Chapter Thirty Five
Senyum untuk Semua Orang
POV: Aluna
Aku memungut memo kuning itu dari lantai teras jam sembilan lewat dua puluh malam.
Butuh waktu lama. Tanganku gemetar terlalu keras untuk menjepit kertas setipis itu. Dua kali aku menjatuhkannya lagi. Bunga-bunga jambu air yang sudah cokelat menempel di sudutnya. Aku membersihkannya satu per satu dengan ujung jari, pelan, seperti membersihkan luka.
Lalu aku duduk di kursi plastik, memegang memo itu di pangkuan, dan menatap gang yang kosong.
Mobilnya sudah lama pergi. Lampu jalan di ujung gang berkedip. Di atas, dahan pohon jambu bergoyang pelan, dan satu bunga lagi jatuh ke lantai teras dengan bunyi yang tidak terdengar.
Pintu rumah di belakangku berderit. Bunyi roda di atas lantai keramik. Pelan. Tersendat.
Papa.
Ia mendorong kursi rodanya sendiri dengan tangan kanan, sedikit demi sedikit, sampai ke ambang pintu teras. Ia berhenti di sana. Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya menatapku dengan separuh wajah yang bisa bergerak dan separuh yang tidak.
“Papa denger?” tanyaku.
Papa mengangguk. Lambat.
“Semuanya?”
Papa mengangguk lagi.
Aku menunduk. Air mataku jatuh ke memo kuning di pangkuanku, membuat noda bulat kecil di tinta yang sudah pudar.
“Papa,” kataku. “Papa yang bilang ke dia, kan? Di ICU. Waktu Papa minta ketemu dia sendirian.”
Papa diam lama. Lalu, dengan suara yang pelan dan tersendat, satu kata demi satu kata:
“Papa... bilang... tanya... dia.”
Aku mengangkat kepala.
“Papa... nggak... bilang... jawabannya.” Papa menarik napas, mengumpulkan tenaga. “Papa... bilang... tanya... kamu. Supaya... kamu... yang... cerita.”
“Aku telat, Pa.”
“Iya.” Papa tidak membohongiku. Papa tidak pernah membohongiku, bahkan waktu rumah dilelang. “Kamu... telat.”
Aku menangis lebih keras.
Papa mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Aku meraihnya. Tangannya dingin, kurus, dan masih punya sedikit tenaga dari laki-laki yang dulu menjabat tangan anak tukang nasi uduk di atas lantai marmer.
“Dia... nggak... benci,” kata Papa. “Papa... liat... mukanya. Tadi. Waktu... dia... bilang... selamat malam... Om.”
“Dia senyum, Pa. Senyum yang sama kayak ke semua orang.”
“Iya.” Papa meremas tanganku. “Tapi... dia... masih... bilang... selamat malam. Orang... yang... benci... nggak... bilang... selamat malam.”
Sabtu, jam dua lewat lima puluh pagi, aku berdiri di depan pagar dengan HP yang menunjukkan ojek sedang dalam perjalanan.
Aku tidak tahu kenapa aku pergi. Ia bilang ia butuh waktu. Ia tidak membalas satu pun pesanku sejak Kamis malam. Aku mengirim tiga. Maaf. Lalu, sepuluh jam kemudian: Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku cuma mau kamu tahu aku minta maaf. Lalu, hari Jumat malam: Besok aku tetap dateng jam empat. Kamu nggak harus turun.
Dua centang biru. Dibaca. Tidak dibalas.
Aku pergi karena aku sudah berjanji pada Dara di teras samping, di depan gerobak tua yang ditanami cabai. Aku bakal datang tiap Sabtu. Dan karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di KRL, dengan daster batik Bu Ratih: aku berutang delapan tahun Sabtu pagi.
Utang tidak lunas karena orang yang diutangi marah.
Bu Ratih membukakan pintu samping dapur sebelum aku mengetuk.
Matanya merah. Bengkak. Seperti orang yang menangis semalaman dan tidak tidur. Ia memakai daster batik dan celemek dan sanggul putih, seperti biasa. Tapi senandung campursarinya tidak ada.
Ia menatapku. Lalu, tanpa bilang apa-apa, ia memelukku di ambang pintu.
Pelukannya masih kuat. Masih wangi santan dan daun pisang.
“Maafin Ibu, Nduk,” bisiknya di bahuku. “Ibu yang salah. Ibu harusnya ndak nyimpen lima tahun.”
“Bukan, Bu. Aku yang minta Ibu nyimpen.”
“Tapi Ibu yang nurut.” Bu Ratih melepas pelukannya dan menatapku. “Ibu ibunya. Ibu yang harusnya tahu lebih baik.”
Aku tidak bisa menjawab.
Di dapur, Dara sudah duduk di meja marmer. Piyama beruang. Papan klip di depannya. Pulpen di tangan. Tapi ia tidak menulis apa-apa. Ia hanya menatapku waktu aku masuk, dan wajahnya tidak bisa kubaca.
“Pagi, Dara.”
“Pagi.”
Ia tidak mencatat jam kedatanganku. Pertama kalinya dalam tujuh minggu.
Aku membungkus nasi uduk. Daun di telapak kiri, bagian licin di bawah. Nasi tiga perempat centong, agak ke bawah. Telur di atas, sedikit ke kiri. Lipat kiri, tekan dengan ujung jari. Kanan. Bawah. Atas. Karet merah.
Sebelas detik.
Aku menangis waktu membungkus. Tanpa suara. Air mataku jatuh ke daun pisang, ke nasi, ke punggung tanganku. Aku tidak berhenti. Aku terus membungkus. Bungkus demi bungkus. Sebelas detik. Dua belas. Sebelas.
Bu Ratih membungkus di sebelahku tanpa bicara. Sesekali, ia mengusap punggungku dengan punggung tangannya yang bersih dari nasi.
Dara menatapku dari seberang meja. Lama. Sesekali, ia mengangkat pulpennya seperti mau menulis sesuatu, lalu menurunkannya lagi.
Jam lima lewat lima belas, langkah kaki terdengar di tangga.
Aku berhenti membungkus.
Ia turun. Memakai kemeja kerja biru muda, celana panjang abu-abu, sepatu kantor. Laptop di tangan kanan. Kunci mobil di tangan kiri. Rambutnya disisir rapi. Kerahnya miring.
Ia berhenti di ambang pintu dapur.
Ia menatap Ibu. Menatap Dara. Lalu menatapku.
Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Marah, mungkin. Atau diam. Atau ia berbalik dan pergi tanpa melihatku. Apa pun. Apa pun selain—
Ia tersenyum.
“Pagi, Luna.”
Senyum yang sopan. Hangat. Rapi. Bibir yang naik dengan sudut yang sama, pipi yang terangkat dengan ketinggian yang sama, mata yang tidak ikut menyipit.
Senyum yang ia berikan pada Mas Eko, office boy lantai dua puluh tiga. Pada kasir di kafe lobi. Pada pelanggan yang mengenalinya dari artikel. Pada Bu Wati, Pak Karno, Mak Inah, anak kelas sepuluh yang dipinjami payung.
Senyum yang sama untuk semua orang.
“Bu, aku ke kantor,” katanya. “Ada yang harus disiapin buat penandatanganan Selasa.”
“Hari Sabtu, Le?”
“Iya, Bu.”
Ia mencium tangan Ibu. Ia menepuk kepala Dara. Lalu ia menoleh padaku sekali lagi, mengangguk sopan, dan keluar lewat pintu samping.
Aku mendengar mesin mobilnya menyala di depan rumah. Lalu menjauh.
Aku berdiri di depan meja marmer dengan daun pisang setengah terlipat di tangan.
Delapan minggu lalu, di ambang pintu Ruang Bromo, ia memberiku senyum itu untuk pertama kalinya, dan aku pikir itu hal paling menyakitkan yang pernah terjadi padaku. Aku dinetralkan. Tiara bilang begitu. Lo nggak dibenci. Lo dinetralkan.
Aku salah. Itu bukan yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah dikembalikan ke sana. Setelah memanggilku Aluna di pantai di bawah bulan. Setelah menggenggam tanganku dengan sengaja. Setelah memelukku di lorong rumah sakit, mencium keningku di bawah pohon jambu, menciumku di peron KRL. Setelah semuanya, dikembalikan ke tempat yang sama dengan Mas Eko dan kasir kafe lobi.
Senyum yang sama untuk semua orang.
Itu bukan hukuman yang ia pilih. Aku tahu itu. Ia tidak cukup kejam untuk memilih hukuman. Itu cuma dinding yang ia bangun selama delapan tahun, dinding yang mulai ia runtuhkan selama delapan minggu, dan yang sekarang ia bangun kembali dalam satu malam, karena aku memberinya alasan.
Aku meletakkan daun pisang di meja. Aku menutup wajah dengan dua tangan.
Bu Ratih memelukku dari samping.
Dan Dara, di seberang meja, menulis sesuatu di papan klipnya. Cepat. Keras. Aku mendengar ujung pulpennya menggores kertas seperti orang yang marah.
Hari Selasa, Flie dan Sagara Capital menandatangani perjanjian pendanaan Seri C senilai tujuh puluh lima juta dolar di ruang IC lantai tiga puluh satu.
Aku tidak ada di dalam ruangan. Namaku tidak ada di dokumen. Aku duduk di mejaku di lantai yang sama, di tim Retail, menyusun analisis untuk jaringan minimarket di Jawa Tengah, dan berusaha keras untuk tidak menatap pintu ruang IC di ujung koridor.
Jam sebelas lewat dua puluh, pintu itu terbuka. Orang-orang keluar. Pak Haryo dengan batik sutra. Marcella. Jovan dengan jas, kelima kalinya. Mbak Kirana. Para partner. Para pengacara.
Dan Anggana.
Mereka berjalan ke arah lift, melewati deretan kubikel. Melewati mejaku.
Aku berdiri. Aku tidak tahu kenapa aku berdiri.
Ia melihatku.
Ia berhenti. Satu detik. Jovan, di sebelahnya, juga berhenti, dan menatapku dengan wajah yang sangat cemas.
Anggana tersenyum.
“Pagi, Luna. Apa kabar?”
Kata yang sama. Urutan yang sama. Nada yang sama. Persis seperti di ambang pintu Ruang Bromo, sembilan minggu lalu, waktu ia mengulurkan tangan dan aku menatapnya terlalu lama.
Ia tidak mengulurkan tangan kali ini.
“Baik,” kataku. Suaraku serak. “Selamat, Anggana. Seri C-nya.”
“Makasih.”
Lalu ia berjalan lagi. Ke lift. Jovan menatapku dari balik bahunya, membuka mulut seperti mau mengatakan sesuatu, lalu ditarik pelan oleh Mbak Kirana.
Pintu lift tertutup.
Di meja sebelah, Tiara berdiri. Wajahnya merah. Bukan merah malu. Merah marah.
“Itu,” katanya, dengan suara bergetar, “nggak adil.”
“Ti—”
“Lo udah ngaku ke kepatuhan. Lo udah kehilangan deal pertama lo. Lo dateng jam empat pagi hari Sabtu padahal dia nggak bales chat lo. Dan dia...” Tiara menunjuk lift. “Dia ngomong ke lo kayak ngomong ke orang asing. Pagi, Luna. Apa kabar. Kayak lo resepsionis.”
“Dia butuh waktu.”
“Dia butuh ditampar.”
“Ti.” Aku duduk kembali di kursiku. Aku menatap layar laptop yang penuh angka minimarket di Jawa Tengah. “Dia nggak salah. Aku yang salah. Delapan tahun aku nggak kasih dia tahu. Dua bulan aku bohong. Dia boleh senyum ke aku kayak ke orang asing. Itu... itu adil.”
Tiara menatapku lama. Lalu duduk di kursinya dan tidak bicara lagi sepanjang siang.
Hari Rabu, Marcella memanggilku ke ruangannya.
Ia menutup pintu. Ia tidak duduk di balik mejanya. Ia duduk di sofa kecil di sudut ruangan, sofa yang biasanya hanya dipakai untuk tamu, dan menyuruhku duduk di sebelahnya.
“Luna,” katanya. “Sagara Singapura buka posisi di tim Retail Asia Tenggara. Senior Associate.”
Aku menatapnya.
“Bukan Junior,” lanjut Marcella. “Senior Associate. Gajinya hampir dua kali lipat. Tunjangan relokasi. Apartemen dibayar kantor enam bulan pertama.” Ia menatapku dengan mata yang biasanya membaca neraca keuangan, tapi hari ini terlihat seperti mata seseorang yang membaca orang. “Surat peringatanmu tidak ikut ke sana. Di Singapura, kamu mulai dari nol.”
“Kenapa saya, Bu?”
“Karena saya yang merekomendasikan.” Marcella menyandarkan punggung ke sofa. “Dan karena Pak Haryo setuju. Katanya, orang yang melaporkan dirinya sendiri jam dua pagi pantas dapat awal baru.”
Aku diam.
“Berangkat dua minggu lagi,” kata Marcella. “Saya butuh jawaban hari Jumat.”
Malam itu, aku duduk di kasur di kamarku dengan laptop terbuka dan email dari HRD Sagara Singapura di layar.
Gaji hampir dua kali lipat. Cicilan rumah bisa lunas dua tahun lebih cepat. Obat Papa. Fisioterapi Papa. Oven kedua untuk Mama. Semua angka di kolom kanan buku catatanku yang selalu lebih panjang dari kolom kiri tiba-tiba bisa seimbang.
Dan Singapura jauh.
Satu setengah jam naik pesawat. Tidak ada KRL ke sana. Tidak ada ojek jam tiga pagi dari Depok. Tidak ada lapak dengan papan nama kayu jati, tidak ada dapur dengan meja marmer, tidak ada laki-laki yang turun tangga jam lima lewat lima belas dan tersenyum padaku dengan senyum yang sama untuk semua orang.
Aku memikirkan senyum itu.
Aku memikirkan Pagi, Luna. Apa kabar.
Kalau aku tetap di Jakarta, ia harus melihatku. Di dapur hari Sabtu. Di koridor Sagara kalau Flie datang untuk rapat dewan. Di mana pun. Dan setiap kali ia melihatku, ia harus mengingat delapan tahun. Keran yang menyala. Bohong soal semester dua. Ia harus memakai senyum itu, terus, setiap kali, karena aku ada di sana.
Kalau aku pergi, ia tidak perlu melihatku lagi. Ia bisa tenang. Ia bisa menyembuhkan diri tanpa ada aku yang mengingatkan. Ia bisa kembali ke dapur jam empat pagi tanpa harus turun tangga dengan senyum yang ia pakai seperti baju zirah.
Lebih baik aku pergi. Biar dia tenang.
Aku mulai mengetik balasan email ke HRD Sagara Singapura.
Terima kasih atas tawarannya. Saya menerima—
Jariku berhenti.
Aku menatap kalimat itu. Lebih baik aku pergi. Biar dia tenang.
Aku pernah memikirkan kalimat yang sama. Di tangga darurat, sembilan tahun lalu, dengan wajah tertutup dua tangan. Lebih baik aku menolak. Biar dia bebas.
Aku tidak menyelesaikan email itu. Tapi aku juga tidak menghapusnya. Aku menyimpannya di folder draf, dan menutup laptop, dan berbaring menatap langit-langit kamar yang catnya mengelupas di satu sudut, dan tidak tidur sampai pagi.
Kamis sore, jam enam lewat sepuluh, aku berdiri di peron Stasiun Sudirman.
Peron jalur menuju Bogor. Ujung peron, dekat tanda gerbong khusus perempuan. Tempat yang sama. Aku tidak sengaja berdiri di sini. Atau mungkin sengaja. Aku tidak tahu lagi.
Di tasku, HP dengan email draf yang belum dikirim. Di balik casing HP itu, memo kuning yang sudah lembek seperti kain.
Besok Jumat. Marcella butuh jawaban.
Aku sudah memutuskan, kurasa. Hampir. Aku akan bilang iya. Aku akan pergi ke Singapura. Aku akan mulai dari nol. Dan aku akan membiarkannya tenang.
Lalu seseorang menarik lenganku. Keras.
Aku menoleh.
Dara.
Ia berdiri di sebelahku dengan blus kantor, rambut dicepol, kacamata yang miring karena ia jelas baru berlari. Napasnya terengah-engah. Di tangannya, HP dengan layar yang masih menyala, membuka percakapan dengan seseorang bernama Tiara (Sagara).
“Kamu,” kata Dara, di antara napas yang tersengal, “mau ke Singapura.”
Aku membeku.
“Tiara cerita ke Jovan. Jovan cerita ke aku. Karena Jovan nggak tahu harus cerita ke siapa lagi, dan dia tahu aku nggak bakal cerita ke Kakak.” Dara menatapku dengan mata yang menyala di balik kacamata miring. “Kamu mau ke Singapura. Dua minggu lagi. Kamu mau jawab iya besok.”
“Dara—”
“Kenapa?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kenapa?” ulang Dara, lebih keras. Dua orang di sebelah kami menoleh.
“Karena...” Suaraku pecah. “Karena kalau aku di sini, dia harus terus liat aku. Terus inget semuanya. Dia harus senyum ke aku pakai senyum yang itu, terus-terusan. Kalau aku pergi, dia bisa tenang. Dia bisa sembuh.”
Dara menatapku. Lama.
Lalu ia tertawa. Satu kali. Pendek dan tajam, tanpa humor, seperti tawa orang yang baru mendengar kesalahan input senilai tiga miliar rupiah dijelaskan sebagai salah ketik.
“Kamu denger nggak sih yang barusan kamu omongin?”
“Apa—”
“Kalau aku pergi, dia bisa tenang.” Dara mengulang kalimatku dengan nada yang sangat persis. “Dia bisa sembuh.” Ia mendekat. “Kamu mutusin lagi. Buat dia. Tanpa nanya dia.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kamu mau ngulang?” Suara Dara bergetar sekarang. Matanya basah. “Mutusin sendiri lagi? Kayak delapan tahun lalu? Lebih baik aku nolak biar dia bebas. Sekarang lebih baik aku pergi biar dia tenang. Itu kalimat yang sama, Aluna. Itu persis kalimat yang sama.”
Kereta datang di kejauhan. Rel mulai bergetar di bawah kaki kami.
“Aku tahu semuanya sekarang,” kata Dara. “Ibu cerita ke aku Kamis malam, waktu Kakak udah naik ke kamar. Semuanya. Bapakmu bangkrut. Ruang wali kelas. SPP.” Ia menelan ludah. “Aku yang ngasih skor plus tiga ratus tiga puluh tujuh di temuan tiga belas tanpa tahu kenapa. Ternyata aku kurang ngasih.”
Air mataku jatuh.
“Dan aku tahu Kakak,” lanjut Dara. “Lebih dari siapa pun. Lebih dari Ibu, bahkan. Aku yang denger dia nangis di kamar mandi waktu umurku lima belas.” Ia mengusap matanya dengan kasar. “Kakak nggak pergi, Aluna. Kakak cuma lagi belajar marah. Seumur hidupnya dia nggak pernah marah sama siapa pun. Bahkan sama Reza yang ngehina nasi uduk Ibu. Bahkan sama orang yang bikin dia nangis delapan tahun lalu. Ini pertama kalinya dia marah. Dan dia nggak tahu caranya. Makanya dia senyum pakai senyum yang itu. Karena cuma itu yang dia tahu.”
Kereta melambat. Desis rem. Angin dari gerbong-gerbong menerpa wajah kami.
“Kamu mau ninggalin dia di tengah pelajaran pertamanya?” bisik Dara. “Kamu mau dia belajar marah, terus waktu dia selesai marah dan siap ngomong, kamu udah di Singapura? Kamu mau dia dapet email dari kamu yang bilang aku pergi biar kamu tenang?”
Pintu-pintu gerbong mendesis terbuka. Orang-orang mulai berdesakan.
Aku tidak bergerak.
“Kamu nulis di email ke kepatuhan,” kata Dara. “Tiara cerita. Saya pernah memutuskan sesuatu untuk orang lain tanpa memberitahunya, dan saya menyesalinya selama delapan tahun. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kepada siapa pun.” Dara menatapku lurus. “Kepada siapa pun. Termasuk Kakak. Terutama Kakak.”
Aku menutup mulut dengan dua tangan.
“Kalau kamu mau ke Singapura,” kata Dara, suaranya akhirnya melunak, “bilang ke dia. Di depan mukanya. Bukan email. Bukan chat. Bukan lewat aku atau Ibu atau Tiara. Kamu bilang ke dia, aku dapet tawaran ke Singapura, dan kamu biarin dia yang ngomong apa yang dia mau. Biar dia yang milih kali ini. Biar dia punya kesempatan yang nggak pernah kamu kasih delapan tahun lalu.”
Pintu-pintu gerbong mendesis. Mulai menutup.
Aku tidak naik.
Kereta bergerak. Menjauh. Lampu merah di gerbong terakhir menghilang di ujung peron.
Aku berdiri di peron yang mulai kosong, di sebelah Dara, dengan air mata di wajah dan memo kuning di balik casing HP di tasku.
“Kamu di pihak siapa?” tanyaku pelan.
Dara mendengus. Ia membetulkan kacamatanya yang miring.
“Aku di pihak Kakak,” katanya. “Selalu. Dari umur tiga belas. Dari topi kerucut yang kurang dua senti.” Ia menatap rel yang kosong. “Dan Kakak, ternyata, di pihak kamu. Dari dulu. Dari hari nasi uduk. Dia nggak pernah pindah. Dia cuma lupa caranya nunjukin.”
Ia menghela napas panjang, sangat panjang, seperti auditor yang baru menyelesaikan laporan paling menyebalkan dalam kariernya.
“Jadi ya,” katanya. “Secara logika, aku di pihak kamu juga. Aku benci logika ini. Tapi angkanya cocok.”
Di belakang kami, seseorang bertepuk tangan.
Aku menoleh. Seorang ibu-ibu berkerudung cokelat dengan kantong belanja berisi cabai berdiri di dekat tangga peron, menatap kami dengan mata berbinar.
“Betul itu, Mbak!” katanya ke Dara. “Betul! Laki-laki yang lari sampai peron itu jangan ditinggal ke Singapura!”
Dara menatap ibu itu. Lalu menatapku.
“Siapa itu?”
“Penggemar,” kataku, dan tertawa di tengah tangis.
Malam itu, jam sembilan lewat dua puluh, aku menelepon Marcella.
“Bu,” kataku. “Soal Singapura.”
“Iya, Luna.”
“Saya belum bisa jawab besok.” Aku menarik napas. “Saya harus ngomong ke seseorang dulu. Di depan mukanya. Biar dia yang ngomong apa yang dia mau.”
Hening di ujung telepon.
Lalu Marcella Tan, yang menurut gosip kantor tidak pernah menangis sejak 2009, menghela napas yang terdengar sedikit basah.
“Saya kasih waktu sampai Senin,” katanya. “Dan Luna.”
“Iya, Bu.”
“Semoga dia bilang yang benar.”
Ia menutup telepon.
Aku membuka folder draf di email. Kalimat yang belum selesai masih di sana. Terima kasih atas tawarannya. Saya menerima—
Aku tidak menghapusnya. Belum.
Tapi aku juga tidak akan mengirimnya. Tidak sebelum aku berdiri di depan laki-laki yang delapan tahun lalu berdiri di depanku di bawah pohon ketapang, dan memberinya kesempatan yang tidak pernah kuberikan.
Kesempatan untuk memilih.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang reading
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis