Chapter One
Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang
POV: Anggana
Jam tiga lewat empat puluh, rumah kami sudah wangi santan.
Aku tidak perlu alarm. Hidungku yang bangun duluan, lalu telingaku, lalu badanku menyusul dengan malas. Dari dapur terdengar bunyi tutup dandang yang diangkat, uap yang mendesis, dan suara Ibu bersenandung lagu campursari yang liriknya cuma ia hafal separuh.
“Le, daun pisangnya sudah Ibu layukan. Tolong dipotong, ya.”
“Nggih, Bu.”
Dapur kami sempit. Kalau Ibu berdiri di depan kompor dan aku duduk di dingklik dekat meja, siku kami cuma berjarak satu jengkal. Lampunya neon panjang yang sudah agak kuning, berkedip setiap kali kulkas tetangga sebelah menyala. Di atas meja ada tumpukan daun pisang yang tadi dilewatkan sebentar di atas api supaya lemas dan tidak sobek waktu dilipat. Warnanya hijau tua mengilap, baunya seperti hujan yang jatuh di kebun.
Aku memotongnya jadi persegi, kira-kira dua puluh senti. Dua ratus lembar. Kadang dua ratus dua puluh kalau Ibu sedang optimis.
“Hari ini MOS-mu, toh?” tanya Ibu sambil mengaduk sambal kacang.
“Iya, Bu. Hari pertama.”
“Daftar bawaanmu sudah lengkap?”
Aku melirik kertas yang kutempel di pintu kulkas dengan magnet berbentuk semangka. Daftar perlengkapan MOS SMA Pelita Nusantara, ditulis kakak-kakak OSIS dengan bahasa yang sengaja dibuat aneh supaya kami kebingungan.
Topi kerucut dari karton warna hijau stabilo, tinggi 40 cm. Tas dari karung beras ukuran 5 kg, tali rafia tiga warna. Kalung permen sebanyak tanggal lahir. Bekal: nasi uduk bungkus daun pisang, lauk telur balado, sambal kacang dipisah dalam plastik diikat karet merah. BUKAN kotak. BUKAN styrofoam.
Waktu pertama kali membaca daftar itu, aku tertawa sendirian di depan papan pengumuman. Dari seluruh siswa baru, mungkin cuma aku yang bekalnya tinggal ambil dari dandang.
“Lengkap, Bu. Nasi uduknya tinggal ambil punya Ibu.”
“Ambil yang telurnya paling bagus,” kata Ibu. “Biar kakak kelasmu ndak bisa protes.”
Ibu memang begitu. Selalu memikirkan detail yang orang lain lewatkan. Nasi uduk Bu Ratih tidak terkenal di gang kami karena murah. Ia terkenal karena nasinya pulen, gurihnya tidak bikin enek, dan sambal kacangnya punya rasa jeruk limau yang samar, yang kata orang-orang langganan bikin kangen. Enak tenan, kata Pakde Sarno yang tiap pagi beli tiga bungkus dan selalu bilang yang satu untuk istrinya, padahal istrinya sudah pindah ke Cilacap.
Jam empat, Dara muncul di ambang pintu dapur.
Rambutnya mengembang ke segala arah seperti bulu ayam habis dikejar kucing. Matanya masih tertutup separuh. Ia mengenakan kaus kebesaran yang dulunya punyaku, bergambar Doraemon yang hidungnya sudah luntur.
“Kakak,” katanya dengan suara serak, “kenapa nggak bangunin aku?”
“Kamu masuk jam tujuh. Tidur lagi.”
“Nggak bisa. Ini hari pertama Kakak SMA.” Ia menarik dingklik kedua dan duduk di sebelahku, lalu mulai melipat daun pisang dengan gerakan yang jauh lebih rapi daripada aku. Dua tahun lebih muda dan sudah kelas delapan, tapi tangannya lebih cepat. “Atributnya mana? Aku mau periksa.”
