← Dulu Kamu Bilang Tidak

Chapter Thirty

Yang Kukenal

POV: Anggana

Pak Hendra dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa hari Kamis. Dokter bilang pemulihannya baik, lebih baik dari stroke pertama, karena kali ini ia dibawa dalam waktu emas.

Aku tahu artinya. Dua puluh lima menit. Aku menghitungnya, dan aku tahu bahwa kalau kami menunggu ambulans, kalau kami menunggu empat puluh menit, ceritanya mungkin berbeda.

Aku tidak memikirkan itu terlalu lama. Memikirkan hal-hal yang hampir terjadi tidak ada gunanya. Yang penting, Pak Hendra sadar, bisa menggerakkan tangan kanannya, dan sudah mulai mengomel soal makanan rumah sakit yang katanya hambar kayak... kertas.

Aku membawa nasi uduk Ibu ke rumah sakit hari Kamis sore. Pak Hendra memakannya dengan tangan kanan yang gemetar, pelan, sambil menatap jendela, dan di tengah suapan ketiga ia berhenti dan berkata, pelan, kepada Tante Melinda:

“Bu... kalau... Om... mati...”

“Pa, jangan ngomong gitu.”

“Dengerin.” Ia menelan. “Kalau Om mati... makamnya... deket... warung... nasi uduk.”

Tante Melinda memukul lengannya pelan. Aluna, di sudut ruangan, tertawa dan menangis bersamaan. Aku pura-pura sibuk membuka bungkusan sambal.


Jumat adalah hari Investment Committee final.

Aku tidak tidur Kamis malam. Bukan karena IC. Karena aku menghabiskan malam di meja marmer dapur dengan laptop terbuka, dan di layar itu, di tab browser yang sudah kubuka dan kututup tiga kali, ada kotak pencarian kosong.

Jempolku menggantung.

PT Hadinata Graha pailit.

Pak Hendra bilang tanya dia. Ucup bilang tanya dia. Tapi Aluna bilang nanti, setelah IC, dan papanya baru keluar dari ICU, dan aku tidak mau mencuri jawaban yang sudah ia janjikan akan ia berikan.

Aku menutup laptop.

Besok IC. Lusa, akhir pekan, aku akan menemuinya. Bukan di dapur jam empat pagi dengan Dara mengawasi. Bukan di kantor dengan Jovan mengintip. Berdua. Dan aku akan bertanya. Dan ia akan menjawab. Dan apa pun jawabannya, aku akan memikulnya, karena aku sudah lelah tidak tahu.

Aku naik ke kamar jam dua pagi. Di tangga, aku berpapasan dengan Dara yang baru pulang kerja.

“Kakak belum tidur.”

“Bentar lagi.”

Dara menatapku. Lalu, tanpa diminta, ia berkata, “Papanya Luna udah mendingan. Aku tadi mampir ke RS pulang kerja. Bawain kue dari Ibu.”

“Kamu mampir?”

“Kebetulan lewat.”

Rumah sakit di Margonda tidak lewat dari mana pun menuju rumah kami. Aku tidak bilang apa-apa.

“Kak,” kata Dara di anak tangga ketiga. Ia berhenti. “Besok IC-nya beres, kan? Terus Flie dapet dana. Terus semuanya kelar.”

“Mudah-mudahan.”

“Terus habis itu...” Dara memainkan tali tasnya. “Habis itu Kakak sama Luna gimana?”

Aku menatap adikku.

“Kamu nanya kayak gitu,” kataku pelan. “Dua bulan lalu skornya minus sembilan ratus sembilan puluh sembilan.”

“Sekarang minus lima ratus.”

“Masih minus.”

“Iya.” Dara menatap tangga di atasnya. “Tapi aku lagi mikir mau revisi rumusnya. Mungkin ada variabel yang aku salah bobotin dari awal.”

Lalu ia naik, cepat, sebelum aku sempat bertanya variabel apa.


Investment Committee final dimulai Jumat jam dua siang di ruang IC Sagara, lantai tiga puluh satu.

Di kepala meja, Pak Haryo Wiradharma dengan batik sutra cokelat. Di kiri kanannya, para partner. Dan di salah satu kursi, dengan setelan biru navy yang terlalu rapi dan jam tangan yang terlalu mahal, Mr. Adrian Koh dari Halcyon Partners.

Dari Flie: aku, Jovan, Mbak Kirana.

Marcella memimpin dari pihak Sagara. Aluna duduk di sampingnya dengan tablet. Ia terlihat lelah, matanya masih ada lingkaran gelap dari malam-malam di rumah sakit, tapi ia duduk tegak, dan ketika ia menatapku di seberang meja, ia tersenyum. Kecil. Hanya untukku.

Aku membalasnya. Juga kecil. Juga hanya untuknya.

Jovan, di sebelahku, melihat pertukaran senyum itu dan menendang kakiku di bawah meja.

Presentasi berjalan lancar. Model keuangan yang sudah diperbaiki. Term sheet yang sudah dinegosiasikan: 1,5x non-participating, weighted average, harga per lembar yang sudah dibetulkan. Angka-angka menunjukkan hijau. Para partner mengangguk.

Lalu sampai pada pasal-pasal terakhir.

“Pasal empat belas tiga,” kata Mbak Kirana, membuka halaman sebelas. “Drag-along rights. Kami sudah membaca Lampiran C.”

Ruangan diam.

“Definisi pembeli strategis yang memenuhi syarat di Lampiran C,” lanjut Mbak Kirana, suaranya tenang dan tajam, “sangat spesifik. Perusahaan teknologi perjalanan, pendapatan di atas lima ratus juta dolar, beroperasi di lima negara Asia Tenggara. Setahu kami, di Asia Tenggara, hanya ada satu perusahaan yang cocok dengan definisi ini.”

Mr. Adrian Koh tersenyum. “Pasar bergerak, Mbak Kirana. Tahun depan mungkin ada lima.”

“Tahun depan. Tapi hari ini, satu. Trivio.” Mbak Kirana menatapnya. “Pasal ini, dikombinasikan dengan komposisi pemegang saham setelah Seri C, secara teknis memungkinkan mayoritas investor memaksa penjualan Flie ke Trivio tanpa persetujuan pendiri. Kami tidak bisa menerima pasal ini.”

“Pasal drag-along itu standar—”

“Drag-along standar tidak mendefinisikan pembeli secara spesifik untuk satu perusahaan,” potong Mbak Kirana. “Ini bukan drag-along. Ini pintu belakang.”

Hening.

Aku menatap Mr. Koh. Lalu Pak Haryo. Lalu Marcella, yang menatap term sheet di depannya dengan wajah datar, tapi dengan rahang yang sedikit mengeras.

Lalu aku menatap Aluna.

Ia menunduk ke tabletnya. Tapi tangannya, yang memegang stylus, mengetuk-ngetuk layar pelan. Gelisah. Dan ketika ia mengangkat kepala sebentar, matanya bertemu mataku, dan ada sesuatu di sana. Peringatan. Atau permohonan. Atau keduanya.

Ia tahu sesuatu. Aku bisa membacanya. Seperti membaca log server yang terlihat normal tapi terasa salah.

“Pak Haryo,” kataku pelan.

Semua kepala menoleh.

“Flie dibangun untuk orang yang belum pernah naik pesawat,” kataku. “Untuk ibu saya, yang jualan nasi uduk delapan belas tahun dan belum pernah lihat awan dari atas. Untuk Mama Rosa di Labuan Bajo, yang mengangkat HP ke udara di ujung dermaga setiap sore. Untuk Bu Karsinah di Desa Penglipuran.” Aku menatap Mr. Koh. “Kalau Flie dijual ke Trivio, mereka semua jadi satu baris di database berisi puluhan juta baris. Saya nggak bisa tanda tangan pasal yang membuat itu mungkin terjadi tanpa persetujuan saya. Lebih baik nggak ada dana Seri C.”

“Pak Anggana,” kata Mr. Koh, masih tersenyum, “dengan segala hormat, itu keputusan emosional. Bisnis—”

“Ini bukan emosional, Pak Koh.” Aku membuka laptop. “Ini data.”

Aku memutar laptop. Di layar, grafik.

“Ini pertumbuhan Flie di kota-kota kabupaten dalam tiga tahun terakhir. Daerah yang Trivio nggak masuk karena mereka pikir nggak menguntungkan. Daerah yang jadi tiga puluh persen pendapatan kami, dan tumbuh dua kali lebih cepat dari kota besar.” Aku menunjuk grafik. “Nilai Flie bukan di kota besar, di mana kami bersaing langsung dengan Trivio dan bakar uang. Nilai Flie di tempat yang Trivio anggap nggak ada. Kalau Flie digabung ke Trivio, tiga puluh persen ini mati, karena Trivio nggak punya tim lapangan yang tahu nama anak pemilik losmen. Pasal empat belas tiga bukan cuma ancaman buat pendiri. Itu ancaman buat nilai investasi Sagara sendiri.”

Hening panjang.

Pak Haryo menatap grafik di layar. Lama. Lalu ia menatap Mr. Koh.

“Adrian,” katanya pelan. “Pasal ini permintaanmu.”

