Chapter Fourteen
Kakak Punya Pengawal
POV: Anggana
Setiap hari Rabu, Ibu mengirim rantang.
Kebiasaan itu dimulai tiga tahun lalu, waktu Flie baru pindah ke Kuningan dan aku sering lupa makan siang karena terlalu sibuk. Ibu tidak percaya pada makanan kantin gedung perkantoran. Katanya nasinya keras, sayurnya kebanyakan micin, dan sambalnya “sambal orang kota yang ndak pernah lihat cabai di pohon”. Jadi setiap Rabu, Dara, yang kantornya cuma dua gedung dari kantorku, mampir di jam istirahat membawa rantang susun tiga dari Ibu.
Isinya selalu sama. Nasi uduk. Telur balado. Tempe orek. Sambal kacang dipisah. Kerupuk. Dan porsinya selalu cukup untuk lima orang, karena Ibu tahu aku akan membaginya dengan siapa pun yang lewat.
Rabu itu, Dara datang jam dua belas lewat sepuluh. Ia memakai setelan kantor abu-abu dan sepatu hak rendah, rambut dicepol rapi, kacamata tidak miring. Di kantor, adikku terlihat seperti orang yang sanggup membuat direktur keuangan perusahaan multinasional berkeringat dingin. Di rumah, ia masih tidur dengan piyama beruang.
“Kakak,” katanya di pintu pantry lantai dua puluh empat, mengangkat rantang. “Makan.”
“Makasih, Dar.”
“Jangan makan sambil buka laptop.”
“Iya.”
“Jangan dibagi ke semua orang sampai Kakak sendiri nggak kebagian.”
“Iya.”
“Kakak bilang iya tiap minggu, tapi tiap minggu Kakak cuma makan tempe orek sama kerupuk satu.”
Ia meletakkan rantang di meja panjang pantry dan mulai membukanya satu per satu dengan gerakan efisien seorang auditor membuka map berkas. Wangi nasi uduk Ibu langsung memenuhi ruangan. Dua engineer yang sedang membuat mi instan di dekat dispenser menoleh dengan wajah penuh harap.
“Nggak,” kata Dara pada mereka tanpa menoleh.
Mereka kembali ke mi instannya.
Pintu pantry terbuka lagi.
Aluna masuk dengan gelas kosong di tangan. Ia sudah tiga hari bekerja di ruang Rinjani untuk due diligence, dan selama tiga hari itu, aku belajar beberapa hal tentang dirinya yang sekarang. Ia datang lebih pagi dari kebanyakan engineer. Ia membawa bekal sendiri dalam kotak plastik biru: nasi, tempe, kadang sayur bening. Ia makan sendirian di ruang Rinjani sambil membaca dokumentasi. Ia tidak pernah membeli kopi di kafe lobi, tapi mengisi gelasnya dengan air putih dari dispenser pantry tiga kali sehari.
Ia berhenti di ambang pintu waktu melihat kami.
“Oh. Maaf. Aku cuma mau isi air.”
“Silakan,” kataku.
Ia berjalan ke dispenser. Lalu, di tengah langkah, matanya jatuh ke rantang yang terbuka di meja. Nasi uduk dibungkus daun pisang. Telur balado. Sambal kacang dipisah.
Langkahnya melambat.
Di sebelahku, Dara mengikuti arah pandangan Aluna ke rantang. Lalu Dara mengangkat kepala dan menatap Aluna untuk pertama kalinya.
Aku melihat wajah adikku berubah.
Itu perubahan yang sangat cepat dan sangat lengkap, seperti layar komputer yang beralih dari mode siang ke mode malam. Mata yang tadinya biasa saja menyipit. Bahu yang tadinya santai menegak. Tangan yang tadinya membuka tutup rantang berhenti di udara.
“Oh,” kata Dara pelan.
Aluna menoleh.
Mereka saling menatap. Lama. Dara dengan setelan abu-abu dan wajah auditor. Aluna dengan blazer hitam dan gelas kosong.
“Kamu,” kata Dara.
Aku pernah mendengar nada itu sepuluh tahun lalu. Di gerbang sekolah. Dari mulut anak SMP berseragam putih biru yang tingginya baru sebahuku, setelah memarahi Reza Mahesa karena mengejek nasi uduk.
Oh. Kamu. Yang nasi uduk.
Aluna tidak terlihat kaget. Ia terlihat seperti orang yang sudah menunggu ini. Ia meletakkan gelasnya di meja, tersenyum, dan mengulurkan tangan.
“Halo, Dara. Udah lama banget. Kamu sekarang cantik banget.”
Dara tidak menjabat tangan itu.
“Kamu ngapain di sini?”
“Dar,” kataku.
“Aku nanya dia, Kak.”
“Aku dari Sagara Capital,” kata Aluna, menarik tangannya kembali dengan tenang, seolah penolakan jabat tangan itu tidak terjadi. “Lagi due diligence buat pendanaan Flie.”
“Due diligence.” Dara mengulang kata itu seperti mengulang kata dalam bahasa asing yang mencurigakan. “Berapa lama?”
“Dua minggu.”
“Dua minggu di kantor kakakku.”
“Di ruang rapat, sebenarnya. Rinjani.”
“Tiap hari?”
“Tiap hari kerja.”
Dara meletakkan tutup rantang di meja. Pelan. Dengan bunyi tak yang tegas.
“Jabatan?”
“Junior Strategic Investment.”
“Umur?”
“Dua puluh enam. Sama kayak kakakmu.”
“Status?”
“Dar,” kataku lagi, lebih keras.
“Belum menikah,” kata Aluna, tanpa ragu sedikit pun. “Belum tunangan. Belum pacaran.”
Dua engineer di dekat dispenser berhenti mengaduk mi instan mereka.
Dara menyipitkan mata lebih tajam. “Tujuan?”
“Tujuan?”
“Tujuan kamu,” kata Dara, dengan suara yang aku yakin pernah ia pakai untuk menginterogasi direktur keuangan perusahaan yang menyembunyikan piutang ragu-ragu di catatan kaki nomor tiga puluh tujuh, “ada di kantor kakakku. Selain due diligence.”
Aluna diam.
Lalu ia menoleh. Bukan ke Dara. Ke aku.
Ia menatapku dengan mata cokelat madu yang jernih, dan sudut bibirnya, yang memang selalu sedikit terangkat bahkan saat diam, naik pelan sampai menjadi senyum. Bukan senyum sopan. Senyum yang membuat kepalanya miring sedikit ke kiri dan tahi lalat di bawah mata kanannya bergeser.
“Tujuanku jelas,” katanya. “Dari awal.”
Dara mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar dari manusia mana pun. Semacam campuran antara tersedak dan kucing yang ekornya terinjak.
Salah satu engineer di dekat dispenser menjatuhkan sendok ke dalam mangkuk mi.
Aku menatap Aluna. Aluna menatapku. Lalu ia mengambil gelasnya, mengisinya di dispenser dengan tenang, dan berjalan ke pintu.
“Aluna,” kataku.
Ia berhenti.
Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya. Kata-kata keluar dari mulutku sebelum kepalaku sempat rapat, seperti hari MOS waktu kakiku bergerak duluan. Kurasa itu karena rantang di meja, dan karena Ibu selalu menyiapkan porsi untuk lima orang, dan karena aku tidak pernah tahu cara membiarkan seseorang makan nasi dan tempe sendirian di ruang rapat sementara ada nasi uduk Ibu di sebelahnya.
“Ibu masak banyak,” kataku. “Mau makan bareng?”
Dara menoleh padaku dengan wajah seperti orang yang baru dikhianati oleh negara.
Aluna menatapku lama. Lalu menatap Dara. Lalu kembali padaku.
“Boleh?”
“Ibu selalu masak buat lima orang.”
“Kakak,” desis Dara.
“Duduk, Luna.”
Kami makan bertiga di meja panjang pantry lantai dua puluh empat. Dua engineer di dekat dispenser memutuskan untuk makan mi instan mereka sambil berdiri, sangat pelan, sangat lama, dengan telinga yang hampir terlihat menegang.
Dara duduk di sebelahku. Aluna di seberang. Dara membagi nasi uduk ke tiga piring dengan ketelitian yang menakutkan, memastikan porsi untuk Aluna sedikit lebih kecil dari porsiku dan porsinya sendiri, dan memberinya telur balado yang paling tidak bulat.
Aluna tidak protes. Ia menerima piringnya dengan dua tangan. Lalu ia mengambil sambal kacang yang dipisah dalam plastik kecil, membuka ikatan karet merahnya, dan menuangnya ke pinggir piring.
Lalu ia makan.
Empat jari dirapatkan. Mengambil nasi sedikit. Menekannya dengan ujung jari supaya padat. Mencampurnya dengan potongan telur. Jempol mendorong ke mulut. Tidak ada satu pun butir nasi yang jatuh.
Aku berhenti mengunyah.
Gerakan tangannya rapi. Luwes. Seperti orang yang sudah melakukannya ratusan kali. Bukan seperti gadis di lapangan MOS yang menatap nasinya seperti menatap soal ujian di luar kisi-kisi, yang nasinya ambrol separuh sebelum sampai ke mulut dan sambal kacangnya mengotori pergelangan tangan.