“Udah lengkap.”
“Aku yang periksa.”
Lima menit kemudian, topi kerucut hijauku sudah dipegangnya dari segala sudut seperti petugas bea cukai memeriksa koper mencurigakan.
“Tingginya cuma tiga puluh delapan senti.”
“Hah?”
“Di daftar empat puluh.” Dara mengambil penggaris dari tas sekolahnya, mengukur, lalu menatapku dengan wajah tragis. “Kakak mau dihukum di hari pertama?”
“Dua senti, Dar.”
“Dua senti itu bisa jadi alasan buat mempermalukan orang di depan tiga ratus siswa.” Ia sudah mengambil gunting dan karton sisa. “Nanti kalau ada yang macem-macem sama Kakak, bilang aku.”
“Kamu mau datang ke SMA terus marahin kakak OSIS?”
“Kalau perlu.”
Ibu tertawa dari depan kompor. Aku juga. Dara tidak. Ia serius menempelkan tambahan karton di ujung topiku dengan lem kertas, lidahnya terjulur sedikit, konsentrasinya seperti dokter bedah.
Begitulah adikku. Di luar rumah ia pemalu, tidak banyak bicara. Di dalam rumah, ia menganggap dirinya pengawal pribadiku. Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu, kami bertiga saling menjaga dengan cara masing-masing. Ibu menjaga dengan masakan. Aku menjaga dengan tidak pernah mengeluh. Dara menjaga dengan memeriksa semua hal dua kali.
Jam lima seperempat, gerobak Ibu sudah berdiri di mulut gang. Antreannya sudah empat orang. Aku membantu menata bungkusan, menyerahkan kembalian, mengangkat termos teh manis. Jam setengah enam, aku mengantar dua puluh bungkus ke warung kopi Bang Udin di jalan raya dengan sepeda kumbang peninggalan Bapak yang rantainya sudah kuganti tiga kali.
Lalu aku pulang, mandi kilat, memakai seragam putih abu-abu yang masih kaku karena baru, memasang topi kerucut dengan tambahan dua senti hasil operasi Dara, menggantung kalung permen sebanyak lima belas biji, dan memasukkan satu bungkus nasi uduk dengan telur balado paling bulat ke tas karung beras.
“Kerahmu miring,” kata Ibu waktu aku pamit.
“Nanti dibenerin di jalan, Bu.”
“Kamu itu selalu bilang begitu.”
Aku mencium tangannya, lalu mengayuh sepeda dua puluh menit ke SMA Pelita Nusantara.
SMA Pelita Nusantara adalah sekolah swasta yang gedungnya terlalu bagus untuk anak seperti aku. Aku masuk lewat jalur prestasi dengan beasiswa separuh. Separuh sisanya Ibu bayar dari nasi uduk dan aku tambal dari kerja sambilan, sebuah hitungan yang tiap malam kucoret-coret di buku tulis bagian belakang.
Gerbangnya tinggi, dicat putih, dengan logo obor emas. Pagi itu halaman depannya dipenuhi siswa baru bertopi kerucut warna-warni, seperti kebun jamur yang tumbuh dalam semalam. Mobil-mobil berhenti bergantian di depan gerbang. Banyak yang mengilap. Beberapa aku bahkan tidak tahu mereknya.
Aku memarkir sepeda di pojok dekat pos satpam, merapikan topi, dan berjalan ke arah lapangan.
Di situlah aku melihatnya.
Sebuah sedan hitam baru saja berhenti. Pintu belakangnya terbuka, dan seorang gadis turun dengan topi kerucut hijau stabilo yang kelihatan dibuat oleh tukang karton profesional, saking rapinya. Di tangannya ada kotak bekal bersusun tiga, kayu berpelitur, dengan kain pembungkus motif batik. Di belakangnya, seorang sopir berseragam membawakan tas karung yang entah bagaimana tampak elegan.
