Chapter Forty One
Epilog: Bungkus Daun Pisang
POV: Aluna
Jumat, 14 Januari, jam tujuh pagi, ojek online berhenti di depan pagar hijau.
Bukan di kantor Sagara. Aku cuti seminggu, dan entah bagaimana, Bu Ratih tahu. Abang ojeknya mengetuk pagar, menyerahkan kantong kresek putih ke Mama yang sedang menyapu teras, lalu pergi sambil melambaikan tangan seperti orang yang sudah lima tahun mengantar ke alamat yang berbeda-beda dan akhirnya sampai di alamat yang benar.
Mama membawa kantong itu ke kamarku. Aku sedang duduk di kasur dengan kebaya akad yang tergantung di pintu lemari, putih gading dengan bordir kecil di bagian kerah, yang dijahit Mama sendiri selama tiga bulan dengan oven kedua yang berdengung di dapur sebagai musik latar.
“Dari Jumat,” kata Mama, tersenyum.
Aku membuka kantong itu.
Sebungkus nasi uduk. Daun pisang. Karet merah. Sambal kacang dipisah dalam plastik kecil.
Dan dua kerupuk. Bukan satu.
Di antara bungkusan dan kerupuk, terlipat dua, secarik kertas bungkus cokelat dengan tulisan tangan yang miring seperti huruf R.
Mbak Jumat,
Ini pesanan terakhir. Mulai besok ndak usah pesan lagi.
Langsung ambil di dapur. Jam berapa aja.
— Ibu
Aku menatap kertas itu lama.
Lalu aku menangis. Bukan seperti di trotoar hampir sepuluh tahun lalu. Bukan seperti di KRL atau di toilet sekolah atau di lorong rumah sakit. Aku menangis seperti orang yang baru saja diberi kunci rumah, dan ternyata rumah itu sudah lama menunggunya.
Mama duduk di sebelahku dan mengusap punggungku. Dari ruang tamu, Papa bertanya dengan suara pelan yang tersendat: “Kenapa... nangis... lagi?”
“Dikasih kerupuk dua, Pa.”
Hening.
“Oh,” kata Papa. “Itu... memang... alasan... yang... bagus... buat... nangis.”
Siang itu, aku membuka aplikasi ojek online di HP-ku untuk terakhir kalinya dengan akun bernama Jumat.
Riwayat pesanan: tiga ratus dua puluh dua. Lima tahun, empat bulan. Alamat penjemputan yang sama setiap kali: Gerobak Nasi Uduk Bu Ratih, mulut gang, Jakarta Timur, yang dua tahun lalu kuubah menjadi Lapak Nasi Uduk Bu Ratih, depan rumah putih gading. Alamat tujuan yang berubah-ubah: kampus di Depok, kantor notaris di Margonda, bank di Thamrin, Sagara di Sudirman. Hari ini: rumah dengan pagar hijau.
Aku menekan Hapus Akun.
Aplikasi bertanya apakah aku yakin. Aku menekan Ya.
Lalu aku mengambil toples kaca besar dari meja belajarku. Di dalamnya, karet merah. Tiga ratus dua puluh dua. Kuambil dari laci meja kantor hari terakhir sebelum cuti, satu per satu, sambil Tiara menonton dari balik sekat dengan mata berkaca-kaca dan kopi di tangan.
“Itu mau diapain?” tanya Tiara waktu itu.
“Dibalikin,” kataku.
Aku membawa toples itu ke dapur Bu Ratih jam tiga sore.
Dapur itu sudah setengah berubah jadi dapur katering. Panci-panci besar dipinjam dari tetangga. Karung beras dua puluh lima kilo berjejer di dekat kulkas. Daun pisang bertumpuk-tumpuk di meja marmer, di kursi, di lantai yang dialasi tikar. Besok, lima ratus bungkus nasi uduk akan dibagikan ke semua tamu di tenda resepsi di gang. Hidangan utama. Satu-satunya hidangan utama. Mama sudah protes tiga kali soal ini dan kalah tiga kali.
Bu Ratih sedang mencuci beras di baskom besar. Ia menoleh waktu aku masuk. Melihat toples kaca di pelukanku.
Ia berhenti mencuci.
Aku meletakkan toples itu di meja marmer, di antara tumpukan daun pisang. Tiga ratus dua puluh dua karet merah, berdesakan di dalam kaca, merah seperti buah cabai di gerobak tua.