Ujung jari aja. Empat jari, dirapatkan. Jempolnya yang dorong.
Aku yang mengajarinya. Di bawah pohon ketapang di lapangan, sebelas tahun lalu. Dan ia masih ingat. Bukan cuma ingat. Ia sudah melakukannya cukup sering sampai tangannya hafal.
Di mana ia makan nasi pakai tangan sesering itu? Gadis yang dulu turun dari sedan hitam dengan kotak bekal kayu berpelitur?
Aku tidak bertanya. Aku melanjutkan makan. Tapi pertanyaan itu menempel di kepalaku seperti butir nasi yang menempel di ujung jari.
Aluna memakan suapan kedua. Ketiga. Lalu ia berhenti dan menatap piringnya.
“Sambalnya masih pakai jeruk limau,” katanya pelan.
Dara mengangkat kepala dengan tajam. “Kok tahu?”
“Kakakmu yang bocorin. Waktu MOS.”
“Itu rahasia Ibu.”
“Katanya ke pelanggan setia nggak apa-apa.” Aluna tersenyum ke piringnya, bukan ke kami. “Aku pelanggan setia.”
Dara menatap Aluna dengan mata menyipit. Lalu menatapku. Lalu menatap Aluna lagi. Aku melihat sesuatu berhitung di kepala adikku, seperti kalkulator yang sedang mencocokkan dua angka yang seharusnya sama tapi tidak.
“Pelanggan setia,” ulang Dara datar. “Kamu udah nggak beli nasi uduk Ibu delapan tahun.”
Aluna tidak menjawab. Ia melanjutkan makan. Empat jari. Rapi. Tidak ada yang jatuh.
Setelah makan, Aluna mencuci piringnya sendiri di wastafel pantry, meskipun aku bilang tidak usah. Ia juga mencuci piring Dara, yang membuat Dara terlihat seperti orang yang baru diberi hadiah oleh musuh dan tidak tahu apakah hadiah itu berisi bom.
“Makasih, Anggana,” kata Aluna di pintu pantry. “Bilang ke Ibu, masakannya masih yang paling enak se-Jakarta.”
“Nanti aku sampein.”
Ia menatap Dara. “Makasih juga, Dara.”
Dara tidak menjawab. Ia sedang membereskan rantang dengan gerakan yang terlalu keras.
Aluna tersenyum sekali lagi, ke arahku, lalu pergi. Bunyi pantofelnya menjauh di koridor menuju ruang Rinjani.
Dua engineer di dekat dispenser akhirnya selesai makan mi instan yang sudah dingin sejak dua puluh menit lalu. Mereka berjalan keluar dengan langkah sangat santai yang sangat dibuat-buat, dan begitu sampai di koridor, aku mendengar salah satu dari mereka berbisik keras, “Gue pasang dua ratus buat tiga minggu.”
Dara menutup rantang terakhir dan menatapku.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak tahu apa yang barusan terjadi?”
“Makan siang?”
Dara menatapku dengan wajah yang biasanya ia pakai untuk klien yang bilang selisih tiga miliar rupiah adalah kesalahan input.
“Dia,” kata Dara pelan, menunjuk pintu tempat Aluna baru saja keluar, “lagi ngejar Kakak.”
“Dia lagi due diligence, Dar.”
“Due diligence nggak pakai bilang ‘tujuanku jelas dari awal’ sambil senyum kayak gitu.”
“Itu cuma—”
“Itu flirting, Kak. Kelas berat. Dia flirting sama Kakak di depan aku.” Dara mengangkat rantang dengan dua tangan seperti mengangkat barang bukti. “Dan Kakak ngajak dia makan nasi uduk Ibu.”
“Ibu masak buat lima orang.”
“Bukan buat dia.”
Nada suaranya membuatku diam.
Dara jarang meninggikan suara. Di kantor, ia dikenal sebagai auditor paling tenang di timnya, yang bisa membuat orang mengaku tanpa pernah berteriak. Di rumah, ia lebih sering mengomel daripada marah. Tapi sekarang suaranya bergetar, sedikit, seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
“Dar. Itu udah lama.”
“Aku tahu udah lama.”
“Kakak udah nggak apa-apa. Beneran.”
Dara menatapku. Matanya, di balik kacamata yang sekarang sedikit miring karena ia menunduk terlalu cepat tadi, berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa kubaca.
“Kakak nggak apa-apa,” katanya pelan. “Aku yang apa-apa.”
Lalu ia pergi, membawa rantang, tanpa bilang dadah.
Malam itu, jam sepuluh lewat lima belas, aku sedang duduk di meja makan dengan laptop, membaca laporan post-mortem insiden flash sale, ketika Dara pulang kerja.
Ia tidak langsung naik ke kamar. Ia duduk di seberangku, membuka laptopnya sendiri, mengetik sesuatu dengan sangat cepat selama sepuluh menit, lalu memutar laptopnya menghadapku.
Di layar ada spreadsheet.
Judulnya, di sel A1, dengan huruf tebal ukuran dua puluh:
LAPORAN AUDIT CALON KAKAK IPAR
Periode: Tidak Terbatas
Auditor: Dara Pradipta
Di bawahnya, tabel. Kolom-kolomnya rapi, berwarna, dengan format yang biasanya ia pakai untuk klien kantor akuntan. Nama Subjek. Tanggal Temuan. Uraian Temuan. Kategori Risiko. Skor. Rekomendasi.
Hanya ada satu nama subjek.
Aluna Prameswari Hadinata.
Aku membaca baris-barisnya.
Temuan 1. 14 Juli 2015. Subjek menyebabkan Kakak dihukum menyanyi “Balonku” di depan 300 siswa. Risiko: Sedang. Skor: −50.
Temuan 2. 24 September 2015. Subjek menyebabkan Kakak pulang pukul 03.30. Risiko: Tinggi. Skor: −100.
Temuan 3. 18 September 2017. [DIRAHASIAKAN]. Risiko: KRITIS. Skor: −800.
Temuan 4. Hari ini. Subjek melakukan flirting kelas berat di depan auditor. Subjek makan nasi uduk Ibu. Subjek makan pakai tangan dengan teknik sempurna (MENCURIGAKAN — perlu investigasi lanjutan). Risiko: Tinggi. Skor: −49.
TOTAL SKOR: −999
REKOMENDASI AUDITOR: TOLAK. JANGAN DIDEKATI. JANGAN DIAJAK MAKAN. JANGAN DIKASIH SAMBAL JERUK LIMAU.
Aku menatap spreadsheet itu lama. Lalu menatap adikku.
“Temuan tiga dirahasiakan?”
“Dirahasiakan.”
“Dari siapa? Kakak tahu tanggal itu.”
“Dirahasiakan dari Kakak.” Dara menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. “Itu temuan auditor. Bukan temuan Kakak.”
Aku tidak mengerti. Tanggal delapan belas September 2017 adalah hari aku menyatakan perasaan di bawah pohon ketapang dan ditolak. Dara tahu soal penolakan itu. Semua orang di rumah tahu, kurang lebih, meskipun tidak ada yang pernah membicarakannya. Tapi Dara tidak ada di sana. Dara masih SMP. Dara tidak tahu apa yang terjadi di bawah pohon itu, atau apa yang terjadi sesudahnya.
Kecuali...
Aku teringat segelas teh manis di atas piring kecil di depan pintu kamar mandi. Uap yang naik pelan. Pintu kamar Dara yang tertutup dengan bunyi yang hampir tidak terdengar.
Aku tidak pernah bertanya siapa yang menaruh teh itu. Aku berasumsi Ibu. Atau aku tidak berasumsi apa-apa, karena malam itu aku terlalu sibuk untuk tidak berpikir.
“Dar,” kataku pelan.
“Udah malem, Kak. Aku capek.” Dara berdiri. Ia mengambil laptopnya, berjalan ke tangga, lalu berhenti di anak tangga ketiga tanpa menoleh. “Skornya minus sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Itu bukan angka sembarangan. Itu batas minimum di format spreadsheet aku. Kalau bisa lebih rendah, aku bikin lebih rendah.”
Lalu ia naik.
Aku duduk sendirian di meja makan dengan laptop dan laporan post-mortem yang belum selesai kubaca.
Aku memikirkan Dara. Adikku yang galak, yang mengukur tinggi topi kerucutku dengan penggaris, yang membelikanku kemeja dengan uang lomba cerdas cermat, yang memaksaku tanda tangan formulir ITB sambil menangis. Yang tidak pernah, sekali pun dalam delapan tahun, menyebut nama Aluna.
Aku memikirkan empat jari yang dirapatkan dan tidak ada satu butir nasi pun yang jatuh.
Aku memikirkan pelanggan setia.
Lalu aku memikirkan bahwa aku sudah tidak merasakan apa-apa saat melihat Aluna. Bahwa ia cuma teman SMA. Bahwa ruang kosong di dadaku sudah jadi ruang biasa.
Semua itu masih benar.
Tapi malam itu, entah kenapa, aku membaca laporan post-mortem yang sama tiga kali dan tidak bisa mengingat satu kalimat pun.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal reading
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis