ujung tangga.
Kami berdua menoleh.
Dara berdiri di anak tangga ketiga. Piyama beruang. Kacamata miring di hidung. Rambut dicepol asal. Dan di tangannya, papan klip.
Papan klip yang sama. Papan klip audit lapangan Sabtu pagi. Tapi kertas di atasnya baru, dan judulnya, yang bisa kubaca dari sini karena ia menulisnya besar-besar dengan spidol merah:
AUDIT RUMAH TANGGA — PERIODE PERCOBAAN
“Aku denger,” ulang Dara, dengan suara orang yang baru bangun tidur dan sangat tidak senang. “Di sini atau di kamar. Aku denger dari tangga. Aku punya telinga. Rumah ini punya akustik.”
Aluna tidak melepaskan pelukannya. Ia hanya menyandarkan pipinya lebih dekat ke pipiku dan berkata, sangat tenang:
“Pagi, Dara.”
“Jangan pagi, Dara ke aku.” Dara turun tangga. Ia berjalan ke meja marmer, menarik kursi plastik di ujung, duduk, dan mulai menulis di papan klipnya. “Pukul empat lewat tiga belas. Lokasi: dapur. Saksi: Ibu, auditor. Subjek melakukan pelukan dari belakang selama lima menit lebih terhadap Objek. Subjek melontarkan pertanyaan yang tidak pantas didengar di dapur keluarga sebelum subuh. Objek menjatuhkan pisau.”
“Itu laporan atau novel, Dar?” tanyaku.
“Itu notulen.” Dara tidak mengangkat kepala. “Ibu. Ibu denger juga, kan?”
Ibu mematikan kompor. Ia berbalik. Ia menatap Dara. Lalu menatap kami. Lalu, pelan, ia tersenyum.
“Ibu ndak denger apa-apa,” kata Ibu. “Ibu lagi ngaduk sambal.” Ia mengambil baskom nasi uduk dan meletakkannya di meja marmer. “Tapi, Le. Kalau kamu mau ke kamar, ke kamar aja. Daunnya biar Dara yang motong.”
“IBU.”
“Apa? Kamu kan bisa motong daun dari SD.”
Dara menjatuhkan papan klipnya ke lantai.
Aluna tertawa sampai harus melepaskan pelukannya dari pinggangku dan berpegangan pada pinggir meja marmer. Aku menutup wajahku dengan dua tangan.
Kami tidak ke kamar.
Kami membungkus nasi uduk. Dua ratus delapan puluh bungkus. Aluna tujuh koma delapan detik per bungkus sekarang, lebih cepat dari Dara, yang menuntut perlombaan ulang dan kalah lagi. Ibu sembilan detik, karena kata Ibu ia tidak perlu cepat-cepat, ia sudah juara dari sebelum kami lahir.
Jam lima lewat lima belas, lapak dibuka.
Aluna melayani pembeli di sebelahku di balik meja keramik. Telur balado atau dadar. Sambal dipisah. Sepuluh ribu. Ia sudah hafal semua pelanggan tetap. Ia tahu Pak RT selalu minta sambal dobel. Ia tahu tukang ojek berjaket hijau namanya Bang Ipul dan punya anak kembar. Ia tahu Pakde Sarno sekarang membeli empat bungkus, bukan tiga, karena istrinya sudah tidak perlu pura-pura di Cilacap dan sekarang ikut makan di rumah, dan satu lagi untuk Pak Hendra yang biasanya datang hari Sabtu tapi kadang minta dititipkan lewat Pakde Sarno di hari lain.
Pakde Sarno sampai di depan meja jam lima lewat dua puluh. Bersama istrinya. Bergandengan tangan.
“Empat, Mbak,” kata Pakde Sarno.
Aluna membungkus empat. Menyerahkannya. Menerima uang.
Istri Pakde Sarno, perempuan tua berkebaya cokelat yang di resepsi kami tersenyum malu-malu, menatap Aluna lama. Lalu menatapku. Lalu kerahku, yang sekarang adalah kerah kemeja kerja karena aku sudah ganti baju untuk ke kantor, dan yang sudah dirapikan Aluna dua kali sejak jam lima.
“Mas Angga,” kata istri Pakde Sarno. “Kerahnya lurus.”
“Iya, Bu.”
“Sejak nikah lurus terus, ya?”
“Dibenerin terus, Bu.”
Istri Pakde Sarno tersenyum. Lalu ia menyikut suaminya. “Tuh. Liat. Kerah suaminya dibenerin tiap pagi. Kerahmu kapan terakhir lurus, Sarno?”