“Ini dari lima tahun, Bu,” kataku. “Semuanya.”
Bu Ratih mengelap tangannya di celemek. Pelan. Ia berjalan ke meja marmer dan menatap toples itu lama.
“Buat besok,” kataku. “Buat ngiket nasi uduk tamu. Kalau Ibu nggak keberatan.”
Bu Ratih tidak menjawab. Ia membuka tutup toples itu, mengambil satu karet merah dari dalamnya, dan menatapnya di bawah lampu dapur. Karet yang sudah agak pudar warnanya, sudah sedikit melar karena terlalu lama di laci.
Lalu ia mengambil daun pisang dari tumpukan, nasi uduk dari baskom yang sudah matang untuk uji coba, telur balado dari piring. Ia membungkusnya. Sembilan detik. Seperti tarian. Dan ia mengikatnya dengan karet merah dari toples.
Ia menyerahkan bungkusan itu padaku dengan dua tangan.
“Bungkus pertama,” kata Bu Ratih. “Buat pengantin.”
Aku menerimanya dengan dua tangan. Seperti pagi MOS. Seperti subuh setelah wisuda di depan gerobak. Seperti setiap Jumat selama lima tahun, tanpa pernah melihat tangan yang membungkusnya.
“Ibu,” kataku. Suaraku pecah.
Bu Ratih tersenyum. Matanya basah.
“Ibu ndak pernah cerita,” katanya. “Tapi Ibu juga ndak pernah lupa.” Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya yang kasar. “Dan mulai besok, Nduk, Ibu ndak perlu nyimpen apa-apa lagi. Kamu udah di sini.”
Sabtu, 15 Januari, jam tiga lewat empat puluh pagi.
Penata rias yang disewa Mama, perempuan berusia empat puluhan bernama Mbak Yeni yang sudah merias tiga ratus pengantin dan tidak pernah sekali pun gagal datang tepat waktu, berdiri di ambang pintu dapur rumah Bu Ratih dengan koper rias di tangan dan wajah yang tidak percaya.
“Mbak Aluna,” katanya. “Mbak harus dirias jam empat. Akadnya jam delapan.”
“Iya, Mbak. Jam empat.”
“Ini udah jam empat kurang dua puluh.”
“Iya. Dua puluh menit lagi.”
Mbak Yeni menatapku. Aku memakai daster batik Bu Ratih, rambut diikat asal, tangan berminyak santan, duduk di kursi plastik di depan meja marmer di antara tumpukan daun pisang. Di sebelahku, Bu Ratih membungkus dengan kecepatan sembilan detik. Di seberangku, Mama, dengan celemek bertepung, belajar membungkus dengan kecepatan satu menit dua puluh detik dan hasil yang terlihat seperti amplop yang dilindas truk. Di ujung meja, Tiara, yang menginap dari semalam, membungkus sambil mengunyah kerupuk. Dan Dara, dengan piyama beruang dan stopwatch di tangan, menghitung waktu semua orang.
“Mama empat puluh tiga detik,” kata Dara. “Ada kemajuan. Tadi satu menit.”
“Makasih, Dara,” kata Mama, bangga.
“Tiara dua puluh satu. Tapi makan kerupuknya kebanyakan. Itu stok tamu.”
“Gue lapar, Dar.”
“Itu nggak masuk penilaian.”
Mbak Yeni menatap kami semua. Lalu ia menatap tumpukan daun pisang, baskom-baskom nasi uduk, piring-piring telur balado. Lalu ia menghela napas panjang, meletakkan koper riasnya di lantai, mencuci tangan di wastafel, dan menarik kursi plastik.
“Ajarin saya,” katanya. “Dua puluh menit. Habis itu Mbak Aluna punya saya.”
Bu Ratih tertawa.
Jam empat lewat dua, Dara menunjukkan HP-nya padaku.
Spreadsheet. Judul di sel A1, dengan huruf tebal ukuran dua puluh.
LAPORAN AUDIT KAKAK IPAR
Kata CALON sudah tidak ada.
Aku menatap layar itu. Lalu menatap Dara.
“Kamu hapus,” kataku.
