Chapter Twelve
Senyum yang Sama
POV: Aluna
Lift turun dari lantai dua puluh tiga ke lobi dalam empat puluh satu detik.
Aku menghitungnya. Aku menghitung karena kalau aku tidak menghitung, aku akan menangis, dan aku tidak boleh menangis di dalam lift bersama Marcella Tan, VP Sagara Capital, yang pernah membuat founder unicorn menangis di ruang rapat dan, menurut gosip kantor, tidak pernah menangis sendiri sejak tahun 2009.
Halo, Luna. Apa kabar?
Tiga puluh detik.
Teman SMA.
Dua puluh detik.
Marcella menatap layar HP-nya, mengetik sesuatu dengan cepat. Tiara berdiri di sebelahku dan menatapku dengan intensitas seekor kucing yang mencium ikan dari balik pintu kulkas. Tiara tahu sesuatu terjadi. Tiara selalu tahu kalau sesuatu terjadi. Itu bakatnya, sama seperti bakatnya membuat model keuangan sepuluh tab dalam satu malam.
Sepuluh detik.
“Luna,” kata Marcella tanpa mengangkat kepala. “Kamu kenal CTO-nya?”
“Teman SMA, Bu.”
“Dekat?”
Pintu lift terbuka. Lobi. Lantai marmer, resepsionis, satpam, dan cahaya siang Kuningan yang menyilaukan dari balik kaca.
“Dulu,” kataku.
Marcella berhenti melangkah. Ia menatapku sebentar, matanya tajam seperti waktu ia membaca laporan keuangan. Aku menahan napas. Kalau ia bertanya lebih jauh, aku harus menjawab. Kalau aku menjawab, aku harus memilih: jujur, atau tidak.
“Bagus,” kata Marcella. “Itu bisa mempermudah komunikasi. Tapi ingat, Luna. Di meja negosiasi, teman SMA itu tidak ada. Yang ada cuma angka.”
“Iya, Bu.”
Ia berjalan ke mobilnya yang menunggu di depan lobi. Tiara dan aku naik taksi kembali ke kantor Sagara di Sudirman.
Di dalam taksi, Tiara menunggu sampai mobil keluar dari area gedung. Lalu ia memutar seluruh badannya menghadapku, menaikkan kacamata bulatnya ke atas kepala, dan berkata dengan suara pelan yang sama sekali tidak pelan:
“Lun. Gue mau tanya satu hal, dan lo harus jujur.”
“Apa.”
“Cowok itu siapa?”
Aku harus bercerita tentang hidupku sekarang. Kalau tidak, tidak ada yang akan mengerti kenapa apa kabar dari mulutnya terasa seperti seseorang menutup pintu dengan sangat sopan tepat di depan wajahku.
Aku tinggal di Depok, di rumah kecil dua kamar yang kami cicil sejak tiga tahun lalu, setelah lima tahun pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Rumahnya di ujung gang yang cukup lebar untuk satu mobil, tapi kami tidak punya mobil. Di depannya ada pohon jambu air milik tetangga yang dahan-dahannya menjulur ke atap kami, dan setiap musim berbuah, Mama membuat rujak.
Papa duduk di kursi roda sejak tiga tahun lalu. Stroke. Separuh tubuh kirinya lumpuh, bicaranya pelan dan kadang tersendat, tapi kepalanya masih tajam. Ia masih membaca koran setiap pagi, masih menonton berita bisnis, masih mengomentari harga saham dengan suara pelan yang kadang membuatku tertawa dan kadang membuatku ingin menangis.
Mama membuat kue pesanan. Lapis legit, nastar, kue lumpur, bolu pandan. Ia menerima pesanan lewat WhatsApp, membuatnya di dapur kecil kami yang ovennya cuma satu, dan mengantarkannya sendiri dengan ojek. Dulu Mama tidak pernah masuk dapur. Sekarang dapur adalah tempat Mama menghabiskan sebagian besar hidupnya, dan anehnya, ia terlihat lebih bahagia di sana daripada di rumah marmer di Pondok Indah.
Aku kuliah Ekonomi di UI. Masuk lewat jalur reguler, membayar UKT dengan uang dari les privat, jadi admin di kantor notaris, jadi SPG di pameran properti, jadi apa saja yang bisa dikerjakan sambil kuliah. Aku lulus dalam lima tahun, bukan empat, karena dua semester aku harus mengambil cuti kuliah untuk bekerja penuh waktu waktu Papa masuk rumah sakit.
Aku bekerja dua tahun sebagai analis kredit di bank. Lalu, empat bulan lalu, Sagara Capital membuka lowongan untuk posisi Junior Strategic Investment, dan dari tiga ratus pelamar, entah bagaimana, aku yang diterima.
Umurku dua puluh enam. Teman-teman SMA-ku yang dulu kuliah di luar negeri sudah jadi manajer, sudah menikah, sudah punya anak, sudah memposting foto liburan di Swiss. Aku masih junior. Aku naik KRL dari Stasiun Depok Baru jam enam pagi, berdiri berdesakan di gerbong khusus perempuan dengan blazer yang harus kujaga supaya tidak kusut, dan pulang jam delapan malam dengan kaki yang rasanya seperti habis dipukuli.
Aku punya dua blazer. Hitam dan abu-abu. Aku memakainya bergantian. Jam tanganku kubeli bekas di pasar loak di Jatinegara, tali kulitnya sudah retak di bagian gesper, tapi jarumnya masih jalan.
Aku tidak mengeluh. Aku tidak pernah mengeluh. Aku belajar dari seseorang yang tidak pernah mengeluh.
Dua minggu lalu, Marcella memanggilku ke ruangannya dan meletakkan sebuah map di depanku.
“Kamu pegang ini bareng saya. Startup booking akomodasi. Seri C. Tujuh puluh lima juta dolar. Kalau kita lead, ini deal terbesar Sagara tahun ini.”
Aku membuka map itu. Halaman pertama: profil perusahaan. Logo burung kecil berwarna biru tua dengan sayap yang membentuk huruf F. Nama perusahaan. Pendiri.
Jovan Siregar — Co-founder & CEO.
Anggana Pradipta — Co-founder & CTO.
Aku menatap nama itu sampai hurufnya terlihat kabur.
Aku tahu soal Flie. Tentu saja aku tahu. Aku tidak mencarinya. Aku bersumpah aku tidak pernah mencarinya, tidak pernah membuka profil LinkedIn-nya, tidak pernah mengetik namanya di mesin pencari jam dua pagi. Tapi Flie ada di mana-mana. Iklannya di lift, di halte TransJakarta, di video yang lewat di beranda media sosialku. Dan sekali, dua tahun lalu, sebuah portal berita teknologi menulis artikel tentang CTO muda yang membangun sistem dari kamar asrama ITB, anak penjual nasi uduk dari Jakarta Timur. Ada fotonya. Ia berdiri di depan layar besar, tersenyum, kerahnya miring.
Aku membaca artikel itu tujuh kali. Lalu aku menutup tab browser-nya dan tidak membukanya lagi.
Waktu Marcella menyodorkan map itu, aku hampir minta mundur. Aku sudah membuka mulut. Kalimatnya sudah ada di ujung lidah. Bu, saya ada konflik kepentingan.
Lalu aku membayangkan Marcella bertanya: Konflik kepentingan apa?
Dan aku tidak punya jawaban yang bisa diucapkan di ruang rapat Sagara Capital. Saya pernah menolak CTO-nya delapan tahun lalu dengan alasan bohong, Bu. Itu bukan konflik kepentingan. Itu cuma luka. Dan luka tidak tercantum di kode etik perusahaan.
Jadi aku menutup mulutku, mengambil map itu, dan bilang siap, Bu.
Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku profesional. Bahwa delapan tahun sudah cukup. Bahwa ia pasti sudah lupa, sudah punya pacar, mungkin sudah tunangan. Bahwa kami akan bertemu, bersalaman, bicara soal arsitektur sistem dan valuasi, lalu berpisah lagi, dan semuanya akan baik-baik saja.
Aku tidak siap untuk Halo, Luna.
“Jadi,” kata Tiara di dalam taksi, setelah aku menceritakan versi paling pendek yang bisa kuceritakan. “Lo ditembak dia waktu SMA. Lo tolak. Sekarang dia CTO startup yang mau kita danai tujuh puluh lima juta dolar.”
“Iya.”
“Dan lo nolak dia kenapa?”
Aku menatap jendela taksi. Gedung-gedung Sudirman bergerak lambat di balik kaca.
“Ada alasannya.”
“Alasan apa?”
“Alasan yang udah nggak penting lagi.”
Tiara menatapku lama. Ia sudah jadi sahabatku sejak hari pertama di Sagara, waktu ia melihatku makan bekal nasi dan tempe di pantry sendirian dan langsung duduk di sebelahku sambil bilang gue juga bawa bekal, ternyata kita sama-sama miskin di kantor orang kaya. Ia tahu aku naik KRL. Ia tahu Papa di kursi roda. Ia tahu aku punya dua blazer.
Ia tidak tahu soal ini. Tidak ada yang tahu soal ini, kecuali Bastian, yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Singapura.
“Oke,” kata Tiara, mengangkat dua tangan. “Gue nggak maksa. Tapi gue boleh bilang satu hal?”
“Apa.”
“Tadi, waktu dia bilang ‘Halo, Luna,’ muka lo kayak orang yang baru dikasih tahu kucingnya mati.” Tiara menurunkan kacamatanya lagi. “Dan dia, Lun. Dia senyum ke lo kayak dia senyum ke office boy yang nawarin kopi.”
Aku menutup mata.
Aku melihatnya juga. Di pintu Ruang Bromo, waktu aku berhenti dan menoleh, waktu aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu, apa saja, mungkin cuma kerahmu miring. Office boy itu lewat. Dan ia tersenyum padanya.
Senyum yang sama. Persis sama.
Bibir naik dengan sudut yang sama. Pipi terangkat dengan ketinggian yang sama. Mata yang tidak ikut menyipit. Senyum yang dulu ia berikan pada Bu Wati, Pak Karno, Mak Inah, anak kelas sepuluh yang dipinjami payung. Senyum yang kucatat di buku biru selama sebulan penuh, empat puluh tujuh kali.
Senyum yang sama dengan yang ia berikan padaku di ambang pintu Ruang Bromo, waktu ia mengulurkan tangan dan bilang apa kabar.
Delapan tahun lalu, di bawah pohon ketapang, ia memberiku senyum yang berbeda. Senyum yang hanya untukku. Aku menolaknya.
Sekarang senyum itu tidak ada lagi. Aku sudah menjadi bagian dari semua orang.
“Lo nggak dibenci, Lun,” kata Tiara pelan, seperti dokter yang membacakan hasil rontgen. “Gue liat matanya tadi. Nggak ada benci. Nggak ada dendam. Nggak ada apa-apa.”
“Itu bagus, kan?”
“Itu yang paling parah.” Tiara menggeleng. “Kalau dia benci lo, berarti lo masih ada di kepalanya. Kalau dia dendam, berarti lo masih punya tempat. Tapi dia nggak apa-apa. Lo nggak dibenci, Lun. Lo dinetralkan.”
Taksi berhenti di lampu merah. Aku membuka mata dan menatap pantulan wajahku di kaca jendela.
Rambut sebahu yang kupotong sendiri di kamar mandi kontrakan di tahun kedua kuliah, karena ongkos salon terlalu mahal dan rambut panjang terlalu lama dikeringkan sebelum berangkat kerja jam lima pagi. Pipi yang tirus. Lipstik mawar pucat yang kubeli diskon. Mata yang terlalu banyak tahu.
Dinetralkan.
Aku tertawa. Tawa yang tidak membuat kepalaku miring ke kiri.
Malam itu, aku sampai di rumah jam delapan lewat dua puluh.
Papa duduk di kursi roda di ruang tamu, menonton berita bisnis dengan volume terlalu keras. Mama di dapur, mengoles mentega di loyang untuk pesanan lapis legit besok pagi. Rumah wangi kayu manis dan cengkeh.
“Luna pulang,” kataku.
“Hm,” kata Papa, tidak menoleh dari TV. Lalu, dengan suara pelan yang tersendat-sendat, kalimat yang butuh waktu lama untuk keluar: “Muka kamu... kayak orang... habis ketemu... hantu.”
Aku berhenti melepas sepatu.
Papa menoleh. Separuh wajahnya tidak bergerak sejak stroke, tapi separuh lainnya masih bisa tersenyum, dan matanya masih bisa membaca anaknya lebih baik dari siapa pun.
“Hantu... dari mana?”
“Kerjaan, Pa.”
“Kerjaan... nggak bikin... mata merah.”
Aku tidak menjawab. Aku mencium tangan Papa, mencium pipi Mama di dapur, lalu masuk kamar dan menutup pintu.
Kamarku kecil. Kasur single, meja belajar dari kayu murah yang kubeli waktu kuliah, lemari plastik tiga susun. Di sudut meja, di atas tumpukan buku, radio Oma berdiri dengan kain penutup speaker krem dan kenop-kenop bakelit yang mengilap. Aku masih menyalakannya hampir setiap malam. Tabung-tabungnya masih menyala jingga. RRI Pro 4 masih memutar keroncong.
Aku membuka laci meja yang paling bawah.
Di dalamnya, di bawah ijazah SMA dan transkrip nilai kuliah, ada amplop putih yang sudah menguning di pinggirnya. Tulisan di depannya pudar sedikit, tapi masih terbaca. Nama, utuh, setiap suku kata diberi tempat.
Anggana.
Aku tidak membukanya. Aku tidak perlu membukanya. Aku hafal isinya.
Aku mengeluarkan HP dan melepas casing-nya. Di baliknya, terlipat empat, ada selembar kertas memo kuning yang tepinya sudah lembek seperti kain karena terlalu sering dipindahkan dari satu casing ke casing lain, dari HP pertama ke HP kelima.
Terima kasih. Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya akan membalas. Mungkin tidak ke Anda, tapi ke orang lain yang butuh, atas nama Anda. Janji.
Aku duduk di kasur dengan memo itu di satu tangan dan amplop di tangan lain, dan aku memikirkan delapan tahun.
Delapan tahun aku berkata pada diriku sendiri bahwa keputusanku benar. Bahwa ia pergi ke Bandung, kuliah, membangun sesuatu, dan terbang. Bahwa ia tidak memikulku, tidak memikul keluargaku. Bahwa diam adalah hadiah terbaik yang bisa kuberikan.
Dan semua itu memang terjadi. Ia terbang. Ia membangun sesuatu yang luar biasa. Keputusanku benar.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah kuhitung dalam delapan tahun itu.
Aku tidak pernah menghitung kemungkinan bahwa ia akan berhasil. Bahwa ia akan bahagia. Bahwa ia akan baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja, tanpa aku.
Aku tidak pernah menghitung bahwa ia akan berdiri di ruang rapat dengan kerah miring, menjabat tanganku, dan tidak merasakan apa-apa.
Aku bisa menceritakan semuanya. Aku tahu itu. Aku bisa mengirim pesan malam ini juga. Anggana, ada yang perlu aku jelasin soal delapan tahun lalu. Aku bisa memberinya amplop itu. Aku bisa memberinya memo kuning itu.
Lalu aku membayangkan apa yang terjadi.
Ia akan membaca. Ia akan mengerti. Ia akan tersenyum, senyum yang sama untuk semua orang, dan bilang nggak apa-apa, Luna, aku ngerti, makasih udah cerita. Ia akan kasihan. Ia akan merasa bersalah karena pernah membuatku menangis sejam di mobil Bastian. Ia akan menawarkan bantuan untuk Papa, untuk cicilan rumah, untuk apa saja. Ia akan menolongku.
Dan aku akan menjadi orang keempat puluh delapan di buku biru.
Tidak.
Aku tidak mau ia kembali padaku karena kasihan. Aku tidak mau ia kembali karena merasa bersalah. Aku tidak mau ia membaca surat delapan tahun lalu dan berpikir oh, ternyata dia punya alasan, kasihan dia. Menjelaskan sekarang terasa seperti meminta. Seperti membela diri. Seperti menyodorkan tagihan delapan tahun dan meminta ia membayarnya.
Aku memasukkan amplop itu kembali ke laci. Aku memasang memo kuning itu kembali di balik casing HP.
Lalu aku berdiri, membuka lemari plastik tiga susun, dan menatap dua blazerku. Hitam dan abu-abu.
Delapan tahun lalu, aku memutuskan untuknya. Aku memutuskan apa yang terbaik baginya, tanpa bertanya, tanpa memberi tahu, tanpa memberinya kesempatan memilih.
Sekarang aku tidak akan memutuskan apa pun untuknya lagi.
Aku cuma akan memutuskan untuk diriku sendiri.
Dan aku memutuskan: aku mau dia.
Bukan maaf darinya. Bukan pengertian. Bukan rasa kasihan. Dia. Laki-laki yang membungkus dua ratus lima puluh nasi uduk sebelum memimpin perusahaan bernilai triliunan. Yang masih memakai kerah miring ke ruang rapat investor. Yang tidak membenciku, tidak dendam padaku, dan tidak merasakan apa-apa saat melihatku.
Kalau ia tidak merasakan apa-apa, aku akan membuatnya merasakan sesuatu. Kalau senyumnya sama untuk semua orang, aku akan membuatnya punya senyum yang lain lagi.
Delapan tahun lalu, ia yang mengejar dan aku yang lari.
Sekarang giliranku.
Jumat pagi, jam tujuh lewat lima belas, aku sampai di kantor Sagara di lantai tiga puluh satu sebuah gedung di Sudirman.
Di mejaku, di samping keyboard, sudah ada bungkusan kecil dalam kantong kresek putih. Ojek online mengantarnya ke resepsionis jam tujuh tepat, seperti setiap Jumat.
Aku membuka kantong itu. Di dalamnya, sebungkus nasi uduk, dibungkus daun pisang, diikat karet merah. Sambal kacangnya dipisah dalam plastik kecil. Dan seperti biasa, ada satu kerupuk tambahan yang tidak pernah kupesan.
Tiara muncul di balik sekat meja dengan gelas kopi di tangan.
“Jumat,” katanya. “Nasi uduk lagi. Lo tiap Jumat makan itu. Lima tahun? Lo nggak bosen?”
“Nggak.”
“Dari mana sih? Lo nggak pernah ngasih tahu. Gue mau pesen juga.”
“Langganan.”
“Langganan di mana?”
Aku membuka bungkus daun pisang itu pelan-pelan. Nasinya masih hangat. Telurnya bulat. Sambal kacangnya wangi jeruk limau.
Empat jari dirapatkan. Ambil sedikit. Tekan biar padat. Jempol yang dorong.
“Rahasia,” kataku.
Tiara mendengus dan kembali ke mejanya. Aku makan suapan pertama, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menangis.
Aku tersenyum.
Senin depan, due diligence teknis dimulai. Senin depan, aku akan duduk di kantornya, di sebelahnya, dan bertanya tentang arsitektur sistem dan perlindungan data dan seratus hal lain yang harus kutanyakan sebagai profesional.
Dan di sela-sela itu, aku akan mulai mengejar.
Aku menyimpan karet merah dari bungkusan itu di laci meja, di samping dua ratus delapan puluh tujuh karet merah lain yang kukumpulkan sejak tahun ketiga kuliah. Satu karet untuk setiap Jumat. Satu karet untuk setiap minggu aku memutuskan untuk tidak lupa.
Karet yang ke-288 ini terasa berbeda.
Yang ini bukan untuk mengingat. Yang ini untuk memulai.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama reading
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis