Chapter Nine
Volunteer
POV: Evelyn | ±1140 kata
Mobil itu berhenti dua ratus meter dari pagar hijau — jarak yang sudah Evelyn hitung supaya tidak ada yang melihatnya turun dari mobil semahal itu.
Dia menatap pantulan dirinya di kaca spion sekali lagi. Kaos polos. Celana jeans paling biasa yang dia punya (yang ternyata masih kelihatan bagus — dia sudah berusaha). Rambut dikucir. Masker. Tas ransel pinjaman dari Annisa, karena semua tasnya sendiri “bunyi duitnya kedengeran dari jauh” kata Annisa.
Di kursi sebelah, Annisa memandanginya seperti memandangi pasien.
“Terakhir kali aku tanya,” kata Annisa. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Eve, ini bukan kayak nyamar ke pasar. Ini tempat penting buat dia. Kalau ketahuan—“
“Aku nggak bohong soal apa pun,” potong Evelyn, lebih cepat dari yang dia niatkan. Dia menghela napas, mengulang lebih pelan, seperti meyakinkan dirinya sendiri. “Aku beneran mau volunteer. Aku beneran bisa ngajar — nilai-nilaiku bagus, aku bisa matematika, bahasa Inggris. Aku cuma... nggak nyebut nama belakangku aja. Sama... pake masker.”
“Itu namanya nyamar, sayang.”
“Itu namanya...” Evelyn mencari kata. “...datang tanpa bawa nama. Nis, seumur hidupku, ke mana pun aku pergi, nama keluargaku sampe duluan sebelum aku masuk pintu. Sekali ini aja. Aku pengen masuk pintu sebagai aku.”
Annisa menatap sahabatnya lama. Lalu menghela napas dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya: sebungkus permen.
“Buat anak-anak,” katanya. “Bilang dari Kak Eve. Udah sana. Kalau nangis, telepon.”
“Kenapa aku harus nangis?”
“Eve.” Annisa menatapnya. “Kamu mau balik ke tempat itu. Setelah lima belas tahun. Kamu bakal nangis.”
Annisa benar, tentu saja. Annisa selalu benar.
Evelyn berdiri di depan pagar hijau pudar bertuliskan PANTI ASUHAN RUMAH TEDUH, dan kakinya tidak mau bergerak.
Tempat ini lebih kecil dari ingatannya. Semua tempat masa kecil memang begitu, katanya orang. Tapi pohon jambu di sudut halaman itu masih ada — dulu rasanya setinggi gedung, sekarang ternyata cuma pohon jambu biasa. Bangku panjang di teras itu masih ada, meski catnya sudah ganti warna entah berapa kali. Di bangku itu, lima belas tahun lalu, seorang anak perempuan yang tidak tahu cara bermain duduk memeluk boneka mahalnya, sampai seorang anak laki-laki datang membelah dunia jadi dua dan memberikan setengahnya.
Ingatan tentang sore itu datang bukan sebagai film, tapi sebagai potongan-potongan: karet gelang yang disambung-sambung jadi tali lompatan. Dia yang tidak pernah main lompat karet seumur hidup, jatuh di lompatan pertama, dan bersiap menangis — karena di dunianya, jatuh itu memalukan dan pasti ada yang memotret. Tapi di sini semua anak malah tertawa, dan anehnya tawa itu tidak tajam, dan anak laki-laki setengah roti itu bilang, “Jatuhnya udah bagus. Tinggal lompatnya yang belum,” — dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Evelyn kecil tertawa saat gagal.
Sorenya, seorang pengasuh mengajari anak-anak melipat origami. Evelyn kecil memilih kertas motif bunga — yang paling bagus dari tumpukan, karena dia mau hasil lipatannya jadi yang paling bagus. Bangaunya tetap miring sebelah. Anak laki-laki itu bilang bangau miring lebih bagus, soalnya kelihatan lagi menoleh.
Dia memberikan bangau miring itu sebelum pulang. Biar kamu nggak lupa.
Lima belas tahun kemudian, berdiri di depan pagar yang sama, Evelyn akhirnya berani mengakui satu hal yang selama ini dia bungkus rapat: kalimat itu curang. Yang seharusnya bilang begitu adalah dia yang pergi — kepada dia yang tinggal. Karena nyatanya yang tidak pernah bisa lupa adalah dirinya.
Evelyn menarik napas dalam-dalam dari balik maskernya.
Jangan nangis di gerbang. Norak. Kamu belum masuk.
Dia menekan bel.
Yang membuka pintu adalah perempuan lima puluhan berdaster rapi, dengan wajah yang membuat dada Evelyn mencelos — karena wajah itu juga masih ada di ingatannya, hanya sekarang lebih banyak garisnya.
“Cari siapa, Neng?”