“Jam dua belas tadi malam. Tepat. Setelah Kakak ngirim pesan ke aku: Dar, aku nggak bisa tidur.” Dara mengunci layar. “Aku bales: Itu bukan urusan auditor. Terus aku hapus kata CALON. Itu urusan auditor.”
Ia membuka layar lagi dan menggulir ke bawah. Ke baris ringkasan.
SKOR AKHIR: 100
REKOMENDASI AUDITOR: Dipertahankan seumur hidup.
CATATAN PENUTUP: Audit ini dimulai dengan skor −999, yang merupakan batas minimum format spreadsheet auditor. Audit ini ditutup dengan skor 100, yang merupakan batas maksimum. Auditor mencatat bahwa ini adalah satu-satunya audit dalam karier auditor di mana subjek bergerak dari batas bawah ke batas atas.
Auditor juga mencatat bahwa auditor salah dari awal.
Auditor tidak suka salah.
Tapi kali ini auditor tidak keberatan.
Aku menatap Dara. Dara menatap layar HP-nya, dengan telinga yang sangat merah. Persis seperti kakaknya.
Aku memeluknya. Dari samping. Singkat dan keras.
“Makasih, Dara.”
“Itu nggak masuk penilaian,” katanya ke bahuku. Suaranya bergetar.
Lalu Mbak Yeni bertepuk tangan dua kali dan bilang waktu habis, pengantin, ayo, dan aku berdiri dari meja marmer dengan tangan berminyak santan dan mata basah, dan meninggalkan dapur jam empat pagi untuk terakhir kalinya sebagai tamu.
POV: Anggana
Kerah beskap tidak bisa miring.
Itu yang Jovan katakan waktu ia membantuku memakainya jam tujuh pagi di kamarku di lantai dua. Beskap hitam dengan kerah tegak, kain batik sidomukti di pinggang, blangkon di kepala. Pakaian pengantin Jawa yang dipilih Ibu, karena katanya Bapak dulu menikahinya dengan beskap pinjaman dari tetangga dan Ibu mau anaknya punya beskap sendiri.
“Kerahnya tegak, Bro,” kata Jovan sambil menepuk bahuku. “Nggak ada lipatan. Nggak ada yang bisa kelipet. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kerah Anggana Pradipta nggak akan miring.”
“Itu bagus, kan?”
“Itu tragis, Bro.” Jovan menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Nanti dia benerin apa?”
Ucup, yang duduk di kasur dengan kemeja batik yang kebesaran dua nomor, sama seperti di pesta ulang tahun Aluna hampir sebelas tahun lalu, mengusap matanya dengan lengan baju.
“Gue udah nonton dari season satu,” katanya. “Gue nggak siap season terakhir.”
Akad nikah diadakan jam delapan di Masjid Al-Ikhlas, masjid kecil di ujung gang, tempat Ibu sholat subuh setiap hari selama delapan belas tahun sebelum membuka gerobak.
Masjid itu penuh. Penuh sampai ke teras, sampai ke halaman, sampai ke gang. Pakde Sarno. Bang Udin dari warung kopi. Haji Mansur. Mbah Sumi, yang dibonceng cucunya dari Kalimantan yang pulang khusus untuk hari ini. Bang Jali dan Mas Bowo dari Cahaya Cell, yang hurufnya sekarang lengkap lagi karena aku yang mengganti papan namanya. Pak Hardi dengan batik sutra. Bu Endang dengan kacamata berantai. Pak Karno dengan topi satpam yang ia pakai meskipun bukan sedang bertugas. Nurul, dengan seragam putih abu-abu karena ia datang langsung dari les, berdiri di samping Bu Endang dan menatap ke dalam masjid dengan mata berbinar. Sisil dari Surabaya. Bastian dan istrinya yang sedang hamil besar. Mbak Kirana. Rizky, Sari, Dimas, dan dua puluh engineer Flie yang datang dengan kemeja batik seragam yang dipesan Jovan tanpa izin siapa pun.
Mama Rosa tidak bisa datang dari Labuan Bajo, tapi ia mengirim dua kilo ikan asin dan pesan suara yang diputar Kak Ferdi lewat HP di depan masjid: SA BILANG JUGA APA! DARI DULU SA BILANG ITU ISTRI!
Marcella Tan datang dengan setelan hitam dan kerudung tipis, berdiri di barisan paling belakang, dan menurut Tiara, menangis sejak sebelum akad dimulai, lalu menyangkalnya, lalu menangis lagi.