Seorang kakak kelas dengan ban lengan OSIS menghampirinya, menunjuk kotak itu, lalu menggeleng keras.
“Daun pisang, Dik. Daun pisang. Bacanya gimana sih?”
Gadis itu menunduk melihat kotaknya, lalu melihat daftar di tangannya, lalu melihat kakak kelas itu lagi. Aku bisa melihat bahunya menegang.
“Saya kira maksudnya isinya, Kak. Di dalam ada daun pisang sebagai alas—”
“Bungkus. Daun. Pisang.” Kakak kelas itu mengucapkannya satu-satu, seperti mengeja untuk anak TK. “Sepuluh menit lagi pemeriksaan. Yang nggak sesuai, maju ke depan.”
Ia pergi. Gadis itu berdiri sendirian di dekat gerbang. Sopirnya membungkuk bertanya sesuatu, dan ia menggeleng. Lalu ia menoleh ke sekeliling, mencari-cari, seolah di antara kerumunan anak bertopi kerucut ada warung nasi uduk yang tiba-tiba muncul.
Lalu wajahnya menghadap ke arahku.
Aku pernah membaca di buku pelajaran Fisika bahwa cahaya bergerak tiga ratus ribu kilometer per detik. Pagi itu aku curiga angka itu salah, karena ada sesuatu yang sampai ke mataku jauh lebih cepat dari itu.
Rambutnya hitam dan lurus, panjang sampai punggung, jatuh berat seperti tirai beludru yang baru disibak. Ia punya poni tipis, dan saat angin pagi menggesernya, ia menyibaknya dengan dua jari, gerakan kecil yang entah kenapa membuatku lupa sedang berdiri di mana. Kulitnya kuning langsat terang, dan di tulang pipinya ada semburat merah samar, mungkin karena panik, mungkin karena matahari jam enam yang sudah mulai galak.
Matanya yang paling berbahaya. Bentuknya almond, besar, dengan bulu mata lentik yang jelas tidak dipasang siapa-siapa. Irisnya cokelat madu, dan ketika matahari menyentuhnya dari samping, warnanya berubah nyaris keemasan, seperti teh yang dituang ke gelas bening di bawah jendela. Hidungnya kecil dan mancung. Bibirnya tipis, merah muda alami, dan sudut-sudutnya sedikit terangkat bahkan saat ia sedang cemas, sehingga wajahnya tampak seperti selalu hampir tersenyum. Di bawah mata kanannya ada tahi lalat kecil, satu titik cokelat yang terlalu pas untuk disebut kebetulan.
Ia berdiri tegak, lehernya jenjang, punggungnya lurus seperti anak yang pernah dipaksa les balet bertahun-tahun.
Dua anak laki-laki di sebelahku berhenti bicara. Seorang satpam yang sedang menutup gerbang lupa menutupnya. Tapi aku tidak benar-benar memperhatikan mereka. Yang kuperhatikan cuma satu hal: jantungku, yang selama lima belas tahun bekerja dengan tertib, tiba-tiba melewatkan satu ketukan dan tidak minta maaf.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di situ. Yang kutahu, kakiku sudah bergerak sebelum otakku selesai rapat.
“Permisi.”
Ia menoleh. Dari jarak dekat, ternyata lebih parah.
“Kamu butuh nasi uduk bungkus daun pisang?”
Matanya membesar. “Kamu punya?”
Aku membuka tas karungku, mengeluarkan bungkusan hijau yang diikat karet merah, lengkap dengan plastik kecil sambal kacang yang diikat terpisah. Sesuai daftar sampai ke warna karetnya.
“Telurnya balado,” kataku. “Sambalnya dipisah.”
Ia menatap bungkusan itu seperti menatap tiket lotre yang menang. Lalu menatapku.
“Terus punyamu?”
“Aku masih ada,” kataku.
Itu bohong. Bohong pertamaku di SMA, dan aku melakukannya dalam waktu kurang dari lima menit setelah masuk gerbang. Tapi aku tidak menyesal. Nasi uduk Ibu ada ratusan bungkus setiap hari. Gadis itu cuma satu.
“Serius?”
“Serius. Ibuku jualan.”
Ia menerima bungkusan itu dengan dua tangan, hati-hati, seperti menerima sesuatu yang rapuh. Ujung jarinya tidak menyentuh tanganku. Aku sedikit kecewa, lalu malu pada diriku sendiri karena kecewa.
“Aku harus bayar.”
“Nggak usah.”
“Harus.” Ia sudah membuka dompet kecilnya. Di dalamnya kulihat lembaran merah yang terlipat rapi.
“Nanti aja,” kataku, panik melihat uang sebanyak itu untuk sebungkus nasi uduk delapan ribu rupiah. “Pemeriksaannya sepuluh menit lagi. Masuk barisan dulu.”
Ia ragu sebentar, lalu mengangguk. Sebelum berbalik, ia berhenti.
“Namaku Aluna.”
Cara ia mengucapkan namanya pelan, utuh, setiap suku kata diberi tempat. Seperti ia ingin aku benar-benar mendengarnya.
“Angga,” kataku. “Anggana.”
“Anggana,” ulangnya, dan aku tidak tahu kenapa namaku sendiri terdengar asing, seperti nama orang lain yang lebih beruntung. “Makasih, Anggana. Aku utang satu bungkus.”
Ia berlari kecil ke lapangan, rambutnya berayun di bawah topi kerucut hijau. Sopirnya membawa kotak bersusun tiga itu kembali ke mobil dengan wajah lega.
Di belakangku, seseorang bersiul pelan.
“Gila,” kata suara itu. “Lo baru ngasih bekal lo ke bidadari, dan lo sendiri nggak punya bekal?”
Aku menoleh. Seorang anak laki-laki gempal dengan topi kerucut yang sudah penyok menatapku dengan kagum bercampur kasihan. Tas karungnya bertuliskan BERAS PANDAN WANGI CAP DUA BEBEK, dengan gambar dua bebek yang tersenyum lebar.
“Kok tahu?”
“Gue liat lo ngorek-ngorek tas tadi. Isinya cuma satu.” Ia mengulurkan tangan. “Yusuf. Panggil Ucup. Gue juga bakal dihukum, soalnya kalung permen gue tinggal tujuh. Delapan lagi gue makan di angkot.”
Pemeriksaan atribut dilakukan di lapangan upacara, di bawah matahari yang mulai serius bekerja. Kami berbaris per kelompok. Kakak-kakak OSIS berjalan di antara barisan dengan papan jalan, memeriksa topi, tas, kalung, bekal.
Aluna ada di barisan kelompok sebelah. Waktu kakak kelas yang tadi memeriksa bekalnya, ia mengangkat bungkusan nasi uduk dengan dua tangan, wajahnya serius sekali. Kakak itu mengendus, membuka sedikit, melihat telur balado, mengangguk dengan tidak rela.
Lalu tiba giliranku.
“Bekal?”
“Nggak bawa, Kak.”
Kakak itu, cowok jangkung dengan suara yang sengaja dibuat berat, menatapku dari atas ke bawah. “Nggak bawa? Di daftar jelas tertulis.”
“Iya, Kak. Saya salah.”
“Maju.”
Aku maju ke depan barisan, bergabung dengan Ucup dan empat anak lain yang juga melakukan kesalahan. Ucup menyambutku seperti veteran perang menyambut rekrutan baru.
Hukumannya, tentu saja, menyanyi. Lagu anak-anak lengkap dengan gerakan, di depan tiga ratus siswa baru dan entah berapa kakak kelas yang menonton dari koridor lantai dua.
“Balonku,” kata kakak OSIS. “Dengan penghayatan. Yang paling nggak niat, ulang tiga kali.”
