Chapter Four
Payung Pertama
POV: Adam & Evelyn | ±1087 kata
Rabu siang itu, langit di atas kampus berwarna abu-abu tua — warna yang sama persis dengan jaket seseorang.
Adam sedang duduk di bangku koridor luar, menunggu kelas berikutnya sambil menghitung ulang pengeluaran minggu ini di ponsel, ketika serombongan mahasiswi lewat dan berhenti tak jauh darinya, ribut menatap langit.
“Yah, mau ujan.”
“Gapapa kali, adem.”
“Enak ya ujan-ujanan—“
“Aku benci hujan.” Suara itu membuat jempol Adam berhenti di atas layar. Evelyn, di tengah rombongan itu, menatap langit dengan muka ditekuk. “Bukan hujannya sih. Beceknya. Sepatuku tuh ya, udah tiga kali korban. Sama satu lagi: payungku selalu ilang. Selalu. Kayak ada segitiga bermuda khusus payungku.”
Teman-temannya tertawa. Rombongan itu berlalu.
Adam masih duduk di sana, menatap ponselnya tanpa membaca apa-apa.
Benci becek. Payung selalu hilang.
Dia tidak mencatatnya di mana pun. Tidak perlu. Otak Adam punya satu kelainan yang tidak pernah dia minta: hal-hal yang diucapkan orang secara sepintas — apalagi orang itu — menempel begitu saja, seperti sticky note yang tidak bisa dicabut.
Dan ini bukan yang pertama. Arsip liar di kepala Adam sudah punya beberapa entri yang dia tidak pernah minta: bahwa Evelyn selalu memesan matcha (terdengar di kantin, dua meja jauhnya, tiga minggu lalu). Bahwa Evelyn tidak makan udang — bukan tidak suka, alergi (“bentol parah, pernah masuk IGD,” katanya pada temannya sambil tertawa, dan Adam yang sedang antre bakso mendadak ikut mengkhawatirkan hidup seseorang yang bukan siapa-siapanya). Bahwa kalau presentasi, Evelyn suka memegang spidol dengan dua tangan seperti mikrofon.
Adam tidak tahu harus diapakan data-data itu. Tidak bisa dipakai, tidak bisa dihapus. Jadi mereka cuma tinggal di sana, di lemari kepalanya, tersusun rapi seperti barang-barang milik orang lain yang dititipkan tanpa pernah diambil.
Menyebalkan, sebenarnya. Otak yang sama tidak pernah bisa mengingat tanggal jatuh tempo UKT tanpa alarm.
Sorenya, hujan turun deras sekali.
Adam berdiri di parkiran motor yang atapnya bocor di tiga titik, memandangi hujan sambil memakai jas hujan plastik yang sudah dua kali dilem. Beberapa meter darinya, motor matic putih bersih milik Evelyn terparkir sendirian — pemiliknya kelihatan di kejauhan, terjebak di teras gedung bersama mahasiswa-mahasiswa lain yang tidak bawa payung, memandangi langit dengan muka sebal yang bahkan dari jarak segini kelihatan... ya ampun. Fokus, Adam.
Di jok motor Adam ada dua benda: jas hujan yang sedang dia pakai, dan payung lipat biru tua — payung cadangan yang selalu dia bawa sejak dulu, karena orang yang hidupnya pas-pasan tidak punya kemewahan untuk sakit.
Adam menatap payung itu.
Menatap Evelyn di kejauhan.
Menatap payung itu lagi.
Suara besar di kepalanya langsung bertugas: Apa-apaan. Mau sok jadi pahlawan? Kamu bahkan nggak berani balikin tatapan matanya tadi di kelas. Nanti dia nanya-nanya dari siapa, terus kamu harus ngomong, terus kamu gagap, terus—
Tapi sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah yang panjang, suara kecil yang bandel itu menemukan celah:
Nggak harus ngomong, kan?
Lima menit kemudian, Evelyn berlari kecil menerobos gerimis sisa ke parkiran — hujan sudah menipis, tapi genangan di mana-mana dan sepatunya sudah setengah basah. Dia sampai di motornya sambil menggerutu, membuka jok—
—dan berhenti.
Di sela jok dan stang, terselip payung lipat biru tua. Dilipat rapi. Tanpa catatan. Tanpa nama.
Evelyn berdiri diam di tengah gerimis, memegang payung itu, menoleh ke kiri dan ke kanan. Parkiran sudah sepi. Hanya ada satu motor bebek tua yang baru saja keluar dari gerbang, pengendaranya memakai jas hujan plastik, punggungnya membungkuk melawan gerimis.
Punggung itu.
Evelyn menunduk menatap payung di tangannya. Payung lipat biru tua, mereknya merek warung, gagangnya sudah lecet — jelas bukan barang baru. Jelas payung satu-satunya milik seseorang.
Dan orang itu memberikannya tanpa merasa perlu diketahui.
“...Bodoh,” bisik Evelyn di tengah parkiran kosong. Matanya panas, dadanya penuh, dan senyumnya tidak bisa dihentikan oleh apa pun. “Kamu tuh ya. Gimana caranya aku berhenti.”
Sementara itu, dalam perjalanan pulang, Adam mampir ke toko serba ada dekat kontrakan.
Payung yang dijual ada tiga jenis. Yang paling bagus tiga kali harga yang paling murah, ada tombol otomatisnya, warnanya macam-macam. Adam memegangnya sebentar, membaca harganya, lalu meletakkannya kembali dengan sopan seperti meletakkan barang orang.
“Yang lipat biasa, Bu. Ada?”
Ibu penjaga toko menunjuk keranjang. Adam mengaduk isinya: hijau, hitam, motif kotak-kotak.
“...Yang biru tua nggak ada, Bu?”
“Adanya itu, Mas. Emang kenapa harus biru tua?”
Adam terdiam di depan keranjang payung, memikirkan pertanyaan sederhana yang tidak bisa dia jawab. Kenapa harus biru tua? Payungnya toh sudah pergi. Sudah jadi milik orang lain — orang yang bahkan tidak tahu dari siapa. Payung baru ini cuma buat dia sendiri, buat musim hujan yang masih panjang, dan hujan tidak peduli warna.
“...Nggak apa-apa deng, Bu. Yang hitam aja.”
Dia pulang membawa payung hitam. Tapi sepanjang perjalanan, ada bagian kecil dari dirinya — bagian yang tidak masuk tabel keuangan mana pun — yang diam-diam merasa senang bahwa payung biru tua itu sekarang ada di tempat lain. Di jok motor matic putih. Dekat dengan orang yang katanya payungnya selalu hilang.
Setidaknya yang satu itu tidak akan hilang. Adam yakin. Entah kenapa yakin.
Malam itu Annisa menerima pesan suara berdurasi empat menit yang isinya delapan puluh persen suara Evelyn berteriak tertahan ke dalam bantal.
“Nis, NIS. Dia taro payung di motorku. Payung. Di motorku. Nggak pake nama! Siapa yang ngajarin dia gitu?! Kok ada orang kayak gini masih diproduksi?! Aku harus gimana, Nis, aku mau guling-guling—“
Balasan Annisa singkat, penuh kebijaksanaan seorang sahabat:
“yang sabar. penyakit kamu masih panjang.”
Malam itu juga, payung lipat biru tua resmi mendapat jabatan baru: berdiri di sudut kamar Evelyn, di titik yang bisa terlihat dari tempat tidur. Bukan di rak sepatu bersama payung-payung lain (yang entah kenapa sekarang jadi kelihatan norak semua). Di sudut. Sendiri. Seperti tamu kehormatan.
Mbak asisten rumah yang besoknya hendak memindahkannya ke tempat “yang seharusnya” mendapat pengarahan singkat, jelas, dan tidak bisa dinegosiasi: payung itu tidak boleh disentuh, tidak boleh dipindah, dan tidak boleh — ini digarisbawahi — dipinjamkan kepada siapa pun sampai kapan pun.
“Kalau hujan gimana, Non?”
“Ya aku pake.”
(Dia tidak pernah memakainya. Hujan-hujan berikutnya, Evelyn memilih payung lain dan membiarkan payung biru tua itu tetap kering di sudutnya — karena ada barang yang fungsinya memang bukan dipakai, tapi ditengok sebelum tidur.)
Dan di sebuah kontrakan petak di sisi lain kota, Adam menjemur jas hujan plastiknya, menatap tabel keuangan di dinding, dan menambahkan satu baris pengeluaran baru dengan tulisan sekecil mungkin — seolah kalau ditulis kecil, artinya juga kecil:
Payung baru: 35rb.
Lalu dia memandangi baris itu lama sekali, tersenyum sendiri seperti orang bodoh, dan buru-buru menghapus senyumnya.
“Cuma payung,” katanya ke tembok.
Tembok, sebagai teman sebangku paling setia, tidak membantah.