Pak Hendra yang menjadi wali.
Ia berjalan dua puluh langkah dari pintu masjid ke tempat akad. Dengan walker. Pelan. Satu langkah demi satu langkah. Tante Melinda di sebelahnya, tangan siap menangkap, tapi tidak menyentuh, sampai Pak Hendra akhirnya duduk bersila di atas karpet masjid, di depanku, dengan napas terengah-engah dan separuh wajah yang tersenyum puas.
“Om... masih... bisa,” katanya padaku.
“Iya, Om,” kataku. “Om masih bisa.”
Aluna masuk dari pintu samping masjid, dengan Ibu di sebelah kanan dan Tante Melinda di sebelah kiri.
Kebaya putih gading dengan bordir kecil di bagian kerah, dijahit Tante Melinda selama tiga bulan. Kain batik sidomukti yang sama dengan kainku. Rambutnya yang sebahu disanggul rendah di tengkuk, dengan tusuk konde perak kecil, seperti di wisuda hampir sepuluh tahun lalu. Beberapa helai pendek lepas di dekat telinga. Riasannya tipis. Bibirnya diberi warna mawar tua. Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya tidak ditutupi.
Ia berhenti di ambang pintu, menatap masjid yang penuh, menatap Papa-nya yang duduk bersila, menatap aku.
Dua belas tahun lalu, di dekat gerbang sekolah, aku melihatnya untuk pertama kali dan cahaya bergerak lebih cepat dari tiga ratus ribu kilometer per detik.
Hari ini, di ambang pintu masjid kecil di ujung gang tempat aku tumbuh, aku melihatnya, dan tidak ada yang bergerak lebih cepat dari apa pun. Semuanya justru melambat. Seperti waktu berhenti sebentar untuk memberiku kesempatan menatap.
Ia bukan gadis di dekat gerbang. Ia bukan foto di sampul majalah. Ia perempuan yang membungkus nasi uduk dengan daster batik dan tangan berminyak santan empat jam lalu, dan sekarang berdiri di ambang pintu masjid dengan kebaya putih gading, dan matanya, di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela masjid, berubah keemasan.
Ia berjalan ke arahku. Ia duduk di sebelahku, di atas karpet masjid, di depan papanya.
Lalu, sebelum penghulu sempat membuka mulut, ia menoleh padaku. Menatap leherku. Beskap hitam. Kerah tegak.
Ia mengangkat tangan.
Penghulu berhenti. Pak Hendra menatap anaknya dengan alis terangkat. Seluruh masjid menahan napas.
Aluna menyelipkan ujung jarinya di antara kerah beskapku dan leherku. Ke kerah kemeja putih yang kupakai di dalam beskap. Kerah kemeja yang tidak terlihat siapa pun. Kerah yang, tentu saja, terlipat ke dalam di satu sisi, karena Jovan memasangkan beskapnya terlalu buru-buru.
Ia merapikannya. Melipatnya keluar. Menekannya dengan ibu jari. Menepuknya dua kali, pelan, di balik kain beskap hitam.
“Kerahmu miring,” bisiknya.
Di barisan belakang, Jovan menutup wajahnya dengan dua tangan dan mengeluarkan suara seperti orang yang baru menyaksikan gol di menit terakhir.
Ijab dari Pak Hendra butuh waktu satu menit empat puluh detik.
Setiap kata keluar pelan, tersendat, seperti tabung radio yang menyala dengan desis sebelum menemukan gelombang. Saya... nikahkan... dan... saya... kawinkan... engkau... Anggana... Pradipta... bin... Sutrisno... dengan... anak... saya... Ia berhenti. Menarik napas. Tante Melinda memegang bahunya. Seluruh masjid menunggu. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang gelisah. ...Aluna... Prameswari... Hadinata...
Aku mendengarkan setiap kata. Aku tidak menghitung detiknya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung.
Lalu giliranku.
Aku menjawab dalam satu napas. Jelas. Tidak gemetar. Seperti orang yang sudah menunggu dua belas tahun dan tidak mau menunggu satu detik lagi.
“Saya terima nikah dan kawinnya Aluna Prameswari Hadinata binti Hendra Hadinata dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Sah?” tanya penghulu.
“SAH!”