Ucup menghayati dengan berlebihan. Ia memeragakan balon meletus dengan menjatuhkan diri ke tanah seperti tertembak, dan separuh lapangan tertawa. Aku menyanyi dengan suara pas-pasan dan gerakan tangan yang kaku seperti robot yang baterainya hampir habis.
Meletus balon hijau, DOR!
Di bagian itu, aku tidak sengaja melihat ke barisan kelompok sebelah.
Aluna sedang menatapku. Matanya tidak tertawa. Bibirnya terkatup, alisnya sedikit berkerut, dan ia memegang bungkusan nasi uduk di dadanya dengan dua tangan. Ia tahu. Entah bagaimana, ia sudah tahu aku berbohong.
Aku tersenyum padanya. Sebuah senyum yang maksudnya tidak apa-apa.
Ia tidak membalas. Tapi ketika lagu selesai dan kami disuruh kembali ke barisan, aku melihatnya berbicara pelan kepada kakak kelas di dekatnya. Kakak itu menggeleng. Ia berbicara lagi, lebih ngotot. Kakak itu menggeleng lagi, lalu menyuruhnya diam.
Aku tidak tahu apa yang ia katakan. Mungkin ia mencoba mengaku bahwa bekal itu punyaku. Mungkin ia mencoba menggantikan hukumanku. Aku hanya tahu satu hal: gadis secantik itu, yang turun dari sedan hitam dengan sopir berseragam, baru saja mencoba membela anak bertopi kerucut yang tidak ia kenal.
Itu yang membuat jantungku melewatkan ketukan kedua.
Jam istirahat, perutku keroncongan cukup keras sampai Ucup menoleh.
“Itu perut lo atau ada motor lewat?”
“Perut.”
Ucup membuka tas karungnya. Isinya kotak styrofoam berisi nasi goreng, yang tentu saja tidak lolos pemeriksaan tapi entah bagaimana tidak disita. “Bagi dua. Gue nggak tega. Lo udah ngorbanin harga diri lo di depan cewek paling cakep se-angkatan, minimal perut lo jangan ikut menderita.”
Kami makan berdua di tangga belakang aula. Nasi gorengnya keasinan. Aku bilang enak.
Aluna tidak muncul. Aku tidak mencarinya. Oke, aku mencarinya, tapi diam-diam, dengan cara yang menurutku tidak kentara. Ucup bilang caraku sangat kentara. “Lo nengok ke kiri tiap ada rambut panjang lewat. Lo udah nengok sembilan belas kali, Bro. Gue ngitung.”
Aku pulang jam tiga, langsung ke konter servis HP tempatku kerja sampingan, lalu pulang lagi jam delapan malam.
Dara sedang mengerjakan PR di meja makan. Ia mengangkat kepala begitu aku masuk, dan dalam dua detik, matanya menyipit.
“Kakak kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kakak senyum-senyum.”
“Nggak.”
“Senyum. Dari pintu. Sampai sekarang.” Ia meletakkan pensilnya dengan bunyi tak yang tegas. “Ada apa di MOS?”
“Nggak ada apa-apa. Dihukum nyanyi Balonku.”
“Kenapa dihukum? Topinya kan udah aku benerin!”
“Bukan topinya. Bekalnya.”
Ibu muncul dari dapur sambil mengelap tangan. “Lho, bekalmu kenapa, Le? Kan tadi sudah kamu bawa.”
Aku diam terlalu lama. Itu kesalahan. Di rumah ini, diam terlalu lama sama dengan pengakuan.
“Dimakan siapa?” tanya Ibu, dan matanya mulai berbinar dengan cara yang membuatku curiga.
“Orang yang butuh, Bu.”
“Orang yang butuh,” ulang Dara, nadanya seperti jaksa membacakan barang bukti. “Laki-laki atau perempuan?”
“Dar—”
“Perempuan.” Ia berdiri. “Namanya siapa? Kelas berapa? Rumahnya di mana? Bapaknya kerja apa? Dia suka kucing nggak? Dia sopan sama orang tua nggak? Dia tahu nggak Kakak jadi dihukum gara-gara dia?”