“Permintaan Halcyon, Pak Haryo. Demi fleksibilitas keluar.”

“Fleksibilitas keluar, atau fleksibilitas menggabungkan portofolio Trivio?” Pak Haryo tidak menaikkan suaranya. Ia tidak perlu. “Halcyon punya saham di Trivio, kan?”

Mr. Koh diam sebentar.

“Itu bukan rahasia,” katanya akhirnya. “Halcyon punya portofolio yang luas.”

“Dan portofolio yang luas,” kata Pak Haryo, “kadang punya konflik kepentingan yang luas juga.”


Mereka memintaku dan tim Flie keluar dari ruangan untuk diskusi internal Sagara.

Kami menunggu di ruang tunggu lantai tiga puluh satu. Jovan mondar-mandir seperti calon ayah di depan ruang bersalin. Mbak Kirana duduk tenang, membaca ulang term sheet untuk kesekian kali. Aku duduk di dekat jendela, menatap Bundaran HI di bawah.

Dua puluh menit kemudian, pintu ruang IC terbuka. Bukan Marcella yang keluar. Aluna.

Ia berjalan cepat ke arahku, melewati Jovan yang berhenti mondar-mandir, dan berhenti di depanku. Wajahnya tegang.

“Keluar sebentar,” katanya pelan. “Aku perlu ngomong.”


Kami berdiri di dekat jendela di ujung lorong, jauh dari ruang tunggu. Di bawah, Jakarta siang hari. Aluna menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar.

“Pasal empat belas tiga ditarik,” katanya. “Pak Haryo marah ke Mr. Koh. Halcyon mundur dari pasal itu. Deal-nya jalan, tanpa pasal itu.”

Aku menghela napas lega. “Bagus.”

“Bukan itu yang mau aku omongin.” Ia menggigit bibir. “Anggana, aku... aku harus kasih tahu kamu sesuatu. Tapi ini bisa bikin aku dipecat.”

Aku menatapnya.

“Pasal empat belas tiga ditarik,” katanya. “Tapi Mr. Koh nggak akan berhenti. Aku lihat caranya tadi. Dia bukan orang yang nyerah karena satu pasal ditolak.” Ia menurunkan suaranya lebih dalam. “Tiga minggu lalu, waktu aku lagi nyiapin dokumen due diligence, aku nggak sengaja lihat email yang kecc ke Marcella dari tim Halcyon. Ada lampiran. Aku cuma lihat sekilas, tapi judulnya Trivio - Flie Integration Scenario. Analisis gimana Flie bisa digabung ke Trivio. Udah dibikin. Sebelum term sheet ditandatangani.”

Aku membeku.

“Mereka udah rencanain dari awal,” katanya. “Pasal empat belas tiga cuma salah satu cara. Kalau itu gagal, mereka bakal cari cara lain. Lewat pendanaan berikutnya. Lewat kursi dewan. Lewat apa pun.” Ia menatapku. “Aku nggak tahu detailnya. Aku cuma lihat sekilas. Tapi aku nggak bisa diam. Kamu harus hati-hati. Flie harus hati-hati.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa kamu kasih tahu aku?” tanyaku pelan. “Ini bisa bikin kamu dipecat. Ini informasi internal Sagara.”

Aluna menatapku. Matanya basah, tapi tidak jatuh.

“Karena aku pernah mutusin sesuatu buat kamu tanpa ngasih tahu kamu,” katanya. “Delapan tahun lalu. Dan itu salah. Aku nggak akan ngulang. Bahkan kalau itu bikin aku kehilangan kerjaan pertamaku yang bener-bener aku perjuangin.”

Aku tidak mengerti seluruh arti kalimat itu. Belum. Aku pernah mutusin sesuatu buat kamu tanpa ngasih tahu kamu. Aku menyimpannya. Seperti menyimpan baris log yang terasa salah.

“Aluna—”

Lalu HP-ku berbunyi.

Bukan pesan. Telepon. Dari Rizky, engineer senior yang memimpin tim infrastruktur.

Rizky tidak pernah menelepon. Rizky orang yang mengirim pesan bahkan untuk hal darurat, karena katanya menelepon membuang waktu yang bisa dipakai untuk mengetik perintah.

Aku mengangkatnya.

“Pak Angga.” Suaranya cepat, tegang. “Maaf ganggu. Kita diserang.”

Aku berdiri lebih tegak. “Serangan apa?”

“Credential stuffing. Masif. Ribuan IP dari banyak negara, nyoba login ke akun pengguna pakai kombinasi email-password bocoran. Sejak dua jam lalu, naik terus. Sekarang udah dua belas juta percobaan. Sistem masih bertahan, tapi ini bukan serangan iseng, Pak. Ini terorganisir. Terukur. Kayak ada yang mau nunjukin kalau sistem kita bisa ditekan.”

Aku menatap Aluna. Wajahnya berubah waktu melihat wajahku.

“Udah aktifkan protokol?” tanyaku.

“Udah. Tapi, Pak...” Rizky ragu. “Ada yang aneh. Pola IP-nya. Sebagian besar lewat satu penyedia infrastruktur awan yang sama. Dan penyedia itu...”

“Kenapa?”

“Aku cek registrasinya. Penyedia itu sama dengan yang dipakai Trivio buat sebagian layanannya.”

Hening.

Di ujung lorong, jendela besar menampilkan Jakarta siang yang terang. Di bawah, Bundaran HI berputar pelan dengan mobil-mobil yang tidak tahu apa-apa.

“Aku ke kantor sekarang,” kataku. “Kumpulin tim di war room. Jangan sentuh log-nya. Simpan semua. Setiap IP, setiap timestamp, setiap percobaan. Ini bukan cuma serangan. Ini bukti.”

Aku menutup telepon.

Aluna menatapku. “Apa yang terjadi?”

“Flie diserang,” kataku. “Dan jejaknya ngarah ke infrastruktur yang sama dengan Trivio.”

Wajahnya memucat.

“Mereka udah mulai,” bisiknya. “Cara lain.”

Aku memasukkan HP ke saku. Otakku sudah menyala. Bagian yang tenang, yang muncul setiap kali ada sesuatu yang rusak dan harus diperbaiki, yang muncul di konter jam satu pagi, di ruang server SMA, di war room Flie. Bagian yang tidak panik, tidak berteriak, hanya membaca dan memutuskan.

Tapi di bawah bagian yang tenang itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru.

Aluna berdiri di depanku, pucat, baru saja mempertaruhkan pekerjaannya untuk memperingatkanku, dengan kalimat yang belum kumengerti sepenuhnya menggantung di udara di antara kami: aku pernah mutusin sesuatu buat kamu tanpa ngasih tahu kamu.

“Luna,” kataku.

“Hm?”

Aku ingin bertanya sekarang. Ucup bilang tanya dia. Pak Hendra bilang tanya dia. Kalimatnya menggantung di depanku, hampir utuh, tinggal satu pertanyaan lagi dan aku akan tahu.

Tapi dua belas juta serangan sedang menghantam sistem yang menjaga transaksi lima puluh miliar sehari, yang menjaga Mama Rosa dan Bu Karsinah dan ibuku, dan aku adalah orang yang membangun sistem itu dari baris kode pertama.

“Nanti,” kataku. Dan untuk pertama kalinya, kata itu terasa seperti pengkhianatan. “Weekend. Aku janji. Aku mau tanya kamu sesuatu, dan aku mau kamu cerita semuanya. Tapi sekarang aku harus ke kantor.”

Aluna menatapku. Lalu ia mengangguk.

“Pergi,” katanya. “Selamatin perusahaanmu.”

Aku berbalik untuk pergi. Lalu aku berhenti.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena dua belas juta serangan. Mungkin karena papanya baru keluar dari ICU. Mungkin karena nanti sudah terlalu sering diucapkan. Mungkin karena aku baru menyadari, di lorong lantai tiga puluh satu, bahwa aku jatuh cinta pada perempuan yang kukenal, dan aku lelah tidak mengatakannya.

Aku berbalik lagi, melangkah ke arahnya, dan merapikan sesuatu di kerahnya yang sebenarnya tidak perlu dirapikan.

“Kerahmu lurus,” katanya pelan, bingung. “Kerahmu yang miring.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku cuma pengen nyentuh sesuatu sebelum pergi.”

Lalu aku pergi, cepat, ke lift, ke mobil, ke kantor, dengan dua belas juta serangan menunggu dan satu kalimat yang belum kuselesaikan menggantung di belakangku.

Di lift, aku menyadari apa yang baru saja kulakukan.

Aku meminta sesuatu. Untuk diriku sendiri. Satu sentuhan sebelum pergi, tanpa alasan, tanpa fungsi.

Delapan tahun, dan akhirnya aku belajar meminta.

Aku tidak tahu, menekan tombol lobi di lift yang turun dari lantai tiga puluh satu, bahwa malam ini akan jadi malam terakhir sebelum semuanya runtuh. Bahwa di akhir pekan yang kujanjikan, aku tidak akan bertanya pada Aluna.

Karena sebelum aku sempat bertanya, Bastian akan menjawab.