Suara itu datang dari seluruh masjid. Dari teras. Dari halaman. Dari gang. Dari Pakde Sarno dan Bang Jali dan Pak Karno dan dua puluh engineer berbatik seragam. Dari Ucup yang menangis keras sekali. Dari Dara, yang berdiri di samping Ibu dengan HP di tangan, merekam, dan berteriak sah paling keras dari semua orang.
Aku menoleh ke Aluna. Ia menatapku. Air matanya jatuh, merusak riasan di bawah mata, dan ia tidak peduli. Ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir dan berakhir di mata, senyum yang membuat kepalanya miring sedikit ke kiri.
Di belakangnya, Ibu memeluk foto Bapak di dadanya. Foto yang dibawanya dari rumah, berbingkai kayu, Bapak muda dengan kemeja berkerah miring dan senyum yang, aku baru menyadarinya hari itu, persis seperti senyumku.
Resepsi diadakan di gang. Di bawah tenda putih yang membentang dari mulut gang sampai rumah Haji Mansur. Di atas meja-meja panjang, lima ratus bungkus nasi uduk. Dibungkus daun pisang. Diikat karet merah.
Tiga ratus dua puluh dua di antaranya diikat dengan karet merah dari toples kaca.
Pakde Sarno datang ke resepsi dengan seorang perempuan tua di sebelahnya. Berkebaya cokelat. Berkerudung putih. Tersenyum malu-malu.
“Mas Angga,” kata Pakde Sarno, dengan wajah merah. “Kenalin. Istri saya.”
Aku menatap perempuan itu. Lalu menatap Pakde Sarno.
“Dari Cilacap, Pakde?”
“Dari Cilacap.” Pakde Sarno mengusap tengkuknya. “Pulang tiga tahun lalu, sebenarnya. Pak Hendra bener. Saya malu ngaku.” Ia tertawa. “Tapi saya tetap beli tiga bungkus tiap hari. Yang satu buat dia. Dia di rumah, bukan di Cilacap. Tapi saya nggak mau ganti ceritanya. Udah kebiasaan.”
Istri Pakde Sarno memukul lengannya dengan kipas.
Di sebelahku, Aluna tertawa sampai harus berpegangan pada lenganku.
Ucup memberi sambutan sebagai sahabat mempelai pria. Ia menyanyikan Balonku. Dengan gerakan. Dengan penghayatan. Dengan memeragakan balon meletus dengan menjatuhkan diri ke tanah seperti tertembak, di gang, di bawah tenda, di depan tiga ratus tamu.
Dan di bagian meletus balon hijau, DOR!, ia menunjuk Aluna.
Aluna menutup wajah dengan dua tangan. Seluruh gang tertawa. Pak Karno tertawa paling keras.
Jovan memberi sambutan sebagai co-founder. Ia memakai jas untuk ketujuh kalinya. Ia mengumumkan bahwa grup WhatsApp PAPAN TARUHAN: KAPAN CTO LULUH resmi dibubarkan, dan bahwa seluruh uang taruhan, yang ternyata berjumlah tujuh juta empat ratus ribu rupiah, akan disumbangkan ke Beasiswa Orang Baik.
“Pemenangnya,” kata Jovan, “nggak ada. Semua kalah. Nggak ada yang nebak dia luluh di dapur jam empat pagi, gara-gara nasi uduk sembilan detik.” Ia menatap kami. “Kecuali Bu Ratih. Tapi Bu Ratih nggak ikut taruhan. Bu Ratih cuma tahu dari awal.”
Ibu, di barisan depan, tersenyum ke arah tenda dengan wajah tenang dan penuh pengetahuan.
Malam itu, jam sebelas lewat sepuluh, setelah tenda dibongkar dan tamu terakhir pulang dan Ibu tertidur di sofa ruang tamu dengan foto Bapak di pangkuan, aku dan Aluna duduk di teras samping rumah.
Di depan gerobak tua yang ditanami cabai.
Ia masih memakai kebaya putih gading, tapi tusuk kondenya sudah dilepas dan rambutnya tergerai. Aku masih memakai kain batik, tapi beskapnya sudah dilepas, dan aku hanya memakai kemeja putih yang kerahnya, tentu saja, miring lagi.
Di pangkuannya, radio Oma. Ia membawanya dari Depok sore tadi. Katanya radio itu harus ada di rumah barunya. Rumah kami. Lantai dua rumah bercat putih gading, kamar yang dulu kamarku, yang sekarang dicat ulang oleh Dara dengan warna yang ia sebut hijau daun pisang yang sudah dilayukan.
Aluna mencari stopkontak di dinding teras. Menyambungkan kabelnya. Memutar kenop pertama.
Tabung-tabung di dalamnya menyala pelan. Jingga. Hangat.
Sepuluh detik. Desis. Suara samar. Lalu ia memutar kenop pencari gelombang dengan sangat pelan, seperti waktu kami berdua memutar kenop yang sama di teras samping rumah di Pondok Indah hampir sebelas tahun lalu.
Keroncong. RRI Pro 4.
Bengawan Solo.
Aluna tertawa pelan. “Selalu lagu ini.”
“Semesta suka bercanda.”
“Atau semesta konsisten.”
Kami mendengarkannya sampai habis. Tangannya di tanganku. Cincin di jarinya, dengan ukiran nama utuhnya di bagian dalam, menyentuh punggung tanganku.
Lalu, waktu lagu berikutnya mulai, ia merogoh tas kecil di sebelahnya dan mengeluarkan sesuatu. Amplop putih yang menguning di pinggirnya. Tulisan di depannya pudar, tapi masih terbaca. Namaku, utuh, setiap suku kata diberi tempat.
“Ini surat yang nggak pernah aku kirim,” katanya. “Hampir sepuluh tahun lalu. Malam setelah aku makan nasi uduk di trotoar.”
Aku menatap amplop itu.
“Aku nggak perlu ngirim lagi,” katanya. “Semua yang ada di dalamnya udah aku bilang. Di dapur. Di depan muka kamu.” Ia meletakkan amplop itu di tanganku. “Tapi aku mau kamu punya. Biar kamu tahu, dari dulu, dari malam itu, aku udah nulis ini.”
Aku tidak membukanya. Belum. Aku memegangnya di tangan, di samping memo kuning yang kuambil dari saku kemejaku. Memo yang sudah lembek seperti kain. Memo dengan noda air mata kecil di kata janji.
Aku meletakkan keduanya di dalam laci kecil di bagian bawah radio Oma. Laci yang dulu tempat Oma menyimpan sisir, kata Aluna. Laci yang kosong selama dua puluh tahun.
Surat yang tidak pernah dikirim. Janji yang tidak pernah tahu kepada siapa ditujukan.
Dua-duanya akhirnya sampai.
Aluna menyandarkan kepalanya di bahuku. Di radio, keroncong berganti lagu. Di gerobak tua, buah cabai merah bergoyang pelan karena angin malam.
“Anggana,” katanya.
“Hm.”
“Besok subuh, jam tiga lewat empat puluh. Aku bangun duluan.”
“Kenapa?”
“Biar aku yang motong daun pisangnya. Kamu udah dari umur delapan.” Ia tersenyum ke kerahku. “Gantian.”
Aku tertawa. Lalu aku mencium puncak kepalanya, pelan, di antara rambut yang wangi melati dan sabun bayi dan, samar sekali, daun pisang.
“Aluna,” kataku.
“Hm.”
Aku menatap gerobak tua. Menatap radio Oma yang tabungnya menyala jingga. Menatap cincin di jarinya, dan kerahku sendiri yang miring, dan tangannya yang sudah terangkat, setengah sadar, siap merapikannya.
Sepuluh tahun lalu, di bawah pohon ketapang, aku mengatakan kalimat itu karena aku tidak meminta apa-apa. Lebih dari setahun lalu, di dapur jam empat pagi, ia mengatakan kalimat yang sama, dan aku akhirnya menjawab.
Malam ini, aku mengatakannya bukan untuk meminta, dan bukan untuk menjawab.
Hanya karena benar.
“Aku cuma mau kamu tahu,” kataku.
Ia mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku. Tangannya sampai di kerahku. Melipat sisi kiri keluar. Menekan dengan ibu jari. Menepuknya dua kali.
Lalu ia tersenyum, senyum yang hanya untukku, dan menjawab dengan kalimat yang sama.
“Aku cuma mau kamu tahu.”
Di radio Oma, keroncong terus mengalun. Di dapur di belakang kami, beras untuk besok pagi sudah direndam.
Dan kerahku, untuk sementara, lurus.
Tamat.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang reading
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis