← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Forty Three

Extra 2: Disuapin

POV: Aluna

Aku bangun lebih dulu.

Bukan karena aku orang pagi. Aku bukan orang pagi. Delapan tahun naik KRL jam enam membuatku bisa bangun pagi, tapi tidak membuatku menyukainya. Aku bangun karena cahaya matahari Flores masuk lewat dinding kaca dari lantai sampai langit-langit, tanpa gorden, karena semalam tidak ada yang ingat untuk menutup gorden, dan jatuh langsung di wajahku seperti seseorang menyalakan lampu sorot.

Aku membuka mata. Menyipit. Lalu menoleh ke samping.

Ia masih tidur.

Telentang, satu tangan di atas dada, satu tangan terkulai di antara kami di atas seprai, telapaknya menghadap ke atas seperti sedang menunggu sesuatu diletakkan di sana. Rambutnya berantakan ke segala arah. Ada kelopak kamboja yang menempel di pelipisnya. Ada bekas samar warna merah anggur di sudut bibirnya dan, aku menyadari dengan rasa puas yang sangat tidak pantas, di bawah rahangnya juga.

Wajahnya waktu tidur berbeda. Tidak ada senyum untuk semua orang. Tidak ada kerut kecil di antara alis yang muncul setiap kali ia membaca layar war room. Tidak ada apa pun yang dijaga. Hanya wajah laki-laki dua puluh tujuh tahun yang tidur sangat nyenyak untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.

Bulu matanya lebih panjang dari yang kukira. Aku tidak pernah memperhatikannya karena ia selalu menunduk ke laptop, atau menyipit karena tertawa, atau menatapku dengan mata yang terlalu terbuka. Aku menghitungnya. Tidak semuanya, tentu saja. Hanya yang di kelopak kanan. Lalu aku berhenti di empat puluh tujuh, karena angka itu, dan karena aku tertawa sendiri dan ia bergerak sedikit.

Aku mengambil kelopak kamboja dari pelipisnya. Pelan.

Ia membuka mata.

Butuh dua detik untuknya mengenali di mana ia berada. Langit-langit kayu. Kelambu tipis. Dinding kaca. Laut. Lalu ia menoleh, dan menemukanku berbaring miring menghadapnya dengan dagu bertumpu di telapak tangan dan kelopak kamboja di antara jariku.

“Pagi, suamiku,” kataku.

Ia menatapku. Lalu wajahnya berubah warna.

Bukan sedikit. Seluruhnya. Dari dahi sampai leher, seperti termometer yang dicelupkan ke air mendidih. Ia menarik selimut sampai ke dagu dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat tidak berguna.

Aku tertawa sampai harus memegang perut.

“Mas,” kataku. “Mas kenapa merah?”

“Nggak.”

“Merah banget.”

“Mataharinya.”

“Mataharinya di muka aku, Mas. Bukan di muka Mas.” Aku bergeser lebih dekat. Ia menahan napas. “Mas inget yang semalem, ya?”

Ia memejamkan mata.

“Aluna,” katanya ke langit-langit, dengan suara orang yang sedang memohon belas kasihan.

“Iya, Sayang?”

Ia membuka mata lagi. Menatapku. Sayang. Aku belum pernah memanggilnya begitu. Aku melihat kata itu masuk ke telinganya, berjalan ke kepalanya, dan menabrak sesuatu.

Ia membeku.

Aku menghitung di kepala. Pesawat, kasur, kolam, gaun, punggung, bibir, mau-tidur-sekarang. Ini nomor delapan sejak kemarin.

Aku harus mengirim laporan ke Tiara.


Sarapan diantar ke vila jam delapan. Seorang staf resor yang masih sangat muda, mungkin sembilan belas tahun, mengetuk pintu, mendorong troli berisi nampan dengan wajah yang berusaha keras untuk tidak menatap kelopak kamboja yang tersebar di lantai dari kasur sampai pintu kaca, lalu kabur secepat mungkin.

Di nampan: nasi goreng kampung, telur mata sapi, buah-buahan potong, roti panggang, kopi, dan teh melati tanpa gula. Seseorang di resor ini jelas sudah diberi tahu.

Anggana sudah mandi dan berpakaian. Kaus putih. Celana pendek. Rambut masih basah. Ia mendorong troli ke dekat kasur, mengambil nampan, dan meletakkannya di atas selimut di depanku.

“Makan,” katanya.

Aku menatap nampan itu. Lalu menatapnya.

“Nggak mau.”

Ia mengerjap. “Kamu nggak lapar?”

“Lapar banget.”

“Terus?”

Aku menyandarkan punggung ke bantal, melipat tangan di dada, dan mengangkat dagu.

“Aku nggak mau makan kecuali disuapin.”

Hening.

Ia menatapku seperti menatap log server yang menampilkan galat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Disuapin,” ulangnya.

“Disuapin.”

“Kamu punya dua tangan.”

“Tanganku capek.” Aku mengangkat kedua tanganku dan membiarkannya jatuh lemas ke selimut dengan dramatis. “Semalem ada yang bikin capek.”

Ia membeku. Nomor sembilan.

Lalu, pelan-pelan, dengan wajah merah dan rahang yang mengeras seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak tertawa atau tidak lari ke laut, ia duduk di pinggir kasur. Mengambil sendok. Menyendok nasi goreng. Meniupnya, karena masih mengepul.

Lalu mengulurkannya ke mulutku.

Aku membuka mulut. Ia menyuapiku.

Aku mengunyah pelan, sangat pelan, sambil menatap matanya, dan waktu ia menarik sendoknya kembali, aku menggigit ujung sendok itu dan menahannya dengan gigi.

Ia berhenti. Sendok di tangannya. Ujungnya di mulutku.

Kami saling menatap.

Lalu aku melepaskan sendok itu, pelan, menjilat sisa nasi di ujungnya dengan ujung lidah, dan tersenyum.

“Enak,” kataku.

Ia meletakkan sendok di nampan. Ia berdiri. Ia berjalan ke pintu kaca, membukanya, berdiri di dek, dan menatap laut selama tiga puluh detik penuh dengan tangan di pinggang, seperti orang yang baru selesai lari maraton.

Aku tertawa sampai nampan di pangkuanku bergoyang.


Ia kembali. Ia duduk lagi di pinggir kasur. Ia menyuapiku lagi, kali ini dengan wajah yang sangat serius dan sangat fokus, seperti orang yang sedang menjinakkan bom.

Suapan kedua. Ketiga. Telur mata sapi, dipotong kecil-kecil. Potongan pepaya, yang ia tiup meskipun pepaya tidak panas, karena ia lupa sedang memegang apa.

“Mas, itu pepaya. Nggak usah ditiup.”

“Oh.”

Ia menyuapiku pepaya yang sudah ditiup. Aku memakannya.

Lalu aku mengambil nampan itu dari pangkuanku dan meletakkannya di sebelah. Aku duduk tegak. Aku mengambil nasi goreng dari piring, bukan dengan sendok, dengan tangan. Empat jari dirapatkan. Ambil sedikit. Tekan biar padat.

“Sekarang giliran Mas,” kataku.

“Aku bisa makan sendiri—”

“Mas,” kataku, dengan nada yang biasanya dipakai Marcella untuk memotong presentasi yang terlalu panjang. “Buka mulut.”

Ia membuka mulut.

Aku menyuapinya dengan tangan. Jempol mendorong nasi masuk. Ujung jariku menyentuh bibirnya. Aku tidak langsung menarik tanganku. Aku membiarkan ujung jempolku di sudut bibirnya, di tempat bekas lipstik merah anggur semalam masih tersisa sedikit, dan menghapusnya. Pelan.

Ia tersedak.

Benar-benar tersedak. Nasi goreng masuk ke saluran yang salah. Ia batuk, membungkuk, memukul dadanya sendiri. Aku menyodorkan teh melati. Ia meminumnya dengan mata berair, wajah merah padam, dan aku tidak bisa berhenti tertawa.

“Kamu,” katanya di antara batuk, “kamu mau bikin aku mati di bulan madu.”

“Nggak. Aku cuma mau Mas tahu rasanya aku dulu waktu MOS. Nggak bisa makan pakai tangan, diliatin orang.”

“Itu beda.”

“Iya. Dulu Mas yang ngajarin aku. Sekarang aku yang ngajarin Mas.” Aku mengambil nasi lagi. “Ujung jari aja, Mas. Jangan pakai telapak.”

Ia menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa yang membuat matanya hilang. Lalu ia membuka mulut lagi.


Jam delapan lewat empat puluh, pintu vila diketuk.

Bukan ketukan sopan seperti staf resor tadi. Ketukan keras, cepat, tiga kali, dengan telapak tangan, bukan buku jari.

“ANAK JAKARTA! NONA! SA BAWA IKAN BAKAR!”

Kami saling pandang.

Aku masih di kasur dengan selimut melilit badan dan piring nasi goreng di pangkuan. Anggana duduk di pinggir kasur dengan nasi di sudut bibir dan kaus yang sekarang ada noda kecap di bagian dada karena aku menyuapinya terlalu bersemangat. Kelopak kamboja masih tersebar di lantai dari kasur sampai pintu kaca.

“Mama Rosa,” bisik Anggana.

“Mas bilang ke dia vila kita yang mana?”

“Nggak. Kak Ferdi, mungkin—”

“SA TAHU KALIAN DI DALAM! SA DENGAR KETAWA!”

Anggana berdiri dengan panik. Ia mengambil kemeja linen dari kursi dan memakainya di atas kaus bernoda kecap, tanpa dikancingkan. Kerahnya, tentu saja, langsung miring. Aku menarik selimut sampai ke leher dan melemparkan bantal ke arah tumpukan kelopak kamboja di lantai, sia-sia, karena bantal tidak bisa menyembunyikan kelopak.

Ia membuka pintu.

Mama Rosa berdiri di sana dengan kain tenun di bahu, nampan anyaman bambu berisi tiga ekor ikan bakar yang masih mengepul, dan Marten di belakangnya membawa termos dan kantong plastik berisi jagung rebus.

Mama Rosa menatap Anggana. Kemeja yang tidak dikancingkan. Kaus bernoda kecap. Nasi di sudut bibir. Kerah miring.

Lalu ia menatap melewati bahu Anggana, ke dalam vila. Ke kelopak kamboja di lantai. Ke kasur. Ke aku, dengan selimut sampai ke leher dan piring nasi goreng di pangkuan.

Mama Rosa diam tiga detik.

Lalu ia tertawa. Tawa yang keras, dari perut, yang membuat Marten di belakangnya menutup wajah dengan topi.

“Sa tahu, sa tahu,” kata Mama Rosa, melangkah masuk tanpa diundang dan meletakkan nampan ikan bakar di meja dekat pintu. “Pengantin baru. Mama juga dulu begitu. Sudah, sudah, jangan malu.” Ia menepuk pipi Anggana. “Ini ikan bakar. Biar kuat. Pengantin baru harus makan ikan. Ikan bagus buat...”

“Mama,” kata Marten dari ambang pintu, dengan suara anak sembilan belas tahun yang ingin menghilang dari muka bumi.

“Apa? Sa cuma mau bilang ikan bagus buat otak.” Mama Rosa menatapku di kasur dan mengedipkan satu mata. “Nona. Ikannya disuapin juga, ya. Sa lihat dari jendela tadi.”

Aku menarik selimut sampai menutupi wajah.


Siang itu, Marten membawa kami ke Pantai Merah Muda dengan perahu Bintang Laut.

Ombaknya lebih besar dari waktu kunjungan lapangan. Anggana duduk di bangku kayu di tengah perahu dengan kemeja yang sekarang sudah dikancingkan dengan benar, karena aku yang mengancingkannya di dermaga, satu per satu, pelan, sambil menatap matanya, sampai Marten berdeham dan bilang perahunya sudah siap.

Aku duduk di sebelahnya. Lalu, waktu perahu mulai bergoyang karena ombak pertama, aku berpegangan pada lengannya.

“Mas, pegang pinggang aku,” kataku. “Takut jatuh.”

“Kamu duduk.”

“Tetep takut.”

“Kamu bisa berenang.”

“Mas,” kataku, dan menatapnya. “Pegang.”

Ia memegang pinggangku. Satu lengan melingkar di belakangku, telapak tangan di pinggang kiriku. Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Ombak berikutnya datang. Perahu bergoyang. Aku tidak bergerak sedikit pun, karena aku duduk di bangku kayu yang dipaku ke lantai perahu dan sebenarnya tidak ada risiko jatuh sama sekali. Tapi tangannya di pinggangku mengencang, refleks, seperti di dermaga. Seperti waktu aku benar-benar hampir jatuh.

Aku tersenyum ke laut.

Marten, di buritan, menatap kami sekilas, lalu menatap laut, lalu menggumam sesuatu dalam bahasa Manggarai yang terdengar seperti doa minta kesabaran.

“Marten bilang apa?” tanyaku ke Anggana.

“Nggak tahu.”

“Mas nggak bisa bahasa Manggarai?”

“Aku cuma bisa bahasa Indonesia, Jawa sedikit, Inggris, Python, dan Go.”

Aku tertawa sampai perahunya bergoyang lebih keras.


Pantai Merah Muda bernama begitu karena pasirnya memang merah muda. Bukan merah muda terang seperti permen kapas. Merah muda pucat, seperti kelopak mawar yang sudah layu sedikit, karena serpihan karang merah yang bercampur dengan pasir putih. Lautnya biru toska. Langitnya biru tanpa awan.

Kami berjalan di garis pantai. Tangan bertaut. Sandal di tangan yang lain.

Di dekat batu karang di ujung pantai, aku berhenti. Aku melepas tangannya. Aku berjongkok dan mulai menulis di pasir merah muda yang basah dengan ujung jari.

MAS PUNYAKU.

Huruf kapital. Besar-besar. Lalu aku menggambar hati di sebelahnya, dan hati itu jelek, miring di satu sisi, seperti bungkusan nasi uduk pertamaku.

Aku berdiri. Menatapnya.

Ia menatap tulisan itu lama. Lalu ia berjongkok di sebelahnya. Ia menulis di bawah tulisanku, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih rapi, miring ke kanan:

Aluna.

Nama utuh. Setiap suku kata diberi tempat. Tanpa kata lain.

“Cuma nama?” tanyaku.

“Itu udah semuanya,” katanya, berdiri dan mengibas pasir dari tangannya. “Kalau aku nulis namamu, itu artinya semua yang aku punya.”

Aku menatapnya.

Ombak datang. Pelan. Menyentuh ujung huruf A di namaku. Mundur. Datang lagi, sedikit lebih jauh.

Aku tidak bisa bicara. Jadi aku melakukan hal lain. Aku menarik kerah kemejanya, yang tentu saja sudah miring lagi sejak di perahu, dan menciumnya di sana, di pantai merah muda, dengan ombak yang perlahan menghapus tulisan kami di pasir.


Tidur siang di vila. Aku yang memaksa. Ia bilang ia tidak pernah tidur siang. Aku bilang di bulan madu, tidur siang itu wajib, dan kalau ia tidak mau, aku akan mengirim pesan ke Dara.

Ia tidur siang.

Aku menjadikan lengannya bantal. Ia berbaring telentang, aku miring menghadapnya dengan kepala di atas lengan kanannya, dan tangannya yang lain memainkan ujung rambutku.

“Mas,” kataku, setengah mengantuk.

“Hm.”

“Ceritain waktu Mas pertama kali liat aku.”

Ia diam sebentar.

“Kamu udah tahu.”

“Aku mau denger lagi. Dari Mas. Lengkap.”

Tangannya berhenti memainkan rambutku. Lalu mulai lagi. Pelan.

“Jam enam lewat seperempat,” katanya. “Kamu turun dari sedan hitam. Topi kerucut hijau stabilo, kayaknya dibikin tukang karton profesional, rapi banget. Kotak bekal kayu tiga susun sama kain batik.”

“Iya.”

“Kakak OSIS bilang daun pisang, Dik, daun pisang. Kamu berdiri di deket gerbang, panik. Terus kamu nengok.”

Ia diam.

“Terus?” bisikku.

“Rambut kamu panjang sampai punggung. Item. Lurus. Jatuhnya berat kayak tirai. Kamu punya poni tipis, dan kamu nyibak poni itu pakai dua jari. Kulit kamu kuning langsat, terus pipi kamu merah dikit, aku nggak tahu karena panik atau matahari. Mata kamu...” Ia menarik napas. “Mata kamu cokelat madu. Terus mataharinya kena dari samping, dan warnanya berubah jadi emas. Kayak teh yang dituang ke gelas bening.”

Aku menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

“Ada tahi lalat kecil di bawah mata kanan,” lanjutnya, dan ujung jarinya menyentuh tahi lalat itu, sekarang, pelan. “Yang ini. Dari deket ternyata nggak bulat. Lonjong. Kayak tetesan.”

“Mas tahu dari kapan?”

“Kelas sebelas. Waktu kamu benerin kerahku pertama kali di depan aula.” Ia tersenyum. “Aku lupa napas waktu itu juga.”

Aku menyembunyikan wajah di lengannya. Mataku panas.

“Terus aku lupa lagi berdiri di mana,” katanya pelan, ke langit-langit. “Itu pertama kalinya jantungku ngelewatin satu ketukan. Dan nggak minta maaf.”

Aku tertawa, basah, di lengannya.

“Mas,” bisikku.

“Hm.”

“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”

Tangannya di rambutku berhenti.

Aku belum pernah mengatakannya dengan kata-kata itu. Aku cinta kamu, iya, di pantai Sanur, di dapur, di akad. Aku suka kamu dari hari nasi uduk itu. Tapi sayang banget, dengan Mas di ujungnya, dengan suara serak setengah mengantuk dan wajah tersembunyi di lengannya, belum pernah.

Ia diam lama.

Lalu ia memiringkan badan, menghadapku, dan menarikku ke dadanya. Ia memelukku. Tidak erat. Pelan. Seperti memeluk sesuatu yang baru saja diberikan dan masih belum yakin boleh dipegang.

“Bilang lagi,” bisiknya di rambutku.

“Aku sayang banget sama kamu, Mas.”

“Lagi.”

“Aku sayang banget sama kamu, Mas. Sayang banget. Banget banget.”

Ia tertawa pelan. Aku merasakan tawanya bergetar di dadanya, di pipiku.

“Aku nggak bakal bosen denger itu,” katanya.

“Nanti aku bilang tiap hari.”

“Janji?”

“Janji. Kayak benerin kerah.”


Makan malam, malam kedua.

Kali ini di restoran resor, bukan di dek. Meja di teras yang menghadap laut, bersama dua pasangan bulan madu lain dari Jakarta dan satu keluarga dari Belanda dengan tiga anak kecil yang berlarian di antara meja.

Aku memakai gaun putih sederhana malam itu. Bukan senjata pemusnah CTO. Aku menyimpan gaun merah untuk malam terakhir. Anggana tidak tahu itu.

Pelayan menyajikan ikan bakar, sop ikan kuah kuning, dan nasi putih. Anggana mulai makan.

Aku tidak.

Ia menoleh. Menatap piringku yang masih utuh. Lalu menatapku. Aku menatapnya balik dengan wajah sangat polos dan sangat sengaja.

“Lagi?” tanyanya pelan.

“Lagi.”

“Di sini? Di depan orang?”

“Di sini. Di depan orang.”

Ia melirik dua pasangan bulan madu di meja sebelah. Lalu keluarga Belanda. Lalu kembali padaku.

Lalu ia mengambil sendok, menyendok sop ikan kuah kuning, meniupnya, dan menyuapiku.

Salah satu perempuan di meja sebelah, pengantin baru dari Jakarta juga, menyikut suaminya dan berbisik sesuatu. Suaminya menoleh ke arah kami, lalu menatap istrinya dengan wajah panik, karena istrinya sekarang menatapnya dengan wajah kenapa kamu nggak gitu?

Aku menahan tawa dengan mulut penuh sop.

Suapan ketiga, aku menahan sendoknya dengan gigi lagi. Ia sudah siap kali ini. Ia tidak membeku. Ia hanya menatapku, tersenyum kecil, dan menunggu sampai aku melepaskannya.

“Mas udah kebal,” kataku, sedikit kecewa.

“Sedikit.”

“Nggak asik.”

Ia meletakkan sendok. Lalu ia mencondongkan badan ke arahku, melewati meja kecil, sampai wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Di depan dua pasangan bulan madu dan keluarga Belanda.

“Kenapa liatin bibir aku?” bisiknya.

Aku membeku.

Ia tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit, tapi kali ini dengan sesuatu yang jahil di dalamnya. Sesuatu yang belajar dariku.

“Mau dicium?” bisiknya. “Boleh kok.”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Ia mundur. Bersandar ke kursinya. Mengambil sendok. Melanjutkan makan.

“Nanti,” katanya, sangat santai. “Makan dulu. Kamu belum makan apa-apa selain sop.”

Aku duduk di sana, membungkuk di atas meja, dengan bibir yang sedikit terbuka dan wajah yang aku yakin semerah kuah kuning yang mendidih.

Di meja sebelah, perempuan pengantin baru dari Jakarta itu bertepuk tangan pelan. Dua kali. Lalu ia menyikut suaminya lagi.


Malam itu, jam sebelas, aku berbaring di kasur dengan HP di tangan sementara Anggana mandi.

Satu pesan dari Dara. Dikirim jam sembilan malam.

Dara: Laporan harian bulan madu WAJIB dikirim. Ini bagian dari audit. Format bebas. Minimal satu foto. Jangan yang aneh-aneh.

Aku membuka galeri foto. Aku memilih satu yang kuambil siang tadi, waktu ia tertidur di kasur setelah bercerita soal pagi MOS. Ia tidur miring, satu tangan di bawah pipi, mulut sedikit terbuka. Kaus putihnya kusut. Kerah kausnya terlipat ke dalam di satu sisi.

Aku mengirimnya.

Aluna: Laporan hari kedua. Objek audit tidur siang. Pertama kali seumur hidup katanya. Disuapin 3x hari ini (2 nasi goreng, 1 sop). Nyuapin balik 2x. Tersedak 1x. Freeze total sejak kemarin: 11x. Hari ini dia juga bales godain aku 1x dan aku yang freeze. Itu pelanggaran. Mohon dicatat.

Tiga titik. Cepat.

Dara: Kerah tetap miring. Temuan diterima.

Dara: Kakak bales godain kamu??? KAKAK??? Detailnya?

Aluna: Nggak boleh. Rahasia rumah tangga.

Dara: Auditor punya akses penuh.

Aluna: Auditor udah pensiun dari tugas kerah. Kamu sendiri yang bilang.

Tiga titik. Lama.

Dara: Ibu baca chat ini dari belakangku. Ibu ketawa sampai sutilnya jatuh. Ibu bilang: “Bapakmu dulu juga gitu. Awalnya kaku kayak kayu. Seminggu nikah udah bisa ngegombal.” Ibu bilang kamu hebat.

Dara: Aku nggak bilang kamu hebat. Ibu yang bilang.

Dara: Tapi fotonya bagus. Kakak kelihatan bahagia. Aku simpen.

Pintu kamar mandi terbuka. Anggana keluar dengan rambut basah dan kaus bersih dan handuk di leher. Ia melihatku tersenyum ke HP.

“Siapa?”

“Dara. Laporan harian.”

“Laporan apa?”

Aku menyembunyikan HP di bawah bantal. “Rahasia.”

Ia menatapku dengan mata menyipit. Lalu ia berjalan ke kasur, naik, dan berbaring di sebelahku. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya mengulurkan lengannya, telapak tangan menghadap atas, di atas bantal, di antara kami.

Aku meletakkan kepalaku di atasnya.

“Mas,” bisikku.

“Hm.”

“Besok aku masih minta disuapin.”

“Aku tahu.”

“Lusa juga.”

“Aku tahu.”

“Sampai kapan pun.”

Ia menarikku lebih dekat dan mencium keningku. Lama. Di tempat yang sama dengan di teras di bawah pohon jambu air.

“Aku tahu,” katanya. “Makanya aku latihan niup pepaya.”

Aku tertawa sampai menangis, di dadanya, di kasur besar di vila di atas tebing di Labuan Bajo, dengan kelopak kamboja yang sudah cokelat di lantai dan laut yang berbisik pelan di bawah sana.