“Bu... Ratna?” Suara Evelyn hampir aman. Hampir. “Saya Eve. Yang kemarin telepon... soal jadi relawan pengajar tiap akhir pekan?”
“Oh! Neng Eve!” Wajah Bu Ratna terbuka seperti jendela pagi. “Masya Allah, beneran dateng. Ibu kira anak zaman sekarang cuma semangat di telepon. Ayo masuk, masuk—“
Evelyn melangkah melewati pagar hijau itu.
Dan di detik kakinya menyentuh halaman — halaman tempat dia dulu pertama kali main kejar-kejaran sampai keringatan, sampai boneka mahalnya jatuh ke tanah dan dia tidak peduli — Evelyn bersyukur dari lubuk hati terdalam atas dua hal: bahwa dia memakai masker, dan bahwa Bu Ratna berjalan di depannya.
Karena Annisa benar. Dia menangis. Diam-diam, di balik masker, sambil tersenyum mendengarkan Bu Ratna bercerita tentang dua belas anak yang tinggal di sini sekarang.
“...yang paling kecil namanya Dede, tujuh tahun, hati-hati Neng, dia suka manjat orang. Terus ada Salsa, sepuluh tahun, itu bosnya. Kalau Salsa udah oke sama Neng, yang lain ngikut.” Bu Ratna terkekeh, lalu menambahkan dengan nada yang lebih hangat, “Nanti sabtu-minggu Neng juga bakal sering ketemu satu lagi. Bukan penghuni sih. Tapi ya... penghuni.”
Jantung Evelyn mencelos untuk alasan yang berbeda.
“Anak Ibu dulu di sini. Sekarang udah kuliah, udah ngontrak sendiri. Tapi tiap sore masih aja pulangnya ke sini. Ngajarin anak-anak, benerin ini-itu.” Bu Ratna menggeleng-geleng dengan bangga yang gagal disembunyikan. “Namanya Adam. Anaknya pendiem kalau sama orang baru, Neng. Jangan tersinggung ya kalau awal-awal dianggurin. Nanti juga kalau udah percaya, dia yang paling berisik.”
“...Iya, Bu,” kata Evelyn dari balik maskernya, dengan suara yang dia jaga mati-matian supaya tetap datar. “Saya sabar kok orangnya.”
Lima belas tahun, Bu. Sabar itu keahlian saya.
Sebelum pulang, Bu Ratna mengajaknya berkeliling. Ruang belajar dengan papan tulis kecil. Kamar anak-anak. Dan di lorong, satu dinding penuh foto berbingkai murah — dokumentasi tahun demi tahun, dari zaman foto masih buram sampai era ponsel.
Evelyn berjalan pelan menyusuri dinding itu, dan matanya bekerja tanpa bisa dicegah: mencari.
Dia menemukannya di bingkai tahun-tahun yang lebih baru. Foto grup, mungkin acara tujuh belasan. Dua deret anak dan remaja tertawa ke kamera — kecuali satu. Remaja kurus di ujung kiri belakang, kaosnya kebesaran, berdiri setengah badan di luar bingkai seperti sedang mempertimbangkan untuk tidak ikut ada. Tidak tersenyum. Matanya ke arah anak-anak kecil di deret depan, bukan ke kamera.
Umur enam belas, taksir Evelyn. Tahun-tahun pertamanya di sini. Tahun-tahun setelah dunianya patah.
Kamu di sini, pikirnya, dan dadanya sakit dengan cara yang aneh, waktu aku nyariin kamu ke mana-mana, kamu justru lagi jalan ke sini.
“Neng Eve?” panggil Bu Ratna dari ujung lorong. “Kok berhenti?”
“Foto-fotonya bagus, Bu,” jawab Evelyn dari balik masker. Suaranya normal. Dia sudah pintar sekarang. “Kayak keluarga beneran.”
“Lho.” Bu Ratna tertawa. “Emang keluarga beneran.”
Sore itu Evelyn pulang setelah resmi terdaftar: relawan pengajar, setiap Sabtu sore. Di mobil, Annisa menyambutnya dengan sekotak tisu yang sudah disiapkan dari rumah.
Evelyn menangis lagi, kali ini sambil tertawa, maskernya sudah lepas, permen dari Annisa tidak jadi dibagikan karena anak-anaknya sedang tidur siang.
“Nis. Pohon jambunya masih ada.”
“Iya, sayang.”
“Bangkunya juga masih ada. Bangku yang itu.”
“Iya.”
“Dan besok Sabtu—“ Evelyn menarik napas, matanya bengkak, senyumnya tidak bisa diatur, “—besok Sabtu aku ketemu dia di sana, Nis. Di tempat yang sama. Setelah lima belas tahun. Dan dia nggak tau.”
Annisa menyalakan mesin mobil sambil menggeleng pelan.
“Ya ampun,” katanya. “Novel banget hidup kamu.”