“Dara, duduk.”
“Kakak dihukum di depan ratusan orang gara-gara cewek yang baru Kakak kenal lima menit?”
“Kok kamu tahu lima menit?”
Dara membeku. Ibu tertawa sampai harus berpegangan pada kusen pintu.
“Aku cuma nebak,” kata Dara, pipinya merah. “Dan tebakanku benar. Itu lebih parah.”
Aku duduk, membuka sepatu, dan tidak bisa menahan senyum. Dara menatapku dengan wajah tersinggung seorang anak yang merasa kakaknya baru saja dicuri sedikit oleh orang asing.
“Pokoknya,” katanya, “kalau dia jahat sama Kakak, aku yang urus.”
“Dia nggak jahat,” kataku. “Dia malah mau bayar.”
“Terus Kakak tolak, kan? Pasti Kakak tolak.” Dara menghela napas panjang yang terlalu dewasa untuk anak empat belas tahun. “Kakak itu selalu begitu. Ngasih, ngasih, ngasih. Nggak pernah mau dikasih balik.”
Ibu mengusap kepala Dara, lalu menatapku dengan senyum yang lain, senyum yang dulu sering ia berikan pada Bapak.
“Namanya siapa, Le?”
Aku tidak menjawab. Tapi malam itu, setelah lampu dimatikan dan rumah sunyi kecuali suara kipas angin yang berderit, aku berbaring menatap langit-langit dan mengucapkannya pelan, cuma untuk diriku sendiri, seperti ia mengucapkannya pagi tadi: utuh, setiap suku kata diberi tempat.
Ujung jariku masih wangi daun pisang. Dan aku, yang biasanya langsung tertidur karena harus bangun jam tiga lewat empat puluh, malam itu baru terlelap setelah jam dua belas.
- 1 Nasi Uduk Bungkus Daun Pisang reading
- 2 Utang Satu Bungkus
- 3 Konter Cahaya Cell
- 4 Orang yang Menolong Semua Orang
- 5 Tiga Bulan SPP
- 6 Kerah yang Miring
- 7 Liga yang Berbeda
- 8 Kelas Tiga, Hari Pertama
- 9 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 10 Yang Tidak Kukatakan
- 11 Delapan Tahun Kemudian
- 12 Senyum yang Sama
- 13 Due Diligence Hari Pertama
- 14 Kakak Punya Pengawal
- 15 Kerah
- 16 Level: Tidak Tahu Malu
- 17 KRL Jam Sembilan
- 18 Jam Empat Pagi
- 19 Dara vs Aluna, Ronde Satu
- 20 Kenapa Aku Nunggu Hari Sabtu
- 21 Term Sheet
- 22 Mbak Jumat
- 23 Hadiah untuk Diriku Sendiri
- 24 Tahun yang Hilang
- 25 Dermaga
- 26 Kali Ini Sengaja
- 27 Beasiswa Orang Baik
- 28 Audit Ulang
- 29 Peluk
- 30 Yang Kukenal
- 31 Kening
- 32 Ciuman Pertama
- 33 Bastian
- 34 Kamu Memutuskan Untukku
- 35 Senyum untuk Semua Orang
- 36 Laporan Audit Final
- 37 Anggana Bertanya
- 38 Aku Cuma Mau Kamu Tahu
- 39 Terbang Pertama
- 40 Kerah yang Lurus
- 41 Epilog: Bungkus Daun Pisang
- 42 Extra 1: Gaun Merah di Labuan Bajo
- 43 Extra 2: Disuapin
- 44 Extra 3: Back Hug Jam Empat Pagi
- 45 Extra 4: Rapat di Ruang Bromo
- 46 Extra 5: Pertama Kali Cemburu
- 47 Extra 6: Permintaan Tolong Nomor Seratus
- 48 Extra 7: Dua Garis