Pakde Sarno mengusap tengkuknya. “Tahun 1987, Bu.”
Aluna tertawa sampai harus memegangi meja keramik.
Jam enam lewat sepuluh, aku pamit ke kantor.
Aluna mengantarku sampai mobil. Ia masih memakai kaus abu-abu kebesaranku, dengan celemek Ibu di atasnya, dan tangan yang berminyak santan. Ia berdiri di sebelah pintu kemudi sementara aku memasukkan tas laptop ke kursi belakang.
“Mas,” katanya.
“Hm.”
“Kerahmu.”
Aku menunduk. Aku tidak tahu bagaimana, tapi dalam lima menit sejak terakhir ia merapikannya, kerahku sudah miring lagi. Mungkin waktu aku mengangkat tas laptop.
Ia merapikannya. Lalu, sebelum menarik tangannya, ia menyelipkan sesuatu ke saku kemejaku. Sesuatu yang tipis. Kertas.
“Jangan dibuka sekarang,” katanya. “Buka di kantor.”
“Apa itu?”
“Rahasia.”
Lalu ia berjinjit, mencium pipiku, dan mundur ke arah lapak dengan senyum yang membuatku duduk di kursi kemudi selama dua menit penuh sebelum ingat cara menyalakan mesin.
Aku membukanya di lift.
Aku tahu aku seharusnya menunggu sampai kantor. Lift itu kantor, kurang lebih. Di dalam lift ada tiga karyawan dari perusahaan lain di gedung yang sama dan Jovan, yang kebetulan masuk dari lobi bersamaan denganku dan sedang membicarakan sesuatu soal Vietnam yang tidak kudengarkan.
Sticky note kuning. Tulisan tangan miring ke kanan.
Kerah hari ini: 30 derajat (sebelum aku benerin).
Nanti malam aku benerin semua kancingnya.
— Istrimu.
Aku meremas sticky note itu di telapak tangan dan memasukkannya kembali ke saku dengan kecepatan yang terlalu tinggi.
Jovan berhenti bicara. Ia menatapku. Menatap tanganku yang baru masuk ke saku. Menatap wajahku.
“Bro,” katanya pelan. “Muka lo kenapa?”
“Nggak.”
“Muka lo merah kayak udang rebus.”
“AC-nya panas.”
“AC-nya delapan belas derajat, Bro.” Jovan menyipitkan mata. “Lo baru baca sesuatu. Sticky note. Dari Aluna.”
“Nggak.”
“Bro. Gue nikah sama Tiara. Gue tahu muka orang yang baru baca sticky note dari istri.”
Tiga karyawan dari perusahaan lain di lift itu sekarang pura-pura menatap angka lantai di atas pintu dengan sangat serius.
Lift berhenti di lantai dua puluh tiga. Aku keluar duluan. Cepat. Jovan mengikutiku sambil tertawa sampai terdengar ke resepsionis.
Jam sepuluh pagi, di tengah rapat dengan tim infrastruktur di Ruang Bromo, HP-ku bergetar.
Aluna: Mas lagi rapat?
Aku mengetik di bawah meja. Iya.
Aluna: Rapat apa?
Anggana: Infrastruktur. Migrasi database.
Aluna: Seru?
Anggana: Lumayan.
Satu menit. Lalu:
Aluna: Aku lagi mikirin Mas.
Aku berhenti mengetik. Di layar besar di depan, Rizky sedang menjelaskan grafik latensi. Aku tidak mendengar satu kata pun.
Aluna: Mikirin tadi pagi. Mas jatuhin pisau.
Aluna: Mas lucu banget kalau freeze.
Aluna: Aku pengen bikin Mas freeze lagi.
Aluna: Nanti malam.
Aluna: Udah baca sticky note-nya kan?
Aku meletakkan HP di meja dengan layar menghadap bawah. Terlalu keras. Semua orang di Ruang Bromo menoleh.
“Pak Angga?” tanya Rizky. “Ada yang salah di grafiknya?”
“Nggak. Lanjut.”
Rizky melanjutkan. Aku menatap layar besar. Aku melihat grafik. Aku tidak melihat angkanya.
HP-ku bergetar lagi di atas meja. Bunyi getarnya di atas permukaan kayu jati Ruang Bromo terdengar seperti alarm kebakaran.
Sari, yang duduk di sebelahku, melirik HP-ku. Lalu melirikku. Lalu, dengan wajah sangat datar, mendorong HP itu pelan ke arahku dengan satu jari.
“Pak,” bisiknya. “Istri Bapak.”
Aku membalik HP-ku.
Aluna: Mas, Sari bilang Mas mukanya merah di rapat. Sari temen aku sekarang di IG. Hehe.
Aku menatap Sari. Sari menatap layar besar dengan wajah sangat profesional dan sudut bibir yang bergetar.
Aku pulang jam tujuh lewat sepuluh malam.
Lapak sudah tutup. Lampu dapur menyala. Dari ruang tamu, aku mendengar suara televisi dan suara Dara yang memprotes sesuatu soal acara masak-masak. Ibu tertawa.
Aku masuk lewat pintu samping dapur, melepas sepatu, dan berjalan ke tangga.
Aluna berdiri di anak tangga ketiga.
Ia memakai kemeja.
Kemejaku. Kemeja kerja biru muda, yang kupakai minggu lalu dan kugantung di lemari dan, rupanya, tidak lagi di lemari. Kebesaran di tubuhnya. Lengannya digulung sampai siku. Ujung kemejanya jatuh sampai pertengahan paha, di atas celana pendek tidur yang hampir tidak terlihat. Dua kancing teratasnya tidak dikancingkan. Rambutnya tergerai, masih sedikit basah, ujung-ujungnya yang bergelombang menyentuh kerah kemeja.
Kerah kemeja itu miring.
Sisi kiri terlipat ke dalam. Sisi kanan mencuat ke atas, menyentuh rahangnya. Persis seperti kerahku setiap pagi sebelum ia merapikannya.
Ia sengaja.
Aku berdiri di kaki tangga dengan tas laptop di tangan dan membeku.
“Mas,” katanya. Pelan. “Udah pulang.”
“Iya.”
“Capek?”
“Nggak.” Aku menelan ludah. “Sekarang nggak.”
Ia tersenyum. Ia turun satu anak tangga. Sekarang ia di anak tangga kedua, dan matanya sejajar dengan mataku.
“Ini kemeja Mas,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku pinjem.”
“Aku tahu.”
“Kerahnya miring.” Ia menyentuh kerah kemeja itu dengan ujung jari. “Aku nggak bisa benerin sendiri. Kayaknya kemeja Mas emang dibikin buat miring.”
Ia menatapku.
“Benerin dong, Mas.”
Aku meletakkan tas laptop di lantai. Pelan. Aku melangkah maju, sampai berdiri tepat di depannya, di kaki tangga, dengan ia di anak tangga kedua sehingga wajahnya sejajar dengan wajahku.
Aku mengangkat tangan ke lehernya.
Untuk pertama kalinya, aku yang merapikan kerah. Kerahnya.
Aku melipat sisi kiri keluar. Ujung jariku menyentuh kulit lehernya, hangat, dan aku merasakan denyut nadinya di sana, cepat. Aku menekan lipatan itu dengan ibu jari supaya rata, seperti yang ia lakukan setiap pagi selama setahun di gerbang sekolah, seperti yang ia lakukan di koridor Sagara, di dapur, di gerbang yang sama sebelum aku melamarnya. Aku menurunkan sisi kanan, pelan, dari rahangnya. Lalu, karena aku melihat apa yang ia tulis di sticky note tadi pagi, aku mengancingkan satu kancing yang terbuka.
Satu. Pelan.
Lalu aku berhenti di kancing kedua.
Ia menahan napas.
Aku menepuk kerahnya dua kali.
“Kerahmu miring,” kataku.
Ia menatapku. Matanya basah. Bibirnya terbuka sedikit.
“Mas belajar dari mana?” bisiknya.
“Dari kamu. Setahun lebih. Tiap pagi.” Aku menatapnya. “Aku ngeliatin tangan kamu tiap pagi. Aku hafal.”
Ia diam.
Lalu, dari ruang tamu, suara Dara terdengar, keras, jelas, dengan akustik rumah yang memang sangat baik:
“AKU NGGAK DENGER APA-APA. AKU LAGI NONTON MASAK-MASAK. VOLUME-NYA AKU GEDEIN.”
Volume televisi naik drastis. Suara koki di televisi berteriak soal bawang putih.
Aluna menutup wajahnya dengan dua tangan dan tertawa sampai bahunya berguncang di anak tangga kedua.
Jam sembilan malam, listrik padam.
Bukan di rumah kami saja. Seluruh gang. Hujan turun sejak jam delapan, deras, dan petir menyambar di suatu tempat yang cukup dekat untuk membuat kaca jendela bergetar. Lalu semuanya gelap. Televisi mati di tengah teriakan koki. Kulkas berhenti berdengung.
Dari ruang tamu, Dara berteriak. “PLN!”
Ibu menyalakan lilin. Tiga lilin di meja makan, satu di ruang tamu. Ia menemukan sekotak kartu remi di laci dan mengajak Dara main cangkulan di atas karpet ruang tamu, karena kalau mati lampu, main kartu, itu aturan dari zaman Bapakmu.
Aluna menarik tanganku ke tangga.
“Mau ke mana?” bisikku.
“Balkon.”
“Hujan.”
“Iya. Makanya.”
Balkon lantai dua kecil. Hanya cukup untuk dua kursi plastik dan pot cabai yang Ibu pindahkan dari teras samping. Atapnya ada, tapi hujan turun miring karena angin, dan setengah balkon basah.
Ia menarikku ke setengah yang basah.
Air hujan langsung mengenai kami. Dingin. Rambutnya basah dalam lima detik. Kemeja biru muda yang ia pakai, kemejaku, basah di bahu dan menempel di kulitnya. Petir menyambar di kejauhan dan untuk sesaat menerangi wajahnya: mata yang menyala, bibir yang tersenyum, air hujan yang mengalir di pipinya seperti air mata yang bukan air mata.
“Aluna, kamu basah—”
“Iya.”
“Nanti masuk angin—”
“Mas.”
Ia menarik kerahku. Kerah yang sudah dua kali ia rapikan hari ini dan entah bagaimana sudah miring lagi.
Dan ia menciumku.
Di bawah hujan. Di balkon lantai dua rumah bercat putih gading. Di samping pot cabai. Dengan petir di kejauhan dan suara Ibu dan Dara yang bermain kartu di bawah, samar-samar, cangkul! cangkul!
Ia menciumku seperti di dek di Labuan Bajo. Seperti orang yang memulai sesuatu dan tidak berniat berhenti. Tangannya di kerahku menarikku lebih dekat. Bibirnya dingin karena hujan dan hangat di bawahnya. Lalu ia membuka bibirnya, dan ciuman itu berubah, lebih dalam, lebih lambat, dan aku melingkarkan lenganku di pinggangnya di bawah kemeja basah dan menariknya sampai tidak ada lagi hujan di antara kami.
Aku tidak merasakan hujan. Aku tidak merasakan dingin. Aku hanya merasakan dia.
Lalu sebuah cahaya menyorot wajah kami.
Kami berdua tersentak. Menoleh.
Di ambang pintu balkon, Dara berdiri dengan senter HP di tangan, disorotkan tepat ke wajah kami. Piyama beruang. Rambut dicepol. Kacamata yang sekarang berkabut karena udara lembap.
Ia membeku. Kami membeku. Hujan terus turun.
“Maaf,” kata Dara, sangat datar. “Audit darurat. Ibu nyuruh aku nyari lilin cadangan di lemari atas.”
Ia tidak bergerak. Senternya masih menyorot kami.
“Dar,” kataku. “Senternya.”
“Oh.” Dara menurunkan senter. Lalu menaikkannya lagi sedikit, ke arah kemeja Aluna yang basah dan menempel. Lalu menurunkannya lagi dengan cepat. “Itu kemeja Kakak.”
“Iya.”
“Kemeja kerja Kakak.”
“Iya.”
“Yang aku setrika minggu lalu.”
“Iya, Dar.”
Dara menatap kami lama dalam gelap. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi. Di tangga, aku mendengar suaranya, keras, ke arah ruang tamu:
“BU! LILINNYA NGGAK ADA DI LEMARI ATAS! TAPI ADA TEMUAN BARU! KEMEJA KAKAK! BASAH! DIPAKAI ALUNA!”
Dan suara Ibu dari bawah, setenang air di sumur:
“Ndak usah dicatat, Nduk. Main kartu lagi sini.”
Listrik kembali jam sepuluh lewat dua puluh. Kami sudah di kamar.
Rambutnya sudah dikeringkan dengan handuk. Kemejaku yang basah tergantung di pintu kamar mandi, meneteskan air ke lantai. Ia memakai kaus HMIF lagi, kaus yang kering, dan berbaring miring di kasur menghadapku dengan selimut sampai ke bahu.
Lampu kamar menyala lagi tiba-tiba, terang, dan kami berdua menyipit. Aku mematikannya. Tinggal lampu tidur kecil di meja, kuning dan redup.
Di sudut kamar, di atas meja, radio Oma. Aluna menyalakannya. Tabung-tabung menyala jingga. Desis sepuluh detik. Lalu keroncong, pelan, dari RRI Pro 4. Bukan Bengawan Solo malam ini. Lagu lain yang aku tidak tahu judulnya. Ia juga tidak tahu.
“Mas,” bisiknya.
“Hm.”
“Sticky note tadi pagi.”
Aku menatapnya. Wajahku memanas lagi. Lampu kuning redup membuat semuanya terlihat lebih lembut, tapi tidak cukup redup untuk menyembunyikan wajahku.
“Udah dibaca, kan?” tanyanya.
“Udah.”
“Di lift?”
“Kok tahu?”
“Jovan nge-chat Tiara. Tiara nge-chat aku.” Ia tersenyum ke bantal. “Katanya muka Mas kayak udang rebus.”
Aku menutup wajahku dengan bantal. Ia menarik bantal itu dariku dan melemparnya ke lantai.
“Mas,” katanya, lebih pelan. Matanya tidak bercanda lagi. “Aku nulis aku benerin semua kancingnya.”
“Iya.”
“Tadi di tangga Mas yang benerin kancingku.”
“Iya.”
“Satu doang.” Ia menatapku. “Mas berhenti di kancing kedua.”
Aku diam.
Ia bergeser lebih dekat di bawah selimut. Tangannya naik. Ke kerah kausku. Kaus tidur putih tipis yang tidak punya kancing.
“Kaus Mas nggak ada kancingnya,” katanya, pelan, sedikit kecewa.
“Kaus memang nggak ada kancingnya.”
“Kalau gitu,” bisiknya, dan sudut bibirnya naik dengan cara yang membuat jantungku melompat, “aku benerin yang lain.”
Ia menarik kerah kausku, menarikku ke arahnya, dan menciumku.
Di luar, hujan masih turun. Di sudut kamar, radio Oma terus memutar keroncong yang tidak kami ketahui judulnya. Dan di lantai bawah, aku mendengar Ibu mematikan lampu dapur, lalu suara pintu kamarnya tertutup, lalu suara Dara yang menaiki tangga, berhenti di depan pintu kamar kami, dan berkata pelan, sangat pelan, ke pintu:
“Aku nggak denger apa-apa. Aku tidur. Selamat malam.”
Lalu langkahnya menjauh. Pintu kamarnya tertutup.
Aluna tertawa di bibirku. Aku juga.
Lalu kami berhenti tertawa.
Jauh lewat tengah malam, waktu hujan sudah reda dan hanya tinggal tetes-tetes dari atap yang jatuh ke pot cabai di balkon, ia berbisik di dadaku, setengah tidur:
“Mas.”
“Hm.”
“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”
Aku mengusap rambutnya. Pelan.
“Itu yang keberapa hari ini?”
Ia diam sebentar. Menghitung, mungkin. Atau mungkin sudah tertidur.
“Nggak tahu,” gumamnya. “Lupa ngitung.”
“Aku ngitung.”
“Berapa?”
“Tujuh.”
Ia tertawa kecil di dadaku. “Mas ngitung.”
“Aku selalu ngitung, kalau soal kamu.”
Ia mengangkat kepala sedikit. Menatapku dalam cahaya lampu tidur yang kuning dan redup. Matanya mengantuk, bibirnya sedikit bengkak, rambutnya berantakan di bantal.
“Kalau gitu,” bisiknya, “yang kedelapan.”
Ia menciumku sekali lagi. Pelan. Singkat. Di sudut bibir.
“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”
Lalu ia meletakkan kepalanya kembali di dadaku, dan dalam dua menit, napasnya sudah teratur dan pelan.
Aku berbaring dalam gelap, memeluk istriku yang tertidur di dadaku, dan menatap langit-langit.
Delapan.
Besok, aku yakin, lebih banyak lagi.
Dan besok pagi jam tiga lewat empat puluh, aku tahu, sisi kasur di sebelahku akan kosong lagi, dan dari dapur akan terdengar dua suara bersenandung campursari. Dan aku akan turun tangga, dan ia akan merapikan kerahku dan bilang kerahmu miring, dan dua puluh menit kemudian ia akan memelukku dari belakang waktu aku memotong daun pisang, dan Dara akan berdiri di anak tangga ketiga dengan papan klip, dan Ibu akan bilang ia tidak lihat apa-apa.
Aku menghitung hari-hari seperti itu yang akan datang.
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku tidak bisa menyelesaikan hitungannya.
Terlalu banyak.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi reading
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis