Chapter Six
Kerah yang Miring
POV: Anggana
Pagi itu Ibu dapat pesanan dua ratus tiga puluh bungkus.
Seratus delapan puluh untuk arisan ibu-ibu PKK kelurahan, sisanya pelanggan biasa. Kami mulai jam tiga, bukan jam tiga lewat empat puluh. Dara ikut bangun, membungkus dengan mata setengah tertutup dan rambut dikuncir asal, sesekali tertidur sambil memegang daun pisang lalu terbangun karena kepalanya terantuk meja.
“Kamu tidur aja,” kataku untuk ketiga kalinya.
“Nggak,” katanya untuk ketiga kalinya, lalu terantuk meja lagi.
Masalahnya, hari itu juga hari seleksi Lomba Inovasi Pelajar tingkat kota. Juri dari Dinas Pendidikan datang ke sekolah jam tujuh tepat untuk menilai tiga tim terbaik SMA Pelita Nusantara, dan satu di antaranya adalah tim kami.
Proyeknya lanjutan dari Pekan Sains kelas sepuluh. Setelah alat penjernih air kami dapat nilai tertinggi, Pak Hardi memanggilku ke ruang guru dan bertanya apakah data air sumur itu bisa dikembangkan. Aku bilang bisa. Aku bilang aku bisa membuat aplikasi sederhana supaya warga bisa melaporkan kondisi air sumur mereka sendiri, warnanya, baunya, rasanya, lalu datanya terkumpul di peta dan bisa dipakai kelurahan untuk tahu RW mana yang paling butuh bantuan.
Pak Hardi menatapku lama, lalu bertanya, “Kamu bisa bikin aplikasi?”
“Lagi belajar, Pak.”
Itu delapan bulan lalu. Sekarang aplikasi itu bernama AirKita, sudah dipakai empat puluh tiga rumah di RW tempatku tinggal, dan Aluna yang menyusun semua analisis datanya dengan ketelitian petugas sensus yang sama seperti waktu ia menghitung empat puluh tujuh orang yang kutolong.
Jam enam lewat dua puluh, bungkus terakhir selesai. Aku mandi dalam waktu tiga menit, memakai seragam sambil berlari dari kamar mandi ke kamar, menyambar dasi, menyambar tas, mencium tangan Ibu di depan gerobak.
“Le, kerahmu—”
“Nanti, Bu!”
Aku mengayuh sepeda kumbang Bapak lebih cepat dari yang pernah kulakukan seumur hidup. Rantainya berbunyi protes di setiap tanjakan.
Aku sampai di depan aula jam enam lewat lima puluh tiga, dengan napas tersengal, keringat di pelipis, dan tas yang talinya melorot di satu bahu.
Aluna sudah di sana.
Ia berdiri di dekat pintu aula, memeluk map biru berisi cetakan analisis data. Hari itu ia memakai seragam lengkap dengan blazer almamater sekolah, blazer biru tua yang biasanya cuma dipakai di upacara besar, dan rambutnya disanggul rendah di tengkuk dengan beberapa helai pendek yang lepas di dekat pelipis. Tanpa rambut panjang yang biasanya jatuh di punggung, wajahnya terlihat lebih dewasa. Tulang pipinya lebih jelas. Lehernya yang jenjang terlihat seluruhnya, dari bawah telinga sampai kerah blazer. Ia memakai lip balm berwarna, atau mungkin bibirnya memang semerah itu karena menunggu di udara pagi yang dingin.
Ia melihatku datang. Matanya membesar.
“Anggana. Ya ampun.”
“Belum telat, kan?”
“Tujuh menit lagi. Tapi kamu...” Ia menatapku dari atas ke bawah. “Kamu habis lari dari mana?”
“Dua ratus tiga puluh bungkus.”
“Hah?”
“Arisan PKK.”
Ia diam sebentar. Lalu ia meletakkan map birunya di kursi plastik di sebelah pintu dan melangkah mendekat.
“Diem,” katanya.
“Kenapa?”
“Diem aja.”
Ia mengangkat kedua tangannya ke leherku.
Aku berhenti bernapas.
Jari-jarinya menyentuh kerah kemejaku, yang ternyata terlipat ke dalam di satu sisi dan mencuat ke atas di sisi lain seperti sayap burung yang patah. Ia melipatnya keluar, merapikannya, menekan lipatannya dengan ibu jari supaya rata. Lalu ia menarik ujung dasiku yang miring ke kiri, melonggarkannya sedikit, mengencangkannya lagi, dan memposisikan simpulnya tepat di tengah.
Jarak wajahnya dengan wajahku tidak lebih dari tiga puluh senti.
Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat hal-hal yang tidak pernah bisa kulihat dari bangku depan atau dari seberang api unggun. Bulu matanya yang menunduk, lentik dan panjang, membentuk bayangan tipis di kulit di bawah matanya. Bintik keemasan di iris kirinya yang sudah kuketahui sejak kelas sepuluh. Garis halus di antara alisnya yang muncul kalau ia sedang berkonsentrasi. Tahi lalat kecil di bawah mata kanan, yang dari dekat ternyata bukan bulat sempurna tapi sedikit lonjong, seperti tetesan.
Wangi melati dan sabun bayi dari rambutnya.
Ujung jarinya yang dingin menyentuh kulit leherku sekali, tidak sengaja, waktu ia merapikan bagian belakang kerah, dan seluruh tubuhku seperti tersengat listrik dari stopkontak konter yang kabelnya terkelupas.
“Kerahmu miring,” katanya pelan, masih menunduk, masih merapikan. “Kamu ngapain sih tiap pagi?”
“Bungkus dua ratus nasi uduk,” kataku. Suaraku keluar aneh. “Tadi dua ratus tiga puluh.”
Tangannya berhenti.
Ia mengangkat wajah. Matanya bertemu mataku, dekat sekali, dan untuk sesaat, ekspresinya tidak bisa kubaca. Ada sesuatu yang bergerak di belakang matanya. Sesuatu yang lembut dan sedikit sakit, seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang selama ini ada di depan matanya tapi tidak pernah ia hitung.
“Setiap pagi?” tanyanya.
“Hampir setiap pagi.”
“Terus kamu lari ke sini, terus sekolah, terus kerja di konter, terus...” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menatapku. Lalu ia menunduk lagi dan menepuk-nepuk kerahku pelan, dua kali, seperti orang menepuk bantal yang baru dirapikan. “Ya udah. Mulai besok aku cek kerahmu.”
“Hah?”
“Setiap pagi. Di gerbang. Sebelum masuk kelas.” Ia mengambil map birunya lagi dan memeluknya di dada, dan aku melihat pipinya memerah, warna merah muda yang merambat dari tulang pipi sampai ke telinga. “Biar kamu nggak masuk kelas kayak orang habis dikejar anjing.”
“Kamu nggak harus—”
“Ini bukan nolong. Ini pengawasan mutu.” Ia mendongak dengan dagu terangkat. “Kamu wakil sekolah di lomba. Penampilanmu tanggung jawab tim.”
Pintu aula terbuka. Pak Hardi melongok keluar. “Kelompok AirKita? Masuk.”
Aluna berjalan masuk lebih dulu. Aku mengikutinya. Tanganku naik sendiri ke kerahku, menyentuh lipatan yang sekarang rata, dan aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu dua tambah dua, bahwa hari ini aku tidak akan bisa berkonsentrasi pada apa pun.
Aku salah. Aku bisa berkonsentrasi. Karena begitu aku berdiri di depan juri dan membuka laptop, bagian lain dari otakku menyala. Bagian yang tenang, yang selalu muncul kalau ada sesuatu yang rusak dan harus diperbaiki.
Ada tiga juri. Dua bapak-bapak dari Dinas Pendidikan dan satu ibu-ibu dosen teknik lingkungan dari universitas negeri, yang belakangan kutahu bernama Bu Prasetyo. Ia yang paling diam selama presentasi, dan ia yang paling banyak mencatat.
Aluna menjelaskan latar belakang dan data. Ia melakukannya dengan sempurna. Suaranya jernih, tempo bicaranya tepat, dan cara ia menunjuk grafik membuat dua bapak dari dinas mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Lalu aku mendemonstrasikan aplikasinya: cara warga melapor, cara data masuk ke peta, cara kelurahan bisa melihat RW mana yang airnya paling bermasalah.
Setelah kami selesai, Bu Prasetyo mengangkat pulpennya.
“Empat puluh tiga rumah,” katanya. “Dari berapa rumah di RW itu?”
“Dua ratus delapan belas, Bu,” jawab Aluna.
“Jadi datanya cuma dua puluh persen. Dan yang melapor adalah warga yang mau melapor, yaitu warga yang punya HP pintar dan peduli. Rumah yang airnya paling parah, kemungkinan besar justru rumah yang tidak punya HP dan tidak sempat peduli.” Ia menatap kami berdua. “Bagaimana kalian tahu peta kalian tidak bohong?”
Aula mendadak hening. Aluna membuka mulut, lalu menutupnya. Ia melirik map birunya, dan aku tahu, dari caranya menggigit sudut bibir, bahwa jawaban untuk pertanyaan itu tidak ada di sana.
Pertanyaan itu bagus. Pertanyaan itu sangat bagus. Dan aku sudah memikirkannya berbulan-bulan, di konter jam sepuluh malam, waktu menunggu HP pelanggan selesai di-flash.
“Ibu benar,” kataku. “Peta yang cuma dari laporan sukarela pasti bias. Makanya kami tidak cuma mengandalkan laporan.”
Aku membuka tab lain di laptop.
“Di setiap gang, kami pilih satu rumah acuan secara acak. Rumah ini kami datangi langsung, sebulan sekali, dan airnya kami ukur pakai alat yang sama dengan waktu Pekan Sains. Jadi ada dua lapis data. Laporan warga, dan pengukuran langsung. Kalau laporan warga di satu gang sangat berbeda dari rumah acuannya, sistem kasih tanda. Artinya di gang itu ada yang tidak terlapor, atau ada yang salah lapor.”
Aku menunjuk satu titik di peta yang diberi warna kuning berkedip.
“Gang tujuh. Laporan warganya bagus semua. Tapi rumah acuannya, rumah Pakde Sarno, airnya paling keruh se-RW. Waktu kami datangi, ternyata tiga rumah di gang itu tidak pernah melapor karena yang tinggal di sana lansia semua, tidak punya HP pintar. Jadi bulan lalu, kami yang datang dan melaporkan untuk mereka. Sekarang gang tujuh masuk daftar prioritas kelurahan untuk bantuan sumur bor.”
Bu Prasetyo diam. Ia menatap peta di layar, lalu menatapku, lalu menulis sesuatu di kertasnya. Lama.
“Siapa yang mendatangi rumah-rumah lansia itu?” tanyanya.
“Kami berdua, Bu,” kata Aluna sebelum aku sempat menjawab. Suaranya kembali jernih. “Hari Minggu. Sambil bawa nasi uduk.”
Salah satu bapak dari dinas tertawa. Bu Prasetyo tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak.
“Terima kasih,” katanya. “Itu jawaban yang saya cari.”
Tim AirKita lolos ke tingkat kota.
Pengumumannya ditempel siang itu juga di papan lobi, dan Ucup merayakannya dengan berlari keliling lapangan basket satu putaran sambil berteriak JURAGAN KONTRAKAN PERCAYA PADA KALIAN, yang tidak ada hubungannya dengan apa pun, tapi semua orang bertepuk tangan.
Sisil memeluk Aluna. Aluna tertawa, tawa yang membuat kepalanya miring ke kiri. Lalu ia menatapku dari balik bahu Sisil, dan tawanya berubah jadi senyum yang lebih tenang, senyum yang seolah bilang kita berhasil hanya kepadaku.
Besok paginya, jam enam lewat empat puluh lima, aku menuntun sepeda masuk gerbang sekolah.
Aluna sudah berdiri di dekat pos satpam.
“Pagi.”
“Pagi.”
“Sini.”
Aku mendekat. Ia mengangkat tangannya ke kerahku, melipat bagian yang terlipat ke dalam, meratakan bagian yang mencuat. Kali ini lebih cepat. Lebih percaya diri. Seperti orang yang sudah memutuskan bahwa ini adalah bagian dari harinya.
“Hari ini berapa?” tanyanya sambil merapikan.
“Dua ratus sepuluh.”
“Lumayan.” Ia menepuk kerahku dua kali. “Udah. Masuk.”
Lusanya, sama. Dan lusanya lagi. Dan seminggu kemudian.
Pak Karno satpam mulai menyapa kami dengan “Pagi, Mas, Mbak, kerahnya udah lurus?” dan tertawa sendiri seperti baru membuat lelucon terbaik tahun itu. Mak Inah dari kantin, yang datang lebih pagi untuk menyiapkan gorengan, menonton dari balik etalase dengan senyum seperti nenek melihat cucunya.
Ritual itu terjadi setiap pagi, dan dalam dua minggu, semua orang di sekolah tahu.
“Gue juga mau,” kata Ucup suatu pagi.
Ia berdiri di sebelahku di gerbang, kerah kemejanya sengaja ditekuk ke dalam dengan gaya yang jelas dibuat-buat.
Aluna menatap kerah Ucup. Lalu menatap Ucup. Lalu, dengan satu gerakan kasar seperti tukang jahit yang sedang buru-buru, ia menarik kerah itu keluar dan menekannya dengan telapak tangan.
“Udah.”
“Kok beda? Ke Angga pelan-pelan, ke gue kayak nyabut rumput.”
“Kerahmu sengaja ditekuk. Itu bukan miring. Itu penipuan.”
Ucup memegang dadanya seperti orang ditembak. Pak Karno tertawa sampai topinya jatuh.
Gosip, tentu saja, menyebar.
Di kelas, di kantin, di koridor. Bahwa Aluna Prameswari Hadinata, gadis paling cantik di angkatan, yang menolak dua kakak kelas di minggu pertama MOS dan satu anak kelas dua belas bulan lalu yang membawakan buket mawar ke kelas, setiap pagi merapikan kerah anak penjual nasi uduk di gerbang sekolah.
“Kalian pacaran, ya?” tanya Gilang suatu siang, terang-terangan, di tengah kelas yang sedang menunggu guru Sejarah datang.
Beberapa anak menoleh. Di belakangku, aku mendengar pulpen Aluna berhenti bergerak.
“Nggak,” kataku. “Kami teman.”
Aku mengatakannya karena itu benar. Karena aku tidak mau ada yang berpikir buruk tentang Aluna. Karena aku tahu, lebih baik dari siapa pun di kelas itu, bahwa gadis seperti Aluna tidak akan pernah pacaran dengan anak seperti aku, dan aku tidak mau ia harus menjelaskan itu kepada siapa pun.
Di belakangku, pulpen Aluna mulai bergerak lagi. Pelan. Lalu lebih cepat.
Aku tidak menoleh. Jadi aku tidak melihat wajahnya waktu itu. Bertahun-tahun kemudian, aku masih kadang bertanya-tanya apa yang akan kulihat kalau saat itu aku menoleh.
Hari Rabu di minggu ketiga, hujan turun sejak subuh.
Aku sampai di gerbang jam enam lewat empat puluh lima dengan jas hujan plastik yang robek di bagian ketiak. Aku memarkir sepeda, melepas jas hujan, dan berdiri di dekat pos satpam.
Aluna tidak ada.
Aku menunggu. Jam enam lewat lima puluh. Enam lewat lima puluh lima. Anak-anak berlarian masuk dengan payung warna-warni. Pak Karno melirikku dari pos dengan wajah bertanya.
“Mbaknya belum dateng, Mas?”
“Belum, Pak.”
Bel berbunyi jam tujuh. Aluna tetap tidak ada.
Aku berjalan ke kelas, dan di tengah tangga, di depan jendela kaca besar yang memantulkan bayanganku samar-samar karena langit di luar gelap, aku berhenti.
Kerahku miring. Tentu saja miring. Satu sisi terlipat ke dalam, sisi lainnya mencuat basah karena air hujan yang merembes dari jas hujan robek.
Aku mencoba merapikannya sendiri, menatap bayanganku di kaca. Aku melipatnya keluar. Aku menekannya. Aku mencoba meniru cara Aluna menepuknya dua kali.
Hasilnya tetap miring. Lebih miring dari sebelumnya, malah, karena aku melipatnya ke arah yang salah.
“Miring, Bro,” kata Ucup, yang muncul di sebelahku dengan rambut basah kuyup. “Lebih miring dari Menara Pisa.”
“Aku tahu.”
“Lo tuh selama ini nggak bisa benerin kerah sendiri, ya?”
Aku menatap bayanganku di kaca. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mencoba. Selama enam belas tahun aku tidak pernah peduli kerahku miring atau tidak. Ibu mengingatkan, aku bilang nanti, dan nanti itu tidak pernah datang.
Lalu Aluna datang, dan nanti jadi tidak perlu lagi.
Di kelas, bangku di belakangku kosong. Sisil bilang Aluna demam sejak semalam.
Jam istirahat pertama, HP-ku bergetar di saku.
Aluna: Aku sakit. Jangan khawatir, cuma demam biasa.
Lalu, satu menit kemudian:
Aluna: Kerahmu pasti miring hari ini.
Aku menatap layar itu lama. Lalu tertawa, sendirian, cukup keras sampai Ucup mengangkat kepala dari mejanya dan Sisil menoleh dari bangku belakang dengan alis terangkat.
Anggana: Lebih miring dari Menara Pisa, kata Ucup.
Aluna: Udah kuduga. Besok aku masuk. Jangan dibenerin sendiri, nanti tambah parah.
Anggana: Udah terlanjur.
Aluna: ANGGANA.
Aluna: Pokoknya besok. Gerbang. Jam enam empat puluh lima. Jangan telat.
Anggana: Siap.
Aluna: Dan makan cadangannya. Aku nggak masuk, jadi nggak ada yang butuh nasi uduk darurat.
Aku berhenti mengetik.
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap tasku, di mana dua bungkus nasi uduk tergeletak di dasar seperti setiap hari.
Ia tahu.
Selama ini, entah sejak kapan, ia tahu bahwa bungkus kedua itu bukan cadangan.
Aku tidak membalas pesan itu. Aku tidak tahu harus membalas apa. Jadi aku membuka bungkus kedua, memakannya pelan-pelan di bangku dekat jendela sambil menatap hujan, dan untuk pertama kalinya sejak kelas sepuluh, nasi uduk Ibu terasa sedikit terlalu asin.
Mungkin karena aku tahu besok pagi, di gerbang, ada seseorang yang akan merapikan kerahku. Dan aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya hidup tanpa itu.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring reading
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis