← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty Eight

Aku Cuma Mau Kamu Tahu

POV: Aluna

Jam tiga lewat lima puluh pagi, lampu dapur di rumah dua lantai bercat putih gading itu sudah menyala.

Aku turun dari ojek di mulut gang dan berdiri sebentar di sana, seperti setiap Sabtu selama delapan minggu terakhir. Menatap papan nama kayu jati. NASI UDUK BU RATIH — SEJAK 2008. Menatap tenda galvalum yang terpalnya masih tertutup. Menatap gerobak tua di teras samping yang ditanami cabai, buahnya merah-merah kecil di bawah lampu teras kuning.

Udara pagi dingin dan basah. Di ujung gang, seekor kucing belang tiga, pelanggan VIP, menguap di atas tumpukan karung beras kosong.

Aku tidak membawa apa-apa hari ini. Tidak handuk. Tidak hoodie. Tidak kue dari Mama, meskipun Mama sudah menyiapkan sekotak kue lumpur di meja makan semalam dan menatapku dengan wajah kecewa waktu aku meninggalkannya.

“Mama bawain nanti siang,” kataku waktu itu. “Hari ini aku mau dateng tangan kosong.”

Mama tidak bertanya kenapa. Papa, dari kursi rodanya di ruang tamu, tertawa pelan dengan separuh wajah yang bisa bergerak.

Aku berjalan ke pintu samping dapur. Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.

Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.


Bu Ratih berdiri di ambang pintu dengan daster batik, celemek, dan sanggul putih. Matanya tidak merah lagi. Senandung campursarinya kembali, aku bisa mendengarnya dari dalam dapur sebelum pintu terbuka, lagu yang liriknya hanya ia hafal separuh.

Ia menatapku. Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata, yang membuat garis-garis di wajahnya melengkung ke atas seperti daun yang menghadap matahari.

“Masuk, Nduk,” katanya. “Dingin.”

Aku masuk.

Dapur itu terang, hangat, wangi santan dan daun pisang yang dilayukan di atas api. Meja marmer panjang penuh tumpukan daun yang sudah dipotong persegi dua puluh senti. Baskom-baskom nasi uduk mengepulkan uap. Piring-piring telur balado merah mengilap.

Dara duduk di ujung meja. Piyama beruang. Kacamata di hidung, tidak miring. Di depannya, papan klip. Di samping papan klip, HP dengan aplikasi stopwatch yang sudah terbuka.

Ia menatapku. Ia tidak bilang pagi. Ia mengangguk sekali, seperti juri yang menandai peserta sudah hadir. Lalu ia menulis sesuatu di papan klip.

Dan di sisi lain meja marmer, di kursi plastik yang biasa ia pakai, dengan pisau pemotong daun di tangan dan tumpukan daun pisang di depannya, Anggana.

Ia mengangkat kepala.

Kaus putih tipis yang sudah terlalu sering dicuci. Celana training. Rambut basah, baru keramas, menetes di pelipis. Dan di atas kaus itu, entah kenapa, kemeja kerja biru muda yang tidak dikancingkan, dipakai seperti jaket, dengan kerah yang terlipat ke dalam di sisi kiri dan mencuat ke atas di sisi kanan, ujungnya hampir menyentuh rahang.

Delapan puluh derajat. Mungkin lebih.

Aku menatap kerah itu. Lalu menatapnya.

“Kamu sengaja,” kataku.

Ia tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Lalu lebih. Lalu matanya menyipit, dan senyum itu, senyum yang otot-ototnya berbeda, yang bukan untuk Mas Eko atau kasir kafe lobi atau siapa pun di dunia ini, muncul di wajahnya di bawah lampu dapur jam empat pagi.

“Rekor baru,” katanya. “Kata sticky note.”

Dara mendengus dari ujung meja. Bu Ratih tertawa di depan kompor.

Aku menarik kursi plastik di depan meja marmer. Bu Ratih menyerahkan daster batik yang sudah dicuci dan dilipat rapi. Aku memakainya di atas kaus. Lalu aku mengambil daun pisang pertama.


“Siap?” kata Dara.

Aku menoleh. Dara memegang HP dengan stopwatch di tangan kanan, jempol di atas tombol. Wajahnya serius seperti juri Olimpiade.

“Siap apa?”

“Audit lapangan terakhir.” Dara mengangkat dagu. “Kamu bilang ke aku, di teras samping, dua bulan lalu. Sampai aku bisa bungkus sembilan detik. Sampai kamu nggak bisa nemu satu pun temuan buat dimasukin ke spreadsheet itu.” Ia menatapku lurus. “Ini hari ujiannya.”

Aku menatap Dara. Lalu menatap Bu Ratih, yang berhenti membungkus dan berbalik menghadap meja dengan sutil di tangan, seperti wasit. Lalu menatap Anggana, yang meletakkan pisau pemotong daunnya dan melipat tangan di atas meja marmer, menonton.

“Oke,” kataku.

“Mulai,” kata Dara, dan menekan tombol.

Daun di telapak kiri. Bagian licin di bawah. Jangan genggam, cuma ditaruh, kayak naruh kertas.

Nasi tiga perempat centong. Agak ke bawah, bukan di tengah persis.

Telur di atas, sedikit ke kiri. Biar waktu dilipat, dia nggak gelinding.

Lipat kiri. Tekan dengan ujung jari, bukan telapak.

Kanan. Bawah. Atas.

Karet merah.

“Sembilan koma empat,” kata Dara.

Aku meletakkan bungkusan itu di piring. Napasku sedikit cepat.

“Lagi,” kata Dara.

Daun. Nasi. Telur. Kiri. Kanan. Bawah. Atas. Karet.

“Sembilan koma satu.”

Bu Ratih mengangguk pelan. Anggana tidak bergerak.

“Lagi.”

Aku menarik napas. Aku memejamkan mata sebentar. Aku teringat pagi MOS sebelas tahun lalu, gadis dengan kotak bekal kayu yang tidak tahu di mana membeli nasi uduk bungkus daun pisang. Aku teringat lapangan di bawah pohon ketapang, empat jari yang kaku dan nasi yang ambrol separuh. Aku teringat baskom santan yang tumpah ke seluruh tubuhku. Empat puluh lima detik. Tiga puluh. Dua puluh dua. Delapan belas. Lima belas. Dua belas. Sebelas, dengan air mata.

Aku membuka mata.

Daun. Nasi. Telur. Kiri. Kanan. Bawah. Atas. Karet merah.

Aku meletakkan bungkusan itu di piring.

Dara menatap layar HP-nya. Lama. Jempolnya masih di atas tombol.

“Berapa?” tanyaku.

Dara tidak menjawab. Ia menatap layar. Bibirnya bergerak sedikit. Lalu, untuk pertama kalinya dalam delapan minggu, aku melihat mata Dara berkaca-kaca di depanku tanpa marah.

“Sembilan,” katanya. Suaranya pecah sedikit. “Sembilan koma nol.”

Bu Ratih mengambil bungkusan itu dari piring. Ia membolak-baliknya, menekan sudut-sudutnya, mengintip lipatannya di bawah lampu, seperti waktu di teras atap Flie. Lalu ia mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Ini,” kata Bu Ratih, “bisa Ibu jual sama Pakde Sarno.”

Dara menulis sesuatu di papan klipnya. Cepat. Lalu ia membalik papan klip itu dan menunjukkannya padaku.

Satu baris, ditulis besar-besar dengan tinta biru:

AUDIT LAPANGAN SELESAI. TIDAK ADA TEMUAN.


Jam empat lewat dua puluh delapan, sebelum lapak dibuka, aku berdiri.

Aku melepas daster batik Bu Ratih dan meletakkannya terlipat di kursi. Aku mencuci tangan di wastafel, mengeringkannya dengan handuk kecil hijau tua yang tergantung di sana, handuk lapak, yang wangi daun pisang.

Lalu aku berjalan memutari meja marmer.

Dapur sunyi. Bu Ratih berhenti bersenandung. Dara meletakkan pulpennya. Kompor masih menyala di bawah dandang, apinya biru, uapnya naik pelan.

Anggana masih duduk di kursi plastiknya. Ia menatapku datang. Ia tidak berdiri.

Aku berhenti di depannya. Ia mendongak.

Aku mengangkat kedua tangan ke lehernya.

Dan merapikan kerahnya.

Sisi kiri kulipat keluar. Kutekan lipatannya dengan ibu jari supaya rata. Sisi kanan kuturunkan, pelan, dari rahangnya, kembali ke tempatnya. Lalu, karena kemeja itu tidak dikancingkan dan aku tidak mau kerahnya miring lagi dalam lima menit, aku mengancingkan dua kancing teratasnya. Pelan. Satu. Dua.

Lalu aku menepuk kerahnya dua kali.

“Kerahmu miring,” kataku.

Ia menatapku dari bawah. Matanya tidak menyembunyikan apa-apa.

“Pasti masih miring,” katanya pelan.

“Nggak,” kataku. “Kali ini lurus.”


Aku tidak menjauhkan tanganku. Aku membiarkan dua tanganku di kerahnya, di kedua sisi lehernya, merasakan denyut nadinya di bawah ujung jariku. Cepat. Lebih cepat dari biasanya.

“Kamu nanya kenapa aku ngejar kamu,” kataku.

Ia diam.

“Sembilan minggu lalu. Di ruang Rinjani. Aku bilang nanti, kalau kamu udah siap dengar jawabannya.” Aku menatapnya. “Kamu udah siap?”

“Udah.”

Aku menarik napas.

“Karena kamu satu-satunya orang di dunia yang manggil aku Aluna,” kataku. “Bukan karena itu nama lengkapku. Karena kamu denger aku ngucapinnya pelan di pagi MOS, dan kamu pikir aku mau dipanggil gitu. Nggak ada orang lain yang pernah denger aku sejelas itu.”

Ia menelan ludah. Aku merasakannya di bawah ujung jariku.

“Karena empat puluh tujuh banding nol.” Suaraku mulai bergetar. Aku tidak berusaha menghentikannya. “Karena kamu nolong semua orang dan nggak ada yang nolong kamu balik. Karena kamu nggak pernah nanya kenapa waktu orang baik ke kamu, kamu cuma nerima, kayak semua hal baik itu kebetulan. Kayak nggak ada orang yang pernah milih kamu dengan sengaja.”

Mataku panas.

“Aku mau jadi orang pertama yang milih kamu dengan sengaja,” kataku. “Bukan karena kamu nolong aku. Bukan karena aku utang. Bukan karena kamu sekarang CTO dan aku naik KRL. Aku milih kamu karena kamu orang yang bawa dua bungkus nasi uduk ke sekolah selama tiga tahun buat cewek yang nggak pernah minta lagi. Karena kamu ngabisin empat bulan nyari tabung radio buat Oma yang nggak pernah kamu temuin. Karena kamu nanya ke Mama sebelum bayar deposit rumah sakit. Karena kamu duduk di lantai war room jam empat pagi setelah nyelametin dua belas juta akun dan bilang pulang, semua, tidur.”

Air mataku jatuh. Ke pipiku. Ke dagu. Satu jatuh ke punggung tanganku di kerahnya.

“Karena kerahmu selalu miring,” bisikku. “Dan aku pengen jadi orang yang benerin itu. Tiap pagi. Selamanya.”

Aku menarik napas sekali lagi. Panjang. Seperti delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, waktu ia menarik napas sebelum mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia tulis di mana pun.

“Aku suka kamu,” kataku. “Dari hari nasi uduk itu juga. Dari waktu aku nengok di deket gerbang dan liat anak laki-laki bertopi kerucut hijau yang lupa lagi berdiri di mana. Dari awal.”

Aku tersenyum. Senyum yang gemetar, basah, tapi sungguhan. Senyum yang hanya untuknya.

“Aku cuma mau kamu tahu,” kataku. “Kamu nggak perlu jawab.”


Dapur itu sunyi.

Api biru di bawah dandang mendesis pelan. Uap naik. Di luar, kucing belang tiga mengeong sekali, lalu diam.

Anggana menatapku.

Lama. Sangat lama. Matanya basah. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup. Aku merasakan tenggorokannya bergerak di bawah ujung jariku. Menelan.

Lalu ia berdiri.

Pelan. Kursi plastik bergeser di lantai keramik. Ia berdiri tegak di depanku, lebih tinggi dariku, sehingga sekarang aku yang harus mendongak. Tanganku masih di kerahnya. Ia tidak melepaskannya.

“Delapan tahun lalu,” katanya. Suaranya pelan. Serak. “Di bawah pohon ketapang. Aku bilang kamu nggak perlu jawab.”

“Iya.”

“Kamu tahu kenapa aku bilang gitu?”

Aku menggeleng.

“Karena aku takut sama jawabannya.” Ia menatapku. “Aku udah tahu jawabannya. Aku pikir aku tahu. Dan aku nggak mau denger kamu ngucapinnya. Jadi aku bilang nggak usah jawab, biar aku bisa pergi sebelum jawabannya nyakitin.” Ia menarik napas. “Itu bukan kebaikan, Aluna. Itu aku lari.”

Air mataku jatuh lagi.

“Tadi kamu bilang aku nggak perlu jawab,” katanya. “Tapi sekarang aku nggak takut lagi.”

Ia mengangkat tangannya. Meletakkannya di atas tanganku yang masih memegang kerahnya. Menggenggamnya.

“Sekarang aku mau jawab.”

Aku berhenti bernapas.

“Aku suka kamu,” katanya. “Dulu, aku suka gadis yang kulihat di dekat gerbang. Gadis yang matanya berubah emas kena matahari pagi. Aku suka dia kayak orang suka bintang. Dari jauh. Nggak pernah benar-benar kenal.” Ia menggeleng pelan. “Sekarang aku nggak suka bintang. Aku cinta sama perempuan yang kukenal. Yang naik KRL jam enam pagi. Yang motong rambutnya sendiri di kamar mandi. Yang numpahin baskom santan ke seluruh badannya. Yang nangis di dadaku di lorong rumah sakit. Yang ngelaporin dirinya sendiri jam dua pagi. Yang bohong ke aku sambil megang tanganku, dan yang tadi malam ngaku itu hal paling jelek yang pernah dia lakuin.” Suaranya pecah. “Aku cinta sama dia. Semua bagiannya. Termasuk yang jelek.”

Aku tidak bisa bicara.

Ia tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit sampai hampir hilang. Senyum yang hanya untukku.

“Jadi,” katanya. “Aku mau nanya sesuatu. Dan kali ini kamu harus jawab.”

“Apa?”

“Mau jadi pacarku?”


Sederhana. Tiga kata. Seperti anak SMA. Seperti anak laki-laki bertopi kerucut hijau yang dulu tidak berani bertanya apa-apa.

Aku tertawa. Di tengah tangis. Tawa yang keras, basah, yang membuat kepalaku miring ke kiri dan bahuku berguncang.

“Iya,” kataku. “Iya. Iya, Anggana.”

Ia menarikku ke dalam pelukannya.

Penuh. Dua lengan melingkar di punggungku. Satu tangan di belakang kepalaku, di antara rambutku. Ia memelukku erat, seperti di lorong rumah sakit, tapi berbeda. Di lorong rumah sakit, ia memelukku seperti memeluk seseorang yang sedang jatuh. Di dapur jam empat pagi, ia memelukku seperti memeluk seseorang yang baru saja pulang.

Aku memeluknya balik. Wajahku di dadanya. Wangi daun pisang. Wangi sabun. Detak jantungnya, cepat, di bawah telingaku.

Di belakang kami, aku mendengar Bu Ratih menangis. Pelan. Dengan senandung campursari yang terputus-putus di tengah isak.

Dan aku mendengar Dara. Tidak menangis. Mengetik. Sangat cepat. Di HP.


Lama kemudian, masih di dalam pelukannya, aku bicara ke kemejanya.

“Anggana.”

“Hm.”

“cadangan-svc.”

Ia tertawa. Aku merasakan tawanya bergetar di dadanya.

“Kamu masih nanya itu.”

“Aku nggak pernah berhenti nanya itu.”

Ia melonggarkan pelukannya sedikit, cukup untuk menatapku. Tangannya masih di punggungku.

“Aku namain itu tiga tahun lalu,” katanya. “Waktu Flie masih dua puluh orang. Aku bikin jalur cadangan buat sistem pembayaran, buat hari kalau semuanya tumbang. Aku harus kasih nama. Dan yang keluar dari jariku waktu itu, cadangan.” Ia menatapku. “Aku pikir aku namain itu karena gampang diinget. Bahasa Indonesia. Nggak ribet.”

“Terus?”

“Terus kamu nanya. Di Ruang Bromo jam dua pagi, pakai jaket HMIF-ku.” Ia tersenyum. “Dan aku sadar. Parkiran sepeda. Hari terakhir MOS. Aku bakal selalu bawa satu cadangan. Aku janji itu ke kamu sebelum otakku sempat nyensor.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Aku bawa dua bungkus nasi uduk ke sekolah selama tiga tahun,” katanya pelan. “Terus aku berhenti. Bus malam ke Bandung, satu bungkus. Aku pikir aku udah berhenti nepatin janji itu.” Ia menggeleng. “Ternyata nggak. Aku cuma pindahin janjinya ke tempat lain. Ke kode. Ke sistem yang tiap hari jagain lima puluh miliar transaksi. Ada satu jalur cadangan di sana, nunggu hari kalau semuanya tumbang. Selalu ada. Selalu siap.”

Air mataku jatuh lagi.

“Aku nggak pernah berhenti bawa cadangan buat kamu, Aluna,” katanya. “Bahkan waktu aku pikir aku udah lupa sama kamu.”


“TARUHAN DITUTUP!”

Suara itu datang dari teras samping.

Aku dan Anggana menoleh bersamaan.

Di balik gerobak tua yang ditanami cabai, di teras samping rumah, tiga kepala muncul dari balik kayu lapuk. Satu kepala keriting dengan kacamata, yang tadi berteriak. Satu kepala dengan rambut dikuncir tinggi dan kacamata bulat, yang memukul kepala keriting itu dengan botol air mineral. Satu kepala gempal dengan senyum lebar dan mata berair.

Jovan. Tiara. Ucup.

“Kalian ngapain di situ?” tanya Anggana. Suaranya setengah bingung, setengah tidak percaya.

“Sejak jam tiga, Bro!” kata Jovan, berdiri dari balik gerobak dengan lutut celana yang kotor. “Dara yang ngasih tahu. Kita nunggu di sini sejam! Gue kesemutan! Ada nyamuk segede gajah!”

“Kamu bilang ke mereka?” tanyaku ke Dara.

Dara mengangkat bahu tanpa mengangkat kepala dari HP-nya. “Audit lapangan butuh saksi independen.”

“Ucup bukan independen,” kata Anggana.

“Ucup saksi dari season satu,” kata Ucup, mengusap matanya dengan lengan baju. “Gue harus liat finalnya, Bro. Gue udah nonton dari Balonku.”

Tiara berjalan ke ambang pintu samping dapur, menatapku dengan mata merah, dan mengangkat dua jempol. Lalu ia menangis, dan Jovan memeluknya dari belakang, dan Tiara memukulnya dengan botol air mineral lagi tanpa melepaskan pelukannya.

“Masa percobaan lulus,” kata Jovan ke rambut Tiara. “Hari kesebelas. Kata Tiara. Barusan.”

“Gue belum bilang lulus,” kata Tiara.

“Lo bilang iya waktu gue nanya di balik gerobak tadi.”

“Itu iya karena nyamuk.”

Ucup tertawa sampai terbatuk.


Jam lima lewat lima belas, Bu Ratih membuka lapak.

Antrean sudah sepuluh orang. Dan di ujung antrean, di belakang tukang ojek berjaket hijau dan ibu-ibu berdaster dengan rantang, ada sebuah kursi roda dengan seorang lelaki tua berkemeja batik cokelat yang disetrika rapi, dan perempuan dengan kardigan cokelat dan kerudung tipis di sebelahnya.

Papa dan Mama.

Aku menatap mereka dari balik meja keramik lapak. Mama melambaikan tangan, tersenyum. Papa tidak melambai. Ia menatapku, lalu menatap Anggana yang berdiri di sebelahku dengan kerah yang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lurus. Lalu Papa mengangkat tangan kanannya yang gemetar ke udara, mengacungkan jempol.

“Akhirnya,” katanya. Pelan. Cukup keras untuk terdengar sampai lapak.

Pakde Sarno, di depan antrean, menoleh ke belakang. “Pak Hendra! Pagi!”

“Pagi... Sarno.”

“Istri saya di Cilacap kirim salam!”

“Salam... balik.”

Anggana tertawa di sebelahku. Tawa yang membuat matanya hilang.


Aku melayani pembeli di sebelahnya. Telur balado atau dadar. Sambal dipisah. Sepuluh ribu. Tanganku masih gemetar sedikit. Pipiku masih basah. Tapi aku tersenyum ke setiap pembeli, dan aku tahu senyumku tidak sama untuk semua orang, karena setiap beberapa menit aku menoleh ke samping dan senyumku berubah untuk satu orang.

Pakde Sarno sampai di depan meja.

“Tiga, Mbak,” katanya. “Yang satu buat istri saya di Cilacap.”

Aku mengambil tiga bungkus dari rak. Lalu aku berhenti. Aku meletakkan satu kembali, dan mengambil bungkusan lain dari piring di ujung meja. Bungkusan yang dibungkus jam empat pagi tadi. Sembilan koma nol detik.

“Ini, Pakde,” kataku. “Yang ini spesial.”

Pakde Sarno menerimanya dan menatapnya. “Rapi bener. Siapa yang bungkus?”

“Saya,” kataku.

“Mbak yang dulu bungkusannya miring?”

“Iya.”

Pakde Sarno menatapku lama. Lalu menatap Anggana di sebelahku. Lalu kerah Anggana yang lurus. Lalu kembali padaku.

“Ini buat istri saya,” katanya, mengangkat bungkusan sembilan detik itu. “Biar dia tahu. Kalau sabar, yang miring bisa lurus.”

Ia membayar dengan uang pas, mengambil tiga bungkus nasi uduknya, dan berjalan pergi.

Aku menatap punggungnya sampai ia belok di ujung gang.

Di sebelahku, Anggana menyentuh punggung tanganku di atas meja keramik. Sekali. Pelan. Tanpa bicara.

Aku membalik tanganku, dan menggenggamnya.


Malam itu, jam sebelas, aku duduk di kasur di kamarku dengan laptop terbuka.

Folder draf. Email yang belum selesai. Terima kasih atas tawarannya. Saya menerima—

Aku menghapusnya. Huruf demi huruf. Sampai kosong.

Lalu aku menulis ulang.

Bu Marcella,

Terima kasih atas tawaran posisi Senior Associate di Sagara Singapura, dan atas kepercayaan Ibu dan Pak Haryo. Saya sangat menghargainya.

Setelah mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, saya memutuskan untuk tetap di Jakarta. Bukan karena seseorang meminta saya tinggal, meskipun ia bilang ia tidak ingin saya pergi. Ia juga bilang, kalau saya pergi karena saya mau, ia akan menunggu.

Saya tinggal karena saya mau. Karena keluarga saya di sini. Karena saya ingin membuktikan, di tim Retail Jakarta, bahwa nama yang dihapus dari satu dokumen bisa ditulis lagi di dokumen lain.

Dan karena untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, saya memutuskan sesuatu untuk diri saya sendiri, setelah bertanya pada orang yang terdampak. Bukan sebelum.

Hormat saya,

Aluna Prameswari Hadinata

Aku membaca email itu tiga kali. Lalu aku menekan tombol kirim.

HP-ku bergetar. Satu pesan.

Anggana: Udah tidur?

Aluna: Belum. Baru kirim email ke Marcella.

Anggana: Jadinya?

Aluna: Aku tinggal.

Tiga titik. Lama.

Anggana: Karena kamu mau?

Aku tersenyum ke layar. Ia bertanya. Ia tidak berasumsi. Ia tidak lega diam-diam. Ia bertanya.

Aluna: Karena aku mau.

Anggana: Oke.

Lalu, satu menit kemudian:

Anggana: Aku seneng banget.

Anggana: Itu bukan “oke” yang dulu. Itu “oke” yang seneng banget.

Aku tertawa sendirian di kamar, cukup keras sampai Papa di kamar sebelah batuk dengan sengaja.

Aku mematikan laptop. Aku menyalakan radio Oma. Tabung-tabungnya menyala jingga, pelan. Desis sepuluh detik. Lalu suara samar. Lalu, waktu aku memutar kenop dengan sangat pelan, keroncong.

Bengawan Solo.

Aku berbaring dan mendengarkannya sampai habis.

Di laci meja di sebelah kasurku, di bawah ijazah dan transkrip nilai, ada amplop putih yang menguning dengan nama di depannya, utuh, setiap suku kata diberi tempat. Surat yang tidak pernah kukirim, delapan tahun lalu.

Aku tidak perlu mengirimnya lagi.

Semua yang ada di dalamnya, akhirnya, sudah kukatakan dengan suara keras. Di dapur jam empat pagi. Di depan mukanya.

Dan ia menjawab.